cover
Contact Name
Aziz Alfarisy
Contact Email
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Asupan Gizi Makro dan Mikro Sebagai Faktor Risiko Stunting Anak Usia 2-5 Tahun di Semarang Salsa Bening
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.64 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.245

Abstract

Latar belakang : Stunting merupakan perawakan pendek yang disebabkan malnutrisi yang berlangsung kronis. Prevalensi stunting balita di Indonesia sebesar 37,2%, dan di Jawa Tengah mencapai 33,9%. Salah satu faktor risiko yang berpengaruh secara langsung terhadap kejadian stunting adalah asupan zat gizi. nelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecukupan zat gizi makro dan mikro yang rendah sebagai faktor risiko kejadian stunting anak usia 2-5 tahun di Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Metode : Penelitian ini merupakan studi case-control yang dilakukan di Kecamatan Genuk, Kota Semarang dengan jumlah sampel 71 kasus (stunting) dan 71 kontrol (tidak stunting). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chisquare dan multivariat menggunakan metode regresi logistik. Hasil : Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko kejadian stunting pada anak usia 2–5 tahun adalah tingkat kecukupan vitamin C yang kurang (p=0,004; OR=2,97; CI=1,406,31). Faktor yang tidak terbukti mempengaruhi kejadian stunting adalah tingkat kecukupan energi, protein, vitamin A dan kalsium. Simpulan : Tingkat kecukupan vitamin C yang rendah merupakan faktor risiko stunting pada anak usia 2-5 tahun di Kecamatan Genuk, Kota Semarang
Efek Lumatan Daun Pepaya (Carica Papaya L.) terhadap Proses Penyembuhan Luka Bakar Derajat II Dangkal Pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) Galur Wistar Putri Setyani
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.952 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.246

Abstract

Luka bakar masih menjadi masalah kesehatan utama di negara berkembang. Luka bakar derajat II adalah tipe luka bakar yang biasa ditemukan pada kejadian luka bakar dirumah. Penatalaksanaan yang tidak tepat dapat menimbulkan efek buruk pada penyembuhan. Saat ini perawatan luka bakar secara umum adalah menggunakan Silver Sulfadiazine 1%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek lumatan daun pepaya dalam mempercepat penyembuhan luka bakar derajat II. Penelitian ini merupakan penelitian murni (true experimental) dengan rancangan pretest-posttest only control group design. Variabel yang diukur adalah kecepatan penyembuhan luka yang didapatkan dengan mengukur prosentase kontraksi luka. Sampel terdiri dari 2 kelompok masing-masing 9 ekor tikus, yaitu kelompok lumatan daun pepaya (kelompok 1) dan kelompok Silver Sulfadiazine 1% (kelompok 2). Hasil penelitian menunjukan ratarata prosentasi kontraksi luka pada kelompok 1 sebesar 92,7% dan rata-rata prsentasi kontraksi luka pada kelompok 2 sebesar 89,7%. Uji statistik T-Test 2 Sampel menunjukan kedua kelompok memiliki signifikansi sebesar 0,002 < α (0,05). Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa lumatan daun pepaya mempunyai efek dalam mempercepat penyembuhan luka bakar derajat II.
Pengaruh Hipnotherapi Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri dan Kecemasan Pada Pasien Kemoterapi di RS Dr. Kariadi Anna Laely
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.714 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.247

Abstract

Latar belakang : Salah satu standar pelayanan yang disebutkan dalam akreditasi rumah sakit adalah bahwa rumah sakit harus mampu memberikan pelayanan dalam pengelolaan rasa nyeri secara efektif terhadap pasien. Pengelolaan rasa nyeri pasien merupakan tanggung jawab tim yang memberikan perawatan terhadap pasien, termasuk di dalamnya adalah perawat. Kanker merupakan salah satu penyakit yang berhubungan dengan rasa nyeri dan kecemasan pasien. Berdasarkan studi awal pasien kanker yang menjalani kemoterapi akan mengeluhkan rasa nyeri dan juga timbul gangguan psikologis berupa kecemasan. Hipnoterapi merupakan metode terapi non farmakologis untuk mengurangi nyeri dan kecemasan pasien yang sedang menjalani kemoterapi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hipnoterapi terhadap penurunan tingkat nyeri dan kecemasan pada pasien kemoterapi di RSUP Dr. Kariadi Semarang. Metode : Penelitian trial dengan  pre-test and post-test design. Pada penelitian ini trial atau intervensi hipnoterapi hanya dilakukan satu kali terhadap subyek. Sampel yang digunakan sejumlah 30 responden yang sedang menjalani kemoterapi. Sampel diambil secara purposive sampling. Instrumen untuk mengukur tingkat nyeri adalah VAS (Visual Analog Scale) dan hypnosis dilakukan dengan memberikan music untuk relaksasi dan pemberian sugesti pada pasien. Hasil : menunjukkan tingkat nyeri dan kecemasan pasien yang sedang menjalani kemoterapi lebih cenderung pada tingkat sedang dan berat. Terjadi penurunan yang signifikan terhadap tingkat nyeri dan kecemasan pasien kemoterapi setelah dilakukannya hipnoterapi. Skala rata-rata tingkat nyeri sebelum diberikan hipnoterapi yaitu 5,1 dengan skala nyeri terbesar pada angka 9, sesudah dilakukan hypnoterapi skala nyeri rata-rata menjadi 3,5 dengan skala terendah pada angka 1. Skala rata-rata tingkat kecemasan pasien kemoterapi sebelum diberikan hipnoterapi yaitu 61,67 dengan skala terbesar pada angka 90, sesudah dilakukan hypnoterapi skala tingkat kecemasan rata-rata 36,33 dengan skala penurunan sampai dengan angka 20. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon sign rank test menunjukkan ada pengaruh yang signifikan hypnoterapi terhadap penurunan tingkat nyeri (p value = 0.00) dan tingkat kecemasan (p value = 0.00). Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan rumah sakit dapat menjadikan metode hipnoterapi sebagai salah satu panduan pelayanan untuk pengelolaan nyeri dan kecemasan pada pasien dan juga metode ini dapat dikembangkan sebagai salah satu standar operasional asuhan keperawatan paliatif care, sehingga bisa meningkatkan kualitas pelayanan.
Penggunaan Trans Cranial Doppler sebagai Modalitas Pencarian Etiologi Pada Kasus Tinitus Subyektif Akut Christin Nayoan
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.26 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.248

Abstract

Latar belakang : Tinitus subyektif adalah persepsi suara tanpa stimulus akustik yang hanya dapat didengar oleh penderitanya. Berdasarkan durasi tinitus dibagi menjadi akut dan kronik. Tinitus merupakan gejala beberapa penyakit / kelainan salah satu etiologinya gangguan dikoklea. Etiologi tinitus penting diketahui untuk dapat memberikan tatalaksana yang tepat dan sesuai. Trans Cranial Doppler (TCD) merupakan salah satu modalitas untuk memeriksa peredaran darah di otak termasuk di koklea. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan TCD pada kasus tinitus. Kasus : Dilaporkan 2 kasus wanita berusia 53 dan 54 tahun dengan keluhan tinitus yang berlangsung kurang 1 bulan. Hasil pemeriksaan TCD diketahui adanya atherosclerosis pada pembuluh darah diotak. Penatalaksanaan : Pasien diberikan penatalaksanaan vasodilator dan penyebab mendasarinya yaitu dislipidemia selama 1 bulan, keluhan tinitus tersebut bekurang dan menghilang. Simpulan : TCD dapat digunakan sebagai modalitas untuk mencari etiologi tinitus subyektif akut.
Diagnosis dan Tatalaksana Hiperplasia Adrenal Kongenital Agustini Utari
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2016): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.913 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i1.249

Abstract

Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK) merupakan suatu kelainan autosomal resesif yang menyebabkan terjadinya gangguan pembentukan kortisol akibat defek enzimatik pada steroidogenesis. Tipe HAK terbanyak adalah defisiensi 21hidroksilase. Manifestasi klinik HAK akibat defisiensi 21hidroksilase secara umum bisa dbagi menjadi tipe klasik dan non klasik. Tipe klasik dibedakan menjadi dua kelompok yakni tipe salt wasting (kekurangan garam) dan simple virilizing. Diagnosis ditegakkan berdasarkan peningkatan kadar serum 17 hidroksiprogresteron (17OHP). Pengobatan utama adalah dengan memberikan glukokortikoid dengan atau tanpa mineralokortikoid
Gangguan Pendengaran Pada infeksi Citomegalovirus Kongenital Tri Juda Airlangga; Rossa Martiastini; Retta .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.897 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.314

Abstract

Citomegalovirus merupakan penyebab gangguan pendengaran non genetik yang merupakan infeksi virus intrauterin dan bersifat kongenital. Infeksi CMV pada kehamilan, berpotensi menimbulkan kecacatan permanen seperti sensorineural hearing loss (SNHL), gangguan penglihatan, epilepsi dan global delay development Infeksi citomegalovirus dapat bersifat simptomatik dan asimptomatik yang sangat sulit dideteksi keberadaannya bila tidak dilakukan pemeriksaan awal fungsi pendengaran. Diperlukan pemeriksaan skrining, dan diagnosis serta  follow up fungsi pendengaran pada bayi baru lahir yang berisiko maupun positif terinfeksi CMV. Sifat gangguan pendengaran yang ditimbulkan yang fluktuatif mengakibatkan perlunya pemeriksaan yang berulang dan konsisten setiap 3 bulan merupakan kendala yang dihadapi dalam deteksi ini. Kata Kunci : CMV asimptomatik, SNHL fluktuatif, BERA
Efektivitas Klinis Ofloksasin Topikal Dibanding Ciprofloksasin Oral Pada Terapi Otitis Media Supuratif Kronik Aktif Deasy Mediawaty; Pujo Widodo; Dian Ayu Ruspita
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.44 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.315

Abstract

Latar belakang : Otitis media kronik atau sering disebut Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah otitis media yang berlangsung > 12 minggu. Prevalensi OMSK di seluruh dunia sebanyak 65-330 juta dan 60% di antaranya menderita kurang pendengaran yang signifikan. Angka kejadian OMSK aktif mencapai 3,8% dari pasien THT-KL. Gejala OMSK aktif berupa banyaknya discaj, kurang pendengaran, nyeri, pusing berputar, telinga tidak nyaman. Tanda OMSK aktif berupa discaj di liang telinga, perforasi membran timpani, dan gangguan pendengaran. World Health Organization (WHO) mencanangkan strategi untuk mengatasi OMSK secara serius berkaitan dengan komplikasi yang dapat disebabkan. Pilihan terapi medikamentosa yang tepat diperlukan untuk mengatasi OMSK aktif. Ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral adalah antibiotik golongan fluorokuinolon yang banyak digunakan. Efektivitas diantaranya dibuktikan dengan perbaikan gejala dan tanda klinis. Tujuan : Membuktikan efektifitas ofloksasin topikal, ciprofloksasin oral dan efektifitas ofloksasin topikal dibanding ciprofloksasin oral terhadap perbaikan gejala dan tanda klinis. Metode : Penelitian intervensi dengan rancangan pretest and posttest control group design, randomized control trial Klinik THT-KL BKIM Semarang pada bulan Juni-Agustus 2016. Penderita OMSK aktif dilakukan anamnesis lalu dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan pendengaran dilanjutkan randomisasi. Penderita diberi ofloksasin topikal 10 tetes/12 jam atau ciprofloksasin tablet 500 mg/12 jam per oral. Hari ke 4, 10 dan 14 setelah terapi penderita kontrol. Analisis uji komparatif menggunakan uji parametrik dan non parametrik. Hasil : Jumlah subyek penelitian 108 orang ; ofloksasin topikal 54 orang (50%) dan ciprofloksasin oral 54 orang (50 %). Gejala dan tanda klinis setelah terapi lebih rendah dibanding sebelum terapi pada kelompok ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral dengan nilai kemaknaan p < 0,05. Gejala klinis kelompok ofloksasin lebih baik dibanding ciproloksasin secara bermakna (p<0,05). Tanda klinis kedua kelompok terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Simpulan : Ofloksasin topikal dan ciprofloksasin oral terbukti efektif memperbaiki gejala dan tanda klinis penderita OMSK aktif. Ofloksasin topikal efektif memperbaiki gejala klinis dibandingkan ciprofloksasin oral. Kata kunci : Otitis media supuratif kronik, ofloksasin, ciprofloksasin, gejala dan tanda klinis
Pengaruh Pemberian Suplementasi Zink Terhadap Kadar Albumin Serum Dan Hemoglobin Pada Lansia Meutia Setyowati Mahanani Lestari; Erwin Prasetyo Ardy; Dwi Ngestiningsih; Amallia N Setyawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.41 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.316

Abstract

Latar belakang: Lansia rentan mengalami penurunan albumin dan hemoglobin akibat defisiensi nutrisi, degenerasi organ, serta peningkatan oksidan dalam tubuh. Zink adalah mikromineral esensial yang berperan sebagai kofaktor enzim, hepatoprotektor, antioksidan serta penyusun ALA dehydrogenase, sebuah metalloenzim penting pada sintesis heme. Pemberian suplementasi zink diharapkan dapat meningkatkan kadar albumin dan hemoglobin lansia. Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian suplementasi zink terhadap kadar albumin dan hemoglobin serum pada lansia Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pre and post test control group design. Sampel adalah lansia berusia diatas 60 tahun yang tinggal di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Semarang.Sebanyak 31 lansia yang setuju mengikuti penelitian dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok perlakuan (16 orang) diberi suplemen zink 40 mg perhari dan senam lansia, sedangkan kelompok kontrol (15 orang) diberi plasebo dan senam lansia. Pemberian suplementasi dilakukan setiap hari selama delapan minggu sedangkan senam lansia dua kali seminggu selama delapan minggu. Sebelum dan setelah penelitian, dilakukan analisa kadar albumin dan hemoglobin serum. Uji statistik menggunakan Wilcoxon dan paired t-test Hasil: Kadar albumin pada kedua kelompok penelitian mengalami kenaikan. Pada kelompok perlakuan kadar albumin meningkat sebesar 0,5 ± 0,23 g/dL (p<0,001) sedangkan pada kelompok kontrol meningkat sebesar 0,2 ± 0,61 g/dL (p= 0,175). Peningkatan hemoglobin hanya ditemukan pada kelompok perlakuan, yaitu sebesar 0,7 ± 0,14 (p=0,002). Pada kelompok komtrol, kadar hemoglobin turun sebesar 0,2 ± 0,66 (p=0,667) Kesimpulan: Pemberiansuplementasi zink dapat meningkatkan kadar albumin dan hemoglobin serum lansia. Kata kunci: Penuaan, lansia, zink, albumin, zink
Hubungan Lingkar Lengan Atas Ibu Hamil Genap Bulan Dengan Ukuran Plasenta Dan Berat Bayi Lahir Eunika Lusiana; Hertanto Wahyu Subagio; Besari Adi Pramono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.329 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.317

Abstract

Latar belakang: Status gizi ibu yang tercermin dari Lingkar Lengan Atas (LILA) sangat mempengaruhi status gizi bayi terutama Berat Bayi Lahir (BBL). Malnutrisi intrauterin mengakibatkan morbiditas dan mortalitas perinatal serta terjadinya penyakit degeneratif yang dikenal dengan Foetal Origin Adult Disease (FOAD). Plasenta merupakan organ untuk mencari riwayat malnutrisi intrauterin.Tujuan: Mencari hubungan LILA ibu hamil dengan ukuran plasenta (berat plasenta dan luas plasenta) dan BBL.Metode: Lima puluh subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, diambil secara consecutive sampling, dari pasien yang melahirkan  selama bulan April – Mei 2016 di RS Dr. Kariadi, Puskesmas Halmahera, Puskesmas Ngresep dan RSIA Bunda. Data  meliputi LILA, berat plasenta, luas plasenta dan BBL. Untuk mempelajari hubungan antara variabel independen (LILA, berat plasenta dan luas plasenta) dengan variabel dependen (BBL) dilakukan analisis uji korelasi. Analisis regresi linier multiple digunakan untuk mengetahui hubungan antara seluruh variabel independen dengan dependen secara simultan.Hasil: Ada hubungan antara LILA dengan BBL (r = 0,762; p = 0,0001), berat plasenta (r = 0,673; p = 0,0001) dan luas plasenta (r = 0,636; p = 0,0001). Pada analisis multivariat ternyata LILA, berat plasenta dan luas plasenta secara berturut-turut berpengaruh terhadap BBL. Nilai r2 = 0,237, artinya pengaruh LILA, berat plasenta dan luas  plasenta terhadap BBL sebesar 23,7%.Simpulan: LILA berhubungan secara positif dengan BBL, berat plasenta dan luas plasenta.Kata kunci: LILA, BBL, berat plasenta, luas plasenta.
Hubungan Dislipidemia Dengan Kadar Malondialdehyde (MDA) Pada Sindroma Nefrotik Sensitif Steroid Relaps Sylvi Anitasari; Muhammad Heru Muryawan; Galuh Hardaningsih Kamilah Budi Rahardjani; R. Rochmanadji Widajat
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.814 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.318

Abstract

Latar Belakang : Peroksidasi lipid yang terjadi pada pasien sindroma nefrotik (SN) yang mengalami dilipidemia dapat mempercepat laju dari penyakit ginjal. Stres oksidatif, yang berujung pada pembentukan Spesies Oksigen Reaktif (SOR), turut menyumbang pada proses degeneratif ini. Malondialdehyde (MDA) digunakan sebagai biomarker untuk mengukur stres oksidatif. Tujuan : Membuktikan hubungan antara dislipidemia dengan kadar MDA pada SN sensitif steroid relaps. Metode : Penelitian cross sectional pada anak dengan SN yang memenuhi kriteria inklusi di RSUP Dr. Kariadi Semarang dan RSUD sekitar Semarang periode Februari 2016 sampai Juni 2016. Pengukuran terhadap MDA, kolesterol total, trigliserida, Low Dencity Lipoprotein (LDL) dan High Dencity Lipoprotein (HDL) dinilai saat pasien SN sensitif steroid sedang relaps. Digunakan uji korelasi dan regresi linear untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hasil : subyek penelitian sebanyak 37 anak yang terdiri 28 (75,7%) laki-laki dan 9 (24,3%) perempuan. Didapatkan korelasi positif antara MDA dengan kadar kolesterol total (r = 0, 386; p =Â 0,018), trigliserida (r = 0,036; p = 0,033) dan LDL (r = 0,196; p = 0,045). Sementara korelasi negatif didapatkan pada HDL (r = -0,31; p = 0,000). Pada regresi linear didapatkan kolesterol total memiliki hubungan korelasi terkuat dengan MDA dibandingkan variabel lain (r = 0,386). Besarnya angka koefisien determinasi adalah 0,188 atau sebesar 18,8%, dimana kenaikan MDA dapat dijelaskan dengan peningkatan kolesterol total, LDL dan Trigliserida. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara dislipidemia dengan kadar MDA pada SN sensitif steroid relaps. Kata kunci : Sindroma nefrotik, dislipidemia, malondyaldehyde