cover
Contact Name
Aziz Alfarisy
Contact Email
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Faktor-Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Kegagalan Inisiasi Menyusui Dini Gatot Irawan S; Faiza Risty A.S; Kamilah Budhi R.
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.999 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.319

Abstract

Pendahuluan : Proses pemberian air susu ibu (ASI) segera setelah bayi lahir, 30 menit hingga satu jam setelah bayi lahir disebut Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi dikatakan berhasil dalam melakukan IMD jika bayi dapat melekat dan dapat menyusu pada puting payudara ibu dalam 30 menit hingga satu jam pertama setelah lahir. Dan dikatakan gagal jika proses tersebut tidak dapat dilalui. Namun, tidak semua bayi dapat melalui proses ini. Tujuan : Untuk menentukan faktor-faktor resiko yang mempengaruhi kegagalan inisiasi menyusu dini berdasarkan faktor maternal, neonatal dan persalinan. Metode : penelitian case control, dilaksanakan di R.S. Dr. Kariadi, Semarang antara bulan Januari hingga Maret 2016.Faktor resiko yang diteliti adalah usia ibu saat melahirkan, keinginan untuk melakukan IMD, jumlah paritas, tingkat pendidikan ibu, dan usia gestasi sebagai faktor maternal, durasi persalinan kala II, warna cairan amnionsebagai faktor persalinan dan berat badan lahir, skor Apgar yang sebagai faktor neonatal. Data diambil dari rekam medis pasien dan berdasarkan wawancara dengan orang tua yang dilakukan di bangsal perinatologi R.S. Dr. Kariadi. Hasil : Subyek penlitian terdiri dari 60 bayi yang terdiri dari 30 bayi yang berhasil melakukan IMD sebagai grup kontrol dan 30 bayi yang gagal dalam melakukan IMD sebagai grup kasus. Pada penelitian ini 18,3% subyekdengan durasi persalinan kala II > 1 jam dan 81,7% subyekdengan durasi persalinan kala II ≤1 hour. Faktor Maternal dan neonatal tidak bermakna secara statistik sebagai faktor resiko yang mempengaruhi kegagalan IMD, tetapi faktor persalnan terutama durasi persalinan kala II lebih dari 1 jam merupakan faktor resiko yang bermakna terhadap kegagalan IMD (OR=6; 95% CI 1,030– 30,725, p=0,02). Kesimpulan : Durasi persalinan kala II lebih dari 1 jam merupakan faktor resiko yang mempengaruhi kegagalan IMD. Kata kunci : inisiasi dini, menyusu, air susu ibu
Sensitivitas Dan Spesifisitas Mdct Angiografi Dalam Mendiagnosis Aneurisma Intrakranial Antonius Gunawan S; Heni Fatmawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.047 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.320

Abstract

Latar belakang: Deteksi yang cepat untuk menemukan ruptur aneurisma intrakranial (AI) sangat penting karena ruptur AI menyebabkan perdarahan subarahnoid (PSA) spontan yang merupakan kegawatan medis dan menyebabkan kematian atau kecacatan berat. Multidetector computed tomography angiography (MDCTA), sebagai alat diagnostik non invasif, telah digunakan secara luas dalam imaging pembuluh darah otak. Tujuan: mengetahui kemampuan sensitivitas dan spesifisitas MDCTA untuk mendeteksi lokasi dan ukuran aneurisma intrakranial. Metode: Studi cross-sectional pada pasien dengan dugaan aneurisma intrakranial yang telah dilakukan pemeriksaan MDCTA dan Digital Substraction Angiography (DSA) dari data rekam medik di RSUP Dr. Kariadi Semarang mulai Oktober 2012 – November 2015. Pengambilan sampel dilakukan dengan consecutive sampling. Dua orang dokter spesialis radiologi yang independen mengevaluasi hasil MDCTA dan DSA untuk menentukan lokasi dan ukuran aneurisma. Analisis statistik menggunakan sensitivitas dan spesifisitas. Hasil: Penderita aneurisma intrakranial terbanyak berusia 40-60 tahun 73,7%, perempuan 78,9% dan 52,6% berukuran 3-7 mm serta 80,5% berlokasi di sirkulasi anterior. Sensitivitas MDCTA dalam mendeteksi aneurisma baik yang berukuran kurang dari 3 mm, 3-7 mm dan lebih dari 7 mm pada penelitian ini adalah 100, 100, 100 %, sedangkan nilai spesifisitas adalah 100, 100 dan 93,3%. Kesimpulan: Penggunaan MDCTA untuk mendiagnosis aneurisma intrakranial mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi sehingga dapat menjadi pilihan pertama dalam tehnik imaging. Kata kunci: Aneurisma intrakranial, MDCTA, sensitivitas, spesifisitas
Evidence Base Practice Efek Seft (Spiritual Emotional Freedom Tehnique) Therapy Terhadap Kecemasan Pasien Pre Operasi Di Ruang Persiapan Iar Rso Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta Yuswinda K
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.028 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.321

Abstract

Tindakan pembedahan merupakan salah satu tindakan medis yang akan mendatangkan stresor terhadap integritas seseorang. Reaksi yang muncul berupa reaksi stres baik fisiologis maupun psikologis akan tetapi yang paling menonjol adalah reaksi secara psikologis berupa kecemasan. SEFT atau Spiritual Emotional Freedom Technique adalah sebuah metode terapi yang bertujuan menghilangkan atau membuang energi negatif dari dalam tubuh sehingga seseorang akan menjadi sehat fisik dan  psikis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas pemberian SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) pada kecemasan pasien preoperatif di Ruang Persiapan IAR RS Ortopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Jenis penelitian ini menggunakan desain pretest-posttest. Populasi yang dipakai dalam penelitian ini adalah pasien pre operatif dari bangsal kelas II dan kelas III RSO. Prof. Dr. Soeharso Surakarta berusia 20-60 tahun dan mengalami kecemasan. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling dan didapatkan sampel 8 orang. Analisa data dilakukan berdasarkan data yang diperoleh pre-post intervensi SEFT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi. Kata Kunci: SEFT, Kecemasan pasien pre operasi
Dampak Smartphone Dengan Kejadian Myopia Pada Anak Di TK Melati Sambiroto Semarang Sri Suparti
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.225 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.322

Abstract

Latar belakang: Dengan adanya teknologi baru permainan tradisional berganti dengan bermain, belajar menggunakan Smartphone. Kebiasaan bermain atau belajar menggunakan smartphone akan mengalami kelainan refraksi. Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab kebutaan dan hambatan penglihatan saat beraktivitas. Kelainan refraksi antara lain: Hipermetropia, Astigmatisma, Myopia. Metode: Penelitian ini penelitian observasional analitik dengan menggunakan disain cross sectional .Sampel pada penelitian ini anak TK Melati Sambiroto Semarang sebanyak 42. Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan obyektif. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Chi Square. Hasil: Lama penggunaan Smartphone menunjukan prosentase (81.8%) lebih dari 2 jam /hari dengan (p=0.000). Genetik menunjukan prosentase (81.3%) mengalami myopia dengan (p=0.004). Posisi penggunaan Smartphone menunjukan prosentase (68.0%) tidak duduk tegak dengan (p=0.012) Kesimpulan: Dari hasil penelitian ini menunjukan ada hubungan bermakna antara lama menggunakan smartphone dan faktor genetik dengan kejadian myopia. Posisi penggunaan Smartphone menunjukkan ada hubungan dengan kejadian myopia. Kata Kunci: Anak, Smartphone, Myopia
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif oleh Staf di RSUP DR. Kariadi Semarang Sri Rejeki; Erna Widyastuti; Farida Sukowati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.17 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.323

Abstract

Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 pencapaian ASI eksklusif nasional sebanyak 42%, angka tersebut jauh dari target yang diharapkan sebesar 80% (Kemenkes,2015). Salah satu hambatan tercapainya ASI eksklusif adalah saat ibu kembali bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan praktik pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan di RSUP Dr.Kariadi Semarang. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr.Kariadi Semarang. Metode penelitian bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah tenaga kesehatan yang mempunyai anak umur 6-12 bulan. Tehnik pengambilan sampel dengan tehnik total sampling sejumlah 45 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data univariat dan bivariat dengan menggunakan Chi Square dengan hasil analisis semua variabel yang diteliti nilai P > 0,05 sehingga tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, dukungan manajemen, dukungan rekan kerja dan fasilitas menyusui dengan praktik pemberian ASI eksklusif. Dari hasil penelitian ini diharapkan tenaga kesehatan mengikuti kelas menyusui sehingga timbul kepercayaan diri dan motivasi yang tinggi untuk memberikan ASI eksklusif. Serta diharapkan RSUP Dr.Kariadi menyediakan fasilitas khusus menyusui yang sesuai standar dan membuat kebijakan yang mendukung ASI eksklusif untuk pegawainya. Kata kunci : Pengetahuan ,Sikap, Dukungan Manajemen, Dukungan Rekan Kerja,  Fasilitas Khusus Menyusui, Praktik Pemberian ASI Eksklusif
A Boy With Suspicion of Type V Glycogen Storage Disease Maria Mexitalia; Astri Pinilih
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.99 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.324

Abstract

Latar belakang : Glycogen storage disease subtipe V (GSD-V; penyakit McArdle; defisiensi miofosforilase; defisiensi fosforilase glikogen otot) disebabkan oleh mutasi pada gen fosforilase glikogen otot. Gejala klinis biasanya dimulai pada saat remaja awal dengan intoleransi latihan dan kekakuan otot. Mioglobinuria transien terjadi akibat rhabdomiolisis setelah latihan dan dapat menyebabkan gagal ginjal akut. Kasus : Seorang anak laki-laki, usia 13 tahun dirujuk ke Rumah Sakit Dr.Kariadi dengan keluhan bengkak seluruh tubuh, urine berwarna hitam, demam, kaku pada jari-jari dan tidak dapat berjalan. Pemeriksaan fisik menunjukkan edema general, paraparese innferior, paralisis nervus fasialis dan pembesaran lien. MRI kepala dengan kontras menunjukkan lesi multipel di nukleus kaudatus dan putamen bilateral. Hasil histopatologi biopsi hepar adalah penyakit metabolik yang cenderung merupakan kelainan metabolism karbohidrat. Pembahasan :Hampir seluruh pasien dengan penyakit McArdle menunjukkan intoleransi latihan, seperti mudah lelah, nyeri otot, kontraktur dan mioglobinuria yang dipicu oleh latihan. Diagnosis definitif adalah berdasarkan pemeriksaan histokimiawi otot dengan tidak ditemukannya enzim fosoforilase otot. Penyakit McArdle tidak dapat disembuhkan dan tidak ada terapi khusus yang direkomendasikan. Simpulan : Pasien didiagnosis dengan kecurigaan glycogen storage disease tipe V.. Pasien mendapatkan terapi nutrisi suplementasi vitamin B6, vitamin B12 dan fisioterapi. Terdapat beberapa pemeriksaan yang belum dapat dilakukan selama perawatan, yaitu forearm ischemic exercise, evaluasi mioglobinuria, kreatinin kinase dan analisis genetika. Kata kunci : GSD tipe V, anak, penyakit metabolik
Deteksi Dini dan Habilitasi Gangguan Dengar Pada Bayi dan Anak Muyassaroh Muyassaroh
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 2 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.275 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i2.325

Abstract

Gangguan pendengaran (hearing loss) dan ketulian (deafness) dapat terjadi pada semua usia sejak lahir sampai usia lanjut, namun kadang-kadang tidak disadari, apalagi jika terjadi pada bayi. Dampak dari gangguan pendengaran dan ketulian tidak hanya berakibat pada terganggunya perkembangan wicara dan bahasa, tetapi pada tahap selanjutnya akan menyebabkan hambatan perkembangan akademik, ketidakmampuan bersosialisasi, perilaku emosional dan berkurangnya kesempatan memperoleh pekerjaan.Semua dampak ini mempengaruhi kualitas hidup anak dan juga orangtua. Identifikasi gangguan pendengaran sejak dini dan intervensi yang sesuai akan mencegah terjadinya segala konsekuensi tersebut. Penyebab gangguan dengar pada bayi dan anak terjadi pada masa prenatal, perinatal dan postnatal. Gangguan dengar atau kelainan pada masa prenatal dapat menyebabkan ketulian pada bayi/tuli sejak lahir. Angka kekerapan terjadinya tuli sejak lahir dibeberapa negara berkisar 1-3/1000 kelahiran. Di Indonesia sebesar 0,1%. Jumlah ini akan bertambah setiap tahun dengan adanya pertambahan penduduk akibat tingginya angka kelahiran sebesar 0,22%.WHO-SEARO (South East Asia Regional Office) Intercountry meeting (Colombo, 2000) mencanangkan program Sound hearing (SH) 2030 “Better hearing for all”, salah satu sasarannya adalah penurunan ketulian sejak lahir. Deteksi dini dilakukan pada setiap bayi baru lahir setelah 24 jam pertama kelahiran, tindakan intervensi sebelum usia 6 bulan apabila ditemukan masalah ganggguan pendengara. Yoshinaga-Itano melaporkan bahwa bayi dengan gangguan pendengaran bilateral yang telah dilakukan intervensi sebelum usia 6 bulan, menunjukkan kemampuan berbahasa normal pada usia 3 tahun.Habilitasi pendengaran pada anak dengan gangguan dengar sejak lahir dengan metode AVT terbukti efektif dapat meningkatkan kemampuan bahasa dan bicara mendekati anak normal.
Hubungan Derajat Keterbatasan Fungsional Dengan Tes Fungsi Hati Pada Penyakit Gagal Jantung Kongestif Sulistiana Jhon Desel; Banundari Rachmawati
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 3 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.064 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i3.327

Abstract

Pendahuluan: Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung sebagai pompa untuk mempertahankan curah jantung (cardiac output) dalam memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme tubuh. Akibat penurunan cardiac output,perfusi darah keorgan hati kurang optimal, sehingga terjadi hipoksia yang bila berlangsung kronis dapat mengakibatkan atrofi sel hepatosit.Keadaan ini mengakibatkan peningkatan kadar enzim hepar (SGOT, SGPT),dan dapat menimbulkan kelainan hemodinamik, gangguan koagulasi, gangguan fungsi hati dan gangguan fungsi sintesis albumin. Klasifikasi NYHA membagi gagal jantung kongestif berdasarkan derajat keterbatasan fungsional jantung. Belum pernah dilakukan penelitian tentang derajat keterbatasan fungsional dengan tes fungsi hati pada penyakit gagal jantung kongestif.Metode: Desain penelitian ini adalah belah lintang. Sampel adalah serum 30 penderita penyakit jantung kongestif berbagai derajat sesuai kriteria NYHA pada laki-laki dan perempuan usia 20-55 tahun yang dirawat di RSUP Dr. Kariadi bulan Januari 2016-Maret 2016. Pemeriksaan kadar  SGOT,SGPT,albumin,bilirubin total,bilirubin direk dan bilirubin indirek yang diteliti menggunakan autoanalyzer. Hasil pemeriksaan dianalisis mengunakan uji stastistik, mengunakan uji korelasi Spearman’s rho dengan batas kemaknaan p<0,05Hasil:Terdapat hubungan positif sangat kuat antara derajat fungsional dengan bilirubin total (r=0,950, p<0,000), bilirubin direk (r=0,927, P<0,000), bilirubin indirek (r=0,946, p<0,000), SGOT (r=0,966, p<0,000), SGPT (r=0,964, p<0,000),   dan terdapat hubungan negatif sangat kuat antara derajat fungsional dengan albumin (r=-0,949, p<0,000).Simpulan:Semakin tinggi derajat keterbatasan fungsional akan semakin tinggi bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek, SGOT dan SGPT.Sebaliknya albumin,semakin tinggi derajat keterbatasan fungsional akan semakin rendah albumin.   Kata kunci :Congestive Heart Failure, Liver fuction test
Gambaran Pasien dengan Disfagia di RSUP Dr. Kariadi Semarang Periode 01 Januari – 31 Desember 2014 Nancy Liwiksari; Dwi Antono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 3 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.145 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i3.328

Abstract

Latar belakang :Kesulitan makan akibat gangguan dalam proses menelan dikenal dengan disfagia.Disfagia merupakan gejala dari berbagai penyebab berbeda.disfagia dibedakan menjadi disfagia orofaringeal dan disfagia esofagus. Sebagian besar pasien dengan keluhan disfagia mengeluhkan atau kesulitan menelan terutama pada fase orofaringeal.Studi penelitian tentang distribusi frekuensi pasien dengan disfagia di RSUP Dr. Kariadi Semarang belum pernah dilakukan.Tujuan :Untuk mengetahuigambaran pasien dengan disfagia di RSUP Dr. Kariadi Semarang.Metode :Studi penelitian deskriptif retrospektif. Data didapatkan dari rekam medik pasien dengan disfagia periode 01 Januari-31 Desember 2014.Hasil : Total terdapat 68 pasien dengan disfagia.Kesimpulan :Enam puluh delapan pasien dengan disfagia berjenis kelamin laki-laki adalah yang terbanyak dibandingkan perempuan dengan usia terbanyak di atas 45 tahun. Disfagia orofaringeal adalah yang terbanyak dibandingkan disfagia esofagus. Kemungkinan penyebab yang mendasari disfagia orofaringeal terbanyak karena kelainan neurologis dan kemungkinan peyebab yang mendasari disfagia esophagus terbanyak karena keganasan esofagus.Kata kunci :Disfagia, disfagia orofaringeal, disfagia esofagus 
Evaluasi Pelatihan Ekstraksi Serumen Pada Dokter Layanan Primer Bodro Prastowo; Muyassaroh .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 4 No. 3 (2017): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.07 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v4i3.329

Abstract

Latar belakang : Ekstraksi serumen merupakan prosedur yang dapat dilakukan dokter umum/dokter layanan primer. Diperkirakan sekitar 4% pasien dengan kasus serumen akan konsultasi ke dokter pelayanan primer. Tujuan penelitian ini adalah melakukan evaluasi pelatihan ekstraksi serumen pada dokter layanan primer di wilayah Jawa tengah.Metode : Penelitian deskriptif analitik menggunakan kuesioner diisi oleh dokter layanan primer yang pernah dilatih.Hasil : subyek 128 dokter layanan primer dengan 109 (85,2%) mendapatkan kasus serumen 0-5 kasus setiap minggunya. Peningkatan prosentase keberhasilan ekstraksi serumen dari 14,1% menjadi 32% dan penurunan kasus yang dirujuk ke faskes tingkat 2 dari 32% menjadi 46,9% sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan (p<0,05).Kesimpulan : Pelatihan ekstraksi serumen dapat meningkatkan keberhasilan penanganan ekstraksi serumen di dokter layanan primer dan penurunan kasus serumen yang dirujuk ke faskes tingkat 2.Kata kunci : serumen, pelatihan ekstraksi serumen, dokter layanan primerÂ