cover
Contact Name
Aziz Alfarisy
Contact Email
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Pengaruh vitamin C terhadap peroksidasi lipid, gejala klinik dan kualitas hidup penderita tonsilitis kronik Nancy Liwikasari; Farokah .; Suprihati .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.315 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.360

Abstract

Latar belakang: Masalah tonsilitis kronik sering pada anak. Gejala klinik yang muncul berdampak negatif sehingga menurunkan kualitas hidup. Radikal bebas berperan dalam tonsilitis kronik. Potensi kerusakan radikal bebas dibatasi antioksidan. Tujuan: Membuktikan vitamin C menurunkan kadar peroksidasi lipid, memperbaiki gejala klinik dan kualitas hidup penderita tonsilitis kronik. Material dan metode: Penelitian Randomized Controlled Trial dengan simple random sampling. Penilaian kadar peroksidasi lipid, gejala klinik dan kualitas hidup dilakukan sebelum dan sesudah pemberian vitamin C. Hasil: Total 51 penderita, 10 drop out dan 41 dianalisis. Kadar peroksidasi lipid sesudah perlakuan kelompok vitamin C (3,41 (0,53-4,65)) tidak berbeda bermakna dibandingkan sebelum perlakuan (3,43 (0,39-4,16)) (p=0,237). Skor total gejala klinik sesudah perlakuan kelompok vitamin C (14,76±4,34) lebih rendah dibandingkan sebelum perlakuan (20,38±5,25) (p=0,000). Skor total kualitas hidup sesudah perlakuan kelompok vitamin C (65 (52 – 79)) lebih rendah dibandingkan sebelum perlakuan (78 (57 – 88)) (p=0,000). Kesimpulan: Kadar peroksidasi lipid yang diberikan vitamin C tidak berbeda bermakna dibandingkan tanpa diberikan vitamin C (p=0,237). Gejala klinik dan kualitas hidup yang diberikan vitamin C lebih baik dibandingkan tanpa diberikan vitamin C. Kata kunci: tonsilitis kronis, kadar peroksidasi lipid, gejala klinik, kualitas hidup
Hubungan korioamnionitis dengan Asfiksia Neonatus pada kehamilan dengan ketuban pecah dini. Naura Laras Rif'ati; Herman Kristanto; Putri Sekar Wijayati; Nahwa Arkhaesi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.865 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.361

Abstract

Latar Belakang:KPD merupakan masalah penting yang dapat menempatkan ibu dan anak pada risiko infeksi. Infeksi sekunder secara asenderen dapat terjadi pada KPD yang kemudian dapat menyebabkan  desiduitis, korioamnionitis ataupun infeksi pada janin. Korioamnionitis dapat dikaitkan dengan rendahnya kesejahteraan bayi saat lahir yang dinilai dengan skor APGAR, kebutuhan untuk resusitasi pada saat kelahiran, dan kejang neonatal. Tujuan: Mengetahui hubungan korioamnionitis dengan Asfiksia Neonatus pada kehamilan dengan ketuban pecah dini. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian observational dengan desain belah lintang. Subyek penelitian adalah 31 ibu hamil dengan KPD disertai korioamnionitis yang melahirkan di RSUP Dr. Kariadi dan rumah sakit jejaring pendidikan pada Februari – Juni 2017 yang dipilih secara consecutive sampling.Terhadap subjek penelitian dilakukan pengambilan data identitas, karakteristik obstetri dan skor APGAR, lalu diambil sampel kulit ketuban untuk diperiksa adanya korioamnionitis secara histopatologis.Uji statistik menggunakan Uji Gamma. Hasil: Dari seluruh subjek penelitian, 71% (n=22) pasien KPD mengalami korioamnionitis sedangkan 29% (n=9) lainnya tidak mengalami korioamnionitis. Sebesar 100% pasien tidak memiliki bayi asfiksia pada korioamnionitis tingkat 1 (n=2) dan tingkat 2 (n=1). Pada korioamnionitis tingkat 3, sebesar 91,7% (n=11) pasien tidak memiliki bayi asfiksia dan 8,3% (n=1) pasien memiliki bayi asfiksia ringan-sedang. Pada korioamnionitis tingkat 4, sebesar 85,7% (n=6) pasien tidak memiliki bayi asfiksia dan 14,3% (n=1) pasien memiliki bayi asfiksia berat. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara korioamnionitis  denganasfiksia neonatus dengan nilai p sebesar 0,210 ( p > 0.05). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara korioamnionitis dengan asfiksia neonatus pada kehamilan dengan KPD. Kata kunci: Asfiksia Neonatus, Ketuban Pecah Dini, Korioamnionitis
Penegakkan Diagnosis Dan Manajemen Tatalaksanakista Odontogenik Regio Maksilla Anterior Di RSUP Dr.Kariadi Semarang Christin Rony Nayoan; Riece Hariyati; Anna Mailasari Kusuma Dewi; Dwi Antono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.233 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.362

Abstract

Latarbelakang :Kistaodontogenic adalah kista dengan struktur epitel berasal dari struktur gigi.Kistaodontogenic sering terjadi didaerah rahang,terutama diregiomaksillaanterior.Tujuan :Untuk memberikan informasi penegakkan diagnosiskista odontogenik terutama di regio maksilla anterior yang sering memberikan gambaran tumor jinak.Laporan kasus :Serial kasus kista odontogenicdiregiomaksilla anterior pada 2 pasien dewasa dengan tatalaksana berupa tindakan ekstirpasi dengan cara enukleasi menggunakan pendekatan midfacialdegloving dan Denkerrhinotomy.Kesimpulan :Kasus yang dilaporkan menunjukkan bahwa kista odontogenik regio maksilla anteriorsering tidak terdiagnosis karena penampakannya menyerupai massa jinak.  Kata kunci :Kistaodontogenik,  maksilla, diagnosis, enukleasi
Terapi Siklosporin Pada Psoriasis Pustulosa Generalisata Dengan Liver Injury Karena Penggunaan Acitretin Jangka Panjang Renni Yuniati; Intan Nurmawati Putri
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.246 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.363

Abstract

Latar belakang: Psoriasis pustulosa generalisata (PPG) merupakan salah satu jenis psoriasis yang jarang terjadi. Angka kejadian PPG 0,6-0,7 kasus per satu juta jiwa. Gejala khas PPG yaitu terdapat pus steril dengan ukuran 2-3 mm yang tersebar generalisata diatas kulit yang eritem. Terapi yang biasa digunakan diantaranya siklosporin, acitretin, atau metrotekstat. Tujuan: Tujuan dari kasus ini untuk membahas tentang faktor pencetus PPG, pilihan obat, komplikasi, dan efek samping dari terapi PPG jangka panjang.Kasus: Seorang wanita usia 37 tahun dengan riwayat psoriasis datang dengan keluhan terdapat pustula generalisata, makula eritem dan skuama. Faktor predisposisi dan pencetus pada pasien ini adalah obesitas dan stres emosional. Pasien pernah mendapatkan terapi siklosporin selama 3 tahun kemudian diganti asitretin satu tahun terakhir. Hasil histopatologi didapatkan gambaran abses munro dan parakeratosis sesuai dengan PPG. Didapatkan leukositosis dan kelainan tes fungsi hati pada pemeriksaan laboratorium, sehingga terapi kembali diganti dengan siklosporin dosis rendah selama 10 hari dan memberikan hasil yang memuaskan.Pembahasan: PPG merupakan penyakit autoimun. Stres emosional merupakan faktor yang paling berpengaruh; pada kasus ini pasien telah lama menderita PPG dan terapi sistemik jangka panjang, emosi pasien menjadi tidak terkontrol sehingga sering terjadi kekambuhan. Acitretin dapat menyebabkan kerusakan hepar; siklosporin dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Simpulan: PPG masih menjadi masalah besar. Stres emosional merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian PPG. Terapi jangka panjang dan efek samping menyebabkan ketidakpatuhan pasien untuk konsumsi obat. Penting bagi pasien untuk melanjutkan terapi obat sistemik dan mengontrol emosiKata kunci: Psoriasis pustulosa generalisata, Acitretin, Siklosporin, Kerusakan Hepar.Key Words: Psoriasis, Hypocalcemia, Hypoparathyroidism, Psoriasis of von ZumbuschPsoriasis is an autoimmune disease triggered by different conditions in genetically susceptible people. It is characterized by variable cutaneous manifestations including localized or disseminated pustules. Generalized pustular psoriasis (GPP) has two main clinical forms: von Zumbusch psoriasis, characterized by severe erythrodermia and scaling skin after the resolution of pustules, and the annular form. GPP may also present severe extracutaneous manifestations including pneumonitis, heart failure and hepatitis. Old reports showed a relationship between hypoparathyroidism and hypocalcemia as triggers for GPP highlighting the importance of adequate workup of the patient and possible therapeutic changes in acute situations. Here, we present a case of severe von Zumbusch psoriasis with life-threatening complications triggered by severe hypocalcemia secondary to hypoparathyroidism successfully treated with aggressive calcium reposition.Key Words: Psoriasis, Hypocalcemia, Hypoparathyroidism, Psoriasis of von Zumbusch
Peran Mr-Imaging Dalam Deteksi Agenesis Corpus Callosum Pada Anak Dengan Keluhan Kejang Anisah Amalia Waqiati; Frederica Mardiana Wahyuni
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (846.338 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.364

Abstract

LATAR BELAKANGGangguan pada perkembangan otak dapat mengakibatkan abnormalitas. Gangguan tersebut dapat berasal dari beberapa faktor, yaitu faktor lingkungan / didapat, faktor genetik dan abnormalitas fungsional. Kelainan kongenital sistem saraf pusat dapat terjadi sebagai lesi tunggal maupun dapat berhubungan dengan malformasi kongenital yang lain. Neuroimaging memegang peranan penting dalam diagnosa pasien dengan kelainan otak kongenital.LAPORAN KASUSKasus 1 : Seorang bayi perempuan usia 2 bulan dirawat dengan keluhan kejang yang dirasakan sejak pasien berusia 2 hari. Pada pemeriksaan MRI didapatkan kesan tak tampak gambaran corpus callosum disertai gambaran colpocephale dan pelebaran ventrikel lateral kanan kiri dan ventrikel III membentuk gambaran racing car sign, sesuai gambaran agenesis corpus callosum. Tampak pula adanya heterotopia periventrikuler, microftalmia curiga disertai coloboma cyst dan perineural cyst.Kasus 2 : seorang anak perempuan usia 10 tahun datang dengan keluhan kejang dan kaku pada seluruh badan. Pada pemeriksaan MRI kepala tanpa kontras didapatkan adanya gambaran colpocephale disertai penipisan body corpus callosum bagian posterior yang mendukung gambaran hipogenesis corpus callosum. Tampak pula gambaran polymicrogyria lobus occipital kanan-kiri dan pachygyria sebagian lobus regio parietal kanan-kiri.DISKUSIAbnormalitas kongenital corpus callosum dapat berupa complete agenesis maupun terbentuk secara parsial / hipogenesis. Diagnosis agenesis corpus callosum sangat bergantung pada neuroimaging. Diagnostik ini dapat ditegakkan pada masa prenatal dan post natal. Pemeriksaan imaging yang dapat digunakan dalam mendiagnosis agenesis corpus callosum adalah ultrasonografi (USG), CT scan dan MRI. Sedangkan pada masa antenatal USG dan MRI merupakan pilihan yang dapat digunakan untuk mendiagnosa adanya agenesis corpus callosum.KESIMPULANCorpus callosum dapat terlihat dengan detail menggunakan pemeriksaan MRI. Pemeriksaan dengan MRI dapat dimulai dari masa fetus sampai lahir. Penegakkan diagnosis sedini mungkin sangat penting dalam penentuan target terapi pasien.Kata Kunci : agenesis callosal, malformasi otak, malformasi kongenital
Tatalaksana Laringomalasia Kongenital Derajat Sedang pada Bayi Muyassaroh .; Rery Budiarti
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.475 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.365

Abstract

Latar belakang: Laringomalasia merupakan kelainan laring kongenital yang paling sering. Gejala khas laringomalasia adalah stridor inspirasi. Penatalaksanaan laringomalasia dengan non medikamentosa, medikamentosa dan operatif. Tujuan penulisan kasus ini adalah melaporkan  tatalaksana laringomalasia kongenital derajat sedang pada bayi dengan aspirasi rekuren, sehingga angka morbiditas dan mortalitas menurun.Laporan kasus: Bayi perempuan, usia 2 bulan, konsulan dari bangsal anak RSUP Dr. Kariadi Semarang dirawat dengan assesment bronkopneumonia riwayat aspirasi rekuren, gizi buruk perawakan normal, dan anemia mikrositik normokromik. Diagnosis Bagian THT adalah laringmalasia kongenital derajat sedang disertai pneumonia aspirasi. Tatalaksanan dengan diit lewat NGT, medikamentosa, fisioterpi, stimulus oromotor. Evaluasi 1minggu mengalami perbaikan, dipulangkan terpasang NGT, diberi obat, edukasi, fisioterapi dan latihan stimulus oromotor Bayi. usia 6 bln NGT di lepas. Evaluasi saat pasien berusia 8 bulan, tidak sesak nafas, minum susu dengan dot dan tidak tersedak. Pembahasan : Laringomalasia dibagi menjadi derajat ringan, sedang dan berat. Laringomalasia derajat sedang perlu perbaikan gejala dengan memasang NGT untuk diit dan cegah aspirasi. 70% bayi mengalami perbaikan setelah 12 bulan. 28% laringomalasia derajat sedang dapat menjadi laringomalasia derajat berat. Bayi dengan laringomalasia derajat sedang dan saturasi oksigen rata-rata ≤ 91% memerlukan terapi operatif (supraglottoplasti). Kasus ini terdiagnosis laringomalasia derajat sedang dengan terapi konservatif membaik dan tidak ada indikasi untuk dilakukan tindakan operatif.Kesimpulan :. Bayi perempuan 2 bulan terdiagnosis laringomalasia derajat sedang disertai aspirasi pneumonia. Di berikan tatalaksana konservatif mengalami perbaikan klinis. Usia 8 bulan tidak sesak, dapat minum dengan baik. Kata kunci : Derajat laringomalasia, stridor, tatalaksana
Komponen Glasgow Coma Scale (GCS) Dan Saturasi Oksigen Sebagai Prediktor Kematian Pada Pasien Cedera Kepala Di RSUP Dr. Kariadi Semarang Sumarno Sumarno; Moch Hidajat; Ika Setyo Rini
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 1 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.765 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i1.370

Abstract

Abstrak Latar belakang : Angka kejadian dan kematian pasien cedera kepala cukup tinggi, sehingga menuntut pelayanan yang lebih baik, disisi lain fasilitas perawatan, terutama perawatan intensif (ICU) terbatas. Hal ini mengakibatkan rumah sakit harus melakukan seleksi terhadap pasien yang akan masuk ke ruang perawatan intensif. Prediktor kematian dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk melakukan seleksi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah model prediksi kematian pada pasien murni cedera kepala dengan menggunakan pemeriksaan standar yang ada di Instalasi Gawat Darurat, terutama pada saat sebagian komponen GCS tidak dapat dinilai. Metode : Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan prospektif. Responden ditentukan berjumlah 49 pasien. Analisis data dengan uji spearman, uji lambda, multivariat regresi logistik. Hasil : Didapatkan korelasi yang bermakna antara semua variabel bebas dengan kematian pasien, GCS-E (p=0,011, r=0,647); GCS-V (p=0,002, r=0,647); GCS-M (p=0,008, r=0,529); SaO2 (p=0,022, r=0,429). Semua komponen GCS dapat digunakan untuk memprediksi probabilitas kematian pasien cedera kepala bersama dengan SaO2. Simpulan : Semua komponen GCS dan saturasi oksigen dapat digunakan sebagai prediktor kematian pasien cedera kepala. Kata Kunci: cedera kepala, prediktor kematian, komponen GCS. Background : The number of incidence and mortality of patients with traumatic brain injury (TBI) is high, so it is called for better service, on the other hand healthcare care facilities, particularly bed of intensive care unit (ICU) limited. So often the hospital should perform a selection against patients. Mortality predictors can be used as tool for selection. The aims of this research is to gain a predictive model of mortality in isolative TBI patients using a standardized examination in Emergency Department, especially when part of GCS can’t be assesed. Methods : Design of this study is a observational study with prospective approach. Respondents totaled 49 person. Data analysis being performed with spearman test, lambda test, Multivariate logistic regression. Results : Correlation between all the independence variables with mortality of the patient, GCS-E (p=0,011, r=0,647); GCS-V (p=0,002, r=0,647); GCS-M (p=0,008, r=0,529); SaO2 (p=0,022, r=0,429). The all components of the GCS, SaO2 can be used to predict the probability of death of the patient injury head. Conclusion : GCS components and oxygen saturation can be used as mortality predictor on patients with traumatic brain injury. Keywords : Traumatic brain injury, mortality predictor, components of GCS
Pengaruh Suplementasi Ekstrak Ikan Gabus (Channa Striata ) Terhadap Kadar Albumin, Kolesterol, Waktu Remisi Dan Kejadian Relaps Pada Anak Sindrom Nefrotik Muhammad Heru Muryawan; Ag Soemantri; Hertanto Wahyu Subagio; Nanan Sekarwana
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 1 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.786 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i1.371

Abstract

Background : Nephrotic syndrome (NS) is common in children with massive proteinuria causing severe hypoalbuminemia and hypercholesterolemia. Various attempts are required to increase albunin serum, accelerate remission time, and prevent relapse in order to reduce kidney damage. The Channa striata extract is known for its benefits in increasing albumin levels. Objective : To prove channa striata extract supplementation effect in increasing albumin serum, reducing cholesterol serum, remission and relapse time in children with NS. Methods :This is a double blind randomized controlled trial pre and post test design, 60 children with NS aged 1-15 years were included. A total of 500 mg / day channa striata extract capsule supplementation were administrated 2x1 to the treatment group for 21 days, meanwhile control group received placebo. Children with other chronic disease and with steroid resistance NS were excluded. The outcomes were serum albumin, cholesterol levels, remission and relapse time. Analysis data of albumin and cholesterol was performed by using unpaired t test and Mann-Whitney test. Remission and relapse times were analyzed by chi-square test. Results: There are 60 children met the inclusion criteria (32 children received Channa extract and 28 children were given placebo). Increased albumin level after supplementation was 3,6+0.8 g/dL(p<0.05) higher compared to placebo group 3,2+0.8 g/dL( p<0.05). Decreased levels of total cholesterol between the two groups were not significant (p>0.05). The treatment group remission time was 8.4+2.9 days, 11.0+3.7 day faster compared to placebo group (p <0.05). Relapse in the treatment group (21.4%) were similar to the placebo group (21.9%) (p> 0.05). Conclusions: Channa striata extract supplementation 3x500 mg/day for 21 days is effective to increase albumin levels and accelerate remission time significantly. Decreased cholesterol serum and relapse were not significant. Keywords: nephrotic syndrome, channa striata extract, albumin, cholesterol, remission time, relapse Latar Belakang: Sindrom nefrotik (SN) banyak dijumpai pada anak dengan proteinuria masif yang menyebabkan hipoalbuminemia berat dan hiperkolesterolemia. Diperlukan upaya meningkatkan kadar albumin, mempercepat waktu remisi dan mencegah relaps guna mengurangi kerusakan ginjal. Ekstrak ikan gabus (EIG)/Channa striata) diketahui dapat meningkatkan kadar albumin. Tujuan: Membuktikan pengaruh suplementasi EIG terhadap peningkatan kadar albumin, penurunan kolesterol,waktu remisi dan kejadian relaps pada anak SN. Metode: Penelitian randomized controlled trial pre and post test design, tersamar ganda, dilakukan mulai Maret-November 2017 terhadap 70 anak SN usia 1-15 tahun, terbagi menjadi 35 anak kelompok suplementasi EIG 2x500 mg/hari selama 21 hari; 35 anak kelompok kontrol. Anak dengan penyakit kronis lain, anak dengan resisten steroid di eksklusi. Luaran yang diteliti adalah kadar albumin, kolesterol, waktu remisi dan kejadian relaps. Analisis data kadar albumin dan kolesterol dengan uji t tidak berpasangan dan uji Mann-Whitney, waktu remisi dan kejadian relaps dengan uji Chi-Square. Hasil: Enam puluh subyek masuk kriteria penelitian (32 di kelompok EIG dan 28 di kelompok plasebo). Peningkatan kadar albumin setelah pemberian EIG 3,6+0,8 g/dL lebih tinggi dibanding kontrol 3,2+0,8 g/dL (p<0,05). Penurunan kadar kolesterol total diantara dua kelompok didapatkan nilai p>0,05. Waktu remisi kelompok EIG 8,4+2,9 hari, lebih cepat dibanding kontrol 11,0+3,7 hari (p<0,05). Kejadian relaps kelompok EIG (21,4%) sama dengan kontrol (21,9%) (p>0,05). Kesimpulan: Suplementasi EIG 2x500 mg/hari selama 21 hari, efektif meningkatkan kadar albumin dan mempercepat waktu remisi secara bermakna. Penurunan kadar kolesterol dan kejadian relaps tidak bermakna. Kata kunci: sindrom nefrotik, ekstrak ikan gabus, albumin, kolesterol, waktu remisi, relaps
Pengaruh Posisi Tidur Semi Fowler 450 Terhadap Kenaikan Nilai Saturasi Oksigen Pada Pasien Gagal Jantung Kongestif Di RSUD Loekmono Hadi Kudus Sugih Wijayati; Dian Hardiyanti Ningrum; Putrono Putrono
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 1 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.861 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i1.372

Abstract

Background : Congestive Heart Failure (CHF) is a physiological condition where the heart is unable to pump enough blood to fullfill the metabolic needs of the body that cause some clinical symptoms felt by clients such as dyspnea, orthopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea (PND) shortness of breath at night day. The most effective position for clients with congestive heart failure disease is 450 degree slope semi Fowler position, using gravity to aid lung compliance and reduce the pressure of the abdominal diaphragm. Aim: This study is to determine the effect of 450 semi Fowler bed position to increase the value of oxygen saturation in patients with congestive heart failure in dr. Loekmono Hadi Kudus General Hospital. The type of this research is to draft Experimental Pre-Pre and Post Test One Group Design. Conducted on 16 respondents with total sampling technique that met the inclusion criteria. Methods: The research data were analyzed using dependent t-test. Result : The result showed the difference in median 2 L / s average 2%, which use oxygen 3 L / s average 1%, and that does not use oxygen to experience average increase of 1%. 450 semi Fowler bed position has an effect to increase the value of oxygen saturation in patients with congestive heart failure. Conclution : The study recommends to give 450 semi Fowler bed position to patients with congestive heart failure with decreased oxygen saturation. Keywords: 450 semi Fowler bed position; CHF; SpO2 Latar Belakang : Congestive Heart Failure (CHF) merupakan suatu kondisi fisiologis ketika jantung tidak mampu memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh yang menimbulkan beberapa gejala klinis yang dirasakan klien beberapa diantaranya dispnea, ortopnea, paroxysmal nocturnal dispnea (PND) sesak nafas pada malam hari. Posisi yang paling efektif bagi klien dengan penyakit gagal jantung kongestif adalah posisi semi Fowler dengan derajat kemiringan 450, yaitu dengan menggunakan gaya gravitasi untuk membantu pengembangan paru dan mengurangi tekanan dari abdomen pada diafragma. Tujuan : Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh posisi tidur semi Fowler 450 terhadap kenaikan nilai saturasi oksigen pada pasien gagal jantung kongestif di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus Metode : Jenis penelitian ini adalah Pra – Experimental dengan rancangan Pre and Post Test One Group Design. Dilakukan pada 16 responden dengan tehnik total sampling yang memenuhi kriteria inklusi. Data penelitian di analisa menggunakan uji dependent t – test. Hasil : Hasil penelitian didapatkan selisih median2 L/m rata – rata mengalami kenaikan 2%, yang menggunakan oksigen 3 L/m rata – rata mengalami kenaikan 1% dan yang tidak menggunakan oksigen mengalami rata – rata kenaikan 1%. Kesimpulan : Ada pengaruh posisi tidur semi Fowler 450 terhadap kenaikan nilai saturasi oksigen pada pasien gagal jantung kongestif. Penelitian ini merekomendasikan agar pasien gagal jantung kongestif dengan penurunan saturasi oksigen diberikan posisi tidur semi Fowler 450. Kata kunci : CHF; posisi semi Fowler 450; SpO2
Pengaruh Simvastatin Terhadap Ketebalan Intima-Media Karotis Pada Pasien Stroke Iskemik Dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 Aditya Kurnianto; Dodik Tugaswowo Pramukarso
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 6 No. 1 (2019): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.345 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v6i1.373

Abstract

BACKGROUND :Ischemic stroke is the most common stroke comprising 70-80% of all cases. Carotid intima-media thickness (CIMT) is associated with the occurrence of stroke in older age and adults. Patients with type 2 diabetes mellitus tend to develop a thickening of intima-media carotid artery. Simvastatins inhibit further atherothrombotic process. OBJECTIVE : To analyze the effect of simvastatin for CIMT in ischemic stroke patient with type 2 diabetes mellitus. METHOD : This study was a Randomized Pretest-Posttest Design and conducted at the Hospital Inpatient Ward Dr. Kariadi and Ketileng Semarang from January to December 2014 for all first ischemic stroke patients with Type 2 Diabetes Mellitus. Subjects were divided into groups of 26 controls and 28 patients treated groups. Treatment group were given simvastatin 20 mg each daily for 24 weeks in 28 subjects with a history of acute ischemic stroke and type 2 Diabetes mellitus. Examine the CIMT at the 1st week and 24th week. The normality of the data were tested using Shapiro Wilk and the differences analyzed by using Paired t-test and independent t test. RESULT : There was a significant differences between delta carotid intima-media thickness on administration of simvastatin for ischemic stroke patients with type 2 diabetes mellitus (p=0,008). CONCLUSION : Simvastatin significantly decreases CIMT on ischemic stroke patients with type 2 diabetes mellitus. Keyword : simvastatin, ischemic stroke, carotid intima-media thickness, type 2 diabetes mellitus LATAR BELAKANG :Stroke iskemik memiliki angka insidensi terbanyak yaitu 70-80% kasus stroke. Ketebalan Intima-media karotis berhubungan dengan terjadinyastroke pada usia tua.Pasien dengan Diabetes mellitus tipe 2 memiliki kemungkinan yang lebih besar mengalami penebalan intima-media carotis. Simvatatin menghambat proses aterotrombosis. TUJUAN :Untuk menganalisis pengaruh simvastatin terhadap ketebalan intima-media karotis pada pasien stroke iskemik dengan diabetes mellitus tipe 2. METODE :Penelitian ini adalah dengan Randomized Pretest-Posttest Design dan telah dilakukan di Rawat Jalan RSUP dr. Kariadi dan poli saraf rawat jalan RSUD Kota Semarang mulai Januari sampai dengan Desember 2014 untuk semua pasien stroke iskemik pertama kali dengan diabetes mellitus tipe 2. Subjek dibagi menjadi kelompok kontrol 26 pasien dan kelompok perlakuan 28 pasien. Kelompok perlakuan diberi simvastatin 20 mg sehari selama 24 minggu pada 28 subjek stroke iskemik dengan diabetes mellitus tipe 2. Pemeriksaan ketebalan intima-media karotis dilakukan pada minggu ke-1 dan minggu ke-24. Data kemudian di uji normalitasnya menggunakan Saphiro wilk, lalu di analisis menggunakan uji beda paired t testdan independent t test. HASIL : Kelompok perlakuan didapatkan penurunan ketebalan tunika intima arteri karotis (0,395 + 0,46; p=0,514), KESIMPULAN : Pemberian simvastatin menurunkan ketebalan intima-media karotis secara bermakna pada pasien stroke iskemik dengan diabetes mellitus tipe 2. Kata Kunci :simvastatin,stroke iskemik, ketebalan intima-media karotis, diabetes mellitus tipe 2