cover
Contact Name
Aziz Alfarisy
Contact Email
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
medicahospitalia@rskariadi.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Hospitalia
ISSN : 23014369     EISSN : 26857898     DOI : https://doi.org/10.36408/mhjcm
Core Subject : Health,
Medica Hospitalia: Journal of Clinical Medicine adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan RSUP Dr. Kariadi dan menerima artikel ilmiah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris yang diharapkan dapat menjadi media untuk menyampaikan temuan dan inovasi ilmiah dibidang kedokteran atau kesehatan kepada para praktisi dan akedemisi di bidang kesehatan dan kedokteran.
Arjuna Subject : -
Articles 584 Documents
Tatalaksana Non Intervensional Pasien Dengan Penyakit Meniere Lidya Sabig; Muyassaroh .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.787 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.350

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Meniere adalah suatu sindrom yang terdiri dari serangan vertigo, tinnitus, berkurangnya pendengaran yang bersifat fluktuatif dan perasaan penuh di telinga. Prevanlensi mencapai 0.5-7.5/1000 di Inggris dan Swedia. Tujuan: Untuk melaporkan tatalaksana non intervensional pasien dengan diagnosis penyakit meniere. Laporan kasus: laki-laki berusia 53 tahun dengan diagnosis penyakit meniere, tatalaksana yang dilakukan adalah perbaikan gaya hidup, diet rendah garam, pemberian diuretik  HCT 25 mg/sehari dan latihan gerakan kepala secara bertahap. Evaluasi setelah dua bulan menunjukkan vertigo dan telinga berdenging dirasakan berkurang tetapi keluhan kurang pendengaran menetap. Pembahasan: Penatalaksanaan non-intervensional penyakit Meniere meliputi perubahan gaya hidup, terapi medikamentosa dan rehabilitasi. Tatalaksana intervensional meliputi pembedahan dekompresi kantung endolimfatik, pemotongan saraf vestibular, labirinektomi, endolimfe shunt dan terapi tekanan denyut yang bila pengobatan medikamentosa tidak dapat menanggulangi vertigo. Pada pasien ini, tatalaksana meliputi perubahan gaya hidup meliputi pembatasan konsumsi kopi, diet rendah garam, pemberian diuretik HCT 25 mg/hari dan latihan gerakan kepala secara bertahap. Tindakan pembedahan belum perlu dilakukan karena tinitus dan vertigo berkurang dan terkompensasi dengan vestibular rehabilitation therapy.  Kesimpulan: Penyakit meniere yang dilakukan tatalaksana non intervensional menunjukkan pengurangan keluhan vertigo dan tinitus namun tidak dengan kurang pendengaran.Key word: Tatalaksana non intervensional, intervensional, penyakit meniere
Seorang Anak Usia 6 Tahun Dengan Penyakit Castleman: Kasus Jarang Dimas Tri Anantyo; Fadhlan Rahman
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.973 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.351

Abstract

Latar Belakang : Castleman's Disease (CD) adalah penyakit limfoproliferatif yang dapat terjadi secara lokal ataupun sistemik. Penegakan diagnosis baku emas dari CD diperoleh dari pemeriksaan histopatologis biopsi jaringan kelenjar getah bening. Pengobatan definitive dari CD masih dalam tahap penelitian dan pengembangan. Tujuan dari laporan ini, adalah untuk melaporkan satu kasus yang terjadi di Semarang dan melakukan diskusi terkait dengan kasus tersebut sehingga penanganan yang tepat dapat dimulai sesegera mungkin.Kasus : Seorang anak lelaki berusia 6 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan utama timbul massa di daerah inguinal dan submandibular yang berkembang perlahan tanpa gejala.Diskusi : Setahun sebelum terdiagnosis CD anak dikeluhkan teraba benjolan di selangkangan anak, benjolan dirasa membesar lambat, nyeri tekan, terfiksir dan warna jaringan sama dengan sekitarnya, keluhan juga disertai dengan demam yang terjadi hilang timbul.Kesimpulan : Pasien yang didiagnosis Castleman Disease (CD) pada April 2017 pada usia 6 tahun 3 bulan dengan massa di daerah inguinal dan submandibular yang berkembang perlahan tanpa gejala. Perawatan dari CD masih dalam penelitian.Kata Kunci : penyakit castleman, penyakit lymphoproliferative, massa lymph node
Ventricular Septal Rupture Pasca Infark Miokard Akut : Diagnosis Dini dan Tatalaksana Arjatya Pramadita Mangkoesoebroto; Safir Sungkar; Sugiri .; Sodiqur Rifqi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.549 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.352

Abstract

Latar BelakangVentricular Septal Rupture (VSR)merupakan komplikasi berat dan langka pada Infark Miokard Akut (IMA) dengan angka mortalitas yang tinggi. VSR menyebabkan pirau kiri ke kanan, memiliki manifestasi klinik dari hemodinamik stabil hingga syok kardiogenik. Pembedahan merupakan terapi definitif, namun masih menjadi tantangan tersendiri karena tingkat mortalitas dan morbiditas yang tinggi.Laporan KasusSeorang laki laki berusia 59 tahun datang ke Rumah Sakit dengan keluhan sesak napas sejak 3 minggu yang lalu dan didahului nyeri dada khas infark miokardsejak 5 minggu sebelumnya. Terdapat bising pansistolik derajat 3/6, harsh,pada apeks jantung. Elektrokardiogram menunjukan ST segmen elevasi , Q patologis dan T bifasik di lead anterior. Ekokardiografitampakinterventricular septal gap setinggi mid apikal diameter 10 mm pirau kiri ke kanan, regional wall motion abnormalities, dengan fraksi ejeksi 39%.Angiografi koroner didapatkan stenosis bermakna di left anterior descending dan right coronary artery. Pasien didiagnosa dengan VSR pasca IMA Elevasi Segmen ST lalu dirawat di ruang intensif untuk stabilisasi hemodinamik, serta direncanakan untuk dilakukan bedah VSR dan Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK)PembahasanPenegakan diagnosis VSR secara dini, terutama pasca IMA bertujuan meningkatkan prognosis jangka panjang.Penutupan VSR merupakan tatalaksana defintif, namun tingkat kematian dini paska bedah yang tinggi merupakan tantangan tersendiri. Penundaan pembedahan VSR dianjurkan untuk meningkatkan stabilitas jaringan miokard. Pada kasus ini dilakukan stabilisasi hemodinamik dan penundaan pembedahan hingga direncanakan pembedahan VSR dan BPAK.KesimpulanVSR merupakan komplikasi berat dan langka dari IMA, penegakan diagnosis disertai dengan tatalaksana yang tepat dapat mengurangi angka mortalitas dan morbiditas.Kata kunci: ventrikular septal rupture, infark miokard, komplikasi mekanik, bedah jantung
Perbaikan Kualitas Hidup Pasien Disfagia Orofaringeal Nastiti Dwi Cahyani; Muyassaroh .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 1 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.603 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i1.353

Abstract

Latar belakang: Disfagia merupakan gangguan transportasi atau asupan makanan dari mulut ke perut. Disfagia berdampak buruk pada kualitas hidup. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah mengetahui perbaikan kualitas hidup pasien disfagia orofaringeal setelah dilakukan latihan menelanLaporan kasus: Dilaporkan seorang laki-laki usia 65 tahun dengan kesulitan menelan secara tiba-tiba. Pasien didiagnosis dengan disfagia orofaringeal et causa neurogenic (stroke), diprogramkan 8 kali terapi penelanan. Penilaian kualitas hidup dengan kuesioner Eating Assessment Tool (EAT-10) dilakukan sebelum dan setelah 4 kali terapi, didapatkan penurunan skor dari 39 menjadi 17.Pembahasan : Disfagia adalah kondisi umum yang sering mengikuti berbagai kelainan neurogenik. Rehabilitasi penelanan dengan menggunakan neuromuscular electrical stimulus (NMES) dan oromotor exercise. Stimulasi NMES bertujuan memperkuat otot-otot menelan dengan merangsang jalur sensorik yang relevan. Oromotor exercise dilakukan dengan compensatory postural, thermal tactile stimulation, sensory enhancement. Penilaian kualitas hidup terkait disfagia orofaring dapat menggambarkan yang dirasakan seseorang dan interpretasi persepsi berbagai tahap perawatan. EAT-10 sebagai alat penilaian diri yang valid dan solid.Kesimpulan :. Didapatkan perbaikan kualitas hidup pasien dengan disfagia orofaringeal et causa neurogenic setelah dilakukan 4 kali terapi.Kata kunci : Disfagia orofaringeal, kualitas hidup, terapi penelanan, EAT-10
Faktor Resiko Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Masyarakat Pedesaan Di Kabupaten Banjarnegara Galuh Chandra Irawan; Ani Margawati; Ali Rosidi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.091 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.354

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi penderita tuberkulosis paru di Jawa Tengah menduduki peringkat ke-5 yaitu 0.4% menurut Riskesdas tahun 2013. Kabupaten Banjarnegara pada tahun 2013  dengan prevalensi kecenderungan 0,3 % per 100.000 penduduk. Menurut data profil Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara tahun 2014 prevalensi tuberkulosis paru yaitu 180 per 100.000 penduduk. Jumlah penderita  tuberkulosis paru pada tahun 2014-2016.  di Kecamatan Karangkobar mengalami pasang surut yaitu 14 kasus pada tahun 2014, 123 Suspek dan 30  kasus pada tahun 2015 dan pada bulan Mei 2016  terdapat 19 kasus. Selain faktor kesehatan lingkungan rumah, status gizi juga berhubungan dengan kejadian tuberkulosis paru. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan disain case control. Subjek dalam penelitian adalah masyarakat yang terdiri dari 19 kasus (tuberkulosis paru) dan 38  kontrol (bukan Pasien Tuberkulosis paru). Data asupan zat gizi diperoleh dengan metode Food Frequency Questionnaires (FFQ) semikuantitatif,data riwayat pendidikan, pendapatan dan perilaku merokok diperoleh melalui wawancara terstruktur. Data dianalisis dengan uji Chi Square dan Regresi Logistik untuk menghitung Odds Rasio (OR).Hasil: Uji regresi logistik menunjukan bahwa tingkat konsumsi protein yang kurang (OR=6,5 ; 95%CI: 1,6-26,6) dan pendidikan rendah ((OR=9,5 ; 95%CI: 1,5-60,5)   merupakan faktor resiko kejadian tuberkulosis paru.Simpulan: tingkat konsumsi protein yang kurang dan pendidikan rendah  merupakan faktor resiko kejadian tuberkulosis paru di Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjarnegara. Kata Kunci: Faktor Risiko, Tuberkulosis Paru, Masyarakat Pengunungan  
Penatalaksanaan Endoscopic Dacryocystorhinostomi Pada Dakriostenosis Rosa Putrie Anindya; Anna Mailasari Kusuma Dewi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.246 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.355

Abstract

Latar belakang :Dacryocystorhinostomy (DCR) adalah prosedur pilihan untuk obstruksi duktusnasolakrimalis dan dakriosistitis. Dua pendekatan utama yang dapat digunakan adalah pendekatan eksternal melalui sayatan transkutan dan pendekatan endonasal dengan endoskopi.Tingkat kesuksesan endoscopic DCR sebesar 84% sedangkan DCR eksternal sebesar 70%.Keuntungan endoscopic DCR yaitu dapat dilakukan pada dakriosistitisakut, tidak ada luka parut di kulit dan nyeri pasca operasi minimal.Tujuan:Melaporkan tindakan endoscopic DCR pada pasien dakriostenosisdi RSUP dr. Kariadi. Kasus:Pasien pertama laki-laki dengan mata kiri dakriosistitiskronik dan fistula saccuslakrimalise.cdakriostenosis dan pasien kedua anak dengan dakriostenosisduplek.Penatalaksanaan:Dilakukan tindakan endoscopic DCR dan pemasangan silicon tube Kesimpulan:TindakanendoscopicDCR memberikanhasil yang baik pada pasien dengan dakriosistitiskronike.cdakriostenosisKata kunci: Dakriostenosis, EndoscopicDacryocystorhinostomy
Korelasi antara Penambahan Berat Badan Janin dengan Asupan Protein Pada Kehamilan Trimester III Eva Martiana; Julian Dewantiningrum; Maria Mexitalia
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.925 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.356

Abstract

Latar Belakang.Kehamilan merupakan periode penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang. Asupan protein akan meningkatkan transpot asam amino ke dalam plasenta. Asam amino, khususnya arginin akan meningkatkan vasodilator NO sehingga akan meningkatkan transfer nutrisi ke janin. Selain itu, asupan protein yang cukup akan merangsang sekresi IGF-1 yang akan mendukung pertumbuhan janin. Di sisi lain, asupan protein yang berlebihan pada awal kehamilan merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada masa kanak-kanak yang dapat berlanjut menjadi penyakit jantung koroner dan sindroma metabolik pada saat dewasa. Faktor metabolik dan neuroendokrin yang berperan sejak masa kehamilan ini dikenal sebagai metabolic programming. Oleh karea itu perlu dilakukan penelitian awal untuk mengetahui korelasi antara penambahan berat badan janin dengan asupan protein pada kehamilan trimester 3.Tujuan. Membuktikan korelasi antara intake protein pada kehamilan Trimester III dengan penambahan berat badan janin intrauterin.Metode.Penelitian ini adalahpenelitinanalitik observasional. Intake protein dinilai dengan metode food recallselama 24 jam dan dilakukan nutrisurvey untuk menilai kecukupan intake protein (cukup atau kurang). Penambahan berat badan janindinilai dengan menghitung selisih berat badan bayi saat lahir dengan berat janin pada usia kehamilan 30 – 34 mingguHasil.Sebanyak42subyek dilakukanfood recall untuk mengetahui kecukupan protein pada kehamilan trimester III. Sebanyak 27 orang telah bersalin dan dinilai korelasi antara kecukupan intake protein dan penambahan berat badan janin. Hasil analisa didapatkan korelasi positif dengan derajat sedang antara penambahan berat badan janin dengan kecukupan protein pada kehamilan trimester III (r 0,48 ;p 0,012). Kesimpulan.Kecukupan intake protein pada kehamilan trimester III mempunyai korelasi dengan penambahan berat badan janin.      Kata kunci. Kecukupan asupan protein, berat badan bayi, penambahan berat badan janin, food recall
Hubungan Antara Indeks Trombosit (Jumlah Trombosit, MPV, PDW, P-LCR) Dengan CKMB DanTroponinPada Pasien Sindrom Koroner Akut Angeline Barbara Mailoa; Purwanto Adhipireno
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.629 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.357

Abstract

Latar Belakang: Sindrom koroner akut erat kaitannya dengan proses aterosklerosis. Aterosklerosis terjadi sebagai respon adanya kerusakan pada endotel. Trombosit memegang peran penting dalam proses rupturnya plak yang akan membentuk trombus dan menjembatani proses inflamasi. Indeks trombosit memiliki korelasi dengan aktivitas dan fungsi trombosit dan menjadi salah satu faktor risiko terjadinya aterosklerosis.Tujuan: Untukmengetahui hubungan indeks trombosit (jumlah trombosit, MPV, PDW, P-LCR) dengan CKMB dan Troponin pada pasien sindrom koroner akutMetode: Rancangan penelitian belah lintangterhadap pasien sindrom koroner akut yang berobat di RSUP Dr.Kariadi. Uji normalitas data menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan analisis hubungan menggunakan korelasi Spearman dengan signifikansi p<0.01.Hasil: Subjek penelitian berjumlah68 orang dengan rentang usia 32-94 tahun. Terdapat hubungan antaraMPV dengan CKMB (r=0.873, P=0.000) dan troponin(r=0.665, P=0.000), PDW dengan CKMB (r=0.849, P=0.000) dan troponin  (r=0.610, P=0.000), P-LCR dengan CKMB (r=0.903, p=0.000) dan troponin  (r=0.685, P=0.000). Tidak terdapat hubungan antara jumlah trombosit dengan CKMB(r=-0.0150, P=0.224), troponin (r=-0.045, P=0.715).Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara MPV, PDW, P-LCRdenganCKMB dan troponin. Tidak terdapat hubungan antarajumlah trombosit dengan CKMB dan troponin pada pasien sindrom koroner akut.Kata Kunci : Indeks trombosit, CKMB, troponin, sindrom koroner akut
Pengaruh Derajat Oligohidramnion terhadap Kejadian Korioamnionitis pada Ketuban Pecah Dini Fadhila Khairunnisa Poerwoko; Julian Dewantiningrum; Arufiadi Anityo Mochtar; Ratnasari Dwi Cahyanti; Dik Puspasari; Nahwa Arkhaesi
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.513 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.358

Abstract

Latar Belakang: Korioamnionitis merupakan penyebab terbesar angka kematian ibu. Oligohidramnion merupakan faktor risiko terjadinya korioamnionitis.Kondisi oligohidramnion dapat diukur dengan metode amniotic fluid index (AFI) atau single deepest pocket (SDP) pada pemeriksaan sonogafi.Tujuan: Mengetahui pengaruh derajat oligohidramnion terhadap kejadian korioamnionitis pada ketuban pecah dini.Metode:Penelitian observasional analitik dengan desain belah lintang. Subjek 31 ibu hamil dengan ketuban pecah dini disertai oligohidramnion yang  melahirkan di RSUP Dr. Kariadi dan rumah sakit jejaring pendidikan pada Februari – Juni tahun 2017, Kriteria inklusi usia kehamilan ≥ 34 minggu, belum masuk fase aktif inpartu, janin tunggal hidup intra uterin. Subyek dipilih secara consecutive sampling. Identitas subyek, karakteristik obstetri, dan nilai AFI atau SDP dicatat, kulit ketuban  diperiksa adanya korioamnionitis secara histopatologis. Analisis data dengan uji chi-square.Hasil: Didapatkan 91,7% korioamnionitis pada oligohidramnion berat lebih tinggi dibandingkan dengan oligohidramnion ringan (78,9%). Nilai p sebesar 0,342.Kesimpulan: Derajat oligohidramnion tidak berpengaruh terhadap kejadian korioamnionitis pada ketuban pecah dini. Kata kunci: Oligohidramnion, korioamnionitis, ketuban pecah dini
Faktor yang berpengaruh pada perkembangan bicara anak kurang dengar yang menggunakan alat bantu dengar Nastiti Dwi; Muyassaroh .
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 5 No. 2 (2018): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.948 KB) | DOI: 10.36408/mhjcm.v5i2.359

Abstract

Latar belakang : Deteksi dini tuli kongenital sudah dilakukan di RSUP Dr. Kariadi. Rata-rata kunjungan anak kurang dengar sejak lahir sebanyak 10-20 pasien per bulan. Salah satu metode intervensi dengan pemakaian alat bantu dengar (ABD). Keluaran penting bagi anak pengguna ABD adalah persepsi bicara, bahasa, kemampuan komunikasi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor yang mempengaruhi perkembangan auditori, bahasa dan wicara pada anak kurang dengar yang menggunakan ABD.Metode : Penelitian belah lintang. Sampel adalah anak kurang dengar dengan ABD usia pendengaran kurang dari 2 tahun. Data umur pertama memakai alat bantu dengar (ABD), lama penggunaan ABD perhari, jumlah ABD didapatkan dari wawancara. Derajat kurang pendengaran dari hasil BERA. Data kelainan lain pada sampel didapat dari rekam medis. Perkembangan auditori, bahasa dan wicara dinilai dengan LittlEARS Auditory Questionnaire (LEAQ). Analisis data dengan uji Chi square menggunakan regresi logistic multivariate.Hasil : Sampel berjumlah 35 anak, 17 (48,6%) anak menggunakan ABD di usia kurang dari atau sama dengan 3 tahun dan 18 anak (51,4%) menggunakan ABD setelah 3 tahun. Data derajat kurang pendengaran profound 80%, sedang-berat 20%. Lama pemakaian ABD diatas 8 jam sebanyak 45,7% dan 54,3% anak dibawah 8 jam. Terdapat kelainan lain 20% dan tanpa kelainan 80%. Frekuensi terapi wicara kurang dari 2 kali perminggu 54,3% dan lebih dari sama dengan 2 kali perminggu 45,7%. Hasil LittlEARS Auditory Questionnaire (LEAQ) dibawah kurva 52,4% dan 47,6% sesuai kurva normal. Didapatkan agka yang signifikan (p<0,005) pada lama pengunaan alat dan frekuensi terapi wicara. Simpulan : Lama penggunaan ABD dan frekuensi terapi wicara merupakan faktor yang berpengaruh dalam perkembangan bicara pada anak kurang pendengaran yang menggunakan ABD. Kata Kunci : Alat bantu dengar, perkembangan auditori, kurang pendengaran