cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2018)" : 21 Documents clear
DAYA HAMBAT EKSTRAK BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Lactobacillus acidophilus Nadalia Malika Bilqis; Isyana Erlita; Deby Kania Tri Putri
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Lactobacillus acidophilus is bacteria which causes the advanced caries if it is ignored which will infect another tissue. Bawang dayak is a plant that is used as a traditional medicine which can inhibit the Lactobacillus acidophilus because it has compounds such as flavonoid, alkaloid, glycoside, phenolic, quinones, steroid, essential oils, and tannin. Purpose: The purpose of conducting this study is to find out the resistivity zone from Lactobacillus acidophilus after giving the bawang dayak extract of various concentrations. Method: This study applies a true experimental with posttest only with control group design with six treatment groups which are bawang dayak extract with the concentration of 20 mg/ml, 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml, K(-) aquadest, and K(+) 2% of chlorhexidine digluconate. Maceration method is used to extract bawang dayak while diffusion method is used to test the resistivity and to measure the resistivity zone. Result: The result of the test that shows bawang dayak extract with the concentration of 20 mg/ml, 40 mg/ml, 60 mg/ml, and 80 mg/ml are obtained the average number of resistivity zone to 9,36 mm, 11,45 mm, 14,47 mm, 20,30 mm, and chlorhexidine digluconateis 15,33 mm. The data analysis of one-wayAnova and post-hoc LSD are obtained at (p<0.05) of bawang dayak extract which means that there is meaningful different to each treatment group. Conclusion: The resistivity zone of bawang dayak extract is higher than the positive control group which is 2% of chlorhexidine digluconate towards the growth of Lactobacillus acidophilus. ABSTRAKLatar belakang: Lactobacillus acidophilus merupakan bakteri pencetus karies lanjut yang apabila dibiarkan akan menginfeksi jaringan lainnya. Bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) merupakan tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional yang dapat menghambat Lactobacillus acidophilus dikarenakan memiliki senyawa flavonoid, alkaloid, glikosida, fenolik, kuinon, steroid, minyak atsiri dan tannin. Tujuan: Mengetahui zona hambat dari bakteri Lactobacillus acidophilus setelah diberikan ekstrak bawang dayak dengan berbagai konsentrasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan post test only with control group design dengan 6 kelompok perlakuan,  yaitu ekstrak bawang dayak konsentrasi 20 mg/ml, 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml, kontrol K(-) aquadest dan K(+) klorheksidin diglukonat 2%. Metode maserasi digunakan untuk mengekstraksi bawang dayak sedangkan uji daya hambat menggunakan metode difusi dan pengukuran zona hambat. Hasil: Hasil dari pengujian menunjukkan bahwa ekstrak bawang dengan konsentrasi 20 mg/ml, 40 mg/ml, 60 mg/ml, 80 mg/ml didapatkan rerata zona hambat 9,36 mm, 11,45 mm, 14,47 mm, 20,30 mm, dan klorheksidin diglukonat sebesar 15,33 mm. Analisis data One Way Anova diperoleh
COVER, DAFTAR ISI Vol.2 No.1 april 2018 dentin FKG ULM
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PEBANDINGAN JUMLAH KOLONI BAKTERI ANAEROB PADA SALIVA ANAK YANG BERKUMUR DENGAN AIR LAHAN GAMBUT DAN AIR PDAM Eny Febriyanti; Deby Kania Tri Putri; Didit Aspriyanto
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT  Background: Peatland water has an acid pH. The acidicity of peat water supports the growth of bacteria that are asidogenic and asidurik, so can increase the acid conditions in the oral cavity that affect the tooth decay process. Water PDAM comes from river water, which passes through filtration and disinfection steps to become clean water, but these stages do not guarantee the loss of pathogenic bacteria in water. Purpose: Investigate the comparison of anaerobic bacterial colonies on the saliva of a child who rinsed with peat water and PDAM water. Method: This study used quasi experimental method with post test only with control group design. The sample of research consisted of 60 respondents. The research material is saliva from the saliva of children who rinse with peat water and tap water at about 2 ml each. The number of anaerobic bacterial colonies was calculated by TPC  (Total Plate Count) method. Results: This study showed the number of anaerobic bacterial colonies in peatland water as much as 217 CFU / ml while the number of anaerobic bacterial colonies in the water of the PDAM is 133 CFU / ml. Based on independent t-test (0.000) (p <0,05), there was a significant difference between the number of colonies of anaerobic bacteria that rinsed with peat water and PDAM water. Conclusion: The number of colonies of anaerobic bacteria in the saliva of children rinsing with peatland water more than the number of anaerobic bacterial colonies in the saliva of children rinsing with PDAM water.   ABSTRAK  Latar Belakang: Air lahan gambut memiliki pH asam. Sifat asam air gambut mendukung pertumbuhan bakteri-bakteri yang bersifat asidogenik dan asidurik, sehingga mampu meningkatkan kondisi asam pada rongga mulut yang berpengaruh terhadap proses kerusakan gigi. Air PDAM berasal dari air sungai, yang melalui tahapantahapan filtrasi dan desinfeksi untuk menjadi air bersih, akan tetapi tahapan tersebut tidak menjamin hilangnya bakteri-bakteri patogen dalam air. Tujuan: Mengetahui perbandingan jumlah koloni bakteri anaerob pada saliva anak yang berkumur dengan air lahan gambut dan air PDAM. Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimental dengan rancangan post test only with control group design. Sampel penelitian terdiri dari masingmasing 60 responden. Bahan penelitian diambil dari saliva anak yang berkumur dengan air lahan gambut dan air PDAM masing-masing sebanyak 2 ml kemudian jumlah koloni bakteri anaerob dihitung dengan metode TPC (Total Plate Count). Hasil: Penelitian ini menunjukkan jumlah koloni bakteri anaerob pada air lahan gambut sebanyak 217 CFU/ml sedangkan jumlah koloni bakteri anaerob pada air PDAM sebanyak 133 CFU/ml. Berdasarkan hasil uji independent t-test (0,000)(p<0,05) menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara jumlah koloni bakteri anaerob yang berkumur dengan air lahan gambut dan air PDAM. Kesimpulan: Jumlah koloni bakteri anaerob pada saliva anak yang berkumur dengan air lahan gambut lebih banyak dibandingkan dengan jumlah koloni bakteri anaerob pada saliva anak yang berkumur dengan air PDAM.
DAYA HAMBAT EKSTRAK UBI BAWANG DAYAK (Eleutherine palmifolia (L.) Merr) TERHADAP PERTUMBUHAN Streptococcus mutans (Studi In Vitro Dengan Metode Difusi) Azilita Ananda; Deby Kania Tri Putri; Sherli Diana
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Karies merupakan penyakit kronis jaringan keras gigi yang salah satunya disebabkan oleh faktor mikroorganisme yaitu bakteri Streptococcus mutans, pertumbuhan bakteri ini dapat dihambat dengan memberikan ekstrak umbi bawang dayak. Umbi bawang dayak   merupakan tumbuhan herbal khas Kalimantan yang berpotensi sebagai alternatif obat kumur. Ekstrak umbi bawang dayak  memiliki kandungan yang bersifat antibakteri salah satunya adalah fenol sebagai kandungan terbesar dengan konsentrasi 34,20% yang dapat merusak sel bakteri  sehingga pertumbuhan Streptococcus mutans menurun dan lisis. Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan daya hambat ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 80mg/ml dengan kontrol positif klorheksidin glukonat 0,2% terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans. Metode dan bahan: Rancangan penelitian ini adalah true experimental design dengan post test only with control group. Penelitian ini menggunakan 6 kelompok perlakuan menggunakan sampel bawang dayak dengan metode maserasi dan pengujian aktivitas antibakteri dengan metode difusi.  Hasil penelitian: Nilai rata-rata zona hambat ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 20mg/ml sebesar 11,59 mm, konsentrasi 40mg/ml sebesar 14,39 mm, konsentrasi 60mg/ml sebesar 18,53 mm, konsentrasi 80mg/ml sebesar 23,55 mm, kontrol positif klorheksidin glukonat 0,2%  sebesar 21,39. Uji one-way Anova dan uji Post Hoc LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara setiap kelompok perlakuan. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan daya hambat ekstrak umbi bawang dayak konsentrasi 80mg/ml terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans dengan zona hambat sebesar 23,55 mm dan klorheksidin glukonat 0,2% yang hanya memiliki zona hambat sebesar 21,39 mm. ABSTRACTBackground: Caries is a chronical disease of hard teeth tissue. It is caused by microorganism factor which is Streptococcus mutans bacterium, this bacterai can be inhibited with umbi bawang dayak extract . Umbi bawang dayak is Borneo particular herbal plant which has potential as an alternative to mouthwash. Umbi bawang dayak extracts contain antibacterial which have phenol as the largest content with 34.20% concentration. Purpose: To figure out the resistivity effect of umbi bawang Dayak extract with 20mg/ml, 40mg/ml, 60mg/ml and 80mg/ml concentration towards the growth of Streptococcus mutans. Method and Materials: This study applies a true experimental design with posttest-only with control group. This study takes six groups with 1 kg sampel of umbi bawang dayak using maserasi method and isolate of Streptococcus mutans using diffusion method. The Result of Research: The average number of inhibition zone of umbi bawang dayak extract with 20mg/ml concentration is 11.59mm, 40mg/ml concentration is 14.39mm, 60mg/ml concentration is 18.53mm, 80mg/ml concentration is 23.55mm. The average number of inhibition zone of umbi bawang dayak of chlorhexidine gluconate 0,2% is 21.39, and aquadest is 0.00mm. One-way Anova and Post-Hoc LSD show that there is significant difference between each of the treatment groups. Conclusion: Based on the result of the research, it can be concluded that there is different inhibition effect of umbi bawang dayak extract in 80mg/ml concentration with inhibition zone 23,55 mm and chlorhexidine gluconate 0,2%  with inhibition zone 21,39 mm towards the growth of Streptococcus mutans.
ANALISIS LAJU KOROSI KAWAT ORTODONTIK LEPASAN STAINLESS STEEL PADA MEDIA AIR KELAPA Reysa Rosdayanti; Diana Wibowo; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT      Background: Stainless steel orthodontic wire is a material commonly used in orthodontic treatment, because its economical price and corrosion resistance. The corrosion-resistant of stainless steel orthodontic wire can be affected by foods or beverages that have low pH. The coconut water has a low pH. Corrosion that occurs in orthodontic wire causes roughness on the surface of the wire and fragility, thus affecting duration of treatment. Purpose: determine corrosion rate of stainless steel orthodontic wire after immersed with coconut water. Methods: This research is true experimental study with pre-test and post-test control group design using simple random sampling. Consist of 20 samples divided into 2 groups: immersion in coconut water (experimental group), and immersion in saline (control group). Corrosion rate used weight loss method. Results: Mean corrosion rate of stainless steel orthodontic wire after immersion used coconut water and saline that is 1,9484mpy and 0,2587mpy. Wilcoxon test before and after immersion in treatment group obtained result p=0,005 while in control group obtained result p=0,180. The comparison of corrosion rate between groups using Mann Whitney U test results obtained p=0.001. The results shows the rate of corrosion in experimental group used coconut water has a significant difference, the control group used saline there was no significant difference. Conclusion: The rate of corrosion of stainless steel orthodontic wire immersion with coconut water is greater than the rate of corrosion in saline solution immersion. ABSTRAK      Latar Belakang: Kawat ortodontik stainless steel merupakan bahan yang umumnya digunakan pada perawatan ortodontik, karena harga ekonomis dan ketahanan korosi yang baik. Sifat tahan korosi pada kawat ortodontik stainless steel dapat dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang memiliki pH rendah. Salah satu minuman yang memiliki pH rendah yaitu air kelapa. Korosi yang terjadi pada  kawat ortodontik menyebabkan kekasaran pada permukaan kawat dan kerapuhan, sehingga mempengaruhi lama waktu perawatan. Tujuan: mengetahui laju korosi kawat ortodontik stainless steel setelah direndam dengan air kelapa. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan pre-test and post-test with control group design menggunakan simple random sampling. Terdiri dari 20 sampel yang terbagi dalam 2 kelompok: yaitu direndam air kelapa (kelompok perlakuan), dan larutan salin (kelompok kontrol). Perhitungan laju korosi menggunakan metode weight loss.  Hasil: Rerata laju korosi kawat ortodontik stainless steel setelah direndam menggunakan air kelapa dan larutan salin yaitu 1,9484mpy dan 0,2587mpy. Uji Wilcoxon sebelum dan sesudah perendaman pada kelompok perlakuan diperoleh hasil p=0,005 sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh hasil p=0,180. Hasil Perbandingan laju korosi antar kelompok menggunakan Uji Mann Whitney U diperoleh hasil p=0,001. Hal ini menunjukkan laju korosi pada kelompok perlakuan menggunakan air kelapa terdapat perbedaan bermakna, sedangkan pada kelompok kontrol menggunakan larutan salin tidak terdapat perbedaan bermakna. Kesimpulan: Laju korosi kawat ortodontik stainless steel yang direndam dengan air kelapa lebih besar dibandingkan laju korosi pada perendaman larutan salin.
HUBUNGAN PERILAKU KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN INDEKS KARIES DMF-T DAN SIC (Tinjauan Terhadap Siswa SMP Negeri 5 Marabahan di Kabupaten Barito Kuala) Anshori Rohimi; Widodo Widodo; Rosihan Adhani
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Rendahnya perilaku kesehatan gigi dan mulut dapat menjadi faktor menurunnya status kesehatan seseorang. Perilaku kesehatan gigi dan mulut meliputi perilaku menyikat gigi, pola makan, dan kunjungan ke dokter gigi. Studi epidemiologi menyebutkan bahwa perilaku kesehatan gigi dan mulut masih sangat rendah. Tujuan: Menganalisis hubungan perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan indeks karies DMF-T dan SiC siswa SMPN 5 Marabahan di Kabupaten Barito Kuala. Metode dan bahan: Penelitian ini observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional pada 100 siswa SMPN 5 Marabahan di Kabupaten Barito Kuala. Instrumen kuesioner digunakan untuk mengukur tingkat perilaku kesehatan gigi dan mulut siswa dan indeks DMF-T untuk mengukur pengalaman karies siswa. Hasil penelitian: Perilaku kesehatan gigi dan mulut siswa SMPN 5 Marabahan di Kabupaten Barito Kuala sebagian besar (64%) dalam kategori cukup dan paling kecil kategori baik (1%). Indeks DMF-T siswa SMPN 5 Marabahan di Kabupaten Barito Kuala berada pada  skor 2,8 atau dalam tingkat yang sedang dan skor SiC 4. Hasil analisis statistik diperoleh nilai p= 0,001 (p<0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku kesehatan gigi dan mulut dengan indeks karies DMF-T dan SiC siswa SMPN 5 Marabahan di Kabupaten Barito Kuala.  ABSTRACT            Background: Lack of oral and dental health behaviors can be a factor in the decline of one's health status. Dental and oral behavior include brushing, eating, and dental visits. Epidemiological studies say that the behavior of dental and oral health is still very low. Purpose: To analysis the relationship of dental and oral health behavior with caries index DMF-T and SiC of SMPN 5 Marabahan students in Barito Kuala. Methods and materials: This research is analytic observational with Cross Sectional approach on 100 students of SMPN 5 Marabahan in Barito Kuala. The questionnaire instrument was used to measure the level of dental and oral health behaviors of students and the DMF-T index to measure the student's caries experience. Research: Dental and oral health behavior of students of SMPN 5 Marabahan in Regency of Barito Kuala most (64%) in enough category and smallest good category (1%). The DMF-T index of the students of SMPN 5 Marabahan in Barito Kuala is at a score of 2.8 or in the medium level and the SiC score 4. Result of statistical analysis obtained p= 0,001 (p <0,05).Conclusion: There is a meaningful relationship between dental and oral health behavior with caries index DMF-T and SiC students SMPN 5 Marabahan in Barito Kuala District.
PERBANDINGAN EKSTRAK JAHE PUTIH KECIL 70% DAN ALKALINE PEROXIDE TERHADAP NILAI PERUBAHAN WARNA BASIS AKRILIK Maulidya Hanifa; Debby Saputera; Titis Fitri Wijayanti
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT       Background: The widely used denture base material is heat cured acrylic resin. The material disadvantages is absorb fluids that affect color changes. Alkaline peroxide is a denture cleanser that mostly used in public. Small white ginger 70% ethanol extract can be utilized as a natural cleanser denture. Purpose: This study aim to know the color change ratio of heat cured acrylic resin base on small white ginger (Zingiber officinale var amarum) 70% ethanol extract and alkaline peroxide submersion as denture cleanser. Methods: This study is a pure experimental research with pretest and posttest with control group design, using simple random sampling. The sample is cylindrical with a diameter of 15 mm and thick of 2 mm. The number of samples were 18 acrylic heat-treated acrylic resins which divided into 3 groups, ie ethanol extract of small white ginger 70%, alkaline peroxide and aquadest. The sample color changes were tested with a digital analysis tool set. Results: The mean value of heat cured acrylic resin color change after submersion in the small white ginger 70% ethanol extract, alkaline peroxide and aquadest were (14,00), (14,78) and (10,56), respectively. Data were analyzed using One way ANOVA parametric test and Post Hoc LSD test. Conclusion: There is no difference of color change between small white ginger ethanol extract 70% with alkaline peroxide solution as denture cleanser after soaking for 1 day 6 hours 42 minutes. ABSTRAK      Latar belakang: Bahan basis gigi tiruan yang banyak digunakan adalah resin akrilik tipe heat cured. Kekurangan dari bahan ini dapat menyerap cairan yang mempengaruhi perubahan warna. Alkaline peroxide merupakan denture cleanser yang beredar dipasaran. Ekstrak etanol jahe putih kecil 70% dapat dimanfaatkan sebagai denture cleanser alami. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan perubahan warna basis resin akrilik tipe heat cured pada perendaman ekstrak etanol jahe putih kecil (Zingiber officinale var amarum) 70% dan alkaline peroxide sebagai denture cleanser. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan pretest and posttest with control group design, menggunakan simple random sampling. Sampel berbentuk silindris dengan diameter 15mm dan tebal 2mm. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 18 resin akrilik tipe heat cured yang dibagi menjadi 3 kelompok perendaman, yaitu ekstrak etanol jahe putih kecil 70%, alkaline peroxide dan akuades. Perubahan warna sampel diuji menggunakan rangkaian alat digital analysis. Hasil Penelitian: Rerata nilai perubahan warna resin akrilik tipe heat cured setelah direndam dalam kelompok ekstrak etanol jahe putih kecil, alkaline peroxide dan akuades berturut-turut adalah sebesar (14,00), (14,78) dan (10,56). Data dianalisis menggunakan uji parametrik One way ANOVA dan uji Post Hoc LSD. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan perubahan warna antara ekstrak etanol jahe putih kecil 70% dengan larutan alkaline peroxide sebagai denture cleanser setelah dilakukan perendaman selama 1 hari 6 jam 42 menit.ABSTRACT       Background: The widely used denture base material is heat cured acrylic resin. The material disadvantages is absorb fluids that affect color changes. Alkaline peroxide is a denture cleanser that mostly used in public. Small white ginger 70% ethanol extract can be utilized as a natural cleanser denture. Purpose: This study aim to know the color change ratio of heat cured acrylic resin base on small white ginger (Zingiber officinale var amarum) 70% ethanol extract and alkaline peroxide submersion as denture cleanser. Methods: This study is a pure experimental research with pretest and posttest with control group design, using simple random sampling. The sample is cylindrical with a diameter of 15 mm and thick of 2 mm. The number of samples were 18 acrylic heat-treated acrylic resins which divided into 3 groups, ie ethanol extract of small white ginger 70%, alkaline peroxide and aquadest. The sample color changes were tested with a digital analysis tool set. Results: The mean value of heat cured acrylic resin color change after submersion in the small white ginger 70% ethanol extract, alkaline peroxide and aquadest were (14,00), (14,78) and (10,56), respectively. Data were analyzed using One way ANOVA parametric test and Post Hoc LSD test. Conclusion: There is no difference of color change between small white ginger ethanol extract 70% with alkaline peroxide solution as denture cleanser after soaking for 1 day 6 hours 42 minutes. Keywords: alkaline peroxide, discoloration, heat cured, small white ginger (zingiber officinale var amarum) extract 70%.                      ABSTRAK      Latar belakang: Bahan basis gigi tiruan yang banyak digunakan adalah resin akrilik tipe heat cured. Kekurangan dari bahan ini dapat menyerap cairan yang mempengaruhi perubahan warna. Alkaline peroxide merupakan denture cleanser yang beredar dipasaran. Ekstrak etanol jahe putih kecil 70% dapat dimanfaatkan sebagai denture cleanser alami. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan perubahan warna basis resin akrilik tipe heat cured pada perendaman ekstrak etanol jahe putih kecil (Zingiber officinale var amarum) 70% dan alkaline peroxide sebagai denture cleanser. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni dengan pretest and posttest with control group design, menggunakan simple random sampling. Sampel berbentuk silindris dengan diameter 15mm dan tebal 2mm. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 18 resin akrilik tipe heat cured yang dibagi menjadi 3 kelompok perendaman, yaitu ekstrak etanol jahe putih kecil 70%, alkaline peroxide dan akuades. Perubahan warna sampel diuji menggunakan rangkaian alat digital analysis. Hasil Penelitian: Rerata nilai perubahan warna resin akrilik tipe heat cured setelah direndam dalam kelompok ekstrak etanol jahe putih kecil, alkaline peroxide dan akuades berturut-turut adalah sebesar (14,00), (14,78) dan (10,56). Data dianalisis menggunakan uji parametrik One way ANOVA dan uji Post Hoc LSD. Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan perubahan warna antara ekstrak etanol jahe putih kecil 70%              Hanifa: Perbandingan Ekstrak Jahe Putih Kecil 70% Dan Alkaline Peroxide                                                           20dengan larutan alkaline peroxide sebagai denture cleanser setelah dilakukan perendaman selama 1 hari 6 jam 42 menit. Kata-kata kunci: alkaline peroxide, ekstrak jahe putih kecil (zingiber officinale var amarum) 70%, perubahan warna, resin akrilik tipe heat cured. <w:LsdExc
PERBANDINGAN NILAI INDIKATOR MALOKLUSI RINGAN DENGAN MALOKLUSI BERAT BERDASARKAN INDEKS HMAR (Handicapping Malocclusion Assessment Record) Fitriani Fitriani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Diana Wibowo
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Malocclusions areithe third major problem in dental health after dental caries and periodontal disease in Indonesia. HMAR (Handicapping Malocclusion Assessment Record) are an index that can be use totmeasure security of malocclusion, introduced by Salzmann in 1986. The HMAR indexrcan be used directly into patients and using a study model. Objective: To analyze the comparison of mild malocclusionaindicator values with severe malocclusion based on HMAR index (Handicapping Malocclusion Assessment Record) in triage patient on RSGM Gusti Hasan Aman. Method: This study use observational analytic withncross sectional approach in October-November 2017. The sample of the research is patient who cameifirst to RSGM Gusti Hasan Aman in triage stages with the range around 12-18 years old and all the oldest teeth have been dated and never do the orthodontic treatment. The sample wasfselected by using simple random sampling method as much as 82 respondents which is consisted of 41 respondents with malocclusion light and 41 respondents with mild malocclusion. Results: The results showedithat the most influential indicator for the occurrence of mild malocclusion was the lower jaw anterior teeth and severe malocclusion was the maxillary anterior teeth jointed on the (Intra Arch Deviation). Statistical analysis with Mann-Whitney test obtained significancetvalue of p=0,000 (p<0.05). Conclusion: Based on the comparison of Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) index value, it can be concluded that the mild malocclusion indicator is bigger than the severe malocclusion indicator ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi berada pada urutan ketiga yang cukup besar dalam masalah kesehatan gigi dan mulut setelahikaries gigi dan penyakit periodontal di Indonesia. Indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) adalah indeks yang dapat mengukur tingkat keparahan maloklusi, yang diperkenalkan oleh Salzmann pada tahun 1986. Indeks HMAR dapat digunakan secararlangsung pada pasien dan ada juga menggunakan model studi. Tujuan: Menganalisis perbandingananilai indikator maloklusi ringan dengan maloklusi berat berdasarkan indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) pada pasien triage RSGM Gusti Hasan Aman. Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatanncross sectional pada bulan Oktober-November 2017. Sampel penelitian ini adalah pasien yangipertama kali datang ke stase triage RSGM Gusti Hasan Aman dengan rentang usia 12-18 tahun dan gigi sulung sudah tanggal semua serta belum pernah melakukan perawatan ortodonti. Sampel dipilih menggunakan metodefsimple random sampling berjumlah 82 responden yang terdiri dari 41 responden maloklusi ringan dan 41 responden maloklusi berat. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan nilai indikator yang berpengaruh terhadap terjadinya maloklusi ringaniadalah gigi berdesakan anterior rahang bawah dan maloklusi beratiadalah gigi berdesakan anterior rahang atas pada indikator penyimpangan gigi dalam satu rahang (Intra Arch Deviation). Analisis statistik dengan uji Mann-Whitney diperoleh nilai signifikasi sebesar p=0,000 (p<0,05). Kesimpulan: Berdasarkan hasil perbandingan nilai indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR) dapat disimpulkan bahwa indikator maloklusi berat lebih besar daripada indikator maloklusi ringan.
EFEK PERENDAMAN MINUMAN BERKARBONASI TERHADAP DAYA LENTING KAWAT ORTODONTIK LEPASAN STAINLESS STEEL Priska E. Siagian; Diana Wibowo; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Carbonated beverage is a daily drinks with carbonic acid and has pH of 2.32. Carbonated beverage with lower pH may cause the releasing of nickel (Ni) and chromium (Cr) ions on stainless steel orthodontic wire in oral cavity and result in alteration of resilience. Purpose: The aim of this research is to know the change of resilience of stainless steel removable orthodontic wire before and after immersion with carbonated beverages and saline solution. Material and methods: This study is true experimental study using pre and post test with control group design, consist of 10 treatment groups and 10 control groups were obtained from preliminary test, each group using stainless steel ortodontic wire with length of 3cm which the diameter is 0.6 mm and given a scratch along the wire then perform the resilience before and after the immersion using a force meter gauge. Each sample was immersed in an incubator at 37°C for 13 hours. Research result: The results showed that the average of resilience in the treatment groups before immersion was 17.65 gr/mm and after immersion of 17.61 gr/mm, while in control groups before and after immersion was 17,64 gr/mm. The results of Dependent and Independent T-test showed that there was no change of resilience of wire in the treatment groups and the control groups (p> 0,05). Conclusion: There is no significant change of stainless steel orthodontic wire resilience because of the release of nickel and chromium ions. ABSTRAKLatar belakang: Minuman berkarbonasi merupakan minuman yang mengandung asam karbonat dan memiliki pH 2,32. pH rendah dalam minuman berkarbonasi dapat menyebabkan  pelepasan ion  nikel (Ni) dan kromium (Cr) pada kawat ortodontik lepasan stainless steel yang berada lama di rongga mulut dan mengakibatkan perubahan daya lenting. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan daya lenting kawat ortodontik lepasan stainless steel sebelum dan sesudah perendaman dengan minuman berkarbonasi dan larutan salin. Metode dan bahan: Penelitian bersifat eksperimental murni dengan metode pre and post test with control group design, terdiri dari 10 kelompok perlakuan dan 10 kelompok kontrol yang diperoleh dari uji pendahuluan, masing – masing kelompok menggunakan kawat ortodontik stainless steel dengan panjang 3cm berdiameter 0,6 mm dan diberi goresan sepanjang kawat kemudian melakukan pengukuran daya lenting sebelum dan sesudah perendaman dengan menggunakan gauge force meter. Masing - masing sampel direndam didalam inkubator dengan suhu 370C selama 13 jam. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan rerata perubahan daya lenting pada kelompok perlakuan sebelum perendaman sebesar 17,65 gr/mm dan sesudah perendaman sebesar 17,61 gr/mm, sedangkan rerata pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah perendaman sebesar 17,64 gr/mm. Hasil uji parametrik Dependen  dan Independen T-test menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan daya lenting kawat pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (p > 0,05). Kesimpulan: Perendaman kawat ortodontik stainless steel mengalami perubahan daya lenting namun tidak signifikan dikarenakan pelepasan ion nikel dan kromium tidak terlalu banyak.
PERBANDINGAN INDEKS KARIES DMF-T BERDASARKAN JUMLAH KANDUNGAN FLUOR AIR GUNUNG DI KABUPATEN BALANGAN DENGAN AIR SUNGAI DI BANJARMASIN Fitria Ihsanti; Widodo Widodo; Isnur Hatta
Dentin Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Caries is a disease in the oral cavity that affects the hard tissues of teeth, enamel, dentine and cementum that occur due to the presence of bacteria. The caries risk factor is one of the less fluorine use. Fluor is very necessary for the teeth because it can protect the enamel and dentin against the acidic substances so as to avoid the caries. Fluor is available in considerable quantities in the world. Any place that has a fluorine content varies. Purpose: Analyze the comparison of caries index DMF-T based on the amount of airborne fluorine content in Tebing Tinggi and kuin river air in Banjarmasin. Method: The method used analytic observational with cross-sectional design. The sample of the study chapter 52 respondents in each region. Result: Mann-Whitney analysis result on DMF-T score shows sig value. ie 0.000 <0.05, which means the difference between DMF-T grade SMP grade 1 Tebing Tinggi in Balangan Regency with DMF-T score of grade 1 junior high school students in Banjarmasin. Mann-Whitney analysis results on the amount of fluorine content showed sig value. ie 0.115> 0.05 which means there is no difference between the amount of fluorine content of mountain water with the amount of fluorine content of river water. Conclusion: The DMF-T index of grade 1 students of SMPN 2 Awayan Tebing Tinggi was lower than that of grade 1 students of SMPN 15 Banjarmasin and for the amount of water fluorine content of the mountain is lower than the river water.  ABSTRAKLatar belakang: Karies merupakan suatu penyakit  di dalam rongga mulut yang mengenai jaringan keras gigi seperti, enamel, dentin dan sementum yang terjadi akibat adanya interaksi bakteri pada permukaan gigi sehingga mengalami kerusakan jaringan keras. Faktor risiko karies salah satunya adalah penggunaan fluor yang kurang. Fluor sangat diperlukan untuk gigi  karena dapat melindungi enamel dan dentin terhadap zat asam sehingga terhindar dari karies. Fluor tersedia dengan jumlah cukup besar di dunia. Setiap tempat secara geografis yang berbeda memiliki kandungan fluor berbeda-beda pula. Tujuan: Menganalisis perbandingan indeks karies DMF-T berdasarkan jumlah  kandungan fluor air gunung di Tebing Tinggi dan  air sungai kuin di Banjarmasin. Metode: Jenis penelitian menggunakan metode penelitian analitik observasional yang menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 52 responden pada masing-masing daerah. Hasil: Hasil analisis Mann-Whitney pada skor DMF-T menunjukkan nilai sig. yaitu 0,000 < 0,05  yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara skor DMF-T siswa SMP kelas 1 Tebing Tinggi di Kabupaten Balangan dengan skor DMF-T siswa kelas 1 SMP di Banjarmasin. Hasil analisis Mann-Whitney pada jumlah kandungan fluor menunjukkan nilai sig. yaitu 0,115 > 0,05  yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah kandungan fluor air gunung dengan jumlah kandungan fluor air sungai. Kesimpulan: Indeks DMF-T siswa kelas 1 SMPN 2 Awayan Tebing Tinggi lebih rendah dibandingkan dengan  siswa kelas 1 SMPN 15 Banjarmasin dan untuk jumlah kandungan fluor air gunung lebih rendah dari pada air sungai.

Page 2 of 3 | Total Record : 21