Kalangwan: Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra
Kalangwan, Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra yang diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Agama Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar memiliki misi menghidupkan dan mengoptimalkan kesadaran keindahan ilmu pengetahuan yang ada dalam diri setiap orang. Maka dengan kesadaran tersebut akan membuat setiap insan tergerak untuk terus menimba menambah dan memperdalam pengetahuan demi kemajuan dan peningkatan kualitas SDM kampus. Keindahan ilmu pengetahuan akan membuka sisi estetika dan kelembutan menuju manusia yang ramah rendah hati jujur dan terbuka.
Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 7, No 1 (2017)"
:
10 Documents
clear
KONSEP KOSMOLOGI HINDU DALAM TEKS BHUANA KOSA
Sena, I Gusti Made Widya
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (356.204 KB)
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1073
One of the truths implied in Scripture Veda is the doctrine or concept of cosmology (creation of the universe). Cosmology is one of the important knowledge in Hinduism, because cosmology not only provides knowledge about the creation of the universe, cosmology can further explain the nature of actual human will, which is still difficult to understand.Doctrine cosmology in Bali is expressed in local theology. Particularly lontar or texts Siwaistik always focuses on the teachings or knowledge of the Lord (Shiva) and knowledge of the way to achieve them as well as the creation of the universe, be it Bhuana Agung or Bhuana Alit.For this reason the right knowledge and also appropriately implement this concept, in particular the concept of Hindu cosmology in the text Bhuana Kosa very important to understanding in daily life towards a harmonious life and increased devotion to God.The concept of Hindu cosmology In the Text Bhuana Kosa is taking the concept of Tattwa Rudra. Tattwa Rudra occur from Shiva as the supreme reality, then united with Rudra became Purusa, of Purusa born Awyakta, of awyakta born Buddhi, of Buddhi (as a symbol of sattwam) was born Ahamkara / Ahangkara (symbol tattoo), then born Panca Tan Matra as a symbol tamas, manas (mind) and Panca Maha Bhuta.
KAJIAN FILOLOGI DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM LONTAR TUTUR AJI SARASWATI
Sentana, Gek Diah Desi
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (176.339 KB)
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1074
Kesusatraan sebagai suatu hasil karya pengarang atau pengawi berupa tulisan yang mengandung nilai-nilai budhi pekerti yang luhur serta memiliki nilai keindahan. Kesusastraan Bali dibagi menjadi dua, yaitu kesusastraan Bali Purwa dan kesusastraan Bali Anyar (modern). Kesusastraan Bali purwa yaitu kesusastraan yang tertua di Bali, yang sering disebut dengan kesusastraan rakyat yang menjadi sebuah tradisi turun-temurun hingga saat ini. Sedangkan kesusastraan Bali Anyar adalah hasil karya cipta seseorang yang menceritakan kehidupan masyarakat yang sudah dipengaruhi oleh dunia luar. Salah satu kesusastraan yang termasuk bagian dari kesusastraan Bali Purwa yaitu, kesusastraan berupa lontar sebagai warisan budaya, yang ditulis oleh para leluhur di atas daun lontar (daun ental). Dari keunikan masing-masing karya sastra tersebut, tertarik untuk mengkaji lontar TuturAji Saraswati yang akan dibahas pada tulisan ini mengenai perbandingan dan nilai pendidikan yang terkandung dalam lontar TuturAji Saraswati. Karena dalam lontar tersebut mengandung pengetahuan tentang aksara Bali. Lontar Tutur Aji Saraswati digunakan untuk mengetahui aksara bali yang terdapat dalam Bhuana Agung dan BhuanaAlit, begitu juga untuk mempermudah kita mempelajari sastra-sastra yang terdapat dalam Wariga, Usadha, Tutur, Agama dan intisari beserta penjelasannya.
WACANA PUNAHNYA BAHASA DAERAH DALAM PERGAULAN GLOBALISASI
Astawa, I Nyoman Temon
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (235.509 KB)
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1076
Wacana akan punahnya suatu bahasa dicemaskan oleh banyak pihak, hal ini berangkat dari keprihatinan akan matinya banyak bahasa. Ada alasan mendasar mengapa kepunahan suatu bahasa sangat dikhawatirkan. Bahasa memiliki jalinan yang sangat erat dengan budaya sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena begitu eratnya jalinan antara bahasa dan budaya, tanpa bahasa budayapun akan mati. Hal ini bisa terjadi karena bahasa adalah penyangga budaya; sebagian besar budaya terkandung didalam bahasa dan diekspresikan melalui bahasa, bukan melalui cara lain. Ketika berbicara tentang bahasa, sebagian besar yang dibicarakan adalah budaya.
TRADISI MABEBASAN SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BAHASA BALI
Mastini, Gusti Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (483.637 KB)
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1077
Tradisi mebebasan merupakan cabang seni yang bersumber pada puisi Bahasa Jawa Kuna atau Bahasa Kawi. Bahasa Kawi sebagai bahasa pokok untuk dibaca dan ditembangkan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali, dan kadang-kadang diberi ulasan dengan Bahasa Bali atau Bahasa Indonesia jika situasi kontekstual menuntutunya. Terkait dengan hal di atas dapat disimpulkan bahwa Bahasa Kawi sebagai Bahasa Sumber, Bahasa Nusantara yang paling tua, dan sebagai bahasa sastra religius. Bahasa Bali berkedudukan sebagai sebagai bahasa daerah besar dan berfungsi sebagai bahasa pergaulan, bahasa sasaran untuk menerjemahkan Bahasa Kawi dan sebagai bahasa pengulas. Sedangkan Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengulas sama seperti Bahasa Bali.
DALAM KIDUNG BHRAMARA SAṄU PATI
Putra, I Gde Agus Dharma;
Sutjaja, I Gusti Made;
Putra, Ida Bagus Rai;
Sudarsana, I Ketut
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (361.117 KB)
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1075
Kalangwan is state of Beauty and cause melting of the distance between the seeker and the sought after. The melting distance causes the soul to drift into the sublime beauty. Distance not only as the conception of space and time, but also the consciousness that separate subject and object. Melting distance means the dissapearance of space, time, and consciousness. Such a condition become a goal by Kawi.Bhramara Sangu Pati more like a monologue that contains the expressions of love for the godness. Love expressions of hope, disappointment, sadness, beauty, especially the longing. Such expressions are axpressed in a soft metamorphosis. Literary is a kind of literature that is still in vague areas especially for researchers.Kalangwan in this text does not stop only on the aesthetic, but also the miystical. Aesthetic because it is a literary work of a hymn that has its own prosody. Mystical because in it there are teachings, especially the teachings that can be used as death. Kalangwan in this study is the level that must be followed by those who want to achieve death. Kalangwan is not abolished, but skipped. Its like climbing a ladder, to get to the tenth step, it must be through the first, second, third and so on.
KONSEP KOSMOLOGI HINDU DALAM TEKS BHUANA KOSA
Sena, I Gusti Made Widya
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1073
One of the truths implied in Scripture Veda is the doctrine or concept of cosmology (creation of the universe). Cosmology is one of the important knowledge in Hinduism, because cosmology not only provides knowledge about the creation of the universe, cosmology can further explain the nature of actual human will, which is still difficult to understand.Doctrine cosmology in Bali is expressed in local theology. Particularly lontar or texts Siwaistik always focuses on the teachings or knowledge of the Lord (Shiva) and knowledge of the way to achieve them as well as the creation of the universe, be it Bhuana Agung or Bhuana Alit.For this reason the right knowledge and also appropriately implement this concept, in particular the concept of Hindu cosmology in the text Bhuana Kosa very important to understanding in daily life towards a harmonious life and increased devotion to God.The concept of Hindu cosmology In the Text Bhuana Kosa is taking the concept of Tattwa Rudra. Tattwa Rudra occur from Shiva as the supreme reality, then united with Rudra became Purusa, of Purusa born Awyakta, of awyakta born Buddhi, of Buddhi (as a symbol of sattwam) was born Ahamkara / Ahangkara (symbol tattoo), then born Panca Tan Matra as a symbol tamas, manas (mind) and Panca Maha Bhuta.
KAJIAN FILOLOGI DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM LONTAR TUTUR AJI SARASWATI
Sentana, Gek Diah Desi
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1074
Kesusatraan sebagai suatu hasil karya pengarang atau pengawi berupa tulisan yang mengandung nilai-nilai budhi pekerti yang luhur serta memiliki nilai keindahan. Kesusastraan Bali dibagi menjadi dua, yaitu kesusastraan Bali Purwa dan kesusastraan Bali Anyar (modern). Kesusastraan Bali purwa yaitu kesusastraan yang tertua di Bali, yang sering disebut dengan kesusastraan rakyat yang menjadi sebuah tradisi turun-temurun hingga saat ini. Sedangkan kesusastraan Bali Anyar adalah hasil karya cipta seseorang yang menceritakan kehidupan masyarakat yang sudah dipengaruhi oleh dunia luar. Salah satu kesusastraan yang termasuk bagian dari kesusastraan Bali Purwa yaitu, kesusastraan berupa lontar sebagai warisan budaya, yang ditulis oleh para leluhur di atas daun lontar (daun ental). Dari keunikan masing-masing karya sastra tersebut, tertarik untuk mengkaji lontar TuturAji Saraswati yang akan dibahas pada tulisan ini mengenai perbandingan dan nilai pendidikan yang terkandung dalam lontar TuturAji Saraswati. Karena dalam lontar tersebut mengandung pengetahuan tentang aksara Bali. Lontar Tutur Aji Saraswati digunakan untuk mengetahui aksara bali yang terdapat dalam Bhuana Agung dan BhuanaAlit, begitu juga untuk mempermudah kita mempelajari sastra-sastra yang terdapat dalam Wariga, Usadha, Tutur, Agama dan intisari beserta penjelasannya.
WACANA PUNAHNYA BAHASA DAERAH DALAM PERGAULAN GLOBALISASI
Astawa, I Nyoman Temon
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1076
Wacana akan punahnya suatu bahasa dicemaskan oleh banyak pihak, hal ini berangkat dari keprihatinan akan matinya banyak bahasa. Ada alasan mendasar mengapa kepunahan suatu bahasa sangat dikhawatirkan. Bahasa memiliki jalinan yang sangat erat dengan budaya sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena begitu eratnya jalinan antara bahasa dan budaya, tanpa bahasa budayapun akan mati. Hal ini bisa terjadi karena bahasa adalah penyangga budaya; sebagian besar budaya terkandung didalam bahasa dan diekspresikan melalui bahasa, bukan melalui cara lain. Ketika berbicara tentang bahasa, sebagian besar yang dibicarakan adalah budaya.
TRADISI MABEBASAN SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BAHASA BALI
Mastini, Gusti Nyoman
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1077
Tradisi mebebasan merupakan cabang seni yang bersumber pada puisi Bahasa Jawa Kuna atau Bahasa Kawi. Bahasa Kawi sebagai bahasa pokok untuk dibaca dan ditembangkan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Bali, dan kadang-kadang diberi ulasan dengan Bahasa Bali atau Bahasa Indonesia jika situasi kontekstual menuntutunya. Terkait dengan hal di atas dapat disimpulkan bahwa Bahasa Kawi sebagai Bahasa Sumber, Bahasa Nusantara yang paling tua, dan sebagai bahasa sastra religius. Bahasa Bali berkedudukan sebagai sebagai bahasa daerah besar dan berfungsi sebagai bahasa pergaulan, bahasa sasaran untuk menerjemahkan Bahasa Kawi dan sebagai bahasa pengulas. Sedangkan Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa pengulas sama seperti Bahasa Bali.
DALAM KIDUNG BHRAMARA SAṄU PATI
Putra, I Gde Agus Dharma;
Sutjaja, I Gusti Made;
Putra, Ida Bagus Rai;
Sudarsana, I Ketut
Kalangwan Jurnal Pendidikan Agama, Bahasa dan Sastra Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25078/klgw.v7i1.1075
Kalangwan is state of Beauty and cause melting of the distance between the seeker and the sought after. The melting distance causes the soul to drift into the sublime beauty. Distance not only as the conception of space and time, but also the consciousness that separate subject and object. Melting distance means the dissapearance of space, time, and consciousness. Such a condition become a goal by Kawi.Bhramara Sangu Pati more like a monologue that contains the expressions of love for the godness. Love expressions of hope, disappointment, sadness, beauty, especially the longing. Such expressions are axpressed in a soft metamorphosis. Literary is a kind of literature that is still in vague areas especially for researchers.Kalangwan in this text does not stop only on the aesthetic, but also the miystical. Aesthetic because it is a literary work of a hymn that has its own prosody. Mystical because in it there are teachings, especially the teachings that can be used as death. Kalangwan in this study is the level that must be followed by those who want to achieve death. Kalangwan is not abolished, but skipped. Its like climbing a ladder, to get to the tenth step, it must be through the first, second, third and so on.