cover
Contact Name
Jurnal Kebudayaan
Contact Email
jurnal.budaya@kemdikbud.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
imeldawijaya2@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kebudayaan
ISSN : 19075561     EISSN : 26858088     DOI : -
Jurnal Kebudayaan was first published by the Center for Cultural Research and Development, Research and Development Agency, Ministry of Culture and Tourism in Juni 2006. In 2016, the Center for Cultural Research and Development was merged with the Center for Policy Research in the Ministry of Education and Culture to become the Center for Education and Culture Policy Research. However, the journal publication continues without any changes in name. Our journal is published three times a year in April, August, and December, and consists of articles of researches and studies regarding policy and challenges in culture, covering topics ranging from: art, tradition, religions and beliefs, cultural objects, museums, history, cultural heritage, language, and other aspects of culture.
Arjuna Subject : -
Articles 105 Documents
PENAMAAN MARGA DAN GELAR ADAT ETNIK MINANGKABAU DI PROVINSI SUMATERA BARAT: KAJIAN ETNOLINGUISTIK. Muhidin, Rahmat
Kebudayaan Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.248

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penamaan nama marga dan nama gelar adat etnik Minangkabau di Sumatera Barat yang berhubungan dengan kajian etnolinguistik. Objek penelitian ini adalah penamaan nama marga dan nama gelar adat pada etnik Minangkabau berdasarkan pada penggunaannya. Adapun permasalah yang diangkat adalah: (1) Apa sajakah nama marga dan nama gelar dalam etnik Minangkabau di Provinsi Sumatera Barat? ; (2) Apa sajakah fungsi dan makna pemberian nama marga dan nama gelar tersebut? Data penelitian ini bersumber pada data kepustakaan dan data lisan dari penutur bahasa Minangkabau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data dapat dideskripsikan sebagai berikut. Pertama, penamaan nama marga dalam etnis Minangkabau merujuk pada tambo, yakni Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Penggunaan nama marga diambil dari nama tempat dan suku. Kedua, penamaan nama gelar adat dalam etnik Minangkabau berdasarkan pada sifat dan penggunaannya, yakni gala mudo (gelar muda), gala sako (gelar pusaka kaum), dan gala sangsako (gelar kehormatan).
KABUR DAN MANUSIA PRASEJARAH DI PEGUNUNGAN MERATUS, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN. Sugiyanto, Bambang
Kebudayaan Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.249

Abstract

AbstrakPegunungan Meratus yang membelah wilayah Kalimantan Selatan menjadi dua, mempunyai peranan penting dalam sejarah kebudayaan manusia dari masa prasejarah sampai sekarang. Sisa penguburan manusia yang ditemukan di Gua Tengkorak (Tabalong), dan Liang Bangkai 10 (Tanah Bumbu), merupakan bukti valid tentang kehadiran manusia prasejarah di Pegunungan Meratus ribuan tahun lalu. Permasalahan yang diajukan dalam penulisan artikel ini adalah bagaimana pola kubur yang ada, siapa yang dikuburkan, dan kapan penguburan itu dilakukan? Tujuan penulisan ini adalah untuk mendapatkan gambaran dan informasi ilmiah tentang kehadiran manusia di Pegunungan Meratus dengan ritual atau prosesi penguburan yang mereka lakukan. Pendekatan penelitian yang digunakan untuk menjawab permasalahan yang diajukan adalah pendekatan kualitatif. Metode penelitian ini menekankan pada pengamatan langsung terhadap obyek penguburan yang ada pada gua-gua dan ceruk payung pada kawasan karst di Pegunungan Meratus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan penguburan sudah dilaksanakan oleh manusia prasejarah dari kelompok ras Australomelanesid di bagian utara Pegunungan Meratus, dan kelompok ras Mongolid di bagian tenggara Pegunungan Meratus.
REVITALISASI TARI LINDA DAN LARIANGI DALAM MASYARAKAT KOTA BAUBAU, PROVINSI SULAWESI TENGGARA. Setiawan, Budiana
Kebudayaan Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.250

Abstract

AbstrakTari Linda dan Lariangi adalah tari tradisional di Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara yang terancam punah, sehingga harus dilakukan revitalisasi. Permasalahan yang diangkat adalah: (1) Bagaimana kedua tarian tersebut dimaknai oleh seniman tari? (2) Bagaimana pula kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Baubau? Tujuan dari tulisan ini adalah mengetahui bentuk revitalisasi yang disepakati para seniman dan Pemerintah Kota Baubau. Metode penelitian yang dilakukan adalah eksplanasi etnografis dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awalnya tari Linda dalam tradisi masyararakat Muna dan Wolio merupakan bagian dari upacara Karia atau pingitan bagi gadis yang beranjak dewasa. Adapun tari Lariangi sebagai hiburan bagi sultan dan para tamu kerajaan pada masa Kesultanan Buton. Seiring dengan perubahan kondisi sosial-budaya dan politik pemerintahan pada masyarakat Wolio, saat ini baik tari Linda maupun Lariangi dipentaskan untuk menyambut tamu pemerintahan dan wisatawan yang datang ke Kota Baubau. Meskipun demikian, bagi para seniman hal itu tidak mengubah makna dan filosofi dari kedua tarian tradisional tersebut. Dalam hal ini upaya revitalisasi yang tepat untuk tari Linda adalah refungsionalisasi, sedangkan untuk tari Lariangi adalah reorientasi. Adapun kebijakan yang dilakukan Pemerintah Kota Baubau adalah dengan memberikan bantuan alat-alat dan sarana kesenian, serta pembinaan kepada sanggar-sanggar kesenian yang ada di wilayahnya.
DAFTAR ISI, EDITORIAL DAN LEMBAR ABSTRAK VOLUME 12, NOMOR 2, DESEMBER 2017 Kebudayaan, Jurnal
Kebudayaan Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.251

Abstract

DAFTAR ISI, EDITORIAL DAN LEMBAR ABSTRAK Volume 12, Nomor 2, Desember 2017
CAGAR BUDAYA SANG PENUTUR MASA SILAM CULTURAL HERITAGE THE TELLER OF THE PAST Sutaba, I Made
Kebudayaan Vol 14 No 1 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i1.255

Abstract

Archaeological researches in Indonesia have discovered a number of various historical and archaeological artifacts that belong to cultural heritage. As historical evidences, this cultural heritage is an important source of the plural information and messages of the past life of our society. It is remarkable that this cultural heritage has some problems for example problem of typology, function, meanings, and the other for the society. Studying the problems, it is interesting to do research on its function as a teller of the past history that contained various aspects of the life of our society that not yet studied until today. By learning the problems, this research goal is to find the answer of the problems. To reach this goal, we do this research gradually by collecting data through literature study and field observation along with interviews. The next step is analysis carried out through methods of typology analysis, contextual, functional analysis, ethno archaeological and ethno historical approach. Finally the result showed that the function of our cultural heritage is as teller of the many-sided aspects of the past history of our artifacts such as technological aspects, social, and religious aspects but it is impossible to get full completed information due to some reasons. Keywords: archaeological and historical artifacts, cultural heritages, teller of the past.  AbstrakPenyelidikan arkeologi di Indonesia sudah berhasil menemukan artefak sejarah dan arkeologi yang beraneka ragam, yang tergolong sebagai warisan budaya. Sebagai bukti-bukti sejarah, warisan budaya ini adalah sumber informasi dan pesan-pesan kehidupan masyarakat masa lalu yang bersifat pluralistik. Menarik perhatian, bahwa warisan budaya ini mempunyai permasalahan yaitu, permasalahan tipologi, fungsi dan makna dalam kehidupan masyarakat. Mempelajari masalah ini, sangat menarik untuk melakukan penelitian mengenai fungsinya sebagai penutur sejarah masa silam, yang mengandung aneka ragam, aspek kehidupan masyarakat, yang belum dikaji sampai sekarang. Dengan mencermati permasalahan ini, maka tujuan penelitian ini, adalah untuk meneliti permasalahan tadi. Untuk mencapai tujuan ini, penulis melakukan penelitian secara bertahap melalui pengumpulan data dengan metode kajian pustaka dan observasi lapangan yang disertai dengan wawancara. Langkah selanjutnya, adalah melakukan analisis dengan analisis tipologi, kontekstual, analisis fungsional, pendekatan etnoarkeologi dan etnohistori. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cagar budaya itu berfungsi sebagai penutur kehidupan masa silam yang mengandung aspek yang bersfiat jamak, adalah aspek teknologi, sosial dan religi, tetapi tidak mungkin untuk mendapat informasi yang lengkap karena berbagai faktor.Kata kunci: peninggalan sejarah dan purbakala, warisan budaya, penutur masa silam.
SILEK MINANGKABAU DALAM KHAZANAH PENCAK SILAT INDONESIA: PROSES PEWARISAN DAN UPAYA PEMERINTAH DALAM MELESTARIKANNYA Hijriani, Ika
Kebudayaan Vol 14 No 1 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i1.266

Abstract

Sumatera Barat atau juga dikenal sebagai Ranah Minangkabau merupakan daerah di Indonesia yang sangat berkembang tradisi pencak silatnya. Pencak silat disana dikenal dengan julukan silek. Banyak aliran silek yang tumbuh subur dan berkembang di ranah Minang. Sebagai daerah yang memiliki tradisi pencak silat, Sumatera Barat menjadi salah satu daerah yang dijadikan lokasi penelitian tradisi pencak silat yang akan diusulkan ke Unesco. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses pewarisan silek dan upaya pemerintah dalam melestarikan silek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan juga kelompok diskusi terpumpun sebagai cara untuk mendapatkan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pewarisan silek berjalan dengan sangat baik, terbukti di setiap nagari/desa terdapat sasaran atau tempat berlatih silek. Demikian pula upaya yang dilakukan oleh pemerintah mulai dari pemerintah kanagarian, sampai kepada pemerintah provinsi sangat mendukung kelestarian silek. Berbagai festival di tingkat desa bahkan sampai di tingkat internasional difasilitasi oleh pemerintah daerah bekerjasama dengan komunitas silek.
BUDAYA BARTER DALAM PUSARAN GLOBALISASI PASAR DI SELATAN PULAU LEMBATA NUSA TENGGARA TIMUR Salmiyati, Mrs; Rahman, Abdul; Rifal, Mr; Ahmadin, Mr
Kebudayaan Vol 14 No 2 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i2.267

Abstract

Artikel ini membahas tentang budaya barter dalam pusaran globalisasi pasar di Labala wilayah selatan pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Di era zaman yang semakin maju dengan perputaran uang yang semakin luas dengan berdirinya Bank Pemerintah dan Swasta, bahkan pasar sudah dapat dinikmati secara online dengan berdirinya online shop. Namun masyarakat di Desa Labala masih menggunakan sistem barter, dengan masih mempertahkan warisan budaya. Yang menarik dari pasar barter ini adalah terjadinya interaksi sosial antara orang pesisir dengan orang pegunungan, desa pesisir lebih banyak datang dari daerah Wulanduro, aLeworaja, Atekere, Pantai Baru, Kehi dan Lamalera sedangkan daerah perbukitan dari daerah Puor, Uruor, Lewuka, Boto, Labala, Udak, dan Pusi Watu. Interaksi pasar yang terjadi dapat mempererat tali silaturahmi sosial, budaya, bahkan agama. Adapun tujuan penelitian ini antara lain (1) Proses transaksi barter atau tukar menukar barang produk pesisir dengan pegunungan. (2) Adapun letak perbandingan antara pasar barter dan non barter di Desa Labala yaitu pada saat proses sebelum dimulainya aktivitas jual beli dan tukar menukar barang, pada pasar barter ada petugas khusus atau mandor pasar yang ditugaskan untuk meniup peluit terlebih dahulu sebelum terjadinya proses tukar menukar barang. (3) Masyarakat Labala masih mempertahankan pasar barter sebab masyarakat Labala menganggap bahwa pasar barter merupakan warisan dari nenek moyang atau leluhur dan memiliki makna atau cerita tersendiri, disamping itu juga pasar barter di Desa Labala merupakan alat untuk mempererat tali persaudaraan antar umat beragama. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan tipe deskriptif. Teknik pengumpulan data diperoleh dengan penelitian lapangan yang mencakup observasi, dokumentasi dan wawancara. Adapun teknik analisis data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan
KESENIAN JANENGAN; IDENTITAS KEETNISAN MASYARAKAT JAWA DI PAJARESUK LAMPUNG Anto, Fitri
Kebudayaan Vol 14 No 1 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i1.268

Abstract

Perpindahan penduduk dari Jawa ke Lampung yang berlangsung bertahun-tahun, tepatnya sejak 1905, memicu terjadinya perkembangan sosial dan budaya yang mencakup adaptasi dan pembentukan identitas. Pertanyaan identitas adalah bagian dari kehidupan setiap orang baik secara individu atau dalam kelompok yang mengalaminya sebagai pembeda atau penyama dengan individu atau kelompok lain. Salah satu materi yang dapat digunakan dalam proses identifikasi adalah kesenian. Seperti yang terjadi pada masyarakat Jawa di Pajaresuk, Pringsewu, Lampung yang menggunakan kesenian Janengan untuk menegaskan identitasnya sebagai orang Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seperti apa bentuk penyajian dan skema permainan kesenian Janengan, juga bagaimana kesenian Janengan menjadi identitas masyarakat Jawa di Pajaresuk, Pringsewu, Lampung. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode deskriptif analisis dan perspektif Etnomusikologis. Berdasarkan prosedurini dapat dikatakan bahwa kesenian Janengan merepresentasikan identitas masyarakat Jawa di Pajaresuk, Pringsewu Lampung melalui unsur-unsur budaya Jawa yang terkandung di dalamnya.
MAKNA KERIS BAGI WARGA SAMIN DI KUDUS Rosyid, Moh
Kebudayaan Vol 14 No 2 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i2.275

Abstract

Tujuan ditulisnya naskah ini untuk mengulas kepemilikan dan keberadaan keris bagi warga Samin, yakni komunitas yang mewarisi ajaran Ki Samin Surosentiko sejak era kolonial Belanda hingga kini di Kudus Jateng. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi dengan analisis deskriptif kualitatif. Keris diperankan sebagai mitra hidup batin dan pengendali sikap sombong sehingga kepemilikannya dirahasiakan. Pewarisan keris berdasarkan persetujuan keris dengan cara â??dialogâ?? magis antara si pemegang keris dengan keris, ada kalanya persetujuan keris dengan lambang dalam mimpi pewaris. Pewaris keris hanya lelaki dan tokoh (botoh) Samin.
PENDIDIKAN SIKAP KEBANGSAAN: BENTUK ADAPTASI SOSIAL BERDAMPAK PADA LINGKUNGAN FISIK MASYARAKAT WAWONII DI BEKAS KESULTANAN BUTON Sifatu, Wa Ode
Kebudayaan Vol 14 No 2 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i2.276

Abstract

Tujuan artikel ini adalah memberitahu pembaca mengenai cara masyarakat Wawonii  berinteraksi sosial yang  berdampak pada lingkungan sosial dan fisik   menjadi  pelajaran  terhadap sikap kebangsaan. Teori untuk membaca data adalah pemikiran Bourdieu tentang â??form of capitalâ?  dengan metode etnografi. Hasil, penggunaan modal sosial, modal simbolik, modal budaya orang Wawonii dalam berinteraksi dengan  suku bangsa lain dari bekas Kesultanan Buton, berlaku seperti bunglon yaitu  menginternalisasinya dan mengekternalisasi sebagai bagian suku bangsa lawan interaksinya. Tujuannya adalah menghilangkan image tentang orang Wawonii memiliki kekuatan magis. Saat berinteraksi dengan pengusaha tambang yang akan masuk ke wilayahnya, mereka berlaku sopan dan baik. Namun, setelah merasakan dampak negatif dari tambang, mereka bukan menginternalisasinya melainkan mengeksternalisasinya dengan  berlaku frontal. Kesimpulan, artikel ini memperkaya pemikiran Bourdieu  tentang  interaksi sosial,  selain mengiternalisasi juga mengeksternalisasi dan berlaku frontal kepada  pemerintah yang merugikan. Rekomendasi, sebaiknya pemerintah harus bersikap netral dalam menghadapi rakyat dan pengusaha agar orang Wawonii dalam berinteraksi   berlaku baik kepada  semua pihak.

Page 10 of 11 | Total Record : 105