cover
Contact Name
Jurnal Kebudayaan
Contact Email
jurnal.budaya@kemdikbud.go.id
Phone
-
Journal Mail Official
imeldawijaya2@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kebudayaan
ISSN : 19075561     EISSN : 26858088     DOI : -
Jurnal Kebudayaan was first published by the Center for Cultural Research and Development, Research and Development Agency, Ministry of Culture and Tourism in Juni 2006. In 2016, the Center for Cultural Research and Development was merged with the Center for Policy Research in the Ministry of Education and Culture to become the Center for Education and Culture Policy Research. However, the journal publication continues without any changes in name. Our journal is published three times a year in April, August, and December, and consists of articles of researches and studies regarding policy and challenges in culture, covering topics ranging from: art, tradition, religions and beliefs, cultural objects, museums, history, cultural heritage, language, and other aspects of culture.
Arjuna Subject : -
Articles 105 Documents
KARAWITAN MURYORARAS: SEBAGAI REPRESENTASI KONSEP SPIRITUAL KEJAWEN. Fitrianto, Fitrianto
Kebudayaan Vol 13 No 1 (2018)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v13i1.230

Abstract

AbstractThis research describes the presentation of Karawitan Muryoraras in the context of culture and the belief system of the society. Besides that, the research describes the system of the presentation concept Muryoraras as ritual art. The data analysis is based on two theories namely the mythical aesthetic by Jacob Soemardjo and the theory of conditioning by Ivan Petrovich Pavlov. Based on the mythical aesthetic the relationship between the object art with culture and the belief system of society will be explained systematically. At this moment the analysis of the working system of the Muryoraras presentation concept is based on the conditioning theory that includes the process of stimulation and behavioral response. The Author uses qualitative research methods with ethnomusicological approach to trace deeper relationship between Karawitan Muryoraras and culture as well as belief system of the society. The data collection is done by measurable steps like: observation, interviews, documentation, and audio-visual materials. Then analyzed by several stages such as organizing them the data being examined can be verified. The results show that conceptually the presentation of Karawitan Muryoraras is a representative media of various cultural values of Java and the teaching of Kejawen as belief system of the society. Furthermore, the conceptual framework of hepresentation is applied to the working system of conditioning which is devided into two stages namely the stages of formation and reinforcement through various presenting rules.Keywords: Muryoraras, Representation, Kejawen.AbstrakPenelitian ini menjelaskan mengenai penyajian karawitan Muryoraras dalam konteks budaya dan sistem kepercayaan masyarakatnya. Selain itu penelitian ini juga menjelaskan tentang sistem kerja konsep penyajian Muryoraras sebagai seni ritual. Analisis data didasarkan pada dua teori yaitu estetika mitis Jacob Soemardjo dan teori pengkondisian Ivan Petrovich Pavlov. Bedasarkan estetika mitis, hubungan antara objek seni dengan budaya dan sistem kepercayaan masyarakatnya dapat dijelaskan dengan sistematis. Sementara analisis sistem kerja konsep penyajian Muryoraras didasarkan pada teori pengkondisian yang mencakup proses pemberian stimulus dan respon perilaku. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis guna menelusuri lebih dalam hubungan antara karawitan Muryoraras dengan budaya serta sistem kepercayaan masyarakatnya. Pengumpulan data dilakukan dengan langkah-langkah yang terukur di antaranya: observasi, wawancara, dokumentasi, dan bahan audio visual. Kemudian dianalisis dengan beberapa tahap seperti mengorganisasikan data, membuat memo, pembentukan kode, menafsirkan data, menyajikan, dan memvisualisasikan data, sehingga data yang diteliti dapat dibuktikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara konseptual penyajian karawitan Muryoraras merupakan media representasi berbagai nilai budaya Jawa dan ajaran Kejawen sebagai sistem kepercayaan masyaraktnya. Selanjutnya, kerangka konseptual penyajian tersebut diaplikasikan dengan sistem kerja pengkondisian yang terbagi dalam dua tahapan yaitu tahapan pembentukan dan penguatan melalui berbagai macam tatacara penyajiannya.
ETNOPEDAGOGIK DALAM PASANGGIRI ASAH KAPARIGELAN BASA, SASTRA, JEUNG BUDAYA SUNDA Syahdiana, Susi Syahdiana
Kebudayaan Vol 13 No 1 (2018)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v13i1.231

Abstract

AbstractPasanggiri Asah Kaparigelan Basa, Sastra, jeung Budaya Sunda It is a competition for elementary, Junior high school, Senior High School/Vocational School, which is held annually as a form of introduction etnopedagogic to the young generation to preserve the three pillars of culture in Cianjur. The outline of the research problem regarding values, such as moral values, the value of the Sundanese, the character and value of self-actualization Sundanese the components of the Pasanggiri Asah Kaparigelan Basa. Sastra, jeung Budaya Sunda. The purpose of this research is to find out and expose the moral value of Sundanese, the value of Sundanese characters, and the value of self-actualization Sundanese in the component Pasanggiri Asah Kaparigelan Basa, Sastra, jeung budaya Sunda. The methods used, that is descriptive qualitative approach method. Data collection with interview techniques and study the documentation. The results of study to find the value of etnopedagogic with the following conclusion; (1) There is the moral value of Sundanese in components Asah Kaparigelan.(2) There is value in the Sundanese characters in components Asah Kaparigelan. (3) There is the value of self-actualization Sundanese in components Asah Kaparigelan.AbstrakPasanggiri Asah Kaparigelan Basa, Sastra, jeung Budaya Sunda merupakan ajang lomba tingkat SD, SMP, SMA/SMK, yang digelar setiap tahun sebagai wujud pengenalan etnopedagogik kepada generasi muda untuk melestarikan tiga pilar budaya di Kabupaten Cianjur. Rumusan Masalah dalam penelitian ini mengenai bagaimana nilai moral orang Sunda, nilai karakter orang Sunda, dan nilai aktualisasi diri orang Sunda yang terdapat dalam komponen Pasanggiri Asah Kaparigelan Basa. Sastra, jeung budaya Sunda. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan memaparkan tiha hal yaitu; nilai moral orang Sunda, nilai karakter orang Sunda, dan nilai aktualisasi diri orang Sunda yang terdapat dalam setiap komponen lomba (pasanggiri). Metode yang digunakan deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dengan wawancara dan studi dokumentasi. Dari hasil penelitian ini didapat nilai etnopedagogik dengan kesimpulan berikut; (1) Terdapat nilai moral orang Sunda dalam komponen pasanggiri asah kaparigelan, (2) Terdapat nilai karakter orang Sunda dalam komponen pasanggiri asah kaparigelan (3) Terdapat nilai aktualisasi diri orang Sunda dalam komponen asah kaparigelan.
PENGUATAN KARAKTER SISWA MELALUI PENGGUNAAN UNGGAH-UNGGAH BAHASA JAWA Wijayanti, Ari
Kebudayaan Vol 13 No 1 (2018)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v13i1.232

Abstract

AbstractThe background of this article is the authorâ??s concern of students character in using Java language programs at SDN Rejosari, Kemiri Subdistrict, Purworejo. The purpose of this article is to present the importance of Java language programs to strengthen students character. The method used by the author in compiling this article is by literature review. In addition, the author also observed the studentsâ?? ability to use Java language programs especially in grade IV, V, and VI. The writer also discussed with the class teachers to find the right solutions in an effort to revive the use of Java language programs. The results of the study in this article find a solution that cultivating Java language programs can be done through exemplary and habituation. Exemplary in using Java language programs can be applied in conversations between teachers in the school environment and between teachers and students. The use of Java language programs in schools can be done during Javanese learning, in informal situations outside the classroom, or on the sidelines of learning activities.AbstrakPenulisan artikel ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan penulis akan lunturnya karakter siswa dalam menggunakan unggah-ungguh Bahasa Jawa di SDN Rejosari, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo. Tujuan penulisan artikel ini adalah menyajikan kajian tentang pentingnya unggah-ungguh Bahasa Jawa dalam penguatan karakter siswa. Metode yang digunakan oleh penulis dalam menyusun artikel ini adalah dengan telaah pustaka. Selain itu, penulis juga melakukan observasi terhadap kemampuan siswa dalam menggunakan unggah-ungguh Bahasa Jawa utamanya pada siswa kelas IV, V, dan VI, serta berdiskusi dengan guru kelas untuk menemukan solusi yang tepat dalam upaya menggiatkan kembali penggunaan unggah-ungguh Bahasa Jawa. Hasil kajian dalam artikel ini menemukan solusi bahwa penanaman unggah-ungguh Bahasa Jawa dapat dilakukan melalui keteladanan dan pembiasaan. Keteladanan dalam menggunakan unggah-ungguh Bahasa Jawa dapat diterapkan dalam percakapan antarguru di lingkungan sekolah dan antara guru dengan siswa. Pembiasaan penggunaan unggah-ungguh Bahasa Jawa di sekolah dapat dilakukan pada saat pembelajaran Bahasa Jawa, pada situasi informal di luar kelas, maupun di sela-sela kegiatan pembelajaran.
MASA DEPAN DAN MANFAAT NEKROPOLIS GILIMANUK, SEBUAH KONTEMPLASI ARKEOLOGI. Sutaba, I Made
Kebudayaan Vol 13 No 1 (2018)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v13i1.233

Abstract

AbstractUntil the present days, archaeological research in Indonesia and prehistoric research particularly in Bali, have discovered an important and remarkable cultural heritage, among them, there are prehistoric sites and artefacts that informed about the prehistoric life in Bali. Based on the result of this research, it is known that the necropolis and the prehistoric burial site of Gilimanuk are spectacular and potential culture heritages. The problem in this research is to know, how is the future and benefits of the necropolis sites and the prehistoric Gilimanuk grave site for the development of Indonesian nationâ??s character? The purpose of this study is to explain the benefits of the existence of these sites for the development of national character. Learning this problems, the objectives of this research is to find out the answer of the problems. To reach this objectives, this research is planned step by step. The method that used for collecting data including field observation with interview and literature study. The next step, analysis was carried out by method of typological analysis, contextual analysis, functional analysis and comparative study. The results of this study indicate two items. First, archeologically, the necropolis site and the prehistoric Gilimanuk grave site are very important as a cultural force containing socio-cultural values that lived 2000 years ago. Secondly, the site can provide enormous benefits for the development of national cultural resilience, national character, and dynamic spirit of nationalism.AbstrakSampai sekarang, penelitian arkeologi di Indonesia dan penelitian prasejarah di Bali telah menemukan warisan budaya yang penting dan menarik. Di antara temuan ini, adalah situs dan artefak prasejarah yang menggambarkan kehidupan masyarakat prasejarah Bali. Berdasarkan hasil-hasil penelitian selama ini dapat diketahui, bahwa situs nekropolis dan situs kuburan prasejarah Gilimanuk adalah warisan budaya yang spektakuler dan potensial. Permasalahannya adalah, bagaimana masa depan dan manfaat situs necropolis dan situs kuburan prasejarah Gilimanuk tersebut bagi pembangunan karakter bangsa kita? Tujuan dari penelitian ini adalah memaparkan manfaat keberadaan situs-situs tersebut untuk pembangunan karakter bangsa. Untuk mencapai tujuan ini, maka penelitian ini direncanakan secara bertahap, mulai dengan pengumpulan data dengan metode kajian pustaka, observasi lapangan, pencatatan, pendokumentasian, dan wawancara. Langkah berikutnya adalah analisis dengan metode analisis tipologis, analisis kontekstual dan studi perbandingan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama secara arkeologis, situs nekropolis dan situs kuburan prasejarah Gilimanuk sangat penting sebagai kekuatan budaya yang mengandung nilai-nilai sosial-budaya yang hidup 2000 tahun yang silam. Kedua, situs tersebut dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pembangunan ketahanan budaya bangsa, karakter bangsa, dan semangat nasionalisme yang dinamis.
SEJARAH PERKEMBANGAN DAN PERUBAHAN FUNGSI WAYANG DALAM MASYARAKAT. Nur Awalin, Fatkur Rohman
Kebudayaan Vol 13 No 1 (2018)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v13i1.234

Abstract

AbstractWayang art performance that develops in Java is a traditional performing art that is able to survive and adapt to all aspects of its changes. The issue of this research is to know, how does the history of development and change of wayang function in society? The development of wayang art performance is influenced by social conditions, which affect the change of function of wayang art performance. The objective of the research is to explain the history of development and change of wayang function in society.This study uses descriptive method, with the support of literature review and observation on wayang performance. The results show that the history of wayang development is conceptually a combination of several cultural elements that enter in Indonesia (Java), namely Indian culture with Hindu-Buddhism and Islam with sufism. Indicator of changes in wayang function in the community is the change of pakeliran wayang as an industry tomeet the entertainment market. Changes in ritual function can be seen from the waning of guidance or moral values in wayang, so its has only entertainment or spectacle functions and as a popular performances.AbstrakSeni pertunjukan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa merupakan kesenian tradisonal yang mampu bertahan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman dengan segala aspek perubahan-perubahannya. Masalah dalam penelitian ini adalah mengkaji mengenai bagaimana sejarah perkembangan dan perubahan fungsi wayang dalam masyarakat? Perkembangan seni pertunjukan wayang dipengaruhi oleh kondisi sosial, yang berpengaruh terhadap perubahan fungsi seni pertunjukan wayang.Tujuannya adalah menjelaskan sejarah perkembangan dan perubahan fungsi wayang dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, dengan dukungan kajian pustaka dan pengamatan (observasi) terhadap pergelaran wayang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah perkembangan wayang secara konseptual merupakan perpaduan dari beberapa unsur kebudayaan yang masuk di Indonesia (Jawa), yakni kebudayaan India dengan Agama Hindu-Buddha dan Islam dengan tasawufnya. Indikator perubahan fungsi wayang dalam masyarakat adalah perubahan pakeliran dalam wayang sebagai industri untuk memenuhi pasar hiburan. Perubahan fungsi ritual dapat dilihat dari memudarnya nilai-nilai tuntunan atau moral dalam wayang, sehingga wayang hanya mempunyai fungsi hiburan atau tontonan dan sebagai pertunjukan populer.
IMPLEMENTASI PROGRAM PENDIDIKAN KEAKSARAAN DASAR KOMUNITAS ADAT TERPENCIL DI KABUPATEN SAROLANGUN, PROVINSI JAMBI: SEBUAH CATATAN KRITIS Pratiwi, Indah
Kebudayaan Vol 14 No 2 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i2.236

Abstract

Sejak 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaaraan dan Kesetaraan menyelenggarakan Program bertajuk Program Pendidikan Keaksaraan Dasar Komunitas Adat Terpencil. Tujuan program ini adalah menjadikan warga komunitas adat di wilayah terpencil berusia 15-59 tahun melek aksara sehingga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tulisan ini berupaya untuk melihat implementasi program tersebut khususnya pada masyarakat Suku Anak Dalam di Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Data dalam tulisan ini bersumber dari penelusuran pustaka, observasi, serta wawancara baik dengan pengelola program di tingkat pusat (Kemendikbud) maupun pelaksana di tingkat daerah (Dinas Pendidikan dan PKBM). Dengan menganalisis data yang tersedia tampak bahwa meskipun target program untuk menjadikan 80% warga belajar melek aksara telah terpenuhi namun terdapat beberapa permasalahan dalam implementasi program yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan capaian program. Beberapa permasalahan tersebut antara lain terkait dengan keterbatasan daya jangkau program, relatif lemahnya kapasitas SDM pelaksana program, dan rendahnya peluang keberlanjutan program.
NARASI TENTANG KEBUDAYAAN BADUY DI TIGA LEMBAGA KEBUDAYAAN Hendrik, Herman
Kebudayaan Vol 14 No 1 (2019)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v14i1.237

Abstract

Tulisan ini membahas tentang narasi yang disajikan oleh tiga lembaga yang merepresentasikan kebudayaan Banten dalam rangka merepresentasikan kebudayaan Baduy, suatu komunitas adat yang hidup di wilayah Banten. Lembaga-lembaga tersebut yaitu Anjungan Provinsi Banten di Taman Mini Indonesia Indah, Museum Negeri Provinsi Banten, dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Narasi tentang kebudayaan Baduy dalam hal ini dipahami sebagai cara-cara yang ditempuh oleh masing-masing lembaga untuk bercerita tentang atau mendeskripsikan kebudayaan Baduy. Kajian mengenai hal ini penting mengingat komunitas Baduy merupakan salah satu elemen yang membentuk masyarakat dan kebudayaan Banten. Hal yang membuat diskusi lebih menarik yaitu bahwa komunitas Baduy merupakan minoritas di Banten, baik dalam hal jumlah maupun kebudayaan, tetapi menjadi salah satu ikon dari kebudayaan Banten. Mereka minoritas dalam segi jumlah karena mereka memang komunitas yang menghuni suatu wilayah kecil di wilayah Kabupaten Lebak. Dalam segi kebudayaan, status minoritas mereka dapat dilihat setidaknya dari dua hal, yaitu kepercayaan (baca: agama) dan tradisi. Komunitas Baduy menganut kepercayaan Sunda Wiwitan, yang tentu saja berbeda dengan mayoritas masyarakat Banten yang beragama Islam. Sementara itu, secara tradisi, komunitas Baduy masih menjalani cara hidup warisan leluhur secara ketat, pengaruh modernisme masih relatif kecil dalam kehidupan mereka. Dalam konteks seperti itu, menarik untuk memahami bagaimanakah lembaga-lembaga yang bertugas merepresentasikan kebudayaan Banten bernarasi tentang kebudayaan Baduy. Penelitian untuk tulisan ini dilakukan di Anjungan Provinsi Banten TMII, Museum Negeri Provinsi, dan Museum Banten Lama pada bulan Mei tahun 2018. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu pengamatan terhadap berbagai objek/koleksi museum yang dijadikan representasi kebudayaan Baduy.
RIWAYAT INDUSTRI KERIS DI SUMENEP, MADURA Sudrajat, Unggul
Kebudayaan Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.245

Abstract

AbstrakKeris merupakan kekayaan budaya yang pada permulaannya diindikasikan sebagai senjata khas suku Melayu dan menyebar ke seluruh Nusantara. Sebagai sebuah senjata, keris mempunyai keistimewaan tersendiri dikarenakan terdapatnya pamor di tubuh keris. Keunikan dan kerumitan pembuatan keris seiring dengan berkembangnya mitos kepercayaan terhadap keris tentang kekuatan adikodrati yang bisa membantu manusia dalam menghadapi persoalan kehidupan pun klaim kekuasaan. Pada akhirnya keris berkembang tidak hanya sebagai benda mistik, namun juga bernilai ekonomi. Maka, industri keris mulai mendapatkan angin segar khususnya di Sumenep setelah permintaan pasar mulai meningkat. Penelitian ini bermaksud menelaah perkembangan industri keris di Sumenep sebagai sentra terbesar pembuatan keris di Nusantara. Metode yang digunakan adalah kulitatif deskriptif dengan tiga tahapan yang meliputi studi pustaka (desk research), pengumpulan data dan focus group discussion (FGD). Dari hasil studi yang dilakukan, diketahui bahwa perkembangan industri keris di Sumenep sudah ada sejak masa Juâ?? Pande, pertengahan abad ke-19. Hanya saja industri keris sempat terhenti setelah mengalami represi dari Pemerintah Belanda dan Jepang di paruh pertama abad ke-20. Setelah kemerdekaan, industri keris kembali berkembang dengan berpusat di tiga Kecamatan yaitu Bluto, Saronggi, dan Lenteng. Dalam perkembangannya, industri keris di Sumenep mengalami pasang surut karena faktor represi dari penguasa kolonial Belanda dan Jepang.
KEARIFAN LOKAL DALIHAN NATOLU SEBAGAI BINGKAI TIGA PILAR PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN KAWASAN DANAU TOBA. Simatupang, Defri Elias
Kebudayaan Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.246

Abstract

AbstrakTulisan ini bertujuan mengkaji salah satu warisan budaya etnik Batak, yaitu kearifan lokal dalihan natolu, yang dikaitkan dengan pembangunan kawasan Danau Toba. Sudah sejak beberapa tahun ini geliat pembangunan kawasan Danau Toba semakin ditingkatkan secara lebih pesat, namun menimbulkan kekhawatiran akan dampak kerusakan lingkungan yang bisa saja muncul. Seiring telah disahkannya Peraturan Presiden RI Nomor 49 tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba, dirasakan penting untuk melihat kawasan Danau Toba dalam bingkai tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yakni: ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya. Permasalahan yang diangkat adalah: Bagaimana peranan kearifan lokal dalihan natolu dalam bingkai tiga pilar pembangunan berkelanjutan kawasan Danau Toba? Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis jaringan sosial, mencoba menempatkan dan menjelaskan posisi penting sistem kekerabatan dalihan natolu masyarakat sekitar kawasan Danau Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalihan natolu sebagai bagian dari aspek budaya, memiliki posisi penting dalam bingkai tiga pilar pembangunan berkelanjutan kawasan Danau Toba.
KAMPER SEBAGAI CAGAR BUDAYA WARISAN DUNIA: SEBUAH PEMIKIRAN AWAL Ajis, Ambo Asse
Kebudayaan Vol 12 No 2 (2017)
Publisher : Puslitjakdikbud Balitbang Kemdikbud

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jk.v12i2.247

Abstract

AbstrakKajian ini hendak menempatkan kamper sebagai karya budaya yang memenuhi syarat sebagai benda cagar budaya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Kamper merupakan produk budaya dari Barus yang menjadi komoditas dunia pada masanya. Kehadirannya sebagai benda yang bernilai penting dibuktikan dengan terciptanya tatanan perdagangannya sendiri dan konsumennya yang spesifik. Meskipun jangkauan pengetahuan dunia tentang kamper melampaui wilayah Sumatera maupun wilayah lain di Indonesia, hingga saat ini, kamper belum mendapatkan pengakuan sebagai benda cagar budaya Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan masukan kepada para pemangku kebijakan pada Pemerintah RI agar dapat mempertimbangkan dan mendorong kamper menjadi salah satu benda cagar budaya di Indonesia, bahkan jika mungkin di dunia. Metode penulisan artikel ini berbentuk eksplanatif dengan merujuk sumber historis yang terpercaya. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa terdapat urgensitas peranan kamper dalam dinamika perdagangan rempah dengan dunia luar di masa lalu, yang terlihat pada dampaknya yang luas, tidak hanya menyentuh aspek ekonomi saat itu, tetapi juga merambah ke kehidupan sosial, kesehatan, dinamika hubungan kenegaraan, pelayaran, perdagangan, dan sebagainya. Adapun imbas untuk masyarakat Nusantara adalah adanya dugaan bahwa perdagangan kamper juga intensif mendorong munculnya berbagai materi rempah lainnya, lalu secara bersama-sama memperkaya jaringan perdagangan antar negeri di Nusantara saat itu.

Page 9 of 11 | Total Record : 105