cover
Contact Name
Fatmala Sari Okaviani
Contact Email
fatmala.oktaviani@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
gentabahterakepri@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bintan,
Kepulauan riau
INDONESIA
Genta Bahtera : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan
ISSN : 25032135     EISSN : 26561085     DOI : -
Core Subject : Education,
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan is a journal of language studies published by Language Agency of Kepulauan Riau (Kantor Bahasa Kepulauan Riau). It is a research journal which publishes various research reports, literature studies, and scientific writings on phonetics, phonology, morphology, syntax, discourse analysis, pragmatics, anthropolinguistics, language and culture, dialectology, language documentation, forensic linguistics, comparative historical linguistics, cognitive linguistics, computational linguistics, corpus linguistics, neurolinguistics, language education, translation, language planning, psycholinguistics, sociolinguistics, and other scientific fields related to language studies.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2017): Desember" : 9 Documents clear
TEMA DALAM KUMPULAN PUISI “CARA MENGHITUNG ANAK” KARYA ABU WAFA Dody Kristianto
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.268 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.16

Abstract

AbstrakArtikel hasil penelitian ini berisi pembahasan tentang tema dalam kumpulan puisi Cara Menghitung Anak (CMA) karya Abu Wafa. Tema merupakan hasil perenungan pengarang terhadap dunianya. Kekuatan puisi dalam kumpulan CMA adalah penggunaan diksi dan pengucapan khas dunia anak. Penulis berasumsi tema dalam kumpulan puisi CMA dekat dengan dunia anak. Metode yang digunakan adalah pendekatan struktural dengan mengkhususkan kajian pada tema dalam kumpulan puisi CMA. Teknik yang digunakan adalah kajian pustaka Hasilnya, ada empat tema yang diangkat dalam kumpulan CMR ada empat tema besar, yaitu (a) pola asuh orang tua, (b) kehidupan di sekitar anak, (c) perasaan cinta pada anak-anak, serta (d) kondisi dunia pendidikan. Saran yang penulis sehubungan dengan hasil penelitian ini adalah orang tua agar selalu mendampingi anak dalam tahapan perkembangan mereka. Cara yang digunakan dalam mendidik anak hendaknya tidak membatasi kreativitas serta imajinasi anak. Kata kunci: tema, puisi, anak  AbstractThis research article contains a discussion of the theme in the collection of poetry Cara Menghitung Anak (CMA) by Abu Wafa. The theme is the author’s contemplation of his world. The strength of poetry in the collection of CMA is the use of diction and pronunciation typical of the child’s world. The author assumes the theme in a collection of CMA poems close to the child’s world. The method used was a structural approach by specializing the study on themes in a collection of CMA poems. Technique used was literature review. The result shows that there are four themes raised in the CMR collection which consist of (a) parenting patterns, (b) life around children, (c) feelings of love in children, and (d) the condition of education. The author’s suggestion in relation to the results of this study is that parents are always accompanying children in their developmental stages. Ways used in educating children should not restrict the creativity and imagination of children. Keywords: theme, poetry, children
NARASI REALISME MAGIS DALAM PUISI “GONG” KARYA NIRWAN DEWANTO Maharani Intan Andalas
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.291 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.12

Abstract

AbstrakPengaruh kesusastraan global berupa realisme magis ditemukan dalam sastra Indonesia, baik dalam prosa maupun puisi. Salah satu indikasi karya realisme magis adalah dihadirkannya mitos dalam konteks masa kini. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana yang magis dan yang nyata dinarasikan berdasarkan elemen-elemen yang menjadi karakteristik realisme magis dalam puisi “Gong” serta hubungan antarelemen dan kadar realisme magis di dalamnya. Penelitian ini menggunakan teori naratif realisme magis Wendy B. Faris. Metode penelitian didasarkan pada teori berupa penentuan data dan pengumpulan data yang meliputi klasifikasi data menjadi dua kategori utama, yaitu data magis dan data riil. Dalam hasil dan pembahasan, dibuktikan bahwa puisi “Gong” mengandung narasi realisme magis atas mitos Calon Arang melalui lima karakteristik realisme magis yang terdapat di dalamnya. Selain itu, terdapat hubungan relasional di antara elemen yang menjadi karakteristik tersebut. Kadar realisme magis dilihat dari tokoh dan peristiwa dapat dikatakan cukup kuat. Puisi ini menggarisbawahi isu perempuan dan akhir patriaki. Isu tersebut berkait dengan konteks posmodernisme. Penggunaan mitos dalam puisi memperlihatkan cara pandang posmodernisme yang tidak terlepas dari Jakarta sebagai konteks sosial penyair. Kata kunci: mitos, narasi, realisme, magis, karakteristik  AbstractThe impact of global literature of magical realism is found in Indonesia literature in both prose and poetry. One indication of the work of magical realism is the representation of myth in the contemporary context. The problem discussed in this research are the narration of the magic and the real in Gong poem and the connection between elements, also the level of magical realism in it. This research used narrative theory of magical realism by Wendy B Faris. This research method was based on magical realism theory in the form of data determination and data collection which included the classification into two categories namely magical data and real data. In result and discussion proved that Gong poem contained a narrative of magical realism upon Calon Arang myth through five characteristic of magical realism in it beside the relation among the elements. Magical realism level seen from character and events was strong enough. This poem underlines the issues of women and the end of patriarchy. The issues are related with postmodernism context. The myths in poem shows postmodernism point of view that can’t be separate from Jakarta as social context. Keywords: myth, narrative, magical, realism, characteristic
MAKNA SIMBOL SENYUMAN DALAM CERPEN PEREMPUAN SUNYI DAN SAUDARANYA KARYA YUS R. ISMAIL Yuliadi Muh Rahim
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.997 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.17

Abstract

AbstrakPenelitian ini dilakukan untuk mengungkap makna simbol senyuman dalam cerpen Perempuan Sunyi dan Saudaranya karya Yus R. Ismail. Aspek simbol senyuman itu diungkap melalui peristiwa dan dialog tokoh dalam cerpen. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori semiotika. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah cerpen Perempuan Sunyi dan Saudaranya berisi simbol universal, simbol kultural, dan simbol individual. Kata kunci: Makna simbol, cerpen Perempuan Sunyi dan Saudaranya, semiotika  AbstractThis research is conducted to reveal the symbol smile meaning in Perempuan Sunyi dan Saudaranya short story by Yus R. Ismail. This symbol aspect would be revealed through the depiction of incident in the story and dialogue. The theory used in this study was The Semiotic theory. The method used in this research was qualitative descriptive method whilst data collection used literary technique. The results obtained in this study was Perempuan Sunyi dan Saudaraanya short story form universal symbols, cultural symbols and individual symbols. Keywords: Symbol meaning, Perempuan Sunyi dan Saudaranya short story, semiotics
NILAI KEROHANIAN DALAM TUTURAN TRANSAKSI JUAL-BELI BERBAHASA BANJAR DI HULU SUNGAI NAGARA Rissari Yayuk
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.537 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.13

Abstract

AbstrakNilai kerohanian adalah salah satu nilai yang lahir melalui proses yang panjang dalam sebuah masyarakat yang memiliki budaya beradab. Salah satu unsur nilai kerohanian adalah nilai mora- l. Nilai ini biasanya ditemukan dalam ragam karya sastra. Penelitian mengkaji nilai kerohanian dengan objek yang berbeda, yaitu dalam tuturan lisan pada transaksi jual-beli sebuah pasar di Kalimantan Selatan, Pasar Nagara, di Hulu Sungai Selatan.Teori yang digunakan adalah berhubungan dengan nilai kerohanian yang salah satunya unsur pembangunnya dari nilai moral. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Teknik pengumpulan data adalah dokumentasi dan rekam.Hasil penelitian dalam tuturan transaksi jual-beli ini ditemukan nilai kejujuran, mandiri, tolong-menolong, dan kepedulian. Hal ini membuktikan bahwa nilai positif dalam kehidupan tidak hanya dapat digali dari karya sastra semata, tapi teori kesastraan yang berkaitan dengan nilai kerohanian ini dapat diterapkan dalam tuturan lisan sehari-hari, salah satunya pasar yang terdapat di tengah masyarakat. Kata kunci: nilai, kerohanian, transaksi  AbstractSpiritual value is one of the values that were born through a long process in a society that has a civilized culture. One element of spiritual values is moral value. This value is usually found in a variety of literary works. The present study is to examine the issue of spiritual value with different objects, namely the oral at a market in South Kalimantan, Nagara Market, at Upper South River. The theory used was related to spiritual values, one of which elements of the builder of moral values. The method used was descriptive. Data collecting techniques were documentating and recording. The results of research are that in speech of buying and selling is found the values of honesty, self-contained, helping, and caring. This proves that the positive values in life not only can be extracted from the literature alone, but literary theory related to spiritual values can be applied in everyday oral speech, one of which markets are in the community. Keywords: values, spirituality, transactions
PERIBAHASA BAHASA REJANG Indah Pujiastuti
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.975 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.18

Abstract

AbstrakPeribahasa merupakan ungkapan tradisional yang menjadi bagian dari sastra lisan. Di Masyarakat Rejang, peribahasa tersebut dimunculkan secara lisan di acara adat seperti pernikahan dan dimunculkan dalam peraturan adat Rejang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peribahasa dari Msayarakat Rejang khususnya masyarakat Kabupaten Rejang Lebong. Peribahasa tersebut dideskripsikan dari aturan adat yang sudah direkam dalam bentuk tulis yaitu Kelpeak Ukum Adat (Hukum Adat Rejang). Penelitian ini juga untuk mengetahui fungsi dari peribahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang bersumber dari hukum adat Rejang yaitu Kelpeak Ukum Adat Ngen Riyan Ca’o Kutei Jang yang memuat tentang tata cara bermasyarakat, hak dan kewajiban masyarakat, adat pernikahan, warisan, tarian, kepemimpinan, busana, bahasa, dan tulisan. Penelitian ini menitikberatkan pada analisis dokumen. Hasil yang didapatkan, bahwa 29 peribahasa yang ditemukan dalam hukum adat tersebut membahas tentang tatanan hidup masyarakat Rejang. Peribahasa tersebut berfungsi sebagai nasihat, larangan, teguran, pengajaran, gambaran tatanan sosial bermasyarakat. Kata Kunci: Peribahasa, Suku Rejang, Hukum Adat  AbstractProverbs are traditional expressions that are part of oral literature. In Rejang Community, the proverb was raised orally in traditional events such as weddings and raised in the Rejang customary law. This study aims to describe the proverbs of Msayarakat Rejang, especially the people of Rejang Lebong Regency. The proverb is described from customary rules that have been recorded in written form of Kelpeak Ukum Adat (Custom Rejang Law). This research is also to know the function of the proverb. This research used qualitative approach with descriptive method that comed from customary law of Rejang namely Kelpeak Ukum Adat Ngen Riyan Ca’o Kutei Jang which contains about social, community and rights, customs, and writing. This study focused on content analysis. The results obtained, that the 29 proverbs found in the customary law is about the life order of the Rejang community. These proverbs serve as advice, prohibitions, admonitions, teachings, images of the social fabric of society. Keywords: Proverb, Rejang Community, Customary Law
HUBUNGAN KEKERABATAN BAHASA REJANG, SERAWAI, DAN PASEMAH DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK LEKSIKOSTATISTIK Nafri Yanti
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.314 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.14

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan kekerabatan antara Bahasa Rejang, Serawai dan Pasemah. Ketiga bahasa ini dipilih karena merupakan bahasa daerah mayoritas yang digunakan masyarakat Provinsi Bengkulu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik leksikostatistik yaitu suatu teknik untuk mengkaji bahasa dengan melakukan pengelompokan data secara statistik. Pengelompokan dilakukan berdasarkan persamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa yang lain untuk mengetahui hubungan kekerabatan bahasa tersebut. Data diperoleh berdasarkan hasil wawancara kepada penutur asli tiap bahasa tersebut. Dari hasil penelitian diketahui bahwa waktu pisah bahasa Serawai-Rejang yakni antara 1327 –1138 tahun yang lalu, Bahasa Serawai-Pasemah yakni antara 455 - 347 tahun yang lalu sedangkan waktu pisah Bahasa Rejang-Pasemah yakni antara 1402 – 1188 tahun yang lalu. Hal ini menunjukan bahwa ketiga bahasa tersebut masih dalam satu bahasa karena waktu pisah masih berkisar antara0-5 abad. Jika dilihat persentase kata kerabat dapat kita ketahui bahwa kekerabatan bahasa Serawai- Rejang 58%. Serawai-Pasemah 84% sedangkan bahasa Rejang-Pasemah 57% yang artinya, bahwa Bahasa Serawai-Rejang dan Rejang- Pasemah merupakan satu bahasa (language), sedangkan bahasa Serawai-Pasemah merupakan Keluarga (family) karena persentase kata kerabat 84%. Kata kunci: Leksikostatistik, Rejang, Serawai, Pasemah.  AbstractThe purpose of this study is to see the relationship between Rejang, Serawai and Pasemah language. These three languages were chosen because it is the majority area language used by the people of Bengkulu Province. The research method used is quantitative method with lexicostatistics technique that is a technique to study the language by doing grouping data statistically. Grouping is done based on the similarities and differences of a language with another language to know the kinship relationship of the language. The data were obtained based on interviews to native speakers of each language. From the result of the research, it is known that Serawai-Rejang split time is between 1327 - 1138 years ago, Serawai-Pasemah Language is between 455 - 347 years ago while the time of split of Rejang-Pasemah language is between 1402 - 1188 years ago. This shows that the three languages are still in one language because the time of separation is still ranged from 0-5 century. If you see the percentage of the word relatives we can know that the kinship language Serawai-Rejang 58%. Serawai-Pasemah 84% while Rejang-Pasemah language is 57% which means that Serawai-Rejang and Rejang- Pasemah Language is one language, while Serawai-Pasemah is Family because the percentage of the word is84% relative. Keywords: Leksikostatistik, Rejang, Serawai, Pasemah
REFLEKSI GEKOKUJO DALAM TEKS DRAMA KYOUGEN BERJUDUL “BUAKU” Eman Kusdiyana
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.348 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.19

Abstract

AbstrakDrama Kyougen berjudul Buaku menceritakan tentang konflik sosial antara golongan sosial atas (penguasa) dengan golongan sosial bawah (petani, buruh, tukang dan pedagang) yang terjadi di Jepang pada zaman Muromachi (1350—1573). Secara sosiologis yang ditekankan pada cerita Buaku ini adalah konflik sosial berupa perlawanan golongan sosial bawah terutama petani desa terhadap golongan sosial atas(Shugo Daimyo, Daikan) yang dikenal dengan istilah Gekokujo (bawahan melawan atasan). Dalam gerakan Gekokujo esensinya adalah rakyat bangkit, berpikir kritis, bersatu, dan menciptakan rasa kebersamaan diantara golongan sosial bawah khususnya petani desa untuk melawan para penguasa yang memeperlakukan golongan sosial bawah secara tidak manusiawi. Kajian ini mencoba untuk melihat sajauh mana cerita Buaku ini merefleksikan pertentangan antara golongan sosial ba wa h d enga n golongan sosial a ta s yang diwujud kan d alam be ntuk Gekokujo.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologis dengan metode deskriptif analitis dan hermeneutik. Pengumpulan data menggunakan metode studi kepustakaan dan terjemahanserta teknis analisis menggunakan metode wacana kritis. Hasil kajian dan pembahasan menunjukkan bahwa cerita Buaku ini sarat dengan pencerminan Gekokujo yaitu perlawanan golongan sosial bawah (petani, pelayan) terhadap golongan sosial atas (tuan atau majikan) pada zaman Muromachi.Golongan sosial bawah pada zaman Muromachi berada pada posisi masyarakat yang hidupnya mendapat tekanan dari penguasa, sehingga hidupnya penuh dengan penderitaan. Oleh sebab itu, golongan sosial bawah melakukan perlawanan terhadap penguasa yang dikenal dengan Gekokujo. Perlawanan yang dilakukan berdasarkan azas keadilan dan kemanusiaan yang mengedepankan bahwa manusia dalam kehidupannya harus adil, bijaksana serta menjunjung perikamunisaan. Kata kunci: Kyougen, Buaku, konflik sosial, Gekokujo  AbstractDrama of Kyougen entitled “Buaku” tells about a social conflict between the high-social class (authority) and the low-social class (peasants, laborers, craftsmen, and traders) happened in Japan in the era of Muromachi (1350-1573). Sociologically, Buaku tells about a social conflict, namely an opposition between the low-social class, especially village peasants against the high-social class (Shugo Daimyo, Daikan) known as Gekokujo rebellion (superiors against inferiors). The essence of Gekokujo was that the people arose, critical, united to achieve the sense of togetherness among the low-social class especially viallage peasants against the high- social class who treated them inhumanely. This study tries to find out to what extent Buaku reflects the conflict between the high-social classand the low-social class realized in Gekokujo. The approach used as the grand theory in the study was the sociological approach with the analytical-descriptive method and hermeneutic. Data were collected through the library studies and translation. The technique analysis used the critical discourse. The result shows that Buaku isfull of the reflection of the opposition ofthe low-social class (peasants and employees) against the high-social class (masters or employers) in the era of Muromachi. The low-social class in the era Muromachi are in position of society that is under pressure on his life. So that his life is full of suffering. Therefore, the low-social class figting against the ruler know as Gekokujo. The resistance is based on the principle of justice and humanity. Human beings must be just and uphold humanity. Keywords: Kyougen, Buaku, social conflict, Gekokujo
INTERFERENSI STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM STRUKTUR KALIMAT BAHASA MANDARIN PADA KARANGAN NARATIF MAHASISWA SASTRA CINA USU Fiqhi Nahdhiah Makhmud; Rudiansyah Rudiansyah
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.8 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.15

Abstract

AbstrakInterferensi dikenal sebagai suatu penyebab dalam kesulitan belajar dan kesalahan dalam proses pembelajaran bahasa kedua. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan interferensi terhadap struktur kalimat bahasa Mandarin yang ditulis oleh mahasiswa semester VI stambuk 2013 Program Studi Sastra Cina, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Sumber data yang digunakan adalah karangan narasi bertemakan berlibur (eGP [fàngjià]) oleh mahasiswa semester VI stambuk2013 Program Studi Sastra Cina, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (USU) yang berbahasa ibu bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Pada tahap analisis data penelitian ini menggunakan metode Agih Sudaryanto. Adapun teori yang digunakan dalam menganalis interferensi struktur kalimat pada penelitian ini adalah hipotesis analisis kontrastif. Hipotesis analisis kontrastif merupakan penjabaran dari perbedaan antara dua bahasa yang menjadi dasar penyebab kesulitan belajar bahasa dan kesalahan berbahasa yang dihadapi oleh pelajar. Perbedaan yang terjadi diidentifikasi dari perbandingan struktur antara dua bahasa, bahasa pertama dan kedua yang dipelajari pelajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: interferensi terjadi pada penempatan posisi fungsi sintaksis pada kalimat bahasa Mandarin yang mengikuti struktur kalimat tunggal dan kalimat majemuk bahasa Indonesia, terdapat pada fungsi sintaksis keterangan (K), tataran posisi predikat (P), dan subjek (S) yang mengikuti struktur pola kalimat bahasa Indonesia, serta pada struktur pola atau penempatan klausa dan kata penghubung. Kata kunci: interferensi, bahasa Indonesia-Mandarin, struktur kalimat  AbstractInterference is known as a cause of learning difficulty and mistakes in learning second language. The purpose of this research is to describe the interference of Indonesian sentence structure on the chinese structure in narrative writing by the sixth semester students of the Chinese Department, Faculty of Cultural Sciences, The University of Sumatera Utara. The source data of this research was narrative writing by the sixth semester students of the Chinese Department, Faculty of Cultural Sciences, The University of Sumatera Utara (USU) that using Indonesian as their mother language. The theme of that narrative writing was holiday(eGP) [fàngjià]. This research was a descriptive qualitative method. The Sudaryanto’s Agih method is used to analyze data. This research used Hypothesis of Contrastive Analysis. The Hypothesis of Contrastive Analysis was the description of differences between two languages which become a platform of difficulty and mistakes in language learning which is felt by students. The differencees that exist were identified from the comparison of two languages’ structures, the first and second languages. The result of research is: the interference of Indonesian sentence structure on the chinese structure narrative writing occurs on syntax function of chinese sentence, that used Indonesian sentence structure in simple sentence and also complex sentence. The interferences in the form of syntax function were at: complement, predicate and subject that used Indonesian sentence structure, and the using of Indonesian structure on clause and conjunction placement. Keywords: interference, Indonesian-Mandarin language, sentence structure
FUNGSI ORENG DALAM BAHASA LAMAHOLOT DI IMULOLONG KABUPATEN LEMBATA NUSA TENGGARA TIMUR Alexander Bala Gawen
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.559 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.11

Abstract

AbstrakMasalah penelitian ini adalah menemukan dan mendeskripsikan fungsi oreng dalam bahasa Lamaholot di Imulolong Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Inti penelitiannya yaitu pada aspek untuk apa bertutur atau untuk apa berbahasa. Dengan demikian, teori yang digunakan adalah teori pragmatik. Berdasarkan teori pragmatik sejumlah data yang dikumpulkan akan dianalisis dengan mempertimbangkan konteks terjadinya tuturan tersebut. Untuk mendapatkan data tentang fungsi oreng, peneliti menggunakan metode naturalistik di mana sampelnya dipilih secara purposif. Penelitian naturalistik menekankan pada kealamiahan sumber data dengan mengandalkan seluruh gejala sosial kemasyarakatan sebagai sumber penghimpunan data, sehingga membutuhkan pengamatan berperan serta (participant observation). Selain itu, peneliti menggunakan teknik rekam dan melakukan penyimakan berpartisipasi melalui metode simak libat cakap. Pengumpulan data juga dengan menyandingkan pendekatan emik dan etik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi oreng berkenaan dengan empat fungsi pragmatik, yakni (1) fungsi direktif, (2) fungsi ekspresif, (3) fungsi estetik, dan (4) fungsi komunikatif. Fungsi direktif meliputi fungsi memerintah, melarang, permintaan, menasihati, dan presilaan. Fungsi ekspresif meliputi fungsi harapan, kesetiaan atau loyalitas. Fungsi estetik meliputi fungsi simile, repetisi, sinekdoki, dan personifikasi. Fungsi komunikatif meliputi fungsi informatif. Kata kunci: bahasa daerah, fungsi bahasa, oreng;  AbstractThe aim of the research is to find and describe the function of oreng in Lamaholot language in Lembata Regency, East Nusa Tenggara. The research focused on what aspectsor for what the language was uttered. Thereby, the theory used was pragmatic theory that a number of collected data were analyzed by considering the context of having utterances. To obtain the data referring to the function of oreg, the researcher employed naturalistic method that the sampels were taken purposively. Naturalistic research emphasizes on the originality of data sources by setting out all social phenomena as sources of collecting data and requiring participant observation. In addition, the researcher used recording technique and conducte participation through involved conversation observation method. Emic and ethical approaches were administered to collect the data. The results show that orenghas four pragmatic functions, such as (1) directive, (2) expressive, (3) aesthetic, and (4) communicative functions. Directive function is to instruct, prohibit, request, advise, and permit. Expressive function deals with hope and loyalty. Aesthetic function belongs to smile, repetition, synecdoche, and personification. Communicative function is to give information. Keywords: locality language, linguistic function, oreng;

Page 1 of 1 | Total Record : 9