Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

FUNGSI ORENG DALAM BAHASA LAMAHOLOT DI IMULOLONG KABUPATEN LEMBATA NUSA TENGGARA TIMUR Alexander Bala Gawen
GENTA BAHTERA: Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 3, No 2 (2017): Desember
Publisher : Kantor Bahasa Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.559 KB) | DOI: 10.47269/gb.v3i2.11

Abstract

AbstrakMasalah penelitian ini adalah menemukan dan mendeskripsikan fungsi oreng dalam bahasa Lamaholot di Imulolong Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Inti penelitiannya yaitu pada aspek untuk apa bertutur atau untuk apa berbahasa. Dengan demikian, teori yang digunakan adalah teori pragmatik. Berdasarkan teori pragmatik sejumlah data yang dikumpulkan akan dianalisis dengan mempertimbangkan konteks terjadinya tuturan tersebut. Untuk mendapatkan data tentang fungsi oreng, peneliti menggunakan metode naturalistik di mana sampelnya dipilih secara purposif. Penelitian naturalistik menekankan pada kealamiahan sumber data dengan mengandalkan seluruh gejala sosial kemasyarakatan sebagai sumber penghimpunan data, sehingga membutuhkan pengamatan berperan serta (participant observation). Selain itu, peneliti menggunakan teknik rekam dan melakukan penyimakan berpartisipasi melalui metode simak libat cakap. Pengumpulan data juga dengan menyandingkan pendekatan emik dan etik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi oreng berkenaan dengan empat fungsi pragmatik, yakni (1) fungsi direktif, (2) fungsi ekspresif, (3) fungsi estetik, dan (4) fungsi komunikatif. Fungsi direktif meliputi fungsi memerintah, melarang, permintaan, menasihati, dan presilaan. Fungsi ekspresif meliputi fungsi harapan, kesetiaan atau loyalitas. Fungsi estetik meliputi fungsi simile, repetisi, sinekdoki, dan personifikasi. Fungsi komunikatif meliputi fungsi informatif. Kata kunci: bahasa daerah, fungsi bahasa, oreng;  AbstractThe aim of the research is to find and describe the function of oreng in Lamaholot language in Lembata Regency, East Nusa Tenggara. The research focused on what aspectsor for what the language was uttered. Thereby, the theory used was pragmatic theory that a number of collected data were analyzed by considering the context of having utterances. To obtain the data referring to the function of oreg, the researcher employed naturalistic method that the sampels were taken purposively. Naturalistic research emphasizes on the originality of data sources by setting out all social phenomena as sources of collecting data and requiring participant observation. In addition, the researcher used recording technique and conducte participation through involved conversation observation method. Emic and ethical approaches were administered to collect the data. The results show that orenghas four pragmatic functions, such as (1) directive, (2) expressive, (3) aesthetic, and (4) communicative functions. Directive function is to instruct, prohibit, request, advise, and permit. Expressive function deals with hope and loyalty. Aesthetic function belongs to smile, repetition, synecdoche, and personification. Communicative function is to give information. Keywords: locality language, linguistic function, oreng;
MANTRA BAHASA ENDE DI DESA UZUZOZA KABUPATEN ENDE Alexander Bala
SASTRANESIA: Jurnal Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8, No 1 (2020): MARET 2020
Publisher : STKIP PGRI Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.259 KB) | DOI: 10.32682/sastranesia.v8i1.1353

Abstract

The research is about the spell of Ende Language in Uzuzoza village of Ende Regency based on two main problems, that was finding and describing spell’sform and it’s function. For gathering the data, the research used was an interview and listen tomethod with see, and capable techniques. Formal technique analysis is usedas data analysis of this research. The old theory of literature is used of this research with the concideration that the spell developed in the traditional era in animism and dynamism by using oral languageas the main medium of its delivery. After the data were analysis, the result found that, the spell of Ende language in Uzuzoza village of Ende Regency is generally in the form of poetry because taxtation patters were a-a-a-a, have taxtation (rhymes), expecially intonation, that is the persuasion of vowels at the and of word in lines and the linesof that spells is contentsor messages. Lingustically, the spells using personal pronouns, expecially the use of second personal pronouns and third personal pronouns using repetation, and it consistof statement which has adverb of time, adverb of place, and indicating of prohibition. Funcionality, the spell of Ende language in Uzuzoza village of Ende Regency serves as the tribute the “highest” subject which makes them exist and as the symbol of their trus to the ancestors.
Membaca Jejak Proses Kreatif Penyair Nusa Tenggara Timur, John Dami Mukese Yohanes Sehandi; Alexander Bala
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 4 No 1 (2021)
Publisher : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.954 KB) | DOI: 10.30872/diglosia.v4i1.88

Abstract

This article explores the poet John Dami Mukese's creative process in creating his poetry. John Dami Mukese is an Indonesian poet born in Flores, a Catholic priest who wrote about 250 poems. This study uses an expressive approach, which is an approach that emphasizes the study of literary authors. The method used is the codification method, which is the observation method by tracing the colophon in each poem. Colophons are notes at the end of a text that informs the author's place, time, and name. The analysis used is a qualitative analysis by describing the poet's creative process in creating his poetic works. The study results show that the creative process of poet John Dami Mukese began at the age of 27 years, namely, in 1977. The first three years (1977-1979) were the beginning of his creative process by finding the correct pronunciation by his personality, educational background, and profession. Over the next four years (1980-1984) was the peak period of creativity and productivity of poet John Dami Mukese in creating his poetry. From 1985 until the end of 2017, it was an anticlimax in the creative process. The poems of John Dami Mukese with religious themes based on social problems show a very deep sensitivity to the social reality that is taking place in Flores society.
Teks Ritual Letu Umne Tradisi Pengerjaan Rumah pada Etnik Flores Timur Nusa Tenggara Timur Veronika Genua; Alexander Bala
EDUKATIF : JURNAL ILMU PENDIDIKAN Vol 4, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/edukatif.v4i1.2094

Abstract

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memaparkan khazanah teks ritual letu umn  pada etnik Flores Timur. Ritual letu umne merupakan ritual menutup lubang tanah yang telah digali untuk membuat rumah tempat tinggal etnik tersebut. Ritual tersebut tetap dijalankan sebagai warisan dari pada leluhur secara turun temurun dan tetap dilaksanakan hingga saat ini. Rumusan masalah yang diangkat pada tulisan ini adalah;1) bagaimanakah bentuk khazanah teks ritual adat letu umne pada etnik Flores Timur NTT; 2) bagaimanakah fungsi khazanah teks ritual adat letu umne pada etnik Flores Timur NTT; 3) bagaimanakah makna khazanah teks ritual adat letu umne pada etnik Flores Timur NTT. Tujuannya adalah untuk menemukan dan mendeskripikan bentuk, fungsi dan makna khazanah  teks ritual letu umne pada etnik Flores Timur.  Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk memaparkan teks ritual letu umne Penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat khazanah kebahasaan dalam kajian linguistik yakni bentuk morfologi yang meliputi nomina, verba, pronomina, adverbial, dan numeralia. Untuk fungsi Bahasa meliputi fungsi interpersonal dan fungsi kekerabatan, sedangkan makna yag terkandung dalam tek meliputi makna religius, perlindungan dan makna simbol seperti tuak “moke” , dan braha “kapas”
Kekerasan Verbal dalam cerpen Jagal karya Dorothea Rosa Herliany Alexander Bala
Jurnal Lazuardi Vol 4 No 1 (2021): JURNAL LAZUARDI
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53441/jl.Vol4.Iss1.55

Abstract

Verbal abuse has become a logical consequence of communication events in social interactions. This research examines verbal violence in the short story of Dorothea Rosa Herliany's Jagal. The research method used is the literature method with a qualitative descriptive approach. The theory used is the theory of verbal violence. The results of this study indicate that verbal violence in the short story Jagal by Dorothea Rosa Herliany occurs between the main character Karto and the local community in the form of phrases and sentences.
KRITIK KEPADA WAKIL RAKYAT DALAM LAGU IWAN FALS Alexander Bala
Jurnal Lazuardi Vol 3 No 3 (2020): Jurnal Lazuardi
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1517.694 KB) | DOI: 10.53441/jl.Vol3.Iss3.37

Abstract

The criticism in Iwan Fals' song aims to remind the people's representatives in parliament to sincerely and wholeheartedly fight for the welfare of the community. By avoiding conspiracy through corruption, collusion, and nepotism against community development funds. Thus, a people's representative must continue to act as a channel for people's aspirations through various policies regarding the people in parliament.
STRUKTUR INTRINSIK NOVEL LEMBATA KARYA F. RAHARDI Alexander Bala
Diglosia : Jurnal Pendidikan, Kebahasaan, dan Kesusastraan Indonesia Vol 6, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karya sastra merupakan karya universal interpretatif. Karya yang tidak membahasakan dan menyajikan sesuatu realitas secara matematis, tetapi justru memberikan ruang dan peluang yang bebas bagi para pembacanya untuk memahami dan menafsirkan apa yang tersurat pada karya sastra tersebut. Artikel ini membahas tentang potret lokalitas unsur intrinsik dalam novel Lembata, Sebuah Novel karya F. Rahardi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data diperoleh dengan teknik baca dan catat. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa novel Lembata, Sebuah Novel (a) bertemakan kemiskinan; (b) memiliki plot kausalis dan naratologi; (c) diperani oleh tokoh-tokoh cerita antara lain, Romo Pedro, Ola, Uskup, Romo Deken, Romo Alex, dan Ayah Ola; (d) memiliki setting semua daerah di Flores, pada area Keuskupan Larantuka, terutama Dekenat Lembata. Juga Jakarta dan beberapa tempat di Eropa dan Amerika; (e) memiliki amanat atau pesan kepada Gereja, LSM, dan pemerintah untuk berpihak kepada rakyat secara maksimal: merencanakan dan memulai pada apa yang sudah dipunyai rakyat; (f) sudut pandang menggunakan persona ketiga, yakni Dia dan Aku; dan (g) memiliki gaya bahasa hiperbola, retorik retisense, dan paradoks.Kata kunci: novel, Lembata, lokalitas, struktur, karya sastra Literary works are interpretive universal works. Works that do not discuss and present a mathematical reality, but instead provide free space and opportunities for the readers to understand and interpret what is written in the literary work. This article discusses the portrait of the locality of the intrinsic elements in the novel Lembata, A Novel by F. Rahardi. The research approach used is a qualitative descriptive approach. Data collection was obtained by reading and note-taking techniques. Based on the results of the analysis, it can be concluded that the novel Lembata, A Novel (a) has the theme of poverty; (b) has a causal and narratological plot; (c) the characters of the story, among others, Father Pedro, Ola, Bishop, Father Deken, Father Alex, and Ayah Ola; (d) has the setting of all areas in Flores, in the area of the Diocese of Larantuka, especially the Dean of Lembata. Also Jakarta and some places in Europe and America; (e) has a mandate or message to the Church, NGOs, and the government to side with the people to the fullest: planning and starting on what the people already have; (f) point of view using the third person, namely He and I; and (g) have hyperbole, retaliatory rhetoric, and paradoxes.Keywords: novel, Lembata, locality, structure, literary works. 
PENDAMPINGAN PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS DAN PENULISAN PUBLIKASI ILMIAH BAGI GURU DI SMA Konstantinus Denny Pareira Meke; Sofia Sa'o; Lely Suryani; Alexander Bala; Felix Welu; Marsel Nande; Maimunah Haji Daud; Melkyanus Bili Umbu Kaleka; Sayful Amrin; Stefanus Hubertus Gusti Ma; Maria Kristina Ota; Yosef Moan Banda; Josef Kusi; Bonaventura R Seto Se
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 6 (2023): martabe : jurnal pengabdian kepada masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i6.1876-1886

Abstract

Pengabdian kepada masyarakat ini memiliki tujuan untuk mengarahkan guru dan memberikan pendampingan saat guru melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan merampungkannya dalam artikel ilmiah yang terpublikasi. Metode pengabdian ini menggunakan pelatihan dengan tahapan yakni pendampingan dalam pembuatan proposal, membantu merancang kegiatan serta perangkat pembelajaran, pendampingan pelaksanaan PTK, hingga mempublikasikannya sebagai publikasi ilmiah pada jurnal nasional Ber ISSN. Hasil kegiatan pengabdian pendampingan ini menunjukkan bahwa bertambahnya wawasan dan motivasi para guru dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas serta lebih memahami tahapan-tahapan dalam proses pelaksanaan PTK. Guru juga mampu menghasilkan Karya ilmiah hasil PTK serta publikasi pada jurnal nasional ber ISSN yang dapat digunakan sebagai syarat kenaikan jabatan fungsional. Kegiatan pengabdian pendampingan pelaksanaan PTK dan penulisan publikasi ilmiah mampu menjadi motivasi untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru.
Membedah Nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Nyanyian “Oreng” pada Etnik Lamaholot di Imulolong Bala, Alexander
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 2 No. 1 (2022): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.021.04

Abstract

Bahasa daerah merupakan produk budaya guyub masyarakat yang memiliki peran vital sebagai sarana interaksi antara satu orang dengan orang lain atau satu guyub tutur dengan guyub tutur yang lain. Penelitian ini bertujuan menemukan dan menjelaskan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan dalam nyanyian rakyat “Oreng” pada etnik Lamaholot di Imulolong Lembata. Analisis hermeneutik digunakan sebagai bagian dari korpus berupa teks lisan yang telah terjadi pada masa lampau. Penelitian etnografi ini mengasumsi bahwa “Oreng” sebagai peristiwa budaya mengandung kebenaran empiris dan etik melalui berbagai leksikon yang digunakan. Penyediaan data menggunakan teknik simak dan catat. Interpretasi data dilakukan mulai dari tahap penyediaan data. Interpretasi data dilakukan secara menyeluruh dengan mengaitkan hubungan antardata yang diinterpretasi secara leksikal dan konteks kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Nilai ketuhanan yang ditemukan berupa nilai kesakralan dan keesaan Tuhan. Sedangkan, nilai kemanusiaan meliputi kesehatan, solidaritas atau kebersamaan, perjuangan, sejarah, dan nilai pendidikan.
PRAKSIS KONSERVASI ALAM PADA ETNIS LAMAHOLOT: PARADIGMA ECO-RELIGI Kenoba, Marianus Ola; Bala, Alexander
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p291-304

Abstract

The discourse of traditional ecological knowledge and nature conservation in an eco-religious perspective is an essential issue to studie. This is because collective memory determines the relationship between environment, the Creator, humans, and the surrounding ecosystem. The purpose of this study is to explore the local wisdom of the Lamaholot ethnic that are still visible. The research method used qualitative approach with critical hermeneutic data presentation. Literature study is used to obtain data. The data were analyzed using the Gadamerian hermeneutic approach. The resulst showed that most of the Lamaholot ethnic communities live from and in agricultural culture. When opening new land for the agricultral area, it is always preceded by the practice of special rites that support farming activities. The agricultural culture practiced by the Lamaholot ethnicity is not a type of exploitative culture but is a representation of symbiotic mutualism. More than, farming rituals, mythology, fables, totems, taboos and metaphors in the Lamaholot ethnic agrarian culture are part of a very rich plus genius religious ecological folklore.Diskursus mengenai pengetahuan tradisional dan konservasi alam dalam persepktif eco-religi menjadi isu yang menarik untuk diteliti. Sebab, ingatan kolektif itulah yang menentukan relasi antara alam, Sang Pencipta, manusia, dan ekosistem lingkungan di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah menggali kearifan lokal etnis Lamaholot yang masih nampak. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pemaparan data secara hermeneutis kritis. Studi pustaka digunakan untuk memperoleh data. Analisis data menggunakan pendekatan hermeneutik Gadamerian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat etnis Lamaholot hidup dari dan dalam kultur agrikultural. Saat membuka lahan baru untuk area ladang, selalu didahului dengan praktik ritus-ritus khusus yang menunjang aktivitas berladang. Kultur agrikultural yang dipraktikkan oleh etnis Lamaholot bukanlah sebuah tipe kultur eksploitatif melainkan bercorak mutualisme simbiosis. Lebih dari itu, ritual-ritual perladangan, mitologi,  fabel, totem, tabu-tabu dan metafora di dalam kultur agraris etnis Lamaholot merupakan bagian dari folklor ekologi religius yang sangat kaya plus genius.