cover
Contact Name
Jurnal Jalabahasa
Contact Email
jalabahasa.bbjt@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
emmamaemunah69@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jalabahasa: Jurnal Ilmiah Kebahasaan
ISSN : 18584969     EISSN : 26156032     DOI : -
Core Subject : Education,
JALABAHASA adalah jurnal yang menjadi media publikasi hasil-hasil penelitian bidang bahasa, penerjemahan, dan pengajaran bahasa yang bukan penelitian tindakan kelas (non-PTK). JALABAHASA terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Mei dan November. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bebestari.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA" : 9 Documents clear
HALAMAN DEPAN (PREFACE) BBJT, Jalabahasa
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.256

Abstract

PERILAKU SINTAKSIS VERBA INFLEKSIONAL BAHASA INDONESIA (SYNTACTIC CATEGORIES OF INFLECTIONAL VERBS IN INDONESIAN LANGUAGE) Wagiran, wagiran
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.44

Abstract

Pembahasan infleksi tidak dapat dilepaskan dari sintaksis karena membicarakan infleksi berarti membicarakan morfosintaksis. Penelitian perilaku sintaksis verba infleksional ini merupakan pelengkap hasil-hasil penelitian sebelumnya. Berdasarkan kajian perilaku sintaksis verba infleksional bahasa Indonesia teridentifikasi bahwa verba infleksional bahasa Indonesia memiliki perilaku sintaksis (1) dwitransitif yang memerlukan tiga nomina sebagai argumen sebagai argumen yang merealisasikan kasus agen, benefaktif, dan pengalami, (2) ekatransitif yang memerlukan dua nomina sebagai argumen untuk merealisasikan kasus agen dan objek, (3) verba tak transitif berpelengkap manasuka yang membutuhkan kehadiran nomina sebagai realisasi kasus agen dan pengalami, (4) verba taktransitif berpelengkap wajib yang juga membutuhkan dua nomina sebagai realisasi kasus agen dan pengalami, (5) verba taktransitif takberpelengkap yang membutuhkan kehadiran satu nomina sebagai realisasi kasus pengalami.ABSTRACTDiscussion on infl ection could not be separated from syntax since it is related to morphosyntactic.This research in syntactic category of infl ectional verbs is conducted as an addition to complete the previous researches. Based on the research, the syntactic category of the infl ectional verbs are identifi ed (1) ditransitive with three nouns as arguments and realization of agent case, benefactive,experiencer, (2) transitive with two nouns as arguments and realization of object and agent case,(3) arbitrary complemented intransitive verbs with nouns as the realization of agent and experience case, (4) complemented intransitive verbs also with two nouns as the realization of agent and experience case, (5) noncomplementary intransitive verbs with one noun as the realization of experiencer case.
MAKNA KULTURAL PADA ISTILAH BIDANG PERTANIAN PADI DI DESA BOJA, KABUPATEN KENDAL, JAWA TENGAH (SEBUAH TINJAUAN ETNOLINGUISTIK) (CULTURAL MEANING ON PLANTING OF RICE TERM IN BOJA, DISTRICT OF KENDAL, CENTRAL JAVA [AN ETNOLINGUISTICS STUDY]) Wahyuni, Tri
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.48

Abstract

ABSTRAK Seperti diketahui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kecenderungan corak agraris dan maritim. Sebagian besar masyarakatnya bercocok tanam dan melaut. Hal ini memungkinkan banyak istilah pertanian dan bidang-bidang lain yang berkembang di dalam masyarakat secara oral atau lisan, artinya berkembang dari mulut ke mulut secara arbriter atau manasuka. Pada perkembangannya, istilah-istilah bidang pertanian digunakan sebagai cara menyampaikan pesan moral dalam bingkai norma-norma secara tidak langsung. Tulisan ini menggunakan pendekatan etnolinguistik yang memungkinkan kontak antara penulis dan responden. Tujuannya antara lain, mendeskripsikan istilah-istilah bidang pertanian padi dan makna kultural di Desa Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Terdapat 64 istilah bidang pertanian tanaman padi. Makna kultural yang terkandung dalam istilah-istilah bidang pertanian padi adalah teladan-teladan yang harus dimiliki oleh seorang manusia yang sejatinya adalah pemimpin untuk dirinya sendiri maupun pemimpin masyarakat. Sifat-sifat terpuji dan motivasi hidup tercermin dari simbol-simbol dalam istilah-istilah tersebut. Kata kunci: Istilah-istilah bidang pertanian padi, norma, makna kultural, etnolinguistikABSTRACT As an archipelago country, Indonesia has a focus in agriculture and marine. Most of the people were planting and fishing. It makes it possible most of planting and other terms raise and exsist in the society orally. On it?s progress, the planting terms used as a manner to deliver moral message in norms border undirectly. This study used an ethnolinguistics approach which make it possible the contact between the writer and respondent. The aims were to describe the planting of rice terms and it?s cultural meaning in Boja, Kendal, Central Java. There were 64 planting of rice terms. The cultural meaning in planting of rice terms were the good manner and attitudes as a leader in the brotherhood and society. The good manner and life motivation shown from the signs of its terms. 
BEBERAPA KESALAHAN EJAAN DALAM JURNAL ILMIAH KESEHATAN OLAHRAGA MEDIKORA (SOME SPELLING ERRORS IN SPORT HEALTH SCIENTIFIC JOURNAL: MEDIKORA) Nugroho, Endro
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.47

Abstract

Penggunaan bahasa Indonesia dalam jurnal ilmiah seharusnya menggunakan ragam bahasa baku. Salah satu ciri ragam baku adalah penulisan yang sesuai dengan EYD. Dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan Olahraga Medikora masih banyak ditemukan kesalahan dalam penulisan kata dan ejaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan preskriptif. Beberapa kesalahan yang ditemukan berupa penulisan huruf kapital, huruf miring, dan penulisan tanda baca. Kesalahan penulisan tanda baca berupa tanda koma, tanda hubung, tanda titik dua. Selain itu,  ditemukan pula kesalahan yang berupa penulisan kata, yaitu kata yang ditulis serangkai atau dipisah. ABSTRACTFormal Indonesian language should be used in the writing of scientifi c journal. One way to identify the formality is by the use of the correct spelling based on PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). In the sport health scientifi c journal, there are many errors found in the writing of words and spellings. This research uses the perspective approach. Some of the errors are found in the writing of the capital letters, italic, and punctuation. The errors in the writing of punctuation are found in the writing of commas, hyphens, and colons. Errors are also found in the writing of words, especially in join and separate words. berupa penulisan kata, yaitu kata yang ditulis serangkai atau dipisah.
KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA DALAM LINGKUNGAN MULTIETNIS LANGUAGE TRAINING CENTRE (LTC) UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA (UKSW) SALATIGA Inayati, Ika
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.42

Abstract

Indonesia merupakan negara multietnis. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu yang diharapkan dapat menjembatani komunikasi dalam lingkungan multietnis tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa Indonesia di lingkungan multietnis dan menemukan serta menjelaskan pengaruh kondisi multietnis tersebut terhadap kesantunan berbahasa Indonesia. Data diperoleh dengan cara observasi menggunakan teknik simak, libat, cakap yang direkam tanpa sepengetahuan responden. Selain itu, data juga diperoleh melalui kuesioner. Hasil analisis data percakapan dan kuesioner dengan metode deskriptif-kualitatif menunjukkan bahwa responden di lingkungan LTC, UKSW telah memperhatikan unsur-unsur kesantunan berbahasa. Berdasarkan isian atau jawaban responden atas kuesioner diketahui bahwa kondisi multietnis di LTC UKSW terhadap kesantunan berbahasa tidak memberikan pengaruh negatif. AbstractIndonesia is a multiethnic country. Indonesian language is the language that unites and bridges the communication between the multiethnics. The research aims to describe the politeness of using Indonesian language and the influence of the multiethnics environment to the politeness of using Indonesian language. The data collected by observation using recorded simak, libat, cakap techniques. The respondents did not know that they were recorded. The data is also gathered from the answers of the questionnaires. Using the qualitative method, the result shows that the multiethnic respondents in LTC, UKSW have applied the politeness when using Indonesian language. Based on the questionnaires, the multiethnic in LTC UKSW does not give negative effect on politeness in using Indonesian language.  
PENYIMPANGAN PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM INTERAKSI BELAJAR-MENGAJAR BAHASA INDONESIA (THE VIOLATION OF LANGUAGE POLITENESS PRINCIPLES IN THE INTERACTION OF INDONESIAN LANGUAGE TEACHING AND LEARNING) Alika, Shintia Dwi
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.51

Abstract

Studi kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa dan penyebab penyimpangannya. Sumber data dari studi kasus ini adalah beberapa tuturan siswa dalam kelas dan guru bahasa Indonesia dalam interaksi belajar mengajar bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini adalah deskriptif kualitatif. Studi kasus ini difokuskan pada permasalahan prinsip kesantunan berbahasa di dalam kelas yang dikaji secara pragmatik. Hasilnya menunjukkan beberapa hal berikut. (1) Jenis penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa terdiri dari penyimpangan tunggal dan penyimpangan ganda. Penyimpangan tunggal meliputi penyimpangan maksim kearifan, penyimpangan maksim kedermawanan, penyimpangan maksim pujian, penyimpangan maksim kerendahhatian, penyimpangan maksim kesepakatan, dan penyimpangan maksim kesimpatian. Penyimpangan ganda meliputi penyimpangan maksim kearifan dan maksim kedermawanan, penyimpangan maksim kearifan dan maksim pujian, penyimpangan maksim kedermawanan dan maksim pujian, penyimpangan maksim pujian dan maksim kesepakatan, penyimpangan maksim kerendahhatian dan maksim simpati, penyimpangan maksim kesepakatan dan maksim simpati, penyimpangan maksim kearifan, maksim kedermawanan, dan maksim pujian, dan penyimpangan maksim pujian, maksim kerendahhatian, dan maksim kesepakatan. (2) Penyebab penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa dalam interaksi belajar mengajar bahasa Indonesia siswa di dalam kelas meliputi penyimpangan disebabkan penutur sengaja menuduh lawan tutur, sengaja berbicara tidak sesuai konteks, protektif terhadap pendapat, dorongan rasa emosi penutur, kritik secara langsung dengan kata-kata kasar, dan mengejek. ABSTRACTSchool is a formal institution that has a strategic function to educate the future generation in using Indonesian language profi ciently, correctly, and politely. However, there are many students found not applying the politeness principles eventhough the teachers have taught it in the class. Based on that background, this research is conducted to fi nd out the types of the politeness principles in the teaching and learning interaction. Source of the data is the students and the Indonesian language teacher speeches in the class. The research uses descriptive qualitative research. Focus of this research is the language politeness using the pragmatic approach. The result indicates that (1) the violation of politeness principles in the teaching and learning interaction are happened in tact,generositiy, approbation, modesty, agreement, and symphaty maxims, (2) the cause of the violation of the politeness principles in the class interaction are the speaker accused the hearer in purpose,giving no sympathy, protective to assumption, direct critics using harsh words, and mocking.
WACANA KEPEMIMPINAN: ANALISIS MAKNA KONOTASI DALAM TEKS PIDATO PERDANA PRESIDEN JOKOWI (LEADERSHIP WORK: CONSUMER MEANING ANALYSIS IN PRIMARY PROPERTY TEXT PRINCIPLE JOKOWI) Nurpadillah, Veni
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.43

Abstract

Kalimat yang mengandung makna konotasi pastinya sering kita dengar di tengah-tengah kita. Dan hal itu membuat suatu percakapan menjadi menarik. Bukan hanya didalam percakapan yang dilakukan oleh seseorang individu terhadap individu lain yang mengandung makna konotasi, tetapi didalam karya tulis seperti pidato dan teks-teks lainnya juga mengandung makna konotasi tersebut. yang sangat menarik perhatian. Salah satu Pidato pemimpin yang mempunyai keuinikan gaya bahasa adalah Jokowi. Atas dasar keunikan gaya pidato Jokowi disertai komunikasi langsung dengan rakyat (blusukan) merupakan keunggulan yang dimiliki oleh Jokowi dibanding presiden Indonesia sebelumnya. Oleh karena itu, maka peneliti tertarik untuk meneliti pidato perdana ketika Jokowi sudah resmi menjadi presiden dalam Pemilihan Umum Presiden 2014 di Indonesia tahun 2014. Penelitian in Adapun sumber data dalam penelitian ini adalah teks pidato perdana Presiden Joko Widodo. Penggalan kalimat dalam teks pidato perdana Presiden Joko Widodo merupakan salah satu data utama dalam penelitian ini. Teknik mengumpulkan data dilakukan dengan cara baca markah dan teknik tulis.i merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metodologi kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini yakni terdapat makna konotatif di dalam teks pidato perdana presiden Jokowi, terdapat dua jenis makna konotatif yakni konotasi positif dan konotasi negatif, dan terdapat 7 kata dan frasa yang bermakna konotatif di dalam teks pidato presiden Joko Widodo.ABSTRACTSentences that contain the exact connotation meaning we often hear in our midst. And it makes a conversation becomes interesting. Not just in a conversation conducted by an individual against another individual that contain connotations, but in papers such as speeches and other texts also contain such connotations. very interesting. One of the leaders who have keuinikan speech language style is Jokowi. On the basis of the uniqueness of the style of speech Jokowi accompanied by direct communication with the people (blusukan) the advantages possessed by the Indonesian president Jokowi than before. Therefore, the researchers are interested in examining the inaugural speech when Jokowi has officially become president in the 2014 Presidential Election in Indonesia in 2014. The study in The source of the data in this study is the text of the inaugural speech of President Joko Widodo. A fragment of a sentence in the text of the inaugural speech of President Joko Widodo is one of the main data in this study. Mechanical collecting data is done by reading many techniques tulis.i is a qualitative study that uses qualitative descriptive methodology. The results of this study that there is a connotative meanings in the text of the presidential inaugural speech Jokowi, there are two kinds of the connotative meanings of positive and negative connotation connotation, and there are seven words and phrases connotative meaning in the text of a speech the president Joko Widodo.
PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TUTURAN MASYARAKAT SAMIN (VIOLATION OF COOPERATION PRINCIPLES IN THE SPEECH OF SAMIN) Fatmawati, Aristia
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.50

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik dan pelanggaran prinsip kerja sama dalam tuturan masyarakat Samin yang terkenal dengan bahasanya yang unik, yaitu bahasa yang polos, lugu, dan apa adanya. Metode analisis data berupa analisis kualitatif dengan teori wacana pragmatik. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara langsung. Berdasarkan data yang diperoleh, ternyata banyak sekali pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat samin saat mereka bertutur, hal ini tidak akan menjadi hambatan, apabila mereka berbicara dengan lingkup sesama orang samin, tetapi sebaliknya justru akan menjadi masalah apabila digunakan ketika berbicara dengan orang lain diluar kelompok mereka. Pelanggaran prinsip kerja sama yaitu meliputi empat maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim pelaksanaan.AbstractThe purpose of this study was to determine the characteristics and violation of the principle of cooperation in a famous Samin speech community with a unique language, a language that is plain, simple, and straightforward. Data analysis methods such as qualitative analysis of discourse theory of pragmatics. The data collection is done by direct observation and interviews. Based on the data obtained, it was a lot of offenses committed by public samin when they speak, this would not be an obstacle, if they talk to the scope fellow samin, but instead it will be a problem if used when talking to others outside their group , Violation of the principle of cooperation that includes four maxims, that maxim of quantity, maxim of quality, maxim of relevance, and the maxim of implementation. Key word : Pragmatics, Violation of principle of cooperation, Samin speech
TINDAK TUTUR DALAM IKLAN BERBAHASA JAWA DI RADIO (THE ACTS OF SPEECH OF JAVANESE ADVERTISEMENT IN THE RADIO) Handono, Suryo
JALABAHASA Vol 13, No 1 (2017): JALABAHASA
Publisher : Balai Bahasa Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36567/jalabahasa.v13i1.52

Abstract

Iklan sebagai salah satu bentuk komunikasi memunyai peranan penting untuk memperkenalkan suatu produk kepada masyarakat. Tuturan iklan merupakan fenomena menarik untuk diteliti dari berbagai aspek pragmatik, salah satunya adalah tindak tutur. Penelitian ini mengkaji tindak tutur pada wacana iklan berbahasa Jawa di radio. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif ini memaparkan bentuk tindak tutur dan konteks tuturan dalam wacana iklan berbahasa Jawa di radio. Strategi yang digunakan adalah analisis isi. Berdasarkan analisis isi diperoleh hasil bahwa bentuk tuturan dalam wacana iklan berbahasa Jawa di radio meliputi tindak tutur representatif, direktif, ekpresif, komisif, dan deklaratif. Tindak tutur representatif digunakan dalam konteks memberi tahu, menyatakan, mengakui, melaporkan, menjelaskan, menyebutkan, dan memberikan kesaksian. Tindak tutur direktif digunakan dalam konteks menyuruh, mengajak, mengimbau, menyarankan, dan mengingatkan. Tindak tutur ekspresif digunakan sebagai evaluasi dalam konteks memuji, mengkritik, dan mengeluh. Tindak tutur komisif digunakan hanya dalam konteks memastikan. Tindak tutur deklaratif digunakan dalam konteks melarang, menegaskan, dan meyakinkan. Kata kunci: tindak tutur, konteks, iklan, bahasa Jawa, radioABSTRACTAdvertising as one form of communication has an important role to introduce a product to the community. Advertising is an interesting phenomenon to be examined from various aspects of pragmatic, one of which is the act of speech. This study examines the acts of speech on the discourse of Javanese advertisement on the radio. This descriptive qualitative research describes the form of speech acts and the context of speech in the discourse of Javanese ad on the radio. The strategy used is content analysis. Based on the content analysis, it is found that the form of speech in the Javanese language advertising discourse in the radio includes the act of representative speech, directive, expressive, commissive, and declarative. Representative speech acts are used in the context of notifying, declaring, acknowledging, reporting, explaining, mentioning, and giving testimony. The directive speech acts are used in the context of commanding, referring, appealing, suggesting, and reminding. Expressive speech acts are used as evaluation in the context of praising, criticizing, and complaining. Commissive speech acts are used only in the context of making sure. Declarative speech acts are used in the context of prohibiting, asserting, and reassuring. Keywords: speech acts, context, advertisement, Javanese, radio

Page 1 of 1 | Total Record : 9