cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 379 Documents
SLO VS INVERSE VELOCITY METHOD: A STUDY TO EXAMINE EFFECTIVE APPROACH TO PREDICT SLOPE FAILURE Maria Christine Rosaria; Rania Salsabila; Muhammad Khalif Arda; Fery Andika Cahyo; Rachmat Hamid Musa
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.94

Abstract

ABSTRACT Provided with accurate and quasi real time deformation data, there are at least 2 methods that can be utilized to predict a slope failure. Inverse velocity method, coined by Fukuzono, aims at the interception of inverse velocity line to zero value at X time axis as the prediction of slope failure. More recent method called SLO, develop by Mufundirwa, puts emphasize on interception of acceleration regression line with X velocity axis. This paper is intended first and foremost to establish well-structured comparison between the two aforementioned methods. By using the same set of displacement data that show progressive deformation trend from Slope Stability radar, both SLO Inverse Velocity method will be put into trial. Not only the accuracy of the failure prediction time, but also the comparison between the R2 attribute will be examine to reveal which method that yield better data statistically. One of the selected study case, from several which is presented on the paper, reveal that SLO method give failure prediction closer with the actual failure compared to Inverse Velocity method. The actual failure is happening at 21:59 AM January 1st 2016. SLO method generates failure prediction 10 minutes prior the actual failure, while Inverse Velocity generates failure prediction plus 68 minutes after the failure. R2 value for SLO method and Inverse Velocity method respectively are 0.710 0.630. Apart from this results comparison, a more in depth examination toward the nature of both methods delivers pro con of each method. SLO method seems more accurate but having a constraint in which if there are no previous database of maximum velocity during collapse, prediction is almost impossible to make. Inverse Velocity method could address this flaw by projecting the inverse velocity line to zero value for the very least. Further explanation about the flaw and advantages of both methods will be conveyed in more detail on the later part of this paper.   Key words: Failure Prediction, SLO, Inverse Velocity, SSR  ABSTRAK Dengan adanya pengambilan data deformasi yang akurat dan mendekati “real time”, terdapat setidaknya dua metode yang dapat digunakan untuk memprediksi longsor. Metode inverse velocity, yang dikembangkan oleh Fukuzono, adalah metode yang menggunakan perpotongan grafik inverse velocity dengan titik nol sebagai acuan atau nilai dari prediksi longsor. Metode lain yang lebih baru dibandingkan metode inverse velocity adalah metode SLO yang dikembangkan oleh Mufundirwa. Metode ini lebih ditekankan pada perpotongan antara grafik akselerasi dengan nilai kecepatan pada sumbu X. Tujuan utama dari paper ini adalah penyajian perbandingan yang terstruktur antara kedua metode tersebut. Penelitian terhadap metode SLO dan inverse velocity menggunakan data deformasi progresif yang sama dari Slope Stability Radar. Tidak hanya keakuratan prediksi waktu longsor, tetapi perbandingan nilai R2 pun akan menentukan metode yang lebih efektif secara statistik. Pada salah satu studi kasus, dari beberapa kasus yang dibahas di paper ini, menunjukkan bahwa metode SLO memberikan prediksi waktu longsor yang lebih mendekati waktu longsor yang sebenarnya jika dibandingkan dengan metode inverse velocity. Longsor yang sebenarnya terjadi pada tanggal 1 Januari 2016, pukul 21:59. Metode SLO menghasilkan prediksi longsor 10 menit lebih awal dari waktu longsor yang sebenarnya, dimana metode inverse menghasilkan prediksi longsor 68 menit setelah waktu longsor. Nilai R2 untuk metode SLO dan inverse velocity adalah 0.71 dan 0.63. Di samping perbandingan kedua hasil di atas, pemahaman lebih mendalam tentang sumber dari kedua metode tersebut memunculkan hasil plus dan minus dari masing-masing metode. Metode SLO memang terlihat lebih akurat namun metode ini membutuhkan data kecepatan maksimal saat kejadian longsor sebelumnya. Jika tidak ada, maka prediksi hampir tidak mungkin untuk dibuat. Sebaliknya, kelemahan tersebut tidak terdapat pada metode inverse velocity karena dapat diproyeksikan pada titik nol. Penjelasan lebih dalam mengenai kelebihan dan kekurangan dari kedua metode tersebut akan dibahas selanjutnya pada paper ini. Kata kunci: Prediksi longsor, SLO, Inverse velocity, SSR
PENINGKATAN KOMPETENSI KARYAWAN DAN SAFETY CULTURE MELALUI LEARNING MANAGEMENT SYSTEM “SINTESIS+” SEBAGAI KONTROL OPERASIONAL Chandra Singgih Pitoyo; Yuristian Yuristian; Cahyo Andrianto; Riza Angelia
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.110

Abstract

ABSTRAK Dengan luas konsesi sebesar 118.400 hektar dan memperkerjakan hingga lebih dari 21.694 karyawan dan mitra kerja, pengelolaan operasional dan keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan (K3L) adalah hal yang harus diperhatikan. Tantangan yang harus dihadapi PT Berau Coal adalah lokasi yang tersebar di 4 (empat) wilayah operasional terpisah: Lati, Binungan, Sambarata, dan Marine. Selain itu, karyawan juga tidak memiliki banyak waktu untuk mengakses informasi, karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja dengan minimal waktu kerja 8 (delapan) jam perhari. Dengan latar belakang berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD hingga perguruan tinggi, juga menjadi tantangan tersendiri. Disamping itu, berdasarkan data, mayoritas karyawan PT Berau Coal dan mitra kerja berada pada rentang umur 24-40 tahun yang dapat dikategorikan sebagai generasi melek teknologi. PT Berau Coal telah membangun sebuah platform pembelajaran bernama SINTESIS+ (Sistem Informasi Pelatihan dan Edukasi yang Sinergis) dan SID (Single Identity System). SINTESIS+ dan SID memiliki tujuan, antara lain (1) sebagai platform pembelajaran dan informasi terkait dengan operasional dan K3L, (2) meningkatkan kapasitas dan membangun kompetensi karyawan terkait operasional dan K3L, terutama peran pengawas sebagai posisi kunci dalam program pengawasan keselamatan, (3) meningkatkan kontrol operasional terhadap kompetensi karyawan yang terkait dengan ijin masuk, ijin kerja, lisensi, serta spesialisasi, serta (4) mengintervensi perilaku untuk mewujudkan safety culture di karyawan internal dan mitra kerja. Fitur dan konten yang dimiliki SINTESIS+ saat ini adalah online learning dengan konten pembelajaran multimedia, online testing dengan hasil yang real time, sertifikat yang otomatis muncul setelah pengguna lulus dalam online testing, webinar, berita insiden dan operasional pertambangan, repositori untuk portofolio kerja, sistem registrasi event dan pelatihan, terintegrasi dengan SID terkait perekaman data dan kontrol kompetensi karyawan dari segi operasional, baik itu ijin kerja, ijin masuk, lisensi, dan spesialisasi, serta proses yang dapat meningkatkan awareness terhadap K3L secara kontinyu. Sejak peluncurannya, SINTESIS+ telah diakses oleh lebih dari 7867 karyawan, menguji pengetahuan untuk lebih dari 1024 ujian, menyelenggarakan webinar yang diikuti oleh 330 karyawan, serta menjalankan proses yang lebih efektif dan efisien, mulai dari pendaftaran hingga evaluasi. Dampak dari segi operasional atas integrasinya dengan sistem SID adalah meningkatnya compliance level terhadap pemenuhan kompetensi karyawan menjadi sebesar 98% dan proses pemantauan menjadi lebih efisien. Dengan peningkatan tersebut, selain kompetensi karyawan yang meningkat, kontrol terhadap operasional juga menjadi semakin baik, kesadaran terhadap K3L meningkat, dan dengan harapan tingkat insiden dapat menurun. Kedepannya, untuk meningkatkan akses dan safety culture, PT Berau Coal sedang membangun platform mobile apps untuk SINTESIS+. Kata kunci: keselamatan, operasional, pelatihan, platform, teknologi, kompetensi, kontrol   ABSTRACT With 118.400 hectare of concession area and employed people for more than 21.694 employees within company and from business partners, Berau Coal needs to put more concern in managing operational and health, safety and environment (SHE). The challenges that need to be faced are location that scattered into 4 operational areas, limited time for employees to access information because most of time exploited for working, various educational background, and technology literacy. Berau Coal has been developed a learning platform, named SINTESIS+ and SID. The aims in development of those platforms are; (1) as a operational and HSE-themed learning platform, (2) to increase capacity and to build HSE and operational competencies, (3) to increase operational control for competencies related to entry permit, work permit, license, and specialization, and (4) to intervene employees’ behaviour to build safety culture. Features and contents that has been embedded in SINTESIS+ are online learning with multimedia materials, online testing with real time result, webinar, incident and mining operational news, repositories for employees’ portfolio, event and training registration, integrated with SID to record employees’ historical competency-related data, and sustainable process to increase HSE awareness. Since its launching, SINTESIS+ has been accessed by 7867 employees, tested for 1024 exams, conducted webinar that participated by 330 employees, and run more effective and efficient processes. Impacts from integration process with SID are the increase of compliance level for competencies to 98% and the increase of process control efficiency. With those increments, beside the employees’ competency and HSE awareness is increased, hoped to lower incident rate. In the future, to improve access to the platform, Berau Coal is willing to develop mobile apps for SINTESIS+. Keywords: safety, operational, training, platform, technology, competency, control
IMPLEMENTASI PERMEN ESDM NO. l7 TAHUN 20l2 SEBAGAI SOLUSI ANTARA PENGUSAHAAN MINERAL DAN PERLINDUNGAN KAWASAN KARST DI INDONESIA Aris Dwi Nugroho; Tantan Hidayat; Muhammad Wachyudi Memed
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.126

Abstract

ABSTRAKSemen  adalah  serbuk atau tepung yang terbuat  dari kapur  dan material lainnya  yang dipakai  untuk membuat beton, merekatkan batu bata ataupun membuat tembok (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008). Semen  merupakan  suatu  bahan  yang  bersifat  hidrolis,  yaitu  bahan  yang  akan  mengalami  proses pengerasan pada pencampurannya dengan air ataupun larutan asam. Bahan baku pembuatan semen antara lain : clinker/terak semen sebanyak 70% - 95% (hasil olahan pembakaran batu kapur, pasir silika, pasir besi dan tanah liat), gypsum 5% dan material tambahan lain (batu kapur, pozzolan, abu terbang dan lain- lain). Seiiring dengan peningkatan pembangunan insfrastruktur yang menjadi fokus Pemerintah saat ini, maka kebutuhan bahan baku bangunan khususnya semen mengalami peningkatan. Peningkatan kebutuhan ini membuat perusahaan semen meningkatkan produksi yang pada akhirnya juga akan mengurangi cadangan batugamping yang ada di alam. Sumber daya geologi terdiri atas sumber daya mineral, sumber daya energi, sumber daya air, dan bentang alam. Batugamping sebagai salah satu bahan baku dominan pembuatan semen merupakan sumber daya mineral dan bentang alam yang harus dilindungi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam sejak tahun 2012 telah menerbitkan aturan terkait pemanfaatan dan perlindungan Kawasan Bentang Alam Karst (Permen ESDM N0. 17 Tahun 2012). Perlindungan terhadap Kawasan Bentang Alam Karst bertujuan untuk melindungi fungsinya sebagai pengatur alami tata air dan keunikan/nilai ilmiah dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan upaya pemanfaatan sebagai bahan galian maupun bahan baku industri diatur deliniasinya, sehingga tidak menganggu zona konservasi. Diharapkan dengan keluarnya Permen ESDM N0. 17 Tahun 2012 dapat menjadi solusi bagi pemanfaatan dan perlindungan Kawasan Bentang Alam Karst di Indonesia. Kata kunci: Sumber daya geologi, Semen, Kawasan Bentang Alam Karst  ABSTRACTCement is powder made from lime and other materials used to make concrete, glue bricks or make walls (KBBI, 2008). Cement is a material that is hydraulic in nature, that is, a material which will undergo a hardening process in its mixing with water or acid solution. The raw materials for making cement include: clinker I slag of cement as much as 70% - 95% (the results of the combustion of limestone, silica sand, iron sand and clay), 5% gypsum and other additional materials (limestone, pozzolan, fly ash and etc). Along with the increase in infrastructure development which is the focus of the Government at this time, the need for building materials, especially cement, has increased. This increase in demand has made cement companies increase production, which in turn will also reduce the limestone reserves that exist in nature. Geological resources consist of mineral resources, energy resources, water resources, and landscapes.  Limestone  as  one  of  the  dominant  raw  materials  for  making  cement  is  a  mineral  and landscape resource that must be protected.The Ministry of Energy and Natural Resources since 2012 has issued regulations relating to the use and protection of Karst Landscape Areas (Permen ESDM No. 17 of 2012). Protection of the Karst Landscape Area aims to protect its function as a natural regulator of the water system and its unique I scientific value in the development of science. Meanwhile, the delineation of utilization efforts as minerals and industrial raw materials is regulated so that it does not disturb the conservation zone. Expected with the regulations (Permen  ESDM No. 17 of 2012) can be a solution for the use and protection of the Karst Landscape in Indonesia. Keywords: Geological resources, Cement, Karst Landscape Area
IMPROVEMENT PRODUKSI CRUSHER DENGAN METODE DOUBLE DUMP CRUSHER FC01 DAN FC02 PT. MIFA BERSAUDARA Ali Ali; Mohd Prieska
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.48

Abstract

ABSTRAK PT. Mifa Bersaudara sesuai dengan rencana produksi pada tahun 2018 akan melakukan coal sales sebesar 5 Juta Ton. Dengan target sales yang besar tentunya di butuhkan support yang besar dari unit-unit produksi. Maka dari itu unit operasional coal getting yang menggunakan OHT pada tahun 2017 diganti menjadi 30T class dengan jumlah yang lebih banyak. Akibat peningkatan produksi pada tahun 2018, perlu dilakukan improvement pada crusher FC01 dan FC02. Crusher FC01 dengan kapasitas produksi 750 tph dengan actual average year to date pada tahun 2017 hanya sebesar 342 tph dan FC02 dengan kapasitas produksi 450 tph dengan actual year to date hanya sebesar 350 tph. Ada beberapa parameter yang mempengarui productivity crusher FC01 dan FC02 yang tidak tercapai, yaitu feeding batubara yang masih kurang dan jarak waktu dumping antar hauler yang masih besar. Untuk meningkatkan productivity crusher FC01 dan crusher FC02 perlu dilakukan re-engineering pada area hopper agar dapat menerima feeding yang lebih besar dan perbaikan area manuver agar dapat diterapkan metode double dump. Langkah yang diambil yaitu dengan penambahan wings pada area hopper crusher FC01 dan penambahan stopper pada hopper crusher FC02 agar dapat dilakukan teknik double dump untuk meningkatkan productivity masing-masing crusher. Hasil dari project ini yaitu adanya perubahan area manuver di area dumping hopper FC01 dan FC02 yang menghabiskan biaya sebesar Rp196.215.000,00 dan terdapat perbaikan pada area hopper FC01 dengan menambahkan wings pada sisi kiri dan kanan hopper serta penambahan stopper pada area hopper FC02 yang menghabiskan biaya sebesar Rp166.140.000,00 dengan total keseluruhan biaya sebesar Rp362.355.000,00. Setelah diterapkan metode double dump pada crusher FC01 dan FC02, productivity crusher FC01 meningkat menjadi 500 tph dan FC02 meningkat menjadi 354 tph dengan total proyeksi revenue yang didapat pada akhir tahun 2018 sebesar $36,672,864. Kata kunci : crusher, double dump, productivity, cost  ABSTRACT PT. Mifa Bersaudara in 2018 planned to conduct 5 million tons of coal sales. With a large sales target, a good support from the production units is a must. Therefore, the coal getting operation that used to utilize Off High Way Trucks (OHT) in 2017 replaced those units with 30T class trucks with more units. As a result of increased production plan in 2018, improvements for the FC01 and FC02 crushers need to be done. FC01 crusher has a production capacity of 750 tph with an actual year to date in 2017 averaged in 342 tph. FC02 with a production capacity of 450 tph with an actual year to date figure averaged in 350 tph. There are several parameters that affect the productivity of the FC01 and FC02 crushers. Some of the parameters have not been achieved, such as the lack of coal feeding and long-time dumping intervals between each hauler. In order to increase the productivity of FC01 crushers and FC02 crushers it is necessary to re-engineer the hopper area so that it can receive greater feeding and improve the maneuver area to apply double dump technique. The next step was to re-engineer the hopper with the addition of wings to the FC01 crusher's hopper area and addition of stopper to the FC02 crusher's hopper so that a double dump technique can be used to increase the productivity of each crusher. The results of maneuver area improvement are the wider maneuvering dumping area in the FC01 and FC02. This stage costs Rp196.215.000,00 . The second stage which is the addition of wings on the left and right sides of the hopper and adding stopper in the FC02 hopper area costs Rp166.140.000,00 and the total of costs Rp362.355.000,00 . After the double dump method was applied to the FC01 and FC02 crushers, the FC01 crusher productivity increased to 500 tph and FC02 increased to 354 tph with a total revenue projection obtained at the end of 2018 of $36,672,864. Keyword : crusher, double dump, productivity, cost
PEMANFAATAN DRONE UNTUK MONITORING AKURASI PERENCANAAN TAMBANG BATUBARA TERBUKA Jhony Jhony; Wildan Firdaus
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.61

Abstract

ABSTRAK Pertambangan batubara di Indonesia telah mengalami pasang surut harga yang sangat fluktuatif sejak 2012. Hal tersebut berdampak langsung kepada para pelaku usaha pertambangan batubara. Oleh karena itu, efisiensi dalam proses pertambangan harus ditingkatkan termasuk dalam sisi perencanaan. Perencanaan yang baik dan akurat dapat memberikan banyak manfaat yaitu, peningkatan kualitas eksekusi dengan nilai stripping ratio yang optimum, tambang terbentuk rapi sehingga keselamatan kerja meningkat karena lereng terbentuk sesuai dengan desain serta meningkatkan utilisasi dan produktifitas alat. PT Pamapersada Nusantara merupakan salah satu kontraktor pertambangan batubara di Indonesia yang telah melakukan pengukuran akurasi perencanaan tambang sejak 2017 yang dikenal dengan nama MDA (Mine Design Accuracy). Nilai rata-rata MDA untuk proyek-proyek penambangan yang dikerjakan PAMA sejak 2017 hingga 2018 masih berkisar 91%, artinya masih ada 9% dari operasional yang diluar perencanaan baik yang berupa overcut maupun yang undercut dari desain awal. Untuk meningkatkan nilai MDA tersebut, dilakukan terobosan sistem monitoring operasional dengan bantuan drone. Bahkan drone tidak hanya dimanfaatkan untuk monitoring secara visual melalui video saja, tetapi juga digunakan sebagai alat ukur akurasi desain dalam bentuk orthophoto yang di-overlay-kan dengan desain dan cross section dari situasi hasil pemetaan menggunakan drone. Hasil video dari drone dilihat oleh pengawas tambang setiap hari dari sudut pandang yang lebih luas (helicopter view) dengan tujuan pengawas akan lebih jelas dalam menemukan deviasi dan dapat segera melakukan tindakan perbaikan. Hasil orthophoto yang di-overlay-kan dengan desain, dievaluasi secara mingguan oleh mine engineer untuk melihat posisi dan kelurusan tambang yang sedang dikerjakan apakah telah sesuai dengan desain perencanaan. Dan juga sebagai mitigasi terhadap potential problem yang akan muncul karena orthophoto dapat memberikan citra yang lebih jelas (real) dibandingkan hanya melihat kontur tambang. Sedangkan untuk cross section dari hasil situasi drone juga dapat dilakukan secara mingguan agar mine engineer dapat dengan cepat menginformasikan kepada pengawas di lapangan area mana saja yang sudah mendekati desain dan area mana yang masih harus digali. Setelah metode monitoring dan pengukuran menggunakan drone, nilai Mine Desain Accuracy meningkat menjadi 95% di semester 1 tahun 2019. Hal ini berarti pemanfaatan teknologi drone dapat membuat operasional pertambangan yang lebih efektif karena baik pengawas maupun mine engineer sama-sama dapat melihat situasi tambang dengan lebih luas dalam kondisi real. Selain efektif, drone juga dapat meningkatkan efisiensi kerja karena waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan situasi lapangan yang berupa video hingga berbentuk data situasi sangat singkat dibandingkan dengan pengambilan data dengan metode lainnya. Kata Kunci: Mine Desain Accuracy, Drone, Stripping Ratio, Orthophoto, Cross Section  ABSTRACT Coal mining in Indonesia has experienced ups and downs in prices that have fluctuated greatly since 2012. This has had a direct impact on coal mining businesses. Therefore, efficiency in the mining process must be increased including in the planning side. Good and accurate planning can provide many benefits, improving the quality of execution with an optimum stripping ratio, the mine is neatly formed so the safety is increased because the slope is formed in accordance with the design and increases the utilization and productivity of production unit. PT Pamapersada Nusantara is a coal mining contractor in Indonesia who has measured accuracy in mine planning since 2017, known as MDA (Mine Design Accuracy). The average MDA for mining projects undertaken by PAMA from 2017 to 2018 is still around 91%, meaning that there are still 9% of operations that are out of planning both in the form of overcuts and undercuts from the initial design. To increase the MDA value, a breakthrough in the operational monitoring system was carried out with the help of drones. Drones are not only used for visual monitoring via video, but are also used as a measurement of design accuracy in the form of orthophoto that is overlaid with the design and cross section of the situation using the drone mapping results. The video results of the drone are seen by the mine supervisor every day from a broader perspective (helicopter view) with the aim of the supervisor being more clear in finding deviations and can immediately take corrective action. The orthophoto results that are overlaid with the design, are evaluated weekly by the mine engineer to see the position and alignment of the mine being worked on whether it is in accordance with the design plan. And also as a mitigation of potential problems that will arise because orthophoto can provide a clearer image (real) than just seeing the contours of the mine. Cross section of the drone situation results can also be done every week so that the mine engineer can quickly inform the field supervisor which areas are close to the design and which areas still need to be excavated. After monitoring and measuring methods using drones, Mine Design Accuracy increased to 95% in semester 1 of 2019. This means that the use of drone technology can make mining operations more effective because both supervisors and mine engineers can see the mine situation more extensive in real conditions. Aside from being effective, drones can also improve work efficiency because the time needed to capture field situations in the form of video to form data is very short compared to data retrieval by other methods. Kata Kunci: Mine Desain Accuracy, Drone, Stripping Ratio, Orthophoto, Cross Section
ANALISIS PROBABILITAS KESTABILAN LERENG TAMBANG TIMAH PRIMER BLOK PEMALI, BANGKA, INDONESIA Teguh Nurhidayat; Edo Syawaludin; Muchtar Arifin; Iwan Oktariansyah
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.89

Abstract

ABSTRAK Studi geoteknik sangat penting pada tambang terbuka untuk menentukan geometri lereng dan kestabilan lereng tambang. Kestabilan lereng pada tambang terbuka sangat mempengaruhi kelangsungan produksi dan keselamatan pekerja pada tambang tersebut. Pada kasus tambang timah primer, material pembentuk lereng yang terdiri dari batuan induk berupa granit dan tanah dekomposisi dari granit. Hal ini dapat memberikan masalah dalam penentuan parameter kekuatan material dan analisis yang digunakan. Karena  parameter kekuatan yang berasal dari dekomposisi granit mempunyai variabilitas yang tinggi. Metode deterministik tidak cukup untuk memodelkan kestabilan lereng pada tambang timah primer. Sehingga dilakukan perpaduan antara penggunaan metode deterministik dan probabilistik dalam proses analisis kestabilan lereng. Pemboran geoteknik dilakukan dengan cara full coring. Parameter sifat fisik dan mekanik material lereng didapat dari hasil pengujian laboratorium. Nilai internal shear angle, unit weight dan cohesion diproses dengan simulasi Monte Carlo sebagai model variabel acak. Simulasi Monte Carlo melakukan evaluasi secara simultan dari kestabilan lereng. Simulasi juga dilakukan dengan variasi sudut lereng keseluruhan dan proses pengeringan air tanah. Hasil simulasi memperlihatkan lereng pada penampang 1 dengan sudut lereng keseluruhan sebesar 25o (pada keadaan dinamik, SF= 1.216, PF= 8.1%, RI= 1.419)  dengan proses pengeringan air tanah, penampang 2 pada sudut lereng keseluruhan 35 o(pada keadaan dinamik, SF= 1.44 , PF= 0% , RI= 3.535)  dan Penampang 3 pada sudut lereng keseluruhan 15o (pada keadaan dinamik, SF= 1.469 ,PF= 13.7%, RI= 1.079).   Kata kunci: kestabilan lereng, probabilitas, timah primer  ABSTRACT Geotechnical studies are very important in open pit mining to determine the slope geometry and stability of the mine slope. Slope stability at an open pit greatly influences the continuity of production and the safety of workers at the mine. In the case of primary tin mining, slope-forming material consisting of host rock in the form of granite and soil decomposition of granite. It can give problems in determining the strength parameters and the modeling used. Because the strength parameters derived from granite decomposition have high variability. The deterministic method is not enough to model slope stability in primary tin mines. So it is a combination of the use of deterministic and probabilistic methods in the process of modeling the slope stability. Geotechnical drilling is done by full coring. The parameters of physical and mechanical properties of slope material are obtained from laboratory test results. Internal shear angle, unit weight and cohesion values are processed by Monte Carlo simulation as a random variable model. Monte Carlo simulations carry out simultaneous evaluations of slope stability. Simulations are also carried out with overall slope angle variation and groundwater dewatering. Simulation results show that the slope at cross-section 1 at overall slope angle(OSA) 25o (under dynamic condition, SF = 1,216, PF = 8.1%, RI = 1,419) with groundwater dewatering process, cross-section 2 at with 35o(OSA) (SF = 1.44, PF = 0%, RI = 3,535) and Section 3 at 15o (SF = 1,469, PF = 13.7%, RI = 1,079). Key word: slope stability, probability, primary tin 
PENGUJIAN PROPERTIES LIMBAH TAILING KERING PADAT UNTUK PEMANFAATAN MATERIAL STABILISASI TANGGUL Rakhmad Aji Prakosa
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.105

Abstract

ABSTRAK Hasil ekstraksi ore menjadi emas pada kegiatan pengolahan emas PT.Antam Tbk. - UBPE Pongkor, menghasilkan limbah hasil olahan berupa tailing yang dibuang ke TSF dalam bentuk slurry (20%solid) kemudian diendapkan di beberapa kompartemen tampungan sebelum masuk ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Tailing yang mengendap kemudian dikeruk dengan alat berat menuju area penimbusan akhir dengan kondisi Tailing 60% solid. Semakin banyak tailing yang dihasilkan, maka semakin banyak juga upaya yang harus dilakukan untuk menyediakan tampungan tailing. Secara visual, tailing kering berbentuk seperti pasir, yang saat dalam kondisi padat memiliki daya dukung yang sangat baik untuk menahan beban diatasnya. Hal tersebut dibuktikan adanya dump truck dengan beban puluhan ton melintas diatas tailing kering padat sebagai pijakan tumpuannya tanpa mengalami failure. Dari kasus tersebut tailing kering dapat memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai material konstruksi tanggul, mengingat kemampuan daya dukungnya yang cukup baik saat dalam kondisi kering padat. Sehingga perlu dilakukan pengujian properties material tailing meliputi nilai kepadatan maksimumnya (ɣd), berat jenis (BJ), nilai sudut geser dalam (ϕ), dan nilai kohesi (c).Pengujian properties material tailing dilakukan dengan mengambil sampel terganggu (disturb) pada tailing dalam kondisi kering (±75%solid). Kemudian membuat sample remoulded dari tailing kering dan diperoleh nilai kepadatan tanah maksimumnya. Dari nilai kepadatan maksimum tersebut, dilakukan pengujian geser langsung untuk mengetahui nilai sudut geser dalam dan nilai kohesinya. Selain itu juga dilakukan uji piknometer untuk menghitung densitas tailing. Dari hasil parameter pengujian tersebut, kemudian dibandingkan dengan parameter timbunan tanah merah yang biasa digunakan sebagai material konstruksi tanggul dam dengan tujuan mensubstitusi material tanah merah dengan tailing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan maksimum tailing mencapai angka 1.65 gr/cm3, dengan kadar air optimum 15.2%, kohesi 10kPa, sudut geser internal 41o dan koefisien  permeabilitas 2.19x10-4cm/dt. Jika dibandingkan dengan properties material tanah merah yang biasa digunakan, memiliki kepadatan maksimum sebesar 1.68gr/cm3, Kohesi 11.5kPa, Sudut geser internal 29o, dan koefisien permeabilitas sebesar 7.7 x 10-6cm/dt yang berarti nilai properties material tailing dan tanah relatif tidak berbeda jauh sehingga dapat dilakukan rekayasa engineering untuk memanfaatkan material tailing sebagai material konstruksi atau sebagai material stabilitas tanggul yang ada di area TSF. Kata Kunci : Tailing, pemanfaatan limbah, material konstruksi ABSTRACT Ore extraction into gold at the gold processing activities of PT.Antam Tbk. - UBPE Pongkor, produces processed waste in the form of tailings which is discharged into TSF in the form of slurry (20% solid) and then deposited in several storage compartments before entering the WastewaterTreatment Plant (IPAL). The deposited tailings are dredged with heavy equipment to the final landfill area with the condition of the tailings 60% solid. The more tailing produced, the more effort must be made to provide tailings storage. Visually, the dry tailings are shaped like sand, when it dense conditions has a very good capacity to distributing load. This case proof by the existence of dump trucks with tens of tons of load passing over the solid dry tailings as a foothold without failure. From these cases, dry tailings can be used as material for embankment construction, given their relatively good carrying capacity when in dense dry conditions. So that it is necessary to test the material properties of the tailings including its maximum density value (ɣd), specific gravity (BJ), deep shear angle value (ϕ), and cohesion value (c). Testing the material properties of tailings is done by taking disturbed samples of the tailings in dry conditions (±75% solid). Then make a remoulded sample from dry tailings and get the maximum soil density value. From the maximum density value, then direct shear testing is performed to determine the value of the deep shear angle and its cohesion value. A pycnometer test was also conducted to calculate the tailing density. From the results of the test parameters, then compared with the parameters of the red soil heap which is commonly used as a dam construction material with the aim of substituting red soil material with tailings. The results showed that the maximum density of tailings reached 1.65 gr / cm3, with an optimum moisture content of 15.2%, cohesion of 10kPa, internal shear angle of 41o and permeability coefficient of 2.19x10-4cm / s. When compared with the properties of the commonly used red soil material, it has a maximum density of 1.68gr / cm3, Cohesion of 11.5kPa, an internal shear angle of 29o, and a permeability coefficient of 7.7 x 10-6cm / second which means the value of the material properties of the tailings and the soil is relatively not differ greatly so that engineering design can be carried out to utilize tailings as construction material or as a dike stability material in the TSF area. Keywords : Tailing, Tailing Utilization, Construction Material
STUDI DISTRIBUSI MINERAL IKUTAN TIMAH (MIT) UNTUK MENDUKUNG METODA PENANGANAN SAMPEL PADA KEGIATAN EKSPLORASI Syafrizal Syafrizal; Andika Satria Pradana; Ichwan Azwardi; Satyogroho Dian Amertho; Mohamad Nur Heriawan; Arie Naftali Hawu Hede
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.121

Abstract

ABSTRAK PT. Timah Tbk merupakan perusahaan yang memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) logam timah yang berencana menjadikan komoditas logam tanah jarang sebagai by-product dari ekstraksi logam timah sebagai komoditas utama. Telah diteliti bahwa Mineral Ikutan Timah (MIT) pembawa Rare Earth Elements (REEs) yang jumlahnya cukup dominan pada setiap sampel pemboran yang sudah dilakukan PT Timah Tbk diantaranya adalah ilmenite, rutile, zircon, monazite, xenotime, dan anatase. Eksplorasi terhadap logam timah terus dilakukan oleh PT Timah Tbk. Namun, eksplorasi khusus untuk setiap Mineral Ikutan Timah (MIT) pembawa Rare Earth Elements (REEs) hanya sebatas pada dokumentasi kadar mineral-mineral pembawa REEs pada sampel pemboran saja. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, peneliti bertujuan untuk melakukan studi dan analisis distribusi mineral pembawa REEs untuk mencari aspek-aspek penting yang harus diperhatikan oleh PT Timah Tbk dalam merancang SOP (Standar Operasi Prosedur) preparasi hasil sampling eksplorasi yang tepat untuk ekstraksi mineral cassiterite tanpa mengabaikan kehadiran mineral pembawa REEs yang prospek untuk ditambang. Data-data yang digunakan peneliti berasal dari sampel-sampel primer, aluvial, konsentrat, dan tailing yang ada pada setiap daerah yang kemudian dilakukan kuantifikasi kadar mineral-mineral pembawa REEs dengan metode grain counting. Tahap selanjutnya adalah rekapitulasi, pengolahan data, dan penyajian data menggunakan metode-metode statistik. Lalu, akan dilakukan pembahasan, analisis, serta penarikan kesimpulan berdasarkan hasil pengolahan data yang menjawab rumusan masalah dan tujuan dari penelitian ini. Kata kunci :   Mineral Ikutan Timah (MIT), Rare Earth Elements (REEs), Grain Counting, Standar Operasi Prosedur, Sampling Eksplorasi.  ABSTRACT PT Timah Tbk is a state-owned company that has tin metal Mining Business License or well known as Izin Usaha Pertambangan (IUP) which plans to make rare earth metal commodities as a by-product of tin metal extraction as the main commodity. Based on research,  REEs (Rare Earth Elements)-bearing minerals quite dominant in each drilling sample by PT Timah Tbk which are ilmenite, rutile, zircon, monazite, xenotime, dan anatase. Exploration of tin metal still continues by PT Timah Tbk. Nevertheless, the exploration of Rare Earth Metal (REM) is limited to the REEs-bearing minerals grade documentation in the drilling sample only. Therefore, on this occasion, writer aims to study and analyze the distribution of REEs-bearing minerals to look for important aspects that must be considered by PT Timah Tbk in designing the right SOP (Standard Operating Procedure) of exploration sample handling result for cassiterite mineral extraction without ignoring the presence of REEs-bearing minerals that are prospects to be mined. The data which used by the writer originated from primary, alluvial, concentrate, and tailing samples that exist in each region which then quantified the grade of  REEs-bearing minerals using grain counting method. The next step is recapitulation, processing data, and presenting data using statistical methods. Then, discussion, analysis, and conclusions will be conducted based on results of data processing that answer the problem formulation and the purpose of this study.  Keyword    : By-product of tin metal extraction, Rare Earth Elements (REEs), Grain Counting, Standard Operating Procedure, exploration sample handling. 
SISTEM VERTICAL DIGGING, BENCHES ATAU KOMBINASI? MANAKAH YANG DAPAT MEMBERIKAN TINGKAT KEBERHASILAN PALING TINGGI DALAM AKTIVITAS PENAMBANGAN KAPAL KERUK? Rizki Syafrullah; Gerry Giga Parulian; Gilang Gunawan
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.56

Abstract

ABSTRAK Metode penambangan dengan kapal keruk (dredging) termasuk ke dalam metode penambangan tambang terbuka aquaeous, karena mekanismenya yang mirip dengan penambangan pada tambang terbuka, hanya saja kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air dengan alat penggalian berupa ember (bucket). PT. Timah Tbk sebagai salah satu perusahaan tambang yang memiliki ratusan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi untuk komoditas timah dan sebagai satu-satunya perusahaan yang memiliki beberapa unit kapal keruk, menggunakan armadanya dalam kegiatan penambangan endapan timah alluvial lepas pantai (offshore) di perairan Pulau Bangka dan Kepulauan Riau. Terdapat tiga jenis sistem penggalian pada operasional kapal keruk, yaitu sistem vertical digging, sistem benches dan sistem kombinasi. Sistem penggalian yang digunakan  dapat mempengaruhi keberhasilan aktivitas penambangan pada kapal keruk yang dinilai berdasarkan  parameter yaitu nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) dan kemiringan lereng (slope) yang dibentuk oleh proses penggalian. Analisis sistem penggalian bertujuan untuk melihat sistem penggalian manakah yang paling tepat untuk diterapkan pada kapal keruk sesuai dengan lokasi kerjanya. Data yang digunakan dalam analisis sistem penggalian merupakan data yang diperoleh langsung selama proses penggalian Kapal Keruk 21 Singkep 1 pada lokasi kerja Bulan Mei 2019. Data tersebut terdiri dari: nilai penekanan ladder, kecepatan naik turun ladder dan kecepatan tarik kawat. Kemudian pengolahan data dilakukan sehingga didapat nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) dan kemiringan lereng (slope) yang terbentuk dari proses penggalian menggunakan ketiga sistem penggalian yang ada. Analisis data dilakukan sehingga didapat poin-poin yang berkenaan dengan  kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem penggalian. Berdasarkan perbandingan tersebut maka dapat ditentukan sistem penggalian yang paling tepat untuk diterapkan pada Kapal Keruk 21 Singkep 1 sesuai dengan lokasi kerjanya adalah sistem penggalian kombinasi yang memiliki tingkat keberhasilan aktivitas penambangan tertinggi dengan nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) ) yang dapat mancapai target senilai 592,78 m3/jam  dan kemiringan lereng (slope) akhir 45,83˚ yang sesuai dengan standar keamanan penambangan. Kata Kunci:  Kapal Keruk, Sistem Penggalian, Laju Pemindahan Tanah, Kemiringan Lereng,  ABSTRACT Mining using a dredger is an example of an aqueous open surface mining method. Due to its similarities of mining mechanism to a conventional open surface mining method, the difference being only the digging is carried out below the sea level (underwater) using a series of buckets. PT. Timah Tbk is a mining company that holds hundreds of mining concessions (Izin Usaha Pertambangan / IUP) for tin commodity and is the only company that owns several units of dredger, utilizing their fleet for mining operation of off-shore alluvial tin deposit in the waters of Bangka Island and Riau Archipelago. There are three known digging systems of dredger: vertical digging, benches and combination. These digging systems can affect the success of a dredger’s mining operation, which is assessed by following parameters: rate of material removal (Laju Pemindahan Tanah / LPT) and the inclination of slope formed by digging activities. The objective of this analysis on digging system is to find out which system should be applied depending on the dredger’s operational location. This analysis processes primary data obtained from digging activity of Kapal Keruk (dredger) 21 – Singkep 1 in May of 2019. The data consists of: ladder pressure, rate of ladder movement and pulling rate of wire. Thereafter, processing of data results in the value of rate of material removal and the slope inclination. Further analysis will disclose the benefits and also the shortcomings of each digging system. Based on acquired and processed data, the digging system that gives the highest rate of success of Kapal Keruk 21 – Singkep 1, which reflected on its rate of material removal of 592.78 m3/hour and final slope inclination of 45.83° (conform to the mining safety standard), is the combination system. Keywords: Dredger, Digging System, Rate of Material Removal, Slope Inclination
INTEGRASI RADIO FREQUENCY IDENTIFICATION (RFID) DAN HAULING TRACKING SYSTEM (HTS) DALAM OPTIMASI OPERASIONAL PENGANGKUTAN DAN PENCAMPURAN BATUBARA PT ADARO INDONESIA Arief Andarwan
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.72

Abstract

ABSTRAK Proses pengangkutan dan pencampuran batubara di PT Adaro Indonesia terbilang cukup unik, menggunakan sistem ‘blending berjalan”, proses pencampuran dilakukan dengan mengatur waktu kedatangan alat pengangkut batubara di terminal fasiltas pemrosesan batubara dan pengisian tongkang agar tiba sesuai dengan waktu yang direncanakan. Untuk menunjang proses optimasi agar menghasilkan kualitas pencampuran yang on spec dan on time dibutuhkan sistem monitoring material, method dan machine yang mumpuni. Teknologi Radio Frequency Identification (RFID) dipilih karena mampu menghasilkan komunikasi data yang cepat. Komponen utama RFID adalah alat pembaca (reader) dan alat penanda (tagger). Alat pembaca dirakit secara elektronik dan beroperasi dengan memanfaatkan sumber energi panas matahari konversi dari solar cell dan ditempatkan di setiap titik strategis di jalur pengangkutan. Alat tagger ditempatkan pada semua alat pengangkut batubara (trailer). Sistem software dan database dibuat secara lokal dan terintegrasi ke pusat database yang terhubung melalui topologi jaringan. Semua transaksi kegiatan pengangkutan mulai dari alat angkut dalam  posisi kosong, pengisian, penimbangan sampai penumpahan atau penumpukan diproses secara online dan real time. Sistem ini juga diintegrasikan dengan aplikasi tracking monitoring yang dibuat dan dikembangkan untuk pemantauan data secara real time oleh semua pihak yang terlibat dalam rantai pasok operasional pengangkutan dan pencampuran batubara.Implementasi integrasi teknologi yang disusun berdasarkan analisa kebutuhan bisnis proses ini memberikan dampak langsung dan tidak langsung. Secara biaya pengadaan dan perawatan, tools ini lebih murah dari produk pasaran yang ditawarkan. Dari segi kualitas menghasilkan peningkatan presisi pencampuran. Sisi operasional juga memberikan penghematan dari proses kerja yang efisien dengan peningkatan produktivitas alat angkut. Tindakan perbaikan yang berkelanjutan dan tepat sasaran dari aktivitas pengangkutan dan pencampuran juga dapat dilakukan karena data evaluasi yang dihasilkan dari integrasi teknologi ini valid dan dapat diandalkan. Kata Kunci : RFID, Coal Hauling, Coal Blending, Hauling Tracking System  ABSTRACT Coal hauling and mixing in PT Adaro Indonesia is fairly unique, using an “on the way mixing” system, the mixing process is operated by setting the arrival time of the coal truck at coal processing and barge loading terminal facility so that truck arrived according to planned time. In order to support the optimization process to produce optimum quality mixing that is on spec and on time, require capable monitoring system of material, method and machine. Radio Frequency Identification (RFID) technology was chosen because it is able to produce fast data communications. The main components of RFID are reader and tagger. The reader is electronically assembled and operated by using thermal energy conversion from solar cell which placed at each strategic point along hauling road. The tagger is placed on every coal truck (trailer). The software and database system is created locally and integrated into central database that connected through network topology. All transaction from hauling activity starting from the trucks at empty position, loading, passing, weighing until dumping are processed online and real time. This system also integrated with tracking monitoring application that is established and developed for real time monitoring by all parties involved in coal supply chain. The implementation of this technology integration that based on business needs analysis has direct and indirect impact. In terms of investment and maintenance costs, these tools are cheaper than commonly product offered in industrial market. From quality aspect results, it gives enhancement of mixing precision. The operational side also provides saving from efficient working process by increasing truck productivity. Continuous and accurate corrective action from coal hauling and blending operation can also be done because data evaluation that generated from this integrated technology are valid and reliable. Keyword: RFID, Coal Hauling, Coal Blending, Hauling Tracking System

Page 7 of 38 | Total Record : 379