cover
Contact Name
Moh Shidqon
Contact Email
ajidshidqon@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
ajid.shidqon@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI
ISSN : 26858908     EISSN : 26862603     DOI : -
Core Subject : Engineering,
PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI di terbitkan oleh PERHAPI dan terbit tahunan dan mempunya ISSN 2686-2603 (Online) & ISSN 2685-8908 (Cetak).
Arjuna Subject : -
Articles 379 Documents
PENGARUH SEBARAN DATA GROUND CONTROL POINT (GCP) DALAM PENGOLAHAN DATA FOTO UDARA PADA AREA IN-PIT MAPPING MENGGUNAKAN DRONE QUADCOPTER DJI PHANTOM 4 RTK BERBASIS BASE GPS METODE REAL TIME KINEMATIC (RTK) Nugraha, Ryan; Putrasakti, Sigit
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.62

Abstract

ABSTRAKTeknik pengambilan foto udara yang saat ini sedang berkembang, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV), khususnya drone merupakan salah satu teknologi yang sangat efektif dan efisien dalam melakukan kegiatan mapping (pemetaan). Kegiatan mapping menggunakan drone ini juga tidak luput dari industri pertambangan, khususnya tambang batu bara yang saat ini mulai popular menggunakan salah satu teknologi yang modern ini. Salah satu jenis UAV yang digunakan PT Arutmin Indonesia adalah drone quadcotper DJI Phantom 4 RTK yang berbasis base GPS metode Real Time Kinematic (RTK). Kegiatan mapping menggunakan drone diperlukan beberapa titik ikat atau kontrol di permukaan tanah yang disebar di area mapping yang dikenal dengan Ground Control Point (GCP). GCP berfungsi sebagai titik ikat atau kontrol di permukaan tanah. Sebaiknya GCP disebar merata di permukaan tanah area mapping yang areanya bebas dari obstacles, dan tidak mengganggu kegiatan penambangan agar hasil dari pengolahan data diharapkan menghasilkan data orthophoto dan kontur topografi yang presisi dan akurat. Kegiatan mapping yang dilakukan PT Arutmin Indonesia ini dilakukan di area in pit dump dengan sebaran enam data GCP yang disebar di ujung-ujung dan tengah batasan area mapping. GCP yang tidak di sebar merata di area mapping akan menghasilkan data orthophoto dan kontur topografi yang tidak presisi dan akurat. Ini disebabkan adanya area mapping yang tidak terikat/terkontrol oleh GCP. Area mapping yang tidak tercover GCP, dominan orthophoto yang dihasilkan tidak sesuai dengan aktual kondisi in pit dump. Orthophoto in pit dump ini, keadaan bench dump akan terlihat tidak lurus atau terpisah atau tidak menyambung karena posisi horizontal yang dihasilkan tidak presisi dan akurat. Begitu juga dengan data topografi, apabila area mapping tidak tercover GCP, akan menimbulkan variance +/- 5-10 m pada posisi horizontal (easting dan northing) dan 3-5 m pada posisi vertical (elevation). Dengan demikian data GCP yang disebar merata di area mapping merupakan salah satu parameter untuk menghasilkan data orthophoto dan kontur yang presisi dan akurat. GCP yang disebar merata di area mapping akan memberikan pengaruh terhadap ketelitian rektifikasi yang ditunjukkan melalui nilai Root Mean Square Error (RMSE) ketelitian jarak dan posisi (koordinat). Kata Kunci: GCP, mapping, in pit dump, rektifikasi   ABSTRACT The technique of taking aerial photographs is currently developing, it is undeniable that the technology of Unmanned Aerial Vehicle (UAV), especially drones, is one of the technologies that is very effective and efficient in conducting mapping activities. Mapping activities using drones are also not spared from the mining industry, especially coal mining which is currently gaining popularity using one of these modern technologies. One type of UAV used by PT Arutmin Indonesia is the DJI Phantom 4 RTK quadcotper drone based on the GPS Real Time Kinematic (RTK) method. Mapping activities using drones require a number of grounding points or controls that are spread out in a mapping area known as a Ground Control Point (GCP). GC Work as a bonding point or control at ground level. GCP should be distributed evenly on unobstructed mapping surface, and there is no mining activity so that the results of data processing are expected to produce precise and accurate orthophoto and topographic contour data. The mapping activity carried out by PT Arutmin Indonesia was carried out in an area in the pit dump with the distribution of six GCP data distributed at the edges and the mapping of the middle area. GCP that is not spread evenly in the mapping area will produce orthophoto data and topographic contours that are not precise and accurate. This represents the existence of an area mapping that is not approved / controlled by GCP. Mapping the area that is not covered by GCP, the dominant orthophoto produced is not in accordance with the actual conditions in the pit dump. Orthophoto in this pit dump, the state of the dump bench will look not straight or separate or not connect because the resulting horizontal position is not precise and accurate. Likewise with topographic data, mapping the rejected area is not covered by GCP, will cause variance +/- 5-10 m in the horizontal position (east and north) and 3-5 m vertical position (elevation). Thus GCP data distributed evenly in the mapping area is one of the parameters to produce precise and accurate orthophoto and contour data. GCP that is spread evenly in the mapping area will give effect to the accuracy of rectification studied through the value of Root Mean Square Error (RMSE) accuracy of distance and position (coordinates). Keywords: GCP, mapping, in pit dump, rectification
STUDI GEOTEKNIK PENGARUH MUKA AIR TANAH TERHADAP KESTABILAN LERENG TAMBANG BATUBARA Frans, Jioni Santo; Nurfalaq, Muhammad Hafizh
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.90

Abstract

ABSTRAK Dalam keadaan normal, suatu massa batuan memiliki kesetimbangan gaya yang bekerja. Kesetimbangan gaya yang bekerja tersebut bisa terganggu akibat terjadinya perubahan kondisi massa batuan, baik secara alamiah (erosi, patah, peningkatan muka air tanah) maupun aktivitas manusia (pengupasan, pengangkutan, penggalian, penimbunan). Respon dari perubahan tersebut, massa batuan dapat mengalami ketidakstabilan sebagai usaha untuk mencapai kondisi kesetimbangan baru. Hal ini akan memicu gerakan massa batuan akibat lereng yang tidak stabil dan terjadinya longsor. Lereng yang tidak stabil akan berdampak terhadap faktor keselamatan, ekonomi, dan sosial. Air tanah memiliki permasalahan tersendiri dalam pengelolaan tambang. Tekanan air pori (pore water pressure) dari air tanah dapat menimbulkan gaya angkat (uplift force) dan menurunkan kekuatan suatu massa batuan penyusun lereng, yang mana akan mempengaruhi kestabilan suatu lereng. Karakteristik daerah penelitian yang memiliki muka air tanah relatif dekat dengan permukaan, menyebabkan lereng berada dalam kondisi hampir jenuh. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi pengaruh muka air tanah terhadap kestabilan lereng tambang batubara di daerah penelitian. Metode penelitian yang digunakan meliputi pengumpulan data primer melalui observasi lapangan untuk mengumpulkan data-data teknis terkait dan pengumpulan data sekunder melalui studi literatur. Analisa kestabilan lereng dilakukan untuk mendapatkan rekomendasi dengan nilai Faktor Keamanan minimum 1,30. Hasil penelitian menunjukkan muka air tanah memiliki hubungan berbanding terbalik terhadap nilai Faktor Keamanan. Rekomendasi yang dihasilkan yaitu melakukan dewatering dengan menggunakan drain hole. Target penurunan muka air tanah pada dinding tambang daerah penelitian adalah RL+40 pada area sidewall dan RL+65 pada area highwall. Altenatif lain yang diajukan oleh penulis adalah dengan melandaikan sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) pada dinding tambang di daerah penelitian. Dinding tambang daerah penelitian direkomendasikan untuk dilakukan pelandaian dengan sudut lereng keseluruhan berkisar 24°. Kata kunci: kestabilan lereng, muka air tanah, longsor, dewatering, sudut lereng keseluruhan  ABSTRACT Under normal circumstances, a rock mass has an equilibrium of working forces. The equilibrium of these working forces can be disrupted due to changes in rock mass conditions, both naturally (erosion, broken, increased ground water level) and human activities (stripping, loading, excavation, backfill). In response to these changes, rock mass can have instability issue as an effort to reach new equilibrium conditions. This  condition will trigger rock mass movements and slope failure due to unstable slopes. Unstable slopes will affect the safety, economic and social factors. Groundwater has its own problems in mining activities. Pore water pressure from ground water can cause uplift force and decrease the strength of a rock mass forming a slope, which will affect the slope stability. Characteristics of the study area which has groundwater level relatively close to surface, causes the slope to be in nearly saturated condition. This research aims to study the effect of groundwater level on the stability of coal mine slopes in the study area. The research method used includes collecting primary data through field observations to collect related technical data and secondary data collection through literature studies. Slope stability analysis is carried out to obtain recommendations with a minimum Safety Factor value of 1.30. The results showed the ground water level has an inverse relationship to the value of the Safety Factor. The recommendations are dewatering using drain holes. The target of groundwater level reduction in the mine wall of the study area is RL+40 in the sidewall area and RL+65 in the highwall area. Another alternative proposed by the author is by resloping the overall slope angle of the mine wall in the study area. The mining wall of the study area is recommended for alignment with an overall slope angle of around 24 °. Keywords: slope stability, ground water level, landslides, dewatering, overall slope angle
PROJECT : PEMANFAATAN LAPISAN SOIL DIATAS RAWA UNTUK REVEGETASI DI AREA PIT WEST SITE LATI MINE OPERATION – PT. BERAU COAL Saputro, Arintoko; Nugraha, Zaki Setia; Setiawan, Ikhsan; Wibowo, Jangkung
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.106

Abstract

ABSTRAKPit West pada site Lati Mine Operation (LMO) merupakan salah satu Pit terbesar di PT. Berau Coal dengan target produksi 2019 untuk overburden removal sebesar 166.007.173 BCM dan batubara sebesar 13.475.859 MT. Dengan rencana bukaan lahan seluas 146 Ha dan rencana revegetasi seluas 235 Ha. Area rawa yang masuk di dalam rencana bukaan lahan adalah seluas 88 Ha (60% dari rencana bukaan lahan) dengan kedalaman rawa rata-rata mencapai 25 – 30 m. Besarnya luasan area rawa yang masuk dalam rencana bukaan lahan dan tingginya rencana revegetasi dengan kebutuhan soil sebesar 2.937.500 BCM menjadi latar belakang dari project ini dilakukan. Berdasarkan perhitungan potensi lapisan soil di atas rawa yang dapat dimanfaatkan adalah sebesar 2.201.860 BCM. Secara kualitas dan kesuburan tanah belum dilakukan analisis. Melihat potensi ini dibentuklah project initiative dengan tujuan memanfaatkan lapisan soil di atas rawa untuk digunakan sebagai media tanam revegetasi. Department in charge (DIC) project ini adalah short term mine planner, enviro, operation, dan pit service. Metode analisa project yang digunakan adalah problem, identification, corrective, action (PICA). Penentuan lokasi dumping menjadi faktor penting karena material lapisan soil di atas rawa yang dapat didumping hanya pada area datar dan tidak diperkenankan pada area slope disposal karena pertimbangan safety serta teknis operasional. Secara bersamaan lapisan soil di atas rawa diloading dengan teknis layering front loading untuk membentuk pad excavator. Treatment lapisan soil di atas rawa membutuhkan waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan treatment soil original karena material dalam kondisi basah. Material lapisan soil di atas rawa area pit (source) dan revegetasi (destination) dilakukan sampling dengan metode teknik sampling systematic random sampling untuk mengetahui kualitas lapisan soil di atas rawa dengan 12 parameter pengujian diantaranya PH – H2O, C-organik, N-total, P K-potential, P-tersedia, C/N organik, K-tersedia, KTK, K Na Ca Mg, % kejenuhan basa, Al H, dan % Kejenuhan Al. Secara keseluruhan sesuai hasil uji laboratorium kandungan unsur hara lapisan soil diatas rawa hampir sama baik dengan soil pada area original. Berdasarkan kajian dan rekomendasi enviro lapisan soil di atas rawa secara kandungan sifat kimia layak untuk digunakan sebagai media pertumbuhan tanaman untuk revegetasi. Melalui project ini area revegetasi yang telah dicover dengan material lapisan soil di atas rawa (November 2018-Juni 2019) sebagai bagian konservasi lingkungan adalah seluas 41,20 Ha dengan pencapaian year to date 2019 revegetasi hingga Juni adalah 100% (actual 109,11 Ha, plan 108,79 Ha). Keyword : soil, rawa, revegetasi ABSTRACTPit West on the Lati Mine Operation (LMO) site is one of the largest pits at PT. Berau Coal with a production target of 166,007,173 BCM 2019 for overburden removal and coal of 13,475,859 MT on 2019, with a planned mine area of 146 Ha and revegetation plan area of 235 Ha. The swamp area included in the land clearing plan is 88 hectares (60% of the land clearing plan) with an average swamp depth of 25-30 m. Large size of the swamp area included in the land clearing plan and soil requirements of 2,937,500 BCM for revegetation plan be the background of this project. Based on the calculation of the potential layer of soil above the swampy material that can be used for revegetation is 2,201,860 BCM. In terms of quality and soil fertility, there has not been analyzed. Based on this case, a project initiative was formed with the aim of utilizing the soil layer above the swampy material for use as revegetation plant. People in charge on this project are short term mine planner, environment, operation, and pit service section. Problem, identification, corrective, action (PICA) used as problem identification method. Determination of the dumping location becomes an important factor because the soil layer material above the swampy material can only be dumped on a flat area and not allowed in the slope disposal area due to safety considerations and operational techniques. Simultaneously the soil layer above the swampy material is loaded with special method to form an excavator pad. Treatment of the soil layer above the swampy material takes wider than the original soil treatment because the material is wet. Soil layer material above the pit area (source soil) and revegetation (destination) was carried out sampling by systematic random sampling technique to determine the quality of the soil layer above the swamp with 12 test parameters including PH - H2O, C-organic, N-total, P K-potential, P-available, organic C / N, K-available, CEC, K Na Ca Mg,% base saturation, Al H, and% Al saturation According to the results of laboratory tests the nutrient content of the soil layer above the swamp is almost as good as the soil in the original area. Based on the study and recommendations, layer of soil above the swamp the chemical properties are suitable for use as plant growth media for revegetation. Through this project the revegetation area that has been covered with soil layer material above the swamp (November 2018-June 2019) as part of environmental conservation is 41.20 Ha with the achievement of year to date 2019 revegetation until June is 100% (actual 109.11 Ha , plan 108.79 Ha) Keyword : soil, swamp, revegetation
KARAKTERISASI MINERAL IKUTAN TIMAH PADA ENDAPAN PRIMER, SEKUNDER, DAN TAILING DI BANGKA SELATAN DAN BELITUNG Syafrizal, Syafrizal; Amerthozi, Ahmad FauSatyogroho Dian; Azward, Ichwan; Indriati, Teti; Nabilla, Amrita Oza; Suharjo, Enrico Gilrandy Wahyu; Hede, Arie Naftali Hawu
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.122

Abstract

ABSTRAK Daerah Bangka Belitung termasuk dalam sabuk timah yang merupakan intrusi pluton granit. Selain merupakan pembawa logam timah, diketahui bahwa pada batuan granit juga merupakan batuan beku pembawa mineral-mineral Rare Earth Elements (REE) seperti monasit, dan xenotim. REE memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan peran penting dalam perkembangan teknologi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan kadar, mineralogi dan ukuran butir Mineral Ikutan Timah (MIT) pada endapan primer, sekunder, dan tailing di Bangka Selatan dan Belitung. Pengambilan sampel dilakukan secara acak (grab sampling) untuk sampel endapan aluvial, koluvial, tailing, serta konsentrat dan chip sampling untuk sampel endapan primer berbentuk batuan. Sampel dikeringkan menggunakan oven, kemudian direduksi menggunakan splitter hingga memperoleh volume sampel yang sesuai. Pengayakan sampel dilakukan menggunakan 5 (lima) fraksi yaitu #+48, #+65, #+100, #+150, dan #-150 untuk memperoleh keseragaman butir sampel. Metoda analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa radioaktif menggunakan scintillometer, mineral butir menggunakan metode grain counting, analisa mineragrafi dengan sayatan poles, serta analisa X-Ray Diffraction (XRD) berupa sampel bubuk. Kata kunci : Mineral Ikutan Timah,  Rare Earth Elements, Grain Counting, Monasit, Xenotim.   ABSTRACT The Bangka Belitung area is included in a tin belt which is an intrusion of granite pluton. Besides being a tin metal carrier, it is known that in granite rocks is also igneous rock carrying minerals Rare Earth Elements (REE) such as monasite, and xenotime. REE has high economic value and an important role in the development of new technologies. This study aims to determine the radioactive value, abundance of levels, mineralogy and size of associated tin minerals in primary, secondary and tailings deposits in South Bangka and Belitung. Sampling was carried out by grab sampling for alluvial, colluvial, tailing sediment samples, as well as concentrates and sampling chips for rock sediments. Sampling method by Random Sampling. The samples were dried using an oven, then reduced using a splitter to obtain the appropriate sample volume. Sifting the sample was carried out using 5 fractions namely #+48, #+65, #+100, #+150, and #-150 to obtain uniformity of sample items. Radioactive analysis using scintillometers, grain minerals using the grain counting method, mineragraphy analysis with polish incisions, and X-Ray Diffraction (XRD) analysis in the form of powder samples.  Kata kunci : Mineral Ikutan Timah,  Rare Earth Elements, Grain Counting, Monasit, Xenotim.
IMPLEMENTASI METODOLOGI PERANCANGAN PERKERASAN COAL HAULING ROAD DI STA KM 37+000 – 37+300 BERDASARKAN MANUAL DESAIN PERKERASAN JALAN 2017 MENGGUNAKAN UKURAN AGREGAT TERTENTU ST IPM, Geniusman Sidabutar; ST, Desyandi Putraldi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.57

Abstract

ABSTRAK Coal hauling road merupakan jalan utama yang dipergunakan untuk mengangkut batubara dari Pit ke Stockpile Port dengan jarak 48 Km menggunakan unit dump truck bermuatan 26 ton hingga 34 ton dengan target produksi 1.000.000 ton pertahun. Unit dump truck yang digunakan masuk ke dalam kategori truck 3 sumbu – sedang, dengan nilai faktor ekivalen beban atau Vehicle Damage Factor (VDF) sesuai dengan tabel dari Manual Perkerasan Jalan 2017. Jumlah lintas harian rata-rata (LHR) semua unit dump truck yang melintas dalam sehari mencapai 270 lintasan sehingga jumlah kumulatif beban gandar standar (CESA) dalam hal ini CESA pangkat 4 sebesar 12.86 x 106 dan CESA pangkat 5 sebesar 17.69 x 106.Secara visual dan kondisi yang ada california bearing ratio (CBR) tanah dasar coal hauling road lebih besar dari 6% maka tidak tidak diperlukan perbaikan tanah dasar. Struktur pengerasan berdasarkan ESA5 masuk ke dalam kategori Bagan Desain 3 dimana berdasarkan Bagan Desain 3, desain perkerasan jalan dilakukan dengan menggunakan pondasi agregat kelas A hingga menggunakan asphaltic concrete wearing course (AC WC). Secara aktual Bagan Desain 3 tidak dapat terpenuhi, sebagai alternatif adalah menggunakan Bagan Desain 5 dimana perkerasan jalan menggunakan 3 lapisan, yaitu lapis pondasi agregat kelas A, kelas B dan Burda (lapis penutup berupa laburan dengan ukuran 20 mm).Penerapan perkerasan jalan dengan mengunakan Bagan Desain 5, khususnya penggunaan agregat A di coal hauling road dipilih menggunakan ukuran 10 mm - 20 mm, 20 mm – 30 mm dan 30 mm – 50 mm sedangkan lapisan burda tidak digunakan. Penggunaan agregat modifikasi ini telah dilakukan di STA KM 37 dengan panjang jalan mencapai 300 meter. Tujuan dari penggunaan agregat modifikasi ini yaitu untuk menjaga traksi roda kendaraan dengan permukaan jalan, mempercepat slippery, mengurangi potensi jalan berdebu dan mengurangi perawatan jalan khususnya penggunaan unit grader. Kata kunci: Coal hauling Road, VDF, LHR, ESA, Manual Desain Perkerasan Jalan, Bagan Desain, Agregat  ABSTRACT Coal hauling road is the main road used to transport coal from the Pit to Stockpile Port with a distance of 48 Km using dump trucks capacity 26 - 34 tons with a production target of 1,000,000 tons per year. The dump truck units used fall into the 3 axes - medium truck category, with the value of the Vehicle Damage Factor (VDF) in accordance with the table from the Road Pavement Manual 2017. The average daily traffic count (LHR) of all dump truck units passing in a day reaches 270 passes so that the cumulative number of standard axle loads (CESA) in this case CESA 4 is 12.86 x 106 and CESA 5 is 17.69 x 106.Visually and the existing condition of California bearing ratio (CBR) of subgrade coal hauling road is greater than 6%, there is no need for subgrade improvement. Based on ESA5 the hardening structure will use Design Chart 3 category. Based on Design Chart 3 the pavement design is carried out using aggregate foundation class A to using asphaltic concrete wearing course (AC WC). Actually Design Chart 3 cannot be fulfilled, as an alternative is to use Design Chart 5 where the pavement uses 3 layers, namely the aggregate foundation layers of class A, class B and Burda (the covering layer is a 20 mm diameter).The application of pavement using Design Chart 5, specifically the use of aggregate A in coal hauling road is chosen using sizes 10 mm - 20 mm, 20 mm - 30 mm and 30 mm - 50 mm while the burda layer is not used. The use of this modified aggregate has been carried out at STA KM 37 with a road length of up to 300 meters. The purpose of using this modified aggregate is to maintain vehicle wheel traction with the road surface, accelerate slippery, reduce the potential for dusty roads and reduce road maintenance, especially the use of grader units. Keywords: Coal hauling Road, VDF, LHR, ESA, Road Pavement Design Manual, Design Chart, Aggregate
INVESTIGASI SEDIMEN BAWAH LAUT MENGGUNAKAN SURVEY SEISMIK REFLEKSI DANGKAL: STUDI PENGEMBANGAN LAPANGAN ENDAPAN TIMAH PLASER Pratama, Wahyu Vian; Marbun, Nomensen Ricardo
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.74

Abstract

ABSTRAK Sejak 200 tahun yang lalu timah plaser telah dieksplorasi dan diproduksi di Indonesia. Studi pengembangan lapangan pada endapan timah plaser perlu dilakukan untuk mengetahui apakah masih ada potensi keterdapatan bijih timah pada lapangan-lapangan yang sudah berproduksi. Adanya lubang bor eksplorasi yang tidak menyentuh kong dan proses penambangan yang tidak mencapai batas bawah kaksa semakin memperkuat alasan studi ini dilakukan. Daerah penelitian berada di Perairan Tempilang, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa 34 lintasan seismik 2D refleksi dangkal dan 9 lubang bor. Lintasan seismik dan data lubang bor diolah, dianalisis serta diinterpretasi menggunakan perangkat lunak, yang menghasilkan Sekuen A, Sekuen B, dan Sekuen C. Sekuen C diinterpretasikan sebagai geometri lembah purba yang terendapkan secara tidak selaras di atas kong, Sekuen B merupakan endapan sedimen yang terendapkan pada lingkungan transisi, dan Sekuen A menggambarkan batimetri dan kondisi dasar laut terkini. Mineral kasiterit (mineral pembawa bijih timah) terakumulasi pada Sekuen C dengan karakteristik material berupa kerikil, pasir kasar hingga pasir halus. Berdasarkan data lubang bor, urutan pengendapan sedimen secara vertikal menunjukkan karakter menghalus ke atas sebagai indikasi pendalaman lingkungan pengendapan. Berdasarkan hasil interpretasi seismik dan data lubang bor diketahui bahwa terdapat lembah berupa alur sungai purba pada bagian timur Blok B di daerah penelitian yang diduga masih berpotensi menghasilkan bijih timah dan belum diproduksi sampai saat ini. Alur sungai tersebut memiliki orientasi relatif baratdaya-timurlaut yang merupakan kemenerusan percabangan sungai purba utama. Ketebalan sedimen plaser di Perairan Tempilang yang berpotensi menghasilkan bijih timah berkisar antara 5-20 milidetik. Kata Kunci: timah, plaser, seismik, tempilang dan sungai purba.   ABSTRACT Since 200 years ago tin placer had been explored and produced in Indonesia. The field development studies on tin placer deposits need to be carried out to determine whether the area still have potential or not. The two reasons why this study conducted are the existence of some exploration drill hole that does not reach basement (kong) and the mining process that does not reach the bottom limit of ore (kaksa). The research area is located in Tempilang Waters, West Bangka, Bangka Islands. Data that used in this study are 34 two dimension (2D) shallow reflection seismic and 9 drill holes. Seismic lines and drill hole data were processed geophisically, analyzed and interpreted geologically. Those produce three main horizons consisting of Sequence A, Sequence B, and Sequence C. Sequence C is interpreted as ancient valley geometry, Sequence B is the sediment layer that deposited in transitional zone and Sequence A describes as bathymetry. Cassiterite mineral (tin-bearing mineral) are accumulated at Sequence C with ore characteristics consist of gravel, coarse to fine sand sediment. Furthermore, from the bore hole data it can be seen that vertical succession shows deepening upward and fining upward. Based on seismic interpretation and borehole data it has been known that there are valley in the form of ancient channel path which are potentially contain tin ore and have not been produced untill now. The channel orientation has relatively northeast-southwest which is the continuity of branching of main ancient channel. Finally, the thickness of the potentially tin placer sediment in the Tempilang Waters ranges from 5-10 milliseconds. Keywords: tin, placer, seismic, tempilang, and ancient channelABSTRAK Sejak 200 tahun yang lalu timah plaser telah dieksplorasi dan diproduksi di Indonesia. Studi pengembangan lapangan pada endapan timah plaser perlu dilakukan untuk mengetahui apakah masih ada potensi keterdapatan bijih timah pada lapangan-lapangan yang sudah berproduksi. Adanya lubang bor eksplorasi yang tidak menyentuh kong dan proses penambangan yang tidak mencapai batas bawah kaksa semakin memperkuat alasan studi ini dilakukan. Daerah penelitian berada di Perairan Tempilang, Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa 34 lintasan seismik 2D refleksi dangkal dan 9 lubang bor.Lintasan seismik dan data lubang bor diolah, dianalisis serta diinterpretasi menggunakan perangkat lunak, yang menghasilkan Sekuen A, Sekuen B, dan Sekuen C. Sekuen C diinterpretasikan sebagai geometri lembah purba yang terendapkan secara tidak selaras di atas kong, Sekuen B merupakan endapan sedimen yang terendapkan pada lingkungan transisi, dan Sekuen A menggambarkan batimetri dan kondisi dasar laut terkini. Mineral kasiterit (mineral pembawa bijih timah) terakumulasi pada Sekuen C dengan karakteristik material berupa kerikil, pasir kasar hingga pasir halus. Berdasarkan data lubang bor, urutan pengendapan sedimen secara vertikal menunjukkan karakter menghalus ke atas sebagai indikasi pendalaman lingkungan pengendapan.Berdasarkan hasil interpretasi seismik dan data lubang bor diketahui bahwa terdapat lembah berupa alur sungai purba pada bagian timur Blok B di daerah penelitian yang diduga masih berpotensi menghasilkan bijih timah dan belum diproduksi sampai saat ini. Alur sungai tersebut memiliki orientasi relatif baratdaya-timurlaut yang merupakan kemenerusan percabangan sungai purba utama. Ketebalan sedimen plaser di Perairan Tempilang yang berpotensi menghasilkan bijih timah berkisar antara 5-20 milidetik. Kata Kunci: timah, plaser, seismik, tempilang dan sungai purba.    ABSTRACT Since 200 years ago tin placer had been explored and produced in Indonesia. The field development studies on tin placer deposits need to be carried out to determine whether the area still have potential or not. The two reasons why this study conducted are the existence of some exploration drill hole that does not reach basement (kong) and the mining process that does not reach the bottom limit of ore (kaksa). The research area is located in Tempilang Waters, West Bangka, Bangka Islands. Data that used in this study are 34 two dimension (2D) shallow reflection seismic and 9 drill holes.Seismic lines and drill hole data were processed geophisically, analyzed and interpreted geologically. Those produce three main horizons consisting of Sequence A, Sequence B, and Sequence C. Sequence C is interpreted as ancient valley geometry, Sequence B is the sediment layer that deposited in transitional zone and Sequence A describes as bathymetry. Cassiterite mineral(tin-bearing mineral)are accumulated at Sequence C with ore characteristics consist of gravel, coarse to fine sand sediment. Furthermore, from the bore hole data it can be seen that vertical succession shows deepening upward and fining upward. Based on seismic interpretation and borehole data it has been known that there are valley in the form of ancient channel path which are potentially contain tin ore and have not been produced untill now. The channel orientation has relatively northeast-southwest which is the continuity of branching of main ancient channel. Finally, the thickness of the potentially tin placer sediment in the Tempilang Waters ranges from 5-10 milliseconds. Keywords: tin, placer, seismic, tempilang, and ancient channel
PENDEKATAN PENDIDIKAN VOKASI SEBAGAI SALAH SATU METODE LINK AND MATCH SUMBER DAYA MASYARAKAT LINGKAR TAMBANG DENGAN DUNIA INDUSTRI Mauldya, Rifka Singgih; Dwijaputra, Junialdi; Andrianto, Cahyo; Djali, Febriwiadi
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.85

Abstract

ABSTRAK PT Berau Coal merupakan perusahaan batubara yang terletak di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Sebagai perusahaan yang mempunyai visi menunjang perwujudan cemerlang melalui peran aktifnya sebagai pengalihragam energi yang eksponensial, PT Berau Coal komit terhadap program Corporate Social Responsibility (CSR). Dalam CSR Policy perihal Pengembangan Masyarakat, PT Berau Coal mempunyai tujuan untuk mendorong komunitas sekitar tambang untuk berperan secara aktif dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan sumberdaya manusia, penguatan pranata sosial budaya dan pengembangan sumber daya ekonomi menuju masyarakat yang berdaya sejahtera dan mandiri secara bekelanjutan. Pada tahun 2018, penyerapan tenaga lokal di Kabupaten Berau menurut data Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertans) Berau hanya 30 % dimana permohonan kerja sektor tambang masih mendominasi di masyarakat. Menurut Peraturan Daerah Kabupaten Berau nomor 8 tahun 2018 tentang Perlindungan Tenaga Kerja Lokal, pemerintah daerah memberikan aturan kepada pengusaha untuk wajib mengupayakan pengisian lowongan pekerjaan di dengan tenaga kerja lokal paling sedikit 80% sesuai dengan syarat kualifikasi yang dibutuhkan. Untuk menutupi kesenjangan tersebut, PT. Berau Coal melalui CSR-Yayasan Dharma Bakti Berau Coal memberikan pelatihan kerja (vokasional) berupa sistem pemagangan kepada pemuda lingkar tambang sebagai bentuk komitmen dan kepatuhan perusahaan terhadap regulasi daerah. Sesuai dengan pilar CSR, program vokasi memiliki tujuan untuk mengembangkan masyarakat lingkar tambang dan juga menjadi asset yang dibentuk oleh organisasi sehingga kemampuan ataupun hasil dari pendidikan vokasinya dapat diserap oleh perusahaan di area operasional PT Berau Coal. Salah satu pilot program tersebut adalah melalui Program Pendidikan Pengawas Pertambangan, dengan mengacu kepada kompetensi POP dan kompetensi teknis. Metodologi pengembangan masyarakat yang didesain oleh PT Berau Coal menggunakan pendekatan vokasional, dimana metode tersebut  menggunakan beberapa tahapan : (1) Konsep link and match diterapkan dari mulai link dengan kebutuhan industri pada saat program akan dilaksanakan dan match dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia industri dengan menyisipkan kompetensi izin kerja di operasional PT Berau Coal disesuaikan dengan kurikulum dari peserta pendidikan vokasi. (2)  Membuat dan mengadopsi skema kompetensi untuk internal sesuai dengan kebutuhan industri. (3) Pelatihan dengan komposisi 70% on-job-training dan 30% In-Class. (4) Melaksanakan sertifikasi uji kompetensi sebagai persyaratan lulus program dan bagian dari working permit. Target dari pada program tersebut adalah bagaimana peserta didik tersebut dapat siap bekerja dengan budaya organisasi yang ada di operasional PT Berau Coal sebagaimana layaknya karyawan bekerja. Dengan model pengembangan masyarakat tersebut, program dapat memberikan dampak positif secara langsung untuk organisasi, diantaranya dengan menyiapkan tenaga kerja yang siap kerja melalui talent pool. Selain itu, perusahaan juga dapat menutupi kesenjangan komposisi tenaga kerja lokal yang ada di PT. Berau Coal dengan cepat sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan. Ketiga, program tersebut memberikan dampak secara langsung terhadap blockade/isu-isu lokal mengenai serapan tenaga kerja lokal yang erat terjadi di perusahaan tambang yang dapat berdampak terhadap kegiatan operasional. Kata Kunci : Corporate social responsibility, pendidikan vokasi, pengembangan masyarakat lokal ABSTRACT PT Berau Coal is a coal company that is located at Berau Regency, East Kalimantan Province. As a company which has vision to enable a brighter future through becoming an exponential energy transformer, PT Berau Coal commits to have a Corporate Social Responsibility (CSR) programme. In CSR Policy regarding people development,  PT Berau Coal has an objective to enforce communities around mining activity to actively contribute in community empowerment through developing human resources, strengthening social and cultural institutions and developing economic resources towards a sustainable and prosperous community. According to Department of Manpower and Transmigration, local employees who work in the mining sector within Berau Regency only around 30% in 2018, where the job demand in mining sector is still dominated. Referring to Berau Regency Local Regulation no 8 year 2018 about Protection of Local Workers, it is stated that local government provides rules for employers that should fill the job occupancy with at least 80% local workers with required qualification requirements. To cover the gap ,  PT Berau Coal through  CSR-Yayasan Dharma Bakti Berau Coal is giving vocational training in the form of an apprenticeship system for fresh graduates around mining company as company’s commitment form and company’s compliance to local regulation. According to CSR’s pillar, vocational program has a vision to develop community around mining area and become a meaningful asset which is formed by organization so the result of vocational education can be absorbed by companies within PT Berau Coal operational area. One of the pilot programs is Mining Supervisor Development Program which is referring to POP competencies and technical competencies. Methodology of society development by using vocational approach is designed by PT Berau Coal. This method is using several steps (1) Link and Match concept which start to apply from link with industrial needs when the program starts and match it with competencies that are needed with industry, adding operational work permit competencies at PT Berau Coal, adjusted with curriculum from vocation education participants. (2) Creating and adopting scheme of competencies for internal in accordance with the industrial needs. (3) Training program with composition 70% on-job-training and 30% In-Class. (4) Implementing competencies test as requirement to pass the program and part of work permit. The target for this program is how program participants are ready to work with organization culture at PT Berau Coal. Through this society development model, the  program can give positive impact directly for the organization by preparing workers who are ready to work through the talent pool. In addition, the company can also covered the gap in the composition of the local workforce in PT. Berau Coal quickly according to the operational needs of the company. Lastly, this program give direct impact to blockade and local issues regarding local worker absoprtion  in mining companies that can have an impact on operational activities. Keyword: Corporate social responsibility, vocational educational, local society development 
PEMANFAATAN ABU BATUBARA SEBAGAI MATERIAL TANAH DASAR DI TAMBANG BATU HIJAU, SUMBAWA BARAT Maswahenu, Mara; Firmansyah, Firmansyah; Salsabila, Aulya
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.101

Abstract

ABSTRAK Pemanfaatan abu batubara (Fly Ash B409 dan Bottom Ash B410) yang sebelumnya dimanfaatkan oleh PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) di tambang Batu Hijau sebagai substitusi semen dalam pembuatan beton hanya menyerap 1,7% dari total abu batubara yang dihasilkan. PLTU PTAMNT dapat menghasilkan ± 1.000 ton abu batubara per bulan. Tujuan pemanfaatan abu batubara sebagai material campuran lapisan tanah dasar adalah meningkatkan penerapan prinsip 3R limbah B3 secara internal (sampai dengan 100%) dan mengurangi biaya perawatan dan perbaikan jalan dengan meningkatnya kualitas lapisan tanah dasar. Pada awal tahun 2018, PTAMNT telah memulai kajian pemanfaatan abu batubara sebagai bahan lapisan tanah dasar (road base) dan telah memperoleh izin pemanfataan abu batubara sebagai substitusi bahan baku tanah lapisan dasar (subgrade) sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.337/Menlhk/Setjen/PLB.3/5/2019   tanggal 13 Mei 2019. Beberapa pengujian telah dilakukan sesuai persyaratan yang telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 dan dalam izin pemanfaatan,  termasuk diantaranya uji Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP), Loss on Ignition (LoI), Total Oksida Logam,  uji California Bearing Ratio (CBR) laboratorium dengan berbagai komposisi pencampuran tanah dan abu batubara, serta uji aktivitas radionuklida.  Hasil uji sampel campuran abu batubara menunjukan bahwa (1) semua hasil analisis TCLP berada di bawah baku mutu pada Lampiran III dan IV PP101 Tahun 2014, (2) nilai LoI sebesar 8,4%, (3) nilai total oksida logam (penjumlahan SiO2, Al2O3, dan Fe2O3) sebesar 66,1% (kelas C menurut ASTM C618012a dan SNI 2460:2014),  (4) pencampuran tanah dengan abu batubara dapat menaikkan nilai CBR (4-18%), dan (5) aktivitas radionuklida setiap parameter kurang dari 1Bq/gram.  Dinyatakan bahwa pencampuran abu batubara pada lapisan tanah dasar (road base) secara teknis dapat memberikan peningkatan kekuatan daya dukung tanah dasar dengan menaikkan hydraulic conductivity dan menurunkan permeabilitas tanah. Pemanfaatan ini (yang mana telah mendapatkan izin sesuai peraturan perundangan yang berlaku) dapat diaplikasikan pada jalan akses di area reklamasi timbunan batuan penutup dengan ketebalan 2.00 meter atau jalan umum di area sekitar Batu Hijau dengan ketebalan 0.50 meter. Komposisi abu batubara yang dicampurkan maksimal 50% dari berat total campuran tanah dasar Keywords: Abu batubara, Limbah B3, pemanfaatan, 3R  ABSTRACT Coal ash utilization (Fly Ash B409 dan Bottom Ash B410) that has been conducted by PT Amman Mineral Nusa Tenggara (PTAMNT) in Batu Hijau Mine as cement substitute for concrete production was only be able to absorb 1.7% of the total coal ash produced. PTAMNT’s Coal Power Plant can produce ±1,000 m3 coal ash each month. The purposes of utilizing coal ash as road base material blend are to increase the principal application of hazardous waste 3R internally (up to 100%) and to reduce road maintenance and repair cost by increasing the road base quality. In the early 2018, PTAMNT has started the study to utilize coal ash as a road base material blend and acquired the permit based on The Decree of Minister of Environmental Affairs and Forestry Number SK.337/Menlhk/Setjen/PLB.3/5/2019 dated 13 May 2019. Several tests had been run according to the regulated requirements on Government Regulations Number 101 Year 2014, in which include Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) test, Loss on Ignition (LoI), Total Metal Oxide, California Bearing Ratio (CBR) laboratory test with several composition of blend between soil and coal ash, and radionuclide activity test. The result of the given test showed that (1) all TCLP analysis were below the quality standards written on Attachment III and IV PP101 Year 2014, (2) LoI value of 8.4%, (3) total metal oxide (addition of SiO2, Al2O3, dan Fe2O3) value of 66.1% (class C according to ASTM C618012a and SNI 2460:2014), (4) increased CBR value (4-18%) as a result of soil-coal ash blend, (5) radionuclide activity for each parameter is less than 1 Bq/gram. It is stated that coal ash blending on road base material can increase the strength capacity technically by increasing the hydraulic conductivity and reducing soil permeability. This utilization (which already obtained the permit pursuant to prevailing laws and regulations) can be applied on the access road of waste rock dump reclamation with 2,00 meter thickness or primary access road around Batu Hijau with 0.50 meter thickness. The maximum total composition of coal ash is 50% of the total weight of the road base. Keywords: Coal Ash, Hazardous Waste, Utilization, 3R
KAJIAN HIDROLOGI DAN SISTEM PENANGGULANGAN AIR HUJAN PADA PENAMBANGAN BIJIH NIKEL (STUDI KASUS PT. BHAKTI PERTIWI NUSANTARA DI SITE SEPO KECAMATAN WEDA UTARA KABUPATEN HALMAHERA TENGAH PROVINSI MALUKU UTARA) Karim, Razak; Azizi, Masagus Ahmad; Umar, Ruslan M; Nurany, Nurany
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.117

Abstract

ABSTRAK Hidrologi dilakukan penyelidikan dengan cara pengumpulan data untuk dianalisis terhadap data sekunder meteorologi (curah hujan, hari hujan, suhu udara, kelembaban, tata guna lahan, dan lain-lain) dari lokasi penyelidikan Pit 1 dan Pit 2 PT.Bhakti Pertiwi Nusantara. Dengan data Hidrologi merupakan informasi yang palin penting bagi dalam pengelolaan sistem penanggulangan air hujan, dikarenakan jumlah hujan dan hari hujan sangat berpengaruh terhadap sistem penambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui data hidrologi guna dalam sistem penanggulangan air hujan untuk pemanfaatan pada perancangan tambang terbuka  khususnya di kemantapan lereng tambang. Penelitian ini dilakukan dengan cara pengumpalan data sekunder seperti data sebelumnya dan tersedia data, untuk data primer dilakukan secara langsung seperti pengamatan dan pengukuran lasngsung dilapangan. Analisis yang digunakan dengan Intensitas Curah Hujan, Debit Limpasan, dimensi saluran pengalihan air limpasan untuk mendapatkan hasil intensitas curah hujan di area pit. untuk debit limpasan diperoleh dari air berasal dari catchment area  periode ulang 5 tahunan, dengan mempertimbangkan umur tambang yang diperkirakan 10 tahun. Kata kunci: Hidrologi, Curah Hujan, Debit impasan   ABSTRACT Hydrology investigations are carried out by collecting data to be analyzed for secondary meteorological data (rainfall, rainy days, air temperature, humidity, land use, etc.) from the location of the Pit 1 and Pit 2 PT.Bhakti Pertiwi Nusantara investigations. Hydrological data is the most important information for managing rainwater management systems, because the amount of rain and rainy days is very influential on the mining system. This study aims to determine the hydrological data used in the rainwater control system for utilization in the design of open mines, especially in the stability of the mine slope. This research was conducted by secondary data coagulation such as previous data and available data, for primary data conducted directly such as observations and measurements in the field directly. The analysis used is the Rainfall Intensity, Runoff Discharge, runoff channel divert dimensions to get the results of rainfall intensity in the pit area. for runoff discharge obtained from water originating from the catchment area for the 5 year return period, taking into account the estimated mine life of 10 years. Keywords: Hydrology, Rainfall, Break Even Discharge
OPTIMASI BATUBARA TIPIS (THIN COAL SEAM) DI PIT A SITE SENAKIN PT ARUTMIN INDONESIA Pratama, Yogie Reza; Kahar, Abdul; Ridwan, Arif
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2019: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36986/ptptp.v1i1.52

Abstract

ABSTRAK Konservasi cadangan batubara adalah upaya dalam rangka optimalisasi pengelolaan, pemanfaatan, dan pendataan batubara secara terukur, efisien, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Pengelolaan ini dilaksanakan dengan cara melakukan proses penambangan sesuai dengan perencanaan untuk memperoleh recovery penambangan yang optimal serta mengendalikan dilusi dan kehilangan (losses) batubara. Di dalam KEPMEN ESDM No. 1827 K/30/MM/2018 lampiran VII disebutkan bahwa cut off thickness minimum batubara adalah 30 cm. Batas minimum ini diterapkan dalam rangka mengoptimalkan recovery penambangan dan meminimalisir adanya dilusi yang diperoleh selama proses penambangan. Risiko dari penggalian batubara dengan ketebalan kecil dari 30 cm adalah semakin besarnya potensi terjadinya dilusi. Hal ini dikarenakan semakin banyak luasan permukaan batubara yang bersentuhan langsung dengan material pengotor di bagian roof dan floor dibandingkan dengan penggalian batubara. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya losses saat menggunakan alat gali yang berukuran besar. Dilusi dan losses ini akan berdampak kepada menurunnya kuantitas, kualitas dan recovery pengolahan batubara. Dalam paper ini akan dibahas mengenai upaya konservasi batubara dari PT. Arutmin Indonesia Site Senakin di Pit A dengan melakukan kajian tentang optimasi penambangan lapisan batubara tipis (thin coal seam) dengan tebal minimum 20 cm. Batas ketebalan minimum ini merupakan batas optimal dari kemampuan peralatan yang digunakan di Senakin. Karakteristik Pit A yang memiliki beberapa sisipan di dalam batubara juga menjadi faktor kunci apakah batubara tipis tersebut layak untuk ditambang. Semakin tebal material sisipan maka kadar abu akan semakin tinggi dan ini akan menjadi acuan terkait keekonomisan batubara tersebut. Secara operasional penentuan ketebalan batubara ini dilakukan oleh Geologist secara aktual di lapangan. Selanjutnya dilakukan analisa sampel batubara tersebut dan jika secara kualitas layak untuk ditambang maka akan dilanjutkan ke dalam tahap operasional penambangan dengan menggunakan alat kelas 20 ton dan 30 ton serta dengan pengawasan khusus selama proses pembersihan, pengumpulan, pemuatan sampai dengan pengangkutan. Batubara tipis tersebut kemudian diolah oleh Washplant yang ada di Senakin dengan recovery pengolahan sekitar 79,3%. Dengan optimasi ini maka akan didapatkan tambahan batubara dengan range 20 – 30 cm sekitar 1,49% dari jumlah cadangan sebelumnya. Berdasarkan hasil dari metode penambangan dan pengolahan tersebut, batubara tipis di Pit A dapat dioptimalkan dalam rangka memenuhi konservasi batubara serta meningkatkan revenue perusahaan dan pemerintah. Kata Kunci :  Batubara tipis, Recovery penambangan, Recovery pengolahan, Konservasi batubara, Kadar Abu  ABSTRACT Coal reserve conservation is an effort to optimize the management, utilization and data collection of coal in a measured, efficient, responsible and sustainable manner. This Management is applied by carrying out the mining process in accordance with the plan to obtain optimal mining recovery with controlled coal dilution and losses.According to Ministerial Decree No. 1827 K / 30 / MM / 2018 in appendix VII stated that the minimum coal cut-off thickness is 30 cm. Coal thickness minimum limit is applied in order to optimize mining recovery and minimize dilution during the mining process. The risk of coal extraction with thickness less than 30 cm has extra potency for dilution because more of coal surface area directly contact with impurity materials on the roof and floor rather than coal excavation. That condition is exacerbated by the lost when using a large digging tool. Dilution and loss will have an impact to the decline of   the quantity, quality and recovery of coal processing. This paper will discussed about coal conservation efforts from PT. Arutmin Indonesia Site Senakin at Pit A. PT. Arutmin Indonesia conducting a study on optimizing  thin coal seam mining with a minimum thickness of 20 cm. Regarding to the  coal thickness minimum limit is the optimal limit of the equipment capabilities used at Senakin. The characteristic of Pit A which has several parting material in coal is also a key factor whether the thin coal is feasible to be mined or not. Parting material thickness will be impacted to the ash content and related to the coal economical. Coal thickness is measured by geologist in the field. Furthermore, the coal sample is analyzed and if it is qualified to be mined it will be proceed to the mining operation stage using 20 tons and 30 tons grade tools also with special supervision during the cleaning, collecting loading and hauling processes. Thin coal is processed using Washplant in Senakin with processing recovery around 79.3%. This optimization method will be resulted an additional coal with a range about 20-30cm around 1.49% of the amount of reserves. The result is thin coal in Pit A can be optimized in order to achieve coal conservation and increase company and government revenue. Keywords: Thin coal, mining recovery, recovery processing, coal conservation, ash content

Page 9 of 38 | Total Record : 379