Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama UIN Imam Bonjol Padang, sebagai media informasi dan forum pembahasan kajian tentang ilmu ushuluddin yang terkait dalam empat aspek bidang keilmuan yakni, Aqidah dan Filsafat Islam, Studi Agama-Agama, Ilmu Al-quran dan Tafsir (Tafsir Hadis), Psikologi Islam. Majalah ini berisi kumpulan tulisan ringkas hasil penelitian, hipotesa, survey dan karya akademik lainnya.
Articles
8 Documents
Search results for
, issue
"Vol 20, No 2 (2017)"
:
8 Documents
clear
KEMUKJIZATAN ILMIAH DALAM AL-QUR'AN
Toni Markos
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.161
Tulisan ini berjudul “kemukjizatan Ilmiah dalam al-Qur’an” yang berusahamengungkap isyarat-isyarat ilmiah yang terdapat di dalam al-Qur’an. Dalam anggapanbeberapa kalangan al-Qur’an dan seluruh kemukjizatannya hanya berbicara dalampersoalan hidayah saja, padahal al-Qur’an itu syarat dengan berbagai isyarat-isyaratilmiah. Al-Qur’an memang bukan buku atau karangan ilmiah yang ditulis oleh Syari’,namun al-Qur’an adalah hudan linnas, bayyinat minal huda dan furqan. Namun demikiansemua itu tidaklah mengecilkan isyarat-isyarat ilmiah yang terdapat di dalamnya. Sebabsering saja ditemukan beberapa isyarat atau kajian ilmiah dalam al-Qur’an. Dalam tulisanini akan diungkapkan beberapa isyarat dalam al-Qur’an, antara lain tentang ihwal prosesreproduksi manusia, ihwal kejadilan alam semesta, pemisahan dua laut, pergerakan awanmenjadi hujan, pergerakan gunung dan lain-lain. Di sini bahwa tersirat kalau seandainyaal-Qur'an itu adalah buah karya Muhammad dan tidak berasal dari Allah SWT. Makaakan muncul pertanyaan, yaitu dari mana Ia mendapatkan informasi yang akurat tersebut.Padahal semua itu baru digali dan ditemukan oleh para ilmuwan yaitu sekitar seribu tahunsetelah Muhammad wafat. Kemudian bukankah Beliau adalah seorang Nabi yang ummiy,tidak pandai membaca dan menulis atau setidaknya tidak bagus dalam hal menulis danmembaca.
NILAI-NILAI FILOSOFIS ABS-SBK DI MINANGKABAU
Fardius, Yelmi Eri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.76
Hingga saat ini, belum ada bukti-bukti akurat yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah yang menceritakan tentang waktu, tempat dan pencetus ABS-SBK tersebut di Minangkabau. Akan tetapi secara umum, sejauh ini ada beberapa periode yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini, seperti; Surat Kabar Harian Singgalang pernah mengutip pengungkapan ahli sejarah Minangkabau yang bernama Sutan Mahmud. Menurutnya, ABS_SBK telah ada jauh sebelum Perang Paderi, tepatnya pada tahun 1640 Masehi sebagai kesepakatan Kaum Fiqih dan kaum Sufi. Kedua kelompok itu sering bertikai dan berseteru karena masalah khilafiah, dan kemudian bersepakat pada perjanjian tersebut.
BADONCEK DALAM TRADISI MASYARAKAT PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT
Widia Fitri
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.78
Salah satu kearifan lokal Minangkabau yang terus dilestarikan adalah tradisi Badoncek. Daerah yang terkenal sangat intens melestarikan tradisi Minangkabau ini yakni masyarakat Padang Pariaman. Badoncek yang berarti sikap spontan dalam pengumpulan dana secara patungan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing tanpa paksaan merupakan wujud kegotong-royongan masyarakat dalam berbagai kegiatan social. Kegotongronyongan merupkN akar budaya ketimuran. Tradisi ini tidak saja dapat meringankan dan membantu sesama tapi lebih dari itu Badoncek menggambarkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat sehingga mampu mewujudkan masyarakat mandiri dan sejahtera. Tradisi Badoncek juga sangat membantu mensukseskan program-program yang digalakkan oleh pemerintah, karena tidak semua pendanaan untuk masyarakat mampu dipenuhi oleh dana pemerintah. Melalui tradisi Badoncek masyarakat tidak terlalu bergantung pada pemerintah. Tulian ini akan menelusuri sejarah tentang kapan tradisi ini muncul di tengah masyarakat terutama masyarakat Padang Pariaman ? Dalam kegiatan social apa saja tradisi Badoncek ini dilaksanakan ? Apa makna filosofis dari tradisi Badoncek bagi masyarakat Padang Pariaman? Apakah tradisi Badoncek mampu menawarkan model pembangunan masyarakat untuk pembangunan bangsa? Penelitian ini akan menelusuri dokumen yang bercerita tentang tradisi Badoncek, kemudian melakukan observasi serta wawancarai beberapa tokoh untuk menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan diatas.
HAKIKAT MANUSIA (Tela’ah Istilah Manusia Versi Al-Qur’an dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Islam)
Eliana Siregar
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.79
Hakikat manusia yang digambarkan dengan istilah al-basyar, al-insan,bani Adam dan al-nas merupakan kausa prima yang secara fitrah sebagai potensi dasar manusia sekaligus menjadi karakter personalitas dari eksistensi manusia. Manusia sebagai kausa material terdiri atas dua substansi, yaitu (1) Substansi jasad / materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah Swt. dan dalam pertumbuhan dan perkembangannya tunduk dan mengikuti sunnatullah (aturan, ketentuan hukum Allah yang berlaku di alam semesta); (2) Substansi immateri non jasadi yaitu penghembusan / peniupan ruh (ciptaan-Nya) ke dalam diri manusia sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai hakikat kemanusiaan serta mempunyai berbagai alat potensial dan fitrah. Pendidikan Islam untuk mencapai tujuannya sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan umat Islam dalam mereinterpretasikan (menterjemahkan kembali) dan merealisasikan konsep tentang filsafat penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya di dalam alam semesta ini. Untuk menjawab hal itu, maka pendidikan Islam dijadikan sebagai sarana yang kondusif bagi proses transformasi moral, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya Islami dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
MOHAMMAD YATIM DAN IKHTIAR MEREALISASIKAN PEMIKIRAN POLITIK ISLAM
Bakhtiar bakhtiar
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.159
Peristiwa PRRI telah berdampak terhadap pergerakan Islam di Minangkabau terutama bagi Muhammadiyah karena pada saat itu diidentikan oleh komunis dan sebagian pejabat dengan Masyumi. Muhammadiyah berada dalam kevakuman dan tekanan politik. Pimpinan dan aktifisnya nyaris meninggalkannya “ijok” ke luar. Mohammad Yatim dengan tidak berlatarbelakang pergerakan politik dan ulama berupaya menyelamatkan organisasi dan asetnya dari pendudukan dan pengambilalihan oleh pihak lain, pembelaan terhadap Muhammadiyah yang disuarakan oleh komunis untuk dilarang dan dibubarkan di Sumatera Barat dan mengkonsolidasikan Muhammadiyah pada tingkat cabang dan ranting yang berada di nagari-nagari dan kampung-kampung. Ia bergerak dari kampung ke kampung guna menghidupkan kembali Muhammadiyah dan amal usahanya yang sempat ditinggalkan oleh para pimpinannya. Dalam upaya dan perjuangannya itu ia, keluarga dan pendukungnya sering mendapat tekanan dan intimidasi dari berbagai pihak, tetapi ia tidak bergeming sedikitpun untuk surut dan menghentikan langkahnya. Ini adalah upaya ia merealisasikan pemikiran politik dan keyakinannya dalam menggerakan Islam melalui Muhammadiyah
ARAB SOCIALISM IDEA OF JAMAL ‘ABD AL- NASIR
Wisyly Wahab
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.80
Many observers valued that Nasir’s socialism can’t be separated with communism and non- Islam economic theory, but Nasir together with his supporters has a principle consistently and commit to prove Arab Socialism that proclaimed has Islamic root. May be this special character that distinguishes it from the others.By the width of the area as covering of Nasir’s Arab Socialism and takes part in the need of the same Moslem ethnic, formulates social change in Egypt, and also formulates again social- culture which is being going to rise in Arab world, so the focus of this socialism directs to “ Islamism “ form.
JABR DAN IKHTIYAR DALAM PEMIKIRAN M. QURAISH SHIHAB
Joni Harnedi
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.160
Artikel ini berupaya untuk menyajikan corak pemikiran dan penafsiran M. Quraish Shihab dalam persoalan Jabr dan Ikhtiyar. Persoalan Jabr dan Ikhtiyar merupakan salah satu persoalan utama yang dibicarakan dalam Ilmu kalam. Perdebatan yang panjang terhadap Jabr dan Ikhtiyar yang pada mulanya melahirkan dua aliran yang bertentangan, yaitu Jabariyah dan Qadariyah, selanjutnya ada Muktazilah yang melanjutkan dan megembangkan faham Qadariyah serta al-Asy’ariyah sebagai penengah antara fahaman Jabariyah dengan fahaman Muktazilah. Perberbedaan dan pertentangan dalam memahami beberapa isu dalam Ilmu Kalam karena berlainan kaedah atau manhaj mereka memahami matan Hadith dan al-Quran yang berhubungan dengan isu-isu yang mereka tidak mempunyai kata sepakat. Dalam hal inilah Shihab sebagai ulama Tafsir dilihat dalam tulisan ini. Sebagai ulama tafsir tentunya penafsirannya terhadap ayat-ayat al-Quran punya kecenderungan atau corak penafsiran.
MERETAS JALAN PEMBEBASAN (Telaah atas Konsep Khudi menurut Sir Muhammad Iqbal)
Yayah Nurmaliyah
Majalah Ilmu Pengetahuan dan Pemikiran Keagamaan Tajdid Vol 20, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15548/tajdid.v20i2.81
Peradaban dunia dalam catatan sejarah pernah menempatkan umat Islam di posisi terdepan dalam peradaban manusia. Belakangan sebuah kenyataan juga tidak terbantahkan ketika umat Islam harus mengakui keunggulan komunitas lain dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai upaya mengembalikan kejayaan masa lalu, Muhammad Iqbal menyeru umat Islam untuk tidak terbuai dengan kegemilangan atau romantika masa lalu dan melarang untuk taqlid buta pada pemikiran masa lalu yang mengakibatkan hilangnya kreasi dan inovasi dalam menghadapi realitas perkembangan zaman. Muhammad Iqbal juga menyeru umat Islam untuk tidak bersikap apriori terhadap Barat, sebaliknya dapat memanfaatkannya dan meresponsnya dengan kritis. Hal ini disebabkan Muhammad Iqbal cukup lama mengikuti pendidikan di Barat yang dipenuhi oleh semangat penelaahan dan penelitian ilmu pengetahuan yang tinggi, sehingga ia dengan jelas melihat dan merasakan langsung bergantinya aktifitas ilmiyah dari Timur ke Barat. Hal ini cukup membuatnya kagum dan menginginkan umat Islam untuk mengikuti semangat Barat dalam melakukan kajian-kajian ilmiyah yang notebene pernah dilakukan sebelumnya. Kendatipun demikian, Muhammad Iqbal juga menyadari bahwa faktor tersebut tidak akan bermanfaat apa-apa apabila umat Islam sendiri tidak memiliki semangat dan kemauan untuk berobah. Keadaan umat Islam dewasa ini disebabkan oleh faktor; internal dan eksternal, sehingga kedua faktor itu harus dibenahi demi mengembalikan kecemerlangan masa lalu. Dengan mengutip QS. Al-Ra’d ayat 11, Muhammad Iqbal mencoba mengembangkan gagasannya mengenai khudi bagi kebangkitan umat. Menurutnya moralitas suatu bangsa ditentukan oleh pandangannya mengenai khudi ini, dan segala sesuatu di alam ini memiliki khudinya sendiri-sendiri. Setiap khudi akan bergerak maju sehingga mencapai titik perkembangan kesempurnaannya.