cover
Contact Name
Moh Cholisatur Rizaq
Contact Email
deskovi@umaha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
deskovi@umaha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
DESKOVI : Art and Design Journal
ISSN : 26545381     EISSN : 2655464X     DOI : -
Core Subject : Art,
DESKOVI : Art and Design Journal is a journal published officially by Universitas Maarif Hasyim Latif. The topics in DESKOVI cover the results of study and creation that can broaden knowledge in the field of art and design in general with a focus on the topic of design processes, design methodology, design development, design history, design discourse, art criticism, art anthropology, art sociology, creative industry and conceptual culture, education and research in the fields of art, performance, product design, interior design and visual communication design.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
DAKWAH MELALUI FILM ANALISIS SEMIOTIKA PESAN DAKWAH DALAM FILM "SANG KIAI" KARYA RAKO PRIJANTO Haris Supiandi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 3 No. 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.805

Abstract

Tujuan dari penelitian ini secara umum untuk mengetahui bagaimana dakwah melalui film di dalam film “Sang Kiai” karya Rako Prijanto melalui semiotika Roland Barthes. Berdasarkan pada analisis yang dilakukan, maka peneliti menyimpulkan bahwa film ini syarat dengan pesan dakwahnya, di mana proses dakwah yang terjadi di dalam film ini ialah tentang suri teladan seorang kiai Hasyim Asyari yang begitu dikagumi oleh para santri pondok pesantren Tebu Ireng, sahabat dan keluarganya.; (1) terdapat tiga pesan dakwah dalam film “Sang Kiai” karya Rako Prijanto yakni; pesan akidah, pesan akhlak dan pesan syariat. (2) dakwah dalam film “Sang Kiai” dikemas dengan menampilkan karakter-karakter dialog yang sangat menggugah dan penuh pesan bermakna hubungan antar sesama manusia  dan hubungan kepada Allah SWT, dan tidak terlepas dari nilai-nilai nasionalisme. (3) simbol-simbol yang mengandung kaidah-kaidah yang Islami baik itu dari cara berpakaian, tutur kata, sikap yang sopan santun, hormat kepada orang tua dan guru, menjaga ibadah serta berjihad di jalan Allah SWT.The purpose of this research in general is to study how da'wah through the film in the film "The Kiai" by Rako Prijanto through the semiotics of Roland Barthes. Based on the analysis conducted, the researcher concludes that this film has the message of da'wah, where the da'wah process that occurs in this film is about the example of a Kiai Hasyim Asyari who is highly admired by Tebu Ireng boarding school students, friends, and his family. ; (1) There are three da'wah messages in the film "Sang Kiai" by Rako Prijanto, namely : a) aqeedah message, the moral messages, & sharia messages. (2) Da'wah in the film "The Kiai" is packaged by displaying characters of dialogue that are very evocative and full of meaningful messages of relationships between human beings and relationships to Allah SWT, and are inseparable from the values of nationalism. (3) Symbols that display Islamic rules both from the way of dress, speech, polite attitude, respect to parents and teachers, maintain worship, and strive in the way of Allah SWT.
SAPUH LEGER SIFAT KELAHITAN PADA WUKU WAYANG Ketut Sri Gangga Dewi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 3 No. 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.806

Abstract

Penciptaan karya tari Sapuh Leger merupakan pencapaian ide serta kreativitas yang di latar belakangi oleh kelahiran seseorang. Menurut masyarakat Hindu sifat baik buruknya seseorang sangat dipengaruhi oleh hari kelahiran. Kelahiran seseorang pada Wuku Wayang merupakan kelahiran yang dianggap tidak tepat, karena dapat mempengaruhi sifat dan tingkah lakunya sehingga terlihat berbeda ketika seseroang yang lahir dihari biasa. Masyarakat Hindu Bali sangat meyakini adanya mitologi kelahiran Wuku Wayang yang berhubungan dengan kelahiran Bhatara Kala. Konon katanya Bhatara Kala memiliki sifat dan watak yang tidak baik, untuk itu setiap kelahiran pada Wuku Wayang wajib diupacarai yang disebut dengan upacara Bayuh Oton Sapuh Leger.Karya ini mengungkapkan beberapa sifat anak yang dilahirkan pada Wuku Wayang menurut umat Hindu Bali. Sifat-sifat tersebut diantaranya pemarah, egois, dan selalu menolak nasetan orang tua. Selain sifar-safatnya karya sapuh Leger juga menampilkan elemen-elemen yang digunakan dalam upacara Bayuh Oton Sapuh Leger seperti membuat Banten, meminta air suci, memercikkan air suci, dan sembayang (berdoa). Penciptaan karya tari Sapuh Leger adalah sebagai cerminan diri pada anak dan orang dewasa yang beberapa tidak dapat mengendalikan amarah dan emosionalnya terhadap orang tua. Karya ini diharapkan dapat menjadi intropeksi dan menjadi kesadaran agar menjahui sifat yang kurang baik.Penari dalam karya ini berjumlah sembilan orang penari putri dengan menampilkan lima adegan yang menegaskan pada sifat anak yang lahir pada Wuku Wayang dan proses upacara pembersihan diri.The creation of Sapuh Leger dance works is the achievement of ideas and creativity that is based on one's birth. According to Hindu society, the merits of a person are greatly influenced by the day of birth. Someone's birth in Wuku Wayang is a birth that is considered inappropriate, because it can affect the nature and behavior of that person so that it looks different when someone is born on an ordinary day. The Balinese Hindu community strongly believes in the mythology of the birth of Wuku Wayang which is related to the birth of Bhatara Kala. It is said that Bhatara Kala has bad character, for that every birth in Wuku Wayang must be celebrated which is called the Bayuh Oton Sapuh Leger ceremony.This work reveals some of the characteristics of children born in Wuku Wayang according to Balinese Hindus. These traits include being angry, selfish, and always rejecting parents' advice. Besides that, the work of Sapuh Leger also displays elements used in the Bayuh Oton Sapuh Leger ceremony such as making Banten, asking for Tirta or holy water, sprinkling holy water, and Sembahyang (praying). The creation of Sapuh Leger dance works is a reflection of children and adults who some cannot control their anger and emotional toward their parents. This work is expected to be introspective and become awareness in order to find out the nature that is not good.The dancers in this work number nine female dancers by presenting five scenes that emphasize the nature of the child born in Wuku Wayang and the process of self-cleansing ceremony. 
KAJIAN VISUAL KARAKTER DESAIN WEBTOON BE A POEM Aninditya Daniar
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 3 No. 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.807

Abstract

Komik web sekarang muncul sebagai salah satu komik konvensional yang banyak diminati oleh kalangan muda saat ini. Komik web dianggap lebih cocok untuk generasi masa kini yang lebih melirik pada produk dan pelayanan praktis secara online. Penelitian ini membahas tentang visual desain karakter bernama Poem pada komik web yang berjudul Be a Poem karya Chill Peeps. Karakter utama dalam webtoon tersebut berbentuk binatang sehingga memiliki keunikan karakter dan cerita yang digemari oleh banyak pembacanya. Desain karakter tersebut dianalisis dengan metode kualitatif berdasarkan unsur-unsur grafisnya yaitu gaya ilustrasi, layout, dan warna. Hasil dari analisis adalah desain karakter memiliki ciri khas masing-masing dalam gaya ilustrasi dan cerita yang khas sehingga mampu menarik perhatian pembaca muda. Berdasarkan studi kasus yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa karakter desainer dapat memutar balikkan persepsi pembaca dengan menambah atau mengurangi atribut visual.Webcomics now appear as one of the conventional comics that are in great demand by young people today. Webcomics are considered more suitable for today's generation who are more interested in online practical products and services. This study discusses the visual design of a character named Poem in a webcomic entitled Be a Poem by Chill Peeps. The main characters in the webtoon are in the form of animals that they have unique characters and stories that are loved by many readers. The character designs were analyzed by qualitative methods based on the graphic elements, namely illustration style, layout, and color. The results of the analysis are the character designs have their respective characteristics in the style of illustrations and unique stories so as to attract the attention of young readers. Based on the case studies, it can be concluded that the character of the designer can distort the reader's perception by adding or subtracting visual attributes.
STRATEGI PEMASARAN UPT MUSEUM BALANGA SEBAGAI WISATA EDUKASI DI KOTA PALANGKARAYA Inten Larasaty
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 3 No. 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.808

Abstract

Keberadaan museum selama ini sering dianggap hanya sebagai tempat memamerkan koleksi budaya maupun sejarah saja, padahal sebenarnya dapat menjadi alternatif yang menarik untuk dikunjungi wisatawan. Kesan membosankan yang menjadi polemik di berbagai museum di Indonesia harus ditepis dengan melakukan strategi pemasaran yang tepat. Salah satunya yaitu UPT Museum Balanga yang merupakan museum budaya di Kota Palangkaraya. Museum Balanga selain memiliki tempat yang strategis juga memiliki keunikan dari berbagai koleksi yang menunjukkan siklus hidup suku Dayak. Kenyataannya dari data pengunjung yang dihasilkan pada setiap tahun ternyata masih belum mencapai peningkatan yang maksimal. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif bersifat deskriptif dengan menggunakan analisis SWOT. Tahap penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data, kemudian tahap analisis dengan membandingkan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan, dan yang terakhir yaitu tahap penetapan strategi berdasarkan marketing mix 7p yaitu product, price, place, promotion, process, people, dan physical evidence. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis kelebihan dan kekurangan pada UPT Museum Balanga serta memformulasikan strategi pemasaran yang tepat untuk meningkatkan daya tarik dan jumlah pengunjung lokal maupun mancanegara. Pada hasil penelitian ini menunjukkan bahwa UPT museum balanga perlu meningkatkan servis excellence dengan melakukan training dan menetapkan standar operasional pegawai, pembenahan terhadap interior dan eksterior desaign, melengkapi berbagai fasilitas penunjang seperti ruang multimedia, cafe dan lainnya, serta meningkatkan promosi dengan memanfaatkan berbagai media sosial dan bekerjasama dengan pihak-pihak terkait.The existence of museums has often been considered only as a place to display cultural and historical collections, when in fact it can be an interesting alternative place for tourists to visit. The boring impression that became polemic in various museums in Indonesia must be erased by carrying out the right marketing strategy. One of them is UPT Museum Balanga which is a cultural museum in Palangkaraya City. Besides having a strategic place, Balanga Museum also has uniqueness on various collections that shows the life cycle of Dayak tribe. But the fact is that the visitor data generated each year has not yet reached the maximum increase. This research was conducted with a descriptive qualitative approach using SWOT analysis. The research stage is carried out by collecting data, then the analysis phase by comparing the external factors of opportunity and threat with the internal factors of strengths and weaknesses. In the last step to support the SWOT analysis, the writer uses marketing mix 7p, which are product, price, place, promotion, process, people, and physical evidence. The purpose of this study is to analyze the strengths and weaknesses of the UPT Museum Balanga and formulate an appropriate marketing strategy to increase the attractiveness and the amount of local and foreign visitors. The results of this study indicate that the UPT Museum Balanga needs to improve service excellence by conducting training and establishing operational standards for employees, improving the interior and eksterior design, equipping various supporting facilities such as multimedia rooms, cafes and others, and increasing promotion by utilizing various social media and collaborating with related parties.
QILIN: TOLERANSI KEBERAGAMAN SEBAGAI IDE PENCIPTAAN KARYA KERAMIK SENI Abibawa Wicaksana
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 3 No. 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v3i2.809

Abstract

Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang majemuk yang memiliki berbagai ras, agama, suku, kebudayaan, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, hingga hari ini kabar mengenai perilaku intoleran masih sering ditemui. Kejadian-kejadian intoleran tersebut pada umumnya dialami oleh mereka yang memiliki ras, suku, keyakinan, kebudayaan, pola berpikir, pilihan politik, ataupun kondisi fisik yang berbeda. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, muncul keinginan untuk menciptakan karya yang berkaitan dengan Bapak Pluralisme Indonesia atau Gus Dur. Dikarenakan salah satu hasil perjuangannya melawan intoleransi adalah pengembalian hak etnis Tionghoa, maka karya yang kemudian tercipta adalah karya-karya dengan objek yang berasal dari kebudayaan Tionghoa. Sebagai hasil, tercipta dua karya keramik terakota dengan qilin sebagai objeknya. Pemilihan qilin tersebut tidak hanya dikarenakan ia merupakan makhluk mitologi dari kebudayaan Tionghoa, tetapi juga dikarenakan kaitannya dengan kisah kelahiran Konfusius, nabi agama Konghucu. Supaya konsep toleransi dengan mengangkat penghapusan intoleransi yang dialami etnis Tionghoa di Indonesia tidak hilang, qilin pada karya ini juga dibuat dalam kondisi tidur. Kondisi tersebut dibuat sebagai tanda bahwa si hewan mitologi ini sedang tenang, terbebas dari ancaman larangan yang pernah dialami oleh etnis Tionghoa di Indonesia dari tahun 1967 hingga tahun 2000.Indonesia is a country that has a large variety of races, religions, ethnicities, cultures, etc., within its people. Even though it is a pluralistic country, having something like a different race, ethnicity, belief, culture, mindset, political choice, or even physical conditions can still be an issue. As a response to this problem, I then created two artworks as a reminder about the legacy of Indonesia’s third president who is known for his fight against discrimination, Abdurrahman Wahid. Since one of his most known legacies is the removal of the Chinese ban in Indonesia at year 2000, the model used in the creation of the artworks is from a myth in Chinese traditions. As a result, two qilin terracotta ceramic artworks were created. The qilin was used not only because it’s a Chinese mythological creature, but also because of its relation to the legend of the birth of the Chinese philosopher who’s also known as the prophet of the Confucianism, Confucius. To express the freedom due to the ban removal, the qilins in these artworks were then made sleeping. This position was used to make these mythological creatures look relaxed, or in other words, look like it’s free from the predator that preys on it from year 1967 to year 2000.
Front Matter (DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3 No 2 Desember 2020) Editor Deskovi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 3 No. 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Back Matter (DESKOVI : Art and Design Journal Vol 3 No 2 Desember 2020) Editor Deskovi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 3 No. 2 (2020): DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SINEMATOGRAFI FILM PENDEK YOGYAKARTA Sifa Sultanika
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 4 No. 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v4i1.814

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai bentuk sinematografi yang digunakan pada film Ifa Isfansyah berjudul Setengah Sendok Teh, Yosep Anggie Noen dalam film Ballad of Blood & Two White Buckets, dan Wregas Bhanuteja dalam film Prenjak In The Year Of Monkey, serta diharapkan dapat menjadi suatu wawasan baru mengenai bagaimana pengaruh bentuk sinematografi terhadap sebuah cerita. Penelitian ini didasari oleh teori The Five c’s of Cinematography oleh Joseph V. Mascelli, A.S.C. Hasil dari pengamatan penulis menggunakan metode kualitatif, sinematografi dari ketiga film ini adalah ketiga film tersebut memiliki ciri-ciri tersendiri. Adapun bentuk kesamaan dari ketiga film adalah penyajian mengenai unsur sinematografi yang terkait komposisi, posisi kamera, dan penyuntingan gambar. Berdasarkan dari hasil analisis adegan ketiga film pada bagian adegan awal atau adegan pembuka film, ketiganya menunjukkan cara yang berbeda dari penempatan posisi kamera, namun sama jika dilihat dari fungsi adegan. Pola sinematografi dalam ketiga film memiliki bentuk yang konsisten secara teknis dari awal hingga akhir film. Analisis berdasarkan adegan pembuka pada masing-masing film menunjukkan fungsi dari bagian sinematografi sebagai wujud persamaan secara deskriptif maksud dari pengambilan gambar. Analisis terakhir berdasarkan adegan two shot, posisi pemain perempuan pada masing-masing film dibuat lebih mendominasi. Penempatan komposisi pada masing-masing peran wanita pada adegan two shot ini memberikan penataan komposisi yang lebih kuat secara karakter dan konflik yang didukung dengan bentuk sinematografi pada masing-masing film. Secara keseluruhan, penyuntingan gambar dibangun dengan konsep kontiniti yang berdasarkan dengan komposisi, membuat masing-masing film memiliki bentuk pemotongan gambar yang berbeda.
12 PRINSIP ANIMASI PADA GERAK KARAKTER SKELETAL ANIMATION “ACHOO” Anis Rahmi
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 4 No. 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v4i2.914

Abstract

Karakter animasi merupakan seni menyajikan dan membuat tokoh tertentu bergerak dan dengan ciri dan karakteristik di layar dalam konteks 2D atau 3D. Hal tersebut menimbulkan kesulitan animator saat bekerja menggambungkan banyak gambar untuk mewujudkan suatu karakter bergerak, berpikir, berperilaku muncul secara konsisten di layar. Skeletal Animation membantu animator untuk memecahkan masalah kerumitan ketika menggerakkan bagian-bagian potongan gambar, mengontrol perubahan bentuk gambar dengan bantuan algoritma komputer yang menunjukkan pose gerak serta mengurangi kebutuhan memori pada komputer terkait kebutuhan untuk menggerakan gambar dalam jumlah yang banyak. Ilusi gerak suatu karakter tokoh tidak hanya menganut aturan hukum dasar fisika, tetapi juga berurusan dengan masalah waktu pengerjaan, reaksi emosional tokoh dan daya tarik karakter yang diatur dalam 12 prinsip dasar animasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Hasil penelitian berupa evaluasi deskriptif yang diperoleh dari narasumber yang berprofesi sebagai animator senior studio animasi di Batam yang memberikan evaluasi gerak tokoh film animasi pendek berjudul “Achoo” yang menerapkan teknik skeletal animation pada gerak 2 karakter berwujud manusia dan 1 tokoh mikroba yang hidup dan bergerak seperti memiliki kepribadian seorang manusia.
IMAJINASI SOSOK IBU DALAM KARYA SENI LUKIS Riki Umar Tono
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 4 No. 2 (2021): DESEMBER 2021
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v4i2.916

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai bagaimana seorang anak yang tidak sempat merasakan kasih sayang dari sosok ibu kandung dikarenakan telah meninggal dunia ketika anak tersebut berusia tiga tahun. Sosok ibu yang dipilih dalam penciptaan karya seni lukis dikarenakan penulis menganggap bahawa hal yang paling dekat dari kehidupannya adalah sosok ibu. Walaupun terasa dekat baginya, akan tetapi penulis merasa kesedih dan sakit hati dikarena tidak memiliki sosok ibu kandung ketika umur tiga tahun sampai tumbuh dewasa. Dengan rasa yang penulis alami dari dulu sampai sekarang, penulis memilih sosok ibu menjadi inspirasi berkarya. Penciptaan seni lukis ini bertujuan untuk mengimajinasikan sosok ibu   dengan menggunakan metode practice based research. Sehingga  karya yang dihasilkan bersifat subjektif dengan pengalaman pribadi penulis, oleh karenakan itu pengaplikasian metodenya mengunakan eksplorasi, eksperimentasi dan penbentukan. Dengan metode tersebut imajinasi sosok ibu dalam karya seni lukis dapat diwujudkan dengan bentuk surealisme.