Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi
Lumen Veritatis adalah jurnal ilmiah bagi para spesialis filsafat, teologi dan ilmu-ilmu lain yang terkait dan bertujuan menyebarkan pandangan, pemikiran, analisis dan refleksi kritis bagi terciptanya budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Lumen Veritatis terbit dua kali setahun , pada bulan April dan Oktober.
Articles
78 Documents
TERGERUSNYA KOMUNIKASI DALAM ALIENASI-VIRTUAL YANG AMBIVALEN
Oktovianus Kosat
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 12 No 1 (2021): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Mei 2021 ~ Oktober 2021
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v12i1.1319
Kerahiman adalah asas dan spirit utama bagi terbangunnya sebuah relasi dan komunikasi yang bertanggung jawab dan manusiawi. Ketika manusia terus tergiring untuk mengagungkan teknologi, hadir pula penampakkan mulia yang tidak akan mungkin termakan oleh perkembangan zaman. Dialah kerahiman. Kerahiman yang diimani sebagai tindakan Allah yang paling mendasar; dengan mana Allah datang menjumpai, berelasi, berkomunikasi, sampai pada penyelamatan manusia melalui Yesus Kristus.
TERGERUSNYA NILAI BUDAYA TABUA MA T’NEK MESE PADA MASYARAKAT DESA OELBONAK DAN PENILAIAN MORAL-ETIS
Desiderius Metan;
Wiwik Ira Handayani
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 12 No 1 (2021): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Mei 2021 ~ Oktober 2021
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v12i1.1320
Oelbonak village people inherited Tabua Ma T'nek Mese culture from their ancestors as a spirit that animates all aspects of their social life. The culture fostered a principle that they must live unitedly and work together. However, the influence of modernization has led to certain attitudes, actions or practices from certain parties who want to build an individualistic life. Or in other words, there are certain people or groups who no longer want to cooperate or share work because they think it is detrimental or burden them in the terms of material or financial perspective. As a result, people began to live trapped in a materialistic and individualistic lifestyle. This deviation cannot be justified if it is reflected from the moral source of the Catholic religion (The Bible) and the assessment of ethical theory as well because it does not provide benefits, otherwise it is detrimental to oneself and others. Humans who have the Tabua Ma T'nek Mese culture (unified and one heart) are humans who always prioritize harmony, unity and brotherhood. Moreover, it can lead people to achieve the virtues of life, both horizontal virtues, namely the virtues of living with other humans and vertical virtues, namely the true happiness created through intimate fellowship with the owner and the provider of human life, The Almighty God.
PERSPEKTIF METAFISIS RELASI ALAM DAN MANUSIA MENURUT C. A. VAN PEURSEN
Agustinus Albert;
Joshua Natalino Putra;
Silvanus Purnomo
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 13 No 1 (2022): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | April 2022
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v13i1.1998
Fokus tulisan kami adalah melihat relasi alam dan manusia dalam perspektif metafisis C. A. van Peursen. Selain itu kami juga melihat dampak-dampak yang dihasilkan dari tahapan relasi tersebut. Metode yang kami gunakan dalam menulis artikel ini adalah analisis kritis terhadap kerusakan alam dan dampaknya terhadap manusia. Dalam hal ini kami mengambil sebuah kasus yang dimuat dalam liputan6.com yang memberitakan bahwa terdapat pembalakan liar yang terjadi di Taman Nasional Rimbang Baling di Pekanbaru, Riau. Metode ini juga dibantu dengan tuntunan buku Menjadi-Mencintai karangan Armada Riyanto dan Strategi Kebudayaan karangan C. A. Van Peursen serta beberapa buku sumber lainnya. Temuan yang kami peroleh adalah alam sebagai penyedia sumber kebutuhan hidup manusia. Seiring berjalannya waktu relasi antara keduanya mulai rusak karena keserakahan manusia yang berdampak buruk bagi alam. Setelah melaui fase tersebut manusia kemudian memiliki kesadaran untuk melestarikan alam agar sumber kebutuhan tetap terpenuhi. Keduanya saling menjungjung tinggi hak lestari keduanya.
BERTEOLOGI KONTEKSTUAL DARI MITOS PLAI LONG DIANG YUNG
Yovinus Andinata;
Antonius Deny Firmanto;
Nanik Wijiyati Aluwesia
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 13 No 1 (2022): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | April 2022
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v13i1.1999
Fokus studi ini ialah pada refleksi teologis atas mitos Plai Long Diang Yung yang terdapat dalam kebudayaan masyarakat Dayak Wehea. Mitos itu memiliki tempat yang istimewa dan sentral dalam kehidupan masyarakat setempat dan merupakan asal-usul dari perayaan Lom Plai yang adalah puncak dari semua perayaan dan ritual adat. Mitos itu memiliki makna yang penting dalam kehidupan masyarakat dan berbicara banyak hal berkaitan dengan eksistensi manusia, alam dan Tuhan. Dengan kenyaatan itu, mitos tersebut dapat menjadi locus theologicus yang dapat memperkaya rekfleksi iman Gereja dan mengakarkan iman di dalam budaya dan berbudaya di dalam terang iman. Metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah berdasarkan hasil pembacaan kritis atas teks mitos Plai Long Diang Yung dan teks Tradisi Kristiani. Studi ini menemukan bahwa dalam mitos Plai Long Diang Yung terkandung makna teologis yang sangat kaya yang berbicara tentang Kristus, keselamatan dan Allah yang tak terbatas pada seksualitas manusiawi.
KAUM AWAM SEBAGAI “GARAM DAN TERANG DUNIA” DI ZAMAN TEKNOLOGI DIGITAL
Ireneus Sibori;
Antonius Denny Firmanto;
Nanik Wijiyati Aluwesia
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 13 No 1 (2022): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | April 2022
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v13i1.2000
The Industrial Revolution 4.0 changed the work system, mindset and face of the world. In an era that is no longer the same, digital technology is growing rapidly. This change presents a new challenge for the Catholic Church in its existence in the midst of the world. The Church recognizes this change and seeks to use technological advances as a means of proclaiming God's love. In this case, the Church tries to invite Catholic laity to rise up and answer the call of Christ. The laity are the ones who are called. Since receiving baptism they have all been called to be salt and light to their fellowmen. Yet the laity often mistake that they have the lower dignity of the priests and are not worthy to be preachers of Christ. The Catholic Church tries to make people realize that they have the same dignity as children of God. They are also called people. They are a mirror image of the face of Christ in the midst of the world. Their presence in direct contact with the world is the hope that the love of Christ will be felt by all nations. In this era of industrial revolution 4.0, common people are expected to become salt and light for others. The methodology I use in this paper is data collection by means of questionnaires and literature study of various books and articles related to the title of this research. The findings in this paper are that Catholic laypeople are still less aware of their role as salt and light especially in the era of the 4.0 industrial revolution. Therefore the Catholic Church must do more to raise up the laity in answering the call of Jesus Christ as the salt and light of the world.
TANGGAPAN KONGGREGASI MSF TERHADAP IMPLEMENTASI GAGASAN EKLESIOLOGI KONSISLI VATIKAN II DALAM PERUTUSAN KONGGREGASI TANAH BORNEO (KALIMANTAN)
Antonius Tedy;
Antonius Denny Firmanto;
Nanik Wijiyati Aluwesia
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 13 No 1 (2022): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | April 2022
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v13i1.2003
Perkembangan umat katolik di Pulau Kalimantan tidak dapat dilepaskan dari sejarah misi awal konggregasi MSF yang bisa dikatakan nekad dan berani memulai karya misi dari daerah yang jaman itu serba kekurangan dan sulit. Namun tanpa memiliki kebaranian untuk memulai tentu saja tidak akan ada hasil yang bisa diperoleh kemudian. Paper ini adalah sebuah tinjauan mengenai pengalaman Gereja dalam semangat Konsili Vatikan II yang terbuka terhadap dunia, yang penulis kembangkan dengan menelisik perjalanan awal misi konggregasi MSF di bumi indonesia, khususnya pulau Kalimantan. Situasi apa yang terjadi pada Gereja masa itu dan tanggapa konggregasi MSF terhadap himbauan dan semagat pasca Konsili Vatikan II terhadap pewartaan tentang karya keselamatan Allah. Metode yang digunakan dalam penulisan paper ini adalah metode kualitatif studi kepustakaan, dengan membaca secara kritis buku-buka dan artikel terkait yang menjadi karya-karya studi terdahulu mengenai penelitian serupa. sehingga tulisan ini lebih ilmiah dan bisa menjadi bahan diskusi bersama mengenai dinamika misi MSF dari awal sampai pada perkembagannya saat ini. Dan, setelah menuliskan dengan panjang lebar, dengan segala bentuk kesulitannya, akhirnya saya menemukan bahwa misi MSF di Indonesi merupakan semangat yang diinsipari oleh tujuan pendirian Konggregasi MSF oleh Pater J. Berthier, MS. Semangat itu dituangkan dalam Konstitusi Konggregasi MSF bahwa tugas misioner para anggota MSF ialah menyebarkan amanat Kristus, yang diutus, untuk menyebarkan, membebaskan orang miskin, yang berdosa dan mereka yang tertidas.
ROH KUDUS MENJIWAI GEREJA MISIONER (Perspektif Roh Kudus Sebagai Spiritualitas SVD)
Rafael Makul;
Antonius Denny Firmanto;
Nanik Wijiyati Aluwesia
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 13 No 1 (2022): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | April 2022
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v13i1.2004
Gereja pada saat ini terus berkembang dan menyebarkan sayapnya ke seluruh dunia, bangsa, bahasa dan budaya. Tempat-tempat yang belum pernah mendengar Injil telah menghapusnya dalam kehidupan mereka. Fokus tulisan ini adalah Roh Kudus Menjiwai Gereja Misioner. Sebab penulis menyadari bahwa pada hakikatnya gereja adalah bersifat misioner. Hal ini juga diserukan dalam konsili Vatikan II. Semangat misioner yang dimiliki Gereja ini adalah berasal dari Roh Kudus sendiri. Roh Kuduslah yang menjiwai Gereja, sehingga gereja dengan semangat bermisi dan mewartakan Injil ke seluruh dunia. Secara khusus, penulis hendak menjelaskan tentang roh Kudus sebagai spiritualitas SVD. SVD adalah singkat dari Societas Verbi Divini atau dalam bahasa inggris Society of the Divine Word dan dalam bahasa Indonesia adalah Serikat Sabda Allah adalah serikat misi. Sebagai serikat misi, SVD menjadikan Roh Kudus sebagai panutan dan kekuatannya. Peran Roh Kudus sangat nyata dalam karya misioner Gereja dan secara khusus dalam diri para misionaris SVD yang mengimplementasikan karya misioner Gereja.
HAUTEAS: DISINGKIRKAN ATAU DILESTARIKAN?
Yetva Softiming Letsoin;
Agustinus Opat;
Oktovianus Robertus Baunsele
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 13 No 2 (2022): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Oktober 2022
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v13i2.2014
In this search, our focus is on the meaning and significance of Hauteas and the Church's response to it. From these two things we try to trace the encounter of the Catholic faith with Hauteas itself. The methodology used is a qualitative method with interview techniques and library analysis in the form of text analysis through critical reading that listens to the understanding and understanding of Hauteas and the Catholic Church's view on Culture. The author argues that we cannot take the extreme choice that the Hauteas be removed, or the Hauteas preserved. We only need to come to a critical reflection that, the meeting point between the teachings of the Church and the Hauteas is actually in the communal and ecological values behind the Hauteas. With Hauteas people can increase the fellowship and spirit of brotherhood. In addition, people can limit themselves to illegal logging. Hauteas keeps the cultural traces in it. This includes religious values that help us not to be greedy in treating nature. But on the other hand, we cannot also accept the practice of offerings in Hauteas which can harm others because of the evil intentions of the practice.
MENGHORMATI MARTABAT MANUSIA DALAM SITUASI TERMINAL
Yohanes Alfri Patri
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 13 No 2 (2022): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Oktober 2022
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v13i2.2015
Menghormati hidup manusia dalam kondisi terminal atau di akhir kehidupan tidak terlepas dari kenyataan bahwa hidup manusia merupakan anugerah atau pemberian Allah semata-mata. Oleh karena itu, pada prinsipnya haruslah dimaknai bahwa sesungguhnya Allah menjadi norma akhir bagi hidup manusia. Norma akhir yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah bahwa akhir kehidupan manusia merupakan keputusan Allah semata-mata. “Hidup manusia berasal dari Allah. Oleh karena itu, manusia tidak dapat memperlakukannya dengan sesuka hatinya. Hidup itu memiliki tujuan pada keilahian, yaitu bersatu dengan Allah dalam hidup kekal. Hidup itu amat suci dan keramat sebab Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya (Kej 1: 26). Hal ini menjadi salah satu alasan mutlak untuk menghormati martabat manusia dalam situasi terminal.
PERSEKUTUAN SEMPURNA ALLAH TRITUNGGAL SEBAGAI BASIS PEMBEBASAN MASYARAKAT DALAM RADIKALISME AGAMA
Tomy Taroreh
Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi Vol 13 No 2 (2022): LUMEN VERITATIS : Jurnal Filsafat dan Teologi | Oktober 2022
Publisher : Program Studi Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30822/lumenveritatis.v13i2.2019
Differences can create problems in diversity. Anti-union and hatred of incompatible thoughts can result in coercion and violence. Religious radicalism in the state is able to break up unity and injustice in people's lives. Based on a critical and analytical literature study, a model of life for diverse societies was found based on the concept of perikhoresis in the perfect communion of the Triune God. Communio, a community in which individuals form communion with one another. A form of relevant partnership model in Indonesian society with the aim of creating a form of general welfare in the midst of diversity.