cover
Contact Name
Sani Ega Priani, M.Si., Apt.
Contact Email
-
Phone
jurnal.farmasyifa@gmail.c
Journal Mail Official
jurnal.farmasyifa@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Farmasi - Universitas Islam Bandung Jalan Rangga Gading No. 8, Kota Bandung, Jawa Barat
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa
ISSN : 25990047     EISSN : 25986376     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa (JIFF) merupakan Jurnal ilmiah yang memuat artikel hasil penelitian di ruang lingkup Farmasi meliputi Farmakologi dan Toksikologi, Farmasi Klinik dan Komunitas, Biologi Farmasi, Farmasetika, Farmasi Mikrobiologi dan Bioteknologi, dan Farmakokimia. Disamping penelitian, jurnal ilmiah Farmasyifa juga memuat artikel hasil review terkait perkembangan ilmu kefarmasian di Indonesia berbasis penelitian.
Articles 110 Documents
UJI PARAMETER STANDARD DAN PENAPISAN FITOKIMIA PADA DAUN STERIL KALAKAI (Stenochlaena palustris (Burm.f.) Bedd.) MENGGUNAKAN EKSTRAKSI BERTINGKAT Halida Suryadini
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i1.3968

Abstract

Telah dilakukan uji fitokimia dan uji parameter standard pada daun steril Kelakai (Stenochlaena palustris) yang diperoleh dari daerah Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pada penelitian ini ekstrak diperoleh dengan ekstraksi bertingkat menggunakan metode maserasi N-heksan, etil asetat dan metanol yang digunakan sebagai pelarut.            Hasil penetapan parameter standard simplisia daun steril kelakai diketahui bahwa simplisia berwarna coklat, tidak berbau, berasa kelat, kadar sari larut air 3,34%, kadar sari larut etanol 1,80%, kadar air 4,71%, kadar abu total 6%, kadar abu tidak larut asam 1%, kadar susut pengeringan 6% dan bobot jenis (g/g): ekstrak n-heksan 0,94,  ekstrak etil asetat 1,41, ekstrak metanol 2,05.            Hasil uji fitokimia pada simplisia dan ekstrak metanol daun steril kelakai diduga mengandung senyawa Flavonoid, Tannin dan Fenolik, serta senyawa Flavonoid dan Tannin pada ekstrak etil asetat. Hasil pada aestrak n-heksan negatif terdeteksi.Kata kunci: Daun steril Kalakai (Stenochlaena palustris), uji parameter standard, uji fitokimia, ekstraksi bertingkat. 
PENETAPAN KADAR PIPERIN DALAM EKSTRAK BUAH LADA HITAM (Piper nigrum Linn.) MENGGUNAKAN LIQUID CHROMATOGRAPHY TANDEM MASS SPECTROMETRY (LC–MS/MS) Alifia Putri Febriyanti; Siti Jazimah Iswarin; Susanti Susanti
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v1i2.3160

Abstract

The utilization of medicinal plants have started growing rapidly in the world, including in Indonesia, along with the thinking back to nature, one of the plants that are often used as a medicine is black pepper fruit (Piper nigrum Linn.). Piperine is a major compound and potent substances contained in black pepper fruit as antidiarrheal activity. The aim of this study was to determine levels of piperine in 96% ethanol extract of black pepper fruit. The extraction method used Soxhlet in 96% ethanol as solvent. Analysis of piperine using qualitative analysis by thin layer chromatography (TLC) produces yellow stain after being sprayed by dragendorf and dark blue on observation Uv-Vis 365 nm with Rf extract value 0.49 and Rf piperine value 0.5. Quantitative analysis using LC – MS produces piperine levels at 26%. Before quantitative analysis, validation method needs to be done with the parameters, among others: linearity have regression equation y = has 1,981,691.1333x + 561,445.0000 and correlation coefficient (R2) of 0.9973, LOD and LOQ at 0.14 and 0.44 ppm, accuracy value (% recovery) between 95.90 – 100.77%, precision value (% KV) between 0.02 – 1.84%, and selectivity (RT) between 2.47 – 2.49. The results of the validation parameters are eligible so that piperine levels were obtained by LC – MS declared accurate, specific, and precise.
PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI SEDUHAN 3 MERK TEH HITAM (Camellia sinensis (L.) Kuntze) DENGAN METODE SEDUHAN BERDASARKAN SNI 01-1902-1995 Leni Purwanti
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i1.4207

Abstract

Aktivitas antioksidan yaitu kemampuan suatu bahan yang mengandung antioksidan untuk dapat meredam senyawa radikal bebas yang ada disekitarnya. Teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) adalah tanaman yang banyak ditemukan di daerah pegunungan Asia yang diketahui memiliki manfaat baik bagi tubuh dan mengandung antioksidan. Kandungan utama teh adalah antioksidan polifenol yaitu katekin. Antioksidan polifenol memberikan keuntungan bagi kesehatan, yaitu berperan dalam melawan radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan pada teh hitam dari beberapa merk dagang teh (Merk A, Merk B dan Merk C) menggunakan metode DPPH dengan standar penyeduhan teh sesuai dengan yang diatur dalam SNI 01-1902-1995 mengenai teh hitam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga merk teh yang diuji, teh hitam Merk B memiliki aktivitas tertinggi dengan nilai IC50 1800 µg/mL dibandingkan dengan vitamin C dengan nilai IC50 6,32 µg/mL. Kata Kunci : antioksidan, DPPH, teh hitam, tiga merk, vitamin C.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAN FRAKSI BIJI PARE (Momordica charantia L.) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes Feresta Riferty
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v1i2.3139

Abstract

ABSTRACTBitter gourd (Momordica charantia L.) seeds is known to have efficacy in treating skin diseases, one of which is acne. This study aimed to determine the potency of antibacterial activity, minimum inhibitory concentration (MIC) and equality with comparator. The extraction process was carried out by maceration method using ethanol 96%, then fractionation was performed by using liquid-liquid extraction. The antibacterial activity of extract and fractions of bitter gourd seed against Propionibacterium acnes were done by agar diffusion method. The results showed that the extract and other fractions of bitter gourd seeds gave antibacterial activity against Propionibacterium acnes. The extract and three fractions of bitter gourd seeds inhibited the growth of Propionibacterium acnes at concentrations of 40%, 50% and 60%. The value of MIC of the extract was 30% with an 8,9 mm inhibit zone. At concentration of 40%, the fraction of ethyl acetate of bitter gourd seeds gave the highest activity in inhibiting Propionibacterium acnes compared to extract and other fractions. When it is compared with clindamycin as comparison, 1 mg of bitter gourd seed extract is equivalent to 0,80 μg clindamycin.  Keywords: Bitter gourd seed, Momordica charantia L., Antibacterial, Propionibacterium acnesABSTRAK Biji pare (Momordica charantia L.) diketahui memiliki khasiat dalam mengobati penyakit kulit, salah satunya jerawat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan potensi aktivitas antibakteri, konsentrasi hambat minimum (KHM) dan kesetaraan dengan pembanding. Proses ekstraksi dilakukan dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, dilanjutkan dengan fraksinasi menggunakan ekstraksi cair-cair. Aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi biji pare terhadap Propionibacterium acnes dilakukan dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi biji pare memiliki aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Ekstrak dan ketiga fraksi biji pare menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes pada konsentrasi 40%, 50% dan 60%. Nilai KHM dari ekstrak diperoleh 30% dengan zona hambat 8,9 mm. Pada konsentrasi 40%, fraksi etil asetat biji pare memberikan aktivitas paling tinggi dalam menghambat Propionibacterium acnes dibandingkan ekstrak serta fraksi lainnya. Dibandingkan dengan klindamisin, 1mg ekstrak biji pare setara dengan 0,80 µg klindamisin. Kata Kunci: Biji pare, Momordica charantia L., antibakteri, Propionibacterium acnes
Isolasi Glukosamin Dari Eksoskeleton Kecoa Madagaskar (Gromphadorhina portentosa) Fairuz Rifdah Permanasari; Indra Topik Maulana; Livia Syafnir
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v1i1.3115

Abstract

Pendahuluan: Kecoa Madagaskar (Gromphadorhina portentosa) merupakan salah satu jenis kecoa yang banyak dimanfaatkan sebagai pakan burung,ikan arwana, tarantula dll. Kecoa ini berukuran lebih besar, tidak memiliki sayap, tidak berbau, jinak, dan bergerak lambat. Eksoskeleton kecoa Madagaskar mengandung senyawa kitin yang berpotensi untuk dijadikan sumber glukosamin yang bermanfaat dalam produksi cairan synovial serta mencegah destruksi tulang. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan glukosamin dari eksoskeleton kecoa Madagaskar. Metode Penelitian: Glukosamin diperoleh melalui proses deproteinasi, demineralisasi, deasetilasi yang kemudian dilanjutkan dengan proses hidrolisis kimiawi dengan HCl 32%. Kesimpulan Hasil: Rendemen glukosamin yang dihasilkan adalah sebesar 22,16%  dengan nilai LoD 0,917%. Spektrum FTIR menunjukkan adanya pita serapan pada daerah NH, OH, C-N, C-H, C-O, gugus Amina Sekunder, dan Glikosida
UJI ANTIOKSIDAN TEH DAUN SIRSAK DENGAN TAMBAHAN DAUN PANDAN SEBAGAI PERISA ALAMI Aptika Oktaviana Trisna Dewi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i2.4389

Abstract

Indonesia dengan kekayaan tanaman obat yang sangat beragam berpotensi untuk dikembangkan sebagai sediaan tanaman obat dalam bentuk teh sehingga mudah untuk dikonsumsi. Salah satu tanaman obat yang dapat dikembangkan adalah daun sirsak. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji potensi antioksidan pada teh daun sirsak. Formula yang diuji dibuat dengan komposisi teh hijau, daun sirsak dan daun pandan. Variasi dilakukan pada komposisi daun sirsak dan daun pandan masing-masing 30% : 50% (F1) ; 40% : 40% (F2) dan 50% : 30% (F3). Pengujian yang akan dilakukan adalah uji organoleptis dan uji antioksidan menggunakan DPPH. Hasil penelitian menujukkan secara organoleptis terlihat bahwa pengaruh penambahan jumlah daun sirsak akan menimbulkan rasa yang lebih pahit atau getir seperti jamu. Sedangkan penambahan daun pandan tidak menimbulkan perubahan signifikan pada rasa, namun dapat menimbulkan aroma pandan yang cukup kuat. Pengujian aktivitas antioksidan ditunjukkan melalui persentase hambat terhadap senyawa radikal DPPH. Hasilnya menunjukkan untuk F1 menghambat 51%, F2 menghambat 63%, F3 menghambat 61%, masing-masing pada konsentrasi seduhan teh 100 ppm.   Kata kunci : teh, daun sirsak, daun pandan, antioksidan
SUNSCREEN ACTIVITY OF SUGAR PALM (ARENGA PINNATA (WURMB) MERR.) LEAF STALK ASHES EXTRACT Esti Rachmawati Sadiyah
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i1.4225

Abstract

Sugar palm leaf stalk (petioles) ashes traditionally used as a daily cosmetic by Sundanese women to keep their skin smooth. Sugar palm leaf stalk ashes also used to treat acne, smallpox, and burns. The study was aimed to test the sunscreen activity of ashes extracts from sugar palm leaf stalk. The ashes were extracted using soxhlet and 96% ethanol as solvent. The sunscreen activity test was performed on the extract using UV-Vis spectrophotometer. Determination of Sun Protection Factor (SPF) value was done at 290-320 nm (UV-B wavelength) with 5 nm interval. The ashes extract of sugar palm leaf stalk showed the effectiveness of sunscreen activity at 10,000 ppm (SPF value = 9) as maximum protection. The SPF value was determined using Mansur mathematical equation. The determination of pigmentation transmittant was done at 322.5 – 372.5 nm, with 2.5 nm interval. Based on the result of pigmentation transmittance percentages, the sunscreen profile of sugar palm leaf stalk ashes extract (2000-10.000 ppm) showed the category of extra protection up to sunblock, according to classification from Balsam & Sagarin (1972). To be concluded, the ashes extract of sugar palm leaf stalk was a potential sunscreen. Further in vivo analysis should be done to confirm this potency.
GAMBARAN KLINIS PENDERITA KANKER SERVIKS SETELAH KEMOTERAPI BERDASARKAN STADIUM Suwendar Suwendar
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v1i2.3254

Abstract

Pengamatan gambaran klinik pada pada penderita kanker serviks merupakan hal yang sangat penting karena dapat mengevaluasi efektivitas kemoterapi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinik pada penderita kanker serviks berdasarkan stadium setelah mendapatkan kemoterapi selama tiga siklus. Dengan demikian dapat dievaluasi lebih lanjut mengenai efektivitas kemoterapi untuk setiap stadium. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif dengan melakukan observasi lapangan untuk memperoleh data gambaran klinik. Evaluasi gambaran klinik dilakukan dengan mengamati gejala klinik dan kondisi pasca kemoterapi setelah pasien mendapatkan kemoterapi siklus pertama sampai ketiga.  Hasil menunjukkan bahwa setelah kemoterapi selama tiga siklus, pada gejala klinik, persen hilang gejala pada pasien stadium  I, II, III dan IV untuk keputihan masing-masing adalah 100%, 96%, 93,3% dan 25%; pada gejala pendarahan, masing-masing adalah 100%, 68%, 53,3% dan 0%; sedangkan rata-rata skor nyeri masing-masing adalah 0,9±0,9; 1,0±1,5; 1,4±,4 dan 3,5±1,9.   Pada kondisi pasca kemoterapi, persentase pasien yang dinyatakan mengalami perbaikan pada pasien stadium I, II, III dan IV masing-masing adalah 100%, 96%, 93,9% dan 75%. Hasil di atas  menunjukkan bahwa kemoterapi menunjukkan kecenderungan makin efektif pada pasien kanker serviks  dengan stadium yang makin rendah.Kata kunci : kanker serviks, stadium, kemoterapi, gambaran klinikPengamatan gambaran klinik pada pada penderita kanker serviks merupakan hal yang sangat penting karena dapat mengevaluasi efektivitas kemoterapi. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran klinik pada penderita kanker serviks berdasarkan stadium setelah mendapatkan kemoterapi selama tiga siklus. Dengan demikian dapat dievaluasi lebih lanjut mengenai efektivitas kemoterapi untuk setiap stadium. Penelitian ini merupakan jenis penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif dengan melakukan observasi lapangan untuk memperoleh data gambaran klinik. Evaluasi gambaran klinik dilakukan dengan mengamati gejala klinik dan kondisi pasca kemoterapi setelah pasien mendapatkan kemoterapi siklus pertama sampai ketiga.  Hasil menunjukkan bahwa setelah kemoterapi selama tiga siklus, pada gejala klinik, persen hilang gejala pada pasien stadium  I, II, III dan IV untuk keputihan masing-masing adalah 100%, 96%, 93,3% dan 25%; pada gejala pendarahan, masing-masing adalah 100%, 68%, 53,3% dan 0%; sedangkan rata-rata skor nyeri masing-masing adalah 0,9±0,9; 1,0±1,5; 1,4±,4 dan 3,5±1,9.   Pada kondisi pasca kemoterapi, persentase pasien yang dinyatakan mengalami perbaikan pada pasien stadium I, II, III dan IV masing-masing adalah 100%, 96%, 93,9% dan 75%. Hasil di atas  menunjukkan bahwa kemoterapi menunjukkan kecenderungan makin efektif pada pasien kanker serviks  dengan stadium yang makin rendah.Kata kunci : kanker serviks, stadium, kemoterapi, gambaran klinik
Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Persepsi Tenaga Kesahatan terhadap Kehalalan Obat di Rumah Sakit Kabupaten Banyumas Alfiyaturrohmaniyah - Trisnawati
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v1i1.2873

Abstract

Tenaga kesehatan memiliki peran yang penting dalam pemilihan obat untuk pasien khususnya di kalangan dokter dan apoteker. Dokter dan apoteker memiliki peran terbesar dalam pemilihan obat untuk pasien. Saat ini pemilihan obat oleh dokter dan apoteker beberapa belum mengerti dan belum paham tentang hukumnya menggunakan obat-obatan yang mengandung bahan yang dilarang menurut Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan presepsi tenaga kesehatan di rumah sakit Kabupaten Banyumas terhadap kehalalan obat. Penelitian ini mengunakan pendekatan cross sectional pada periode waktu bulan Februari hingga Juni. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif dengan cara penyebaran kuesioner kepada responden dan metode pengambilan data secara accidental sampling dan pemilihan dari dokter dan apoteker yang bekerja di rumah sakit di wilayah Kabupaten Banyumas. Berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa pengetahuan responden baik 73 responden (96%), sikap positif sebanyak 74 responden (97%), dan persepsi baik 76 responden (100%). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dokter dan apoteker baik, serta sikap dan persepsidokter dan apoteker pun baik.
PERBANDINGAN PARAMETER STANDAR DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI MADU RAHMI, MADU MANUKA, MADU KELENGKENG PERHUTANI TERHADAP Pseudomonas aeruginosa DAN Staphylococcus aureus DENGAN METODE DIFUSI AGAR Anggi Arumsari
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v2i1.4218

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Secara empiris madu digunakan sebagai makanan dan obat tradisonal, dan dalam banyak penelitian diketahui mempunyai aktivitas antibakteri. Madu Manuka yang merupakan madu impor, diketahui mengandung methylglyoxal yang bersifat antibakteri; Madu Rahmi diklaim dipanen saat enzim diastase dan enzim invertase yang terkandung dalam madu tersebut dalam konsentrasi yang tinggi, sehingga diharapkan memiliki aktivitas antibakteri; dan Madu Kelengkeng Perhutani Bogor diketahui termasuk kedalam jenis madu monoflora. Berdasar hal tersebut maka perlu untuk dilakukan karakterisasi dan uji aktivitas antibakteri ketiga madu tersebut terhadap Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus . Metode Penelitian: Karakterisasi madu meliputi pengujian organoleptis, pengujian keasaman dengan menggunakan metode titrasi asam-basa, menganalisis kadar air dan mengukur indeks bias. Uji selanjutnya adalah uji aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi agar. Kesimpulan Hasil : Ketiga sampel madu memenuhi parameter standar organoleptis (bau, rasa dan warna) dan parameter keasaman SNI dan United State for Grades of Extracted Honey. Madu Manuka dan Madu Rahmi terlihat memiliki aktivitas antibakteri, sedangkan Madu Kelengkeng tidak terlihat memiliki aktivitas antibakteri. Kata kunci: Madu Manuka, Madu Rahmi, Madu Kelengkeng Perhutani, karakterisasi, antibakteri, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus

Page 3 of 11 | Total Record : 110