Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 6 No 1 (2020)"
:
10 Documents
clear
HUBUNGAN LINGKAR LENGAN ATAS IBU HAMIL TERHADAP ANTROPOMETRI BAYI BARU LAHIR DI RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK ANANDA KOTA MAKASSAR
Rizka Amalia;
Azizah Nurdin;
Jelita Inayah Sari;
Andi Irhamnia Sakinah
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.274
The newborn’s body dimensions are influenced by maternal nutritional status that can be determined by measuring mid upper arm circumference (MUAC). The aim of this study was to determine relationship between maternal MUAC and anthropometry of newborn at Ananda Women and Children Hospital Makassar. The method used in this study was analytic with cross sectional design. A total of 200 pregnant women underwent delivery at Ananda Women and Children Hospital Makassar were taken by purposive sampling method. The study data were sourced from primary data i.e. demographic data, maternal MUAC and newborn anthropometry which included weight, length, head circumference, and chest circumference that were measured immediately after birth. Data were analyzed using the Chi-Square test on the IBM SPSS 23. The results of this study showed a significant relationship between maternal MUAC with body length (p = 0,000), head circumference (p = 0,000), and chest circumference (p = 0,013) of newborns, but no significant relationship was found between maternal MUAC with body weight of newborns (p = 0.127). This study conclude that maternal MUAC influence the anthropometry of newborns on the parameters of body length, head circumference, and chest circumference.
PEMERIKSAAN RADIOLOGI GIANT BULLOUS LUNG DISEASE
f auzy
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.257
Giant bullous lung disease adalah suatu kondisi klinis yang ditandai oleh bullae berukuran besar yang volumenya cukup signifikan. Kriteria radiologi untuk kelainan tersebut adalah adanya giant bullae di satu atau kedua apeks paru, meliputi minimal sepertiga hemithorax dan mengkompresi parenkim paru normal di sekitarnya. Pada dewasa, faktor resikonya dapat berupa kebiasaan merokok, defisiensi alfa-1 antitripsin, sedangkan pada anak dapat disebabkan kondisi idiopatik, dan late sequelae penyakit paru kronik yang terkait dengan kelahiran prematur. Giant bullae dapat terjadi akibat komplikasi dari emfisema. Pasien dengan bullae mungkin asimtomatik, namun dengan semakin membesarnya ukuran bullae, dapat menimbulkan keluhan dispneu, nyeri dada, maupun hemoptisis. Pemeriksaan radiologi untuk menegakkan diagnosis yaitu; foto thorax, ct scan thorax, ultrasonografi thorax, kedokteran nuklir dan angiografi
PENCEGAHAN FOODBORNE DISEASE SELAMA PENERBANGAN DENGAN PENERAPAN PRINSIP KEAMANAN PANGAN (FOOD SAFETY) OLEH AWAK KABIN DALAM PESAWAT
Dasti Anditiarina;
Sri Wahyuningsih;
Ferdi Afian;
Wawan Mulyawan
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.265
Peningkatan penggunaan transportasi pesawat udara oleh masyarakat, maka semakin banyak orang yang berpotensi terpapar oleh inflight meal yang tidak higienis. Apabila penyakit akibat makanan (foodborne disease) di dalam pesawat ini dialami oleh pilot maka akan berdampak terhadap keselamatan penerbangan karena pilot dapat mengalami inkapasitasi. Pelaksanaan protokol higiene makanan dalam pesawat merupakan faktor yang sangat penting untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit akibat makanan. Panduan keamanan Pangan ini dikeluarkan oleh IFSA (International Flight Services Association) dan AEA (The Association of Europe Airlines) yang merupakan adaptasi dari panduan keamanan pangan dari WHO yang termasuk didalamnya: keterlibatan dari pemangku kebijakan, airline, catering dan juga penyuplai makanan. Kontaminasi dari awak kabin disebabkan karena kegagalan penjamah makanan untuk melakukan cuci tangan yang baik dan benar
EFEKTIFITAS HEPA FILTER DENGAN CHARCOAL DALAM PENYARINGAN ORGANOFOSFAT DI KABIN PESAWAT
ferdi afian;
Ardhito Budhijuwono;
Amilya Agustina;
Dasti Anditiarina
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.260
Kontaminan yang dihasilkan di dalam kabin merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan dan harus dikontrol dimana yang termasuk di dalamnya adalah bau badan manusia, aerosol mikroba, Volatile Organic Compound (VOC), gas karbon dioksida, dan gas karbon monoksida. Teknologi penyaring udara dalam penerbangan menggunakan HEPA dan Karbon Aktif. HEPA dalam penggunaannya telah dimanfaatkan secara luas dalam dunia kerja dan penerbangan untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan. Dengan prinsip mekanisme kerjanya filter ini memiliki kelebihan dalam hal menyaring partikel yang berukuran sangat kecil. Karbon aktif dalam bentuk charcoal telah diketahui secara luas dalam efeknya untuk mengadsorpsi sejumlah besar zat toksik seperti VOC dan bau tidak sedap dalam gedung dan kabin.
POTENSI PENULARAN COVID-19 DI DALAM KABIN PESAWAT KOMERSIL
Syougie Syougie;
Eri Widianto;
Ferdi Afian;
Dasti Anditiarina
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.266
COVID-19 dapat menular dengan mudah dari satu orang ke orang lain. Penularan dapat terjadi di mana saja termasuk dalam penerbangan. Lingkungan di dalam kabin pesawat merupakan lingkungan yang memungkinkan terjadi kontak dekat karena padatnya penumpang. Potensi penularan Covid-19 di lingkungan penerbangan khususnya potensi penularan di dalam kabin pesawat merupakan masalah yang harus diteliti dan ditanggulangi secepatnya. Kabin pesawat merupakan sebuah lingkungan tertutup berventilasi dengan kepadatan penumpang yang berdekatan satu sama lain, serta kondisi lingkungan yang hipobarik dengan kelembaban yang kering. Sebagian besar pesawat komersial mensirkulasi ulang sekitar setengah dari udara yang ada di dalam kabin pesawat untuk meningkatkan kontrol terhadap sirkulasi kabin, kelembaban, dan membantu efisiensi bahan bakar.
PERAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI KAMERA DI DALAM HIGIENE PENERBANGAN
amilya agustina;
Andyka BanyuSutrisno;
Ferdi Afian;
Dasti Anditiarina
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.264
Kondisi pandemi Covid19, membuat perubahan dalam dunia penerbangan saat ini, penggunaan teknologi kamera dapat diaplikasikan untuk tindakan preventif terjadinya penularan penyakit ketika seseorang melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang. Seperti diketahui, pada tahun 2006 lebih dari 2 juta penumpang melakukan perjalanan menggunakan pesawat komersil. Teknologi yang digunakan adalah kamera dalam surveilans penerbangan. Didalam dunia penerbangan teknologi ini digunakan guna meningkatkan efisiensi dan menekan biaya operasional. Penggunaan yang paling sering dilakukan adalah pada sistem keamanan pesawat serta pada proses perawatan pesawat karena sifatnya yang tidak merusak material. Selain itu penggunaan kamera radiasi inframerah juga dapat digunakan pada sistem pengawasan didarat (bandara). Penggunaan kamera radiasi inframerah yang paling sering dilakukan dibandara adalah untuk mengecek suhu calon penumpang yang akan melakukan perjalanan.
PERJALANAN DENGAN PESAWAT UDARA PADA PANDEMI PENYAKIT TRANSMISI PERNAFASAN
Retno Wibawanti;
Maria Sri Kristina;
Ferdi Afian;
Dasti Anditiarina
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.267
Industri penerbangan bekerja sama dengan pihak pemerintahan setempat dan otoritas kesehatan masyarakat bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan potensi risiko kesehatan masyarakat secara tepat dan sesuai. Bagi orang yang akan bepergian dapat melaksanakan tanggung jawabnya untuk membantu meminimalkan risiko penularan penyakit dengan menunda atau menghindari bepergian, terutama bagi orang yang sakit, lanjut usia, orang dengan penyakit kronis atau penyakit dasar lainnya. Orang dengan penyakit menular yang aktif tidak boleh bepergian melalui udara. Maskapai penerbangan juga dapat menolak penumpang naik pesawat bila diduga mempunyai penyakit infeksius yang menular.
PENGALAMAN PENGGUNAAN NAPZAH SUNTIK DALAM PEMANFAATAN LAYANAN VCT DI PUSKESMAS KABUPATEN LOMBOK TIMUR
Dany Karmila
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.304
Latar belakang dan tujuan: Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan suatu layanan untuk pencegahan HIV-AIDS yang bersifat sukarela. Namun, pemanfaatan secara langsung ke layanan VCT oleh pengguna napza suntik di Kabupaten Lombok Timur tergolong masih kurang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui secara mendalam pengalaman pengguna napza suntik dalam pemanfaatan layanan VCT di Puskesmas Kabupaten Lombok Timur - NTB. Metode: Rancangan kualitatif dimana data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam kepada 7 partisipan di Kabupaten Lombok Timur NTB. Partisipan dipilih secara purposive yang terdiri dari 5 orang penasun HIV negatif yang melakukan VCT ulang, 1 petugas LSM dan 1 penjangkau lapangan. Data dianalisis dengan pendekatan induktif dan disajikan secara naratif. Hasil: Berdasarkan hasil wawancara mendalam didapatkan bahwa pengalaman partisipan dalam pemanfaatan layanan VCT secara langsung masih kurang. 5 partisipan HIV negatif yang melakukan VCT ulang memanfaatkan layanan secara mobile VCT. Hal ini disebabkan partisipan masih merasa risih diperhatikan orang karena layanan VCT masih menggunakan labeling di luar ruangan sehingga partisipan malu untuk masuk ke ruangan tersebut. Simpulan: Pengalaman partisipan dalam memanfaatkan layanan secara langsung masih kurang dikarenakan partisipan merasa risih diperhatikan orang karena layanan VCT masih menggunakan labeling di luar ruangan di gedung puskesmas sehingga partisipan malu untuk masuk ke ruangan tersebut. sehingga diperlukan adanya kerjasama instansi kesehatan swasta, kader serta kelurahan untuk meningkatkan pemanfaatan layanan.
EFEKTIVITAS EKTRAK DAUN BUNI (Antidesma Bunius L) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Salmonella typhi
sabariah sabariah;
Herlinawati Herlinawati
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.308
daun buni (Atidesma bunius) adalah Salah satu tumbuhan yang bermanfaat untuk pengobatan tradisioal. Penelitian ini dilakukan Untuk mengetahui daya hambat ekstrak etanol daun buni (Antidesma bunius) terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typi dengan metode eksperimen murni. Pada. Dimana perlakuan yang diberikan adalah penambahan ekstrak etanol 70% dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%, 40% kemudian dibandingkan dengan klorampenikol sebagai kontrol positif dan aquadest sebagai kontrol negative. Ekstrak etanol 70% daun buni (Antisdema bunius L) dengan konsentrasi (5%=13mm), (10%=14mm), (20%=15mm) dan (40%=17mm). dengan nilai statistik (5%=12,75), (10%=14,25), (20%=14,75), (40%=17,25), memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Salmonella typhi dengan jumlah rata-rata 15 mm, Sehingga ekstrak daun buni (Antisdema bunius L) memiliki perbedaan daya hambat yang dapat dilihat dari jumlah nilai rata-rata sebanyak 15 mm.
DETEKSI MUTASI GEN Emb SEBAGAI SIFAT RESISTENSI PRIMER FIRST LINE ORAL AGENTS ETHAMBUTOL PADA PASIEN TB PARU BTA + DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAB. LOMBOK TIMUR
fachrudi hanafi;
sugijati sugijati;
Dewi Utary
JURNAL KEDOKTERAN Vol 6 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36679/kedokteran.v6i1.258
Latar belakang : Ethambutol termasuk obat lini pertama pengobatan TB yang berkhasiat spesifik terhadap mycobakteri dan tidak terhadap bakteri-bakteri lain. Bukti–bukti genetik menunjukkan bahwa mutasi gen Emb, merupakan penyebab kekebalan Etambutol, dengan persentase mutasi gen Emb sebesar 60% - 70%. Data dari RS Persahabatan tahun 1993 menunjukkan resistensi Mycobacterium tuberculosis terhadap Etambutol adalah 7,7%, sedangkan penelitian di provinsi DKI, Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan berkisar antara 11,9% dan 15,6%. Hasil penelitian Syaifudin menemukan sifat resistensi Etambutol berdasarkan mutasi gen Emb menggunakan metode SSCP radioaktif didapatkan 7,1%. Selain itu hasil penelitian pola kepekaan kuman M.tuberculosis terhadap OAT menggunakan teknik PCR dari sampel dahak dan pleura penderita TB di RSU Provinsi NTB diperkirakan telah mengalami resistensi terhadap ethambuthol sebesar 29,4%. Frekuensi dan jenis mutasi pada gen Emb juga spesifik karena perbedaan geografis sehingga sangat perlu dilakukan pemeriksaan sifat resistensi gen Emb pada setiap daerah.Tujuan penelitian : mendeteksi adanya mutasi gen Emb Mycobacterium tuberculosis sebagai sifat resistensi primer first line oral agents ethambutol pada penderita TB paru dengan BTA + yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Lombok Timur.Metode : Penelitian ini bersifat observasional deskritif yaitu mendeteksi adanya mutasi gen Emb M. tuberculosis. Tempat penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Lombok Timur. Metode yang digunakan dalam mendeteksi adanya mutasi gen Emb adalah menggunakan teknik PCR dan dilanjutkan dengan nested PCR. Variabel penelitian adalah sputum penderita TB paru baru dengan BTA +.Hasil : Dari hasil pengumpulan data didapatkan sebanyak 50 sampel sputum BTA +. Dari pemeriksaan dengan PCR diagnostik Tb1 dan Tb2, semua sampel dinyatakan + (100%) mengandung M. tuberculosis. Setelah dilakukan pemeriksaan PCR kemudian dilanjutkan dengan analisis nested PCR dan hasilnya membuktikan telah terjadi mutasi pada daerah komplementer primer yang merupakan target gen Emb M. tuberculosis dan didapatkan sebanyak 5 sampel (10%) yang dinyatakan resisten atau terjadi mutasi sedangkan sisanya 45 sampel (90%) masih sensitif atau tidak terjadi mutasi. Lima sampel tersebut berasal dari Puskesmas Wanasaba (2), Terara (1), Denggen (1) dan Lepak (1).Kesimpulan : telah terjadi resistensi primer first line oral agents ethambutol pada beberapa penderita TB paru dengan BTA + di wilayah kerja Puskesmas Kabupaten Lombok Timur.