cover
Contact Name
Hasrul Hadi, M.Pd.
Contact Email
hasrulhadi299@gmail.com
Phone
+6281997905824
Journal Mail Official
geodikajurnal@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Pendidika Geografi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi, Universitas Hamzanwadi Jln.TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Madjid No.132 Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. 83612
Location
Kab. lombok timur,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi
Published by Universitas Hamzanwadi
ISSN : -     EISSN : 25491830     DOI : ttp://dx.doi.org/10.29408/geodika
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi merupakan jurnal yang mempublikasikan artikel ilmiah dengan cakupan hasil penelitian geografi bidang pendidikan dan pembelajaran, sistem informasi geografi dan penginderaan jauh, kependudukan, pengembangan wilayah, kebencanaan serta pengelolaan lingkungan.
Articles 252 Documents
PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 UNTUK IDENTIFIKASI SEBARAN KERAPATAN VEGETASI DI PANGANDARAN Wahrudin, Udin; Atikah, Siti; Habibah, Athiyyah Al; Paramita, Qorry Pradnya; Tampubolon, Hilman; Sugandi, Dede; Ridwana, Riki
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerapatan vegetasi merupakan presentase suatu spesies vegetasi atau tumbuhan yang hidup di suatu luasan tertentu. Kerapatan vegetasi salah satunya dapat diketahui dengan menggunakan teknik NDVI. Teknik yang dapat digunakan untuk keperluan menganalisis vegetasi. Informasi data kerapatan vegetasi, luas lahan, dan keadaan dilapangan dapat dideteksi dari penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hasil identifikasi kerapatan vegetasi daerah Kabupaten Pangandaran menggunakan metode klasifikasi terbimbing minimum distance dan menguji hasil interpretasinya menggunakan confussion matrix. Salah satu manfaat informasi data kerapatan vegetasi ini ialah dapat memberikan gambaran mengenai ketersediaan ruang terbuka di Kabupaten Pangandaran. Klasifikasi kerapatan vegetasi pada citra Landsat 8 dengan kombinasi RGB 753 menghasilkan warna ungu dengan yang berarti sangat rapat, oranye yang berarti rapat, kuning yang berarti cukup rapat, hijau dengan vegetasi jarang, dan biru yang berarti vegetasi sangat jarang. Total hasil akurasi pada confussion matriks bernilai 64% yang  berarti tingkat akurasi peta cukup rendah karena biasanya nilai yang diterima dan diharapkan itu lebih dari 85%.Hal ini dikarenakan oleh keadaan di lapangan yang dinamis karena sebagian besar kerapatan vegetasi di lapangan berkurang akibat pengalihfungsian lahan. 
PEMANFAATAN CITRA LANDSAT 8 UNTUK IDENTIFIKASI SEBARAN KERAPATAN VEGETASI DI PANGANDARAN Wahrudin, Udin; Atikah, Siti; Habibah, Athiyyah Al; Paramita, Qorry Pradnya; Tampubolon, Hilman; Sugandi, Dede; Ridwana, Riki
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerapatan vegetasi merupakan presentase suatu spesies vegetasi atau tumbuhan yang hidup di suatu luasan tertentu. Kerapatan vegetasi salah satunya dapat diketahui dengan menggunakan teknik NDVI. Teknik yang dapat digunakan untuk keperluan menganalisis vegetasi. Informasi data kerapatan vegetasi, luas lahan, dan keadaan dilapangan dapat dideteksi dari penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hasil identifikasi kerapatan vegetasi daerah Kabupaten Pangandaran menggunakan metode klasifikasi terbimbing minimum distance dan menguji hasil interpretasinya menggunakan confussion matrix. Salah satu manfaat informasi data kerapatan vegetasi ini ialah dapat memberikan gambaran mengenai ketersediaan ruang terbuka di Kabupaten Pangandaran. Klasifikasi kerapatan vegetasi pada citra Landsat 8 dengan kombinasi RGB 753 menghasilkan warna ungu dengan yang berarti sangat rapat, oranye yang berarti rapat, kuning yang berarti cukup rapat, hijau dengan vegetasi jarang, dan biru yang berarti vegetasi sangat jarang. Total hasil akurasi pada confussion matriks bernilai 64% yang  berarti tingkat akurasi peta cukup rendah karena biasanya nilai yang diterima dan diharapkan itu lebih dari 85%.Hal ini dikarenakan oleh keadaan di lapangan yang dinamis karena sebagian besar kerapatan vegetasi di lapangan berkurang akibat pengalihfungsian lahan. 
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN BAMBU SECARA HIDROLOGIS, EKONOMIS, SOSIAL DAN PERTAHANAN Mainaki, Revi; Maliki, Rendra Zainal
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman sumberdaya hayati yang relatif tinggi. Salah satu sumberdaya hayati tersebut, adalah bambu. Keberadaan tanaman bambu di Asia termasuk Indonesia banyak dimanfaatkan ruas, buluh, pelepah, warna dan tingginya untuk berbagai keperluan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pemanfaatan keanekaragaman bambu secara hidrologis, ekonomis, sosial dan pertahanan di masyarakat, sebagai salah satu solusi alternatif pemanfaatan sumberdaya hayati di Indonesia. Jenis data yang digunakan adalah data literatur berupa hasil karya tulis ilmiah atau hasil penelitian yang relevan. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: 1) fungsi hidrologis bambu memberikan manfaat langsung sebagai tanaman konservasi mengurangi terjadinya erosi, penahan terjadinya longsor, penutup lahan yang baik untuk daerah tangkapan air, sedangkan secara tidak langsung sebagai penunjang kebutuhan air penduduk seperti untuk pipa, saluran dan tempat air; 2) fungsi ekonomi bambu membantu menunjang kebutuhan manusia, menambah pendapatan dan membuka kesempatan perekonomian baru seperti sebagai bahan konstruksi bangunan, anyaman, tulang beton, tali, alat sambung, atap, lantai dan jembatan; 3) Fungsi sosial dari bambu adalah memicu aktivitas sosial antar individu atau kelompok masyarakat, seperti pemanfaatan bambu untuk alat musik, obat tetes mata, alat pancing, tempat pembibitan, rakit dan pipa rokok; dan 4) Fungsi pertahanan bambu sendiri erat kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia terutama sebagai senjata dalam melawan penjajah, selain itu fungsi pertahanan bambu sendiri yakni sebagai medan pertahanan dan pagar hidup maupun buatan.
PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN BAMBU SECARA HIDROLOGIS, EKONOMIS, SOSIAL DAN PERTAHANAN Mainaki, Revi; Maliki, Rendra Zainal
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman sumberdaya hayati yang relatif tinggi. Salah satu sumberdaya hayati tersebut, adalah bambu. Keberadaan tanaman bambu di Asia termasuk Indonesia banyak dimanfaatkan ruas, buluh, pelepah, warna dan tingginya untuk berbagai keperluan. Penulisan artikel ini bertujuan untuk menjelaskan pemanfaatan keanekaragaman bambu secara hidrologis, ekonomis, sosial dan pertahanan di masyarakat, sebagai salah satu solusi alternatif pemanfaatan sumberdaya hayati di Indonesia. Jenis data yang digunakan adalah data literatur berupa hasil karya tulis ilmiah atau hasil penelitian yang relevan. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: 1) fungsi hidrologis bambu memberikan manfaat langsung sebagai tanaman konservasi mengurangi terjadinya erosi, penahan terjadinya longsor, penutup lahan yang baik untuk daerah tangkapan air, sedangkan secara tidak langsung sebagai penunjang kebutuhan air penduduk seperti untuk pipa, saluran dan tempat air; 2) fungsi ekonomi bambu membantu menunjang kebutuhan manusia, menambah pendapatan dan membuka kesempatan perekonomian baru seperti sebagai bahan konstruksi bangunan, anyaman, tulang beton, tali, alat sambung, atap, lantai dan jembatan; 3) Fungsi sosial dari bambu adalah memicu aktivitas sosial antar individu atau kelompok masyarakat, seperti pemanfaatan bambu untuk alat musik, obat tetes mata, alat pancing, tempat pembibitan, rakit dan pipa rokok; dan 4) Fungsi pertahanan bambu sendiri erat kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia terutama sebagai senjata dalam melawan penjajah, selain itu fungsi pertahanan bambu sendiri yakni sebagai medan pertahanan dan pagar hidup maupun buatan.
ANALISIS TINGKAT KESIAPAN GURU DALAM MENERAPKAN MATERI KEBENCANAAN PADA PROSES PEMBELAJARAN DI KABUPATEN KLATEN Palupi, Hastari Setyo; Masution, Mikko Wahyu; Rida, Putri Ainur; Meliyani, Meliyani
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai bencana di Indonesia sebagian besar terkait dengan proses geologi seperti gempabumi, vulkanisme, dan tsunami. Dilihat dari letak dan kondisi fisiknya, Indonesia merupakan negara yang memiliki risiko tinggi terjadinya bencana. Dengan maraknya bencana yang terjadi di Indonesia, maka tidak sedikit korban jiwa yang ditimbulkan, termasuk dari kalangan anak-anak usia sekolah. Oleh sebab itu, diperlukan kesiapan guru dalam menerapkan materi kebencanaan pada proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui tingkat kesiapan guru dalam menerapkan materi kebencanaan di sekolah dan mengetahui pengaruh tingkat pendidikan serta umur guru dalam menerapkan materi kebencanaan di sekolah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan kuesioner. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kesiapan guru dalam menerapkan materi kebencanaan di sekolah berada pada kategori tinggi, dibuktikan dengan angka persentase sebesar 72% dari keseluruhan populasi penelitian.
ANALISIS TINGKAT KESIAPAN GURU DALAM MENERAPKAN MATERI KEBENCANAAN PADA PROSES PEMBELAJARAN DI KABUPATEN KLATEN Palupi, Hastari Setyo; Masution, Mikko Wahyu; Rida, Putri Ainur; Meliyani, Meliyani
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 3, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai bencana di Indonesia sebagian besar terkait dengan proses geologi seperti gempabumi, vulkanisme, dan tsunami. Dilihat dari letak dan kondisi fisiknya, Indonesia merupakan negara yang memiliki risiko tinggi terjadinya bencana. Dengan maraknya bencana yang terjadi di Indonesia, maka tidak sedikit korban jiwa yang ditimbulkan, termasuk dari kalangan anak-anak usia sekolah. Oleh sebab itu, diperlukan kesiapan guru dalam menerapkan materi kebencanaan pada proses pembelajaran. Tujuan dari penelitian ini ialah mengetahui tingkat kesiapan guru dalam menerapkan materi kebencanaan di sekolah dan mengetahui pengaruh tingkat pendidikan serta umur guru dalam menerapkan materi kebencanaan di sekolah. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan kuesioner. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kesiapan guru dalam menerapkan materi kebencanaan di sekolah berada pada kategori tinggi, dibuktikan dengan angka persentase sebesar 72% dari keseluruhan populasi penelitian.
PENGELOLAAN SAMPAH DI SEPANJANG SEMPADAN SUNGAI KELURAHAN PANCOR DAN KELURAHAN SEKARTEJA Huda, M. Akhirudin Nurul; Hadi, Hasrul; Subhani, Armin
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengelolaan sampah di sepanjang sempadan sungai kelurahan Pancor dan Sekarteja. Penentuan sumber data dilakukan dengan purposive sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu misalnya pada orang yang dianggap penting dan tahu tentang permasalahan dan pengelolaan sampah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis dengan pendekatan deskriftif kualitatif. Selanjutnya untuk menguji tingkat keabsahan data dilakukan dengan cara cek silang (triangulasi) terutama triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gambaran pengelolaan sampah di sepanjang sempadan sungai dilakukan dengan tujuh tahapan yaitu: 1) adanya bangkitan sampah; 2) pewadahan; 3) pembuangan sampah langsung ke sungai, lahan kosong, dan lahan tungku pembakaran; 4) pengumpulan; 5) membakar sampah di halaman rumah atau di pinggir jalan; 6) proses transportasi oleh petugas ke tempat pembuangan akhir dan 7) pemerosesan akhir (controlled landfill). Dengan demikian dapat diketahui bahwa masyarakat hanya mengumpulkan sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka seperti lahan kosong, serta beberapa titik di sekitar sempadan sungai. Selain itu ada pula yang mengumpulkannya pada tempat pembuangan sampah sementara  yang kemudian diangkut lagi menuju ke tempat pembuangan akhir.
PENGELOLAAN SAMPAH DI SEPANJANG SEMPADAN SUNGAI KELURAHAN PANCOR DAN KELURAHAN SEKARTEJA Huda, M. Akhirudin Nurul; Hadi, Hasrul; Subhani, Armin
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengelolaan sampah di sepanjang sempadan sungai kelurahan Pancor dan Sekarteja. Penentuan sumber data dilakukan dengan purposive sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu misalnya pada orang yang dianggap penting dan tahu tentang permasalahan dan pengelolaan sampah. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dalam penelitian ini dianalisis dengan pendekatan deskriftif kualitatif. Selanjutnya untuk menguji tingkat keabsahan data dilakukan dengan cara cek silang (triangulasi) terutama triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gambaran pengelolaan sampah di sepanjang sempadan sungai dilakukan dengan tujuh tahapan yaitu: 1) adanya bangkitan sampah; 2) pewadahan; 3) pembuangan sampah langsung ke sungai, lahan kosong, dan lahan tungku pembakaran; 4) pengumpulan; 5) membakar sampah di halaman rumah atau di pinggir jalan; 6) proses transportasi oleh petugas ke tempat pembuangan akhir dan 7) pemerosesan akhir (controlled landfill). Dengan demikian dapat diketahui bahwa masyarakat hanya mengumpulkan sampah di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka seperti lahan kosong, serta beberapa titik di sekitar sempadan sungai. Selain itu ada pula yang mengumpulkannya pada tempat pembuangan sampah sementara  yang kemudian diangkut lagi menuju ke tempat pembuangan akhir.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES KEMAMPUAN BERPIKIR SPASIAL BAGI SISWA SMA Aliman, Muhammad; Mutia, Tuti; Halek, Dahri Hi; Hasanah, Rafika; Muhammad, Hujairah Hi
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompetensi yang harus dimiliki siswa SMA yang mempelajari geografi adalah kemampuan dalam berpikir tentang keruangan (Spatial Thinking). Kemampuan ini digunakan sebagai modal menghadapi persaingan global pada masa revolusi industry 4.0. Mengetahui kemampuan berpikir spasial siswa membutuhkan instrumen yang mampu mengukur secara detail kemampuan yang dimiliki siswa SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas soal: realibilitas, daya beda butir soal, tingkat kesukaran dan korelasi antar butir soal kemampuan berpikir spasial siswa SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang dianalisis dengan software ANATES. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil: instrumen tes kemampuan berpikir spasial ini dapat digunakan secara maksimal karena daya pembeda soal dan tingkat kesukaran soal berfungsi dengan baik. Namun, kemampuan instrumen dalam membedakan tingkat kemampuan berpikir spasial antar siswa belum maksimal berfungsi dengan baik. Diperlukan pengembangan lebih lanjut dalam mengujicobakan instrumen ini sehingga mampu mengukur secara rinci kemampuan berpikir spasial siswa SMA.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES KEMAMPUAN BERPIKIR SPASIAL BAGI SISWA SMA Aliman, Muhammad; Mutia, Tuti; Halek, Dahri Hi; Hasanah, Rafika; Muhammad, Hujairah Hi
Geodika: Jurnal Kajian Ilmu dan Pendidikan Geografi Vol 4, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompetensi yang harus dimiliki siswa SMA yang mempelajari geografi adalah kemampuan dalam berpikir tentang keruangan (Spatial Thinking). Kemampuan ini digunakan sebagai modal menghadapi persaingan global pada masa revolusi industry 4.0. Mengetahui kemampuan berpikir spasial siswa membutuhkan instrumen yang mampu mengukur secara detail kemampuan yang dimiliki siswa SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas soal: realibilitas, daya beda butir soal, tingkat kesukaran dan korelasi antar butir soal kemampuan berpikir spasial siswa SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang dianalisis dengan software ANATES. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil: instrumen tes kemampuan berpikir spasial ini dapat digunakan secara maksimal karena daya pembeda soal dan tingkat kesukaran soal berfungsi dengan baik. Namun, kemampuan instrumen dalam membedakan tingkat kemampuan berpikir spasial antar siswa belum maksimal berfungsi dengan baik. Diperlukan pengembangan lebih lanjut dalam mengujicobakan instrumen ini sehingga mampu mengukur secara rinci kemampuan berpikir spasial siswa SMA.

Page 5 of 26 | Total Record : 252