cover
Contact Name
Rois Leonard Arios
Contact Email
rolear72@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Raya Belimbing No. 16 A Kuranji Padang, Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
ISSN : 25026798     EISSN : 25026798     DOI : https://doi.org/10.36424/jpsb
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Penelitian Sejarah dan budaya memfokuskan pada isu sentral memuat hasil penelitian maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan kesejarahan dan nilai budaya yang dilakukan oleh peneliti, penulis lepas, akademisi, dan pemerhati kebudayaan. Terbit 2 kali setahun (Mei dan Nopember) oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2015)" : 8 Documents clear
PERANAN SELAT BANGKA SEBAGAI PINTU GERBANG DUNIA MARITIM KOTA PALEMBANG zusneli zubir
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.028 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.92

Abstract

In this paper there are several objectives tobe assessed, first described acondition of a water, in the Bangka Strait which then become the main reference maritime gate of a city, in this case thecity of  that existinthese waters as the main maritime gate way cities described his past through literature references. Second, analyze and synthesize the role of awater, with all the Bangka Strait role as the main door ofthe maritime world by looking at Palembang important role between the time from time to time any authority in the city Palembang. Third, formulate how the waters of the Strait of Bangka controlled and controlled from a region that is in the hinter land city of Palembang so that it looks the main interest will mastery of these waters as the world’s main maritime gate way Palembang becomes central. This paper is astudy of the history of the study of the past, particularly the Bangka Strait as a maritime gateway city of Palembang.As the study of history, the method usedis the historical method, which includes stages in historical method, consists of four stages, namely heuristic, criticism, interpretation and historiography. Based on the study italthough far from the ocean, the city of Palembang in every time and a power that stood there, unable to control the oceans as a maritime powerby empowering the Bangka Straitas the main maritime gate way. The ability to control this can be attributed to the excellent Palembang can utilize the natural conditions that lie Bangka Strait that separates mainland Sumatra island to the mainland island of Bangka very well and right. Bangka Strait referenced and compass every ship that goes from the sea and out to sea. Further more, any ruler in Palembang able to build to build the maritime world in Palembang by making the Bangka Straitas the main gate way to connectinter-city trade, both from China and India in his past, as well as Batavia and Singapore in the next period.The rulers in Palembangwith elegant able to perform the control of politically appropriate and correct over the world which originated from the vast ocean waters of the Strait of Bangka.The control followed by the utilization of natural resources in the region into an economic power but also the power of culture tomake theBangka Strait to become a gate way to the city of Palembang, so the Bangka Strait role as the main gate way to maximum.
SEJARAH DAN KEBUDAYAAN KERAJAAN ALAM SURAMBI SUNGAI PAGU, SOLOK SELATAN Firdaus Firdaus
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.613 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.88

Abstract

Menyangkut pemekaran wilayah di Indonesia pasca bergulirnya Otonomi Daerah, pada mulanya menjadi isu yang menggiurkan. Dengan pemekaran wilayah, kesejahteraan termasuk pelayanan publik, maupun kedaulatan rakyat dicita-citakan makin mudah dicapai. Akan tetapi, setelah sejumlah daerah dimekarkan, mulai bermunculan asumsi yang menyatakan keprihatinan terhadap masalah-masalah yang menyertai pemekaran tersebut. Bahkan pemekaran “nagari Minang” wilayah basis terendah dalam hirarkhi pemerintahan Minang ternyata lebih meresahkan, karena besar kemungkinan “meninggalkan bom waktu bagi anak cucu”. Oleh karenanya pemekaran juga menginginkan penggalian kembali khazanah lokal yang hilang (mambangkik batang tarandam). Penelitian ini bertujuan untuk menggali sejarah dankebudayaan Alam Surambi Sungai Pagu dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Dari studi ini, banyak butir dan norm serta filosofi sejarah dan kebudayaan masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu ini yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai dasar dan potensi dasar sekaligus menjadi motivator dasar bagi pembangunan daerah ini.
MAIRIAK : Tradisi Masa Panen Padi di Minangkabau Refisrul Refisrul
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.935 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.93

Abstract

Mairiak merupakan aktifitas memisahkan bulir padi dari tangkainya dengan menggunakan kaki (manusia). Mairiak ini menjadi cara yang lazim dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dahulunya, ketika memanen padi disawahnya dan dikerjakan secara bersama kerabat. Setiap orang berkewajiban membantu ketika salah satu keluarganya punya hajat mairiak, dan begitupun ketika dia punya hajat yang sama, keluarga itu akan ikut berpartisipasi. Hal itu menunjukkan bahwa tradisi mairiak padamasyarakat Minangkabau pada hakikatnya tidak semata-mata aktifitas bersama ketika memanen padi, tetapi juga mengandung kesetiakawanan sosial dalam masyarakat Minangkabau, karena semakin mendekatkan hubungan sosial dalam suatu kerabat dan masyarakat sekitartnya. Kajian/penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang keberadaan tradisi mairiak pada masyarakat Minangkabau dan fungsi sosial budaya yang dikandungnya. Kajian tentang tradisi mairiak ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, yang biasa dilakukan dalam penelitian kebudayaan (antropologis). Pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui studi kepustakaan (literature), wawancara(interview) dan pengamatan (observation). Dari pengkajian itu, diketahui bahwa tradisi mairiak telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat Minangkabau sejak dahulu dan menjadi tradisi khas masyarakatMinangkabau pada masa panen padi. Pada hakikatnya, kebersamaan atau kesetiakawanan sosial itu tidak saja pada masa panen melainkan juga ketika mulai “kesawah” yang dibantu oleh kaum kerabat. Hanya saja, tradisi ini mulai ditinggalkan ketika digalakkannya modernisasi di bidang pertanian oleh pemerintah pada dekade 1980-an, bahkan sekarang tidak diketahui lagi oleh generasi muda Minangkabau. Tradisi mairiak sebagai aktifitas budaya masyarakat Minangkabau ketika masa panen padi telah menjadi kenangan masa lampau bahwa orang Minangkabau dahulu punya tradisi memanen padi yang juga menjadi wahana perkuatan hubungan social ditengah masyarakatnya. Dapat dikatakan, tradisi mairiakmerupakan cerminan adanya pertukaran sosial dalam kehidupan masyarakat Minangkabau sejak dahulu.
MODAL SOSIAL MASYARAKAT NAGARI SIJUNJUNG DALAM BATOBO KONSI Silvia Devi
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.54 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.87

Abstract

Modal social dimiliki dalam setiap kelompok masyarakat. Modal social terbentuk dari adanya nilainilai dan norma-norma yang dianut dan dipatuhi dalam suatu kelompok masyarakat yang memiliki tujan hidup yang lebih baik yang menjadi acuan dalam bersikap, bertindak dan bertingkahlaku dengandasar kepercayaan.Tujuan penelitian ini adalah melihat bagaimanat obokons isebagai salah satu organisas itradisional yang memiliki modal social bersifat gotong royong dalam masyarakat Nagari Sijunjung yang utamanya bergerak di bidang pertanian, akan tetapi berkembang tidak hanya bidang ekonomi,melainkan social dan budaya. Penelitian ini menggunakakan metode observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan tobo kons isangat efektif dan membantu dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan semakin eksisnya tobo konsi dengan semakin banyaknya anggota dalam setiap tobo yang ada di Nagari Sijunjung.
KESEPAKATAN GUNUNG MEDAN : Wahana Adaptasi dan Pembauran di Pulau Punjung dan Koto Baru Efrianto. A Efrianto. A
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.842 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.89

Abstract

Pulau Punjung dan Koto Baru merupakan nama kecamatan di Sumatera Barat yang telah berkembang dari 2 (dua) kecamatan menjadi 11 (sebelas) kecamatan. Saat ini kawasan ini telah menjadi nama sebuah kabupaten yaitu Kabupaten Dharmasraya. Perkembangan ini bisa diwujudkan karena proses adaptasi dan pembauran antara masyarakat di kawasan ini berlangsung dengan baik. Untuk menjelaskan fenomena tersebut dilakukan pendekatan kualitatif dengan wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat Pulau Punjung dan Koto Baru baik dari unsur transmigran dan penduduk lokal kenapa adaptasi bisa berlangsung dengan baik. Pemerintah sebagai pelaksana program transmigrasi telah melakukan berbagai cara, salah satu cara yang mereka lakukan adalah melakukan pendekatan musyawarah antara pemerintah dan tokoh masyarakat. Musyawarah menghasilkan kesepakatan,kesepakatan ini merupakan sebuah wahana yang mempermudah terjadi adaptasi dan pembauran di kawasan ini. Kesepakatan ini dilaksanakan oleh pemerintah terutama dalam aspek kesamaan agama,sehingga perbedaan yang mereka miliki bisa teratasi.
MANAJEMEN KONFLIK DALAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT DI MIMIKA PAPUA Witrianto Witrianto
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.168 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.94

Abstract

Kegiatan pembangunan nasional suatu bangsa, secara teoritis merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan internasional akan menumbuhkan apa yang lazim disebut dengan global governance.Oleh karena itu, persoalan-persoalan ekonomi dan politik semakin sukar dipecahkan dalam bingkai atau pola pikir negara-bangsa (nation-state). Persoalan-persoalan ekonomi dan politik yang dihadapi oleh suatu negara bukan hanya menjadi milik atau menjadi beban tanggungan negara itu sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari persoalan-persoalan ekonomi dan politik negara-negara lain. Persoalanpersoalan tersebut menjadi bersifat internasional atau berskala global, kendati tumbuh dan berkembangdi tingkat lokal. PT Freeport Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Mimika Papua merupakan salah satu proyek pembangunan yang tidak disetujui oleh masyarakat. Ketidaksetujuan masyarakat ini antara lain dipicu oleh dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek penambangan ini dan manfaat ekonomi yang tidak terlalu dirasakan oleh penduduk asli karena proyek ini lebih menggunakan tenaga kerja dari penduduk pendatang sehingga menimbulkan rasa tidak puas di kalangan penduduk asli yangkemudian memicu terjadinya konflik antara penduduk asli dengan penduduk pendatang.
PERSEKUTUAN LIMA AJATAPPARENG DI SULAWESI SELATAN ABAD KE-16 Muhammad Amir
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.631 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.90

Abstract

Artikel ini bertujuan mengungkap dan menjelaskan latar belakang, proses pembentukan, dan dinamika persekutuan Lima Ajatappareng. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yang menjelaskan suatu persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa persekutuan ini dibentuk dalam rangka menjalin kerjasama antarkerajaan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman di wilayah Ajatappareng. Pembentukan ini bukan hanya dilatari oleh meningkatnyapersaingan antarkerajaan dalam mengontrol perdagangan dan lahan pertanian, melainkan juga karena terjadinya penurunan ekspor seiring dengan meningkatnya permintaan luar atas barang-barang dari wilayah Ajatappareng. Persekutuan ini bukan hanya semakin mengukuhkan kedudukan Suppa sebagai bandar niaga komoditi ekspor terutama beras, tetapi juga melapangkan terbangunnya kekuatan maritim yang tangguh dan berhasil menaklukkan sejumlah daerah pesisir di sepanjang pantai barat Sulawesi. Itulah sebabnya bandar niaga ini semakin ramai didatangi oleh pedagang, termasuk pedagang Melayu sehingga Ajatappareng memiliki kedudukan penting dalam perdagangan maritim pada abad ke-16. Selain itu, perjanjian yang mendasari terbentuknya persekutuan ini juga mengandung nilai persaudaraan, kesetaraan, kebersamaan, toleransi, persatuan dan kesatuan.
SEJARAH KOMANDEMEN SUMATERA DI PROVINSI SUMATERA BARAT (1945-1949) Undri Undri
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.383 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.91

Abstract

Tulisan ini ingin menjelaskan tentang sejarah komandamen Sumatera di Propinsi Sumatera Barat, mulai dari latarbelakang berdirinya, proses terbentuknya, perkembangan dan tentang akhir dari komandamen Sumatera tersebut. Pembentukan Komandemen Sumatera bisa dirunut dari kondisi bangsa Indonesia setelah merdeka. Setelah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) sebagai bagian dari BadanPertolongan Korban Perang. BKR bukan badan militer dan semata-mata semacam Hansip Wanra saja saat itu. Pada tanggal 5 Oktober 1945, B.K.R ini dengan maklumat Pemerintah no.6, telah ditransformasikan menjadi T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Isi maklumat untuk memperkuatperasaan keamanan umum, maka diadakan satu Tentara Keamanan Rakyat. Pada tanggal 6 Oktober 1945 keluar maklumat tambahan yaitu, sebagai menteri keamanan rakyat diangkat Soeprijadi.Komandemen Sumatera pindah ke Bukitinggi beberapa hari sebelum agresi Belanda pertama. Pada waktu ini yang seharusnya komandemen yang membentuk kesatuan-kesatuan, tetapi sekarang terbalik. Devisi lebih dahlu lahir dari komandemen. Laskar-laskar lebih dahulu lahir dari komandokomando.Pada waktu agresi militer Belanda II ini markas komandemen Sumatera di Bukittinggi pernah di bom oleh Belanda ketika para anggota Komandemen Sumatera sedang rapat. Seiring dengan kondisi ini pada tanggal 21 Desember 1947 Bukittinggi dibumihanguskan. Dengan kondisi inipun basikomandamen Sumatera di pindahkan ke Rao. Komandemen memilih Rao sebagai basis mengingat letak geografisnya dan mudah berhubungan dengan Tapanuli. Dari Rao ada jalan yang menuju ke Rokan, Pasir Pangarayan dan Bagansiapiapi langsung ke Selat Malaya dan Singapura.

Page 1 of 1 | Total Record : 8