cover
Contact Name
Rois Leonard Arios
Contact Email
rolear72@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Raya Belimbing No. 16 A Kuranji Padang, Sumatera Barat
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
ISSN : 25026798     EISSN : 25026798     DOI : https://doi.org/10.36424/jpsb
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal Penelitian Sejarah dan budaya memfokuskan pada isu sentral memuat hasil penelitian maupun kajian konseptual yang berkaitan dengan kesejarahan dan nilai budaya yang dilakukan oleh peneliti, penulis lepas, akademisi, dan pemerhati kebudayaan. Terbit 2 kali setahun (Mei dan Nopember) oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles 121 Documents
KEARIFAN LOKAL DALAM CERITA RAKYAT LUBUKLINGGAU PROVINSI SUMATERA SELATAN NFN Hasanadi
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 3, No 02 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.628 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v3i02.4

Abstract

This paper discusses the reflection of local wisdom within Lubuklinggau folklore of South SumatraProvince, namely the story of Linggau and Dayang Torek: the Origin of Lubuklinggau City, the story ofSilampari: the myth of the Ulak Lebar Kingdom, and the story of Bujang Kurap: Budiman, The PowerfulWanderer. By using hermeneutic approach, it is concluded that every expression contains local wisdomin the form of virtues and badness, reflected through theme, characterization and moral socio-culturemandate of Lubuklinggau community. The values of virtues are patience, learning determination,responsibility, responding evil with good deed, and prioritizing interests of society rather than personaland familial interests. Meanwhile, the evil attributes that must be avoided are arrogance, egoism,conspiracy in evil and uncontrolled emotion.
SEJARAH DAN KEBUDAYAAN KERAJAAN ALAM JAYO TANAH SINGIANG (Rantau nan-12 Koto Sangir, Solok Selatan) Firdaus Firdaus
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.699 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v2i2.69

Abstract

Tulisan ini membahas tentang sejarah dan kebudayaan Kerajaan Alam Jayo Tanah Singiang. Kajian ini menarik diungkapkan karena masyarakat Solok Selatan sekarang kurang mengenal Kerajaan Alam Jayo Tanah Singiang, mereka hanya mengenal Kecamatan Sangir. Setelah terbentuknya Kabupaten Solok Selatan malah pusat kabupaten terdapat di daerah kerajaan ini. Di samping itu masyarakat Rantau Nan-12 Koto Sangir kurang jelas asal usul mereka, apakah mereka berasal dari Pagaruyung atau dari Sungai Pagu. Setelah dilakukan penelitian dengan metode sosio-historis, maka dapat diketahui bahwa di wilayah Sangir sekarang pernah berdiri Kerajaan Alam Jayo Tanah Singiang yang berasal dari Pagaruyung, sementara masyarakat Rantau Nan-12 Koto Sangir ada juga yang berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu. Masyarakat Rantau Nan-12 Koto Sangir banyak meninggalkan kebudayaan yang dapat kita lihat sekarang, seperti sistim sosial, sistim ekonomi, sistim politik, sistim seni dan sistim religi. Sistim budaya yang terdapat di Rantau Nan-12 Koto Sangir ini sudah dipengaruhi oleh agama Islam, sehingga nuansa Islamnya lebih kental.
SEJARAH PERKEBUNAN DAN DAMPAKNYA BAGI PERKEMBANGAN MASYARAKAT DI ONDERAFDEELING BANJOEASIN EN KOEBOESTREKKEN, KERESIDENAN PALEMBANG, 1900-1942 zusneli zubir
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2652.253 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i1.109

Abstract

The purposeandobject ofthis paperisarelevancebetween the existence oflarge estates, Onderneming Europeandits impact on societyin Onderafdeeling Banjoeasinen Koeboestrekenthe colonial periodin1900-1942. The method usedin this studyis the historical method to reconstruct the history of the plantationand the implications forthe development of society in Onderafdeeling Banjoeasinen Koeboestrekken. Data collection techniques use drefersto the first stage in the history ofthe process of heuristic methods, finding and collecting historical sources. Data analysis techniques with regard to the second stage, third and fourth in the history covering methods of source criticism, and historiography interpretation. Based on the research results and conclusions, the opening rubber plantations in the colonial period Onder afdeeling Banjoeasinen Koeboe strekken highly correlated with the natural conditions of this area and also the political changeskonial, open the door. There are two big companies that invest heavily large plantations of rubber namely, first, Rubber Ondernemingen Melaniain 1909 the plantingand effort trubber massively from the east end of Marga Pangkalan Balai to the west endMarga Gasing and centered in Musi Landas. Secondly, plantation Oud Wassenaar, N.V. Oliepalmenen rubber Mijnsprawling in the gutter are as ranging northern Batang Hari Leko, Marga Rantau Bayur, toits northern Marga Suak Tape, Marga Betung and Tebenan area. The relevance of the opening of a large estate with acommunity in Onder afdeeling Banjoeasinen Koeboe strekkenseenin some ways. First, the change in the position of the local elite, the Pasirah, Kerio, others Marga council officials. Secondly, helped create the “repair” the public infrastructure facilities and infrastructures there. Third, encourage the development ofeconomic activity and providea tremendous impact in the dusun-dusun marga’s. Fourth, many builders connecting road for the purposes of transportation of rubber has abroad and profound impacton the pattern of a traditional society, not only for the Malays Banjoeasin, but also to aspects of the life of the Kubu’s Banjoeasin. They began the gradual assimilation are creating Kubu’s Banjoeasin with Malay Banjoeasin due to changes in the orientation of his thinking because it began opening their areas of influence of the outside world.
PENGOBATAN TRADISIONAL PADA MASYARAKAT KOTA PRABUMULIH PROPINSI SUMATERA SELATAN Rismadona Rismadona
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2398.17 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v4i2.65

Abstract

Tradisi pengobatan tradisional masyarakat Kota Prabumulih mempercayai pengobatan yang bersifat gaib. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang berupaya menggali alasan masyarakat mempercayai pengobatan tradisional melalui wawancara mendalam. Pengalaman, sikap, dan tindakanyang dilakukan masyarakat terhadap pengobatan tradisional juga mengalami pergeseran tentang tradisi kepercayaan pengobatan tradisional yang bersifat hal gaib.
PENGARUH EROPA TERHADAP ARSITEKTUR MASJID RAO RAO TANAH DATAR Syahrul Rahmat
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7355.386 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v4i1.99

Abstract

Masuknya Belanda ke pedalaman Minangkabau pada pertengahan abad IX M memberikan pengaruh terhadap tatanan kehidupan masyarakat, termasuk pengaruh dalam hal pola pikir. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari ide-ide yang kemudian diwujudkan ke dalam bentuk benda atau bangunan, salahsatunya adalah masjid Rao Rao. Pada dasarnya masjid merupakan bangunan sakral bagi umat Islam, akan tetapi dalam perkembangannya masjid tersebut mendapat pengaruh kebudayaan asing dari segi arsitektur bangunan. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan menggunakan pendekatan teori akulturasi guna melihat perpaduan dua kebudayaan pada masjid yang dibangun pada awal abad XX M. Beberapa pengaruh Eropa yang berakulturasi dalam masjid ini meliputi penggunaan material bangunan, unsur-unsur bangunan serta ornamen bangunan masjid.
PERSEKUTUAN LIMA AJATAPPARENG DI SULAWESI SELATAN ABAD KE-16 Muhammad Amir
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.631 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.90

Abstract

Artikel ini bertujuan mengungkap dan menjelaskan latar belakang, proses pembentukan, dan dinamika persekutuan Lima Ajatappareng. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yang menjelaskan suatu persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa persekutuan ini dibentuk dalam rangka menjalin kerjasama antarkerajaan untuk mewujudkan kesejahteraan dan ketenteraman di wilayah Ajatappareng. Pembentukan ini bukan hanya dilatari oleh meningkatnyapersaingan antarkerajaan dalam mengontrol perdagangan dan lahan pertanian, melainkan juga karena terjadinya penurunan ekspor seiring dengan meningkatnya permintaan luar atas barang-barang dari wilayah Ajatappareng. Persekutuan ini bukan hanya semakin mengukuhkan kedudukan Suppa sebagai bandar niaga komoditi ekspor terutama beras, tetapi juga melapangkan terbangunnya kekuatan maritim yang tangguh dan berhasil menaklukkan sejumlah daerah pesisir di sepanjang pantai barat Sulawesi. Itulah sebabnya bandar niaga ini semakin ramai didatangi oleh pedagang, termasuk pedagang Melayu sehingga Ajatappareng memiliki kedudukan penting dalam perdagangan maritim pada abad ke-16. Selain itu, perjanjian yang mendasari terbentuknya persekutuan ini juga mengandung nilai persaudaraan, kesetaraan, kebersamaan, toleransi, persatuan dan kesatuan.
PERKEMBANGAN LEMBAGA AGAMA ISLAM DI KOTAMADYA PONTIANAK PADA AKHIR ABAD KE 20 ajisman ajisman
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.487 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v2i1.77

Abstract

Artikel ini bertujuan mengungkapkan dan menjelskan masuk dan berkembangnya agama Islam serta perkembangan lembaga agama Islam. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yaitu menjelaskansuatu persoalan berdasarkan perspektif sejarah. Hasil kajian menunjukan, bahwa masuknya agama Islam di Kalimantan Barat atau Kotamadya Pontianak khususnya bukanlah dibawa oleh suatu badan khusus dibawah naungan organisasi Islam, melainkan hanya merupakan kegiatan perorangan, mengajarkan dan menyampaikan ajaran-ajaran (da’wah) yang dilakukan sambil berdagang. Daerah pesisir utara Kalimantan Barat yang membujur dari Selatan ke utara yang meliputi daerah-daaerah Ketapang, Sukadana, Matan, Mempawah dan Sambas merupakan daerah-daerah yang pertam kali mendapat pengaruh agama Islam. Perekembangan selanjutnya menyusuri Sungai Kapuas, Sungai Landak terus masuk sampai kedaerah pedalaman. Pembawa pengaruh agama Islam ini adalah para pendatang (pedagang) dari Sumatera Selatan (Palembang), Jawa bahkan dari Brunei dan juga orang-orang asing dengan melalui perdagangan dan tidak melalui misi organisasi keagamaan. Masuknya Islam di Kotamadya Pontianak bersamaan dengan berdirinya Masjid Sultan Abdurrahman atau kerajaan Pontianak. Kerajaan Pontianak didirikan pada tahun 1771 oleh Syarif Abdurrahman, putera Al-Habib Husein, seorang ulama besar yang menurut sejarahnya berasal dari penduduk Kota Trim Hadralmaut negeri Arab. Perkembangan agama Islam juga dapat dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan lembaga-lembaga pengembangan Islam seperti alim ulama, masjid atau musalla dan organisasi-organisasi pengembangan Islam lainya.
ZIARAH KUBRA DI PALEMBANG: ANTARA KESADARAN RELIGI DAN POTENSI EKONOMI Firdaus Marbun
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.238 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v3i1.114

Abstract

Bagi umat beragama di Indonesia, ziarah masih merupakan kegiatan penting yang hingga kini masih tetap dipertahankan. Berbagai motivasi yang menyertai seperti barokah dan perolehan biasanya menjadipendorong seseorang untuk melaksanakan kunjungan ke makam orang yang sudah meninggal. Bahkan tradisi ini kemudian berkembang untuk tujuan-tujuan yang lebih besar seperti mempertahankan identitasdan menjaga eksistensi keagamaan. Ziarah kubra adalah salah satu tradisi ziarah yang rutin dilaksanakan umat Islam di Palembang. Ziarah ini dilakukan setiap akhir bulan Sya’ban atau menjelang umat Islam berpuasa. Menariknya, tradisi ini diikuti ribuan peserta yang semuanya laki-laki dan tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Ziarah ini bahkan dijadikan sebagai even pariwisata yang masuk dalam kalender tahunan. Penelitian ini bertujuan mengungkap motivasi masyarakat Islam dalam mendorong perubahan ruahan menjadi ziarah kubra. Selain itu penelitian ini juga ingin mengungkap potensi ekonomi pasca penetapan ziarah kubra sebagai even pariwisata daerah yang rutin dilaksanakan.Dengan menggunakan metode kualitatif melalui observasi dan wawancara, penelitian ini menemukan bahwa selain memdapatkan barokah dan perolehan, emosi keagamaan berperan meningkatkan solidaritasmasyarakat muslim untuk mempertahankan makam dengan mengikuti ziarah rutin setiap tahun. Tradisi ini juga turut membantu ekonomi daerah dan berpotensi mendorong kesejahteraan masyarakat di masa yang akan datang khususnya dalam sektor pariwisata.
SEKOLAH ISLAM TERPADU DALAM SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA Ahmadi Lubis
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2433.545 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v4i2.60

Abstract

Kehadiran Sekolah Islam Terpadu dengan kurikulum integrasinya merupakan fenomena baru bentuk sistem pendidikan islam di Indonesia. Sampai akhir tahun 70-an sistem pendidikan Indonesia masihmemiliki corak dikotomik. Seiring bergulirnya Reformasi di tahun 80- an ada upaya dari sebagai kalangan mencoba keluar dari sistem yang ada dengan gagasan Sekolah Islam Terpadu. Penelitian ini di fokuskandalam rangka mengungkap bagaimana kehadiran Sekolah Islam Terpadu dalam sejarah pendidikan islam di Indonesia. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan diskriptif. Hasil dari penelitian inidiharapkan bermanfaat bagi siapa saja yang ingin mengetahui kehadiran Sekolah Islam Terpadu dalam sejarah pendidikan islam di Indonesia. Penelitian ini menemukan bahwa kehadiran Sekolah Islam Terpadu,dengan segala macam ragamnya, dalam sejarah pendidikan islam di Indonesia ini diprakarsai para aktifis pergerakan islam yang gelisah akan hasil lulusan sekolah di Indonesia. Dimana hasil lulusannya tidakmemiliki daya tahan yang kokoh terhadap arus dan virus globalisasi, disebabkan sistem pendidikan sekolah di Indonesia bersifat dikotomik, mengusai ilmu-ilmu duniawi tapi tidak memiliki semangat keagamaan yang kuat, rentan dengan pengaruh virus globalisasi, jauh dari nilai-nilai Islami. Kondisi ini dirasakan kurang baik bagi masa depan generasi muslim Indonesia. Maka, alternatif dan solusinya perlu melakukan rekonstruksi ulang sistem pendidikan yang ada dengan menggunakan sistem pendidikan Islam terpadu. Meskipun demikian, konsep terpadu ini sudah ada sebelumnya. Jauh sebelum gagasan sekolah islam dengan slogan terpadu ini muncul sudah ada Adabiyah school, Diniyah school, DiniyahPutri dan Normal Islam di Sumatra Barat, dan pembaharuan pendidikan Islam Muhammadiyah di Yogyakarta, dll. Sekolah-Sekolah ini menerapakan konsep terpadu dalam aktifitas pendidikannya, seperti halnya Sekolah Islam Terpadu yang menjadi “trend baru” saat ini di Indonesia, khususnya diwilayah perkotaan dimana sekolah-sekolah ini didirikan, keberadaanya saat ini telah tersebar diseluruh Indonesia.
MITOS BATU BATULIS DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT DAYAK HALONG Sisva Maryadi
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.442 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i1.105

Abstract

Salah satu cara untuk mengkomunikasikan larangan-larangan dalam masyarakat adalah dengan menciptakan mitos. Mitos tersebut tidak akan efektif kalau tidak diikuti dengan sanksi atau akibat dari pelanggaran yang dilakukan. Mitos Batu batulis merupakan salah satu mitos yang masih dipercaya oleh masyarakat Dayak Halong untuk menjaga lingkungan sekitar lokasi Mitos tersebut. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan di sekitar Batu Batulis ini dipercaya akan mengakibatkan bencana bagi yang melanggar bahkan bisa juga berakibat pada masyarakat di kampung tersebut.

Page 5 of 13 | Total Record : 121