cover
Contact Name
I Komang Badra
Contact Email
-
Phone
+6285238148283
Journal Mail Official
pdpt.stkipamlapura@gmail.com
Editorial Address
Jalan Ngurah Rai Nomor 35 Amlapura
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Lampuhyang
ISSN : 20870760     EISSN : 27455661     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal LAMPUHYANG Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura. Jurnal LAMPUHYANG terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari dan Juli.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2014)" : 12 Documents clear
Perkawinan Endogami di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem I Wayan Lali Yogantara; Putu Agung Aryadhi Mahayoga
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.160

Abstract

Salah satu tradisi yang masih terlaksana di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan adalah perkawinan endogami desa. Berkaitan dengan itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui proses,tujuan, danfaktor-faktor yang mendukung pelestarian sistem perkawinan endogamitersebut.Pengumpulan data menggunakan metode interviewdan pencatatan dokumen. Analisa data dengan menggunakan metode deskriptif yaitu data diolah dengan jalan menyusun secara sistematis sehingga diperoleh simpulan umum. Hasil penelitian : (1)Proses perkawinan endogami desa di Desa Pakraman Pegringsingan dilaksanakan dengan dua tahapanyakni pajati kepada aparat adat dan dinas, serta orang tua/wali perempuan. Tahapan berikutnya menghaturkan upakara/banten pada sanggahkeluarga pengantin dan kahyangan desa,(2)Perkawinan endogami desa bertujuanmewujudkan perkawinan ideal dan memberikan proteksiterhadap sistem sosial kekerabatan di dalam Desa Pakraman tenganan Pegringsingan,(3) Faktor pendukung dilestarikannya sistem perkawinan endogami desadi Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan adalah adanya komitmenpelestarian budaya leluhur, pengakuan sebagai krama desa inti (status sosial tinggi), berhak menempati tanah karang desa, berhak atas kekayaan desa serta bebas dari sanksi adat.
Perkawinan Endogami di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Yogantara, I Wayan Lali; Mahayoga, Putu Agung Aryadhi
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.160

Abstract

Salah satu tradisi yang masih terlaksana di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan adalah perkawinan endogami desa. Berkaitan dengan itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui proses,tujuan, danfaktor-faktor yang mendukung pelestarian sistem perkawinan endogamitersebut.Pengumpulan data menggunakan metode interviewdan pencatatan dokumen. Analisa data dengan menggunakan metode deskriptif yaitu data diolah dengan jalan menyusun secara sistematis sehingga diperoleh simpulan umum. Hasil penelitian : (1)Proses perkawinan endogami desa di Desa Pakraman Pegringsingan dilaksanakan dengan dua tahapanyakni pajati kepada aparat adat dan dinas, serta orang tua/wali perempuan. Tahapan berikutnya menghaturkan upakara/banten pada sanggahkeluarga pengantin dan kahyangan desa,(2)Perkawinan endogami desa bertujuanmewujudkan perkawinan ideal dan memberikan proteksiterhadap sistem sosial kekerabatan di dalam Desa Pakraman tenganan Pegringsingan,(3) Faktor pendukung dilestarikannya sistem perkawinan endogami desadi Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan adalah adanya komitmenpelestarian budaya leluhur, pengakuan sebagai krama desa inti (status sosial tinggi), berhak menempati tanah karang desa, berhak atas kekayaan desa serta bebas dari sanksi adat.
Upaya Mewujudkan Suputra melalui Keluarga Berencana I Gusti Ngurah Alit Saputra
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.161

Abstract

Artikel tentang Upaya Mewujudkan Suputra melalui KB adalah suatu upaya untuk memberi inspirasi kepada pemerhati masalah keluarga berkualitas agar mereka mempunyai tambahan pengetahuan tentang bagaimana caranya meningkatkan kualitas keluarganya pada khususnya dan kualitas penduduk pada umumnya . Artikel ini dibuat dengan menggunakan metode kepustakaan dengan membandingkan antara teori dan pengalaman Penulis saat masih bertugas menangani Program KB. Dari pembahasan antarateori dalam buku-buku dan dengan pengalaman Penulis ternyata sangat besar sekali pengaruhnya terhadap pola hidup masyarakat utamanya setelah mereka ikut Program KB (dengan jumlah anak yang terencana) ditambah lagi dengan adanya kelompok-kelompok BKB disetiap Posyandu, dimana dengan jumlah anak yang hanya dua saja misalnya akan sangat banyak punya kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan baik di kelompok BKB maupun kegiatan-kegiatan yang positif lainya seperti usaha ekonomi produktif dan sebagainya. Juga menambah wawasan tentang bagaimana membina dan memelihara anaknya, karena keberhasilan Pemerintah dalam pelaksanaan Program KB harus dimulai dari keluarga-keluarga. Jadi dengan demikian untuk dapat mewujudkan keluarga yang berkualitas salah satu caranya adalah dengan ikut Program KB.
Upaya Mewujudkan Suputra melalui Keluarga Berencana Alit Saputra, I Gusti Ngurah
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.161

Abstract

Artikel tentang Upaya Mewujudkan Suputra melalui KB adalah suatu upaya untuk memberi inspirasi kepada pemerhati masalah keluarga berkualitas agar mereka mempunyai tambahan pengetahuan tentang bagaimana caranya meningkatkan kualitas keluarganya pada khususnya dan kualitas penduduk pada umumnya . Artikel ini dibuat dengan menggunakan metode kepustakaan dengan membandingkan antara teori dan pengalaman Penulis saat masih bertugas menangani Program KB. Dari pembahasan antarateori dalam buku-buku dan dengan pengalaman Penulis ternyata sangat besar sekali pengaruhnya terhadap pola hidup masyarakat utamanya setelah mereka ikut Program KB (dengan jumlah anak yang terencana) ditambah lagi dengan adanya kelompok-kelompok BKB disetiap Posyandu, dimana dengan jumlah anak yang hanya dua saja misalnya akan sangat banyak punya kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan baik di kelompok BKB maupun kegiatan-kegiatan yang positif lainya seperti usaha ekonomi produktif dan sebagainya. Juga menambah wawasan tentang bagaimana membina dan memelihara anaknya, karena keberhasilan Pemerintah dalam pelaksanaan Program KB harus dimulai dari keluarga-keluarga. Jadi dengan demikian untuk dapat mewujudkan keluarga yang berkualitas salah satu caranya adalah dengan ikut Program KB.
Potret Perempuan dalam lagu Pop Bali (Suatu Cerminan Ketidaksetaraan Gender) I Wayan Dwija
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.162

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menafsirkan, dan memaknai potret perempuan dalam lagu pop Bali sebagai cerminan adanya ketidaksetaraan gender di masyarakat serta pesan yang disampaikan kepada pihak perempuan yang terkandung dalam lagu pop Bali tersebut.Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode studi dokumen atau pencatatan dokumen. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan disajikan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) potret perempuan pada lagu pop Bali yang beredar di masyarakat mengacu pada pencitraan atau pelabelan atau stereotip-stereotip kepada kaum perempuan yang mengarah pada ketidaksetaraan gender, misalnya perempuan sebagai sosok yang lemah, perempuan sebagai sosok yang emosional atau perasa, perempuan sebagai sosok penggoda, dan sejenisnya. Pelabelan tersebut mengerahkan pada ketidaksetaraan gender, seperti perempuan tidak pantas bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah, peran domestik dianggap sebagai sebuah kodrat perempuan, perempuan tidak pantas menduduki sebuah jabatan penting dalam masyarakat atau pemerintahan, perempuan tidak boleh mengambil keputusan penting dalam keluarga atau masyarakat, dan sejenisnya. (2) Pesan moral yang terkandung dalam lagu pop Bali mengarahkan agar perempuan perempuan berperilaku sesuai norma-norma etika yang berlaku di masyarakat.
Potret Perempuan dalam lagu Pop Bali (Suatu Cerminan Ketidaksetaraan Gender) Dwija, I Wayan
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.162

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menafsirkan, dan memaknai potret perempuan dalam lagu pop Bali sebagai cerminan adanya ketidaksetaraan gender di masyarakat serta pesan yang disampaikan kepada pihak perempuan yang terkandung dalam lagu pop Bali tersebut.Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan metode studi dokumen atau pencatatan dokumen. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan disajikan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) potret perempuan pada lagu pop Bali yang beredar di masyarakat mengacu pada pencitraan atau pelabelan atau stereotip-stereotip kepada kaum perempuan yang mengarah pada ketidaksetaraan gender, misalnya perempuan sebagai sosok yang lemah, perempuan sebagai sosok yang emosional atau perasa, perempuan sebagai sosok penggoda, dan sejenisnya. Pelabelan tersebut mengerahkan pada ketidaksetaraan gender, seperti perempuan tidak pantas bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah, peran domestik dianggap sebagai sebuah kodrat perempuan, perempuan tidak pantas menduduki sebuah jabatan penting dalam masyarakat atau pemerintahan, perempuan tidak boleh mengambil keputusan penting dalam keluarga atau masyarakat, dan sejenisnya. (2) Pesan moral yang terkandung dalam lagu pop Bali mengarahkan agar perempuan perempuan berperilaku sesuai norma-norma etika yang berlaku di masyarakat.
Konservasi Tradisi Magibung sebagai Upaya Pembentukan Karakter Generasi Muda Hindu di Karangasem I Ketut Seken
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.163

Abstract

Penelitian semacam ini penting dilaksanakan karena bertujuan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi magibung dan upaya mengonservasinya. Penelitian ini difokuskan pada Kecamatan Karangasem, Kecamatan Manggis, Kecamatan Abang, dan Kecamatan Kubu.Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen. Data yang telah terkumpul nantinya dianalisis dengan menggunakan model alir Miles dan Haberman, yakni dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi serta penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagai berikut. (1) Tradisi magibung di Karangasem kaya dengan nilai-nilai pembentukan karakter generasi muda Hindu. Nilai-nilai pembentuk karakter generasi muda Hindu yang terkandung dalam tradisi magibung adalah nilai pembentuk karakter religius, nilai nilai pembentuk karakter toleransi, nilai pembentuk karakter disiplin, nilai pembentuk karakter bersahabat/komunikatif, nilai pembentuk karakter demokratis, nilai pembentuk karakter cinta damai, nilai pembentuk karakter peduli sosial, nilai pembentuk karakter peduli lingkungan, nilai pembentuk karakter tanggung jawab, dan nilai pembentuk karakter kerja sama. Dari kesepuluh nilai pembentuk karakter tersebut, nilai yang paling menonjol adalah nilai pembentuk karakter kerja sama yang berlandaskan rasa saling asah, saling asih, dan saling asuh. (2) Strategi yang dapat ditempuh untuk mengonservasi tradisi magibung di Karangasem adalah dengan cara mengoptimalkan peran keluarga, sekolah, masyarakat melalui optimalisasi peran desa adat atau banjar adat, dan pemerintah. Pihak-pihak tersebut harus saling bersinergi atau bekerja sama dalam pelestarian tradisi magibung, yang merupakan salah satu warisan budaya Bali.
Konservasi Tradisi Magibung sebagai Upaya Pembentukan Karakter Generasi Muda Hindu di Karangasem Seken, I Ketut
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.163

Abstract

Penelitian semacam ini penting dilaksanakan karena bertujuan untuk menggali nilai-nilai kearifan lokal dalam tradisi magibung dan upaya mengonservasinya. Penelitian ini difokuskan pada Kecamatan Karangasem, Kecamatan Manggis, Kecamatan Abang, dan Kecamatan Kubu.Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen. Data yang telah terkumpul nantinya dianalisis dengan menggunakan model alir Miles dan Haberman, yakni dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi serta penarikan simpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagai berikut. (1) Tradisi magibung di Karangasem kaya dengan nilai-nilai pembentukan karakter generasi muda Hindu. Nilai-nilai pembentuk karakter generasi muda Hindu yang terkandung dalam tradisi magibung adalah nilai pembentuk karakter religius, nilai nilai pembentuk karakter toleransi, nilai pembentuk karakter disiplin, nilai pembentuk karakter bersahabat/komunikatif, nilai pembentuk karakter demokratis, nilai pembentuk karakter cinta damai, nilai pembentuk karakter peduli sosial, nilai pembentuk karakter peduli lingkungan, nilai pembentuk karakter tanggung jawab, dan nilai pembentuk karakter kerja sama. Dari kesepuluh nilai pembentuk karakter tersebut, nilai yang paling menonjol adalah nilai pembentuk karakter kerja sama yang berlandaskan rasa saling asah, saling asih, dan saling asuh. (2) Strategi yang dapat ditempuh untuk mengonservasi tradisi magibung di Karangasem adalah dengan cara mengoptimalkan peran keluarga, sekolah, masyarakat melalui optimalisasi peran desa adat atau banjar adat, dan pemerintah. Pihak-pihak tersebut harus saling bersinergi atau bekerja sama dalam pelestarian tradisi magibung, yang merupakan salah satu warisan budaya Bali.
Implikatur Percakapan Guru dan Siswa dalam Aktivitas Belajar-Mengajar Bahasa Bali di Sekolah Dasar Negeri 5 Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Ni Kadek Juliantari
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk implikatur fungsi implikatur percakapan guru dan siswa pada pembelajaran Bahasa Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dua ancangan, yaitu (1) ancangan pragmatik dan (2) etnografi komunikasi.Sumber data dalam penelitian ini adalah (1) percakapan dalam interaksi atau percakapan antara guru dan siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa bali, (2) konteks tuturan yang diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan lapangan secara langsung. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, simpulan yang ditarik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Konstruksi kebahasaan IP pada tuturan guru, yakni konstruksi kebahasaan IP direktif. Konstruksi kebahasaan IP direktif yang berfungsi untuk menasihati, memerintah, dan meminta atau memohon menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif dan interogatif. Sementara itu, bentuk atau konstruksi kebahasaan IP pada tuturan siswa, yaitu konstruksi kebahasaan IP direktif, konstruksi kebahasaan IP asertif, dan konstruksi kebahasaan IP ekspresif. Konstruksi kebahasaan IP ekspresif yang digunakan untuk menyatakan menyindir dan mengejek juga menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif. Jadi, konstruksi kebahasaan IP asertif, direktif, dan ekspresif pada tuturan siswa lebih banyak bermodus deklaratif. (2) Fungsi yang cenderung tampak pada tuturan siswa dalam aktivitas belajar-mengajar bahasa Bali adalah fungsi IP direktif, yakni meminta atau memohon. Hal itu dapat dimaknai bahwa siswa bersikap santun melalui pilihan bahasa yang tepat saat menyampaikan permohonan atau pun permintaan. Permohonan atau permintaan tersebut pada umumnya disampaikan oleh siswa kepada mitra tuturnya (guru) secara tidak langsung melalui berbagai bentuk tuturan, yang salah satunya melalui bentuk interogatif (tanya). Jadi, maksud meminta atau memohon tersebut terselubung pada pilihan bahasa bahasa yang digunakan penutur.
Implikatur Percakapan Guru dan Siswa dalam Aktivitas Belajar-Mengajar Bahasa Bali di Sekolah Dasar Negeri 5 Ulakan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Juliantari, Ni Kadek
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.164

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk implikatur fungsi implikatur percakapan guru dan siswa pada pembelajaran Bahasa Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dua ancangan, yaitu (1) ancangan pragmatik dan (2) etnografi komunikasi.Sumber data dalam penelitian ini adalah (1) percakapan dalam interaksi atau percakapan antara guru dan siswa di kelas dalam pembelajaran Bahasa bali, (2) konteks tuturan yang diperoleh melalui pengamatan dan pencatatan lapangan secara langsung. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, simpulan yang ditarik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Konstruksi kebahasaan IP pada tuturan guru, yakni konstruksi kebahasaan IP direktif. Konstruksi kebahasaan IP direktif yang berfungsi untuk menasihati, memerintah, dan meminta atau memohon menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif dan interogatif. Sementara itu, bentuk atau konstruksi kebahasaan IP pada tuturan siswa, yaitu konstruksi kebahasaan IP direktif, konstruksi kebahasaan IP asertif, dan konstruksi kebahasaan IP ekspresif. Konstruksi kebahasaan IP ekspresif yang digunakan untuk menyatakan menyindir dan mengejek juga menggunakan tuturan yang bermodus deklaratif. Jadi, konstruksi kebahasaan IP asertif, direktif, dan ekspresif pada tuturan siswa lebih banyak bermodus deklaratif. (2) Fungsi yang cenderung tampak pada tuturan siswa dalam aktivitas belajar-mengajar bahasa Bali adalah fungsi IP direktif, yakni meminta atau memohon. Hal itu dapat dimaknai bahwa siswa bersikap santun melalui pilihan bahasa yang tepat saat menyampaikan permohonan atau pun permintaan. Permohonan atau permintaan tersebut pada umumnya disampaikan oleh siswa kepada mitra tuturnya (guru) secara tidak langsung melalui berbagai bentuk tuturan, yang salah satunya melalui bentuk interogatif (tanya). Jadi, maksud meminta atau memohon tersebut terselubung pada pilihan bahasa bahasa yang digunakan penutur.

Page 1 of 2 | Total Record : 12