cover
Contact Name
Widodo Kushartomo
Contact Email
widodokushartomo@gmail.com
Phone
+628176869150
Journal Mail Official
jmts@untar.ac.id
Editorial Address
Jl. Letjen S. Parman No. 1, Jakarta 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil
ISSN : -     EISSN : 2622545X     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/jmts
Core Subject : Engineering,
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil dikelola oleh Program Studi Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara. JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil merupakan media publikasi hasil penelitian dan studi ilmiah dalam bidang Teknik Sipil yang diterbitkan 4 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan November. Jurnal ini terbit pertama kali pada 1 Agustus 2018.
Articles 26 Documents
Search results for , issue "VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021" : 26 Documents clear
ANALISIS PERBANDINGAN JENIS DINDING PENAHAN TANAH PADA TANAH GAMBUT David Thomson; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12615

Abstract

Kalimantan is one of the 3 islands in Indonesia which has the largest peatlands. Moreover, in 2019 the President of the Republic of Indonesia Ir. H. Joko Widodo inaugurated the move of Indonesia's capital city from DKI Jakarta to East Kalimantan. The development of supporting infrastructure for the Capital City will inevitably occur, so that construction on peatlands cannot be avoided. The characteristics of peatlands as well as the impacts and risks that will occur when working on peatlands need to be considered. In this thesis, we will discuss the types of retaining walls that are most effective when applied to peatlands. Types of retaining walls that will be compared include gravity retaining walls, sheet sheet-type retaining walls, and soldier piles. The analysis will be carried out on the lateral stresses that occur and the collapse in each type of retaining wall. Coulumb soil pressure theory and Rankine soil lateral pressure theory are also used to support this analysis. Theoretically, solid or gap-free retaining walls are likely to be effective when applied to peat soils. This is due to the nature of peat soil which has high water and organic content. The depth of excavation on peat soil is calculated as deep as 9 meters. The deflection that occurs in the diaphragm wall is 0.354 m, the secant pile is 0.751 m, the concrete sheet pile is 1.09 m and the steel sheet pile is 2.73 m. Kalimantan adalah salah satu dari 3 pulau di Indonesia yang memiliki lahan gambut terluas. Terlebih lagi pada tahun 2019 Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo meresmikan perpindahan Ibukota Indonesia dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur. Pembangunan infrastruktur – infrastruktur pendukung Ibukota pasti akan terjadi, sehingga kontruksi pada lahan gambut tidak akan dapat terhindarkan. Sifat-sifat dari lahan gambut maupun dampak dan resiko yang akan terjadi pada saat melakukan pekerjaan di lahan gambut perlu dipertimbangkan. Pada skripsi ini akan membahas tentang jenis dinding penahan tanah yang paling efektif ketika diaplikasikan ke lahan gambut. Jenis dinding penahan tanah yang akan dibandingkan antara lain dinding penahan gravitasi, dinding penahan tanah tipe turap, dan soldier pile. Analisa akan dilakukan pada tekanan lateral yang terjadi dan keruntuhan pada tiap jenis dinding penahan tanah. Teori tekanan tanah Coulumb dan teori tekanan lateral tanah Rankine dipakai juga untuk mendukung analisis ini. Secara teoritis, dinding penahan tanah yang solid atau yang tidak mempunyai celah yang berkemungkinan akan efektif ketika diaplikasikan pada tanah gambut. Hal ini dikarenakan sifat tanah gambut yang mempunyai kadar air dan organik yang tinggi. Kedalaman galian pada tanah gambut yang diperhitungkan sedalam 9 meter. Defleksi yang terjadi pada diaphragm wall adalah sebesar 0,354 m, pada secant pile sebesar 0,751 m, pada turap beton sebesar 1,09 m dan pada turap baja sebesar 2,73 m.
PENGGUNAAN LIMBAH SERBUK BESI SEBAGAI CAMPURAN AGREGAT HALUS PADA ASPHALT CONCRETE-WEARING COURSE (AC-WC) Umma Chintya Devi; Nur Azizah Affandy
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.11851

Abstract

As time goes by, roads are easily damaged due to the large number of transportation that passes. For this reason, the development of new findings is continuously being made to improve the strength of the road layers. In this study, iron powder waste was used because from a physical perspective, iron powder is very similar to fine aggregate. In this study, iron powder waste was used as an additive for fine aggregate with a content of 0%, 4%, 4.5%, 5% by weight of fine aggregate. The purpose of this study was to determine the effect of iron powder waste on Marshall Properties parameters. This study uses the Marshall Properties test method consisting of stability (kg), VIM (%), VMA (%), VFA (%), Flow and Marshall Quotien. For the best results from the comparison of asphalt with 0% content and asphalt with added ingredients, namely stability 0% yield 997 kg and 4% yield 788 kg, Flow 0% yield 3.17 mm and 4% yield 3.33 mm, VMA 0% yield 17.29% and 4% yield 15.84%, VIM 0% yield 4.14% and 4% yield 2.46%, VFA 0% yield 74.97% and 5% yield 88.76% and MQ 0% yields of 309.31 kg / mm and 5% yields of 246.80 kg / mm. From here it can be seen that the level of 4% more shows the best results and meets the standards. ABSTRAKSeiring berkembangnya jaman, jalan mudah sekali mengalami kerusakan karena banyaknya transportasi yang melintas. Untuk itu, pengembangan temuan baru terus dilakukan untuk memperbaiki kekuatan lapisan jalan. Dalam penelitian ini digunakan limbah serbuk besi karena dari segi fisik, serbuk besi sangat mirip dengan agregat halus. Dalam penelitian ini, limbah serbuk besi digunakan untuk bahan tambah agregat halus dengan kadar 0%, 4%, 4.5%, 5% dari berat agregat halus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari limbah serbuk besi terhadap parameter Marshall Properties. Penelitian ini menggunakan metode pengujian Marshall Properties yang terdiri dari Stabilitas (kg), VIM (%), VMA (%), VFA (%), Flow dan Marshall Quotien. Untuk hasil terbaik dari perbandingan aspal dengan kadar 0% dan aspal dengan bahan tambah yaitu stabilitas 0% hasil 997 kg dan 4% hasil 788 kg, Flow 0% hasil 3,17 mm dan 4% hasil   3,33 mm, VMA 0% hasil 17,29% dan 4% hasil 15,84%, VIM 0% hasil 4,14% dan 4% hasil 2,46%, VFA 0% hasil 74,97% dan 5% hasil 88,76% dan MQ 0% hasil 309,31 kg/mm dan 5% hasil 246,80 kg/mm. Dari sini dapat dilihat kadar 4% lebih banyak menunjukan hasil terbaik dan hampir memenuhi standart.
PERBANDINGAN DEFORMASI DINDING PADA BASEMENT METODE TOP-DOWN DENGAN ANALISIS CONSTRUCTION STAGE DAN ANALISIS KONVENSIONAL Raynaldi Raynaldi; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10532

Abstract

ABSTRACT In basement construction with the top-down approach, excavation and slab installation work are carried out in stages. However, not all geotechnical applications can simulate construction stages, hence this effect has been ignored by many engineers in practice. Therefore, in this study, the effect of basement construction stages is analyzed using MIDAS GTS NX. In the program, two different analyses are performed. The first analysis is the construction stage analysis that simulates construction stages. As a comparison, a conventional analysis is performed which doesn't simulate construction stages. The two analysis results are compared. This analysis focuses mainly on the wall deformation. The modeling consists of 5 excavation stages (17 meters deep) and a diaphragm wall (36 meters deep). The walls are given 5 layers of slab reinforcements. In the first excavation stage, the maximum wall deformation results in both analyses show slightly different results (the construction stage analysis result is 8% greater than that of conventional analysis). However, in the final excavation stage, a significant difference is shown (the construction stage analysis result is 37% greater than that of conventional analysis). These results indicate that the effect of construction stages should not be neglected, especially in multi-story basements with top-down construction.ABSTRAK Pada konstruksi basement dengan metode top-down, pekerjaan penggalian dan pemasangan pelat dilakukan secara bertahap. Namun, tidak semua aplikasi geoteknik dapat mensimulasikan tahapan konstruksi sehingga pengaruhnya sering diabaikan oleh banyak insinyur dalam praktiknya. Maka, pada penelitian ini dilakukan analisis pengaruh tahapan konstruksi basement menggunakan aplikasi MIDAS GTS NX. Pada program, akan dilakukan dua analisis yang berbeda. Pertama, dilakukan analisis construction stage yang mensimulasikan tahapan konstruksi. Sebagai perbandingan, dilakukan analisis konvensional yang tidak mensimulasikan tahapan konstruksi. Kedua hasil analisis dibandingkan. Analisis ini lebih berfokus pada deformasi yang terjadi pada dinding diafragma. Pemodelan terdiri dari 5 tahap galian dengan kedalaman 17 meter dan dinding diafragma dengan kedalaman 36 meter. Dinding diberi perkuatan pelat sebanyak 5 lapis. Pada galian tahap pertama, hasil deformasi maksimum dinding pada kedua analisis menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda (hasil analisis construction stage lebih besar 8% dibandingkan hasil analisis konvensional). Tetapi pada galian tahap akhir, hasil deformasi maksimum dinding pada kedua analisis menunjukkan perbedaan signifikan (hasil analisis construction stage lebih besar 37% dibandingkan hasil analisis konvensional). Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh tahapan konstruksi sebaiknya tidak diabaikan khususnya pada basement bertingkat banyak dengan metode top-down.
ANALISIS PENGARUH METODE PERBAIKAN TANAH VACUUM PRELOADING TERHADAP STRUKTUR ABUTMENT DI SEKITARNYA Steven Djunawan; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12568

Abstract

Soft soil in Indonesia is problematic in infrastructure development because of its low bearing capacity and takes a long time to consolidate. In general, the method used to overcome soft soil is vacuum preloading combined with prefabricated vertical drain, PVD. The purpose of the initial loading is to consolidate the soft soil layer with a load equal to or greater than the soil load during and after construction. Meanwhile, vertical can support the consolidation process. However, this method can also cause lateral movement which also affects the area outside the repair. Thus, it is necessary to model the influence distance analysis from the circumference of the repair area outside the repair. Analysis and modeling using 2D finite program elements that will be compared with results in field. The results of the comparison of the settlement for 260 days shows a different chart pattern but a corresponding final settlement. The modeling shows that the largest influence distance due to the lateral movement is cell 2, which is 11,23mTanah lunak di Indonesia menjadi problematika pada pembangunan infrastruktur dikarenakan daya dukung yang rendah serta memakan waktu penurunan konsolidasi yang lama. Pada umumnya, perbaikan tanah yang digunakan untuk mengatasi tanah lunak adalah vacuum preloading yang dikombinasikan dengan prefabricated vertical drain, PVD. Tujuan pembebanan awal adalah untuk mengkonsolidasikan lapisan tanah lunak dengan beban sama atau lebih besar dari beban tanah selama dan setelah konstruksi. Sementara drainase vertikal dapat mempercepat proses konsolidasi. Namun, metode ini juga dapat penyebabkan pergerakan lateral yang juga mempengaruhi area diluar perbaikan. Sehingga, dibutuhkan pemodelan analisis jarak pengaruh dari keliling daerah perbaikan ke daerah luar perbaikan. Analisis dan pemodelan menggunakan program elemen hingga 2D yang akan dibandingkan dengan hasil lapangan. Hasil perbandingan penurunan selama 260 hari menunjukan pola grafik yang berbeda namun penurunan akhir yang sesuai. Pemodelan menunjukan jarak pengaruh terbesar akibat pergerakan lateral berada pada cell 2 yaitu 11,23m.
Analisis Faktor Pengaruh Dominan Perancangan Penerapan Model Rencana Insentif Pada Material Sisa Triongko Agatha Bayuaji; Basuki Anondho
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12374

Abstract

ABSTRACTThe incentive is an additional compensation given in monetary or non-monetary form so that the parties involved in a job try their best to complete their work properly without reducing the quality of work. The purpose of this study is to find out what dominant factors need to be considered in implementing an incentive plan and to find out whether this incentive plan model affects the residual material. This research was conducted by processing primary data in the form of a Likert scale questionnaire. A Likert scale of 1-5 is used to measure the level of influence of an identified factor on the incentive plan. In the process, this research uses the Factor Analysis Method with a significance level of 5% and is assisted by the application of Statistics Product and Service Solutions (SPSS) or a statistical package for social sciences to test and calculate data. Based on the research results obtained 3 dominant factors that need to be considered in the implementation of the incentive plan, in the research interview some experts agreed and disagreed with this incentive plan model for the reduction of waste material based on several considerations.ABSTRAKInsentif adalah suatu kompensasi tambahan yang diberikan dalam bentuk moneter atau nonmoneter supaya pihak-pihak yang terlibat dalam suatu pekerjaan berusaha semaksimal mungkin dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa mengurangi kualitas kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor dominan apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan rencana insentif dan mengetahui apakah model rencana insentif ini mempengaruhi material sisa. Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data primer berupa angket skala likert. Skala likert 1-5 digunakan untuk mengukur tingkat pengaruh suatu faktor yang diidetifikasi terhadap rencana insentif. Dalam pengerjaannya, penelitian ini menggunakan Metode Analisis Faktor dengan taraf signifikansi 5% dan dibantu dengan aplikasi Statistics Product and Service Solutions (SPSS) atau paket statistik untuk ilmu sosial untuk menguji dan menghitung data. Berdasarkan hasil penelitian didapat 3 faktor dominan yang perlu diperhatikan dalam penerapan rencana insentif, dalam wawancara penelitian terdapat ahli yang setuju dan tidak setuju dengan model rencana insentif ini untuk pengurangan material sisa berdasarkan beberapa pertimbangan.Insentif adalah suatu kompensasi tambahan yang diberikan dalam bentuk moneter atau nonmoneter supaya pihak-pihak yang terlibat dalam suatu pekerjaan berusaha semaksimal mungkin dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik tanpa mengurangi kualitas kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor dominan apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan rencana insentif dan mengetahui apakah model rencana insentif ini mempengaruhi material sisa. Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data primer berupa angket skala likert. Skala likert 1-5 digunakan untuk mengukur tingkat pengaruh suatu faktor yang diidetifikasi terhadap rencana insentif. Dalam pengerjaannya, penelitian ini menggunakan Metode Analisis Faktor dengan taraf signifikansi 5% dan dibantu dengan aplikasi Statistics Product and Service Solutions (SPSS) atau paket statistik untuk ilmu sosial untuk menguji dan menghitung data. Berdasarkan hasil penelitian didapat 3 faktor dominan yang perlu diperhatikan dalam penerapan rencana insentif, dalam wawancara penelitian terdapat ahli yang setuju dan tidak setuju dengan model rencana insentif ini untuk pengurangan material sisa berdasarkan beberapa pertimbangan.
Analisis Kekuatan Sambungan Tiang Pancang Beton Terhadap Gaya Tarik, Lateral, Dan Momen Pada Tanah Kohesif Kevin Trianto Chiarli; Alfred Jonathan Susilo
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.10545

Abstract

With the growth of occupation and technological developments, the shape of the building has also changed over time. Changes in the shape of the building bring the need for strength to certain styles and changing moments. Therefore, the foundation as the lower part of the structure as well as the support for the building must be able to withstand the forces that occur. Precast pile foundation is one type of deep foundation that is commonly used today. However, because the foundation is casted outside the field, there is a length limit on the foundation due to transportation, and so on. The foundation connection is a means of unifying precast piles to achieve the desired piling depth. Planning of pile foundation joints is necessary because some types of joints have a reduction in strength that allows failure of the foundation structure. The selection of the right type of connection can result in an efficiency of the needs at a cost. Therefore, the step of determining the type of precast pile connection should be emphasized more to the project development parties. Dengan adanya pertumbuhan pendudukan dan perkembangan teknologi, bentuk bangunan dari waktu ke waktu juga mengikuti perubahan yang terjadi. Perubahan bentuk bangunan tersebut membawa kebutuhan kekuatan terhadap gaya dan momen tertentu berubah. Maka dari itu, fondasi sebagai struktur bagian bawah sekaligus penopang bangunan harus mampu menahan gaya-gaya yang terjadi. Fondasi tiang pancang pracetak merupakan salah satu jenis fondasi dalam yang umum digunakan sekarang ini. Namun, dikarenakan fondasi cetak terlebih dahulu di luar lapangan, terdapat batasan panjang pada fondasi tersebut akibat dari segi transportasi, dan sebagainya. Sambungan fondasi merupakan sarana pemersatu tiang pancang pracetak untuk mencapai kedalaman pemancangan yang diinginkan. Perencanaan sambungan fondasi tiang pancang diperlukan karena beberapa jenis sambungan memiliki reduksi kekuatan yang memungkinkan terjadinya kegagalan pada struktur fondasi. Pemilihan jenis sambungan yang tepat dapat menghasilkan suatu efisiensi terhadap kebutuhan dengan biaya yang dikeluarkan. Maka dari itu, langkah penentuan pemilihan jenis sambungan tiang pancang pracetak harus lebih ditekankan kepada para pihak pembangunan proyek.
ANALISIS STABILITAS BACK-TO-BACK MECHANICALLY STABILIZED EARTH WALLS (STUDI KASUS JALAN LAYANG DI SULAWESI SELATAN) Yordan Salim; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12582

Abstract

In urban areas, the requirement for roads is always increasing. This has resulted in various problems such as limited land so that it needs to construct a proper retaining wall. The type of retaining wall that will be discussed is back-to-back mechanically stabilized earth walls. The author analyzes the minimum reinforcement length required for the stability of the retaining wall structure. The author also analyzes the use of backfill material from back-to-back mechanically stabilized earth walls. In this study, two types of backfill materials were used, sand and laterite. The author analyzes the stability of the structure using manual calculations and with software based on finite element methods with several differences in the reinforcement length of the geogrid. In manual analysis obtained the tensile force that occurs in the geogrid and the safety factor for the external stability. In the analysis using the software obtained the safety factor and deformation that occurs in the structure. The results of this study are the minimum ratio of reinforcement length to height, that is L = 0.66H for sand and L = 0.6H for laterite. The requirement of geogrid tensile capacity for laterite is smaller than for sand.Keywords: reinforcement length, mechanically stabilized earth walls, geogrid, safety factorPada daerah perkotaan, kebutuhan akan jalan selalu meningkat. Hal ini mengakibatkan berbagai masalah seperti keterbatasan lahan sehingga perlu konstruksi dinding penahan tanah yang tepat. Jenis dinding penahan tanah yang akan dibahas adalah back-to-back mechanically stabilized earth walls. Penulis menganalisis panjang penjangkaran minimum yang diperlukan untuk statbilitas struktur dinding penahan tanah. Penulis juga menganalisis penggunaan material timbunan dari back-to-back mechanically stabilized earth walls. Pada penelitian ini digunakan dua jenis material timbunan yaitu pasir dan tanah merah. Penulis menganalis kestabilan dari struktur menggunakan perhitungan manual dan dengan software berbasis metode elemen hingga dengan beberapa variasi panjang penjangkaran dari geogrid. Pada analisis manual, diperoleh gaya tarik yang terjadi pada geogrid dan faktor keamanan dari stabilitas eksternal struktur. Pada analisis menggunakan program diperoleh faktor keamanan dan deformasi yang terjadi pada struktur. Adapun hasil dari penelitian ini yaitu rasio panjang penjangkaran terhadap tinggi minimum yaitu L = 0,66H pada pasir dan L = 0,6H untuk tanah merah. Kebutuhan kapasitas tarik geogrid untuk tanah merah lebih kecil daripada pasir.Kata kunci: panjang penjangkaran, mechanically stabilized earh walls, geogrid, faktor keamanan
ANALISIS PERBANDINGAN METODE PERBAIKAN TANAH PADA KONSTRUKSI JALAN TOL DI ATAS TANAH GAMBUT Renaldo Arisugan; Aniek Prihatiningsih
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.13178

Abstract

Pertambahan jumlah kendaraan yang terus meningkat setiap tahunnya menjadikan beban pada jalan meningkat. Hal ini menjadi hal yang cukup menarik perhatian dan harus diwaspadai bagi para kontraktor ketika membangun jalan, yaitu agar jalan tidak mengalami penurunan atau keruntuhan. Maka itu daya dukung tanah dan penurunan pada tanah harus diperhatikan ketika membangun jalan. Metode perbaikan tanah menjadi salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau mempercepat penurunan dan meningkatkan daya dukung. Banyaknya metode perbaikan tanah yang terus berkembang seiring berjalannya waktu perlu diteliti dan dianalisis agar dapat diaplikasikan secara efektif untuk setiap kasus konstruksi. Pada penilitian ini akan dibahas mengenai metode perbaikan tanah yang cocok dan efektif pada pembangunan jalan tol diatas lahan gambut. 
HUBUNGAN ANTARA RAWAN BOSAN DAN KEMUDAHAN TERTIDUR DENGAN MICROSLEEP SAAT MENGEMUDI Arjun Indru Moorjani; Leksmono Suryo Putranto
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12642

Abstract

One of the most common types of sleepiness experienced by drivers is microsleep. Microsleep causes the driver to lose control of his or her vehicle, resulting in accidents that could be fatal. This study aims to determine the effect of boredom proneness and the driver's level of ease of falling asleep on the frequency of occurrence of microsleep while driving. Boredom proneness and ease of falling asleep were measured using questions adopted from the Boredom proneness Scale and Epworth Sleepiness Scale, respectively, while microsleep was calculated using a questionnaire to determine the frequency of microsleep experienced by the driver. The research data were analyzed using the Structural Equation Modeling (SEM) analysis method to calculate the correlation value between research variables. The results of the analysis show that boredom proneness and ease of falling asleep are significantly and positively correlated with the likelihood of someone experiencing microsleep while driving, where boredom proneness is also positively and significantly correlated with ease of falling asleep. There was no significant difference found in the Boredom proneness Scale scores, Epworth Sleepiness Scale scores, and frequency of experiencing microsleep whilst driving between the genders ABSTRAKSalah satu jenis kantuk yang paling sering dialami oleh pengemudi dalam berkendara adalah microsleep. Microsleep mengakibatkan pengemudi kehilangan kontrol akan kendaraannya, sehingga berakibat sangat fatal terhadap keselamatan berkendara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh boredom proneness (kecenderungan merasa bosan) dan tingkat kemudahan tertidur pengemudi terhadap frekuensi terjadinya microsleep pada saat berkendara. Boredom proneness dan kemudahan tertidur masing-masing diukur menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang diadopsi dari Boredom proneness Scale dan Epworth Sleepiness Scale, sedangkan microsleep dihitung menggunakan kuesioner untuk menentukan frekuensi microsleep yang dialami pengemudi. Data penelitian dianalisa menggunakan metode analisis Structural Equation Modeling (SEM) untuk menghitung nilai korelasi antar variabel penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa boredom proneness dan kemudahan tertidur berkorelasi secara signifikan dan positif terhadap kemungkinan seseorang mengalami microsleep saat mengemudi, dimana boredom proneness juga berkorelasi secara positif dan signifikan terhadap kemudahan tertidur. Tidak ditemukan perbedaan signifikan pada tingkat kecenderungan pengemudi merasa bosan (boredom proneness), mudah tertidur, dan mengalami microsleep di antara jenis kelamin. Mereka yang berusia di bawah 30 tahun ditemukan lebih mudah untuk merasa bosan, sehingga lebih rentan untuk mengalami microsleep pada saat mengemudi.
EVALUASI RUAS JALAN GATOT SUBROTO MENGGUNAKAN METODE IRAP UNTUK MENCAPAI STAR RATING 4 DAN 5 Yohanes Ryandi; Ni Luh Putu Shinta Eka Setyarini
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil VOLUME 4, NOMOR 3, AGUSTUS 2021
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v0i0.12649

Abstract

The rapid development of the transportation sector will indirectly increase the risk of the growth of traffic problems, one of which is traffic accidents. The number of traffic accidents in Indonesia, especially in the city of Jakarta is very high and continues to increase every year because there are still many roads that have not applied the principles of safe roads in their design and there are still many people who still choose to use private vehicles compared to public transportation. So to reduce the risk of accidents, it is necessary to carry out a strategy to improve road safety using existing methods, namely the iRAP (International Road Assessment Program) method on the Jendral Gatot Subroto road section and the results of the study obtained the existing condition of the road section, for passenger vehicles already reached 4,4, motorcycle cyclists 3,9, pedestrians 5, but for cyclists mode only 3, therefore it is necessary to do a countermeasurement to increase the Star Rating Score to 4 and 5, so that the desired star rating score is obtained on the Jalan Jendral Gatot Subroto.ABSTRAKPerkembangan bidang transportasi yang cepat secara tidak langsung akan memperbesar resiko tumbuhnya permasalahan lalu lintas salah satunya adalah kecelakaan lalu lintas. Jumlah kecelakan lalu lintas di Indonesia khususnya di kota Jakarta sangatlah tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya karena masih banyaknya ruas jalan yang belum menerapkan prinsip jalan berkeselamatan pada perancangannya dan masih banyak masyarakat yang masih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum. Maka untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan, perlu dilakukan strategi peningkatan keselamatan jalan menggunakan metode yang ada, yaitu metode iRAP (International Road Assessment Programme) pada ruas jalan Jendral Gatot Subroto dan hasil dari penelitian tersebut didapatkan kondisi eksisting ruas jalan tersebut, untuk moda kendaraan berpenumpang sudah mencapai 4,4, pesepeda motor 3,9, pejalan kaki 5, tetapi untuk moda pesepeda hanya 3, maka dari itu perlu dilakukan countermeasure guna menaikan Star Rating Score menjadi 4 dan 5, sehingga didapatkan star rating score yang diinginkan pada ruas jalan Jendral Gatot Subroto.

Page 2 of 3 | Total Record : 26