cover
Contact Name
Sudoko
Contact Email
masdoko93@gmail.com
Phone
+628562882330
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Tentara Pelajar No. 13 Ungaran Kabupaten Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
INSPIRASI: Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam
ISSN : 25485717     EISSN : 25984268     DOI : -
Core Subject : Education,
INSPIRASI - Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam, diterbitkan oleh Fakultas Agama Islam UNDARIS Kabupaten Semarang dua kali dalam satu tahun. Jurnal ini mempunyai spesifikasi sebagai media publikasi untuk mengkomunikasikan hasil kajian pemikiran serta hasil-hasil penelitian dalam bidang Pendidikan Islam. Redaksi sangat mengharapkan para penulis dan ahli Pendidikan Islam dapat turut memberikan kontribusi naskahnya dalam jurnal ini.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2018): Inspirasi" : 5 Documents clear
NUSYUZ DAN DISHARMONI RUMAH TANGGA Adibah, Ida Zahara
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 2, No 2 (2018): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (702.137 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v2i2.16

Abstract

The purpose of this research is to answer the question of how the description of nusyus and gender violence in islam and what factors cause it and also about gender violence among muslims in Indonesia. This research also wants to express the efforts to overcome the discourse of gender violence among the muslims of Indonesia.this type of research is content analyst research. That is a form of research that aims to explore the contents or meaning of symbolic message in abook or other work. The researcher tried to review the contents of book of fiqh circulating in indonesia especially related to women which resulted in the discourse of gender violence. In thes case will be expressed various religious interpretations of the scholars of both the salaf and the khalaf, so that looks root case of the discourse of gender violence occured in almost all place and countries that lasted for a long time. In the book of Fiqh, gender violence influences the mind and pattern of religious behaviour of most muslims in our country. Some of the books of fiqh circulating in pesantren, schools and other. Islamic studies institution still do not show any gender equality. Abstrak Penelitian ini bertujuan ingin menjawab permasalahan bagaimana gambaran wacana nusyuz dan kekerasan gender dalam Islam dan faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya nusyuz dan kekerasan gender di kalangan umat Islam di Indonesia. Penelitian ini juga ingin mengungkap upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi wacana kekerasan gender di kalangan umat Islam di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah penelitian analisis konten (content analysis), yaitu suatu bentuk penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menggali isi atau makna pesan simbolik dalam sebuah buku atau hasil karya lainnya. Dengan penelitian analisis konten peneliti mencoba mengkaji kembali isi kitab-kitab fikih yang beredar di Indonesia terutama yang terkait dengan perempuan yang mengakibatkan terjadinya wacana kekerasan gender. Dalam hal ini akan diungkap berbagai tafsir keagamaan dari para pakar (ulama) baik dari kalangan salaf (ulama terdahulu) maupun kalangan khalaf (ulama modern), sehingga terlihat akar penyebab terjadinya wacana kekerasan gender dalam Islam.Temuan hasil penelitian, secara umum kekerasan gender (tepatnya: kekerasan berperspektif gender) terjadi di hampir semua tempat dan negara dan berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Kekerasan gender dalam Islam yang ditunjukkan dalam kitab fikih banyak mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku keagamaan sebagian besar umat Islam di belahan bumi ini, termasuk di kalangan masyarakat Muslim di negara kita, Indonesia. Sebagian dari buku-buku fikih yang beredar di pesantren, sekolah (madrasah), dan lembaga-lembaga pengkajian Islam lainnya masih belum menunjukkan adanya kesetaraan gender.
PEMIKIRAN TASAWUF IMAM AL-GHAZALI DALAM PENDIDIKAN ISLAM Rosia, Rina
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 2, No 2 (2018): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.147 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v2i2.21

Abstract

AbstractImam al-Ghazali is very popular among Muslims. Muslims are very rare who do not know this character. A number of books by Imam al-Ghazali became the object of study in various Islamic educational institutions, ranging from pesantren to Islamic universities, both at home and abroad. This research is qualitative research including character research. The purpose of this research is to know the thoughts of Sufism of Imam al-Ghazali about Islamic education. The findings of this research are that Imam al-Ghazali was born in a small village of Ghazalah, Kota Thus Province Khurasan Persi region (Iran) in 450 AH / 1058 AD His features are including Sunni tasawuf based on the doctrine ahlu sunnah wal jama'ah. According to him, repentance is the first thing that must be passed by a salik, in other words, no salik is not through this maqam repentance. This is what is called the takhalli phase. It empties itself of both sins to God and to others who are potentially polluting the heart of a salik. After undergoing takhalli phase, after that, the salik enters tahalli phase, which adorns itself with good morals, not just morals good to man but also to God. Salik must undergo the next maqam-maqam like maqam zuhud, patience, syukr, tawakkal, and ridha to arrive at the phase of tajalli. Some of the main doctrines of Sufism of Imam al-Ghazali, namely tawheed, makhafah, mahabbah, and ma'rifat. From these principal teachings was born the concept of taubah, shabr, zuhud, tawakkal, and ridla.Imam al-Ghazali sangat populer di lingkungan umat Islam. Umat Islam amat jarang yang tidak mengenal tokoh ini. Sejumlah kitab karya Imam al-Ghazali menjadi obyek kajian di berbagai lembaga pendidikan Islam, mulai dari pesantren hingga perguruan tinggi Islam, baik di dalam maupun di luar negeri. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif termasuk penelitian  tokoh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemikiran tasawuf Imam al-Ghazali tentang pendidikan Islam. Temuan penelitian ini adalah Imam al-Ghazali dilahirkan di suatu kampung kecil Ghazalah, Kota Thus Propinsi Khurasan wilayah Persi (Iran) pada tahun 450 H/1058 M. Corak pemikirannya adalah termasuk tasawuf sunni yang berdasarkan doktrin ahlu sunnah wal jama’ah. Menurutnya, taubat adalah hal pertama yang harus dilalui oleh seorang salik, dengan perkataan lain, tak ada salik yang tak melalui maqam taubat ini. Inilah yang disebut sebagai fase takhalli.Yaitu mengosongkan diri dari dosa-dosa baik kepada Allah maupun kepada sesama yang potensial mengotori hati seorang salik. Selesai menjalani fase takhalli, setelah itu, salik memasuki fase tahalli, yaitu menghiasi diri dengan akhlak yang baik, bukan hanya berakhlak baik kepada manusia melainkan juga kepada Allah. Salik harus menjalani maqam-maqam berikutnya seperti maqam zuhud, sabar, syukr, tawakkal, dan ridha untuk sampai pada fase tajalli. Beberapa doktrin pokok tasawuf Imam al-Ghazali, yaitu tauhid, makhafah, mahabbah, dan ma’rifat. Dari ajaran-ajaran pokok ini lahir konsep taubah, shabr, zuhud, tawakkal, dan ridla.
ANALISIS KRITIS PEMIKIRAN PENDIDIKAN PROGRESIF MUHAMMAD ‘ATHIYAH AL-ABRASYI Hadi, Imam Anas
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 2, No 2 (2018): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.219 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v2i2.17

Abstract

AbstractIslamic education is very important for live, should the Islamic Education in family and school can form the child’s personality intact, faithful and devout, but the reality shows the relationship that is too loose between parents and childern. A sociologist calls it is crisis the authority of parents. Muhammad “Athiyah Al-Abrasyi offer contributions to islamic educations. He is well known in education. The works are widely used as a reference. The purpose of this paper is to know the biography and thoughts of Athiyah-Al Abrasyi about Islamic Education. This research whose data obtained by library research directed in understanding the messeges that exist in a text. This research includes biographical research because trying to conclude, analyze and make interpersonal thought about leader. The finding of the research is he’s an education expert whose last position as professor in Darul-Ulum at Egypt. He mastered several languages other than arabic, like english, hebrew and Suryani. Muhammad Athiyah Al-Abrasyi’s thoughts about islamic religious education is to prepare people to live perfectly and happily, to love the land, to be uprigh, to be perfect, to be mindful, to be ordely, to feel good, to be good at work. The basic of islamic education is that there is no age limit to start learning, ther is no limit to the length of  time childern learn in school. The main purpose of islamic religious education is the formations of high morals, with some formulation that is to achieve perfect morality, pay attention to religion and world at sametime, pay attention to its benefit, learn science to get its benefits, vocational education, carpentry to seek get its fortune. Yhe concept is morals is moral education and morals (akhlak). abstrakIslam dalam keluarga dan sekolah dapat membentuk kepribadian anak yang utuh, beriman dan bertakwa, namun realitanya (das sein) menunjukkan terjadinya hubungan yang agak terlepas antara ibu-bapak dengan anak-anaknya. Seorang ahli sosiologi menamakannya krisis kewibawaan orang tua. Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi menawarkan kontribusi dari pendidikan Islam. Beliau dikenal oleh para ahli dalam bidang pendidikan, di mana karya-karyanya banyak dipakai sebagai rujukan. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui biografi dan pemikiran ‘Athiyah Al-Abrasyi tentang pendidikan Islam. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang datanya didapat dengan melakukan penelitian pustaka (library research) diarahkan dalam memahami pesan-pesan yang ada dalam suatu teks. Penelitian ini termasuk penelitian biografi, karena berusaha menyimpulkan, menganalisis dan membuat interpretasi mengenai pemikiran tokoh. Temuan hasil penelitian adalah beliau pakar pendidikan yang memiliki jabatan terakhir sebagai guru besar di Dar al-Ulum Mesir. Ia menguasai beberapa bahasa di samping bahasa Arab, seperti bahasa Inggris, Ibrani dan Suryani. Pemikiran Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi tentang pendidikan agama islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan berbahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lesan maupun dengan tulisan. Dasar pendidikan Islam yaitu tidak ada pembatasan umur untuk mulai belajar, tidak ada batasan lamanya anak belajar di sekolah. Tujuan utama dari pendidikan Islam adalah pembentukan moral yang tinggi., dengan beberapa rumusan yaitu mencapai akhlak yang sempurna, memperhatikan agama dan dunia sekaligus, memerhatikan segi-segi manfaat, mempelajari ilmu untuk memdapat kan dzat itu sendiri, pendidikan kejuruan, pertukangan untuk mencari rizqi. Konsepnya adalah  pendidikan moral dan akhlak.
PENGEMBANGAN MATERI DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN MULTIKULTURAL Isnaini, Isnaini
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 2, No 2 (2018): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.079 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v2i2.18

Abstract

AbstractIndonesia is one of the biggest multikultural country in the world. This fact can be seen from social culture condition or geographical are very diverse and extensive. This diversity is rocornized or not be various problems like corruption, colution, nepotism, poverty, violence, environmental destruction, separatism and losing in humanity to respect people right other, based on the above problems, then a special strategy is needed to solve the problems through various fields such as Islamic religious education. So that educators need to instill the students the importance of religion in quality, not quantity, to be able to cultivate a humanist attitude, pluralist and democratic, the students need a religious education curriculum and materials are insighful and growing. So it doesn’t stuck on primordialism and ekslusivism religious groups and a narrow culture.abstrakIndonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan, separatisme, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut.Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan strategi khusus untuk memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang diantaranya adalah melalui pendidikan agama Islam. Sehingga para pendidik perlu menanamkan kepada anak didik pentingnya beragama secara kualitas, bukan kuantitas. Untuk dapat menumbuhkan sikap humanis, pluralis dan demokratis para anak didik perlu kiranya dikembangkannya kurikulum dan materi Pendidikan agama yang berwawasan multikultural. Sehingga tidak terjebak pada primordialisme dan eklusivisme kelompok agama dan budaya yang sempit.
STUDI ISLAM DENGAN PENDEKATAN FENOMENOLOGIS Mastori, Mastori
INSPIRASI (Jurnal Kajian dan Penelitian Pendidikan Islam) Vol 2, No 2 (2018): Inspirasi
Publisher : Fakultas Agama Islam UNDARIS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.183 KB) | DOI: 10.61689/inspirasi.v2i2.19

Abstract

AbstractIslamic studies have changed the Methodology over time in accordance with the times. Those changes the bring about a variety of dynamic thoughts. In the islamic world. Religion as a chain of authoritative tradition implies that religions need to be understood as religion, not because the believe or not to god, spirit or some transcendent form, but because their belief transmits and remforces the authority of tradion. Religion as the transmission of an authoritative tradition gives us away to study religion without incorporating the theological agenda and also provide space for a wide range of perspectives including past modern or pas colonial criticism.Studi Islam mengalami perubahan-perubahan metodologi dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan zaman. Perubahan-perubahan itu kemudian memunculkan beragai dinamika pemikiran yang dinamis  di dunia Islam. Agama sebagai mata rantai tradisi otoritatif menyiratkan bahwa agama-agama perlu dipahami sebagai agama, bukan karena mereka percaya atau tidak percaya kepada Tuhan, spirit atau sebagian bentuk transenden, namun karena kepercayaan mereka mentransmisikan dan memperkuat otoritas tradisi. Agama sebagai transmisi tradisi otoritatif memberikan kepada kita satu jalan untuk mempelajari agama tanpa memasukkan agenda teologis, sembari memberikan ruang untuk berbagai perspektif yang utuh, termasuk kritik-kritik posmodern atau poskolonial.

Page 1 of 1 | Total Record : 5