cover
Contact Name
Alex Rikki
Contact Email
alexrikisinaga@gmail.com
Phone
+6282275847123
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Bilal No. 52 Kelurahan Pulo Brayan Darat I Kecamatan Medan Timur, Medan, Sumatera Utara
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda
ISSN : 24428108     EISSN : 25977172     DOI : https://doi.org/10.2411/jikeperawatan
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda dikelola oleh Program Studi S1/DIII Keperawatan STIKes IMELDA, terbit 2 kali dalam setahun. Jurnal ini terbit dalam versi cetak pertama sekali pada bulan Februari 2015, sedangkan untuk media terbitan versi elektronik pertama sekali terbit di Bulan September 2017, dan merupakan wadah bagi para mahasiswa, dosen maupun peneliti untuk mengisi tulisan atau artikel yang merupakan hasil penelitian maupun karya tulis ilmiah di bidang kesehatan dan keperawatan. Jurnal Ilmiah Keperawatan Imelda memiliki scope : 1. Keperawatan medis bedah, 2. Keperawatan darurat, 3. Perawatan mental, 4. Keperawatan bersalin dan anak-anak, 5. Keperawatan komunitas, keluarga dan lansia manajemen keperawatan.
Articles 284 Documents
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA PENDERITA RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM SARI MUTIARA MEDAN TAHUN 2014 Paskah Rina Situmorang
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 1 No. 1 (2015): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi yang lebih dikenal dengan darah tinggi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan dan kematian. Lebih kurang 90 % penderita hipertensi tergolong hipertensi essensial atau primer yang belum diketahui penyebabnya, sedangkan sisanya adalah hipertensi sekunder yang sudah jelas penyebabnya seperti kelainan pembuluh darah, gangguan kelenjar tiroid, dan lain – lain. Faktor penyebab hipertensi antara lain faktor keturunan, pola makan, factor merokok, berat badan, dan faktor alkohol yang dianggap sangat mempengaruhi meningkatnya angka kejadian hipertensi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 71 orang, desain penelitian adalah Cross – sectional dengan mengunakan Chi – square Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara hipertensi dengan faktor keturunan dengan p : 0,000, adanya hubungan dengan pola makan dengan p : 0,001, adanya hubungan dengan faktor merokok dengan p : 0,000, dan adanya hubungan dengan factor alkohol denganp : 0,000, tidak ada hubungan antara aktifitas fisik p: 0,263 dan tidak ada hubungan dengan berat badan p : 0,644. Kesimpulan hasil penelitian Faktor – Faktor yang berhubungan dengan kejadian hiperensi adalah Faktor genetic, Faktor pola makan, Faktor merokok dan Faktor alcohol. Saran yang dapat disampaikan berkaitan dengan tindakan pencegahan diharapkan agar pelayanan kesehatan memberikan penyuluhan kesehatan untuk mencegah hipertensi.
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ISPA PADA BALITA DI DESA PEMATANG LALANG KECAMATAN PERCUT SEI TUAN KABUPATEN DELI SERDANG Nataria Yanti Silaban
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 1 No. 1 (2015): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini adalah pengetahuan tentang ISPA dengan tingginya angka kejadian ISPA pada balita menunjukkan bahwa ISPA merupakan kelompok penyakit yang kompleks. Faktor pencetus terjadinya penyakit ISPA adalah faktor lingkungan, individu anak, dan faktor perilaku. Upaya pencegahan ISPA dalam penelitian ini adalah status imunisasi lengkap, dan mengurangi kebiasaan merokok di rumah. Berdasarkan data WHO diperkirakan 13 juta balita yang terkena penyakit ISPA. Data dari penduduk Indonesia yang menderita penyakit ISPA berjumlah 17.443 balita. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskemas Tanjung Rejo Desa Pematang Lalang yang mengalami penyakit ISPA berjumlah 10 orang. Penelitian dalam studi ini menggunakan metode penelitian observasi deskriptif dengan rancangan penelitian case studi. Metode sampling dalam penelitian ini dengan menggunakan non probability dan pengambilan sampel dengan teknik quota sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar quesioner dengan jumlah populasi 93 orang dan sampel 30 responden. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan ibu dari semua tingkat mayoritas berpengetahuan cukup sebanyak 19 orang (63,63%), minoritasnya yang berpengetahuan baik 5 orang (16,6%). Semua ibu di Desa Pematang Lalang Kecamtan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, berisiko kecil pada anak balitanya menderita ISPA, dari 2 faktor yang mempengaruhi peneliti memperoleh hasil, Imunisasi tidak lengkap 3 responden (10%) Kebiasaan merokok 20 responden (66,6%) dari hasil tersebut yang menunjukan resiko tinggi terjadinya ISPA dari penelitian ini adalah Faktor Kebiasaan Merokok di rumah Sebanyak 20 orang (66,6%). Untuk itu disarankan kepada keluarga agar lebih meningkatkan pengetahuan dalam perawatan balita dengan penyakit ISPA.
PENGARUH PEMBERIAN PROBLEM SOLVING THERAPI UNTUK MENURUNKAN STRESS PADA PENDERITA GANGGUAN JANTUNG, 2016 Nixson Manurung
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Gangguan jantung akan menyebabkan seseorang sesak nafas dan cepat lelah baik dalam keadaan beraktivitas ataupun dalam keadaan istirahat. Penelitian ini bertujuan menguji efektifitas problem solving therapy dalam upaya menurunkan stres pada penderita gangguan jantung RSUD Dr. Pirngadi Medan dan RSUP H. Adam Malik Medan. Desain penelitian kuasi eksperimen pre test – post test dengan grup kontrol. Sampel 68 penderita gangguan jantung, terdiri dari 34 kelompok intervensi problem solving therapy dan 34 kelompok kontrol. Problem solving therapy diberikan sebanyak 4 sesi dalam jangka waktu 7 minggu dengan durasi waktu perlakuan selama 90 menit. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan terlebih dahulu dilakukan uji asumsi yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji statistik yang digunakan adalah paired t test dan Anova. Hasil penelitian pada Problem Solving Therapy menunjukkan (p<0,05) yang bermakna terdapat perbedaan penurunan stres sebelum terapi solving problem dengan setelah terapi solving problem sehingga solving problem therapy bermanfaat untuk menurunkan stres penderita gangguan jantung. Uji Anova Fhitung < Ftabel dan harga p > 0,05 berarti tidak terdapat perbedaan secara signifikan penurunan stres pada kelompok problem solving therapy. Terapi ini dapat direkomendasikan untuk digunakan pada penderita gangguan jantung yang mengalami stres.
GAMBARAN PENGETAHUAN PENDERITA DIABETES MELITUS TERHADAP SENAM KAKI DIABETIK DI RSU IPI MEDAN TAHUN 2015 Mukhtar Effendi Harahap
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Senam kaki adalah kegiatan yang dilakukan oleh pasien DM untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah pada kaki (Sumosardjuno, 2000) Data organisasi kesehatan dunia World Health Organization (WHO, 2009), Indonesia menempati urutan ke enam di dunia. Adapun jenis penelitian ini adalah deskriftif, dan metode pengambilan sampel Non Probability Sampling dengan tehnik Insidental Sampling dengan sampel sebanyak 30 sampel dengan tekhnik kuesioner menggunakan 15 pertanyaan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa mayoritars pengetahuan penderita DM terhadap senam kaki diabetik di RSU IPI Medan Tahun 2015 berpengetahuan cukup. Dengan Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur mayoritas berumur 60 tahun keatas sebanyak 11 responden (36,6%) dan minoritas berumur 40-44 dan 55-59 tahun sebanyak masing-masing 2 responden (6,7%). Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan mayoritas berpendidikan SMP sebanyak 13 responden (43,3%) dan minoritas berpendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 3 responden (10%). Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sumber Informasi mayoritas yang tidak memperoleh informasi sebanyak 25 responden (83,3%) dan minoritas yang memperoleh informasi dari media Elektronik sebanyak 3 responden (10%), dan Tenaga Kesehatan sebanyak 2 responden (6,7%). Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan mayoritas bekerja sebagai Pensiunan sebanyak 10 responden (33%) dan minoritas bekerja sebagai PNS sebanyak 2 responden (6,7%). Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengalaman mayoritas tidak pernah melakukan berjumlah 25 responden (83,3%), dan minoritas pernah melakukan berjumlah 5 responden (16,7%) Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengetahuan responden mayoritas berpengetahuan baik berjumlah 8 responden (26,7%), berpengetahuan cukup berjumlah 18 responden (60%) dan minoritas berpengetahuan kurang berjumlah 4 responden (13,3%).dan saran yang harus dilakukan baik dinas kesehatan atau masyarakat untuk bekerja sama memperhatikan penderita DM dengan mengenalkan atau mengajarkan senam kaki diabetik yang sangat bermanfaat untuk melancarkan sistem peredaran darah pada kaki untuk mencegah luka ganggren.
HUBUNGAN MOBILISASI DENGAN PENCEGAHAN DEKUBITUS PADA PASIEN KOMA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DELI SERDANG LUBUK PAKAM TAHUN 2015 Hamonangan Damanik
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hilang kesadaran atau koma merupakan masalah yang banyak dihadapi di unit perawatan intensif (UPI). Istilah koma di dalam penanganan penderita kritis di UPI digunakan untuk gangguan kesadaran dengan gejala akibat patofisiologinya. Terganggu atau menurunya kesadaran menunjukan disfungsi otak berat, dan koma berarti fungsi otak mengalami kegagalan otoregulasi serebral sehingga homeostasis tubuh hilang, hal ini menujukan bahwa otak adalah pusat sistim regulasi semua fungsi vital tubuh. Metode penelitain ini dengan menggunakan penelitian eksperimen dengan rancangan penelitian design one group pretest posttest, dimana populasi penelitian ini seluruh pasien koma yang dirawat inap diruangan ICU dengan jumlah 10 responden dan 3 responden sebagai variabel kontrol atau tanpa pemberlakuan. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah accidental sampling dengan jumlah 10 responden. Hasil penelitian ini ternyata ada hubungan mobilisasi dengan pencegahan dekubitus pada pasien koma dengan nilai probabilitas (ρ) = 0,002 (< 0,05), 3 responden sebagai variable kontrol terjadi dekubitus hal ini disebabkan kurang nya atau tidak adanya mobilisasi,faktor umur, dan kurangnya asuapan nutrisi. Karena itu disarankan bagi perawat di RS agar selalu memberikan mobilisasi, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan mengajarkan kepada keluarga pasien tentang mobilisasi khususnya pada pasien koma karena tindakan mobilisasi sangat penting dalam upaya pencegahan dekubitus.
ANALISIS FAKTOR YANG MEMENGARUHI SUAMI DALAM MEMILIH KONTRASEPSI VASEKTOMI DI KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2015 Sarida Surya Manurung
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is a country that has a lot of population, which until now could not be overcome. Facts show that in 2007 gender equality in the implementation of family planning among men and women have a higher gap. Based on the results of the achievement of an active family planning participants of Women and Family Planning (PPKB) of Medan in 2011 the use of contraceptives vasectomy 884 participants (0.38%), condoms are 11,089 participants (5.03%), while the husband who did not use contraception EFA as many as 146,721 husband. Data is based on achievement of the Medan District Participants KB Marelan EFA by 2012 the number of 23,514 Contraception vasectomy amounted to 64 participants (0.44%), condoms totaling 800 participants (5.52%). The purpose of this study to classify the factors that influence the husband in choosing a contraceptive vasectomy is a factor 1, factor 2, and so on .. This type of quantitative research using a survey of analytical methods through research explanatory. The population in this study were all male couples of childbearing age use contraception vasectomy in Medan District Marelan totaling 64 people and made the whole sample. Data obtained through interviews using questionnaires, and analyzed by factor analysis. The results showed that the number of children, education, knowledge, social culture, access to services, quality of service, support his wife and family support affect the husband chose vasectomy as a contraceptive in Medan District Marelan. Needed attention to the factors influencing their husbands in choosing vasectomy as a contraceptive in Medan District Marelan so you can increase the coverage KB men. Factors social demography, need and motivation the cause of her husband in choosing vasectomy as a contraceptive in Medan District Marelan to be distributed and provided explanations to the public so as to improve the coverage KB men in this district.
GAMBARAN FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENCEGAHAN TONSILITIS PADA REMAJA PUTRI DI AKPER IMELDA MEDAN TAHUN 2015 Rostinah Manurung
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tonsilitis merupakan pembengkakan yang terjadi pada amandel akibat infeksi didaerah tersebut. Pembengkakan amandel dapat terjadi pada siapapun terutama pada anak – anak dan remaja, sehingga perlu diingatkan penyebab radang amandel adalah makanan yang berminyak, pedas dan air minum yang dingin seperti es.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer melalui Quisioner dengan jumlah populasi 192 orang. Penelitian ini bertujuan untuk melihat fambaran faktor – faktor yang berhubungan dengan pencegahan tonsilitis pada remaja putrid di Akper Imelda bila dilihat dari segi Pendidikan, sumber informasi, faktor makanan, dan faktor air minum.Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa dari 66 responden mayoritas dari mereka bila dilihat dari pengetahuannya tentang tonsilitis dalah berpengetahuan cukup yaitu berjumlah 36 orang (54,6%), yang berpengetahuan kurang yaitu berjumlah 8 orang (12,1%), dan berpengetahuan baik yaitu 22 orang (33,3%), bila dilihat dari faktor makanan remaja putri yang mengkonsumsi makanan pedas, berminyak yaitu 59 orang (89,4%), tidak mengkonsumsi makanan pedas, berminyak yaitu 7 orang (10,6%), sedangkan bila dilihat dari faktor air minum remaja yang mengkonsumsi minuman dingin seperti es yaitu 46 orang (69,7%), dan remaja putri yang tidak mengkonsumsi air minum dingin seperti es yaitu 20 orang (30,3%).Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa mayoritas pengetahuan dari remaja putri di Akper Imelda masih cukup tentang informasi tonsilitis, sedangkan faktor makanan yang berminyak, pedas dan air minum yang dingin seperti es yang dikomsumsi sangatlah berpengaruh pada kesehatan terutama pada pembengkakan amandel oleh karena itu diharapkan kepada seluruh petugas kesehatan agar lebih mau lagi memberikan informasi yang bermanfaat seperti ini kepada seluruh lapisan masyarakat pada saat memberikan penyuluhan.
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECEMASAN WANITA USIA 45-50 TAHUN DALAM MENGHADAPI MASA MENOPAUSE DI DESA TERJUN KECAMATAN MEDAN MARELAN TAHUN 2016 Paskah Rina Situmorang
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menopause adalah haid terakhir yang dialami oleh wanita yang masih dipengaruhi oleh hormon reproduksi yang terjadi pada usia menjelang atau memasuki usia 50 tahun. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000 jumlah perempuan berusia diatas 45 tahun baru mencapai 15,5 juta orang (76%) dari jumlah penduduk, sedangkan tahun 2014 jumlahnya diperkirakan meningkat menjadi 30 juta (11,5%) dari total penduduk. WHO (World health organization) memperkirakan jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia pada 2015 adalah 414, Sindrom pre menopause dialami oleh banyak wanita hampir di seluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, di Amerika 60 %, di Malaysia 57 %, di China 18%, adan di Jepang 10%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuai Gambaran Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan Wanita Usia 45-50 Tahun Dalam Menghadapi Masa Menopause Di Desa Tejun Kecamatan Medan Marelan Tahun 2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Adapun sampel dalam penelitian ini berjumlah 40 responden dengan menggunakan random sampling. Setelah mengumpulkan data dari responden, maka peneliti melakukan analisa data yang dimulai dari editing, coding, sorting, tabulating, cleaning. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan Wanita Usia 45-50 Tahun Dalam Menghadapi Masa Menopause berdasarkan faktor pengetahuan dengan kriteria mayoritas faktor pengetahuan cukup sebanyak 19 orang (47,5%), berdasarkan faktor sumber informasi dengan kriteria mayoritas faktor sumber informasi cukup sebanyak 18 orang (45%), dan berdasarkan faktor umur dengan kriteria mayoritas faktor umur cukup sebanyak 22 orang (55%). Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa mayoritas cukup untuk itu diharapkan kepada wanita usia 45-50 tahun agar dapat meningkatkan informasi tentang menopause sehingga mengetahui tanda dan gejala yang terjadi pada menopause dan tidak merasa cemas dalam menghadapi menopause.
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU DALAM PENCEGAHAN EPILEPSI PADA ANAK USIA 5-12 TAHUN DI DUSUN III SUNGGAL KANAN KECAMATAN SUNGGAL KABUPATEN DELI SERDANG Noradina Noradina
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Epilepsi menurut World Health Organization (WHO) merupakan gangguan kronik otak yang menunjukkan gejala-gejala berupa serangan-serangan yang berulang-ulang yang terjadi akibat adanya ketidaknormalan kerja sementara sebagian atau seluruh jaringan otak karena cetusan listrik pada neuron (sel saraf) peka rangsang yang berlebihan, yang dapat menimbulkan kelainan motorik, sensorik, otonom atau psikis yang timbul tiba-tiba dan sesaat disebabkan lepasnya muatan listrik abnormal sel-sel otak.Ngastiah 2005). Prevalensi epilepsi di Amerika Utara dan Eropa adalah 5-6/1000; sementara itu prevalensi epilepsi di Amerika Tengah dan Selatan lebih tinggi ialah 17/1000. Insidensi epilepsi dinegara maju adalah 50/100.000 dan dinegara berkembang 100/100.000. Diseluruh dunia kasus baru tiap tahun diperkirakan sekitar 3,5 juta dengan proporsi sebagai berikut : 40% golongan anak, 40% golongan dewasa, dan 20% golongan lanjut usia. Di negara maju faktor penyebab epilepsi nonidiopatik yang paling menonjol adalah stroke, meliputi 11-14% dari seluruh kasus. Jenis penelitian deskritif. Teknik pengukuran pada setiap variabel adalah dengan mengajukan 12 pertanyaan yaitu masing-masing 6 pertanyaan untuk variabel pengetahuan dan 6 pertanyaan untuk variabel tindakan dalam bentuk kuesioner tertutup, kemudian diformulasikan menggunakan rumus range (kelas) dan rumus struger oleh sudjana (2009) untuk menentukan kriteria jawaban responden dan mengetahui skor dan persentase jawaban. Karakteristik Responden yang diteliti adalah umur, pendidikan, sumber informasi dan pekerjaan Dari hasil penelitian ditemukan bahwa mayoritas pengetahuan ibu tergolong cukup. Karena ditemukan sebanyak 24 responden (46,15%) yang berpengetahuan cukup. Mayoritas ibu umur (32-37) 17 responden. Pendidikan ibu mayoritas SD (38,46%) 20 responden Sumber Informasi mayoritas dari Tenaga Kesehatan (46,15%) 24 responden. Dan berdasarkan Pekerjaan ibu mayoritas petani (59,61%) 31 responden.
GAMBARAN PENGETAHUAN PENDERITA REMATIK TENTANG PERAWATAN NYERI SENDI DI DUSUN I DESA SUNGGAL KANAN KECAMATAN SUNGGAL KABUPATEN DELI SERDANGTAHUN 2015 Nataria Yanti Silaban
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rematik merupakan penyakit yang menyerang sendi dan struktur atau jaringan penunjang sekitar sendi. Angka kejadian rematik pada tahun 2008 yang dilaporkan oleh World Health Organization (WHO) adalah mencapai 20% dari penduduk dunia yang telah terserang rematik, dimana 5-10% adalah mereka yang berusia 5-20 tahun dan 20% adalah mereka yang berusia 55 tahun. Tujuan Penelitian adalah Mengetahui pengetahuan penderita rematik tentang perawatan nyeri sendi di dusun I desa sunggal kanan kecamatan sunggal kabupaten deli serdang tahun2015. Metode Penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini ada 32. Pengambilan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, dengan jumlah responden 32 lansia. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen yang digunakan berupa checklist. Analisa data yang digunakan menggunakan analisa univariat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 32 responden bahwa hasil penelitian menunjukkan adalah mayoritas berpengetahuan kurang yaitu sebanyak yaitu sebanyak 16 responden (50%) dan minoritas pengetahuan responden tentang perawatan nyeri sendi pada penderita rematik adalah baik yaitu sebanyak 7 responden (21,9%). Menurut asumsi peneliti tingkat pengetahuan penderita rematik masih kurang disebabkan oleh tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah yaitu dari hasil penelitian bahwa mayoritas responden dengan tingkat pendidikan lulusan SMP yaitu sebanyak 18 responden (56,2%) dan juga terdapat lulusan SMA yaitu ditunjukan dari hasil penelitianyaitu sebayak 5 responden (15,7%).

Page 2 of 29 | Total Record : 284