cover
Contact Name
Dyah Mustika Nugraheni
Contact Email
-
Phone
+6285640740570
Journal Mail Official
medica.arteriana@unimus.ac.id
Editorial Address
Jl. Kedungmundu Raya No. 18, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Arteriana (Med-Art)
ISSN : 26572370     EISSN : 26572389     DOI : http://dx.doi.org/10.26714/medart
Core Subject : Health,
Medica Arteriana (Med-Art) is an open access journal as the official scientific journal of the Faculty of Medicine University Muhammadiyah of Semarang. The Journal publishes articles in medical and health sciences resulted from basic sciences, clinical sciences and community health (public health, occupational medicine and family medicine) research to integrate researches in all aspects of human health. This journal published twice a year and provides original article, reviews, and also currently case reports. Letters and commentaries of our published articles are welcome. MED-ART aims to be a peer reviewed scientific journal of the highest quality. We want to ensure that whatever data published is true and original from the authors. MED-ART will records knowledge about the changing pattern of human diseases, human behaviour, community diseases and how researcher initiate to overcome all the health issues in Indonesia. It will also archive how medicine develops as a profession in the Nation. We will communicate and cooperate with other scientific journals in Indonesia and other countries.
Articles 92 Documents
Fetal Hydrothorax pada Kehamilan Preterm: Laporan Kasus Hilma Amalia; Najib Budhiwardoyo
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.8.1.2026.37-43

Abstract

Latar Belakang: Fetal hydrothorax adalah kondisi langka berupa akumulasi cairan di rongga pleura janin yang dapat menyebabkan gangguan kardio-pulmoner dan komplikasi serius. Prognosis bervariasi, sehingga deteksi dini melalui ultrasonografi prenatal penting untuk menentukan penatalaksanaan dan luaran perinatal.Kasus: Seorang wanita 36 tahun, G4P3A0, usia kehamilan 23 minggu, datang dengan keluhan sesak napas. Ultrasonografi menunjukkan efusi pleura kanan tanpa hydrops fetalis dengan biometrik janin sesuai usia kehamilan. Diagnosis fetal hydrothorax dextra terisolasi ditegakkan dan dilakukan penatalaksanaan konservatif berupa pemantauan ultrasonografi serial, terapi suportif termasuk methisoprinol, serta rujukan fetomaternal. Evaluasi usia kehamilan 28 minggu menunjukkan efusi pleura bilateral dengan perbaikan kualitatif dan tanpa tanda progresivitas.Kesimpulan: Fetal hydrothorax dextra terisolasi usia kehamilan 23 minggu tanpa hydrops fetalis dapat dikelola secara konservatif dengan pemantauan ultrasonografi serial, dimana diagnosis prenatal dan evaluasi berkala berperan penting dalam menentukan tatalaksana, prognosis, dan luaran perinatal.
Hubungan Asupan Protein dan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Body Cell Mass pada Pasien Hemodialisis Esti Widiasih; Hertanto Wahyu Subagio; Lestariningsih Lestariningsih
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.8.1.2026.44-50

Abstract

Latar Belakang: Pasien hemodialisis berisiko mengalami penurunan massa sel tubuh akibat asupan yang tidak memadai dan proses katabolik. Body Cell Mass menggambarkan jaringan metabolik aktif, tetapi hubungannya dengan asupan protein dan lama menjalani hemodialisis belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan asupan protein dan lama menjalani hemodialisis dengan Body Cell Mass pada pasien hemodialisis.Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional ini menggunakan data awal 35 pasien yang dipilih secara purposive di sebuah Klinik Ginjal dan Hemodialisis di Kota Semarang, pada Juni-Agustus 2023. Asupan protein satu bulan terakhir dinilai menggunakan semi-quantitative food frequency questionnaire, lama hemodialisis diperoleh dari rekam medis, dan Body Cell Mass diukur menggunakan multifrequency bioelectrical impedance analyzer 30 menit setelah hemodialisis. Hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan korelasi Pearson atau Spearman sesuai distribusi data.Hasil: Sebanyak 65,7% responden adalah perempuan dan rerata usia 52,38±4,54 tahun. Rerata asupan protein adalah 39,26±6,51 gram per hari, median lama hemodialisis 2,0 (1,5-3,0) tahun, dan rerata Body Cell Mass 28,85±4,99 kilogram. Asupan protein berhubungan positif dengan Body Cell Mass dengan kekuatan sedang (koefisien korelasi=0,413; nilai p=0,014). Lama menjalani hemodialisis tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan Body Cell Mass (koefisien korelasi peringkat=-0,010; nilai p=0,954).Kesimpulan: Asupan protein yang lebih tinggi berkaitan dengan Body Cell Mass yang lebih besar, sedangkan lama menjalani hemodialisis tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Pemantauan asupan protein dan komposisi tubuh diperlukan dalam pelayanan gizi pasien hemodialisis

Page 10 of 10 | Total Record : 92