cover
Contact Name
Dyah Mustika Nugraheni
Contact Email
-
Phone
+6285640740570
Journal Mail Official
medica.arteriana@unimus.ac.id
Editorial Address
Jl. Kedungmundu Raya No. 18, Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Medica Arteriana (Med-Art)
ISSN : 26572370     EISSN : 26572389     DOI : http://dx.doi.org/10.26714/medart
Core Subject : Health,
Medica Arteriana (Med-Art) is an open access journal as the official scientific journal of the Faculty of Medicine University Muhammadiyah of Semarang. The Journal publishes articles in medical and health sciences resulted from basic sciences, clinical sciences and community health (public health, occupational medicine and family medicine) research to integrate researches in all aspects of human health. This journal published twice a year and provides original article, reviews, and also currently case reports. Letters and commentaries of our published articles are welcome. MED-ART aims to be a peer reviewed scientific journal of the highest quality. We want to ensure that whatever data published is true and original from the authors. MED-ART will records knowledge about the changing pattern of human diseases, human behaviour, community diseases and how researcher initiate to overcome all the health issues in Indonesia. It will also archive how medicine develops as a profession in the Nation. We will communicate and cooperate with other scientific journals in Indonesia and other countries.
Articles 89 Documents
Faktor yang Berhubungan dengan Lama Rawat Inap pada Balita dengan Diare Akut Anita Alya Solehah; Oky Rahma Prihandani; Kanti Ratnaningrum
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.8.1.2026.9-18

Abstract

Latar Belakang: Diare merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah utama pada balita, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Berbagai faktor seperti status gizi, etiologi, gejala penyerta, derajat dehidrasi serta tatalaksana seperti pemberian probiotik memengaruhi proses penyembuhan pada balita dengan diare. Hal ini dapat memperpanjang lama rawat inap dan biaya yang dikeluarkan akan semakin besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan lama rawat inap pada balita dengan diare akut.Metode: Menggunakan pendekatan analitik cross sectional dengan teknik total sampling. Data berupa rekam medis pasien balita berusia 0-59 bulan dengan diare yang dirawat inap periode Januari-Desember 2024 di RSUD dr. Adhyatma. MPH dengan jumlah 97 sampel. Analisis hubungan menggunakan uji chi square. Hasil: Usia tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,726), jenis kelamin tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,327), status gizi tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,148), etiologi tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,132), derajat dehidrasi tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,055), pemberian probiotik tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,157), demam tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,920), mual tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,318), muntah tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,221), nyeri perut tidak berhubungan dengan lama rawat inap (p=0,726).Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara usia, jenis kelamin, status gizi, etiologi, derajat dehidrasi, pemberian probiotik, dan gejala penyerta (demam, mual, muntah, dan nyeri perut) dengan lama rawat inap pada balita dengan diare akut
Perbandingan Efektifitas Ondansetron sebagai Obat Tunggal dalam Pencegahan IONV pada Pasien Sesaria yang Diberikan Sebelum dan Sesudah Spinal Anestesi di Rumah Sakit Hermina Pandanaran Semarang Titin Setyowati; Cinta Cynthia Rudianto
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.7.2.2025.99-107

Abstract

Latar Belakang: Intraoperative Nausea and Vomiting atau disebut IONV merupakan efek samping yang sering dijumpai pada spinal anestesi saat operasi saesar dan mengganggu jalannya tindakan operasi, sehingga pengendalian yang efektif sangat penting. Ondansetron, sebagai antagonis reseptor serotonin 5-HT3, telah terbukti efektif dalam pencegahan IONV, namun belum ditemukan penelitian yang difokuskan untuk meneliti kapan waktu efektif untuk memberikan ondansetron pada saat spinal anestesi dalam rangka pencegahan IONV. Se-hingga, penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kapan waktu yang efektif untuk memberikan ondansetron pada saat spinal anestesi tindakan saesar guna mencegah terjadinya IONV.Metode: Metode yang digunakan berupa pendekatan kuantitatif analitik. Sample dari penelitian ini, terdiri dari 44 pasien yang telah dibagi ke dalam dua kelompok, kelompok pertama diberikan ondansetron sebelum spinal anestesi dan kelompok kedua diberikan ondansetron sesudah spinal anestesi.Hasil: Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ondansetron sebelum spinal anestesi secara signifikan lebih efektif dalam mencegah kejadian IONV pada menit ke-10 intraoperative operasi saesar.Kesimpulan: Temuan ini mendukung optimalisasi waktu pemberian ondan-setron dalam protokol pencegahan IONV, yang dapat meningkatkan kenyamanan pasien pada saat operasi saesar berlangsung.
Hubungan Ekspresi CD13 dan CD33 dengan Profil Klinikopatologik Pasien Plasma Cell Myeloma di RSUP Dr. Kariadi Semarang Rayno Praditya Erickson; Hermawan Istiadi; Devia Eka Listiana; Dik Puspasari; Vega Karlowee
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.7.2.2025.57-65

Abstract

Pendahuluan: Plasma Cell Myeloma (PCM) merupakan keganasan sel plasma dengan variasi klinikopatologik dan outcome yang beragam. Molekul CD13 dan CD33 yang umumnya diekspresikan pada sel mieloid juga dapat muncul pada PCM, diduga berperan dalam proses diferensiasi sel, adhesi, serta invasi tumor, sehingga berpotensi memengaruhi perjalanan penyakit dan prognosis pasien.Metode: Penelitian observasional analitik belah lintang ini dilakukan terhadap 40 sampel blok parafin PCM di RSUP Dr. Kariadi Semarang selama periode 2023–2024. Pemeriksaan ekspresi CD13 dan CD33 dilakukan menggunakan metode imunohistokimia oleh dua observer, dengan uji Kappa menunjukkan tingkat kesesuaian sempurna (κ=1,000; p<0,001). Analisis hubungan ekspresi dengan parameter klinikopatologik dilakukan menggunakan uji Chi-square/Fisher’s Exact, sedangkan analisis ketahanan hidup dilakukan dengan metode Kaplan-Meier dan uji Log-rank.Hasil: Ekspresi CD13 positif ditemukan pada 14 sampel (35,0%) dan CD33 positif pada 11 sampel (27,5%). Tidak terdapat hubungan signifikan antara ekspresi CD13 maupun CD33 dengan usia (p=0,350 dan p=1,000). Ekspresi CD13 juga tidak berhubungan signifikan dengan varian klinik (p=0,331) maupun histologik (p=1,000), sedangkan ekspresi CD33 menunjukkan hubungan bermakna dengan varian klinik (p=0,003) dan histologik (p=0,025). Analisis Kaplan-Meier memperlihatkan kecenderungan survival lebih pendek pada ekspresi positif CD13 dan CD33, meskipun tidak bermakna secara statistik.Kesimpulan: Ekspresi CD13 dan CD33 ditemukan pada sebagian kasus PCM. CD13 tidak berhubungan signifikan dengan parameter klinikopatologik, sedang-kan CD33 berhubungan bermakna dengan varian klinik dan histologik. Tren survival lebih pendek pada ekspresi positif menegaskan potensi CD13 dan CD33 sebagai biomarker prognostik yang perlu divalidasi melalui penelitian berskala lebih besar.
Analisis Faktor Risiko Mortalitas pada Pasien COVID-19 dengan Keganasan Non-Hematologi Nyoman Suci Widyastiti; Dyah Mustika Nugraheni; Dwi Retnoningrum; Ariosta Ariosta; Fathur Nur Kholis; Nur Farhanah; Selamat Budijitno; Endy Cahyono Kristiawan
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.7.2.2025.74-81

Abstract

Latar Belakang: Corona Virus Disease-19 (COVID-19) merupakan masalah kesehatan dunia yang sangat serius. Gejala yang berat dapat berujung kematian terutama pada individu yang memiliki komorbid seperti penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi dan pada kondisi imunosupresi seperti pada pasien dengan keganasan. Studi terdahulu menunjukkan peningkatan risiko mortalitas pada pasien keganasan yang terinfeksi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis kelamin, jenis keganasan, hipertensi, diabetes melitus, derajat keparahan penyakit, nilai lymphocyte-to-CRP ratio (LCR), dan kadar kreatinin serum dengan tingkat mortalitas pada pasien COVID-19 dengan keganasan non-hematologi.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional retrospektif yang dilaksanakan pada bulan Mei 2023 hingga Juni 2023 dengan mengambil data pasien COVID-19 dengan keganasan non-hematologi di RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode bulan Maret 2020 hingga Desember 2022. Semua data diambil melalui rekam medis elektronik (RME) RSUP Dr. Kariadi Sema-rang. Nilai cut-off untuk LCR dan kadar kreatinin serum masing-masing adalah 100 dan 1,3 mg/dL. Data kategorik dianalisis menggunakan uji Chi-square untuk mendapatkan nilai p dan Prevalence Ratio (PR). Uji regresi logistik digu-nakan untuk mengetahui hubungan independen antara derajat keparahan penya-kit dan kadar kreatinin serum terhadap tingkat mortalitas.Hasil: Seratus satu pasien diikutkan dalam penelitian dengan 48 kasus mortalitas. Hubungan antara jenis kelamin, jenis keganasan, hipertensi, diabetes melitus, dan nilai LCR dengan tingkat mortalitas didapatkan masing-masing nilai p = 0,924; p = 0,847; p = 0,101; p = 0,916; p = 0,143. Hubungan antara derajat keparahan penyakit dan kadar kreatinin serum dengan tingkat mortalitas didapatkan masing-masing nilai p < 0,001 (PR = 22,148) dan p = 0,009 (PR = 3,604). Hasil analisis mutivariat menunjukkan bahwa nilai PR dari hubungan antara derajat keparahan penyakit dan kadar kreatinin serum dengan tingkat mortalitas pasien masing-masing adalah 27,547 dan 7,090.Kesimpulan: Jenis kelamin, jenis keganasan, hipertensi, diabetes melitus, dan nilai LCR tidak berhubungan dengan tingkat mortalitas. Derajat keparahan penyakit dan peningkatan kadar kreatinin serum berhubungan dengan tingkat mortalitas.
Efektivitas Edukasi Pra-Nikah Berbasis Komunitas dalam Peningkatan Pengetahuan KDRT pada Calon Pengantin di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang Arief Tajally Adhiatma; Hema Dewi Anggraheny; Anisa Mina Maulida
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.7.2.2025.82-88

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan krisis kesehatan masyarakat yang mengancam stabilitas keluarga di Indonesia, termasuk di Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Edukasi pranikah penting sebagai upaya preventif primer untuk meningkatkan pemahaman calon pengantin sebelum memasuki jenjang pernikahan. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pengetahuan calon pengantin mengenai aspek hukum, manajemen konflik, dan kesetaraan gender untuk mencegah risiko KDRT.Metode: Kegiatan dilaksanakan pada 7 Desember 2024 di KUA Kecamatan Pedurungan dengan melibatkan 23 calon pengantin yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Metode intervensi berupa penyuluhan langsung selama 4 jam yang mencakup materi KDRT dan pembinaan keluarga. Evaluasi dila-kukan menggunakan kuesioner terstandar melalui pretest dan posttest yang dianalisis dengan uji t berpasangan.Hasil: Karakteristik responden didominasi oleh perempuan (60,9%) dengan rata-rata usia 23,6 tahun. Hasil analisis menunjukkan peningkatan skor pengetahuan yang signifikan secara statistik, dari rata-rata 45±8,75 pada pretest menjadi 85±7,23 pada posttest (p<0,001).Kesimpulan: Edukasi pranikah berbasis komunitas efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran calon pengantin terhadap pencegahan KDRT. Program ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara rutin guna memperkuat ketahanan keluarga dan menurunkan prevalensi kekerasan di masyarakat.
Plasenta Suksenturiata pada Kehamilan Aterm: Laporan Kasus Aulia Syifa Madani; Najib Budhiwardoyo
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.8.1.2026.19-25

Abstract

Latar Belakang: Plasenta suksenturiata merupakan kelainan morfologi plasenta yang jarang ditemukan namun berpotensi menimbulkan komplikasi obstetri serius, seperti retensio plasenta, perdarahan postpartum, dan vasa previa. Kondisi ini sering tidak terdeteksi secara antenatal.Kasus: Seorang wanita berusia 34 tahun, G2P1A0, dengan kehamilan aterm yang datang dengan keluhan perut kencang-kencang. Pemeriksaan ultrasonografi trimester kedua tidak menunjukkan kelainan morfologi plasenta. Persalinan dilakukan secara sectio cesarea elektif atas indikasi riwayat sectio cesarea sebelumnya, dan inspeksi visual plasenta postpartum menunjukkan adanya satu lobus plasenta tambahan yang terpisah dari plasenta utama dan dihubungkan oleh pembuluh darah intramembranosa, sesuai dengan plasenta suksenturiata. Tidak ditemukan komplikasi obstetri selama persalinan maupun masa nifas.Kesimpulan: Plasenta suksenturiata dapat terjadi pada kehamilan aterm dan sering luput dari diagnosis antenatal. Pemeriksaan plasenta secara menyeluruh setelah persalinan merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi yang dapat dihindari.
Perbedaan Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin, Lokasi Tumor, Diameter Tumor, dan Subtipe Risiko Basal Cell Carcinoma Aina Safina Sudjatnika; Hermawan Istiadi; Meira Dewi Kusuma Astuti; Devia Eka Listiana; Udadi Sadhana
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.7.2.2025.66-73

Abstract

Latar Belakang: Basal cell carcinoma (BCC) adalah kanker kulit tersering dengan peningkatan jumlah kasus akibat paparan sinar matahari. Vascular endothelial growth factor (VEGF) adalah faktor proangiogenik yang kuat, dan berperan penting dalam progresi kanker kulit. Penelitian bertujuan membuktikan per-bedaan Ekspresi VEGF BCC berdasarkan karakteristik klinikopatologis pasien.Metode: Penelitian cross sectional menggunakan sampel blok parafin dari 39 pasien dengan diagnosis histopatologi BCC di RS Kariadi periode Januari 2017 hingga Desember 2020. Ekspresi VEGF dinilai secara semi-kuantitatif dengan menggabungkan skor persentase dan skor intensitas sel-sel tumor yang diwarnai diantara total sel-sel ganas. Data klinikopatologis yang diamati meliputi usia, jenis kelamin, lokasi tumor, diameter tumor, subtipe risiko BCC. Data akan dianalisis menggunakan uji uji beda (Chi-Square dan uji t tidak berpasangan atau Mann-Whitney).Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi VEGF antar kelompok usia (p = 0,296); jenis kelamin (p = 0,822); lokasi tumor (p = 0,121); diameter ulkus (p = 0,660) ; subtipe risiko (p = 0,641) pasien BCC.Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi VEGF berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, lokasi tumor, diameter tumor, dan subtipe risiko pasien BCC.
Hubungan Dukungan Keluarga dan Tekanan Akademik dengan Kesehatan Mental Mahasiswa Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang Dewi Safitri Fatma Mawarni; Suprihhartini Suprihhartini; Wijayanti Fuad
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.7.2.2025.89-98

Abstract

Latar Belakang: Mahasiswa kedokteran kerap mengalami tekanan akademik yang tinggi, seperti beban belajar yang berat, tuntutan untuk mencapai nilai tinggi, dan kompetisi yang ketat. Tekanan ini bisa mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan mental mereka, seperti kecemasan, depresi, dan stres. Diha-rapkan dengan adanya dukungan keluarga bisa menurunkan kecen-derungan munculnya kejadian yang bisa berakibat adanya tekanan, karenanya bisa me-nambah kesejahteraan mahasiswa. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menyelidiki adanya hubungan antara dukungan keluarga dan tekanan akademik dengan kesehatan mental mahasiswa kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang.Metode: Penelitian korelasional kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitan ialah mahasiswa kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang Angkatan 2022 berjumlah 69 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan Kuesioner Perceived Social Support Family-20, Kuesioner Perception Academic Stress Scale-18 dan Kuesioner Mental Health Inventory-38. Analisis hubungan menggunakan uji rank spearman.Hasil: Mayoritas responden memiliki dukungan keluarga yang baik sejumlah 44 responden (63,8%), mayoritas responden memiliki tingkat tekanan akademik rendah sejumlah 37 responden (53,6%) dan mayoritas responden memiliki tingkat kesehatan mental sedang sejumlah 32 responden (46,4%). Pada analisis uji rank spearman menunjukan bahwa terdapat hubungan positif antara du-kungan keluarga dengan kesehtan mental (p-value < 0,001) dengan tingkat kore-lasi sedang (r = 0,569) dan terdapat hubungan negatif antara tekanan akademik dengan kesehatan mental (p-value = 0,039) dengan tingkat korelasi rendah (r = -0,249).Kesimpulan: Dukungan keluarga memiliki hubungan positif dengan tingkat ko-relasi kuat dengan kesehatan mental, sedangkan tekanan akademik memiliki hubungan negatif dengan tingkat korelasi rendah dengan kesehatan mental.
Peningkatan Risiko Stroke Non-Hemoragik Setelah Pemberian Ketorolac Pada Pasien Dengan Proktokolitis: Laporan Kasus Dzaka Ogan Amirudin Lutfi; Niken Palupi; Titiek Hidayati
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 7, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.7.2.2025.46-56

Abstract

Latar Belakang: Stroke non-hemoragik disebabkan oleh penyumbatan arteri yang mengurangi aliran darah dan oksigen ke otak, menyebabkan kematian jaringan saraf. Di Indonesia, prevalensi stroke meningkat dari 7% pada tahun 2013 menjadi 10,9% pada tahun 2018, dengan sekitar 2,1 juta penyintas. Faktor risiko utama meliputi hipertensi, diabetes, dislipidemia, obesitas, dan merokok. Obat anti-inflamasi nonsteroid seperti ketorolac diketahui dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular, termasuk stroke non-hemoragik, terutama pada pasien dengan penyakit inflamasi kronis.Kasus: Seorang pria berusia 57 tahun datang ke IGD RSUD Kota Yogyakarta dengan keluhan nyeri perut, sulit buang air besar dan buang angin sejak 3 bulan yang lalu. Kemudian pasien diberikan infus asering, injeksi ketorolac dan ranitidin. Tiga jam kemudian pasien tiba-tiba sulit diajak komunikasi, tampak linglung, sulit bicara dan sulit menggerakkan tubuh sisi kiri. MSCT Scan upper dan lower abdomen menunjukkan dolichocolon dengan proktokolitis, sedangkan CT-Scan kepala non kontras menunjukkan lesi hipodens regio oksipital kanan dengan kesan infark hiperakut. Diagnosis ditegakkan sebagai stroke non hemoragik dengan proktokolitis.Kesimpulan: Ketorolac dapat meningkatkan agregasi trombosit, vasokonstriksi, serta ketidakseimbangan prostasiklin tromboksan A2, sehingga memperbesar risiko trombosis serebral. Oleh karena itu, pemberian ketorolac harus dipertimbangkan secara hati-hati. Alternatif analgesik dengan risiko kardiovaskular dan gastrointestinal lebih rendah, serta pemantauan yang sangat dianjurkan untuk mencegah komplikasi serius.