cover
Contact Name
Muhrisun Afandi
Contact Email
risonaf@yahoo.com
Phone
+6282242810017
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat
ISSN : 25983865     EISSN : 26143461     DOI : https://doi.org/10.14421/panangkaran
Jurnal Panangkaran merupakan jurnal Assosiasi Peneliti Agama-agama yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai media komunikasi hasil penelitian para peneliti, ilmuwan dan cendekiawan. Tujuannya adalah untuk mewadahi, menyebarluaskan dan mendialogkan wacana ilmiah di bidang penelitian sosial keagamaan. Naskah yang dimuat dalam jurnal berasal dari hasil-hasil penelitian maupun kajian-kajian kritis para peneliti agama atau akademisi yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sosial keagamaan, kelekturan, pendidikan dan keagamaan, agama dan sains. Jurnal terbit setahun 2 kali pada bulan Juni dan Desember.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2023)" : 7 Documents clear
Komunikasi Artifaktual sebagai Media Dakwah: Studi Club Motor Bikers Subuhan Lampung Melawan Stigma Negatif Geng Motor Naufal Maskuri, M. Ibnu; Yanti, Fitri
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i02.3173

Abstract

Lampung province is notorious for the rampant criminality of begal and the anarchy of a number of motorcycle gangs that disturb the community. The emergence of motorcycle clubs is a frightening specter for the people of Lampung. The Bikers Subuhan Lampung Motorcycle Club is present to erase this bad stigma. Its movement in da'wah activities is interesting to study. The purpose of this article is to analyze the role of artifactual communication as a means of dakwah for the Subuhan Lampung Bikers Motorcycle Club. This research uses a qualitative approach, collecting data through interview techniques, observation, and documentation. Then the data that has been collected is analyzed using the principles of qualitative data analysis (Miles and Huberman). Artifactual communication as a medium of da'wah for Subuhan Lampung Bikers Motor Club becomes its own medium for inviting audiences to join and carry out their da'wah activities. [Provinsi lampung terkenal dengan maraknya kejahatan kriminal begal dan anarkisnya sejumlah anggota club motor yang membuat masyarakat terganggu. Munculnya club motor menjadi momok menakutkan bagi masyarakat lampung. Club Motor Bikers Subuhan Lampung hadir untuk menghapus stigma buruk tersebut. Pergerakannya pada aktivitas dakwah menarik untuk diteliti. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis peran komunikasi artifaktual sebagai media dakwah Club Motor Bikers Subuhan Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian data yang sudah terkumpul dianalisis menggunakan prinsip analisis data kualitatif Miles dan Huberman. Komunikasi artifaktual sebagai media dakwah Club Motor Bikers Subuhan Lampung menjadi media tersendiri dalam mengajak khalayak untuk bergabung dan melakukan aktivitas dakwah mereka.]
Makan dan Makanan dalam Yahudi dan Islam: Mempertemukan Kashrut dan Halal-Haram Gultom, Harry Brilianto
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i02.3193

Abstract

This article aims to explore the similarities and intersections between Judaism and Islam. Both Judaism and Islam are religions of law that regulate all aspects of their adherents' lives. One of the doctrines (thoughts) of both religions that have similarities and can be dialogued is food. For both religions, food is a critical element in religious teaching. Judaism and Islam each have rules that determine which foods are permissible and which are not. The determination of these foods certainly has its own rationale. Therefore, to understand the reasoning behind the food determinations in both religions, an exploratory method will be used through library research. In conclusion, it will be revealed that Judaism and Islam find common ground in determining which foods are permissible and impermissible, with the intent to maintain the distinctiveness, integrity, and devotion of the followers to their deity. [Artikel ini bertujuan melihat perbandingan dan titik temu antara ajaran agama Yahudi dan agama Islam. Baik agama Yahudi dan agama Islam keduanya adalah agama hukum yang mengatur segala aspek kehidupan umatnya. Salah satu ajaran dari kedua agama yang memiliki persamaan dan dapat didialogkan adalah hal makanan. Bagi kedua agama, makanan adalah unsur yang sangat penting dalam ajaran agama. Agama Yahudi dan dan agama Islam masing-masing memiliki aturan yang menentukan apa saja makanan yang boleh dikonsumsi dan makanan yang tidak boleh dikonsumsi. Penentuan makanan itu tentu memiliki alasan tersendiri. Maka untuk mendapatkan alasan penentuan makanan bagi kedua agama, metode yang akan digunakan adalah eksploratif melalui penelitian kepustakaan (library research). Pada akhirnya akan disimpulkan bahwa agama Yahudi dan agama Islam memiliki titik temu dalam penetapan makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan yakni untuk menjaga kekhususan, keutuhan, dan ketaatan umat kepada yang dipujanya.]
Religious and Cultural Integration in the Baayun Mulud Tradition of the Banjar Tribe Lina Amiliya; Nasrudin; Bakri, Zulfikarni
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i02.3233

Abstract

The concept of integration between religion and culture is capable of producing new religious mosaics with local characteristics. As is the case with the Baayun Mulud Tradition from the Banjar Tribe, from a cultural context, the Baayun Mulud Tradition is a religious practice that is thick with the integration of Islamic values. This study uses a qualitative approach with data collection techniques such as interviews, observations, and literature based on relevant studies. The results of this study indicate that there is integration between religion and culture in the Baayun Mulud Tradition. The presence of Islam was able to change traditions that were originally closely related to the spirit of the unseen world into traditions that have Islamic elements, such as reciting shalawat poems addressed to the Prophet Muhammad. Meanwhile, culture is a form of practice for several Islamic values. [Konsep integrasi antara agama dan budaya mampu melahirkan mozaik-mozaik keagamaan baru yang berwatak dan bercorak lokal. Seperti halnya yang terjadi pada Tradisi Baayun Mulud dari Suku Banjar. Dari konteks budaya, Tradisi Baayun Mulud menjadi praktik keagamaan yang kental dengan integrasi nilai-nilai keislaman. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tekhnik pengumpulan data wawancara, observasi serta studi pustaka berdasarkan kajian yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi integrasi antara agama dan budaya pada Tradisi Baayun Mulud. Hadirnya agama Islam mampu merubah tradisi yang awalnya erat dengan ruh alam ghaib menjadi tradisi yang mempunyai unsur-unsur keIslaman seperti pembacaan syair-syair shalawat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad. Sedangkan budaya menjadi wujud praktik dari beberapa nilai keislaman.]
Transforming Da'wah into Interreligious Engagement: Examining the Eco-Bhinneka Muhammadiyah Initiative Manalu, Musdodi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i02.3333

Abstract

This article explores environmental awareness in interfaith da'wah and dialogue, featuring Muhammadiyah's Eco-Bhinneka program as a case study. Environmental issues have attracted significant global attention in recent years, prompting various religious communities to reflect on their teachings and practices related to ecological survival. Eco-Bhinneka Muhammadiyah is one of the programs initiated by Muhammadiyah, the largest organization in Indonesia, to face environmental challenges through a proactive approach and integrating da'wah principles to initiate interfaith dialogue. This research uses qualitative methods, adopts the inter-religious dialogue concept outlined in Paul Swidler's thoughts, and combines it with the concept of lived religion proposed by Devaka Premawardhana. The research shows that the program focuses on environmental conservation and uses the environment as a platform to engage in da'wah activities and promote inter-religious dialogue. Eco-Bhinneka Muhammadiyah is an inspiring example of how the concepts of da'wah and interfaith dialogue can be effectively complemented with environmental awareness to address pressing ecological challenges and promote greater harmony among communities with diverse religious backgrounds. The da'wah method highlighted in this study is progressive interpretive da'wah. [Artikel ini mengeksplorasi kesadaran lingkungan dalam dakwah dan dialog lintas agama, dengan menggunakan program Eco-Bhinneka Muhammadiyah sebagai studi kasus. Isu-isu lingkungan telah menarik perhatian dunia dalam beberapa tahun terakhir, mendorong berbagai komunitas agama untuk merefleksikan ajaran dan praktik mereka yang berkaitan dengan kelangsungan hidup ekologis. Eco-Bhinneka Muhammadiyah adalah salah satu program yang diprakarsai oleh Muhammadiyah, organisasi terbesar di Indonesia, untuk menghadapi tantangan lingkungan hidup melalui pendekatan proaktif dan mengintegrasikan prinsip-prinsip dakwah yang menginisiasi dialog antar agama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, mengadopsi konsep dialog antar agama yang diuraikan dalam pemikiran Paul Swidler, dan menggabungkannya dengan konsep agama sehari-hari yang diusulkan oleh Devaka Premawardhana. Hasil analisis menunjukkan bahwa program ini berfokus pada pelestarian lingkungan dan menggunakan lingkungan sebagai platform untuk melakukan kegiatan dakwah dan mempromosikan dialog antar agama. Eco-Bhinneka Muhammadiyah merupakan contoh inspiratif tentang bagaimana konsep dakwah dan dialog antar agama dapat dikombinasikan secara efektif dengan kesadaran lingkungan untuk mengatasi tantangan ekologis yang mendesak dan mempromosikan kerukunan yang lebih besar di antara masyarakat dengan latar belakang agama yang beragam. Metode dakwah yang ditekankan dalam penelitian ini adalah dakwah interpretatif progresif.]
Reviving Islamic Education: : Ibn Khaldun's Influence on Contemporary Education Azka, Sofiyyudin; Bakar, M. Yunus Abu
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i02.3341

Abstract

The purpose of this article is to reveal Ibn Khaldun's views on education, which indirectly provide an overview of the Islamic education system that he considered ideal. In addition, this study will also try to assess the extent to which his thoughts influence the development of Islamic education in Indonesia today. The method used in this article is a qualitative descriptive analysis, which involves a literature study of previous research documents and texts. The results of the analysis show that Ibn Khaldun's thoughts on the Islamic education system have a significant impact on the development of Islamic education today. This can be seen in his views on the purpose of education, educational curriculum, classification of knowledge, methods of acquiring knowledge, learning methods, education system, educators and learners, educational environment, and its implications for contemporary Islamic education. [Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengungkapkan pandangan Ibnu Khaldun tentang pendidikan, yang secara tidak langsung memberikan gambaran tentang sistem pendidikan Islam yang dianggapnya ideal. Selain itu, penelitian ini juga akan mencoba menilai sejauh mana pemikirannya memengaruhi perkembangan pendidikan Islam di Indonesia saat ini. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah analisis deskriptif kualitatif, yang melibatkan studi literatur terhadap dokumen dan teks-teks penelitian sebelumnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemikiran Ibn Khaldun tentang sistem pendidikan Islam memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan pendidikan Islam saat ini. Hal ini terlihat dalam pandangannya mengenai tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan, klasifikasi ilmu, metode perolehan ilmu, metode pembelajaran, sistem pendidikan, pendidik dan peserta didik, lingkungan pendidikan, dan implikasinya terhadap pendidikan Islam kontemporer.]
Al-Insaniyyah dan Al-Adyan:: Wacana Persaudaraan dalam Dokumen Watsiqoh ‘an Al-Ukhuwah Al-Insaniyyah min Ajli Al-Salam Al-‘Alami wa Al-‘Aisy Ma’an Ghazali, Fikri; Suhandano
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i02.3344

Abstract

This research aims to reveal the representation of brotherhood in the document titled Watsiqoh 'an al Ukhuwah al-Insaniyyah min Ajli al Salam al 'Alami wa al 'Aisy Ma'an (hereinafter abbreviated as WUI) in 2019. The document contains a memorandum of understanding on human brotherhood between Muslims and Catholicism signed by Imam al-Azhar Sheikh Thayyeb and Pope Paul Francis in Abu Dhabi. The method of Corpus-Assisted Critical Discourse Analysis (CACDA) was used in this research. To collect the data, a corpus-based approach was applied through Voyant-tools.org site to see the frequency of word occurrences and identify the topics that dominate the document. The features of Cirrus, Links and Context were completed. Afterwards, Fairclough’s critical analysis model was applied to the data to reveal the representation of brotherhood reflected in the WUI, focusing on lexicon selection, mention of social actors, and social events. The results of the research show that there are words that often appear in the data, including words related to humanity (الناس, الانسان 'human' and الانسانية 'humanity') and words that have religious meaning (الأديان 'religions'), therefore it can be concluded that brotherhood reflected in the WUI document is based on humanity and religion. [Penelitian ini bertujuan mengungkap representasi persaudaraan pada dokumen Watsiqoh ‘an al Ukhuwah al-Insaniyyah min Ajli al Salam al ‘Alami wa al ‘Aisy Ma’an (selanjutnya akan disingkat WUI) pada tahun 2019. Dokumen tersebut berisi nota kesepahaman mengenai persaudaraan kemanusiaan antara Islam dan Katolik yang ditandatangani oleh Imam al Azhar Syekh Thayyeb dan Paus Paulus Fransiskus di Abu Dhabi. Penelitian ini menggunakan metode analisis wacana kritis dengan bantuan linguistik korpus atau Corpus-Assisted Critical Discourse Analysis (CACDA). Data dikumpulkan dengan pendekatan korpus melalui situs Voyant-tools.org untuk melihat frekuensi kemunculan kata serta mengidentifikasi topik yang mendominasi dokumen tersebut. Fitur yang digunakan meliputi Cirrus, Links, dan Contexts. Selanjutnya, analisis wacana kritis Fairclough dilakukan pada data untuk mengungkapkan representasi persaudaraan yang tercermin dalam WUI, dengan berfokus pada pilihan leksikon, penyebutan aktor sosial, serta kejadian sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya kata yang sering muncul pada data, meliputi kata yang berkaitan dengan kemanusiaan (الناس, الانسان ‘manusia’ dan الانسانية ‘kemanusiaan’) dan kata yang bermakna agama (الأديان ‘agama-agama’), sehingga dapat disimpulkan persaudaraan yang tercermin dalam dokumen WUI berlandaskan pada kemanusiaan dan agama.]
From Conflict to Solidarity: Revisiting Muslim-Christian Relation after 171 Tragedy in Mataram Ahdar, Rozi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v7i02.3394

Abstract

Several Muslim-Christian conflicts occurred after the regime of Soeharto ended. Two of them are the Maluku and Poso conflicts. Another one occurred in 2000, on January 17th, or what is well known as the 171 tragedy. Why did the 171 tragedy occur in Lombok? Extremism and puritanism could be the answers. It is a sect that exists in both Islam and Christianity that “justifies” violence in the name of religion. What is interesting about the 171 tragedy is that it was not continued for long-term periods. Soon after the condition is safe, economic and academic collaboration between Islam and Christianity will resume normally. This is a descriptive-qualitative paper. This paper argues that 171 tragedy is the beginning of Islam-Christian collaboration to fight extremism in religion instead of an enmity reason for both religions. With that understanding, it is hoped that solidarity to combat extremism will continue to grow. The occurrence of 171 tragedies caused chaos and detriment for Christians. However, it transformed Mataram from a city of religious contestation among Islam, Christianity, Hinduism, and Buddhism into a city of unity. [Sejumlah konflik antara Muslim dan Kristen muncul setelah jatuhnya rezim Soeharto. Salah duanya terjadi di Maluku dan Poso. Konflik lain terjadi pada 17 Januari tahun 2000 atau dikenal dengan tragedi 171. Kenapa kemudian tragedi 171 terjadi di Lombok? Ekstremisme dan puritanisme bisa menjadi jawaban. Ini merupakan sebuah sekte di Islam maupun Kristen yang “menghalalkan” kekerasan dengan dalil agama. Yang menarik dari tragedi 171 adalah, ia tidak berlangsung dalam periode panjang. Tidak lama setelah konflik mereda, kolaborasi ekonomi serta bidang akademis antara Muslim dan Kristen kembali normal. Ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif. Argumen utamanya adalah, bahwa tragedi 171, alih-alih menjadi alasan permusuhan Islam-Kristen, ia justru menjadi awal solidaritas kedua agama untuk melawan ekstremisme. Dengan pemahaman tersebut, diharapkan kerja sama untuk melawaan ekstremisme terus tumbuh. Terjadinya tragedi 171 tentu menyebabkan kekacauan dan kerugian bagi umat Kristen. Di sisi lain, tragedi tersebut telah mentransformasi Mataram dari sebuah kota yang menjadi tempat kontestasi Islam, Kristen dan Hindu, menjadi kota persatuan.]

Page 1 of 1 | Total Record : 7