cover
Contact Name
Ni Made Wangi Suryati
Contact Email
wangi.suryatimade@gmail.com
Phone
+6287861692266
Journal Mail Official
wangi.suryatimade@gmail.com
Editorial Address
Jalan Tukad Balian No. 180 Renon, Denpasar Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Kesehatan Nasional
ISSN : 25806173     EISSN : 25486144     DOI : 10.37294
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Kesehatan Nasional (JRKN) is a journal published by the Bali Institute of Technology and Health (ITEKES) and registered without ISSN 2580-6173 (Print) ISSN 2548-6144 (Online). The National Journal of Health Research (JRKN) provides a special forum for researchers and lecturers to exchange ideas about theory, research and research on fundamental issues relating to the world of health in general. Each Manuscript in the National Journal of Health Research (JRKN) has a DOI that can be accessed at the bottom of each abstract.
Articles 139 Documents
PENERIMAAN IBU NIFAS TERHADAP THERAPI AKUPRESUR UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI ASI DITINJAU DARI SUDUT PENERIMA DAN PEMBERI LAYANAN DI PUSKESMAS TABANAN III Susanti, Ni Luh Putu Dina; Nuartini, Ni Nyoman
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.096 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v3i1.141

Abstract

Latar belakang dan tujuan: Pasal 48 undang-undang kesehatan no 36 tahun 2009 menyatakan bahwa pelayanan kesehatan tradisional merupakan salah satu jenis penyelenggaraan upaya kesehatan. Puskesmas Tabanan III merupakan salah satu puskesmas yang melaksanakan pelayanan kesehatan tradisional. Pelayanan kesehatan tradisional ini berupa asuhan mandiri ramuan dan akupresure. Khusus untuk pelayanan kesehatan maternitas dilakukan di poli kebidanan, ruang perawatan maternitas dan ruangan khusus untuk terapi akupresur terutama untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu-ibu nifas. Namun fakta yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa pelayanan ini belum banyak dimanfaatkan oleh pasien di ruang maternitas. Belum diketahui dengan pasti apakah terapi akupresure ini diterima oleh pasien atau tidak.Metode :Rancangan penelitian ini adalah kualitatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui teknik in-depth interview  terhadap 12 orang informan terdiri dari 6 orang informan utama, 6 orang  informan pendukung yang terdiri dari 2 orang keluarga  informan utama, 2 orang petugas pelaksana dan 1 orang penanggung jawab program dan 1 orang kepala Puskesmas.   Hasil: Hasil penelitian ini menemukan sebagian besar informan memiliki pengalaman memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional seperti pijat namun belum mengetahui dengan pasti pelayanan akupresur di Puskesmas Tabanan III. Setelah mendapatkan terapi akupresur untuk meningkatkan produksi ASI secara umum para informan ini memiliki persepsi yang baik dan menerima terapi ini dengan senang hati. Informan ini berharap terapi ini dikembangkan dan diberikan kepada semua pasien. Namun  pelayanan akupresur di Puskesmas Tabanan III belum optimal disebabkan masih kurangnya anggaran, sumber daya manusia, sarana dan prasarana. Para informan berharap terapi ini dikembangkan dengan membuat strategi maupun manajemen pelayanan kesehatan tradsional yang baik dari tingkat pusat sampai tingkat daerah.  Simpulan: Simpulan penelitian ini persepsi informan tentang terapi akupresur baik dan menerima terapi ini dengan senang hati. Terapi ini masih perlu ditingkatkan baik dengan cara membuat strategi dan manajemen pealayanan yang baik.
KARAKTERISTIK WANITA USIA SUBUR YANG MELAKUKAN INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT DI KELURAHAN RENON Nurtini, Ni Made; Dewi, Komang Purnama; Puspita Dewi, Ni Wayan Erviana
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.451 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v1i1.35

Abstract

Introduction: Prevention of cervical cancer can be done by screening and vaccination programs. The purpose of this study to identify the specific characteristics of women of reproductive age (WUS) that do early detection methods Visual Inspection Acetic Acid (VIA) by age group, education level, occupation, level of knowledge, of marriageable age, economic level, parity, and contraceptive use on time of inspection and examination results IVA IVA. Methodology: The methodology used descriptive cross sectional with the entire population of WUS inspecting IVA in the village of Renon in May 2016. The sample in this study is total sampling. Results: The age test in the village of Renon IVA is aged 25-56 years. Some 45.5% of respondents educated past high school. Most respondents had good knowledge. The age of first married at age> 20 years is 77.8%. Monthly family income of 27 respondents 51.9%. From the results of implementation effectiveness of the research, 37.9% of respondents are housewives and 27.3% are self-employed. WUS more use of the IUD, with duration of use of no more than 5 years. The majority of respondents had 1 to 2 children. Discussion: This study shows that are coming are of reproductive age with the most educated high school, most of the knowledge of good, most aged married at the age of> 20 years. Income and employment do not affect the visit IVA. WUS who use non-hormonal birth control are more to come. The more often a woman gave birth to the higher risk for cervical cancer. The results have been positive IVA referral to services at the facility higher for Cryo.Keywords: Visual Inspection acid acetate, Women of fertile age
MODEL KOLABORASI PERAWAT SANITARIAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN PENDERITA DIARE BALITA DI KOMUNITAS 1, Muryoto; Badi'ah, Atik
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (624.5 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v2i1.97

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, di Kabupaten Sleman insiden rate diare 34,8 per seribu penduduk atau 2909 balita dengan cakupan pelayanan 70% di Puskesmas Gamping I sekitar 325 balita (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, 2013). Kolaborasi perawat dan sanitarian dalam pelayanan kesehatan di komunitas menggunakan pendekatan input-proses-output-efek-outcome.  Input meliputi jumlah penderita diare balita, perawat, sanitarian, program lintas tuntas diare. Proses meliputi penemuan penderita diregister di Puskesmas, pemeriksaan balita, botol susu, sumber air, terapi, desinfeksi, klorinasi dan konseling.  Sedangkan output meliputi jumlah balita diare yang dilayani dua kali selama empat belas hari. Efek berupa penurunan skor dehidrasi out come berupa turunnya angka kesakitan diare. Tujuan :Penelitian ini bertujuan secara umum membuat model pelayanan kesehatan kolaborasi perawat sanitarian penderita diare balita dikomunitas yang dapat mencegah dan menurunkan derajat dehidrasi. Secara khusus bertujuan menetapkan pengaruh pelayanan kesehatan kolaborasi perawat sanitarian terhadap penurunan derajat dehidrasi.  Metode : Jenis penelitianQuasi eksperiment dengan rancangan“Pre test Post test with Control Design“.Penderita diare balita3 (tiga) bulan yang lalu dicatatan medis Puskesmas diambil secara sistimatis random sampling 15 (lima belas) balita untuk kelompok kontrol dan 15 (lima belas) balita untuk kelompok perlakuan. Uji analisa data menggunakan t test. Hasil :Ada pengaruh kolaborasi terhadap penurunan skor dehidrasi anak balita diare, tidak ada pengaruh kolaborasi terhadap penurunan jumlah kuman botol susu anak balita diare. Ada pengaruh kolaborasi terhadap penurunan MPN E Coli air bersih anak balita diare. Ada pengaruh kolaborasi terhadap penurunan MPN Coliform air bersih anak balita diare. Kesimpulan :Ada pengaruh pelayanan kesehatan kolaborasi perawat sanitarian terhadap penurunan skor derajat dehidrasi penderita diare balita. Saran : Dalam kolaborasi perawat sanitarian ditingkat internal program Puskesmas perlu dibuatkan panduan yang memuat etika profesi sesuai lingkup kerja dan fungsinya.Kata Kunci : Model Kolaborasi, Perawat, Sanitarian, Pelayanan Kesehatan, Penderita diareABSTRACTBackground : Diarrhea disease is still a public health problem in Indonesia, in Sleman District incidence rate of diarrhea 34,8 per thousand population or 2909 under fives with coverage 70% service in PuskesmasGamping I about 325 balita (Profile of Sleman District Health Office, 2013). Collaboration of nurses and sanitarians in community health services using an input-process-output-effect-outcome approach. Inputs include the number of patients with diarrhea toddlers, nurses, sanitarians, diarrhea diarrhea programs. The process includes the findings of patients enrolled in Puskesmas, checking for infants, bottles of milk, water sources, therapy, disinfection, chlorination and counseling. While the output includes the number of infant diarrhea that is served twice for fourteen days. The effect of decreasing the dehydration score out come is the decrease of morbidity rate of diarrhea. Objective : This study aims at generating a model of healthcare services for the collaboration of sanitarian nurses with diarrhea in children under five who can prevent and reduce dehydration. Specifically aimed at establishing the influence of sanitarian nurse collaboration health services on dehydration degrees reduction. Method : Quasi experimental research type with "Pre testPost test with Control Design"  Patients with child diarrhea 3 (three) months ago medical Puskesmas was taken by systematic random sampling of 15 (fifteen) children under five for control group and 15 (fifteen) children under five for treatment group. Test data analysis using t-test. Result: There is influence of collaboration to decrease dehydration score of children under five diarrhea, there is no influence of collaboration to decrease amount of germ of baby milk bottle diarrhea. There is a collaboration effect on the decrease of MPN E Coli clean water for children under five diarrhea. There is a collaboration effect on the decrease of MPN Coliform clean water of children under five diarrhea. Conclusion: There is influence of health service of sanitarian nurse collaboration to decrease of dehydration degrees score of diarrhea sufferer. Suggestion: In the collaboration of sanitarian nurses at the internal level of the Puskesmas program, it is necessary to create guidelines that contain professional ethics according to the scope of work and function.Keywords: Collaboration Model, Nurse, Sanitarian, Health Service, Diarrhea Patient
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEGAGALAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I DENPASAR BARAT Astawa, I Gd Satria; Syandini, Ni Kd Nopi Sri; Kusuma Negara, I Gusti Ngurah Made; Mastryagung, G A Dwina
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (678.268 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v3i1.131

Abstract

Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kegagalan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas I Denpasar Barat.Metode : Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional menggunakan tehnik pengambilan sampel non probability sampling  dengan metode Convinience Sampling. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas I Denpasar Barat, alat pengumpulan data menggunakan kuesioner  dengan jumlah sampel sebanyak 189 responden.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kurang tentang ASI eksklusif yaitu 103 (54,5%), sebagian besar responden dengan dukungan suami kurang yaitu 90 (47,6), dan responden dengan status pekerjaan tidak bekerja yaitu 116 (61,4%). Hasil uji statistik menggunakan uji Chi Square menunjukkan p-value <0,05.Kesimpulan : Kesimpulan dalam penelitian ini terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu, dukungan suami, dan status pekerjaan ibu dengan kegagalan pemberian ASI eksklusif
PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TENTANG CUCI TANGAN TERHADAP PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI BALITA DI WILAYAH UPTD PUSKESMAS LABUAN BAJO, NUSA TENGGARA TIMUR mulia, maria yosephina
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.457 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v2i1.92

Abstract

PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TENTANG CUCI TANGAN TERHADAP PENGETAHUAN IBU YANG MEMILIKI BALITA DI WILAYAH UPTD PUSKESMAS LABUAN BAJO, NUSA TENGGARA TIMUR. The Effect of Hand Washing Promotion on the Knowledge among Mother who has Toddler in UPTD Labuan Bajo Health Center, East Nusa Tenggara.Maria Yosephina Mulia1, Siska Evi Martina2. 1Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sint Carolus Jakarta PusatEmail: 1yofinmulia53@gmail.com2 evi_sastro@yahoo.com ABSTRAKPendahuluan : Cuci tangan merupakan tindakan sederhana yang dapat mencegah penyebaran berbagai kuman penyakit, seperti diare. Keterbatasan informasi menjadi penyebab kurangnya pengetahuan para ibu tentang cuci tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh promosi kesehatan tentang cuci tangan terhadap tingkat pengetahuan para ibu yang memiliki balita di wilayah UPTD puskesmas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Metode : penelitian ini merupakan quasi eksperimen berupa one group pre - post test without control yang dilakukan pada bulan Agustus 2017 terhadap 41 responden yang diperoleh secara simple random sampling. Data dianalisa menggunakan uji Wilcoxon. Hasil : penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan baik sebelum diberikan promosi kesehatan sebesar 39% dan meningkat menjadi 87,8% setelah diberikan promosi kesehatan. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai P value 0,000, menunjukkan terdapat pengaruh promosi kesehatan terhadap tingkat pengetahuan tentang cuci tangan para ibu di wilayah UPTD puskesmas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Simpulan : Promosi kesehatan merupakan intervensi keperawatan yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya cuci tangan. Diharapkan promosi kesehatan tentang cuci tangan dapat dijadikan salah satu program utama dalam upaya promosi kesehatan yang ada di pelayanan kesehatan.Kata kunci : Promosi Kesehatan, Cuci Tangan, Pengetahuan. ABSTRACKIntroduction : Hand washing is a simple action to preventive the spread of germs such as diarrhea. The limitdness informations caused the lack of motherʼs knowledge about hand washing. The purpose of this study was to identify effectiveness of health promotion on hand washing to the level of knowledge among mother who has toddler in UPTD Labuan Bajo health center, East Nusa Tenggara. Method : this study is an quasi experimental with one group pre - post test without control that already implemented on Agustus 2017 to the 41 respondents obtained by simple randomly sampling. The data are analysed with Wilcoxon test. Result :  this study showed that the number of knowledgeable mother is 39% before hand washing health promotion and increase dramatically at 87,8% after given health promotion. Using Wilcoxon test,it is found P value 0,000, which lead to a conclusion that hand washing hand promotion higly affects to the knowledge among mother who has toddler in UPTD Labuan Bajo health center, East Nusa Tenggara. Conclusion : health promotion is the effective nursing intervention to increase the importance of hand washing. It is expected that health promotion on  hand washing  could be one of  the program in heath promotions effort in heath service. Keywords: Health Promotion, Hand washing, Knowledge.Pendahuluan             Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan serius di seluruh dunia dengan jumlah penderita sebanyak 1,7 miliar  dan  menyebabkan  780.000 anak usia dibawah lima tahun (balita)  meninggal  setiap tahunnya . Sekitar 78% kematian balita tersebut terjadi di negara berkembang di wilayah Asia dan Afrika (UNICEF, 2015). Salah satu faktor yang berperan dalam penularan kuman diare adalah kebersihan perorangan saat mencuci tangan (Widoyono,2011). Penelitian yang dilakukan Alhadiyah (2015) menyebutkan kebiasaan ibu dalam mencuci tangan berhubungan dengan terjadinya diare pada balita. Upaya pencegahan perlu dilakukan untuk mencegah kejadian diare terus meningkat.            Cuci tangan dengan sabun merupakan salah satu tindakan preventif sederhana, murah dan efektif dalam mencegah penyebaran kuman penyebab diare (WHO,2008). Hasil penelitian yang dilakukan Freeman, dkk (2014) menyebutkan kebiasaan cuci tangan mengurangi resiko diare sebesar 42-47%. Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar tahun 2013 menyebutkan penduduk  Indonesia yang berusia di atas 10 tahun dan mempunyai kebiasaan cuci tangan dengan benar  hanya 47% ( Kemenkes RI, 2014). Hasil laporan United Nations Children’s Fund (2014) untuk Indonesia menyebutkan hanya 28 % warga mencuci tangan dengan sabun, 75,5 % orang tidak mencuci tangan karena merasa tangannya bersih, 29% menganggap cuci tangan tidak sehat dan 13,6% menganggap cuci tangan bukan hal penting. Hasil tersebut membuktikan kebiasaan CTPS masih rendah meskipun hal tersebut memberi manfaat dalam mencegah diare.            Hambatan yang dialami masyarakat dalam praktik cuci tangan dengan sabun adalah keterbatasan informasi  yang menyebabkan pengetahuan tentang cuci tangan berkurang (Kemenkes RI, 2014). Upaya untuk meningkatkan pengetahuan dapat dilakukan melalui promosi kesehatan tentang cuci tangan dengan metode yang menarik sehingga dapat memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri untuk menerapkan praktek cuci tangan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian yang dilakukan Khodiyah dan Yuwanti (2015) menyebutkan metode ceramah dan demonstrasi efektif meningkatkan pengetahuan para ibu tentang cuci tangan.  Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Suryagustina, dkk (2016) menyebutkan penyuluhan kesehatan disertai penggunaan leaflet juga efektif meningkatkan pengetahuan para ibu tentang cuci tangan. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul pengaruh promosi kesehatan dengan metode penyuluhan dan demonstrasi tentang cuci tangan disertai penggunaan leaflet terhadap para ibu yang memiliki balita di wilayah UPTD puskesmas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimen dengan rancangan one group pre test and post test without control group yang dilakukan pada bulan Agustus 2017 dan bertujuan untuk mengetahui pengaruh promosi kesehatan tentang cuci tangan dengan metode penyuluhan dan demonstrasi serta penggunaan leaflet terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang cuci tangan. Sampel dalam penelitian ini adalah para ibu yang memiliki balita yang menderita diare sejak bulan Mei sampai Juli 2017 berjumlah 48 orang yang berobat di UPTD puskesmas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Tehnik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuisioner berisi 25 item pertanyaan tentang pengetahuan cuci tangan. Tehnik analisa data menggunakan uji Wilcoxon. Penelitian ini telah di presentasikan dan mendapatkan izin penelitian dari STIK Sint Carolus Jakarta Pusat. Hasil Penelitian 1.      Karakteristik responden.   Tabel 1 : Karakteristik responden berdasarkan usiaUsiaN%17-25 tahun717,126-35 tahun2048,836-45 tahunMean = 32Min = 17, Max =  441434,1 Total41100 Berdasarkan tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian sebagian besar responden berusia 26-35 tahun sebanyak 20 orang (48,8 %). Usia responden paling muda 17 tahun dan paling tua 44 tahun serta rata-rata usia  responden adalah 32  tahun yang dikategorikan usia dewasa awal dan menunujukkan bahwa umur ibu bersifat homogen/setara. Menurut Hurlock (1998) dalam Wawan dan Dewi (2010) semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekeatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Usia juga mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir sehingga pengetahuan yang diperoleh akan lebih baik. Tabel 2 : Karakteristik responden berdasarkan pekerjaanPekerjaanN%Pegawai negeri sipil24,8Pegawai swasta24,8Ibu rumah tangga2766Petani1024,4Total41100 Berdasarkan tabel 2 di atas, dapat diketahui sebagian besar responden bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 27 orang (66 %), diikuti bekerja sebagai petani 10 orang (24,4 %) serta paling sedikit bekerja sebagai pegawai swasta  2 orang (4,8 %) dan pegawai negeri 2 orang (4,8 %). Dari hasil penelitian, diketahui bahwa pekerjaan responden yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang memungkinkan mereka mempunyai waktu luang lebih banyak untuk terlibat dalam kegiatan promosi kesehatan dan menyebabkan meraka memiliki pengetahuan yang lebih baik. Tabel 3 : Karakteristik responden berdasarkan  pendidikanPendidikanN%Pendidikan rendah2458,5Pendidikan sedang1536,6Pendidikan tinggi24,9Total41100 Berdasarkan tabel 3 di atas, dapat diketahui bahwa dari 41 responden yang mengikuti kegiatan penelitian, sebagian besar responden berada pada pendidikan rendah sebanyak 58,5 %. Pendidikan dapat mempengaruhi proses belajar, semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin mudah orang tersebut menerima informasi. Pada penelitian ini tingkat pendidikan responden sebagian besar bependidikan rendah sebanyak 58,5%. Namun perlu ditekankan bahwa seseorang dengan pendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah pula, akan tetapi peningkatan pengetahuan juga dipengaruhi faktor lain seperti pengalaman, lingkungan serta informasi media massa (Budiman dan Riyanto, 2013).                 Tabel 4 : Karakteristik  responden menurut jumlah penghasilan keluarga.PenghasilanN%Penghasilan rendah1024,4Penghasilan sedang2561Penghasilan tinggi614,6Total41100Berdasarkan tabel 4 diatas dapat diketahui bahwa tingkat penghasilan keluarga  responden sebagian besar berpenghasilan sedang sebanyak 25 orang (61 %), diikuti penghasilan rendah sebanyak 10 orang (24,4 %) dan paling sedikit berpenghasilan tinggi sebanyak 6 orang (14,6 %). Jumlah penghasilan keluarga akan mempengaruhi dalam tersedianya sumber informasi seperti televisi dan media elektronik lainnya sehingga akan berdampak dalam peningkatan pengetahuan seseorang terutama dalam masalah kesehatan. Tabel 5 : Karakteristik responden berdasarkan tingkat pengetahuan sebelum intervensiPengetahuanN%Kurang2561Baik1639Total41100Berdasarkan tabel 5 di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 61 % (25 orang responden) memiliki pengetahuan kurang sebelum mendapatkan intervensi penyuluhan kesehatan dan demonstrasi tentang cuci tangan disertai pemberian leaflet dan  hanya 39 % (16 orang responden) memiliki pengetahuan baik. Tabel 6 : Karakteristik responden setelah mendapatkan intervensiPengetahuanN%Kurang512,2Baik3687,8Total41100Berdasarkan tabel 6 di atas, dapat diketahui bahwa sebanyak 87,8 % (36 orang responden) memiliki pengetahuan baik setelah mendapatkan intervensi penyuluhan kesehatan dan demonstrasi tentang cuci tangan disertai pemberian leaflet sedangkan 12,2 % (5 orang responden) masih memiliki pengetahuan yang kurang.   2.      Analisa uji beda Tabel 7 : Perbedaaan tingkat pengetahuan sebelum dan setelah mendapatkan intervensi penyuluhan kesehatan dan demonstrasi tentang cuci tangan disertai pemberian leaflet di puskesmas Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Agustus 2017.Pengetahuan Sebelum  Pengetahuan Sesudah p Value N% N% 0,000* Kurang2561Kurang512,2Baik1639Baik3687,8Total41100Total41100*Uji Wilcoxon   Pembahasan              Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa sebelum diberikan intervensi, sebagian besar responden memiliki pengetahuan kurang sebanyak 25 orang (61 %), sedangkan pengetahuan baik hanya 16 orang (39 %). Setelah mendapatkan penyuluhan dan demonstrasi tentang cuci tangan disertai pemberian leaflet, responden yang dengan pengetahuan kurang menjadi 5 orang (12,2 %) sedangkan pengetahuan baik meningkat menjadi 36 orang (87,8 %). Hasil uji statistik dengan hasil uji Wilcoxon didapatkan p Value = 0,000 (P value < 0,05) sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan tentang cuci tangan. Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ardayani (2015) dan Budiyanto (2016) yang menyatakan bahwa ada pengaruh pemberian promosi kesehatan tentang cuci tangan terhadap tingkat pengetahuan dengan nilai p value 0,000.            Penggunaan metode promosi kesehatan dalam penelitian ini adalah penyuluhan dan demonstrasi tentang cuci tangan disertai penggunaan leaflet yang merupakan modifikasi dari metode penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Saat penyuluhan, materi diberikan secara langsung kepada responden sehingga semua responden memiliki pemahaman yang sama tentang konsep yang diberikan dan memiliki kesempatan untuk mendiskusikan materi yang tidak dipahami. Setelah penyuluhan, dilanjutkan dengan melakukan demonstrasi dengan cara mengajarkan dan memperagakan secara langsung urutan cuci tangan sehinngga semua responden dapat mengingat urutan cuci tangan dengan baik. Setelah kegiatan intervensi selesai, diberikan media leaflet kepada responden untuk dibawa pulang sehingga dapat dipakai untuk belajar mandiri dan pesan tentang cuci tangan  yang ada dalam leaflet  dapat disebarluaskan kepada sasaran yang lebih luas seperti keluarga dan masyarakat yang ada disekitarnya.            Penggunaan metode tersebut tentunya menjadi lebih efisien dilakukan dengan harapan dapat mengedukasi masyarakat lebih banyak sehingga semakin banyak masyarakat dapat menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara sederhana, murah dan efisien melalui gerakan cuci tangan sehingga tujuan dari promosi kesehatan yaitu peningkatan pengetahuan dan adanya perubahan perilaku dapat tercapai.  Kesimpulan dan Saran KesimpulanBerdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan terdapat pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan para ibu tentang cuci tangan setelah diberikan intervensi promosi kesehatan melalui metode penyuluhan dan demonstrasi tentang cuci tangan disertai pemberian leaflet. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diharapkan tenaga kesehatan lebih aktif memberikan promosi kesehatan tentang cuci tangan menggunakan beberapa metode seperti penyuluhan dan demonstrasi tentang urutan cuci tangan disertai pemberian leaflet. Responden dan masyarakat mampu melakukan cuci tangan dengan benar dan menjadikan  kebiasaan cuci tangan sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari.  
GAMBARAN KARAKTERISTIK WANITA POSTMENOPAUSE YANG TINGGAL DI WILAYAH PEDESAAN INDONESIA Diyu, Ida Ayu Ningrat Pangruating
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.032 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v3i2.171

Abstract

Latar Belakang: Menopause merupakan tonggak yang penting dalam kesehatan wanita dan signifikan mempengaruhi kualitas hidup wanita. Memasuki masa post-menopause keluhan akan  gejala menopause yang dialami meningkat.  Penelitian yang meneliti mengenai karakteristik maupun keluhan-keluhan wanita postmenopause yang tinggal di pedesaan masih jarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik wanita postmenopause yang tinggal di pedesaan.Metode Penelitian: Desain penelitianyang digunakan adalah deskriptif cross sectional study. Penelitian dilakukan di Desa Petang, salah satu daerah  pedesaan di Bali, Indonesia. Sampel penelitian ini berjumlah 392 wanita postmenopause. Stages of Reproductive Aging Workshop (STRAW+10) digunakan untuk mengklasifikasikan wanita post menopause. Instrumen yang digunakan adalah instrument yang dirancang sendiri untuk mengetahui karakteritik demografi dan pola kebiasaan serta Menopause Rating Scale (MRS) untuk gejala-gejala menopause.Hasil Penelitian: Hasil analisa data menunjukkan sebagian besar wanita postmenopause yang tinggal di daerah pedesaan memiliki kebiasaan mengkonsumsi kopi yakni sebanyak 315 responden  (80,4%) dan tidak terbiasa berolahraga 218 (55,6%). Keluhan gejala -gejala menopause  dirasakan oleh wanita postmenopause diantaranya rasa tidak nyaman pada persendian dan otot yakni sebanyak 316 wanita  (82%), kelelahan fisik dan mental sebanyak 275 wanita (70,3%), masalah tidur sebanyak 223 (56,9%,), masalah seksual sebanyak 179 (45,7%), rasa tidak nyaman pada jantung sebanyak 122 (31,2%) serta badan terasa panas dan berkeringat sebanyak 119 (30,4%).Kesimpulan:  Wanita postmenopause yang tinggal didaerah pedesaan memiliki karakteritik yang sedikit berbeda . Hampir sebagian besar wanita postmenopause mengeluhkan lebih dari satu gejala menopause. Hal ini menjadi perhatian khusus dan tantangan tersendiri bagi petugas kesehatan dalam merancang intervensi yang tepat guna membantu mengatasi gejala-gejala yang dialami oleh wanita postmenopause 
STUDI EKSPLORATIF TENTANG PERAWAT PUSKESMAS DI INDONESIA: KARAKTERISTIK, LAYANAN, DAN PRAKTIK MANDIRI Setiawan, Agus
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.419 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v1i2.80

Abstract

Latar Belakang: Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan adalah komponen penting dalam penguatan sistem kesehatan. Tenaga keperawatan merupakan tenaga kesehatan terbanyak di Indonesia, dan bertugas di setiap tingkat layanan kesehatan, termasuk puskesmas.Tujuan: Mengeskplorasi karakteristik perawat puskesmas di 16 provinsi dengan populasi terpadat di Indonesia, termasuk jenis layanan yang diberikan di puskesmas, dan kecenderungan untuk melakukan praktik mandiri di area kerjanyaMetode: Studi ini menganalisis data 758 puskesmas dan 6844 perawat di 16 provinsi di Indonesia, yang terlibat dalam Indonesia Family Life Survey-5 (IFLS-5). Karakteristik dan jenis layanan yang diberikan oleh perawat dijabarkan secara deskriptif, dan dibandingkan antara daerah perkotaan dan pedesaan, dengan menggunakan uji chi-square dan t. Selanjutnya, analisis logistic regresi dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan kemungkinan seorang perawat melakukan praktik mandiri.Hasil: Hampir 25% tenaga perawat telah bekerja selama lebih dari 10 tahun di puskesmas, dengan rata-rata lama bekerja adalah 8,7 tahun (SD=7,6 tahun), dengan mayoritas bekerja 25 – 48 jam/ minggu. Dibandingkan dengan perawat puskesmas yang bekerja di perkotaan, lebih banyak perawat di pedesaan yang terlibat dalam layanan langsung kesehatan prenatal, kesehatan anak, kesehatan umum (dewasa), dan kesehatan lansia (p<0,05). Sebesar 17% perawat telah memiliki praktik mandiri. Mereka yang merupakan perawat laki-laki, memiliki masa kerja di puskesmas lebih panjang, dan bertugas di pedesaan, bekerja kurang dari 24 jam/ minggu di puskesmas, dan bekerja di puskesmas dengan wilayah kerja yang luas memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan praktik mandiri (p<0,001).Kesimpulan: Lebih tingginya proporsi perawat di pedesaan yang terlibat langsung dalam keempat jenis layanan yang dinilai (berdasarkan fase kehidupan/ kelompok umur) mengindikasikan bahwa tuntutan kerja perawat di pedesaan lebih tinggi daripada di perkotaan. Hal ini juga ditunjukkan dengan lebih tingginya kemungkinan perawat di pedesaan untuk memiliki layanan mandiri dibanding di perkotaan. Selain itu, hubungan positif antara jumlah area kerja puskesmas dengan kecenderungan seorang perawat memiliki layanan praktik mandiri, mengindikasikan potensi peran perawat dalam memperluas jangkauan layanan kesehatan bagi masyarakat.Kata kunci: perawat; puskesmas; layanan kesehatan primer; praktik mandiri; Indonesia
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG MANAJEMEN CAIRAN DENGAN KEPATUHAN PEMBATASAN CAIRAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL TERMINAL DI RSAU DR. ESNAWAN ANTARIKSA JAKARTA TIMUR Wayiqrat, Levy; sunarya, chiyar edison
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1249.974 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v2i2.113

Abstract

Latar Belakang. Kepatuhan pembatasan cairan merupakan permasalahan yang akan terus dihadapi pasien GGT. Ketidakpatuhan pembatasan cairan dapat menyebabkan kegagalan terapi, menurunnya kualitas hidup pasien, bahkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. Tujuan. Untuk mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan tentang manajemen cairan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan pasien GGT dengan hemodialisis di RSAU dr. Esnawan Antariksa. Metode.Desain penelitian adalah Cross Sectional dengan jumlah sampel 91 responden dengan consecutive sampling. Pengumpulan data kepatuhan dengan cara pengisian kuesioner dan pengamatan IDWG (Interdialytic Weight Gain). Hasil. Analisis hasil penelitian menggunakan Chi-Square (bivariat) dengan α=0,05, didapatkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang manajemen cairan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan (p value 0,88>α). Kesimpulan. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan pembatasan asupan cairan.Kata Kunci     :  Cairan, GGT, Hemodialisis, Kepatuhan, Pengetahuan
POLA PEMBERIAN ASI PADA IBU NIFAS PADA PERIODE EARLY POST PARTUM DI KOTA DENPASAR Widiastuti, Ni Made Rai; widiani, ayuk
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.529 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v3i2.158

Abstract

Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pola pemberian ASI pada ibu pasca melahirkan saat periode minggu pertama setelah melahirkan di Kota Denpasar.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional Study, sampel penelitian sebanyak 30 responden yang dipilih secara purposive sampling. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas I Denpasar Timur dan Puskesmas Pembantu Dauh Puri. Alat pengumpul data menggunakan kuesioner dengan mengikuti dari nifas hari pertama sampai nifas satu mingguHasil : Hasil penelitian ini menunjukan sebagian besar responden memiliki pandangan budaya dan kepercayaan yang baik dalam menyusui yaitu 25 (83,3%), sebagian besar responden mendapatkan dukungan suami yang baik dalam proses menyusui yaitu 22 (73,3%), dan sebagian besar responden memberikan ASI saja pada bayinya yaitu 24 (80%).Kesimpulan: Kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagian besar responden memiliki pandangan budaya dan kepercayaan yang baik dalam menyusui, sebagian besar responden mendapatkan dukungan suami yang baik dalam proses menyusui dan sebagian besar responden memberikan ASI saja pada bayinya.
GAMBARAN PENGGUNAAN KB IUD PADA IBU PASCA MELAHIRKAN DI RUANG BERSALIN BRSU WANGAYA noriani, ketut; Teja, Ayu Yulia Reswati; Ariyanti, Pande sri
Jurnal Riset Kesehatan Nasional Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institute Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.562 KB) | DOI: 10.37294/jrkn.v1i1.39

Abstract

Background: Postpartumintrauterine device (IUD) is a contraceptive service provided directly to the patients after they give birth. Postpartum IUD is recommended because in this period the cervix remains open and soft, thus facilitate the IUD insertion. Women’s motivation is very important to bring success to the IUD postpartum program Aim: The aim of this study was to describe the motivation of postpartum mothers using IUD in the postpartum ward in Wangaya Hospital, 2016.Methods: This study was a descriptive, cross-sectional study. The sampling technique used non probability sampling (census), in which the total population was used as the sample. There were 30 respondents who have fulfilled the inclusion and exclusion criteria involved in this study. The date were collected by using a questionnaire. Result: The result showed that the motivation of postpartum mothers using IUD in wangaya hospital in the postpartum ward was high (100%). Conclusion: All respondents in the postpartum ward, Wangaya Hospital Denpasar had a good understanding on the benefit of using the postpartum IUD, thus influence the high use of postpartum IUD.  Keywords: Motivation of mothers, Postpartum IUD

Page 7 of 14 | Total Record : 139