cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2016)" : 9 Documents clear
HAND MASSAGE TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN KLIEN PRA-OPERASI PADA PEMBEDAHAN ELEKTIF Sitompul, Erawati; ., Mustikasari
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.115 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.11

Abstract

ABSTRAKTujuan Penelitian: mengidentifi kasi pengaruh hand massage terhadap penurunan kecemasanklien. Metode: Desain penelitian quasi experimental one group pre-test post-test dengan sampel 27orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Spielberg State-Trait Anxiety Inventory (STAI)for adult. Uji statistik menggunakan Uji Proporsi, Chi Square dan Uji ANOVA. Hasil: Respondenpenelitian dengan rerata usia 30 tahun, mayoritas berpendidikan sarjana, bekerja, dan pernahmenjalani pembedahan. Tidak terdapat hubungan antara karakteristik responden dengan tingkatkecemasan klien pra-operasi dengan perolehan nilai p>0,05. Terdapat pengaruh Hand Massageterhadap penurunan tingkat kecemasan klien dengan nilai p=0,038<0,05. Diskusi: Hasil penelitianmenyarankan agar hand massage dijadikan sebagai intervensi mandiri keperawatan dalampenanganan kecemasan di tahap pra-operasi pada pasien bedah elektif. Simpulan: Hand massagedapat menurunkan tingkat kecemasan klien pra-operasi pada pembedahan elektif di Rumah SakitPondok Indah Jakarta Selatan.Kata Kunci: hand massage, kecemasan, pra-operasi, pembedahan elektif.ABSTRACTObjectives: The study aimed to identify the effect of hand massage on the reduction of client’sanxiety. Methods: This study was quasi experimental one group pretest postest with a samplesize of 27 people. It employed a questionaire of Spielberg State Trait Anxiety Inventory (STAI) foradult. Data were analyzed using proportion, chi square and ANOVA tests. Result: The averageage of respondents was 30 years old, mostly holding bachelor degree, working and having surgeryexperience. The results indicated that there was no correlation between characteristics of respondentsand their levels of pre-operation anxiety, (p>0.05). Hand massage had an effect on the reduction ofclient’s anxiety levels (p=0.038<0.05). Discussion: The results suggested that Hand Massage beused as an independent nursing intervention in addressing client’s anxiety in pre-elective surgery.Conclusion: Hand massage reduces the anxiety levels of pre-operative clients in elective surgeryat Pondok Indah Hospital, South Jakarta.Keywords: hand massage, anxiety, preoperation, elective surgery
PENGAMBILAN KEPUTUSAN SUAMI-ISTRI KELUARGA PETANI DALAM MENENTUKAN JUMLAH KELUARGA IDEAL PADA MASYARAKAT PATRILINEAL BALI Nugraha, Adikarya; Hapsari, Elsi Dwi; Rahmat, Ibrahim
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.473 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.16

Abstract

"> ABSTRAKTujuan Penelitian: mengetahui pola pengambilan keputusan suami-istri keluarga petani dalammenentukan jumlah keluarga ideal. Metode: Jenis penelitian ini adalah kualitatif, pengambilandata dilakukan dengan mengadakan wawancara mendalam semiterstruktur dengan partisipanpenelitian. Partisipan pada penelitian ini adalah suami-istri keluarga petani yang hanya memiliki duaanak perempuan dan yang memiliki anak empat. Pengambilan data dilakukan tanggal 1 sampaidengan 30 Oktober 2015 di Desa Sobangan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, ProvinsiBali. Data dianalisis dengan menggunakan metode Colaizzi. Hasil: Pola pengambilan keputusanuntuk menentukan jumlah keluarga ideal dipengaruhi oleh budaya pentingnya anak laki-laki untukmeneruskan keturunan dan adat Bali, pertimbangan kelayakan hidup, dan keinginan melestarikanbudaya Bali. Proses pengambilan keputusan suami-istri keluarga petani selalu melalui prosesperundingan antara suami dan istri untuk menentukan jumlah keluarga ideal. Diskusi: Keluargapetani yang hanya memiliki anak perempuan akan terlebih dahulu berusaha memperoleh anak lakilaki, baru setelah itu melakukan upacara nyentana, yakni pernikahan adat dengan meminang anaklaki-laki untuk tinggal di keluarga perempuan. Simpulan: Pola pengambilan keputusan suami-istrikeluarga petani dalam menentukan jumlah keluarga ideal pengaruhi oleh pentingnya anak lakilaki untuk meneruskan keturunan dan adat Bali, pertimbangan kelayakan hidup dan keinginananmelestarikan budaya Bali.Kata Kunci: pengambilan keputusan, keluarga petani, jumlah keluarga ideal, masyarakat patrilinealBali.ABSTRACTObjective: This study aimed to identify the pattern of decision making by married couples offarmer family in determining an ideal family size. Methods: The study was qualitative. Data werecollected by conducting in-depth semi-structured interviews with participants. Participants in thisstudy were married couples of farmer family who only had two daughters and had four children.Data were collected between 1 and 30 October 2015 at Sobangan Village, Mengwi Subdistrict, Badung District, Bali Province. Data were analyzed using Colaizzi’s method. Results: The pattern ofdecision-making to determine the ideal number of families was affected by the culture of the importance of male child to continue Balinese generation and customs, consideration of proper necessities of life and willingness to preserve Balinese culture. The decision making process by marriedcouples of farmer family was always through a process of negotiation between them to determinethe ideal family size. Discussion: Farmer family who only had female children would attempt tohave male children, then after that they held nyentana ceremony, a wedding custom to propose amale child to live in their family. Conclusion: The pattern of decision-making by married couplesof farmer family in determining the ideal family size was in fl uenced by the importance of malechildren to continue Balinese generation and customs, consideration of proper necessities of lifeand willingness to preserve Balinese culture.Keywords: decision-making, farmer family, ideal family size, patrilineal society of Bali.
GAYA HIDUP, RIWAYAT PENGGUNAAN KONTRASEPSI, DAN PENGETAHUAN KANKER SERVIKS PADA PASIEN KANKER SERVIKS Mehta, Adriana; yanti, Yati Afi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.937 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.12

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan mengidentifi kasi faktor predisposisi yang berhubungandengan kejadian kanker serviks. Metode: Rancangan penelitian yang digunakan yakni restrospektifnoneksperimental dengan pendekatan potong lintang dan besar sampel 80 responden yang dipilihdengan menggunakan teknik consecutive sampling. Hasil: Hasil analisis penelitian menunjukkanbahwa tidak ditemukan hubungan signifi kan antara perilaku seksual, perilaku merawat kebersihanalat kelamin, riwayat penggunaan kontrasepsi, dan pengetahuan kanker serviks terhadap kejadiankanker serviks. Diskusi: Hasil penelitian menyarankan diperlukannya pembahasan/penelitiandengan studi kohort lebih lanjut mengenai hubungan faktor risiko kanker serviks terhadap kejadiankanker serviks. Simpulan: Gaya hidup, riwayat penggunaan kontrasepsi, dan pengetahuan tidakberhubungan dengan tingkat kejadian kanker serviks.Kata Kunci: kanker serviks, kontrasepsi, pengetahuan kanker serviks, perilaku merawat kebersihanalat kelamin, perilaku seksual.ABSTRACTObjective: This study aimed to identify predisposing factors related to the prevalence of cervicalcancer. Method: This study was retrospective non experimental with cross-sectional design with asample size of 80 respondents taken using consecutive sampling. Result: There was no signifi cantcorrelation of sexual behavior, personal hygiene practice, history of contraception use, and knowledgeof cervical cancer with the incidence of cervical cancer. Discussion: The results suggest the needfor using further cohort study to fi nd out the correlation between risk factors of cervical cancerand the incidence of cervical cancer). Conclusion: There are no correlation of life style, history ofcontraseption use, and knowledge with the incidence of cervical cancer.Keywords: cervical cancer, contraceptive, knowledge, personal hygiene practice, sexual behavior.
UJI KOMPETENSI PERAWAT DI INDONESIA ., Masfuri
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.138 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.17

Abstract

ABSTRAKTujuan Penelitian: Artikel ini akan menjabarkan pencapaian uji kompetensi nasionalkeperawatan di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder yang telah diterbitkanoleh panitia uji kompetensi nasional. Data secara keseluruhan yang diambil adalah periode ujiantahun 2015. Data disajikan secara deskriptif. Hasil: Pada tahun 2015, terdapat 66.687 lulusan(Diploma III dan Profesi Ners) menjalani ujian, 35.892 (53,8 persen) dinyatakan lulus. Diskusi: Studiselanjutnya perlu lebih mengeksplor indikator kuat pada instansi pendidikan untuk meningkatkanpresentasi keluluasan. Simpulan: Tingkat akreditasi memiliki hubungan kuat terhadap persentasekelulusan.Kata Kunci: uji kompetensi nasional, keperawatan.ABSTRACTObjective: This article will describe the achievement of the national examination in nursingeducation in Indonesia. Methods: This study employed secondary data published widelyby the national examination committee. Data were taken from the 2015 examination. Datawere presented descriptively. Results: In 2015, there were 66,687 graduates of Diploma IIIand Professional Nurse who took examination, 53.8% of them (35,892) passed. Discussion:Further study is needed to explore the strong indicator in educational institutions to improvethe passing percentage. Conclusion: Level of accreditation has strong correlation with thepassing percentage.Keywords: national examination competency, nursing.
LIFE EXPERIENCE USIA SUBUR YANG AKTIF SECARA SEKSUAL DALAM PENGGUNAAN KONTRASEPSI DI YOGYAKARTA Junitasari, Rizky; Hapsari, Elsi Dwi; Lismidiati, Wiwin
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.783 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.13

Abstract

"> ABSTRAKTujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran life experience usiasubur khususnya remaja yang aktif secara seksual dalam penggunaan kontrasepsi di Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Informan dalam penelitian ini dipilih denganmenggunakan metode snowball sampling. Sebanyak lima informan berpartisipasi dalam penelitianini. Wawancara dilaksanakan pada bulan Mei 2014 sampai Juni 201 4. Analisis data yang digunakanmengikuti langkah-langkah dari Colaizzi. Hasil: Seluruh informan berjenis kelamin laki-laki, dengankisaran usia 17–20 tahun sebanyak tiga orang dan usia >20 tahun sebanyak dua orang. Empatinforman pernah menerima informasi berkaitan dengan kesehatan reproduksi, dan paling banyakmereka dapatkan dari petugas kesehatan. Diskusi: Wawancara yang dilakukan menghasilkan enamtema utama: 1) Frekuensi dan kejadian hubungan seksual, 2) Pasangan seksual saat melakukanhubungan seksual, 3) Faktor internal dan eksternal yang berpengaruh dalam melakukan hubunganseksual, 4) Efek yang dirasakan setelah melakukan hubungan seksual, 5) Efek materi kesehatanreproduksi terhadap keinginan melakukan hubungan seksual, 6) Kondom sebagai alat kontrasepsiutama yang digunakan saat melakukan hubungan seksual. Simpulan: Gambaran dari usia suburkhususnya remaja yang melakukan hubungan seksual aktif ternyata mereka telah menggunakankontrasepsi saat melakukan hubungan seksual, dengan kondom sebagai alat kontrasepsi utamayang digunakan.Kata Kunci: life experience, remaja, seksual aktif, kontrasepsi.ABSTRACTObjective: This study aimed to describe life experience of adolescents in reproductive age thatwere sexually active in using contraception in Yogyakarta. Methods: It was a qualitative researchwith phenomenological approach. Informants were selected using snowball sampling. Fiveinformants participated in the study. The interview was conducted in May 2014 to June 2014.Data were analyzed with using steps suggested by Colaizzi. Results: All participants were maleadolescent; three of them were between 17-20 years old and two of them more than 20 yearsold. Most informants had received information related to reproductive health, mostly received fromhealth workers. Discussion: Six major themes were found: 1) Frequency and incidence of sexualintercourse, 2) sexual partner during sexual intercourse, 3) Internal and external factors in fl uencingsexual intercourse, 4) Effects felt after having sexual intercourse, 5) Effects of reproductive healtheducation on the desire of sexual intercourse, 6) Condoms as primary contraception used duringsexual intercourse. Conclusion: Sexually active, adolescents have used contraceptives when theyhave sexual intercourse with condoms as the primary contraceptive.Keywords: life experience, adolescents, sexually active, contraceptives.
TERAPI LANTUNAN ASMAUL HUSNA DAN TEKNIK RELAKSASI TERHADAP KADAR GULA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 ., Ernawati
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.825 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.9

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi mendengarkanlantunan asmaul husna dan teknik relaksasi terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus (DM)tipe 2. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan pendekatanpretest-postest tanpa kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode nonprobability sampling melalui teknik accidental sampling sebanyak 25 pasien DM yang datang berobatke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Ciputat, Tangerang. Analisis data meliputi univariat dan bivariatmenggunakan uji statistik paired t test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kadargula darah, tetapi secara statistik tidak ada hubungan antara terapi mendengarkan lantunan asmaulhusna dan teknik relaksasi terhadap kadar gula darah pasien DM tipe 2 (p=0,27; α=0,05). Diskusi:Pasien perlu mendapatkan asuhan keperawatan komprehensif meliputi aspek biopsikososial,kultural, dan spiritual guna mengendalikan kadar gula darah pada pasien DM tipe 2. Simpulan:Terapi lantunan asmaul husna dan teknik relaksasi menjadi pilihan yang tepat untuk menimbulkanrelaksasi sehingga dapat menurunkan tingkat cemas yang pada akhirnya dapat mengendalikankadar gula darah pasien.Kata Kunci: kadar gula darah, asmaul husna, terapi relaksasi, pasien diabetes melitus tipe 2.ABSTRACTObjectives: This study aimed to identify the effectiveness of therapy by listening to chant of the Asmaul Husna and relaxation techniques on blood glucose levels in patients with type 2 diabetes mellitus(DM). Methods: It was a quasi experiment with pretest-posttest approach without control group.Samples were taken using non-probability sampling method through accidental sampling techniquenumbering 25 DM patients who came to Free Health Services located at Ciputat, Tangerang. Datawere tested with univariate and bivariate analysis by using paired t test. Results: Blood glucoselevel decreased, but statistically there was no correlation of therapy by listening to chant of Asmaul Husna and relaxation techniques with blood glucose levels in patients with type 2 DM (p=0.27;α=0.05). Discussion: Patients with type 2 DM needed to obtain a comprehensive nursing care,including biopsychosocial, cultural and spiritual aspects in order to control their blood glucose levels.Conclusion: Therapy by listening to chant of Asma ul Husna and relaxation techniques could bethe right choices to aid relaxation so as to reduce anxiety levels that could eventually control bloodglucose levels of the patients.Keywords: blood glucose levels, Asma ul Husna, relaxation therapy, patients with type 2 diabetesmellitus.
GAMBARAN PENGALAMAN REMAJA PUTRI BERKEBUTUHAN KHUSUS DALAM MENGHADAPI MENSTRUASI Daniswari, Handitya; Hapsari, Elsi Dwi; Lismidiati, Wiwin
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.683 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.14

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengalaman remajaputri berkebutuhan khusus (retardasi mental) dalam menghadapi menstruasi di SLBN 1 Bantul.Metode: Penelitian dengan rancangan kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Partisipan penelitianadalah delapan siswi retardasi mental ringan dan sedang di SLB N 1 Bantul. Wawancara langsungsecara mendalam kepada partisipan menggunakan pedoman interview tidak terstruktur denganpertanyaan open-ended. Analisis data menggunakan metode Colaizzi. Hasil: Partisipan padapenelitian ini berusia 17–20 tahun (75 persen), mengalami menarche pada usia 14–16 tahun (62,5persen), pendidikan SMA (50 persen), dan tingkat retardasi mental sedang (87,5 persen). Temayang dihasilkan pada penelitian ini adalah ambivalensi saat mengalami menarche, peran pentingibu dalam menghadapi menarche, ragam persepsi tentang arti menstruasi, perubahan normal yangdirasakan saat menstruasi, koping saat mengalami nyeri menstruasi, serta kesadaran terhadapnorma sosial terkait menstruasi versus kurang adekuatnya perawatan diri. Diskusi: Pengalamanremaja putri berkebutuhan khusus (retardasi mental) dalam menghadapi menstruasi secaragaris besar sama dengan yang dialami remaja normal, kecuali pada aspek kebersihan diri, caramembersihkan pembalut, masalah emosi, serta persepsi yang salah terkait kehamilan. Simpulan:Peran ibu sebagai caregiver sangat penting untuk memberikan pendidikan terkait menstruasi.Kata Kunci: menstruasi, retardasi mental.ABSTRACTObjective: This study aimed to identify menstrual experience in adolescents with special needs(mental retardation) at the Special School 1 Bantul. Method: This was a qualitative research withphenomenological approach. participants were eight female students with mild and moderatemental retardation. Direct in-depth interview was carried out with partisipants by using unstructuredinterviews guidelines with open-ended questions. Data were analyzed using Colaizzi’s method.Result: Participants in this study aged 17-20 years (75%), experienced menarche at 14-16 years old(62.5%), had high school education (50%), and had moderate mental retardation (87.5%). Themesproduced in this study were ambivalence when experiencing menarche, important role of mother tochild in facing menarche, various perceptions about the meaning of menstruation, abnormal changesfelt during menstruation, coping when experiencing menstrual pain, and awareness of social normsrelated to menstruation versus inadequate self-care. Discussion: Female adolescents with mentalretardation had experience of menstruation similar with normal teenagers, except in terms of personalhygiene, pad cleaning, emotional problems, and wrong perception about pregnancy. Conclusion:Mothers play very important role as caregiver in providing education about menstruation.Keywords: menstruation, mental retardation.
PELAYANAN HOME CARE TERHADAP TINGKAT KEMANDIRIAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2 Meilianingsih, Lia; Setiawan, Ridwan
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.059 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.10

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelayanan home careterhadap tingkat kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan diabetesmelitus (DM) tipe 2 di Wilayah Kerja Puskesmas Pasirkaliki, Bandung. Metode: Desain penelitianmenggunakan quasi experiment dengan pendekatan pre- post-test control group design. Sampelberjumlah 27 orang untuk kelompok perlakuan dan 27 orang untuk kelompok kontrol. Teknikpengambilan sampel secara purposive sampling. Intervensi pelayanan home care dilakukan enamkali kunjungan. Kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan DM tipe 2 sebelumdan sesudah diberikan pelayanan home care dilakukan dengan uji statistik T test independent dandependent. Instrumen untuk menilai kemandirian keluarga dengan kuesioner tentang kemandiriankeluarga dari Kementrian Kesehatan. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna pada tingkatkemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan DM tipe 2 sebelum dan setelahdilakukan pelayanan home care pada kelompok perlakuan (p=0,00), selanjutnya terdapat perbedaanyang bermakna juga antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan (p=0,00). Diskusi: Untukmencapai hasil yang maksimal perlu peningkatan pelayanan keperawatan keluarga dalam bentukHome Care secara berkesinambungan sehingga kemandirian keluarga dalam mengenal danmengatasi masalah kesehatan di keluarganya semakin meningkat. Simpulan: pelayanan homecare dapat meningkatkan kemandirian keluarga dalam merawat anggota keluarga dengan DM tipe2.Kata Kunci: diabetes melitus tipe 2, home care, kemandirian keluargaABSTRACTObjectives: This study aimed to identify the effect of home care services on the levels of independenceof family in taking care of family members with type 2 diabetes mellitus (DM) at Pasirkaliki PublicHealth Centre, Bandung. Method: This study was quasi-experimental with pre-post-test approachcontrol group design. Samples were divided into treatment group and control group, each of whichconsisted of 27 people. They were taken using purposive sampling. Home care services interventioninvolved six visits. The independence of the family in taking care of family members with type 2DM before and after home care services was analyzed using independent and dependent t test.Result: There were signifi cant differences in the levels of independence of the family in taking careof family members with type 2 DM before and after the home care services in the treatment group(p=0.00). There were also signifi cant differences between the control group and the treatment group(p 0.00). Discussion: In order to achieve maximum results, it was necessary to improve familynursing services in the form of Home Care on an ongoing basis so that the independence of thefamily in identifying and addressing family health issues would increase. Conclusion: Home careservices could improve the independence of the family in taking care of family members with type 2DM.Keywords: type 2 diabetes mellitus, home care, independence of family.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASUHAN SPIRITUAL OLEH PERAWAT DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA ., Rohman
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.795 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v1i1.15

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifi kasi faktor-faktor yangberhubungan dengan pemberian asuhan spiritual oleh perawat di RS Islam Jakarta. Metode:Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Responden yang berpartisipasiberjumlah 111 perawat di ruang rawat dewasa RS Islam Jakarta. Teknik pengambilansampel yang digunakan adalah total populasi. Hasil: Hasil studi dengan uji Chi-squareini menunjukkan tidak ada hubungan antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lamabekerja, kecukupan waktu, persepsi tentang spiritualitas dan asuhan spiritual denganpemberian asuhan spiritual. Diskusi: Faktor tingkat pendidikan yang didapatkan yangmenunjukan bahwa perawat yang berpendidikan sarjana berpeluang memberikan asuhanspiritual secara baik sebesar 2,436 kali (nilai OR=2,436) dibandingkan dengan yangberpendidikan SPK/DIII Keperawatan. Simpulan: Perlunya penelitian serupa lebih lanjutyang melibatkan faktor-faktor lain seperti perhatian terhadap spiritualitas diri perawat,kesehatan spiritual diri perawat, pendidikan dan pelatihan tentang asuhan spiritual yangdidapat, dan sistem pengawasan dengan penentuan sampel yang lebih baik.Kata Kunci: asuhan spiritual, spiritualitas.ABSTRACTObjectives: This study aimed to identify factors related to providing spiritual care by nursesat Islamic Hospital of Jakarta. Methods: This study employed cross sectional design.Respondentsin were 111 nurses working in adult wards at Islamic Hospital of Jakarta.Samples were selected using total population. Results: The result of bivariate analysiswith Chi-square test indicated that there were no correlation of age, sex, level of education,length of services, time avalilibility, and perception about spirituality and spiritual care with theprovision of spiritual care. Discussion: Nurses with bachelor degree were like to give betterspiritual care of 2.436 times (OR= 2.436) than those with SPK/DIII degree. Conclusion:Further similar researches are needed which involve other factors such as attention ofnurses’ self-spiritualy, self-spiritual health, training and education about spiritual care, andcontrol system, with better sample determination.Key Words : spiritual care, sprituality

Page 1 of 1 | Total Record : 9