cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2019)" : 10 Documents clear
Kualitas Hidup Peserta Prolanis Diabetes Tipe 2 di Yogyakarta Noviyantini, Ni Putu Ayu; Wicaksana, Anggi Lukman; Pangastuti, Heny Suseani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.699 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.183

Abstract

ABSTRAKDiabetes merupakan penyakit metabolik yang dapat berpengaruh pada kualitas hidup. Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes melalui Prolanis. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kuantitatif dengan rancangan cross-sectional. Responden penelitian ini adalah peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta berjumlah 85 orang, diperoleh dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan untuk mengkaji kualitias hidup adalah Diabetes Quality of Life-Brief Clinical Inventory. Analisis data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Hasil: Rerata kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 adalah 3,84 ± 0,51. Angka tersebut relatif mendekati nilai optimal yang menunjukkan kualitas hidup baik. Rerata kualitas hidup berdasarkan karakteristik demografi ditemukan bahwa pada kelompok usia dewasa akhir (≥ 60 tahun), berjenis kelamin laki-laki, pendidikan terakhir SMP, tidak bekerja, berstatus menikah, berpenghasilan 2 juta - 4 juta, lama menyandang diabetes selama <5 tahun, mengikuti Prolanis ≥ 6 bulan, dan tidak memiliki penyakit penyerta menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik. Kesimpulan: Kualitas hidup peserta Prolanis diabetes tipe 2 di Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta dalam kategori baik.Kata Kunci: diabetes mellitus, diabetes tipe 2, kualitas hidup, Prolanis Quality of Life Among Prolanis Members of Type 2 Diabetes in Yogyakarta ABSTRACTDiabetes is a metabolic disease that will affect quality of life. Implementing Prolanis is the current effort of the Indonesian government to improve the quality of life for people with diabetes. Objective: The research aimed to determine the quality of life for Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. Method: It was a quantitativedescriptive study with a cross-sectional design. Respondents involved were Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta. We recruited 85 respondents using total sampling technique. Diabetes quality of life-brief clinical inventory assessed quality of life among respondents. The analysis was presented in a distributionfrequency table. Results: The average quality of life of Prolanis type 2 diabetes participants was 3.84 ± 0.51, relatively closed with the optimal number, which indicated good quality of life. The average quality of life based on the demographic characteristics revealed the age group of late adult, male, junior high school alumnae, unemployed person, marriage, income 2 - 4 million, having diabetes for <5 years, following Prolanis ≥ 6 months, and no comorbidity indicated good category of quality of life. Conclusion: Prolanis members of type 2 diabetes in Puskesmas Depok Sleman Yogyakarta have good category of quality of life.Keywords: diabetes mellitus, Prolanis, quality of life, type 2 diabetes
Hubungan Intensitas Nyeri dengan Kualitas Tidur pada Pasien Pasca Bedah Sesar Noviyanti, Hevy Amalia; Sutrisna, Marlin; Kusmiran, Eny
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.51 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.179

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Bedah Sesar adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim serta berat janin di atas 500 gram. Dampak yang terjadi setelah bedah sesar adalah nyeri dan gangguan tidur. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan intensitas nyeri dengan kualitas tidur pada ibu pasca bedah sesar. Metode: Menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 42 ibu pasca bedah sesar yang diambil dengan teknik accidental sampling. Pengambilan data dilakukan di RS TK II Dustira Cimahi, menggunakan lembar kuesioner Maternal Pain Questionnaire (MPQ) untuk pengukuran intensitas nyeri dan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk pengukuran kualitas tidur. Data dikumpulkan pada bulan Mei 2017. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian: Intensitas nyeri yang tertinggi terjadi pada klien pasca bedah sesar yaitu intensitas nyeri hebat dengan 22 responden (52,4%) dan tidak nyaman terdapat 20 responden (47,6%). Lebih dari setengah responden mengalami kualitas tidur yang buruk yaitu 28 responden (66,7%). Ada hubungan antara intensitas nyeri dengan kualitas tidur pada pasien pasca bedah sesar. Diskusi: Faktor yang memengaruhi kualitas tidur pasien adalah sakit yang disebabkan oleh nyeri. Nyeri pasien setelah seksio sesaria karena terputusnya kontinuitas jaringan (trauma pembedahan) sehingga terjadi gangguan kualitas tidur. Semakin berat nyeri, maka semakin terganggu kualitas tidur pasien. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara intensitas nyeri dengan kualitas tidur pada pasien pasca bedah sesar. Pelayanan kesehatan diharapkan melibatkan peran aktif keluarga untuk mengatasi penanganan nyeri pasien pasca bedah sesar, sehingga pasien memiliki kualitas tidur baik.Kata Kunci: Bedah sesar, nyeri, kualitas tidurRelationship Between Pain Intensity With Sleep Quality of Patient Post Caesarean SectionABSTRACTBackground: Cesarean section is an artificial birth, in which the fetus is born through an incision in the abdominal wall and uterine wall and the weight of the fetus is above 500 grams. Impacts that occur after caesarean section are pain and sleep disorders. Aim: To know the relation of pain intensity with sleep quality of mothers post cesarean section. Method: Using cross sectional approach. The sample of the study were 42 post-cesarean mothers taken by accidental sampling technique. The data was collected at RS TK. II Dustira Cimahi using Maternal Pain Questionnaire (MPQ) questionnaire for pain intensity measurement and The Sleep Sleep Quality Index (PSQI) for sleep quality measurement, in May 2017. The MPQ and PSQI questionnaires in this study were not tested for validity and reliability because this questionnaire was standard. Data analysis using Chi-Square test. Results: The highest intensity of pain occurred in the client after cesarean section with severe pain intensity with 22 respondents (52,4%) and uncomfortable there were 20 respondents (47,6%) and more than most client experience poor sleep quality that is 28 respondents ( 66.7%) but there are still clients who experienced good sleep quality 14 respondents (33.3%). The result of the study is that there is a correlation between pain intensity and sleep quality in post cesarean patients. Discussion: The factor that influences the patient’s sleep quality is pain caused by pain. Post sectio caesaria pain due to tissue continuity (trauma from surgery) is interrupted resulting in sleep quality disruption. The more severe the pain, the more disturbed the patient’s sleep quality. Conclusion: There was a significant relationship between the intensity of pain and sleep quality in post-caesarean section patients. Health services are expected to involve the active role of the family to overcome the pain management of post-cesarean patients, so that patients have good quality sleep.Keywords: Cesarean section, pain, sleep quality
Faktor Resiko Jatuh pada Lansia di Unit Pelayanan Primer Puskesmas Medan Johor Rohima, Vitri; Rusdi, Iwan; Karota, Evi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.18 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.184

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Lansia merupakan tahap akhir pertumbuhan kehidupan manusia yang mengalami perubahan fisik maupun psikososial, dan salah satu aspek penting perubahan itu adalah resiko jatuh. Resiko jatuh pada lansia dipengaruhi oleh faktor intrinsik, faktor ekstrinsik, dan faktor situasional. Tujuan: penelitian ini untuk mengetahui hubungan resiko jatuh dengan kejadian jatuh pada klien lansia di Puskesmas Medan Johor. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif korelasi terhadap 70 responden lansia. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner faktorfaktor penyebab resiko jatuh dan kejadian resiko jatuh pada klien lansia. Hasil: umumnya klien berusia 60-74 (51%), beragama Islam (81%), dan keluarga tinggal serumah lebih dari 2 orang 84%. Hasil penelitian menunjukkan faktor penyebab resiko jatuh lansia terutama dari faktor situasional 26%, faktor intrinsik 17% dan tidak ada dari faktor ekstrinsik (0%). Berdasarkan kejadian resiko jatuh pada lansia adalah 46% beresiko tinggi, 36% beresiko rendah, dan 18% tidak beresiko. Hasil uji chi square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dari faktor intrinsik p=0,000, faktor ekstrinsik p=0,000 dan faktor situasional p=0,004 terhadap kejadian resiko jatuh. Kesimpulan: faktor-faktor resiko jatuh berhubungan dengan kejadian jatuh pada klien lansia di Puskesmas Medan Johor. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pelayanan kesehatan khususnya pelayanan asuhan keperawatan untuk meningkatkan edukasi kepada klien lansia dan keluarganya tentang dengan resiko jatuh dan pelayanan kesehatan dapat melakukan pengembangan program kegiatan pencegahan resiko jatuh pada lansia.Kata Kunci: Lansia, resiko jatuh, kejadian resiko jatuhRisk for Full Factor among the Elders in Puskesmas Medan Johor ABSTRACTBackground: Elderly is a process of human life experiencing various physical and psychosocial changes, and one important aspect due to these changes is the risk of falling among the elders. It is influenced by intrinsic, extrinsic, and situational factors. Aim: The purpose of this study was to determine the relationship between the risk of falls and the incidence of falls in elderly clients who visit to the Health Center. Method: This study is a descriptive study of correlation to 70 elderly people at the Puskesmas Medan Johor. The data were collected by using questionnaires of risk factors of fall and risk incidence of falls on the elders. Result: Demographic data are generally the elders aged 60-74 years (51%), Moslem (81%), family live at home more than 2 person (84%). The results of the study showed that the risk factor of falling elderly mainly from situational factor (26%), intrinsic factor (17%) and extrinsic factor (0%). Meanwhile, based on the risk incidence of falling on the elderly clients, the result is high risk (46%), low risk (36%), and no risk of fall (18%). The chi square test shows that there is significant correlation of intrinsic factor p=0.000, extrinsic factor p=0.000 and situational factor p=0.004 to fall risk event. Conclusion: There is a relationship between falling risk factors and the incidence of falls in elderly clients at the Puskesmas Medan Johor. This study provide recommendations for health services, especially nursing care services to provide education to elderly clients and their families related to the risk of falls in the elderly and the health centers can develop prevention programs to reduce the risk of falls in the elderly.Keywords: Elderly, a risk factor for falling, the risk of falling
Hubungan Pola Asuh Ibu dan Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Prasekolah di Bogor Windiastri, Fitri; Nurhaeni, Nani
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.422 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.180

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Pola asuh ibu merupakan faktor yang memengaruhi perkembangan anak, khususnya perkembangan sosial emosional anak. Perkembangan sosial emosional dapat mengidentifikasi kemampuan sosial, emosional, intelektual, dan perilaku positif lainnya pada anak usia prasekolah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pola asuh ibu dan perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah di PAUD Desa Parakan Jaya, Bogor. Metode: Desain penelitian menggunakan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional pada 103 responden ibu. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner parenting styles and dimensions questionnaire (PSDQ) dan kuesioner perkembangan sosial emosional anak usia 4-5 tahun dan >5-6 tahun. Chi-square digunakan untuk analisa data bivariat. Hasil penelitian: tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu dengan perkembangan sosial emosional anak usia prasekolah 4-5 tahun (p=0,225) dan >5-6 tahun (p=0,108). Faktor lain seperti usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan jenis kelamin anak tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan perkembangan sosial emosional anak. Namun demikian, pada penelitian ini ditemukan bahwa mayoritas perkembangan sosial emosional anak diklasifikasikan dalam perkembangan yang meragukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan screening sejak dini untuk mendeteksi adanya penyimpangan perkembangan sosial emosional anak. Kesimpulan: tidak ada hubungan yang bermakna antara pola asuh dan perkembangan sosial emosional pada anak usia pra sekolah.Kata Kunci: Pola asuh ibu, perkembangan sosial emosional anak, anak usia prasekolahThe Correlation Between Mother’s Parenting Style and Social-Emotional Development of Preschool-aged Children in BogorABSTRACTBackground: Parenting style is a factor that influences a children’s development, especially for social-emotional development. Social-emotional development begun to identify social, emotional, intellectual, and other positive behaviors in preschoolers. Objective: to know the correlation between mother’s parenting style and social-emotional development of preschool-aged children (4-6 years old) in PAUD at Parakan Jaya Village of Bogor. Design research use analytic descriptive approach cross sectional at 103 respondents. Data collection is conducted by parenting styles and dimensions questionnaire (PSDQ) and social-emotional development questionnaire for 4-5 years old and >5-6 years old. Chi-square is used to analyze bivariate data. Results: there is a no relationship of the correlation between mother’s parenting style and social-emotional development of preschool-aged children 4-5 years old (p=0.225) and >5-6 years old (p=0.108). Other factors such as age, education, employment, and sex show there is a no relationship with the children’s social-emotional development. However, this research found that majority of the children’s social-emotional development is questionable. So, screening is necessary to identify the deviation of the children’s social-emotional development. Conclusion: there is no significant correlation between mother’s parenting style and social-emotional development of preschool-aged children.Keywords: Mother’s parenting styles, social-emotional development, preschool-aged children
Pengalaman Perawat dalam Memberikan Perawatan Atraumatik pada Anak di Rumah Sakit Nursasmita, Rizqi; Tri Waluyanti, Fajar; Wanda, Dessie
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.785 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.185

Abstract

Abstrak Perawat anak memiliki peran penting untuk mencegah terjadinya dampak negatif hospitalisasi melalui aplikasi konsep perawatan atraumatik dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak. Tujuan: Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi secara mendalam tentang pengalaman yang dialami perawat dalam memberikan perawatan atraumatik pada anak yang mengalami hospitalisasi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif fenomenologi di RSAB Harapan Kita Jakarta pada bulan Mei 2016. Pengambilan data melalui wawancara semi terstruktur terhadap tujuh perawat yang dipilih dengan purposive sampling. Data transkrip dianalisis secara manual dengan metode Yin (2011) dan Graneheim & Lundman (2004). Hasil penelitian: dihasilkan empat tema yaitu ada dualisme peran orang tua dalam perawatan atraumatik, dilema dukungan rumah sakit dalam perawatan atraumatik, intervensi yang digunakan perawat dalam perawatan atraumatik, dan refleksi perawatan atraumatik untuk perawat. Kesimpulan: Gambaran eksplorasi pengalaman perawat dalam memberikan perawatan atraumatik meliputi dualisme peran (positif dan negatif) orang tua, beragam intervensi perawatan atraumatik yang telah diaplikasikan, dilema dukungan rumah sakit dalam perawatan atraumatik berhubungan dengan infeksi nosokomial maupun hambatan internal, serta perawat melakukan refleksi perawatan atraumatik yang telah dilakukan.Kata Kunci: anak, pengalaman, perawat, perawatan atraumatikThe Experiences of Nurses in Providing Atraumatic Care for Children during Hospitalization AbstractA nurse has an important role to prevent the negative impact of hospitalization through the application of concepts atraumatic care in providing nursing care in children. Objective: The research aim is to explore the experiences of nurses in providing atraumatic care for children during hospitalization. Method: This research method using qualitative phenomenology descriptive study at RSAB Harapan Kita Jakarta in May 2016. Collecting data through interviews with seven nurses selected with using purposive sampling. Transcript data was analyzed manually with Yin (2011) and Graneheim & Lundman (2004) method. Results: The results of the study describes the four themes, namely a duality of the role of parents in the atraumatic care, support hospitals dilemma in atraumatic care, nursing interventions used in atraumatic care, and the reflection of atraumatic care for nurses. Conclusion: An illustration of nurses’ exploratory experiences in providing atraumatic care includes dualism of the roles (positive and negative) of parents, various atraumatic care interventions that have been applied, hospital support dilemmas in atraumatic care related to nosocomial infections and internal support, and nurses doing reflecting on atraumatic care.Keywords: atraumatic care, experience, nurse, pediatric
Studi Fenomenologi: Pengalaman Primipara Saat Mengalami Depresi Postpartum Palupi, Puspita
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.684 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.181

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: Melahirkan umumnya merupakan suatu peristiwa yang menyenangkan, di sisi lain kehadiran anggota baru dalam kehidupan perempuan tidak selamanya merupakan kebahagiaan tersendiri. Perempuan yang mengalami kehamilan dan melahirkan memerlukan penyesuaian. Gangguan emosional dapat dialami oleh perempuan pasca persalinan seperti postpartum blues, depresi postpartum maupun psikosis postpartum. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman primipara saat mengalami depresi postpartum. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif. Data diperoleh melalui metode wawancara mendalam. Partisipan sejumlah enam orang meliputi primipara yang melahirkan secara spontan maupun dengan tindakan yang diperoleh melalui purposive sampling. Data yang dikumpulkan berupa hasil rekaman wawancara dan catatan lapangan. Data dianalisis dengan metode Collaizi. Hasil: didapatkan empat tema yaitu: (1) Melahirkan merupakan penderitaan dan membawa konsekuensi finansial; (2) Perubahan psikologis postpartum dan merasa menjadi orang yang berbeda dengan sebelumnya; (3) Ada hambatan dalam mengurus diri sendiri dan perawatan pada anak; dan (4) Ketidaksiapan menjadi ibu pada primipara. Simpulan: Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran pada petugas kesehatan khususnya perawat maternitas tentang pentingnya memahami masalah gangguan adaptasi postpartum khususnya depresi postpartum pada primipara.Kata Kunci: depresi postpartum, primipara, postpartumPhenomenological Study: the Experience of Primiparous Mother with Postpartum Depression ABSTRACTBackground: Childbirth as a happy event, but on the other hand the presence of a new member in women’s lives not always as a great pleasure. Women who experience pregnancy and childbirth require adjustment. Emotional disorders could be experienced by women after childbirth as postpartum blues, postpartum depression and postpartum psychosis. Objective: The objective of this study was to obtain the experience postpartum depression in primiparous. Method: This study used phenomenological descriptive design. Data were collected using in-depth interview method. The participants of this study were six primiparous mothers who giving birth either spontaneously or with other methods that obtained by purposive sampling. Data collected were interview recording and field notes. Data was analyzed using Collaizi techniques. This study identified four themes: (1) Delivery as a suffering and brought financial consequency; (2) Psychological change and felt like to be a different person; (3) Barriers in self care and child care; (4) Unreadiness to become primiparous mother. Discussion: Research result were expected to provide an overview to health care workers especially maternity nurses about the necessity to understand the problem of adaptation disorders, especially postpartum depression for primiparous mothers. Keywords: postpartum depression, primiparous, postpartum
Peningkatan Kemampuan Timbang Terima Pasien Melalui Budaya Komunikasi SITUATION, BACKGROUND, ASSESSMENT, RECOMMENDATION (SBAR) DI RS DI BEKASI Anggraini, Dian; Novieastari, Enie; Nuraini, Tuti
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.532 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.182

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Komunikasi tidak efektif dalam timbang terima dapat meningkatkan kejadian medication error, membahayakan pasien, memperpanjang proses perawatan, menurunkan kepuasan pasien, memperpanjang hari rawat pasien yang akan berdampak pada kurangnya mutu asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien. Upaya meningkatkan mutu pelayanan salah satunya dengan menerapkan komunikasi Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR). Komunikasi SBAR sudah mulai diterapkan pada kebijakan akreditasi rumah sakit, di beberapa rumah sakit masih ada yang belum menerapkan komunikasi SBAR. Tujuan: penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan pengetahuan dan kemampuan perawat setelah pelatihan SBAR. Metode: pre-eksperiment dengan pre-post tanpa kelompok kontrol, sampel penelitian seluruh Perawat Primer dan Penanggung Jawab shift (n= 17). Pengukuran pengetahuan dengan melakukan tes tertulis sebelum dan sesudah pelatihan, dan untuk data kemampuan perawat timbang terima dengan komunikasi SBAR dilakukan pengamatan timbang terima sebelum dan sesudah pelatihan dengan menggunakan lembar observasi. Analisis data dengan uji t berpasangan dan uji Wilcoxon. Hasil: ada perbedaan yang bermakna rerata pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan (p-value <0,001), ada perbedaan yang bermakna rerata kemampuan perawat sebelum dan sesudah pelatihan komunikasi SBAR dalam timbang terima pasien antar shift (p-value <0,001). Kesimpulan: komunikasi SBAR efektif untuk meningkatkan sosialisasi, motivasi, mentoring, supervisi, serta pengembangan pendidikan yang berkelanjutan.Kata Kunci: Komunikasi, pengetahuan, SBAR, timbang terimaImprovement of the Handover Ability Through Situation, Background, Assessment, Recommendation (Sbar) Communication Culture in Hospital at Bekasi City ABSTRACTBackground: Ineffective communication in the handover can increase the incidence of medication errors, endanger the patient, prolong the treatment process, reduce patient satisfaction, extend patient care days which will have an impact on the lack of quality nursing care provided to patients. To improve quality of service, one of them is to apply SBAR communication. SBAR communication is already implemented in accreditation policy at hospital. Meanwhile, there are some hospital not yet implement it. Objective: this study was to identify differences in nurses’ knowledge and abilities after training. Methods: pre-experiment with pre-post without a control group, a sample of all Primary Nurse and Shift Guidance (n = 17), Measurement of knowledge by conducting a written test before and after training, and measurement of the ability to handover nurses with SBAR communication conducted handover observations before and after training using observation sheets. Data analysis by paired t-test and Wilcoxon test. Results: there were significant differences in the mean of knowledge before and after training (p-value <0.001), there were significant differences in the mean ability of nurses before and after SBAR communication training in the handover of patients between shifts (p-value <0.001). Discussion: SBAR communication must become a culture, its implementation needs managerial support and nurse commitment. Conclusion: communication with SBAR could improve effectively socialization, motivation, mentoring, supervision, and continuing education development.Keywords: Communication, knowledge, SBAR, handover
RELATIONSHIP BETWEEN PAIN INTENSITY WITH SLEEP QUALITY OF PATIENT POST CAESAREAN SECTION IN RS TK. II DUSTIRA CIMAHI YEAR 2017 Noviyanti, Hevy Amelia; Kusmiran, Eny; Sutrisna, Marlin
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.63

Abstract

ABSTRACT Background. Cesarean section is an artificial birth, in which the fetus is born through an incision in the abdominal wall and uterine wall and the weight of the fetus is above 500 grams. Impacts that occur after caesarean section are pain and sleep disorders. Aim. To know the relation of pain intensity with sleep quality of mothers post cesarean section. Research methods. Using cross sectional approach. The sample of the study were 42 post-cesarean mothers taken by accidental sampling technique. The data was collected at RS TK. II Dustira Cimahi using Maternal Pain Questionnaire (MPQ) questionnaire for pain intensity measurement and The Sleep Sleep Quality Index (PSQI) for sleep quality measurement, in May 2017. Data analysis using Chi-Square test . Results. The highest intensity of pain occurred in the client after cesarean section with severe pain intensity with 22 respondents (52,4%) and uncomfortable there were 20 respondents (47,6%) and more than most client experience poor sleep quality that is 28 respondents ( 66.7%) but there are still clients who experienced good sleep quality 14 respondents (33.3%). The statistical test results obtained p significance number p = 0,000 thus p <α (0.000 <0.05), then H0 is rejected. Conclusion. There was a significant relationship between the intensity of pain and sleep quality in post-caesarean section patients. Keywords: Cesarean Section, Pain, Sleep Quality  
PENINGKATAN KEMAMPUAN TIMBANG TERIMA PASIEN DENGAN BUDAYA KOMUNIKASI SBAR DI RUMAH SAKIT “X”BEKASI anggraini, dian
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.137

Abstract

ABSTRAKKomunikasi tidak efektif dalam timbang terima pasien dapat meningkatkan kejadian medication error, membahayakan pasien, memperpanjang proses perawatan, menurunkan kepuasan pasien, memperpanjang hari rawat pasien, yang akan berdampak pada kurangnya mutu asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien. Komunikasi dengan alur Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) adalah salah satu metode komunikasi efektif yang jelas, fokus, dan terstruktur. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi perbedaan pengetahuan dan kemampuan perawat setelah pelatihan, desain penelitian dengan pre-eksperiment dengan pre-post tanpa kelompok kontrol, sampel penelitian seluruh Perawat Primer dan Penanggung Jawab shift  (n= 17), analisis data dengan uji t berpasangan dan uji Wilcoxon. Ada perbedaan yang bermakna rerata pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan (p value < 0,001), ada perbedaan yang  bermakna rerata kemampuan perawat sebelum dan sesudah pelatihan komunikasi SBAR dalam timbang terima pasien antar shift (p value < 0,001). Efektifitas pelaksanaan komunikasi SBAR perlu menjadi sebuah budaya, dan pelaksanaannya perlu ada dukungan dari pihak manajerial dan komitment perawat, dengan adanya pedoman komunikasi efektif dengan metode SBAR, motivasi, mentoring, dan supervisi, serta pengembangan pendidikan yang berkelanjutan.Kata kunci: Kemampuan, komunikasi, pengetahuan, SBAR, timbang terima  ABSTRACTIneffective communication in hand over patients can increase the incidence of medication errors, endanger patients, extend the treatment process, reduce patient satisfaction, extend patient care days, which will have an impact of the lack on quality nursing care given to patients. Communication with the groove Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) is one of the effective clear, focused and structured communication method. The objective of this  research is to identify differences in the knowledge and ability of nurses after training, research design with pre-experiment with pre-post without a control group, the study sample whole Nurses Primary and responsible shift (n = 17), data analysis with paired t test and Wilcoxon test. There is a significant difference in the average nurse's knowledge before and after training (p value <0.001), and there is a significant difference  means the ability of nurses before and after training SBAR communication in shifts handover (p value <0.001). Effective implementation of the SBAR communication needs of the managerial support and commitment of nurses, with the guidance effective methods SBAR communication, motivation, mentoring, and supervision, as well as the development of continuing education.Keywords: Abilities, Communication, handover, knowledge, SBAR
STUDI FENOMENOLOGI PENGALAMAN IBU PRIMIPARA SAAT MENGALAMI DEPRESI POSTPARTUM DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN PASAR REBO JAKARTA TIMUR Palupi, Puspita
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.136

Abstract

Melahirkan umumnya merupakan suatu peristiwa yang menyenangkan, di sisi lain kehadiran anggota baru dalam kehidupan perempuan tidak selamanya merupakan kebahagiaan  tersendiri, perempuan  yang mengalami kehamilan dan melahirkan memerlukan penyesuaian. Gangguan emosional dapat dialami oleh perempuan pasca persalinan seperti postpartum blues, depresi postpartum maupun psikosis postpartum. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman depresi postpartum pada ibu primipara. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif melalui wawancara mendalam. Partisipan sejumlah enam orang meliputi ibu primipara baik yang melahirkan secara spontan maupun dengan tindakan yang diperoleh melalui purposive sampling. Data yang dikumpulkan berupa hasil rekaman wawancara dan catatan lapangan yang akan dianalisis dengan metode Collaizi. Hasil penelitian didapatkan empat tema yaitu: (1) Makna melahirkan bagi ibu primipara; (2) Perubahan psikologis postpartum ibu primipara; (3) Hambatan dalam perawatan anak pada ibu primipara; (4) Kesiapan menjadi ibu pada primipara. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran pada petugas kesehatan khususnya perawat maternitas bahwa pentingnya memahami masalah gangguan adaptasi postpartum khususnya depresi postpartum pada ibu primipara.Kata kunci: depresi postpartum, ibu primipara, periode postpartum

Page 1 of 1 | Total Record : 10