cover
Contact Name
Elsi Dwi Hapsari
Contact Email
elsidhapsari2@gmail.com
Phone
+6287839259788
Journal Mail Official
elsidhapsari2@gmail.com
Editorial Address
Sekretariat DPP PPNI Graha PPNI Jl. Lenteng Agung Raya No 64, Kec. Jagakarsa, RT 006 RW O8, Jakarta Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)
ISSN : 25031376     EISSN : 25498576     DOI : http://dx.doi.org/10.32419/jppni.v4i3
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) merupakan jurnal resmi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia ini merupakan jurnal dengan peer-review yang diterbitkan secara berkala setiap 4 bulan sekali (April, Agustus, Desember), berfokus pada pengembangan keperawatan di Indonesia. Tujuan diterbitkan JPPNI adalah untuk mewujudkan keperawatan sebagai suatu profesi yang ditandai oleh kegiatan ilmiah yaitu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh perawat di Indonesia, dikomunikasikan melalui media jurnal yang dikelola oleh organisasi profesi, dan didistribusikan ke kalangan perawat, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2020)" : 5 Documents clear
Hubungan Kebiasaan Makan dengan Status Gizi Remaja Asrama Tinambunan, Livoina Gita Kasih; Pella, Joan Adesandra; Manurung, Juliana Giofana; Kartika, Lia; Nugroho, Dwi Yulianto
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i1.205

Abstract

Kebiasaan makan yang tidak baik pada masa remaja dalam rentang usia 10-19 tahun dapat menghambat proses pertumbuhan fisik, perkembangan dan performa akademik. Studi pendahuluan mendapatkan tujuh dari sepuluh remaja memiliki kebiasaan makan yang tidak baik. Tujuan: untuk mengidentifikasi hubungan kebiasaan makan dengan status gizi remaja di asrama. Metode: penelitian kuantitatif korelasional ini menggunakan populasi remaja berusia 18-19 tahun yang bertempat tinggal di asrama satu fakultas di Indonesia bagian barat. Teknik sampel yang digunakan adalah total sampling sebanyak 192 responden. Instrumen untuk mengukur kebiasaan makan menggunakan instrumen yang telah valid dan reliabel. Status gizi didapatkan melalui penghitungan z-score dari tabel Standar Antropometri. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis bivariat. Hasil: Didapatkan lebih dari setengah responden memiliki kebiasaan makan yang baik (58,3%) dan mayoritas status gizi responden berada dalam kondisi normal (91,1%). Analisis bivariat menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara kebiasaan makan dengan status gizi remaja asrama (p=0,764). Diskusi: Hampir setengah dari responden memiliki kebiasaan makan yang tidak baik walau berada dalam satu asrama yang sama. Monitoring asupan makanan dan budaya makan remaja diperlukan untuk mempertahankan status gizi yang baik. Simpulan: Kebiasaan makan yang baik dan status gizi remaja asrama tetap harus dipertahankan untuk mendukung pertumbuhan dan performa akademik dan klinik yang optimal.Kata Kunci: Kebiasaan makan, remaja, status gizi Correlation Between Eating Habits and Nutritional Status of Adolescents at DormitoryABSTRACTBad eating habits in adolescence in the age range of 10-19 years can inhibit the process of physical growth, development, and academic performance. Preliminary studies found that seven out of ten adolescents have bad eating habits. Objective: To identify the correlation between eating habits and nutritional status of adolescents at the dormitory. Methods: This quantitative correlational study employed a population of adolescents aged 18-19 years who lived in a dormitory at one faculty in western Indonesia. Samples were taken using a total sampling of 192 respondents. The instruments to measure eating habits were valid and reliable. Nutritional status was obtained by calculating the z-score from the Anthropometric Standards table. Data were analyzed using bivariate analysis. Results: It was found that more than half of the respondents had good eating habits (58.3%), and most of the respondents' nutritional status was in normal condition (91.1%). Bivariate analysis indicated no significant correlation between eating habits and the nutritional status of adolescents at the dormitory (p=0.764). Discussion: Almost half of all respondents had bad eating habits, although they were in the same dormitory. Monitoring of the food intake and adolescent eating culture is needed to maintain a good nutritional status. Conclusion: Good eating habits and continuous nutritional status monitoring of adolescents at the dormitory must be maintained to support optimal academic and clinical growth and performance. Keywords: Adolescents, Eating Habits, Nutritional Status
PERBEDAAN TINGKAT KESIAPAN MENGHADAPI MENOPAUSE ANTARA WANITA YANG BEKERJA DENGAN YANG TIDAK BEKERJA Andini, Lia Woro; Trisetiyaningsih, Yanita
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i1.160

Abstract

Wanita menjelang menopause akan mengalami penurunan berbagai fungsi tubuh, sehingga akan berdampak pada ketidaknyamanan dalam menjalani kehidupannya. Untuk itu diperlukan sikap positif dengan diimbangi oleh informasi atau pengetahuan yang cukup, sehingga wanita lebih siap dalam menghadapi menopause baik siap secara fisik, mental, dan spiritual. Kesiapan sangat penting dimiliki wanita menjelang menopause baik pada wanita yang bekerja maupun yang tidak bekerja namun sejauh ini masih sedikit laporan terkait perbedaan tingkat kesiapan menghadapi menopause antara wanita yang bekerja dengan yang tidak bekerja. Tujuan Penelitian: mengetahui perbedaan tingkat kesiapan menghadapi menopause antara wanita yang bekerja dengan yang tidak bekerja. Metode: Penelitian ini menggunakan desain komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 57 responden. Instrumen penelitian ini adalah kuesioner kesiapan menghadapi menopause yang diadopsi dari penelitian Hidayatiningtyas yang valid dan reliabel. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: 58,6% wanita tidak bekerja memiliki kesiapan cukup dan 27,6% memiliki kesiapan kurang. Sedangkan pada wanita yang bekerja, 60% memiliki kesiapan cukup dan 32,1% memiliki kesiapan baik. Ada perbedaan bermakna pada kesiapan menghadapi menopause antara wanita yang bekerja dengan yang tidak bekerja (p=0,022). Diskusi: Pada wanita yang bekerja memiliki kesiapan yang lebih baik dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja.  Hal ini karena wanita yang bekerja cenderung memiliki pandangan dan cara berpikir yang lebih luas sehingga akan memiliki pengetahuan yang cukup, salah satunya dalam hal kesiapan menghadapi menopause.  Kesimpulan: Petugas kesehatan disarankan dapat memberikan pendidikan kesehatan dalam rangka menyiapkan wanita pra menopause menghadapi masa menopause.  Bagi wanita, khususnya yang tidak bekerja, diharapkan mempersiapkan diri menghadapi menopause dengan aktif mencari informasi.Kata Kunci: Menopause, wanita bekerja Differences in Menopause Readiness Levels Between Working and Non-Working WomenABSTRACTMenopause-approaching women will experience a decrease in various body functions, which will cause discomfort in living their lives. Therefore, it requires a balance between a positive attitude and sufficient information or knowledge so that women are better prepared to face menopause physically, mentally, and spiritually. Readiness is crucial for women before menopause, both for working and non-working women. However, to date, there are few reports related to differences in the levels of readiness to face menopause between working and non-working women. Objective: to reveal the difference in readiness levels to face menopause between working and non-working women. Methods: This research employed a comparative design with a cross-sectional approach. Samples were taken using the purposive sampling technique with a sample size of 57 respondents. The instrument used in this research was a valid and reliable questionnaire of readiness to face menopause adopted from Hidayatiningtyas. The results of the research were analyzed using the Mann-Whitney test. Results: 58.6% of non-working women had sufficient readiness and 27.6% had insufficient readiness. Meanwhile, 60% of working women had sufficient readiness and 32.1% had good readiness. There was a significant difference in readiness to face menopause between working and non-working women (p = 0.022). Discussion: Working women are more prepared to face menopause than non-working women. This is because working women tend to have broader views and ways of thinking so that they will have sufficient knowledge, one of which is in terms of readiness to face menopause.  Conclusion: It is advised that health workers provide health education to prepare pre-menopausal women to face menopause. Moreover, it is expected that women, particularly those who do not work, prepare for menopause by actively seeking information.Keywords: Menopause, working women
Kepatuhan Regimen Terapi Pada Pasien Hipertensi Di Wilayah Puskesmas Kurnia, Dikha Ayu; Sabichiyyah, Nurul Aini
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i1.214

Abstract

ABSTRAK Kepatuhan regimen terapi masih rendah walaupun Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) telah dijalankan, sehingga menyebabkan kejadian hipertensi di Wilayah Puskesmas masih tinggi. Tujuan penelitian: Mengetahui gambaran kepatuhan regimen terapi pada pasien hipertensi di wilayah Puskesmas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional yang melibatkan responden sebanyak 107 responden dari tanggal 16-31 Mei 2019 dengan teknik quota sampling, dengan kriteria berusia ≥18 tahun sampai 65 tahun, terdiagnosis hipertensi berdasarkan rekam medis dan bersedia menjadi responden. Kepatuhan dinilai dengan menggunakan instrumen Hill-Bone HBP Compliance to High Blood Pressure Therapy Scale. Data dianalisis dengan analisis univariat dan analisis bivariat.  Hasil: Sebesar 61,7% (n=66) tidak patuh terhadap regimen terapi hipertensi. Sebesar 66,4% patuh terhadap diet rendah garam, 60,7% tidak patuh pemeriksaan rutin ke pelayanan kesehatan, dan 58,9% tidak patuh terhadap konsumsi obat. Ada hubungan antara keanggotaan prolanis dengan kepatuhan regimen terapeutik (p=0,001). Dari ketiga domain kepatuhan, domain pengurangan konsumsi garam dipatuhi oleh sebagian besar responden.. Diskusi: Keanggotaan prolanis dapat menjadi faktor yang dapat meningkatkan kepatuhan.  Alasan pasien hipertensi tidak patuh regimen terapi karena sudah merasa sehat, mengkonsumsi obat tradisional, merasa tidak nyaman karena pengobatan yang kompleks, merasa lupa dan sibuk. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan sebagian besar responden tidak patuh terhadap regimen terapi, sehingga perlu meningkatkan strategi yang lebih efektif dalam meningkatkan kepatuhan regimen terapi.Kata kunci: garam, hipertensi, kepatuhan, terapiTherapy Regimen Compliance in Hypertensive Patients in the Working Area of Public Health CenterABSTRACTTherapy regimen compliance is still low although the Chronic Disease Management Program has been implemented. As a result, the incidence of hypertension in the working area of Public Health Centre is still high. Objective: To present an overview of compliance with the therapy regimen in hypertensive patients in the working area of Public Health Centre. Methods: This research employed a cross-sectional design, conducted from 16-31 May 2019. It   involved 107 respondents   taken using quota sampling technique, with criteria of those aged 18 years to 65 years, diagnosed with hypertension based on medical records and willing to become respondents. The compliance was assessed using the Hill-Bone HBP Compliance to High Blood Pressure Therapy Scale instrument. Data were analyzed by using univariate analysis and bivariate analysis. Results: 61.7% (n=66) did not comply with the hypertension therapy regimen. 66.4% complied with a low-salt diet, 60.7% did not comply with routine examinations to health services, and 58.9% did not comply with drug consumption. There was a correlation between the membership of the Chronic Disease Management Program and compliance with the therapy regimen (p=0.001). Of the three compliance domains, most of the respondents complied with the domain of reducing salt consumption. Discussion: The membership of the Chronic Disease Management Program can be a factor that can increase compliance. The reasons for hypertensive patients not complying with the therapy regimen are that they feel healthy, consume traditional medicines, feel uncomfortable because of complex treatment, feel forgetful and busy. Conclusion: This research indicates that most of the respondents do not comply with the therapeutic regimen. Therefore, it is necessary to develop a more effective strategy in improving compliance with the therapy regimen.Keywords: salt, hypertension, compliance, therapy
HEALTH PROMOTION ‘AUDIO VISUAL VS LEAFLET’: INVESTIGASI PENGETAHUAN DAN PERILAKU CUCI TANGAN KELUARGA PASIEN Wahono, Kaiden Budi; Jainurakhma, Janes; Nurbadriyah, Wiwit Dwi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i1.194

Abstract

Penentuan jenis media promosi kesehatan merupakan bagian penting dari upaya merubah perilaku kesehatan di rumah sakit, tidak terkecuali pengetahuan dan perilaku seluruh pengunjung rumah sakit untuk cuci tangan dengan benar, termasuk keluarga pasien. Tujuan: mengetahui perbedaan efektifitas media audio-visual dengan media leaflet terhadap perilaku cuci tangan keluarga pasien di rumah sakit. Metode: Penelitian berdesain quasi experimental dengan rancangan pre-test post-test with control group. Teknik sampling dengan consecutive sampling, besar sampel 122 keluarga pasien dibagi dalam dua kelompok, dengan memperlihatkan video tentang cuci tangan pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol membaca leaflet, masing-masing dengan durasi 30 menit. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dan lembar observasi perilaku cuci tangan.  Analisis data menggunakan uji Mann Whitney.  Hasil: Setelah dilakukan intervensi, terdapat peningkatan skor secara bermakna pada pengetahuan dan perilaku cuci tangan dibanding sebelum dilakukan intervensi, baik pada kelompok audio visual (AV) maupun kelompok leaflet (LF). Kedua media pendidikan kesehatan, baik AV maupun LF, efektif terhadap perubahan skor pengetahuan dan perilaku cuci tangan. Diskusi: Media audio visual lebih efektif sebagai media promosi kesehatan cuci tangan, dimana media audio visual meningkatkan pengetahuan melalui suara dan gambar yang ditampilkan pada layar monitor, sedangkan media leaflet dengan pendekatan narasi yang ditampilkan dalam bentuk tulisan dan gambar pada lembaran kertas terkesan membosankan dan kurang menarik.  Kesimpulan: Rumah sakit sebaiknya melakukan kajian tentang karakteristik pasien dan keluarganya untuk memberikan promosi kesehatan dengan media pendidikan kesehatan yang tepat untuk meningkatkan kualitas perilaku cuci tangan untuk menghindari penyebaran infeksi.Kata kunci: audio-visual, health promotion, keluarga pasien, leaflet, perilaku cuci tangan.Health Promotion Through ‘Audio Visual Vs Leaflet’: Investigation of Knowledge and Hand Washing Behavior of Patient’s FamilyABSTRACTDetermining the type of health promotion media is an essential part of efforts to change health behavior in hospitals, including knowledge and behavior of all hospital visitors to wash their hands properly, including patient's family. Objective: to reveal the difference between the effectiveness of audiovisual media and leaflet media on the handwashing behavior of patient's family in the hospital. Methods: This research employed a quasi-experimental design using a pretest-posttest design with a control group. Samples were taken using a consecutive sampling technique. The sample size of 122 patients' families was divided into two groups: the treatment group watched a video about handwashing in and the control group read leaflets, each given 30 minutes. The instruments used were a knowledge questionnaire and handwashing behavior observation sheets. Data were analyzed using the Mann-Whitney test. Results: After the intervention, there was a significant increase in the score on knowledge and handwashing behavior compared to before the intervention, both in the audiovisual (AV) and leaflet (LF) groups. Both health education media, both AV and LF, were effective in changing handwashing knowledge and behavior scores. Discussion: Audiovisual media is more effective as a media for promoting handwashing health because audiovisual media increases knowledge through sound and images displayed on the monitor screen, while leaflet media with a narrative approach displayed in the form of writing and pictures on sheets of paper seem boring and not interesting.   Conclusion: Hospitals should conduct studies on the characteristics of patients and their families to provide health promotion with appropriate health education media to improve handwashing behavior to avoid the spread of infection.Keywords: audiovisual, health promotion, patient's family, leaflet, handwashing behavior.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN ORANG TUA DALAM PEMBERIAN IMUNISASI DASAR LENGKAP Rahmatina, Layalia Azka; Erawati, Meira
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 5, No 1 (2020)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v5i1.204

Abstract

Imunisasi merupakan upaya mengurangi morbiditas dan mortalitas anak, namun masih banyak anak yang belum menerima imunisasi. Angka kematian balita di dunia yang disebabkan oleh penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I) mencapai 1,4 juta orang per tahun. Dikhawatirkan PD3I ini dapat menyebar dengan mudah dari anak yang terinfeksi ke anak yang tidak diimunisasi atau tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut. Hal ini berisiko meningkatkan angka mortalitas anak Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor[1]faktor yang berhubungan dengan kepatuhan orang tua, terutama ibu, dalam memberikan imunisasi dasar lengkap kepada bayi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimental dengan desain cross sectional. Responden sebanyak 100 orang ibu yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan di Kelurahan Meteseh menggunakan kuesioner yang sudah valid dan reliabel. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, pekerjaan, jumlah paritas, agama , dan pengetahuan ibu tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) tidak berhubungan dengan kepatuhan orang tua dalam memberikan imunisasi dasar lengkap pada bayi (p>0,05). Diskusi: Penelitian ini membuktikan bahwa kematangan usia ibu tidak selalu berhubungan dengan kepatuhannya dalam memberikan imunisasi dasar. Kepatuhan ini juga tidak berhubungan dengan oleh kesibukan ibu dalam bekerja maupun mengurus anak serta pengalamannya menjadi seorang ibu. Adanya keyakinan pada agama tertentu mengenai imunisasi, serta pengetahuan yang dimiliki ibu mengenai KIPI juga terbukti tidak berhubungan dengan kepatuhan ibu dalam memberikan imunisasi. Kesimpulan: Faktor demografi ibu tidak senantiasa berhubungan dengan kepatuhannya dalam memberikan imunisasi dasar lengkap pada bayi, namun imunisasi ini tetap perlu diberikan sebagai upaya mengurangi risiko bayi tertular PD3I.Kata Kunci: ibu, imunisasi, kepatuhanFactors Correlated with Parental Adherence in Providing Complete Basic ImmunizationABSTRACTImmunization is an eff ort to reduce child morbidity and mortality, but many children still have not received immunizations. The mortality rate for children under fi ve in the world caused by immunization-preventable diseases reaches 1.4 million people per year. It is feared that the immunization-preventable diseases can spread easily from infected children to non-immunized children or have no immunity to the disease. This has the risk of increasing child mortality. Objective: This research aims to reveal the factors related to parents’ adherence, especially mothers, in providing complete basic immunization to infants. Methods: This research is a non-experimental quantitative study with a cross-sectional design. Respondents were 100 mothers who were taken using the purposive sampling technique. Data were collected in Meteseh Village using a valid and reliable questionnaire. Data were analyzed using the Chi[1]Square test. Results: Bivariate analysis indicated that mother’s age, occupation, parity, religion, and knowledge of Adverse event following immunization (AEFI) were not correlated with parental compliance in providing complete basic immunization to infants (p>0.05). Discussion: This research proves that mother’s age is not always correlated with adherence to basic immunization. This adherence is also not correlated with the mother’s activities in working or taking care of children and her experience of being a mother. Certain religious beliefs regarding immunization and mother’s knowledge about AEFI are also proven not to be correlated with maternal adherence to giving immunizations. Conclusion: Maternal demographic factors are not always correlated with adherence to providing complete basic immunization to infants, but the immunization still needs to be given to reduce the risk of infants contracting immunization-preventable diseases.Keywords: mother, immunization, adherence

Page 1 of 1 | Total Record : 5