cover
Contact Name
Eldha Sampepana
Contact Email
editorjrti@gmail.com
Phone
+625417771364
Journal Mail Official
editorjrti@gmail.com
Editorial Address
Jl. MT. Haryono/ Banggeris No.1, Samarinda 75124 Tel.Fax: (0541) 7771364/ 745431 Whatsapp : 0821 5541 4969
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Riset Teknologi Industri
ISSN : 19786891     EISSN : 25415905     DOI : 10.26578
Jurnal Riset Teknologi Industri (JRTI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Memuat informasi bidang riset Teknologi Industri berupa hasil riset dan Ulasan Ilmiah bidang Perekayasaan Mesin, Pangan, Kimia Industri, Lingkungan dan Teknik Industri. Akreditasi Kemenristekdikti Akreditasi S2 Vol.10 No.1 Tahun 2016 samapi dengan Vol.14 No.2 tahun 2020. p-ISSN : 1978-6891, e-ISSN : 2541-5905.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 11 No.1 JUNI 2017" : 8 Documents clear
Pemanfaatan Serbuk Arang Cangkang Kelapa Sawit sebagai Substitusi Carbon Black untuk Bahan Pengisi Kompon Karet Zainal Abidin Nasution; Harry Parulian Limbong
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 11 No.1 JUNI 2017
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.852 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v11i1.2167

Abstract

The  study  conducted  to  determine the effect of treatment powder of oil palm shell charcoal  giving  the  beginning  and  end  of  the  milling/mixing  in  the  manufacture  of  rubber  compound  formulation. Powder  oil  palm  shell  charcoal  used  is derived   from  the  roasting  palm  shells with particle size of 200 mesh sieve passes  (particle size  of 74 micron).  Variation  of  the  experiment  is the formulation  RSS/SBR/ACS  with  phr  (100/30/50) and (100/30/60) with the provision  of  oil  palm  shell  charcoal  beginning  of  the  milling/mixing.Then the formulation RSS/SBR/ACS with phr (100/30/50) and (100/-/40) with charcoal  treatment  giving  palm  shells  at  the  end  of  milling/mixing.The  parameter  tested  were  rubber  compound  cooking  time, hardness, modulus 300 %, elongation  at  break  and  tear  strength.Test  results  are good  the  formulation  RSS/SBR/ACS  with  phr  (100/-/40) namely  the  formulation  of  making  of sampel  of  the  rubber  compound  to  the award  charcoal  palm  shells  at  the  end  the  milling/mixing  ie, tensile  strength = 132  kg/cm2,  modulus 300 % = 23 psi, elongation at break = 689 % and  tear strength  =  26 kg/cm2. While the hardness  of  the  formulation  RSS/SBR/ACS  with phr (100/-/40)  is low,  48–49 shore-A Keywords :  powder  of oil palm  shell  charcoal,roasting  of  palm  shell   rubber  compound.and carbon  black ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh perlakuan pemberian serbuk arang cangkang kelapa sawit diawal dan diakhir dari penggilingan/pencampuran pada rancangan formula pembuatan contoh kompon karet. Serbuk  arang  cangkang  kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan pengisi (filler)  dengan ukuran lolos ayakan 200 mesh ( ukuran partikelnya adalah 74 mikron atau 0,074 mμ)  adalah  berasal dari hasil penyangraian cangkang kelapa sawit. Percobaan pembuatan kompon karet, formulasinya adalah RSS/SBR/ACS  dimana  phr  (100/30/50) dan (100/30/60) dengan pemberian serbuk  arang cangkang kelapa sawit adalah diawal dari penggilingan/pencampuran. Kemudian percobaan pembuatan kompon karet berikutnya,  dengan  formulasi RSS/SBR/ACS  dimana  phr (100/30/50)  dan  (100/-/40)  dengan  perlakuan  pemberian  serbuk  arang  cangkang  kelapa   sawit  adalah   diakhir   dari   penggilingan/pencampuran.Parameter  yang  diuji adalah waktu pemasakan kompon karet, kekerasan, kekuatan  tarik, modulus 300 %, perpanjangan  putus  dan  kekuatan sobek. Hasil uji yang baik adalah dari formulasi RSS/SBR/ACS dimana phr (100/-/40) yaitu formulasi  pembuatan contoh kompon karet pada pemberian serbuk arang cangkang  kelapa sawit  diakhir  daripada  penggilingan/pencampuran.Hasil  uji  yang  diperoleh  adalah  kekuatan tarik = 132 kg/cm2, modulus 300 % = 23 psi, perpanjangan putus  =  689%  dan  kekuatan  sobek = 26kgf/cm2. Sedangkan  kekerasannya dari  seluruh  formula  yang dicobakan adalah yang terendah yaitu kekerasan  =  48 – 49 shore – A. Kata kunci : arang cangkang kelapa sawit, kompon karet , penyangraian cangkang kelapa sawitdan carbonblack
Pengaruh Penambahan Serat Sabut Kelapa terhadap Pembuatan Beton “Knock Down” Petrus Patandung
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 11 No.1 JUNI 2017
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.995 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v11i1.2698

Abstract

Research the influence of coconut fiber addition to the manufacture of concrete knock down as  building materials. The purpose of this study to determine the effect of coconut fiber addition to the making of knock down concrete. This research uses experimental design of knock down in the form of Figures and Graphs and the collection  is analyzed descriptively with the addition of coconut fiber treatment consisting of: 50; 100; 150; 200; 250 and 300 g, the properties and advantages of coconut fiber are: resistant to water, microorganisms, weathering and also to mechanical workmanship that is friction and punch. Each treatment was repeated 3 (three) times. The results showed that the addition of coconut fiber was the very significant effect on water absorption and compressive strength. The results showed that the average water absorption was 4.51 - 8.25% and the average compressive strength was 173,49 - 209,34 kg / cm2. For the compressive strength direction, treatment D is the optimal addition of coconut fiber because it provides the highest compressive strength value of 209.34 kg / cm2, while the E and F treatment of the compressive strength decreases. The results showed that the best treatment was obtained in treatment A; B; C; D and E can meet the quality requirement of knock down concrete because the compressive strength can reach 175 kg / cm2 and can be used for wall concrete. Keywords : knock down, coir, compressive strength, absorptionABSTRAK Penelitian pengaruh penambahan serat sabut kelapa terhadap pembuatan beton knock down sebagai  bahan bangunan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan serat sabut kelapa terhadap pembuatan beton knock down. Penelitian ini menggunakan desain percobaan pembuatan knock down dalam bentuk gambar dan grafik serta  data dianalisis secara deskriptif dengan perlakuan penambahan serat sabut kelapa yang terdiri dari: 50; 100; 150; 200; 250 dan 300 g, sifat dan keunggulan dari serat sabut kelapa yaitu: tahan terhadap air, mikroorganisme, pelapukan dan juga terhadap pengerjaan mekanis yaitu gesekan dan pukulan. Masing–masing perlakuan diulang 3 (tiga) kali. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan penambahan serat sabut kelapa memberikan pengaruh sangat nyata terhadap penyerapan air dan kuat tekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil penyerapan air rata-rata 4,51 - 8,25 % dan kuat tekan rata-rata 173,49 - 209,34 kg/cm2. Untuk parameter kuat tekan, perlakuan D merupakan penambahan serat sabut kelapa yang optimum karena memberikan nilai kuat tekan tertinggi yaitu 209,34 kg/cm2, sedangkan perlakuan E dan F nilai kuat tekannya semakin menurun. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan yang  terbaik diperoleh pada perlakuan A; B; C; D dan E dapat memenuhi syarat mutu beton knok down karena kuat tekannya dapat mencapai 175 kg/cm2 dan dapat dimanfaatkan untuk beton dinding.Kata kunci: knock down, serat sabut kelapa, kekuatan tekan, penyerapan
Pemanfaatan Kaolin dalam Pembuatan Cat Tembok Menggunakan “Emulsifier” Na- Silikat dan Perekat Polivinil Asetat Alexius Luther Ola
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 11 No.1 JUNI 2017
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (38.548 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v11i1.2787

Abstract

The purpose of this research were to study the effect of the Emulsifier and adhesive concentration on the quality of wall paint by using kaolin raw materials, to support the maximum utilization of mineral resources potentials and to diversify other products of Kaolin. This study was prepared by Completely Randomized Design (CRD) arranged as factorial and consists of two factors, namely: A. The concentration of emulsifier sodium silicate (A1 = 10%; A2 = 15%; A3 = 20%) and B. The concentration of polyvinyl acetate adhesive (B1 = 10%; B2 = 15%). Quality analysis is conducted qualitatively (nature of the review, resistance to alkali, resistance to temperature). The results showed the concentration of total solids adhesives affects the paint. Specific gravity wall paint made is 1:41 to 1:59, total solids between 50,37 to 54,82 %, 5-micron fineness, time to dry for about 30 – 50 minutes. Parameters tested quantitatively and qualitatively meet the requirements of SNI 3564 – 2014 wall paint emulsion and resistant to alkali and weather as well as easy-to-apply around. Keywords : kaolin, wall paint, emulsifier,  polyvinyl acetateABSTRAKΤujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh konsentrasi Emulifier dan perekat terhadap mutu cat tembok dengan bahan baku kaolin, menunjang pemanfaatan sebagai potensi sumber daya mineral secara maksimal serta diversifikasi produk dari kaolin. Penelitian ini disusun dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dan terdari dari 2 faktor yaitu: A. Konsentrasi emulsifier natrium silikat (A1 = 10%; A2 = 15%; A3 = 20%) dan B. Konsentrasi perekat polifinil asetat (B1 = 10%; B2 = 15%). Analisis mutu dilakukan secara kualitatif (sifat pengulasan, ketahanan terhadap alkali, ketahanan terhadap suhu) dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjuan konsentrasi perekat berpengaruh terhadap padatan total cat tembok. Berat jenis cat tembok yang dibuat adalah 1:41 – 1:59, padatan total antara 50,37 – 54,82 %, kehalusan -50 mikron, waktu mengering sekitar 30 – 50 menit. Parameter yang diuji secara kuantitatif dan kualitatif memenuhi persyaratan SNI:3564 – 2014 Cat tembok emulsi dan tahan terhadap alkali dan cuaca serta mudah diulaskan. Kata kunci : kaolin, cat tembok, emulsifier, polivinil acetat
Pengaruh Bentuk Pin terhadap Sifat Mekanik Aluminium 5083 – H112 Hasil Proses Friction Stir Welding Irfan Helmi; Tarmizi Tarmizi
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 11 No.1 JUNI 2017
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1169.327 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v11i1.2163

Abstract

Friction Stir Welding process, which is a solid state welding tool utilizing friction with the workpiece to soften the material is spliced into a choice in aluminum welding. Selection of the proper tool will produce welds with excellent mechanical properties. The research objective is to determine the effect of different forms of pins on mechanical properties and microstructure joint of the friction stir welding process. Friction stir welding process by means of a rotating tool to penetrate into the work piece and friction will soften the material. The connection formed by the merging of soft metal on both sides with a pressure tool. The process of friction stir welding aluminum 5083 - H112 using milling machines and tool with a tapered pin grooves, a cylinder pin grooves or a triangular pin groove and using 1500 rpm tool rotation , the welding speed of 29 mm/min, 0° tool tilt angle, and the depth of plunge 4.8 mm indicate the process is going well . Mechanical testing indicates hardness value using is 85 HV and impact value is 0.24 J / mm2 using a tapered pin groove higher than the cylindrical pin groove and a triangular pin groove. The highest tensile strength used a tapered pin groove of 172 MPa is still lower than the base metal tensile strength of 331 MPa because there was defect in the weldment. Microstructure observation showed changes into a finer grain in the weld nugget compared Thermomechanically area Affected Zone, Heat Affected Zone and the parent metal. Friction  Stir Welding process aluminum 5083 - H112 using a tapered pin grooves tool provide better results than that using a cylinder pin grooves or a triangular pin groove.Keywords : solid state, FSW, milling, probe, Weld NuggetABSTRAKAluminium mempunyai sifat mampu las lebih rendah daripada baja karena adanya lapisan oksida yang terbentuk ketika teroksidasi dengan udara luar. Proses Friction Stir Welding, yang merupakan pengelasan solid state memanfaatkan gesekan tool dengan benda kerja untuk melunakkan material yang disambung menjadi pilihan dalam pengelasan aluminium. Pemilihan tool yang tepat akan menghasilkan lasan dengan sifat mekanik yang baik. Proses FSW aluminium 5083 – H112 menggunakan mesin freis dengan cara tool berputar melakukan penetrasi ke benda kerja dan gesekan akan melunakkan material. Sambungan terbentuk akibat bersatunya logam lunak pada kedua sisi dengan adanya tekanan tool. Hasil pengelasan menunjukkan proses berlangsung dengan baik. Pengamatan struktur mikro menunjukkan butir menjadi lebih halus di daerah weld nugget dibandingkan daerah Thermomechanically Affected Zone , Heat Affected Zone dan logam induk. Pengujian mekanik menunjukkan nilai kekerasan sebesar 85 HV dan harga impak rata- rata di sambungan las sebesar 0,24 J/mm2 menggunakan pin tirus beralur tertinggi dibandingkan dengan menggunakan pin silinder beralur dan segitiga beralur. Kekuatan tarik tertinggi menggunakan pin tirus beralur sebesar 166 MPa masih lebih rendah dari kekuatan tarik logam induk sebesar 331 MPa karena adanya cacat pada hasil lasan. Proses FSW aluminium 5083 - H112 dengan parameter putaran tool 1500 rpm, kecepatan pengelasan 29 mm/min, sudut kemiringan tool 0o dan kedalaman pembenaman pin 4,8 mm menggunakan tool dengan pin tirus beralur memberikan hasil yang lebih baik dari pada menggunakan pin silinder beralur atau segitiga beralur.Kata kunci : kondisi padat, las aduk gesek, frais, pin, daerah adukan
Pengaruh Starter Bakteri Asam Laktat dan Penambahan Tepung Talas Termodifikasi terhadap Kualitas Yogurt Sinbiotik Raden Haryo Bimo Setiarto; Nunuk Widhyastuti
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 11 No.1 JUNI 2017
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.303 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v11i1.2179

Abstract

Yogurt was the one of functional food product which contains probiotic bacteria to improve the balance of intestinal microflora. The functional value of yogurt can be increased by the addition of modified taro flour to stimulate the growth of probiotic bacteria in the digestive tract. This study aimed to determine the effect of variation lactic acid bacteria starter and fortified of modified taro flour for the quality of taro yogurt synbiotic. This research used statistical randomized block design. The parameters which used to determine the quality of yogurt in this study were pH value, total acid content, the viability of lactic acid bacteria and organoleptic tests. The results showed that the best combination starter to produce yogurt were starter Lactobacillus bulgaricus + Lactobacillus achidophillus + Streptococcus thermophillus with a pH value of 4, total acid content 1.32%, total lactic acid bacteria 6.93 log cfu / ml, and total organoleptic test by a value of 4.5. Meanwhile, the best formulation was added to modify taro flour (TTM) 0.5 % (w/v) to produce taro yogurt synbiotic with pH value 4.5, total acid content 1.44%, total lactic acid bacteria (LAB) 7.01 log cfu / ml, and total organoleptic test 4.215. Variation of lactic acid bacteria starter and fortification of modified taro flour was not given significant effect for pH, total lactic acid content and organoleptic quality (taste, texture, colour, smell) of synbiotic yogurt. Based on microbiology and organoleptic standard, qualities of taro yogurt synbiotic products stay awake during the storage period of 4 weeks at cold temperatures.Keywords: product quality, lactic acid bacteria starter, prebiotic taro flour, taro yogurt synbioticABSTRAKYogurt merupakan salah satu produk pangan fungsional yang mengandung bakteri probiotik untuk memperbaiki keseimbangan mikroflora usus. Nilai fungsional yogurt dapat ditingkatkan dengan penambahan tepung talas termodifikasi untuk menstimulasi pertumbuhan bakteri probiotik dalam saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi starter bakteri asam laktat dan penambahan tepung talas termodifikasi terhadap kualitas yogurt talas sinbiotik. Metode penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok. Parameter yang diamati pada penelitian ini adalah nilai pH, total asam tertitrasi, viabilitas bakteri asam laktat dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukan bahwa variasi starter terbaik adalah yogurt yang dibuat dari Lactobacillus bulgaricus + Lactobacillus achidophillus + Streptococcus thermophillus dengan nilai pH 4, total asam tertitrasi 1,32%, total bakteri asam laktat 6,93 log cfu/ml, dan total uji organoleptik dengan nilai 4,5. Sementara itu penambahan tepung talas termodifikasi (TTM) terbaik untuk produksi yogurt talas sinbiotik adalah sebesar 0,5% (b/v) dengan nilai pH 4,5, total asam tertitrasi 1,44%, total bakteri asam laktat (BAL) 7,01 log cfu/ml, dan total uji organoleptik 4,215. Perlakuan variasi starter kultur bakteri asam laktat dan penambahan tepung talas termodifikasi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan nilai pH, kadar total asam tertitrasi dan kualitas organoleptik (rasa, tekstur, warna, aroma) dari yogurt sinbiotik. Secara mikrobiologis dan organoleptik kualitas produk yogurt talas simbiotik tetap terjaga selama masa penyimpanan 4 minggu pada suhu dingin.Kata Kunci: Kualitas produk, starter bakteri asam laktat, tepung talas prebiotik, yogurt talas sinbiotik
Karakteristik Penyalaan Briket Limbah Serbuk Arang Tempurung Kelapa dengan Bahan Pemantik Abu Kelapa (Cocodust) Petrus Patandung; Doly Prima Silaban
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 11 No.1 JUNI 2017
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.289 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v11i1.2696

Abstract

Characteristic of ignition briquettes waste coconut shell charcoal with cocodust lighter material. The purpose of this research is to know the characteristic and the lighting characteristic of coconut shell charcoal briquettes waste and cocodust so that the briquette product obtained is easily ignited by using lighter material or start-up. This research method is arranged in experiment of making briquettes and data analyzed and also descriptively. The experiment was conducted by making briquettes using 5 % starch adhesive material to charcoal coconut charcoal waste and cocodust with fineness of 10 mesh with cocodust 50 g, with treatment consisting of: A1=50 g coconut shell charcoal waste plus 50 g cocodust; A2=100 g coconut shell charcoal waste plus 50 g cocodust; A3=150 g coconut shell charcoal waste plus 50 g cocodust and A4=200 g of shell charcoal waste of 50 g coconut plus 50 g cocodust, repeated 3 times. Result of charcoal charcoal combustion analysis with parameters: duration of ignition up to ash 141,18-146,14 minutes; Duration of initial ignition until fire arises 0,17-0,30 minutes and smoke generated/smoke loss 18,18-25,18 minutes. For boiling water using charcoal briquettes charcoal waste briquettes waste coconut time 30.15-35.16 minutes using charcoal briquettes as much as 100 g. Charcoal briquette charcoal waste coconut shell charcoal parameters: moisture content 6,63-6,95 %, ash 4,49-4,80 %; The missing part at heating temperature 950 ° C from 3.05 to 5.59 % and the calorific value of 4,608-5,221 cal/g. The result of the analysis showed that the best treatment was obtained at treatment A2; A3 and A4 because all parameters meet quality requirements, when compared with SNI charcoal briquette SNI 01-6235-2000.Keywords : ignition, charcoal waste charcoal briquettes, cocodust, lighterABSTRAKKarakteristik penyalaan briket limbah serbuk arang tempurung kelapa dengan bahan pemantik cocodust. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik dan sifat-sifat penyalaan dari briket limbah serbuk arang tempurung kelapa dan cocodust sehingga produk briket yang diperoleh  mudah dinyalakan dengan menggunakan bahan pemantik atau penyalaan awal. Metode penelitian ini disusun dalam percobaan pembuatan briket dan data dianalisa secara deskriptif. Percobaan dilakukan dengan pembuatan briket dengan menggunakan bahan perekat kanji 5 % terhadap limbah arang arang tempurung kelapa dan cocodust dengan kehalusan 10 mesh sebanyak 50 g,dengan perlakuan yang terdiri dari: A1=50 g limbah serbuk arang  tempurung kelapa ditambah 50 g cocodust; A2=100 g limbah serbuk  arang tempurung kelapa ditambah 50 g cocodust; A3=150 g limbah serbuk arang tempurung kelapa ditambah 50 g cocodust dan A4=200 g limbah serbuk arang tempurung sebanyak 50 g kelapa ditambah 50 g cocodust, dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Hasil analisa pembakaran arang briket dengan parameter: lama penyalaan sampai menjadi abu 141,18-146,14 menit; lama penyalaan awal sampai timbul api 0,17-0,30 menit dan asap yang ditimbulkan/asap yang hilang 18,18-25,18 menit. Untuk pendidihan air yang menggunakan arang briket serbuk limbah arang tempurung kelapa diperlukan waktu 30,15-35,16 menit dengan menggunakan arang briket sebanyak 100 g. Hasil  uji briket arang serbuk limbah arang tempurung kelapa antara lain kadar air 6,63-6,95 %, abu 4,49-4,80%; bagian yang hilang pada pemanasan  suhu 950 °C 3,05-5,59 % dan nilai kalori 4.608-5.221 kal/g. Hasil analisa menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik diperoleh pada perlakuan  A2; A3 dan A4  karena semua parameter memenuhi syarat mutu, jika dibandingkan dengan  SNI briket arang kayu  01-6235-2000.Kata kunci:  penyalaan, briket limbah arang tempurung, cocodust, pemantik
Pektin Jeruk Bali (Citrus maxima, L) dalam Formulasi Sirup Kering Buah Mengkudu Heru Agus Cahyanto
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 11 No.1 JUNI 2017
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.138 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v11i1.2409

Abstract

The research of pectin as a stabilizer in Morinda dry syrup had been carried out. Morinda dry syrup using morinda citrifolia fruit as active ingredients and formulated in dry syrup with the addition of a pectin as stabilizer from Citrus maxima L. This research was done by varying of pectin amount ie 0; 0,5; 1 and 1.5% in dry syrup formulas, while the amount of saccharose in the formula is fixed at 20%. Physical tests carried out on dried syrup products include: pH stability, viscosity, precipitate, total plate number, yeast figures for 7 days. The results showed that the addition of pectin has an effect on Morinda dry syrup. The dry syrup formula with 0.5% pectin addition has a pH 4.57, the viscosity 540 and the ALT value below the limit  ≤106 kol / gr and AKK ≤104 kol / gr.Keywords : pectin, dry syrup, morinda citrifoliaABSTRAKTelah dilakukan penelitian penggunaan pektin jeruk bali sebagai bahan penstabil dalam formula sirup kering buah mengkudu. Sirup kering buah mengkudu menggunakan bahan aktif buah mengkudu dan diformulasikan dalam sediaan sirup kering dengan penambahan bahan penstabil berupa pektin dari kulit jeruk bali. Penelitian ini dilakukan dengan membuat variasi jumlah pektin yaitu 0;0,5; 1 dan 1,5% pada formula sirup kering, sementara jumlah sakarosa dalam formula adalah tetap sebesar 20%.  Uji fisik terhadap produk sirup kering meliputi: kestabilan pH, viskositas, endapan, angka lempeng total, angka kapang dan khamir selama 7 hari. Hasil uji menunjukkan penambahan pektin berpengaruh terhadap kastabilan sirup kering buah mengkudu. Formula sirup kering dengan penambahan pektin 0,5% memiliki pH 4.57, viskositas 540 serta nilai ALT jauh dibawah batas ≤106 kol/gr dan AKK ≤104 kol/gr. Kata kunci : pektin, sirup kering, mengkudu  
Studi Pelindian Mangan secara Reduksi dengan Menggunakan Larutan Asam Sulfat Ahmad Royani; Rudi Subagja; Azwar Manaf
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol 11 No.1 JUNI 2017
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.533 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v11i1.1724

Abstract

The leaching of manganese from manganese dioxide ores in sulfuric acid solution was investigated. The effects of agitation, sulfuric acid concentration and solid/liquid mass ratio on the leaching efficiency of manganese were studied. In this study, manganese dioxide ores were treated by reduction roasting using charcoal as a reductant at 700 oC for 120 min. Then, roasted samples were subjected to extract manganese by sulfuric acid leaching. in each leaching test, 75 g of sample was put and leached in a glass reactor with 750 mL sulfuric acid solution. At the end  of each leaching experiment, the slurry was filtered and filtrate was analyzed by Atomic Absorption Spectrometer. The experimental results indicated that the leaching rate increases with the increases of the agitation, sulfuric acid concentration and with the decreases of solid/liquid mass ratio. The optimal condition for leaching manganese from manganese dioxide ores was determined as the agitation of 400 rpm and sulfuric acid concentration of 12% for 180 min at 75 oC. Under the optimal condition, the leaching efficiency of manganese can reach 84.61%.  Keywords : leaching, manganese ore, manganese sulfate, sulfuric acidABSTRAKProses pelindian mangan dari bijih mangan dioksida dalam larutan asam sulfat telah berhasil dilakukan. Tujuan penelitian untuk mempelajari pengaruh dari kecepatan pengadukan, konsentrasi asam sulfat dan perbandingan massa padatan/larutan terhadap mangan yang terekstrak. Dalam penelitian ini, bijih mangan dipreparasi melalui proses reduksi menggunakan arang pada 700 oC selama 120 menit selanjutnya dilindi menggunakan larutan asam sulfat. Pada setiap percobaan, sebanyak 75 gram sampel dimasukkan dan dilindi dengan 750 ml larutan H2SO4dalam gelas reaktor. Setelah proses pelindian, kemudian disaring dan dianalisa dengan menggunakan Atomic Absorption Spectrometer. Hasil percobaan menunjukkan bahwa laju pelindian meningkat dengan naiknya kecepatan pengadukan dan konsentrasi asam serta menurunnya rasio perbandingan persen padatan. Kondisi optimum diperoleh pada kecepatan pengadukan 400 rpm, konsentrasi asam sulfat 12% pada 75 oC selama 180 menit dengan mangan terekstrak sebesar 84,61%.Kata kunci : asam sulfat, bijih mangan, pelindian, mangan sulfat

Page 1 of 1 | Total Record : 8