cover
Contact Name
Eldha Sampepana
Contact Email
editorjrti@gmail.com
Phone
+625417771364
Journal Mail Official
editorjrti@gmail.com
Editorial Address
Jl. MT. Haryono/ Banggeris No.1, Samarinda 75124 Tel.Fax: (0541) 7771364/ 745431 Whatsapp : 0821 5541 4969
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Jurnal Riset Teknologi Industri
ISSN : 19786891     EISSN : 25415905     DOI : 10.26578
Jurnal Riset Teknologi Industri (JRTI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Memuat informasi bidang riset Teknologi Industri berupa hasil riset dan Ulasan Ilmiah bidang Perekayasaan Mesin, Pangan, Kimia Industri, Lingkungan dan Teknik Industri. Akreditasi Kemenristekdikti Akreditasi S2 Vol.10 No.1 Tahun 2016 samapi dengan Vol.14 No.2 tahun 2020. p-ISSN : 1978-6891, e-ISSN : 2541-5905.
Articles 22 Documents
Search results for , issue "Vol.13 No.2 Desember 2019" : 22 Documents clear
Prototipe Alat Pencacah Kulit Kayu Bangkal (Nauclea subdita) Budi Tri Cahyana; Ratri Yuli Lestari; Mohammad Listianto Raharjo
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.855 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5100

Abstract

Kulit kayu bangkal (Nauclea subdita) dimanfaatkan masyarakat Kalimantan Selatan sebagai bahan baku kosmetik alami berupa bedak dingin atau pupur bangkal. Potensi ini dimanfaatkan dan diteliti lebih lanjut oleh Baristand Industri Banjarbaru yaitu berupa sebagai bahan baku kosmetika dan farmasi. Pembuatan ekstrak kulit kayu bangkal menggunakan bahan baku yang telah dihaluskan. Proses ini dilakukan secara manual dengan cara memotong dan menumbuk. Perancangan prototipe alat pencacah kulit kayu bangkal bertujuan mempermudah proses penghalusan dan meningkatkan hasil produksi. Prototipe yang telah dibuat memiliki dimensi panjang 27 cm, lebar 15 cm, dan tinggi 11 cm. Motor listrik sebagai sumber putaran pisau pencacah memiliki masukan daya 186 W dan tegangan 220 V. Kapasitas maksimal alat pencacah adalah 1,855 kg/jam. Modal tetap dalam pembuatan alat pencacah kulit kayu bangkal sebesar Rp 3.025.000. Sedangkan biaya operasional yang meliputi biaya energi listrik, biaya penyusutan dan biaya perawatan adalah sebesar Rp 385,15/kg.
Modifikasi Proses Penambahan Bulir Sari Buah Jambu Biji: Analisis Mutu dan Tekno-Ekonomi Nur Kartika Indah Mayasti; Riyanti Eka Fitri; Nok Afifah
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.936 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5504

Abstract

Telah banyak produk minuman sari buah jambu biji yang ada di pasaran. Untuk menarik perhatian konsumen maka dilakukan pengembangan produk minuman sari buah jambu dengan penambahan bulir buah sebagai sensasi buah asli. Penambahan bulir buah dilakukan dengan memanfaatkan by product berupa biji, kulit, dan pulp yang tidak lolos saring dan terbuang pada proses produksi. Penelitian ini bertujuan menambahkan bulir pada sari buah jambu dengan tiga modifikasi proses tertentu (kontrol, penambahan bulir pada mixing tank, pada thermo tank) dan mengamati pengaruhnya terhadap sifat fisik, kimia, tingkat kesukaan, dan analisa tekno-ekonomi dari proses terpilih. Tiga perlakuan menghasilkan  berat bulir 3,80-10,12 b/v, TPT 11,80-12,10obrix, pH 4,40-4,46, TAT 0,06-0,07%. 20,12-22,31 % dan penerimaan keseluruhan netral hingga agak disukai. Perlakuan penambahan bulir pada mixing tank memiliki tingkat kesukaan tertinggi. Hal ini menunjukkan sari buah yang lebih disukai adalah dengan berat bulir 5,77% b/v, TPT 12,37 obrix, pH 4,40, TAT 0,06%,dan vitamin C 21,82 ppm. Analisa tekno-ekonomi produksi sari buah jambu dengan kapasitas produksi 590 liter/hari diperoleh NPV Rp 805.594.483,00, Net B/C 1,10, IRR 57,00%, dan payback period selama 4 tahun 4 bulan. Pertimbangan kriteria investasi di atas menunjukkan bahwa produksi minuman sari buah jambu dengan proses terpilih layak untuk dijalankan.
Metode Pemecahan Emulsi Krim Santan untuk Produksi Konsentrat Protein Blondo Mariati Edam; Nova Kumolontang; Judith Mandei
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.13 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5183

Abstract

Blondo adalah protein yang terbentuk pada proses ekstraksi untuk mendapatkan minyak  dengan proses basah dari krim kelapa. Blondo merupakan hasil samping dari pembuatan VCO dan minyak kelapa yang belum dimanfaatkan secara optimal. Aplikasi protein nabati pada produk pangan digunakan sebagai bahan fungional yang dapat mempertahankan, memperbaiki dan meningkatkan tekstur, stabilitas, serta mengatur sifat-sifat produk pangan dan merupakan unsur gizi. Nilai ekonomi dan fungsional blondo dapat ditingkatkan dengan mengolah lanjut menjadi konsentrat protein blondo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode pemecahan emulsi krim santan terhadap karakteristik kimia konsentrat protein blondo. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan rancangan percobaan yaitu menggunanakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan metode pemecahan emulsi yaitu fisik, kimia dan fermentasi sebanyak tiga kali ulangan. Parameter yang dianalisis yaitu kadar protein, lemak, air dan abu. Hasil analisis konsentrat protein blondo yaitu kadar protein (78.21-82.76%), kadar lemak (0.75-0.85%), air (4.9-4.94%) dan abu (2.30-2.38%). Metode pemecahan emulsi berpengaruh terhadap kadar protein, kadar lemak, kadar abu dan tidak berpengaruh terhadap kadar air dari konsentrat protein blondo yang dihasilkan. Konsentrat protein blondo menggunakan metode fermentasi adalah yang terbaik dengan karakteristik sebagai berikut: kadar protein 82.76%, lemak 0.75%, air 4.93% dan abu 2.30%.
Pemanfaatan Limbah Padat Industri Tepung Tapioka dan Industri Tahu sebagai Bahan Baku Bioetanol dengan Proses Hidrolisa H2SO4 dan Fermentasi Ragi Instan Nanti Musita
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.535 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5312

Abstract

Jumlah limbah padat dari industri tepung tapioka dan industri tahu cukup melimpah, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal onggok tersebut masih mengandung karbohidrat cukup tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bioetanol. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan bioetanol dari onggok limbah padat industri tapioka dan industri tahu. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi asam sulfat optimum pada proses hidrolisa dan waktu fermentasi optimum pada proses pembuatan bioetanol dari onggok tapioka dan onggok tahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asam sulfat yang optimum untuk menghidrolisa onggok tahu dan tapioka pada konsentrasi 0,5 M selama 30 menit pada suhu 121oC. Selama fermentasi berlangsung terjadi penurunan pH dan glukosa serta peningkatan produksi etanol. Produksi etanol optimum terjadi pada lama fermentasi 5 hari dengan konsentrasi etanol 4,77% b/b (tahu) dan 4,97% b/b (tapioka).
Kontrol Konsistensi Mutu dan Kandungan Aflatoksin Produk Kacang Tanah Sangrai Melalui Standardisasi Proses Produksi Umi Laila; Yuniar Khasanah; Rifa Nurhayati; Dini Ariani; Lusty Istiqomah; Wiwin Widiastuti; Muhamad Kurniadi
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.214 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5095

Abstract

Kacang tanah diolah oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM) BIMARAM menjadi kacang tanah sangrai tanpa kulit. Proses produksi kacang sangrai belum merujuk pada suatu Prosedur Operasional Baku (POB). Hal tersebut sangat kontradiktif terhadap keinginan konsumen untuk mendapatkan produk yang konsisten dan stabil dari segi mutu dan keamanan produk. Melalui penelitian ini, disusun POB untuk produksi kacang sangrai. Karakteristik mutu yang meliputi kadar air dan sifat sensoris produk (rasa, aroma, kekerasan) serta titik kritis keamanan produk kacang yang berupa kandungan aflatoksin B1 dievaluasi. POB yang telah disusun diaplikasikan ke UKM BIMARAM, yang mencakup alur produksi beserta detail tiap titik prosesnya, spesifikasi bahan dan peralatan, serta sasaran hasil tiap titik proses. Dari penelitian ini, didapatkan bahwa POB yang disusun tidak merubah prosedur produksi yang selama ini dilakukan oleh UKM, POB hanya mencatat prosedur produksi dan menyajikannya lebih sistematis dan terukur standar. Hal ini didukung oleh data kadar air yang didapat pada kacang sangrai sebelum dan setelah diterapkannya POB yang tidak berbeda nyata (p>0,05), berturut-turut sebesar 4,31% dan 4,58%. Penerapan POB meningkatkan karakteristik sensoris produk kacang sangrai untuk rasa dan kekerasan walaupun tidak signifikan (p>0,05), kecuali aroma yang peningkatannya signifikan (p<0,05). Uji korelasi yang menggambarkan hubungan kadar air dan sifat sensoris terhadap penerapan POB menunjukkan hasil yang serupa. Sementara itu, kandungan aflatoksin B1 pada komoditas kacang mentah, kacang setengah kering, dan kacang sangrai setelah penerapan POB berada di bawah ambang batas yang dipersyaratkan BPOM dan US Food and Drug Administration, yang masing-masing adalah 4,68 ; 2,78 ; 4,42 ppb. Kata kunci: kacang tanah sangrai, prosedur operasional baku, kadar air, sensoris, aflatoksin B1
Peluang Minyak Sawit Sebagai Bahan Sediaan Farmasi Fauziati Fauziati; Hermanto Hermanto; Fitriani Fitriani
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.472 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5670

Abstract

Minyak sawit mentah mengandung senyawa aktif yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh manusia, komposisi senyawa bio aktif pada sawit mentah (CPO), antara lain vitamin E, karatenoid, fitosterol, squalene, phospholipid, Co enzyme, polyphenolik. Fitosterol merupakan steroida (sterol) yang terdapat didalam tanaman dan mempunyai struktur yang mirip dengan kolesterol, tetapi fitosterol mengandung gugus etil pada rantai cabangnya. Pada tanaman terdapat lebih dari 40 senyawa sterol yang didominasi oleh tiga bentuk utama dari fitosterol, yaitu beta sitosterol, compesterol dan stigmasterol. Kegunaan fitosterol adalah menurunkan kadar kolesterol didalam darah dan mencegah penyakit jantung. Fitosterol terdiri dari 28 hingga 30 atom dengan steroid sebagai rangka struktur dengan gugus hidroksil menempel pada C-3 dari cincin A, dan rantai alifatik pada atom C-17 dari cincin D senyawa  ini tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alkohol. Fitosterol menghambat penyerapan dan meningkatkan eksresi, sedangkan asam lemak tidak jenuh khususnya asam lemak linoleat dan oleat menjadikan kolesterol pada tingkat kadar yang normal dan alfa tokoferol menurunkan kadar kolesterol LDL, dimana LDL –teroksidasi pemicu rusaknya pembuluh darah dan penyebab timbulnya plak yang merupakan salah satu faktor pemicu penyakit jantung sehingga fitosterol sangat bermanfaat bagi kesehatan, dan fitosterol dapat memperbaiki regulasi kolesterol darah pada tingkat normal.Kata Kunci : minyak sawit mentah, fitosterol, kolesterol
Potensi Bambu Untuk Pemanfaatan Sebagai Bahan Bakar Arang Dengan Metode Pengarangan Retort Tungku Drum Rais Salim; Budi Tri Cahyana; I Dewa Gede Putra Prabawa; Saibatul Hamdi
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.807 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5284

Abstract

Bambu dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif menjadi arang karbon dengan cara pengarangan atau karbonisasi. Penelitian ini menggunakan sistem pengarangan tipe retort tetapi menggunakan tungku drum ganda sebagai tempat pemanas dan pembakarannya. Tulisan ini bertujuan untuk mengukur optimasi proses kinerja alat pengarangan dan mengetahui kualitas dan karakteristik arang bambu yang dihasilkan dengan sistem pengarangan retort tungku drum. Jenis bambu yang digunakan pada penelitian ini yaitu bambu betung (Dendrocalamus asper) dan bambu ater (Gigantochloa atter). Parameter yang diamati yaitu kinerja alat pengarangan sedangkan kualitas arang meliputi kadar air, kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar karbon terikat, dan rendemen arang. Hasil pengukuran kinerja alat kemudian dianalisis secara deskriptif dengan membandingkan berdasarkan literatur dan hasil penelitian sebelumnya sedangkan karakter dan kualitas arang dibandingkan dengan stándar SNI jenis dan penggunaan arang serta standar dari negara lainnya. Hasil pengukuran kinerja alat menunjukkan suhu maksimal yang diperoleh adalah 590°C dengan waktu pemanasan 127 menit menghasilkan arang dengan warna hitam merata. Karakter dan kualitas arang bambu betung dan ater yang diperoleh secara berturut-turut yaitu kadar air bambu betung dan ater 2,87% dan 3,49%; kadar zat mudah menguap 14,64% dan 14,47%; kadar abu 6,65% dan 5,71%; kadar karbon terikat 78,71% dan 79,82%; dan rendemen 31,95% dan 29,14%.
Pengering dan Mutu Ikan Kering Jantri Sirait
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.616 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5735

Abstract

Ikan asin kering merupakan komoditas yang mudah mengalami proses kemunduran mutu dan pembusukan. Untuk menjaga mutu ikan tetap baik maka dilakukan pengawetan dengan cara penggaraman dan pengeringan. Proses pengeringan ikan terdiri dari dua cara yaitu pengeringan alami dan pengeringan buatan. Pengeringan alami mempunyai kelemahan yaitu ketergantungan pada kondisi cuaca dan butuh waktu pengeringan yang lama. sedangkan pengeringan buatan tidak tergantung dengan kondisi cuaca dan waktu yang dibutuhkan pada saat proses pengeringan lebih sedikit. Waktu dan suhu yang dibutuhkan untuk mengeringkan ikan sangat berfariasi sesuai dengan jenis dan bentuk ikan yang dikeringkan. Rata-rata suhu yang dibutuhkan untuk mengeringkan ikan adalah 45oc – 80oc dan waktu yang dibutuhkan antara 6 jam hingga 12 jam. Semakin lama waktu pengeringan dan semakin tinggi suhu yang digunakan akan semakin tinggi hasil uji kadar abu, kadar protein, kadar karbohidrat, kadar lemak hal ini berbanding terbalik dengan pengujian kadar air. Temperatur dan waktu pengeringan sangat berpengaruh terhadap mutu ikan kering. Mutu ikan kering dinilai dari kadar air, kadar protein, kadar abu, kadar lemak, kadar karbohidrat, kenampakan, tekstur, rasa dan aroma. Dari hasil uji mutu hedonik untuk parameter kenampakan, tekstur, rasa dan aroma dapat diterima oleh panelis dan sesuai dengan SNI 01-2721-1992.
Rasio Campuran Air Kelapa Sari Wortel dan Variasi Susu Skim terhadap Mutu Minuman Probiotik Judith Henny Mandei; Mariati Edam; Yunita Fillia Assah
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.826 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5274

Abstract

Efek menguntungkan dari probiotik  pada kesehatan manusia semakin dipromosikan oleh para profesional kesehatan. Penelitian pembuatan minuman fungsional probiotik campuran air kelapa dan sari wortel telah dilaksanakan. Penelitian bertujuan untuk melihat pengaruh rasio air kelapa, sari wortel dan penambahan susu skim serta mendapatkan minuman fungsional probiotik campuran air kelapa dan sari wortel yang memenuhi syarat mutu. Penelitian dilakukan menggunakan metode percobaan dengan perlakuan rasio air kelapa sari wortel (b/b) yaitu 100:0; 90:10; 80:20, dan penambahan susu skim (b/b) yaitu: 0 %; 1 %; 2 % dan 3 %. Pengamatan dilakukan terhadap bahan baku air kelapa dan wortel meliputi kadar gula dan mineral, serta kadar protein susu skim. Produk minuman probiotik campuran air kelapa dan wortel meliputi kadar lemak, padatan tanpa lemak, protein, abu, keasaman tertitrasi, jumlah kultur starter dan pengamatan organoleptik (penampakan, bau, rasa dan homogenitas) sesuai SNI 7552:2009 Minuman Susu Fermentasi Berperisa, serta kandungan mineral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk minuman fungsional campuran air kelapa terbaik adalah produk minuman campuran air kelapa sari wortel 80:20, penambahan susu skim 1%, dengan kandungan lemak 0,5%, padatan susu tanpa lemak 19,72%, protein 1,10%, abu 0,68%, keasaman tertitrasi 0,8%, jumlah kultur starter 2,80x109, penampakan cair, bau khas yogurt dan wortel, rasa asam khas yogurt+rasa wortel dengan homogenitas kurang homogen.Kata kunci : Air kelapa, minuman probiotik, sari wortel.
Penggunaan Ferri Klorida dan Kitosan Cangkang Kepiting sebagai Alternatif Koagulan pada Pengolahan Air Limbah Laundry Adhi Setiawan; Citra Eripramita Yunus; Tarikh Azis Ramadani; Novi Eka Mayangsari
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.13 No.2 Desember 2019
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.465 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v13i2.5581

Abstract

Pembuangan air Limbah laundry secara langsung di aliran sungai menjadi penyebab tingginya pencemaran sungai. Air limbah laundry mengakibatkan peningkatan perameter COD, BOD5, serta MBAS sehingga berdampak negatif pada kehidupan ekosistem. Proses koagulasi menggunakan bahan kimia FeCl3 dapat menurunkan parameter COD, BOD5 dan MBAS dalam air limbah namun menimbulkan efek negatif pada kesehatan. Kitosan dari cangkang crustacea dapat digunakan sebagai alternatif koagulan yang ramah lingkungan. Kombinasi koagulan kitosan dan FeCl3 diharapkan mampu menurunkan parameter COD, BOD5 dan MBAS air limbah laundry serta dapat mengurangi dosis penggunaan koagulan kimia.Penelitian ini bertujuan mensintesa biokoagulan kitosan dari cangkang kepiting serta menguji efektivitas kitosan cangkang kepiting, ferri klorida, dan kombinasi kedua koagulan dalam pengolahan air limbah laundry. Proses deasetilasi cangkang kepiting menjadi kitosan menggunakan larutan NaOH 60% pada suhu 125oC selama 6 jam. Koagulasi dilakukan terhadap air limbah menggunakan tiga jenis koagulan yaitu ferrri klorida, kitosan, dan ferri klorida-kitosan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimum penggunaan koagulan kombinasi terjadi pada dosis 40 mg/L kitosan dan 100 mgl/L ferri klorida dengan menghasilkan efisiensi penyisihan COD, BOD5, dan MBAS masing-masing sebesar 71,67%, 81,14%, dan 66,24%. Penggunaan kombinasi koagulan pada dosis optimum dapat menghemat pemakaian ferri klorida sebesar 84%.

Page 1 of 3 | Total Record : 22