cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
PENGGUNAAN LEMPUNG SEBAGAI ADSORBEN DAN COAGULANT AID DALAM PENYISIHAN COD LIMBAH CAIR TEKSTIL Andita Rachmania Dwipayani; Suprihanto Notodarmodjo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.3

Abstract

Abstrak: Terdapat dua sub penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini, yang keduanya dilakukan secara batch pada temperatur kamar. Sub penelitian pertama adalah uji adsorpsi terhadap kemampuan masing-masing lempung dalam menyisihkan parameter COD air limbah. Dalam penelitian ini, variabel yang diteliti antara lain pH air limbah, dosis lempung, dan waktu kontak. Air limbah yang digunakan berasal dari efluen unit produksi tekstil dengan konsentrasi COD pada rentang 230-285 mg/L. Tujuan penelitian adalah memperoleh kondisi optimum penelitian pada kemampuan kedua jenis lempung untuk menyisihkan parameter COD air limbah. Setelah didapat kondisi optimum, dilakukan analisis terhadap kinetika penyisihan COD menggunakan model isoterm Langmuir dan Freundlich. Kondisi optimum pada penggunaan lempung sawah dan coklat antara lain pada pH 7, dosis lempung sebesar 15 gr/L dan 30 mg/L. Penyisihan COD mencapai stagnan ketika waktu kontak mencapai 120 menit. Pada kondisi ini, penyisihan COD yang terjadi pada lempung sawah dan coklat mencapai 48,5% dan 26,65%. Faktor yang mempengaruhi kemampuan adsorben lempung terkait dengan sifat morfologi lempung yang digunakan. Sub penelitian yang kedua adalah studi mengenai potensi lempung sebagai coagulant aid. Variabel penelitian yang dilakukan yaitu variasi dosis lempung dan pH air limbah. Pada penggunaan koagulan alum sebesar 30 mg/L, penambahan dosis lempung sawah sebanyak 30 mg/L mampu meningkatkan efisiensi penyisihan COD dari 12,07% menjadi 13,2%. Namun efisiensi ini belum bisa mengimbangi efisiensi penyisihan COD dengan penggunaan alum sebesar 40 mg/L, yaitu 17,24%.
PERBEDAAN PERGERAKAN ANGIN PADA MUSIM HUJAN DAN MUSIM KEMARAU DAN PENGARUHNYA TERHADAP DISPERSI PENCEMAR UDARA DI KOTA SURABAYA Betha Januardi Budaya; Puji Lestari; Asep Sofyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.4

Abstract

Abstrak: Dinamika atmosfer merupakan faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam studi tentang pencemaran udara. Kondisi atmosfer dari suatu wilayah sangat berpengaruh terhadap distribusi pencemar udara di wilayah tersebut. Kota Surabaya memiliki topografi yang unik dimana di wilayah barat dan selatan merupakan daerah perbukitan landai sedangkan di wilayah utara dan timur merupakan daerah tepi laut. Kondisi geografis Kota Surabaya yang terletak di tepi pantai utara dari Provinsi Jawa Timur akan menyebabkan adanya pengaruh dari angin lokal seperti angin darat dan angin laut. Dengan melakukan studi terhadap pergerakan angin maka akan diketahui pola pergerakan udara di Kota Surabaya dan efeknya terhadap pencemar udara yang diemisikan dari berbagai sumber di Kota Surabaya. Salah satu cara untuk mempelajari pola pergerakan udara adalah dengan melakukan pemodelan meteorologi skala meso WRF. Output dari model WRF kemudian akan digunakan sebagai input data meteorologi dalam model Calpuff yang digunakan untuk melihat pola dispersi pencemar udara di Kota Surabaya pada musim hujan dan musim kemarau. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada musim kemarau angin bergerak dari arah timur pada siang hari hingga sore hari yang akan menyebabkan pencemar udara bergerak ke arah barat dari Kota Surabaya, sedangkan pada malam hari pencemar udara akan bergerak ke arah timur kemudian berbelok arah karena terbawa angin yang bergerak dari arah tenggara menuju ke arah utara dan barat laut dari Kota Surabaya. Pada musim hujan, angin bergerak dari arah barat laut pada siang hari hingga sore hari yang akan menyebabkan pencemar udara ke arah tenggara dari Kota Surabaya, sedangkan pada malam hari hingga pagi hari pencemar udara akan bergerak secara dominan ke arah timur dari Kota Surabaya.
PENCEMARAN SUNGAI OLEH LINDI BERDASARKAN PARAMETER PENCEMAR COD DAN KROMIUM DENGAN PEMODELAN MATEMATIS (STUDI KASUS: BEKAS TPA CICABE, BANDUNG) Elsa Try Julita Sembiring; Idris Maxdoni Kamil
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.5

Abstract

Abstrak: Lindi yang dihasilkan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang masih aktif beroperasi maupun yang sudah tidak, memiliki potensi mencemari lingkungan selama masih terdapat kemungkinan kontak dengan air. TPA Cicabe merupakan salah satu TPA yang sudah tidak aktif sejak tahun 2006 di Kelurahan Mandalajati, Bandung. Penelitian ini dilakukan di anak sungai dan saluran terbuka yang melintas di sisi TPA Cicabe. Parameter pencemar yang ditinjau pada penelitian ini adalah COD dan kromium (Cr). Untuk mengetahui penyebaran pencemar di sepanjang aliran anak sungai dilakukan model analitik 1-dimensi berdasarkan persamaan adveksi-dispersi pada air permukaan. Pengambilan sampling dilakukan dua kali untuk keperluan kalibrasi dan validasi model. Pengumpulan sampel meliputi sampel tanah, sedimen, dan air anak sungai. Input pencemar berasal dari lindi, limbah rumah tangga, dan cabang sungai. Perhitungan lindi menggunakan neraca air Thorntwaite. Hasil uji analisis sensitivitas menujukkan koefisien degradasi (k) merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap nilai konsentrasi model dengan nilai koefisien sensitivitas (S) = 0,311. Hasil simulasi untuk kalibrasi dengan kCOD=3/hari menunjukkan bahwa nilai COD model mendekati nilai konsentrasi COD hasil observasi dan validasi. Hasil simulasi transport Cr dengan k=1,4x10-4/detik menunjukkan bahwa nilai Cr model sudah cukup valid mendekati nilai konsentrasi Cr hasil observasiand validasi dengan level kepercayaan 99,5%.
MICROBIOLOGICAL SOURCE TRACKING BAKTERI Escherichia coli DENGAN METODE ANTIBIOTIC RESISTANCE ANALYSIS DI SUNGAI CIKAPUNDUNG Ferlita Andriani; Herto Dwi Ariesyady
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.6

Abstract

Abstrak: Saat ini DAS Citarum Hulu tengah mengalami penurunan kualitas air sungai. Salah satu penyebab terjadinya permasalahan ini adalah adanya pencemaran pada anak sungai yang masuk ke badan air Citarum Hulu. Sungai Cikapundung merupakan salah satu anak sungai yang turut berkontribusi dalam penurunan kualitas air Sungai Citarum Hulu. Usaha pencegahan pencemaran yang efektif dan efisien hanya dapat dilakukan apabila sumber pencemar telah diketahui. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam pelacakan sumber pencemar adalah Microbiological Source Tracking (MST). Terdapat dua metode utama dalam MST yaitu konvensional dan modern. Antibiotic Resistance Analysis (ARA) merupakan salah satu cara modern dalam mendeteksi bakteri yang bertujuan membedakan diversitas resistensi bakteri terhadap antibiotik sehingga dapat terlihat perbedaan pola resistensi dan dapat diidentifikasi sumber bakterinya. Pada Sungai Cikapundung, pelacakan E. coli dilakukan dengan menguji resistensi dari tiap isolat yang diambil dari 3 titik sampling di sepanjang badan air terhadap 10 jenis antibiotik. Pada titik 1 yang terletak di hulu Cikapundung, belum ditemukan adanya pencemaran fekal. Sedangkan, sebaran E. coli pada titik 2 dan 3 berasal dari sumber manusia. Dengan diketahuinya sumber pencemar spesifik, maka diharapkan dapatdilakukan penanganan lebih lanjut yang tepat sasaran. 
REVITALISASI SPAM TANJUNG DALAM I PDAM TIRTA PRABUJAYA DI KOTA PRABUMULIH DALAM RANGKA MENCAPAI TARGET MDGs 2015 Merri Jayanti; Arwin Sabar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.7

Abstract

Abstrak: Adanya peningkatan status Kota Prabumulih dari Kota Administratif Kabupaten Muara Enim, menjadi Kota Tingkat II merupakan salah satu indikator utama meningkatnya permintaan akan kebutuhan air minum. Selain itu, terjadi ancaman keberlanjutan air dari segi kualitas akibat adanya pengaruh ekstrimitas debit pada zona hujan mooson sehingga tingkat kekeruhan air semakin tinggi. Hal ini secara langsung mempengaruhi produksi air minum (baik kualitas, kuantitas dan kontinuitas) yang disediakan oleh SPAM, PDAM Tirta Prabujaya Kota Prabumulih. Saat ini, cakupan Layanan PDAM baru mencapai 18% dari total  penduduk  158.304 jiwa (2011). Pendistribusiaan air PDAM kepada masyarakat juga kurang merata dikarenakan kekurangan sarana dan prasarana terutama sarana pengambilan air baku dari Intake dengan kapasitas terpasang 60 liter/detik, hanya dapat berproduksi 32 liter/detik. Padahal air minum sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan Rencana Induk Pengembangan SPAM yang didasarkan pada kriteria desain dan proyeksi kebutuhan air minum pada satu periode yang dibagi beberapa tahapan. Penelitian ini membahas mengenai RIP-SPAM untuk jangka pendek dalam rangka pencapaian target MDGs 2015 yakni 70% penduduk terlayani. Hasil penelitian menunjukkan pada 2015, Kota Prabumulih akan memiliki penduduk sebesar 175.942 jiwa dengan kebutuhan air minum rata-rata 327,10 liter/detik. Arahan RIP-SPAM jangka pendek dilakukan dengan revitalisasi SPAM Tanjung Dalam I, yaitu dengan transmisi air baku dan revitalisasi prasedimentasi. Adapun revitalisasi transmisi air baku dapat dilaksanakan dengan dua alternatif yaitu dengan penambahan booster pada jalur transmisi atau penambahan pompa yang dipasang paralel (Q 60 liter/detik). Sedangkan revitalisasi prasedimentasi sangat diperlukan untuk menjamin kualitas air akibat tingkat kekeruhan yang tinggi terutama pada musim penghujan dengan penambahan kompartemen prasedimentasi. Dengan skenario pengembangan SPAM, penduduk Prabumulih dilayani sebanyak 71,25% pada 2015 (melebihi target MDGs). 
POTENSI GANGGUAN BAU GAS HIDROGEN SULFIDA (H2S) DI LINGKUNGAN KERJA PT PERTAMINA (PERSERO) RU IV CILACAP Shinta Herlianty; kania Dewi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.9

Abstract

Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi gas hidrogen sulfida (H2S) di udara ambien lingkungan kerja yang berpotensi terhadap pencemaran udara, kesehatan dan kenyamanan para pekerja di lingkungan kerja PT PERTAMINA (Persero) RU IV Cilacap.  Data yang diambil adalah konsentrasi gas H2S pada udara ambien (disampling dengan metode basah), meteorologi, dan jawaban kuesioner oleh pekerja di lokasi yang telah ditentukan.  Hasil seluruh pengukuran konsentrasi H2S pada saat sampling berada di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) PER.13/MEN/X/2011 1 ppm.  Konsentrasi H2S tertinggi sebesar 0,36 ppm terdapat pada kilang FOC I (sore) dan konsentrasi H2S terendah adalah tidak terdeteksi yang terdapat pada LOC III (pagi).  Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukan nilai Hhitung sebesar  0,072< Htabelsebesar5,99 yang berarti konsentrasi H2S tidak berbeda secara nyata di pagi, siang, dan sore hari. Dibandingkan dengan NAB H2S (0,02 ppm) dari KEP. MENLH No. 50/MENLH/11/1996 tentang bau odoran tunggal, lokasi penelitian yang memiliki konsentrasi H2S di atas nilai  tersebut terdapat pada FOC I (sore), LOC III (siang), SRU (pagi), LOC II pagi), LOC I (seluruh waktu sampling), dan FOC II (sore).  Jawaban responden menunjukan sebesar 73,85 % pekerja merasa terganggu bahkan sangat terganggu dengan adanya gas H2S di lingkungan kerja.  26,15 % lainnya merasa biasa saja bahkan tidak terganggu dengan adanya gas H2S di lingkungan kerja.  Hasil uji korelasi linier menunjukkan nilai R2 0,318 yang berarti bahwa 31,8% variabel kebauan memiliki pengaruh terhadap timbulnya gangguan kenyamanan, sedangkan 68,2 % lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Para responden mengalami gangguan kesehatan berupa mata perih/merah/berair, sesak napas, pusing dengan masing"“masing persentase sebesar 7,82 %, 7,26%, dan 17,32 %.
EVALUASI PENGARUH PAPARAN RADIASI TERHADAP EFEK SITOTOKSIK DAN GENOTOKSIK PADA Allium cepa SEBAGAI BIOINDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN KERJA BAGIAN RADIOLOGI RUMAH SAKIT Yunika Sopandi; Indah Rachmatiah S. Salami
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.2.10

Abstract

Abstrak: Penggunaan radiasi pengion dalam bidang kedokteransemakin mengalami peningkatan terutamapada pemeriksaan diagnostik, radioterapi, serta intervensi non-bedah. Teknik diagnosis dan intervensi non-bedah seperti fluoroskopi, radiologi dan kardiologi intervensi menghasilkan dosis radiasi yang tinggi tidak hanya pada pasien tetapi juga pada pekerja medis. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemantauan kondisi lingkungan kerja pada kegiatan medis tersebut untuk melindungi pekerja dari efek kesehatan jangka panjang akibat paparan radiasi. Pemantauan efek langsung pada makhluk hidup akibat paparan radiasi pengion hampir jarang dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kondisi lingkungan kerja rumah sakit yang terpaparradiasi pengion menggunakanAllium cepa sebagai bioindikator. Penelitian dilakukan di RSUP dr. Hasan Sadikin Bandung padaempat (4) lokasi yaitu ruang periksa dan operator pada tindakan kardiologi intervensi, ruang periksa dan operator tindakan fluoroskopi,ruang operator tindakan CT-Scandanradioterapi.Bioindikator ditempatkan pada masing-masing ruang tindakan tersebut. Efek yang dilihat pada tanaman A. cepa adalah indeks mitotikdan aberasi kromosom. Hasil perhitungan dosis radiasi pada semua ruang operator di keempat lokasi studi masih berada di bawah nilai ambang batas, begitu pula dengan nilai rerata indeks mitotik dan aberasi kromosom yang dapat dikatakan tidak bersifat toksik terhadap sel A. cepa.Sementara itu dosis radiasi pada ruang periksa kardiologi intervensi berada di atas ambang batas, hal ini pun sejalan dengan nilai indeks mitotik dan aberasi kromosom yang dihasilkan. Berdasarkan kurva dosis-respon, hubungan antara dosis akumulasi terhadap persentase indeks mitotik dan aberasi kromosom bersifat logaritmik dengan nilai korelasi (R2) yang tinggi yaitu berturut-turut 0,862 dan 0,933.
PERSEBARAN PELAKU DAUR ULANG INFORMAL AKI BEKAS KENDARAAN BERMOTOR DI KOTA BANDUNG Bambang Respati; Enri Damanhuri
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2009)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2009.15.2.3

Abstract

Abstrak: Aki digunakan sebagai sumber tenaga pada sepeda motor, mobil, truck, traktor, perahu dan berbaga jenis kendaraan bermotor lainnya. Berbeda dengan baterai primer atau baterai alkaline yang banyak digunakan dalam peralatan rumah tangga, aki merupakan baterai yang dapat diisi ulang setelah energi yang terdapat dalam aki telah digunakan. Penggunaan kembali material aki bekas kendaraan bermotor dengan cara mendaur ulang merupakan salah satu cara yang efektif untuk menghindari polusi lingkungan dan mengurangi volume timbulan aki bekas kendaraan bermotor di Tempat Pembuangan Akhir. Reduksi timbulan aki bekas kendaraan bermotor di Kota Bandung tidak terlepas dari peranan para pelaku daur ulang sektor informal. Aliran material aki bekas kendaraan bermotor pada pelaku daur ulang sektor informal di Kota Bandung secara garis besar adalah pemulung/tukang loak "“ lapak "“ bandar kecil "“ bandar besar dan akhirnya menuju pabrik daur ulang. Dari hasil survei yang dilakukan di Kota Bandung terdapat 159 pelaku daur ulang yang terdiri dari 48 orang pemulung, 59 orang tukang loak, 28 buah lapak, 8 buah bandar kecil dan 16 buah bandar besar. Jumlah aki bekas pada pemulung dan tukang loak, yaitu sebesar 19,5 ton/bulan pada pemulung dan 5,9 ton/bulan pada tukang loak, 1,2 ton/bulan pada lapak dan 1,6 ton/bulan pada bandar kecil. Sedangkan jumlah aki bekas kendaraan bermotor pada bandar besar adalah 24,7 ton/bulan. Di Kota Bandung pada tahun 2009, harga beli aki bekas kendaraan bermotor pada pelaku daur ulang berkisar antara Rp. 4.600/kg-Rp.5.900/kg, sedangkan harga jualnya berkisar antara Rp.5.600/kg-Rp.7.400/kg. Kata kunci: aki bekas kendaraan bermotor, daur ulang, sektor informal, aliran material Abstract: Lead acid batteries are relatively simple electrochemical devices able to store electrical energy, and deliver it to motors and other appliances when needed. Unlike common dry cell or alkaline batteries used in torches and other household appliances, lead acid batteries may be recharged after the stored energy has been used. As a result of these degradation processes batteries become unusable and are then known as used lead acid batteries (ULABs), and are waste. The utilization of ULABs by recycling is an effective method to avoid pollution of the environment and reduce the ULABs generation in the final disposal. The reduction of ULABs in Bandung City is not leave apart from the role of the recycle performers of informal sector. The material flow of ULABs in Bandung City by the informal sector of recycle performers are by pemulung/tukang loak "“ lapak "“ bandar kecil "“ bandar besar "“ and finally are going to recycling factory. Survey's result that is done at Bandung City exists 159 informal recycling performers that consist with 48 pemulung, 59 tukang loak, 28 lapak, 8 bandar kecil, and 16 bandar besar outgrow. The utilization of ULABs by recycling is an effective method to avoid pollution of the environment and reduce the lead generation in the final disposal site. The amount of vehicle's ULABs in the pemulung and tukang loak are 19.5 tons / month in pemulung and 5.9 ton / month on the tukang loak, 1.2 ton / month on the lapak and 1.6 tons / month in the bandar kecil. Whereas the vehicle's ULAB is 24.7 ton / month in bandar besar. In Bandung City in 2009, the buying price of ULABs is between Rp.4,600/kg- Rp.5,900/kg, whereas the selling price revolved between Rp.5,600/kg-Rp.7,400/kg.  Keywords: motor vehicle's ULABS, recycling, informal sector, material flow
INTERNAL DOSE DETERMINATION ON HUMAN AS RESULT OF PROCESSED KANGKUNG (Ipomoea reptans) CONSUMPTION CONTAMINATED BY RADIONUCLIDE CESIUM-134 AND STRONTIUM-85 Didi Prabowo Putra; Indah Rachmatiah S. Salami; Poppy Intan Tjahaja
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2009)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2009.15.2.1

Abstract

Abstract: Research has been done to find out internaL dose that can be received by human as result of consumption kangkung that growth in contaminated soil by caesium-134 and strotium-85. Kangkung was planted in soil contaminated with caesium-134 and strontium-85 for 70 days. After harvesting, a part of the plant separated and the other part being washed and boiled and then the radionuclide content for all of the plant were measured using spectrometer gamma. From the measurement and calculation, washing, boiling and sauteing process gives quite significant impact in reducing activity percentage of radionuclide which were about 23,5, 14,4 and 9,8 for strontium- 85 and 28,2, 58,5 and 47,4 for caesium-134. The result of equivalent dose calculation showed that each internal dosesis still bellow the limit of 5 mSv/year, and the dose was 0,053 mSv/year until 0,137 mSv/year.  Key words: kangkung, contamination, cesium-134, strontium-85, activity, internal dose Abstrak: Penelitian dilakukan untuk mengetahui dosis interna yang dapat diterima oleh manusia akibat mengkonsumsi kangkung yang tumbuh pada tanah terkontaminasi oleh radionuklida cesium-134 dan stronsium-85.Penelitian dilakukan dengan cara menanam tanaman kangkung pada media tanah terkontaminasi Cs-134 dan Sr-85selama 70 hari. Setelah panen, sampel tanaman diproses dengan pencucian, perebusan dan penumisan kemudiadiukur kandungan radionuklidanya dengan menggunakan spektrometer gamma. Dari hasil pengukuran diperolehbahwa ketiga proses memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap penyisihan radioaktivitas dari sampeltanaman, yaitu sebesar 23,5, 14,4 dan 9,8 untuk stronsium-85 dan 28,2, 58,5 dan 47,4 untuk cesium-134. Hasilperhitungan dosis ekivalen menunjukkan nilai dosis interna dari masing-masing radionuklida berada dibawahambang batas sebesar 5 mSv/tahun, yaitu bernilai antara 0,053 mSv/tahun sampai 0,137 mSv/tahun.
ANALISIS KONSENTRASI FORMALDEHIDA DI DAERAH PERKOTAAN PADAT LALU LINTAS CONCENTRATION ANALYSIS IN HIGH TRAFFIC URBAN AREA Kandu Jiwandono; Driejana Driejana; moh Irsyad
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 20 No. 1 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.1.1

Abstract

Abstrak: Formaldehida memiliki rumus molekul HCHO dan memiliki berat molekul sebesar 30 g/mol. Formaldehida diproduksi secara tidak langsung oleh oksidasi fotokimia dari hidrokarbon atau dari prekursor formaldehida yang lain yang dihasilkan dari proses pembakaran. Pada penelitian ini pemantauan menggunakan metode aktif dengan metode Colorimetri. Prinsip dari metode ini adalah formaldehida diudara dialirkan kedalam sebuah tabung yang berisi larutan asam kromotopik. Formaldehida diudara akan bereaksi dengan asam kromotopik dan akan membentuk larutan monokationik kromogen yang berwarna ungu. Selanjutnya intensitas warna akan diukur pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 580nm. Pengukuran formaldehida dilakukan untuk menganalisa hubungan konsentrasi formaldehida dengan oksidan, ozon, dan faktor meteorologi. Pengukuran konsentrasi formaldehida di Jakarta dilakukan di Bundaran Hotel Indonesia di Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat. Dari penelitian ini didapatkan bahwa ketika konsentrasi oksidan naik, maka konsentrasi formaldehida akan cenderung naik juga dengan angka Pearson Correlation 0,678 (p = 0,000). Konsentrasi ozon pada udara ambien juga berpengaruh dalam konsentrasi formaldehida di udara ambien. Rasio rata-rata dari konsentrasi formaldehida dalam oksidan didapatkan sebesar 21,22%. Selain dari gas oksidan dan ozon, pembentukan formaldehida juga dipengaruhi oleh beberapa faktor meteorologi seperti intensitas sinar matahari. Menurut Haagen-Smit (1952) sinar matahari akan membantu hidrokarbon untuk bereaksi dengan Nox untuk membentuk ozon dan formaldehida melalui reaksi fotokimia. Hasil Pearson Correlation menunjukkan bahwa ada hubungan yang cukup kuat antara intensitas matahari dengan formaldehida dengan R = 0,648 (p = 0,000). Kata kunci: Colorimetri, faktor meteorologi, formaldehida, oksidan, ozon Abstract : Formaldehyde has formula HCHO and has a molecular weight 30 g / mol. Formaldehyde was indirectly produced by hydrocarbon photochemical oxidation or other formaldehyde precursors which is produced by combustion process. In this research, measurement of formaldehyde was done by Colorimetri method . The principle of this method is formaldehyde in the air flowed into a tube containing chromotopic acid solution . Formaldehyde in the air will react with chromotopic acid to form a purple monocationic chromogen solution. After then, color intensity will be measured on a spectrophotometer at wavelength of 580nm. Formaldehyde measurement was done to analyze the correlation between formaldehyde with oxidant, ozone, and meteorogical. Measurement of formaldehyde in Jakarta was done at the Bundaran Hotel Indonesia on Jl . M.H. Thamrin , Central Jakarta . From this study, found that when oxidant concentration increases, the formaldehyde concentration will tend to rise as well with Pearson Correlation value 0,678 (p = 0,000). Ozone concentration in ambient airalso has an effect to formaldehyde concentration. The average ratio of formaldehyde concentration in oxidant obtained at 21,22%. Aside from oxidant and ozone, formaldehyde formation was also influenced by some of meteorogical such as the intensity of sunlight. According to Haagen-smit (1952) sunlight will help hydrocarbons to react with Nox to form ozone and formaldehyde through photochemical reactions. The pearson correlation shows that there is a very strong relationship between sunlight intensity and formaldehyde with R = 0,648 (p = 0,000). Key words: Colorimetri, formaldehyde, meteorological, oxidant, ozone