cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
PEMANFAATAN HASIL PENGOLAHAN SLUDGE PRODUCED WATER INDUSTRI LNG SEBAGAI FERTILIZER ATAU PEMBENAH TANAH Sena Andhika; Agus Jatnika Effendi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.5

Abstract

Abstrak: Perkembangan industri minyak dan gas berbanding lurus dengan jumlah limbah yang dikeluarkan, mengakibatkan semakin banyaknya industri migas yang bermasalah dengan limbah sludge dalam jumlah besar yang bahaya terhadap. Salah satu solusi adalah pemanfaatan sludge tersebut menjadi produk lain. Limbah LNG memiliki kandungan C organik yang tinggi hal ini memungkinkan jika limbah LNG dapat dimanfaatkan menjadi fertilizer atau pembenah tanah yang sesuai dengan PERMENTAN 70/2011. Dalam penelitian ini metode yang dilakukan untuk proses pemanfaatan yaitu static aerated biopile. Proses tersebut menggunakan aerasi statik dengan tambahan daun kering sebagai bukling agent dengan perbandingan volume efektif 1:3 (Gilang.2014). Hasilnya kompos yang dihasilkan mempunyai kandungan C-organik 36,80% ,C/N 22,64 dan parameter lain yang memenuhi PERMENTAN 70/2011. Pengamatan pada uji efektifitas hasil kompos, menunjukan dosis optimum pada tanaman uji Pakchoy (Brassica rapa L) dan rumput gajah (Pennisetum purpureum Schaum) masing-masing adalah sebesar 30% dan 50%. Kandungan logam berat pada tanaman uji dan media tanam pasca panen masih berada konsentrasi yang normal dan berada di bawah batas yang diperbolehkan. Uji TCLP dan Toksisitas terhadap biosludge hasil olahan menunjukan bahwa materi ini tidak berbahaya dan tidak memberikan dampak negatif yang berarti terhadap lingkungan. Kata kunci: Static aerated biopile, sludge, fertilizer, pembenah tanah, uji efektivitas tanaman. Abstract: The development of the oil and gas industry goes line in line to the amount of the waste produced, resulting in the increasing number of oil and gas industry who have problems with sludge in large amounts which may harm the environment. LNG waste has a high content of organic C, causing the C/N ratio is high too, this might be possible if sludge can be utilized as fertilizer or soil conditioner that suit the standards of PERMENTAN 70/2011. The method used in the manufacturing process product is called static aerated biopile. Static aerated is used in that process by adding dried leaves as bukling agent with an effective volume ratio of 1: 3 (Gilang.2014). The compost produced has a C-organic content of 36.80%, C / N 22.64, and other parameters according PERMENTAN 70/2011. Observations on the effectiveness compost test, shows the optimum dose at Pakchoy test plants (Brassica rapa L) and elephant grass (Pennisetum purpureum Schaum) respectively by 30% and 50%. The content of heavy metals in plants growing media test and post-harvest remained normal concentration and were below the exposure limits. TCLP test and toxicity of the biosludge processed results show that this material is not harmful and does not give a significant negative impact on the environment. Keywords: Static aerated biopile, sludge, fertilizer, soil conditioner, test the effectiveness of plan.
EVALUASI EFLUEN PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK KOMUNAL UNTUK KEMUNGKINAN PEMAKAIAN SEBAGAI AIR DAUR ULANG Fanny Kusumawati; Emenda Sembiring; Marisa Handajani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.6

Abstract

Abstrak: Terdapat tiga tujuan utama pemanfaatan air daur ulang yang dapat dipraktekkan pada tujuh objek studi IPAL komunal, yaitu untuk pertanian, perikanan, dan kebutuhan umum yang meliputi air pencucian kendaraan, penyiraman taman, air flushing toilet, dan suplai air pemadam kebakaran. Evaluasi terhadap performa dan kualitas efluen dari IPAL Cimanggung, Wangisagara, Bogor, Karawang, Cingised, Muara Baru,  dan  Pulo  Gebang  perlu  dilakukan  untuk  mengetahui  kelayakan  sebagai  sumber  air  daur  ulang. Indonesia belum memiliki regulasi yang mengatur praktik air daur ulang, maka perlu disusun baku mutu air daur ulang yang akan digunakan sebagai acuan dalam mengevaluasi IPAL komunal. Proses penyusunan dilakukan dengan analisa konten terhadap standar internasional, baku mutu air daur ulang negara lain, dan NSPM penggunaan air bersih dan pengolahan air limbah yang berlaku di Indonesia sehingga tersusun longlist parameter.  Lalu  pembuatan  kuesioner  untuk  memperoleh  shortlist  parameter,  yang  hasilnya  divalidasi melalui FGD dengan mengundang pakar air daur ulang dari ITB, LIPI, Dinas KLH, Kementerian Pertanian, Diskimrum, dan Kementerian Pekerjaan Umum, hingga menghasilkan draft Acuan Baku Mutu Air Daur Ulang. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kualitas efluen IPAL Cingised dan Pulo Gebang sudah memenuhi acuan baku mutu air daur ulang hasil analisis dan dapat digunakan untuk tujuan pemanfaatan pertanian, perikanan dan kebutuhan umum. IPAL komunal lainnya perlu pengembangan terhadap sistemnya dengan pilihan rekomendasi teknologi yang  diusulkan  dari hasil analisis  menggunakan  metode  Simple Additive Weighting: IPAL Cimanggung (1.Filtrasi), IPAL Wangisagara (1.Filtrasi, 2.Koagulasi flokulasi, 3.Adsorpsi,4.RO), IPAL Bogor (1.Koagulasi flokulasi, 2.Adsorpsi, 3.RO), IPAL Karawang (1.Koagulasi flokulasi, 2. Adsorpsi, 3.RO), IPAL Muara Baru (1.Koagulasi flokulasi, 2.Adsorpsi, 3.RO). Kata kunci: baku mutu, daur ulang, limbah domestik, IPAL komunal, pemilihan teknologi Abstract: There are three main objectives for the use of reclaimed water which can be practiced on seven objects of communal WWTP studies, namely for agriculture, fisheries, and general use which include vehicle washing water, garden watering, toilet water wetting, and firefighting water supply. The performance and quality  evaluation  of  Cimanggung,  Wangisagara,  Bogor,  Karawang,  Cingised,  Muara  Baru,  and  Pulo Gebang WWTP were conducted to determine the feasibility of being a reclaimed water source. Indonesia has no regulations on reclamation water, it is necessary to establish reclamation water quality standards that will be used as a reference in evaluating communal WWTPs. The design process is carried out by analyzing content against international standards, reclamation water quality standards in other countries, and NSPM using clean water and wastewater treatment in Indonesia so that a longlist of parameters is compiled. Then the questionnaire was made to get a shortlist of parameters, the results were then validated through the FGD by inviting wastewater experts from ITB, LIPI, Ministry of Environment, Ministry of Agriculture, Diskimrum, and Ministry of Public Works, to produce Reference of  Reclaimed Water Standard Quality. Evaluation results indicate that the effluent quality of the Cingised WWTP and Pulo Gebang meets the Reference of Reclaimed  Water Standard  Quality and  can  be  used  for agriculture,  fisheries and  general  use.  Other communal WWTPs require the development on its system with technology recommendations from result analysis using the Simple Additive Additive method: IPAL Cimanggung (1. Filtration), IPAL Wangisagara (1. Filtration, 2. Coagulation-flocculation, 3. Adsorption, 4.RO), Bogor IPAL ( 1. Coagulation-flocculation,2. Adsorption, 3.RO), Karawang Karawang (1. Coagulation-flocculation, 2. Adsorption, 3.RO), New WWTP Estuary (1. Coagulation-flocculation, 2. Adsorption, 3. RO). Keywords: communal WWTP, domestic wastewater, quality standard, reclaimed water, technology selection
ANALISIS FAKTOR PENANGANAN DAN PREFERENSI MASYARAKAT TERHADAP SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH DI JATINANGOR Muhammad Hafizh Khoeroni; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.7

Abstract

Abstrak: Kawasan Jatinangor yang termasuk ke dalam kawasan Cekungan Bandung dan tergolong sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) menuntut pemerintah untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai sentral kawasan pendidikan tinggi dan perumahan. Empat instansi pendidikan tinggi yang terdapat di kawasan ini yang menyebabkan berdatangannya para pendatang mahasiswa sekurangnya 30 ribu jiwa yang akan berdomisili beberapa tahun di Kecamatan ini. Jika diasumsikan 70% dari total populasi pendatang tersebut bertempat tinggal di Jatinangor yang mana pendatang tersebut memiliki tingkat konsumsi tinggi, ditambah dengan predikat Jatinangor sebagai kecamatan terpadat di kabuxpaten Sumedang maka akan mengakibatkan tingkat produktivitas sampah yang meningkat pesat dan diikuti dengan perubahan karakteristik sampah yang dihasilkan. Akibatnya sampah menjadi surplus dan tidak terkelola dengan baik akibat keterbatasan SDM dan sistem pengelolaan yang sederhana. Pada riset akan diukur tingkat pernanganan sampah oleh masyarakat di Jatinangor di 3 kawasan yaitu Hegarmanah, Cintamulya, dan Jatiroke yang ditinjau melalui 5 variabel (keadaan masyrakat, sarana prasarana, pembiayaan, peran pemerintah, dan kelembagaan. Pada kawasan Hegarmanah mendapatkan skor akhir 0,2/1 dan Cintamulya 0,25/1 yang memberikan predikat "Kurang Baik" pada kedua kawasan tersebut. Sementara kawasan Jatiroke bernilai -0,12/-1 yang memberikan predikat "Buruk" dan perlu penanganan lebih lanjut. Secara rerata Jatinangor memiliki nilai 0,1/1 dan mengindikasikan perlunya perbaiikan penanganan sampah oleh masyarakatnya. Selain itu juga diukur tingkat preferensi masyarakat di Jatinangor yang memberikan skor akhir 0,64/1 yang memberikan predikat baik pada tingkat preferensi masyarakat. Didalam penelitian ini akan diungkapkan faktor apa saja yang melatarbelakangi tingkat preferensi masyarakat tersebut berdasarkan buruknya tingkat penanganan sampah di masyarakat pada 3 kawasan tersebut menggunakan analisis faktor dengan metode PCA (Principal Component Analysis) dan regresi multilinear yang menghasilkan 7 dari 13 faktor kelompok variabel penanganan sampah yang signifikan berpengaruh terhadap tingkat preferensi masyarakat. Serta melalui analisis klaster preferensi masyarakat yang teridentifikasi 2 klaster (rendah & tingi) dengan dominasi 1 faktor kelemahan dan 2 faktor kekuatan pada kedua klaster. Kata kunci: analisis faktor, Jatinangor, PCA, preferensi masyarakat.Abstract: Jatinangor area which belongs to Bandung Basin area and classified as National Strategic Area (KSN) demands government to make the area as central of college and housing area. Four college institutions in this area resulted in the arrival of the student migrants at least 30 thousand inhabitants who will be domiciled for several years in this district. In addition, If it is assumed that 70% of the total migrant population live in Jatinangor where the migrants have a lifestyle with a high consumption level, and Jatinangor as the densest subdistrict in Sumedang district will result in a level of waste productivity that increases rapidly and followed by changes in the characteristics of waste generated. The research will measure the level of garbage handling by the people in Jatinangor in 3 regions, namely Hegarmanah, Cintamulya, and Jatiroke which are reviewed through 5 variables (community conditions, infrastructure, funding, government roles, and institutions. In the Hegarmanah region the final score is 0.2 / 1 and Cintamulya 0.25 / 1 which give the title of "Poor" in the two regions. While the Jatiroke area is worth -0.12 / -1 which gives the title "Bad" and needs further handling. On average, Jatinangor has a value of 0 1/1 and indicates the need to improve the handling of waste by the community. This research also measured the level of preference of the people in Jatinangor. In this study, what factors will lie behind the level of community preference based on the poor level of waste management in the 3 regions using factor analysis using the PCA (Principal Component Analysis) method and multilinear regression which produces 7 of the 13 variable group factors that handle waste. significant effect on the level of people's preference. And through community preference cluster analysis that identified 2 clusters (low & high) with a predominance of 1 weakness factor and 2 strength factors in both clusters. Keywords: community's preference, factor analysis, Jatinangor, PCA.
ANALISIS PENGARUH VARIASI MUSIMAN TERHADAP DISPERSI NO2 DI KOTA TANGERANG DENGAN MENGGUNAKAN MODEL WRF-CHEM Irvan Faisal; Asep Sofyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.1.1

Abstract

Abstrak: Nitrogen dioksida (NO2) merupakan salah satu pencemar udara yang sebagian besar diemisikan ke atmosfer melalui aktivitas transportasi yang terbentuk akibat adanya reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara ketika pembakaran bahan bakar pada temperatur tinggi. NO2 merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan partikulat matter (PM) dan ozon troposferik yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Kota Tangerang merupakan salah satu kota di Banten yang memiliki perkembangan pesat di berbagai bidang, termasuk ekonomi, industri, dan transportasi. Pesatnya perkembangan Kota Tangerang berbanding lurus dengan meningkatnya jumlah pencemar udara yang diemisikan oleh aktivitas-aktivitas tersebut. Dispersi dari pencemar udara di suatu wilayah sangat bergantung pada kondisi meteorologi dari wilayah tersebut. Analisis pengaruh variasi musiman dari pencemar udara dapat dilakukan dengan menggunakan model WRF-Chem. Simulasi dengan menggunakan WRF-Chem dilakukan dengan menggunakan inventarisasi emisi Kota Tangerang. Simulasi dilakukan selama 3 hari di musim basah dan musim kering, dengan domain paling dalam memiliki resolusi spasial 1 km dan resolusi temporal 1 jam. Hasil simulasi kualitas udara di bulan basah dan bulan kering menunjukkan bahwa dispersi NO2 di Kota Tangerang sangat dipengaruhi oleh kondisi sirkulasi angin laut di daerah tersebut. Ketika musim kering, monsun Australia akan memperkuat sirkulasi angin darat di malam hari, namun memperlemah sirkulasi angin laut di siang hari. Ketika musim basah, sirkulasi angin laut akan diperkuat oleh monsun Asia namun memperlemah angin darat di malam hari. Selain kondisi angin, tingkat kestabilan atmosfer juga mempengaruhi variasi diurnal dari konsentrasi NO2. Di siang hari, kondisi atmosfer yang cenderung tidak stabil akan mengakibatkan konsentrasi NO2 terdispersi secara vertikal. Di malam hari, kondisi atmosfer yang lebih stabil mengakibatkan NO2 akan terdispersi secara horizontal. Kata kunci: pemodelan pencemaran udara, NO2, WRF-Chem Abstract: Nitrogen dioxide (NO2) are are air pollutants emitted mainly from vehicle combustion  which formed by a reaction between nitrogen and oxigen during fuel combustion in high temperature. NO2 is important in particulate matter (PM) and tropospheric ozone production that could harm human health. Tangerang is one major city in Banten that have rapid development in various sector, including economy, industry, and transportation. This rapid development causing an increase of air pollutant emitted by these activities. Air pollutant dispersion is very dependent with meteorological condition in the Tangerang. Seasonal variation of air pollutant could be done with WRF-Chem model. Simulation using WRF-Chem is done using Tangerang emission inventory for 3 days during wet season and dry season, with spatial resolution of 1 km in the finest domain and temporal resolution of 1 hour. The simulations show the dispersion of NO2 in Tangerang are following the sea breeze flow wind pattern both in dry and wet season. During dry season, Australian monsoon will strengthen landbreeze circluation in the night, but weaken seabreeze circulation in the day. During wet season, Asian monsoon will strengthen seabreeze circulation but weaken landbreeze circulation. The dispersion of NO2 also closely connected to atmosphere stability condition. During day, the unstable atmosphere causing the NO2 dispersed more vertically, while during night, NO2 is dispersed far horizontally caused by stable atmosphere.Keywords: air pollution model, NO2, WRF-Chem
EVALUASI KINERJA DAN KEBERLANJUTAN PROGRAM BANK SAMPAH SEBAGAI SALAH SATU PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN KONSEP 3R Anisa Putri Triana; Emenda Sembiring
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.1.2

Abstract

Abstrak: Saat ini Pemerintah Kota Cimahi telah membangun sarana pengolahan termasuk pengolahan sampah anorganik berupa unit "“ unit bank sampah yang tersebar di seluruh Kota Cimahi sebagai penerapan pengelolaan sampah yang mengacu pada Undang-Undang no 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, namun saat ini masih terdapat unit bank sampah yang tidak berfungsi. Melihat kondisi itu, perlu dilakukan pengkajian terhadap kinerja program bank sampah tersebut sehingga dapat berjalan secara berkelanjutan dan efektif dalam mengurangi sampah. Pengumpulan data dilakukan dengan metode pengukuran langsung, kuesioner, wawancara dan observasi yang dilakukan terhadap nasabah dan pengelola unit bank sampah serta stakeholder juga pihak terkait. Lokasi studi terdiri dari unit bank sampah yang masih berfungsi dan tidak berfungsi dengan empat jenis kategori yaitu kategori sekolah, pemukiman, kantor dan fasilitas umum. Faktor yang mempengaruhi keberlanjutan program unit bank sampah di seluruh kategori yaitu variabel standar operasional prosedur unit bank sampah. Hasil analisis kelayakan ekonomi skenario 1 dan 2 didapatkan nilai untuk seluruh kategori yaitu BCR > 1 (layak) kecuali untuk kategori fasilitas umum yaitu puskesmas padasuka dengan nilai BCR<1 (tidak layak). Hasil analisis SWOT didapatkan posisi program unit bank sampah berada pada kuadran I yang merupakan posisi yang menguntungkan namun masih diperlukan beberapa perbaikan dalam pengembangam program di masa yang akan datang untuk keberlanjutan program serta peningkatan kinerja unit bank sampah ke depan. Kata kunci: unit bank sampah, berkelanjutan, regresi logistik, faktor yang mempengaruhi program, BCR, SWOT Abstract: At present the City Government of Cimahi has built processing facilities including processing inorganic waste in the form of recycle bank units spread throughout Cimahi as an application of waste management that refers to Law No. 18 of 2008 concerning waste management, but currently there are still bank units garbage that doesn't work. Seeing this condition, it is necessary to study the performance of the waste bank program so that it can run sustainably and effectively in reducing waste. . Data collection is done by direct measurement methods, questionnaires, interviews and observations made to customers and managers of waste bank units as well as stakeholders and related parties. The study location consists of a waste bank unit that is still functioning and does not function with four types of categories, namely categories of schools, settlements, offices and public facilities. Factors that influence the sustainability of the waste bank unit program in all categories, namely the operational standard variables of the waste bank unit procedure. The results of the economic feasibility analysis of scenarios 1 and 2 obtained values for all categories, namely BCR> 1 (feasible) except for the category of public facilities, namely puskesmas padasuka with a BCR value <1 (not feasible). The SWOT analysis results found that the position of the waste bank unit program is in quadrant I which is a favorable position, but still needs some improvement in future program development for the sustainability of the program as well as improving the performance of the waste bank unit going forward. Keywords: recycle bank units, sustainable, logistic regression, factors that affect the program, BCR, SWOT 
ANALISA DAYA BELI MASYARAKAT TERHADAP TARIF AIR BERSIH (PDAM) KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN CONTINGENT VALUATION METHOD (CVM) Muhamad Akmaludin; Yuniati Yuniati
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.1.3

Abstract

Abstrak: Air adalah elemen penting dalam kehidupan manusia. Air digunakan untuk berbagai keperluan termasuk sebagai sumber air minum, kegiatan domestik, dan pendukung aktivitas manusia lainnya. Tujuan penelitian adalah menganalisis nilai ekonomi pelayanan air bersih dan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai kemauan membayar (WTP) untuk pembayaran jasa pelayananan PDAM Kota Bandung. Metode yang digunakan adalah Contingent Valuation Metode (CVM). CVM adalah spesifik teknik survei yang menanyakan masyarakat tentang nilai sebuah komoditas yang mereka terima agar sebanding dengan nilai jasa lingkungan yang tidak memiliki nilai pasar. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan responden untuk membayar jasa lingkungan dalam penelitian ini antara lain rata-rata pendapatan rumah tangga, jumlah pengguna air, dan jumlah kebutuhan air. Nilai WTP yang dimaksud dari Penelitian ini adalah nilai yang dianggap oleh responden sebanding untuk jasa lingkungan pelayanan air bersih PDAM Kota Bandung per meter kubik per rumah tangga. Nilai WTP rata-rata responden untuk skenario I adalah Rp5.992/m3/bulan, sedangkan nilai rata-rata WTP skenario II adalah Rp7.534/m3/bulan. Penelitian ini juga menghasilkan nilai ATP dari rata-rata responden adalah Rp3.752. Nilai ATP yang lebih kecil dari nilai WTP menunjukkan bahwa kemauan membayar masyarakat untuk membayar pelayanan PDAM lebih besar daripada kemampuan masyarakat. Dari hasil ini, PDAM Kota Bandung dapat meningkatkan pelayanan dengan melakukan pengembangan sistem penyediaan air minum. Dua alternatif sistem yang direkomendasikan antara lain yaitu alternatif sistem 1 dengan sumber air baku DAS Ciwidey dengan kapasitas 1.800 l/detik sedangkan alternatif sistem 2 yaitu dengan menggunakan sumber air baku dari intake Cikalong berkapasitas 1.400 L/detik. Kata kunci: Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, daya beli masyarakat, contingent valuation method (CVM), kelayakan finansial, Kota Bandung Abstract: Human life depends greatly on water. Water takes part in various purposes in human activities including drinking, domestic use, and other activities. The objective of the research was to have a comprehend analysis about the economic value of clean water services and the driving factors that influence the willingness to pay (WTP) for PDAM of Bandung City services payment. This study used the Contingent Valuation Method (CVM). CVM is a specific survey technique that asks respondent about the comparable value of the public commodity they obtained which does not have market value. Factor which influenced the willingness to pay (WTP) for the clean water services are, the mean household income, water service users, and the water demand. WTP value obtained from this study shows a  value that is considered affordable by the respondent  for clean water services by PDAM Kota Bandung per cubic meter per household. The average WTP value of respondents in first scenario is Rp5,992/m3/month, while the average WTP value of the second scenario is Rp7,534/m3/month. While the average ATP value of respondents is Rp3,752, which is smaller than the value of WTP, it can be said that the willingness to pay the community to pay for PDAM services is greater than its ability. PDAM of Bandung City can improve services by developing a drinking water supply system, there are two alternative systems, namely alternative system 1 with raw water sources originated from Ciwidey watershed with capacity of 1,800 lps while alternative systems 2 with raw water sources of Cikalong intakes have a capacity of 1,400 lps. Keywords: Drinking Water Supply System Development, community's purchasing ability, Contingent Valuation Method (CVM), financial feasibility, Bandung City.
ANALISIS RISIKO POSTUR KERJA DI INDUSTRI KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN METODE OVAKO WORKING ANALYSIS SYSTEM DAN NORDIC BODY MAP PADA STASIUN PEMANENAN DAN PENYORTIRAN TBS Gunadi Priyambada; Suharyanto Suharyanto
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.1.4

Abstract

 Abstrak: Aktivitas pemanenan, pemuatan dan penyortiran kelapa sawit yang dilakukan secara manual beresiko untuk menyebabkan gangguan otot rangka atau muscoleskeletal disorders (MSDs). Hal ini disebabkan pekerjaan secara manual, posisi kerja berdiri dan membungkuk dilakukan secara berulang (repetitive) selama 10 jam selama 6 hari kerja sehingga tidak sesuai dengan antropometri tubuh pekerja. Analisis kuesioner Nordic Body MAP menunjukkan keluhan terbesar yang dirasakan pekerja panen pada bagian punggung (90%), pinggang (89,3%), betis kiri (90%) dan betis kanan (83,9%). Sedangkan pada pekerja pemuatan keluhan dirasakan pada bahu kiri (85%), paha kiri (82,5%) dan betis kiri (90%). Analisis postur kerja menggunakan metode OWAS juga mendukung hasil analisis kuesioner NBM dengan hasil analisa sikap bahu membungkuk dominan dilakukan sebesar 68% (kategori 2), sikap kedua lengan berada di atas bahu 53% (kategori 2) dan sikap kaki bertumpu pada kedua lutut yang ditekuk sebesar 47% (kategori 3) dengan kombinasi kode postur pemanenan 4-2-2-2 (kategori 3). Hasil analisis beban kerja pada divisi pemanenan diperoleh hasil %CVL 51% (7,25 Kkal/menit), pemuatan 55% (8,58 Kkal/menit) dan sortase 40% (6,6 Kkal/menit) dengan kategori sedang sehingga diperlukan perbaikan karena pekerja mengalami kelelahan. Analisis korelasi menggunakan metode spearman rank test menujukkan bahwa pengaruh beban kerja pada divisi panen dan sortasi mempunyai hubungan yang signifikan, dengan nilai p-value 0,00027 (OR 10 CI 95% 1,56-64,2) pada proses pemanenan dan 0,0008 (OR 11 CI 1,7-71,28) pada proses pemuatan sehingga terdapat hubungan yang signifikan (p<0,05) antara beban kerja dengan keluhan MSDs. Kata kunci: beban kerja, kelapa sawit, muscoleskeletal disorders, Nordic Body MAP, OWAS Abstract: Harvesting, loading and sorting activities in palm oil industry that conducted manually have some risks that can cause musculoskeletal disorders (MSDs). This is happened due to repetitive of manual working, standing and bending position for 10 hours and 6 working days, this activity does not match the anthropometry of worker body. Questionnaire analysis Nordic body MAP showed that the biggest complaints from harvesting workers are on their backs (90%), waist (89.3%), left calf (90%) and right calf (89.3%) and from loading workers are on rheis left shoulder (85%), left thigh (82.5%) and left calf (90%). Ergonomic risk analysis by OWAS Method also support the questioannaire analysis with result that the shoulders stooping attitude done by 68% workers (category 2), both arms above the shoulder attitude done by 53% (category 2), and leg rest to the two knee which is bent done 47% (category 3) with harvesting ergonomic combination 4-2-2-2 (category 3). Ergonomic analysis result in harvesting activity is CVL 51% (7.25 Kkal/minutes), Loading activity 55% (8.58 Kkal/minutes) and sorting activity 40% (6.6 Kkal/minutes) with medium category. Therefore, improvement is required because workers has fatigue. Correlation analysis using spearman rank test showed that the influence of ergonomics in harvesting and sorting division has a significant relation with value 0.00027 (OR 10 CI 95% 1.56-64.2) in harvesting and 0.0008 (OR 11 CI 1.7-71.28) in sorting. There was significant relation (p<0.05) between ergonomics and muscolekeletal disorders. Keywords: ergonomic, palm oil,  Muscoleskeletal disorders, nordic body maps, OWAS
DRAINASE WAWASAN LINGKUNGAN DI KAWASAN KONSERVASI AIR BOPUNCUR Princenvo Tigana; Arwin Sabar
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.1.5

Abstract

 Abstrak: Perubahan tutupan lahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung hulu memberikan pengaruh yang cukup dominan terhadap debit banjir di wilayah hilirnya yaitu Jakarta. Fenomena tersebut terjadi di DAS Ciliwung hulu dikarenakan oleh daerah Bogor, Puncak, Cianjur (BOPUNCUR) dan sekitarnya banyak mengalami perubahan tutupan lahan, dari kawasan hutan menjadi kawasan pertanian. Tahap penelitian mencakup analisis hidrologi dan analisis spasial. Analisis hidrologi dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu melihat hubungan hujan dan debit, ekstrimitas debit, dan debit rencana kering dan banjir. Hubungan hujan dan debit dapat dilihat dengan persamaan regresi linear sederhana yang menunjukkan kecenderungan nilai koefisien limpasan yang meningkat dan nilai baseflow yang menurun. Ekstrimitas debit didapatkan menggunakan metode moving average lima tahunan yang menunjukkan terjadinya ekstrimitas debit. Debit rencana kering dan banjir dapat ditentukan dengan menggunakan analisis distribusi frekuensi dan uji kesesuaian distribusi. Analisis spasial dilakukan dengan cara meng-overlay peta-peta spasial guna mendapatkan nilai indeks konservasi. Peta spasial yang digunakan mencakup peta kelerengan, peta jenis tanah, dan peta tutupan lahan. Nilai indeks konservasi alami (IKa) DAS Ciliwung hulu yang diperoleh sebesar 0,75, sedangkan nilai indeks konservasi aktual (IKc) yang diperoleh untuk periode 2001 "“ 2007 berada dibawah nilai IKA. Hal ini menunjukkan terjadi degradasi lahan yang mengakibatkan kondisi kawasan DAS Ciliwung hulu un-sustainable. Konsep drainase wawasan lingkungan dan aplikasi rekayasa teknis diterapkan di Perumahan My Residence 1 Bogor untuk dapat mencapai zero limpasan. Penerapan sumur resapan skala individu dengan diameter 0,8 m dan kedalaman minimum 1,3 m dapat mengurangi debit air yang masuk ke dalam saluran hingga lebih dari 50%. Hal ini menunjukkan penerapan konsep drainase wawasan lingkungan dan aplikasi rekayasa teknis dapat mewujudkan tercapainya zero limpasan. Kata kunci: perubahan tutupan lahan, DAS Ciliwung hulu, indeks konservasi, sumur resapan Abstract: Changes in the land cover of the Ciliwung watershed have a dominant influence on the flood discharge in the downstream region, namely Jakarta. This phenomenon occurs in the upstream Ciliwung watershed because the Bogor, Puncak, Cianjur (BOPUNCUR) and surrounding areas increasingly change land cover, from forest areas to agricultural areas. The research phase includes hydrological analysis and spatial analysis. Hydrological analysis was carried out in several places, namely looking at the relationship of rain and discharge, extreme discharge, and discharge of dry and flood plans. The relationship of rain and discharge can be seen with a simple linear regression equation that shows increased runoff coefficient value and baseflow value decreases. Extreme discharge uses a five-year moving average method that shows extreme discharge. Dry and flood discharge plans can be determined using distribution analysis and distribution conformity tests. Spatial analysis is done by overlaying spatial maps to get the conservation index value. Spatial maps used include slope maps, soil type maps, and land cover maps. The natural conservation index (IKa) value of the upstream Ciliwung watershed is 0.75, while the actual approval index value (IKc) obtained for the period 2001 - 2007 is below the IKA value. This shows that land degradation occurred in the area of the upstream Ciliwung watershed. The environmental drainage concept and technical engineering applications is applied in My Residence 1 Bogor Housing to be able to achieve zero runoff. The application of infiltration wells with an individual scale with a diameter of 0.8 m and a minimum depth of 1.3 m can reduce the water discharge entering the drainage by more than 50%. This shows the application of environmental drainage concept and technical engineering can realize the achievement of zero runoff. Keywords: land use change, upper Ciliwung river basin, conservation index, infiltration well 
AKUMULASI KROMIUM PADA PISTIA STRATIOTES DALAM CONSTRUCTED WETLAND TIPE FREE WATER SURFACE UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL Putri Brilian; Barti Setiani Muntalif
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.1.6

Abstract

Abstrak: Laju produksi yang tinggi dalam kegiatan perindustrian mengakibatkan peningkatan dalam jumlah limbah yang dihasilkan sehingga berpotensi untuk mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan dan berdampak pada kesehatan manusia. Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri dapat mengandung bahan yang bersifat Berbahaya dan Beracun atau dikenal sebagai Bahan B3, seperti logam berat kromium. Kromium banyak digunakan dalam proses produksi oleh berbagai macam jenis industri, salah satunya adalah industri tekstil. Limbah cair industri tekstil mengandung kromium dengan konsentrasi tinggi. Kandungan kromium dalam bentuk heksavalen sangat berbahaya karena bersifat toksik. Teknologi pengolahan yang memiliki efisiensi dari segi biaya, hasil, dan ramah lingkungan untuk meremediasi limbah yang mengandung kromium adalah dengan Constructed Wetland (CW). Namun demikian masih diperlukan berbagai penelitian untuk meningkatkan efektifitas dari sistem CW, sehingga dapat memberikan masukan terhadap penentuan alternatif pengolahan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja sistem CW tipe Free Water Surface dan mengetahui efisiensi penyisihan bahan pencemar dalam limbah dengan berbagai variasi konsentrasi kromium dan beban organik, juga mengkaji faktor bioakumulasi pada tumbuhan yang digunakan dalam sistem, Pada penelitian ini, dilakukan pengujian terhadap dua sistem CW yang diberi perlakuan limbah, yaitu Sistem Free Water Surface (FWS) dengan Pistia stratiotes (FWS+Ps), dan Sistem Free Water Surface (FWS) tanpa Pistia stratiotes (FWS"“Ps). Pistia stratiotes merupakan makrofita tipe free floating. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan limbah artifisial dengan variasi konsentrasi COD 50, 100, dan 150 ppm, dan variasi konsentrasi kromium 1,2 dan 3 ppm selama 10 hari. Parameter yang dianalisis berupa DO, pH, kekeruhan, TSS, nitrat, posfat, COD, kromium, dan kualitas lingkungan. Hasil menunjukan bahwa efisiensi optimum penyisihan Kromium berturut-turut mencapai 60%, 66%, 76%, 73%, 78%,dan 77%, sedangkan efisiensi optimum penyisihan COD berturut-turut mencapai 79%, 72%, 75%, 66%, 88%, dan 94% pada variasi 1,2/50, 3/50, 1,2/100, 3/100, 1,2/150, dan 3/150. Nilai akumulasi kromium lebih besar pada bagian akar dibandingkan dengan taruk. Model yang dapat digunakan dalam menentukan hubungan antara penyisihan senyawa pencemar dan penurunan konsentrasi nutrisi yang direpresentasikan sebagai nitrat dan posfat dalam sistem Constructed Wetland tipe Free Water Surface menggunakan Pistia stratiotes adalah : COD = -0,066 x + 0,107 y + 61,419 dan Krom = -0,030 x + 0,099 y +47,255. Kata kunci : Constructed wetland, Free Water Surface, Kromium, Limbah Cair Tekstil, Pistia stratiotes.Abstract: High production of an industry activity causes rising waste that is produced. It potentially made the pollution on environment and impacted for human health. Waste is produced by industry activity which can be contained poison and risky pollution substance (B3), such as chromium metal. Many chromium is used in a process of variety industry kinds, one of them is a textile industry. Waste water of textile industry contains a chromium with high concenteration. Chromium on heksavalen is very risky because it contains a toxic. Technology processing has an efficiency of cost, result and friendly environment for chromium waste that is contained by Constructed Wetland (CW). However, some observation are still needed for increasing the effectivity CW system. It can be separated chromium substance of a waste, for example observing model of CW by seeing various type of water flow and plant-life. Also, bio-accumulation factor in the plants, it gives an input on deciding alternative waste processed. In this study, four systems of CW are observed by waste-treating. They are Free Water Surface Pistia stratiotes (FWS+Ps), and Free Water Surface without Pistia stratiotes (FWS-Ps). Pistia stratiotes is a macrophyte type of free floating. This study uses artificial waste with variety concentrate of COD 50, 100, and 150 ppm, also variety concentrate of chromium 1,2, and 3 during ten days. The parameters analyzed were DO, pH, turbidity, TSS, nitrate, phosphate, COD, chromium, and environmental quality. The results showed that the optimum efficiency of Chromium removal reached 60%, 66%, 76%, 73%, 78%, and 77%, while the optimumefficiency of COD allowance reached 79%, 72%, 75%, 66% respectively. , 88%, and 94% in variations 1,2 / 50, 3/50, 1,2 / 100, 3/100, 1,2 / 150, and 3/150. The accumulated value of chromium is greater in the root part compared to taruk. The model that can be used in determining the relationship between polluting compounds and decreasing the concentration of nutrients represented as nitrate and phosphate in the Constructed Wetland type of Free Water Surface using Pistia stratiotes are: COD = -0,066 x + 0,107 y + 61,419 and Chrome = -0,030 x + 0.099 y +47,255.Keywords: Constructed Wetland, Free Water Surface, Chromium, Textile Wastewater, Pistia stratiotes.
IDENTIFIKASI PERILAKU KONSUMEN TERHADAP POTENSI LIMBAH ELEKTRONIK GAWAI DI KOTA BANDUNG Allan Darma Putra Pramudita; Benno Rahardyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2019.25.1.7

Abstract

Abstrak: Kemajuan teknologi membuat masyarakat semakin tergantung pada alat elektronik. Perkembangan alat elektronik sangat pesat khususnya gawai memiliki potensi menghasilkan limbah elektronik. Pengolahan limbah elektronik di Kota Bandung belum memiliki sistem yang memadai. Oleh karena itu perlu diketahui bagaimana perilaku masyarakat sebagai konsumen terhadap potensi limbah elektronik di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prilaku masyarakat dalam mengeluarkan gawai dan potensi limbah elektronik hingga 8 tahun yang akan datang. Identifikasi prilaku masyarakat menggunakan tabulasi silang. Untuk memprediksi pontensi limbah gawai di masa yang akan datang menggunakan model pertumbuhan logistik. Pada penelitian ini jumlah alat elektronik yang dikeluarkan konsumen paling dominan adalah telepon genggam, charget dan headset. Dari tabulasi silang diketahui bahwa prilaku umum konsumen adalah menyimpan setelah gawai tidak terpakai. Sedangkan untuk aksesoris gawai konsumen lebih memilih untuk dibuang karena dinilai tidak memiliki nilai ekonomis. Model logistik menunjukan pertumbuhan aksesoris elektonik seperti headset dan charger lebih pesat dibandingkan gawai dalam 8 tahun kedepan. Hasil dari pendekatan weilbull jenis gawai kamera digital memiliki kemungkinan paling besar untuk mendapat perlakuan konsumen..      Kata kunci: gawai, tabulasi silang, model logistik, prilaku konsumen Abstract: Technology development makes people become more dependent on electronic devices. Electronic devices are developing very rapid, especially gadgets that have the potential to produce electronic waste. Electronic waste processing in Bandung does not yet have an adequate system. Therefore need to know what is the behaviour of consumers in the city of Bandung. This study aims to determine the behavior of people in removing unused gadgets and predicts potential electronic waste up to 8 years to come. Identify community behavior using cross tabulation method. Predict future gadgets consumer released using the logistic growth model. At this time, the best known number of electronic devices includes its accecories are mobile phones,tabulate, music player, laptop, digital wacth, digital camera, charger and headsets. From the cross tabulation, you can find information about unused gadgets. As for gadgets consumers prefer to keep and discard accecories because its economic value. Logistic model show gadgets accecories like headset and charger growth more faster than gadgets itself in the next 8 years. The result of weilbull distribution approach of digital camera gawai type has the highest value to get consumer treatmentKeywords: gawai, crossing tabulation, logistic models, consumer behaviour