cover
Contact Name
Jurnal Teknik Lingkungan ITB
Contact Email
jurnaltlitb@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltlitb@gmail.com
Editorial Address
http://journals.itb.ac.id/index.php/jtl/about/editorialTeam
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Lingkungan
ISSN : 08549796     EISSN : 27146715     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Teknik Lingkungan ITB merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung. Jurnal ini mencakup seluruh aspek ilmu Teknik Lingkungan sebagai berikut (namun tidak terbatas pada): pengelolaan dan pengolahan air bersih, pengelolaan dan pengolahan air limbah, pengelolaan dan pengolahan persampahan, teknologi pengelolaan lingkungan, pengelolaan dan pengolahan udara, kebijakan air, serta kesehatan dan keselamatan kerja.
Articles 428 Documents
APLIKASI CONTINGEN VALUATION METHOD DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PERAIRAN KAWASAN PEMUKIMAN DI SEKITAR PESISIR Nurul Magfira; Arief Sudradjat
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.1.2

Abstract

Abstrak: Banyaknya sampah yang ditemukan di sekitar perairan Kota Ternate pada hunian rumah panggung menunjukkan buruknya pengelolaan limbah sampah. Untuk mengurangi gangguan yang timbul maka diperlukan tindakan dalam mengurangi kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari menurunnya kualitas lingkungan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi dan kekhawatiran masyarakat yang mempengaruhi besarnya kesediaan masyarakat untuk membayar (WTP) untuk peningkatan kualitas perairan kota Ternate melalui metode valuasi kontingen (CVM). Analisis data yang digunakan adalah analisis korelasi dengan total 257 respondent dari dua administrasi area berbeda yaitu pusat kota yang sudah direklamasi dan jauh dari pusat kota yang belum direklamasi. Analisis WTP dalam upaya peningkatan kualitas perairan pesisir Kota Ternate dengan CVM menunjukkan bahwa tingkat kesediaan membayar masyarakat sebesar Rp. 20.000/KK/bulan. Besarnya WTP masyarakat dipengaruhi oleh frekuensi limbah buangan sampah, persepsi pencemaran laut, persepsi bau, persepsi warna, kuantitas buangan sampah di laut, frekuensi pembersihan laut, estetika laut, kekhawatiran terhadap sumber pencemar, dan kesediaan partisipasi dalam upaya peningkatan kualitas perairan Kota Ternate. Besarnya nilai manfaat ekonomi peningkatan kualitas perairan laut Kota Ternate adalah sebesar Rp. 141.120.000/tahun yang menunjukkan adanya potensi masyarakat untuk mendukung kebersihan lingkungan perairan laut Kota Ternate. Kata kunci: sampah, ekosistem pesisir, rumah panggung, Willingness to Pay (WTP), dan Contingen Valuation Method (CVM)    Abstract : The amount of garbage found around the waters of Ternate City on the shelter of houses on stilts shows the management of waste is poorly managed. To reduce the disruption that arises it will require action in reducing the economic losses resulting from the declining quality of the coastal environment. This study aims to identify people's perceptions and concerns that affect the amount of people's willingness to pay (WTP) to improve the quality of Ternate city waters through contingent valuation method (CVM). Data analysis used is regression analysis with total 257 respondents from two with different administration locations is downtown already reclaimed and far from the citizen who are reclaimed. Analysis of WTP in efforts to increase quality of coastal waters city of Ternate with CVM suggests that the public's willingness to pay (WTP) is Rp. 20.000/KK/month. WTP amount is influenced by frequency of waste gabbage, perception of sea pollution, perception of odor, perception of color, quantity garbage at sea, frequency of cleaning the sea, aesthetics of the sea, concern of pollutant sources and the willingness to contribute to programme. The value of the economic benefits increasing water quality coastal of Ternate city waters is Rp. 141.120.000/year which indicates good potensial from the community to support cleanliness environment of the Ternate city coastal waters..Keywords: garbage, coastal ecosystem, houses on stilts, Willingness to Pay (WTP), Contingen Valuation Method (CVM)
IDENTIFIKASI SEBARAN LOGAM BERAT ARSEN (As) DARI SISTEM PANAS BUMI PADA AIR TANAH DANGKAL DENGAN METODE KRIGING Nuha Amiratul Afifah; Suprihanto Notodarmojo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.1.3

Abstract

Abstrak: Arsen adalah elemen jejak bersifat toksik dan dapat menyebabkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Salah satu sumber paparan arsen untuk manusia adalah melalui air tanah. Air tanah yang terindikasi memiliki kandungan arsen tinggi salah satunya adalah air tanah yang berada pada lokasi yang terpengaruh oleh sistem panas bumi. Kontaminasi arsen pada air tanah merupakan suatu permasalahan global yang cukup serius dan  telah didapati kontaminasi arsen pada air tanah terjadi di Taiwan, Chile, Bangladesh, Argentina, Meksiko, China, dan India. Sub-DAS Ciwidey merupakan area di salah satu lereng Gunung Patuha yang terletak di selatan Cekungan Bandung memiliki banyak manifestasi panas bumi yang merupakan salah satu sumber polutan alami yang merupakan polutan vulkanogenik. Penelitian yang dilakukan pada sampel air tanah dangkal di Sub-DAS Ciwidey menunjukkan bahwa konsentrasi arsen berkisar 0.001 mg/l sampai dengan 3.25 mg/l, melebihi batas aman yang telah ditetapkan oleh WHO dan Indonesia yaitu 0.01 mg/l. Metode geostatistik dengan Simple Kriging tanpa transformasi memberikan hasil prediksi yang paling akurat. Interpretasi kehadiran arsen berdasarkan analisa geokimia air tanah menggunakan Diagram Schoeller menunjukkan hasil bahwa air tanah di lokasi studi berasal dari sumber yang sama, dan terpengaruh oleh sistem panas bumi. Dengan demikian, maka diperkirakan sebanyak 430,600 jiwa berisiko terpapar oleh kontaminasi arsen di air tanah dangkal yang melebihi batas aman yang telah ditetapkan WHO. Kata kunci: arsen, panas bumi, air tanah dangkal, Sub-DAS Ciwidey, metode kriging Abstract: Arsenic is a toxic trace element that can cause various negative impacts on human health. One of arsenic exposure source for humans is through groundwater. One of groundwater indicated with high arsenic content, is groundwater in a location affected by geothermal systems. Arsenic contamination in groundwater is a serious global problem and arsenic contamination in groundwater has occurred in Taiwan, Chile, Bangladesh, Argentina, Mexico, China and India. Ciwidey Sub-watershed is an area on Mount Patuha slope located in the south of Bandung Basin has many geothermal manifestations which is one source of volcanogenic pollutant, including arsenic. A study conducted on shallow groundwater samples in Ciwidey Sub-watershed showed that arsenic concentrations ranged from 0.001 mg/L to 3.25 mg/L, exceeded the safe limits established by WHO and Indonesia. Geostatistical methods with Simple Kriging without transformation provide the most accurate prediction results. Interpretation of arsenic presence based on groundwater geochemical analysis using Schoeller Diagram shows the result that groundwater at the study site comes from the same source, which is influenced by geothermal system. Thus, an estimated 430,600 people are at risk of exposure to arsenic contamination in shallow groundwater beyond the safe limits established by WHO. Keywords: arsenic, geothermal, shallow groundwater, Ciwidey Sub-watershed, kriging method
KAJIAN SISA UMUR PAKAI TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) SUMUR BATU KOTA BEKASI DENGAN OPTIMALISASI SISTEM PENGOLAHAN Najmi Nafisa Tuzzahra; Siti Ainun
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.1.4

Abstract

Abstrak: Timbulan sampah dari Kota Bekasi yang terangkut ke TPA Sumur Batu baru sebesar 40% dari timbulan sampah Kota Bekasi yaitu sebanyak 400-800 ton/hari dan terus meningkat dengan laju peningkatan timbulan sampah 0,12% setiap tahunnya. Upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi untuk mengurangi jumlah timbulan sampah yang masuk ke zona aktif adalah melalui pengadaan teknologi Waste to Energy (WTE). Teknologi Waste to Energy (WTE) berupa sampah yang dijadikan briket/pellet Refuse Derived Fuel (RDF) yang kemudian briket/pellet tersebut dijadikan bahan bakar dalam proses pembangkit listrik di TPA Sumur Batu. Karakteristik sampah Kota Bekasi seperti kadar air, kadar volatil, kadar abu dan nilai kalor sudah memenuhi standar karaktersitik sampah yang dapat dijadikan Refuse Derived Fuel (RDF), sehingga dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE) dapat mengurangi volume sampah hingga 90%. Berdasarkan hasil observasi, pengoperasian landfill di TPA Sumur Batu belum sesuai dengan kriteria desain sehingga terjadi penumpukan sampah yang menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan,untuk itu dilakukan pengoperasian landfill yang sesuai dengan kriteria desain dengan adanya pengaturan kemiringan dan ketinggian sampah. Melalui pemodelan pengoperasian landfill sesuai dengan kriteria desain pada seluruh zona dengan menggunakan AutoCAD Land Desktop dapat diketahui total sisa volume TPA Sumur Batu sebesar 581.397 m3, yang kemudian akan diproyeksikan dengan timbulan sampah yang masuk ke TPA Sumur Batu untuk mengetahui sisa umur pakai.  Pada penelitian ini dilakukan kajian sisa umur pakai TPA Sumur Batu tanpa mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE) dan dengan mengoperasikan Waste to Energy (WTE), sehingga dapat menjadi bahan rekomendasi untuk pihak pengelola terkait pengoperasian Waste to Energy (WTE). Sisa umur pakai tanpa upaya mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE) adalah 183 hari dan sisa umur pakai dengan mengoperasikan teknologi Waste to Energy (WTE)  adalah 1424 hari.Kata kunci: Sisa Umur Pakai, Karakteristik Sampah, Waste to Energy (WTE) Abstract: Waste generation from Bekasi City which is transported to Sumur Batu Solid Waste Disposal Site is only 40% of the garbage generation in Bekasi City, which is 400-800 tons / day and continues to increase with the rate of increase in waste generation 0.12% annually. Efforts made by the Bekasi City Government to reduce the amount of waste generation entering the active zone are through the procurement of Waste to Energy (WTE) technology. Waste to Energy (WTE) technology in the form of waste is used as a briquette / pellet Refuse Derived Fuel (RDF) which is then used as a fuel in the process of generating electricity at the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site. The characteristics of Bekasi City waste such as water content, volatile content, ash content and calorific value have met the waste characteristics standards that can be used as Refuse Derived Fuel (RDF), so that by operating Waste to Energy (WTE) can reduce waste volume up to 90%. Based on observations, landfill operation in the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site has not been in accordance with the design criteria, so there is a buildup of waste that has a negative impact on the environment. For this reason, the operation of the landfill is in accordance with the design criteria by setting the slope and height of the waste. Through the modeling of landfill operations in accordance with the design criteria for all zones using the AutoCAD Land Desktop, the total remaining volume of the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site is 581,397 m3, which will then be projected with waste generation entering the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site to find out the useful life. A study of the useful life of the Sumur Batu Solid Waste Disposal Site without operating Waste to Energy (WTE) technology and by operating Waste to Energy (WTE) so that it can be used as a recommendation for management regarding the operation of Waste to Energy (WTE). The useful life without attempts to operate Waste to Energy (WTE) technology is 183 days and the useful life by operating Waste to Energy (WTE) technology is 1424 days.Keywords: Useful life, Characteristics of Waste, Waste to Energy (WTE)
PERHITUNGAN NERACA AIR TAWAR DI PULAU PRAMUKA, JAKARTA Asep Sofyan
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.1.5

Abstract

Abstrak: Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau yang mengalami kekurangan air tawar saat musim kering. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah surplus/defisit lensa air tawar pada Pulau Pramuka berdasarkan neraca air alami, menentukan kekurangan ketersediaan air tawar, dan menentukan jumlah air yang harus di produksi oleh instalasi reverse osmosis yang akan dibuat. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Juni "“ Desember 2017. Perhitungan neraca air alami dihitung per-tahun dari tahun 2012 sampai 2016 berdasarkan data karakteristik tanah dan data cuaca. Data cuaca yang digunakan adalah data curah hujan dan temperatur yang diambil dari stasiun terdekat, yaitu stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara. Berdasarkan perhitungan neraca air, pada tahun 2016 Pulau Pramuka memiliki nilai surplus sebesar 369 mm dan defisit sebesar 669 mm. Kemudian, berdasarkan perhitungan, diketahui bahwa nilai sustainable yields dari lensa air tawar lebih kecil dari kebutuhan air total. Pada tahun 2016 Pulau Pramuka mengalami defisit air rata-rata sejumlah 164 m3 per hari. Kapasitas produksi instalasi reverse osmosis yang harus dibangun adalah sebesar 226 m3/hari kata kunci: Pulau Pramuka, pulau kecil, air tanah, neraca air, Thornthwaite-Mather, sustainable yield. Abstract: Pramuka island is one of the small islands which located in Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pramuka island is one of the islands that encounter water scarcity when dry season.  The objective of the research are to determine the amount of freshwater lens surplus/deficit on Pramuka island based on natural water balance, to determine amount of freshwater deficit based on water consumption and to determine amount of freshwater that has to be provided by new reverse osmosis installation. The research was held in June - December 2017 period. Water balance measurement is counted per year from 2012 to 2016 based on rainfall and temperature data from the nearest station, which is Tanjung Priok station, Jakarta Utara. The calculation of water balance measured by using the Thornthwaite Mather method. Based on water balance measurement, in 2016 Pramuka Island has 369 mm surplus and 669 mm deficit. Later, it discovered from the calculation that the value of sustainable yields is lower than total water need each year. In 2016 Pramuka island experienced water deficit that equal to 164m3 per day. The rate of freshwater production that needed from new reverse osmosis instalation is 226 m3 per day Keywords: Pramuka island, small island, groundwater, water balance, Thornthwaite-Mather, sustainable yield.
ANALISA KINERJA FAKTOR KEBERHASILAN SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN KEGIATAN INDUSTRI MINYAK DENGAN PENDEKATAN INTEGRATED ENVIRONMENT PERFORMANCE MEASUREMENT SYSTEM (IEPMS) – AHP Reiza Fandrio Abrori; Katharina Oginawati; Priana Sudjono
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.1.6

Abstract

Abstrak: Sistem manajemen lingkungan menjadi fokus utama dalam upaya melindungi lingkungan saat ini. Untuk itu diperlukan analisa kinerja faktor keberhasilan dalam implementasi sistem manajemen lingkungan pada lingkup perusahaan agar dapat menjadi sebuah penilaian dan pengukuran terhadap faktor yang sudah baik atau terdapat faktor yang perlu dilakukan pembenahan. Daerah penelitian yang ditinjau adalah perusahaan Migas yang telah memiliki sistem manajemen lingkungan, atau bahkan telah mendapat sertifikasi ISO 14001. Ditetapkan beberapa faktor kinerja yang akan ditentukan dengan pendekatan Integrated Environment Performance Measurement System (IEPMS) dalam mengidentifikasi Key Enviromental Performance Indicator (KEPI). Untuk menyusun hierarki model dan mendapatkan bobot setiap KEPI digunakan Analytic hierarchy process (AHP) dalam mengolah data kuesioner perbandingan berpasangan sehingga dapat ditentunkan bobot kepentingan KEPI. Untuk selanjutnya dapat dilakukan pengukuran dengan menggunakan Objective Matrix (OMAX) dalam penilaian tingkat kinerja perusahaan dalam melakasanakan Sistem Manajemen Lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa perusahaan memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan sistem manajemen lingkungan ISO 14001 dengan faktor yang paling berpengaruh adalah kebijakan lingkungan perusahaan serta keuntungan yang paling dirasakan adalah meningkatkan kepercayaan pelanggan. Kata kunci: Sistem Manajemen Lingkungan, Integrated Environment Performance Measurement System, ISO, ISO 14001, AHP, Lingkungan berkelanjutan Abstract: Environmental management systems are the main focus of efforts to protect the environment today. It is necessary to analyze the performance of success factors in the implementation of environmental management system on the scope of the company in order to become an assessment and measurement of factors that are good or there are factors that need improvement. The research areas reviewed are oil and gas companies that already have an environmental management system, or even have received ISO 14001 certification. Several performance factors will be determined by the Integrated Environment Performance Measurement System (IEPMS) approach in identifying Key Enviromental Performance Indicator (KEPI). To compile the model hierarchy and get the weight of each KEPI used Analytic hierarchy process (AHP) in processing the data paired comparison questionnaire so that it can be weighted the importance of KEPI. For further measurement using Objective Matrix (OMAX) in the assessment of company performance level in carrying out Environmental Management System. Company has a good performance in implementing the environmental management system ISO 14001 with the most influential factor is the company's environmental policy and the most perceived advantage is to increase customer confidence. Keywords: Environmental Management System, Integrated Environment Performance Measurement System , ISO, ISO 14001, AHP,Sustainable environments
PENYISIHAN ZAT WARNA NAPHTHOL PADA LIMBAH CAIR BATIK DENGAN METODE ADSORPSI MENGGUNAKAN ADSORBEN TANAH LIAT DAN REGENERASINYA Valerie Atirza; Prayatni Soewondo
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 1 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.1.7

Abstract

Abtrak: Industri Kecil Menengah (IKM) batik merupakan salah satu penghasil limbah cair yang berasal dari proses pewarnaan dengan kandungan zat warna yang tinggi juga mengandung bahan-bahan kimia sintetis yang cukup stabil dan sukar untuk diuraikan/didegradasi secara alami, sehingga dapat membahayakan lingkungan sekitar. Apabila konsentrasi yang dibuang ke lingkungan cukup tinggi maka dapat menaikkan nilai COD (Chemical Oxygen Demand). Salah satu metode pengolahan limbah cair khususnya hasil proses pewarnaan batik, saat ini yang banyak dilakukan penelitian dan pengembangan adalah adsorpsi dengan menggunakan berbagai jenis adsorben yang berbeda beda. Alternatif lain jenis adsorben yang digunakan adalah tanah liat (clay), hal ini dilakukan mengingat keberadaan tanah liat melimpah di alam dan merupakan bahan alami yang dapat ditemukan hampir di semua wilayah Indonesia khususnya di Bandung, Jawa Barat. Zat warna naphthol merupakan salah satu pewarna sintetis yang digunakan dalam pembuatan batik. Pada penelitian ini dilakukan proses adsorpsi menggunakan limbah cair yang mengandung zat warna naphthol dari hasil proses pembuatan batik dengan adsorben tanah liat dan regenerasinya. Hasil penelitian menunjukkan efisiensi terbesar untuk adsorben tanpa modifikasi adalah 65,648% dengan dosis 1,5 gr dan waktu kontak 30 menit, sedangkan adsorben dengan modifikasi didapat efisiensi sebesar 82,809% untuk dosis 2 gr dan waktu kontak 60 menit. Kinetika yang menggambarkan proses adsorpsi adalah kinetika pseudo orde 2 untuk kedua adsorben dan isoterm adsorpsi adalah isotherm Freundlich. Kata kunci: adsorpsi, tanah liat, napthol, isoterm Abstract: Small and medium industry (IKM) batik is one of the producers of liquid waste that comes from the process of staining with substances of high color also contains synthetic chemicals that are fairly stable and difficult to untangle/degradation in naturally, so that can harm the environment. When the concentration of dumped into the environment high enough then it can raise the value of COD (Chemical Oxygen Demand). One of the liquid waste processing methods in particular results of batik coloring process, which is currently much research and development is carried out adsorption using various types of different adsorbents. Other alternative types of adsorbents used is clay, this is done considering the existence of clay abundant in nature and are the natural ingredients that can be found in almost all regions of Indonesia especially in Bandung, West Java. Naphthol color substances is one of the synthetic dyes are used in the making of Batik. On the research of the adsorption process was carried out using liquid waste containing the substance the color results from naphthol batik processing with adsorbent clay and its regeneration. The results showed the greatest efficiency for adsorbents without modification was 65.648% with a dose of 1.5 grams and a contact time of 30 minutes, while the adsorbent with modification obtained efficiency of 82.809% for a dose of 2 grams and 60 minutes contact time. Kinetics that describes the process of adsorption is a pseudo second-order kinetics for both the adsorbent and adsorption isotherm is Freundlich.Keywords: adsorption, clay, naphthol dyes, isotherm
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN ANALISIS RISIKO PADA JARINGAN PIPA TRANSMISI CRUDE OIL DI PERUSAHAAN MIGAS Megahapsari Martaningtyas; Herto Dwi Ariesyady
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.1

Abstract

Abstrak: Kegiatan operasi di bidang migas telah banyak dilakukan, baik itu dikelola oleh pemerintah maupun pihak swasta. PT. X merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi, pengolahan serta produksi minyak dan gas bumi di Indonesia yang menggunakan sistem perpipaan dalam proses distribusinya. Penggunaan sistem perpipaan sebagai sarana untuk menyalurkan produk minyak dan gas dianggap lebih efektif dan efisien dari segi kapasitas dan jarak yang ditempuh. Proses penyaluran di area utara PT. X menggunakan fasilitas jalur pipa offshore dan onshore sebagai sarana distribusi produksi minyak mentah. Apabila terjadi kegagalan pada jalur pipa maka dapat mengakibatkan dampak kerugian yang besar seperti kebocoran, tumpahan, dan ledakan. Oleh karena tingginya potensi bahaya dan risiko tersebut maka perlu dilakukan penilaian risiko pada sistem perpipaan yang digunakan, termasuk risiko pada jaringan pipa transmisi crude oil. Pada penelitian ini dilakukan analisis risiko dengan pendekatan loss prevention and risk assessment yang dikembangkan oleh Muhlbauer (2004). Hasil penelitian ini menunjukkan faktor risiko yang paling besar memberikan kontribusi terhadap kemungkinan kegagalan jalur pipa transmisi minyak 18 inci dari A platform sampai S terminal adalah faktor kerusakan oleh pihak ketiga. Segmen pipa yang paling berisiko untuk mengalami kegagalan yang menyebabkan kebocoran tertinggi adalah pada segmen pipa offshore. Sedangkan faktor konsekuensi dengan nilai dampak tertinggi adalah pada segmen riser. Analisis risiko ledakan atau kebakaran dengan metode Dow's F & EI pada pipa transmisi memiliki nilai sebesar 113,168 dengan kategori intermediate. Hasil tersebut menyatakan bahwa pihak manajemen perusahaan harus memperhatikan dan mengawasi secara lebih seksama pada jaringan pipa transmisi, sehingga dapat melakukan tindakan mitigasi risiko secara cepat apabila terjadi kegagalan pipa. Kata kunci: crude oil, Dow's F & EI, metode Muhlbauer, pipa transmisi, risk assessment Abstract: Oil and gas operations have been carried out widely, both managed by the government and private parties. PT. X is one of the companies engaged in the exploration, processing and production of oil and gas in Indonesia that used pipeline system in the distribution processes of oil and gas. The use of pipeline systems was considered more effective and efficient in terms of capacity and distance passed by to distribute oil and gas. The operation processes in the northern area of PT. X use offshore and onshore pipeline facilities to distribute crude oil. The event of a failure on the pipeline can cause major loss impacts such as leaks, spills and explosions. The high potential hazards and risks need to be carried out by risk assessment on the pipeline system used, including the risks in the transmission pipeline network of crude oil. In this research, risk analysis with loss prevention and risk assessment approach developed by Muhlbauer (2004), is measured using semi-quantitative pipeline risk on third party index of damage index, corrosion, pipe design, improper operation. The results of this study indicate that the biggest risk factor contributing to the possibility of failure of the 18-inch oil transmission pipeline from A platform to S terminal is the damage factor by third parties. The pipe segment which is most at risk for failure which causes the highest leakage is in the offshore pipeline segment. Whereas the consequence factor with the highest impact value is in the riser segment. Explosion or fire risk analysis with Dow's F & EI method on transmission pipes has a value of 113.168 with an intermediate category. The results stated that the management of the company must pay close attention to and supervise the transmission pipeline network, so that it can carry out risk mitigation actions quickly if a pipe failure occurs. Keywords: crude oil, Dow's F & EI, Muhlbauer method, risk assessment, transmission pipe
ANALISIS POLA VARIABILITAS OZON STRATOSFER DAN BAHAN PERUSAK OZON SERTA PENGARUHNYA TERHADAP INDEKS UV DI WILAYAH INDONESIA TERKAIT PROTOKOL MONTREAL Riris Ayu Wulandari; Kania Dewi
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.2

Abstract

Abstrak: Ozon pada lapisan stratosfer berperan sebagai pelindung dari radiasi ultraviolet. Penggunaan bahan perusak ozon (BPO) pada kegiatan manusia membuat berkurangnya konsentrasi ozon stratosfer. Adanya Protokol Montreal dapat mengontrol produksi dan konsumsi BPO. Meskipun demikian, beberapa penelitian menyatakan bahwa konsentrasi ozon stratosfer masih belum meningkat. Konsentrasi BPO yang berada di lapisan stratosfer (berupa BrO dan ClO) perlu diamati secara temporal dan spasial dengan menggunakan data satelit (sensor Microwave Limb Sounders (MLS) satelit Aura) sehingga ruang lingkup pengamatannya dapat lebih lama dan lebih luas. Lebih lanjut, konsentrasi ozon stratosfer yang rendah dapat mengakibatkan tingginya indeks UV (UVI). Penelitian ini difokuskan untuk wilayah Indonesia dari tanggal 1 Januari 2005 hingga 31 Januari 2017, dengan melakukan perhitungan korelasi antara BPO dan ozon stratosfer. Dari pembuatan profil vertikal, didapat bahwa konsentrasi ozon maksimum berada di ketinggian 10 hPa (31 km), konsentrasi BrO maksimum pada 31,6 hPa (24 km), dan konsentrasi ClO maksimum pada 2,1 hPa (42 km). Korelasi antara ozon dan BrO paling kuat (-0,58) berada pada ketinggian 6,8 hPa atau 33,5 km. Sementara itu, korelasi antara ozon dan ClO yang paling kuat (-0,43) berada pada ketinggian 4,6 hPa atau 36 km. Kaitan antara UVI dan ozon stratosfer dengan nilai korelasi negatif terbesar (-0,5987) berada pada ketinggian 1 hPa atau 47,7 km. Sementara itu, pengurangan jumlah ozon total di atmosfer cukup mempengaruhi UVI dengan korelasi negatif sebesar -0,25. Kata kunci: ozon stratosfer, BPO, indeks UV, MLS/Aura Abstract: Ozone in the stratospheric layer acts as a protector of ultraviolet radiation. The use of ozone- depleting substances (ODS) in human activities has reduced the concentration of stratospheric ozone. The existence of the Montreal Protocol can control ODS production and consumption. Nonetheless, several studies suggest that stratospheric ozone concentration has not increased. ODS concentrations in the stratosphere layer (in the form of BrO and ClO) need to be observed temporally and spatially using satellite data (Microwave Limb Sounders (MLS) Aura satellite sensor) so that the scope of observation can be longer and wider. Low stratospheric ozone concentrations can result in a high UV (UVI) index. This study focused on Indonesia from January 1, 2005 to January 31, 2017, by calculating the correlation between ODS and stratospheric ozone. From the vertical profile, it was found that the maximum ozone concentration was at 10 hPa (31 km), maximum BrO concentration at 31.6 hPa (24 km), and maximum ClO concentration at 2.1 hPa (42 km). The strongest correlation between ozone and BrO (-0.58) occur at 6.8 hPa or 33.5 km. Meanwhile, the strongest correlation between ozone and ClO (-0.43) occur at 4.6 hPa or 36 km. The greatest negative correlation between UVI and stratospheric ozone (-0.5987) occurred at 1 hPa or 47.7 km. Meanwhile, the reduction in total ozone in the atmosphere affected increasing of UVI with a negative correlation of -0.25. Keywords: stratospheric ozone, ODS, UV index, MLS/Aura
OPTIMASI PELAYANAN DAN PENINGKATAN PENDAPATAN PDAM MELALUI PENGEMBANGAN KAPASITAS DISTRIBUSI AIR BERSIH PADA WILAYAH BERDAYA BELI TINGGI Muliani Rosmayasari; Rofiq Iqbal
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.3

Abstract

Abstrak: PDAM Kota Pekalongan merupakan perusahaan yang memiliki fungsi ganda yaitu sebai perusahaan yang profit oriented dan juga public service dimana kedua fungsi tersebut harus mampu mencapai keseimbangan karena mempunyai hubungan kausalitas yang erat dalam menjaga eksistensi usaha yang dijalankan. Tambahan suplai air bersih pada tahun 2019 sebesar 150 l/d yang akan diperoleh PDAM dari SPAM Regional Petanglong merupakan kesempatan bagi perusahaan untuk melakukan meningkatkan skala pelayanan melalui pengembangan jaringan saluran distribusi sekaligus meningkatkan pendapatan PDAM. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pengembangan kapasitas distribusi air bersih di wilayah yang berdaya beli tinggi. Dari hasil survey yang dilakukan terhadap 285 responden non pelanggan jenis niaga di 10 kelurahan yang menjadi sasaran pengembangan diketahui 38,25% responden berminat untuk menjadi pelanggan PDAM. Pemilihan wilayah sasaran optimasi yang dilakukan berdasarkan parameter BEP menunjukan Kelurahan Pringrejo, Tirto, Medono, Buarankradenan, Pasirkratonkramat, Jenggot, Banyurip dan Bendankergon merupakan wilayah yang memberikan BEP lebih cepat dari 8 tahun. Analisis optimasi menunjukan hasil kapasitas air bersih yang diperlukan untuk optimasi golongan niaga di wilayah berdaya beli tinggi adalah 2,1 l/d dari 150 l/d kapasitas tambahan yang diterima PDAM. Pengembangan kapasitas distribusi air bersih di wilayah berdaya beli tinggi mampu meningkatkan pendapatan PDAM sebesar Rp 604.610.849/tahun dengan peningkatan profit margin sebesar 1,25% dibandingkan sebelum adanya pengembangan. Analisa ekonomi berdasarkan analisis BCR diperoleh nilai BCR >1, nilai NPV positif dan IRR sebesar 14% dimana berarti proyek dinyatakan layak untuk dilaksanakan. Kata kunci: optimasi, distribusi air bersih, pendapatan, PDAM Kota Pekalongan Abstract: PDAM Pekalongan City is a company that has a dual function, profit oriented and public service, where both functions must be able to achieve balance because it has a close causality relationship in maintaining the existence of the business being run. The additional 150 l/s water supply that will be obtained by PDAM in 2019 from the Regional SPAM Petanglong is an opportunity for companies to increase service scale through the development of distribution channel networks while increasing PDAM revenues. One effort that can be done is by developing clean water distribution capacity in areas with high purchasing power. From the results of a survey conducted on 285 respondents, non-commercial customers in the 10 urban villages that were targeted for development, 38.25% of respondents were interested in becoming PDAM customers. The selection of the optimization target area based on BEP parameters shows Pringrejo, Tirto, Medono, Buarankradenan, Pasirkratonkramat, Jenggot, Banyurip and Bendankergon villages are areas that provide BEP faster than 8 years. Optimization analysis shows that the results of clean water capacity needed for optimization of commercial groups in high purchasing power areas are 2.1 l/s from 150 l/s of additional capacity received by the PDAM. Development of clean water distribution capacity in high purchasing power areas can increase PDAM revenue by IDR 604,610,849/ year with an increase in profit margin of 1.25% compared to before the development. Economic analysis based on BCR analysis obtained BCR> 1 value, positive NPV value and IRR of 14% which means the project is declared feasible to be implemented. Keywords: optimization, distribution of clean water, revenue, PDAM Kota Pekalongan
IDENTIFIKASI TINGKAT PENGURANGAN SAMPAH DENGAN ADANYA PROGRAM KAWASAN BEBAS SAMPAH Yuke Djulianti; Siti Ainun
Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 24 No. 2 (2018)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2018.24.2.4

Abstract

Abstrak: Kawasan Bebas Sampah (KBS) merupakan salah satu program Kota Bandung dalam upaya pengurangan sampah. Salah satu Rukun Warga (RW) di Kelurahan Kebon Pisang Kota Bandung yaitu RW 7 merupakan salah satu wilayah yang sudah termasuk Kawasan Bebas Sampah sejak tahun 2015 dan sudah menerapkan pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse, dan recycle) yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat pengurangan sampah dengan adanya program Kawasan Bebas Sampah di RW 7. Pengukuran timbulan sampah dan komposisi sampah dilakukan berdasarkan SNI 19-3964-1994. Total Timbulan sampah RW 7 Kelurahan Kebon Pisang didapatkan sebesar 758.7 kg/hari atau 5816.7 liter/hari dengan satuan timbulan sampah yaitu 0.45 kg/orang/hari atau 3.45 liter/orang/hari. Berdasarkan hasil pengukuran timbulan sampah yang tereduksi dari upaya-upaya pengurangan sampah yang telah dilakukan, didapatkan hasil dengan adanya program Kawasan Bebas Sampah dalam upaya pengurangan sampah di RW 7 Kelurahan Kebon Pisang ini mencapai tingkat pengurangan sampah sebesar 16.43% terhadap total timbulan sampah RW 7 Kelurahan Kebon Pisang. Kata kunci: Program Kawasan Bebas Sampah, Timbulan Sampah, Tingkat Pengurangan Sampah. Abstract: Kawasan Bebas Sampah (KBS) is one of Bandung City programs as an effort for waste reduction. One of the Rukun Warga (RW) in Kebon Pisang Bandung, RW 7, is one of the Kawasan Bebas Sampaharea since 2015 and has implementing the 3R (reduce, reuse, and recycle) based waste management, independently by the community. The purpose of this research is to identify the level of waste reduction with the existence of the Kawasan Bebas Sampah program in RW 7. Waste quantity and waste composition measurement is carried out based on SNI 19-3964-1994. Waste quantity total of RW 7 Kebon Pisang is obtained at 758.7 kg / day or 5816.7 liters / day with a waste quantity unit of 0.45 kg / person / day or 3.45 liters / person / day. Based on the results of measurements of reduced waste generation from waste reduction efforts that have been made, the results obtained with the Kawasan Bebas Sampah program in efforts to reduce waste in RW 7 of Kebon Pisang District reach a level of waste reduction of 16.43% of the total waste generation of RW 7. Keywords: Kawasan Bebas Sampah Program, Waste Generation, Waste Reduction Level.