cover
Contact Name
jurnalloakaltim
Contact Email
jurnalloakaltim@yahoo.com
Phone
+62541-250256
Journal Mail Official
jurnalloakaltim@yahoo.com
Editorial Address
Kantor Bahasa Kalimantan Timur Jalan Batu Cermin 25, Sempaja Utara Samarinda
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Loa : Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan
ISSN : 1907073X     EISSN : 27148653     DOI : -
Core Subject : Humanities,
Jurnal LOA adalah jurnal yang memublikasikan berbagai hasil penelitian dan kajian bidang bahasa dan sastra, baik bahasa/sastra Indonesia, bahasa/sastra daerah, bahasa/sastra asing, maupun pengajaran bahasa/sastra Indonesia. Setiap artikel yang diterbitkan di Loa akan melalui proses penelaahan oleh mitra bebestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Jurnal LOA diterbitkan oleh Kantor Bahasa Kalimantan Timur. Jurnal LOA terbit secara berkala dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2014): LOA" : 10 Documents clear
LATAR SOSIAL DAN KULTURAL PEMBELAJARAN BAHASA Atik Sri Rahayu
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.034 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2078

Abstract

                                                  AbstrakFungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Sebagai bahasa kelompok, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan interaksi sehari-hari dalam kelompok itu. Pembelajaran bahasa sangat berkaitan erat dengan latar sosial dan budaya. Pembelajaran bahasa tidak hanya menghasilkan sebuah penguasaan pengetahuan, tetapi juga memiliki makna yang berkualitas. Selain itu, bahasa  adalah dasar kebudayaan dan bahasa adalah sebagian kebudayaan. Bahasa, masyarakat, danbudaya merupakan trilogi yang tidak dapat dipisahkan sehingga latar sosial (masyarakat) sangat penting dalam pembelajaran bahasa. Pembelajaran budaya kedua merupakan proses penciptaan makna dalam kontak dengan budaya lain sebagai pengalaman yang melekat pada diri pebelajar dalam pembelajaran lintas budaya. Latar sosial budaya mampu menciptakan kesadaran budaya dalam pembelajaran bahasa kedua. Contextual Teaching and Learning (CTL) ditawarkan sebagai sebuah pendekatan holistik terhadap pendidikan yang dapat digunakan oleh semua siswa, baik yang sangat berbakat maupun siswa yang mengalami kesulitan belajar.Kata kunci: latar sosial dan kultural, pembelajaran bahasa                                                    AbstractThe main function of language is as a means of communication. As a language used in a society, language is used as means of daily communication and interaction in the society. Language learning is closely related tosocial and cultural settings and create not only knowledge acquisition but also qualified meaning. In addition,language is a foundation and a part of a culture. Language, society, and culture are inseparable trylogy that makes social setting (society) so crucial in language learning. Second cultural learning is a process of meaning creation to other cultures as an experience for learners in a cross cultural learning. Social and cultural settingscould create cultural awareness in the second cultural learning. Contextual Teaching and Learning (CTL) is recommended as a holystic approach to education that works for all students, either the talented ones or the ones with learning problems.Key words: social and cultural settings, language learning
JEJAK NASIONALISME SAJAK-SAJAK DALAM KORAN MASYARKAT BARU Dwi Hariyanto
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.382 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2083

Abstract

                                                      AbstrakSejarah mencatat bahwa terbitnya koran Masyarakat Baru pada masa awal kemerdekaan menjadi tonggak sejarah sastra modern di Kalimantan Timur. Koran Masyarakat Baru menjadi media bagi para sastrawan Kalimantan Timur dan sekitarnya untuk mengekspresikan gejolak jiwanya melalui karya puisi. Puisi yang dimuat dalam koran Masyarakat Baru ini menarik dikaji karena pada masatersebut bangsa Indonesia dalam masamasa awal kemerdekaan. Selain itu, sajaksajak pada masa itu layak mendapat apresiasi karena merupakan puisi modern yang terdokumentasikan pertama kali dalam media cetak yang terbit di Kalimantan Timur pada masa awal kemerdekaan. Pengkajian sajak-sajak dalam koran Masyarakat Baru ini menggunakan pendekatan struktural dinamik denganmemanfaatkan semotik untuk mengungkapkan makna-makna yang terdapat dalam puisi. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan hasil analisis dipaparkan secara deskriptif. Analisis menunjukkan bentuk nasionalisme puisi yang terbit di koran Masyarakat Baru adalah cinta tanah air, jati diri bangsa, dan semangat perjuangan. Hal ini menunjukkan bahwa sastrawan Kalimantan Timur mencoba membangkitkan semangat nasionalisme dan kebangsaan melalui puisi.Kata kunci: sajak, nasionalisme, koran Masyarakat Baru                                                          AbstractHistory shows that the publication of Masyarakat Baru newspaper in the beginning of independence era became a milestone of modern literature in East Kalimantan. For East Kalimantan’s litterateurs, it turned out to be a media to express their excitement through poems. The poems published in Masyarakat Baru newspaperare interesting to study since in that era Indonesia was in the beginning of independence era. In addition, verses in that era should be properly appreciated as they were first modern poems documented in printed media in East Kalimantan. This study uses dynamic structural approach and semiotics to figure out the meanings of the poems. It is a qualitative study and the result is descriptive. It reveals that the forms of nationalism in the poems are patriotism, national identity, and spirit to struggle that illustrate East Kalimantan litterateurs’ effort to revive the spirit of nationalism through poems.Keywords: verse, nationalism, Masyarakat Baru newspaper
LOKALITAS PUISI-PUISI PENYAIR JAWA TIMUR DALAM KORAN SURABAYA POST Dian Roesmiati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.632 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2079

Abstract

                                                     AbstrakTujuan tulisan ini mendeskripsikan lokalitas dalam puisi-puisi penyair Jawa Timur. Kajian ini menggunakan teori stilistika dan dibantu teori hermeneutika. Sumber data tulisan ini adalah puisipuisi karya penyair Jawa Timur yang terdapat dalam Surabaya Post. Hasil penelitian ini adalah sebagian besar puisi karya penyair Jawa Timur membicangkan lokalitas perkotaan dan perdesaan dengan gaya bahasa sinis, sarkasme, dan metafora. Lokalitas dalam karya Zawawi Imron merupakan lokalitas yang muncul dari alam bawah sadar, sedangkan lokalitas dalam karya penyair lainnya cenderung hasil pengucapan yang disadari.Kata kunci: lokalitas, puisi penyair Jawa Timur, Surabaya Post                                                     AbstractThis study aims at describing the locality in the poems of East Java’s poets. It uses stylistic and hermeneutic theories. The source of the data is the poems of East Java‘s poets in Surabaya Post. The result reveals that most of the poems are about the locality in the urban and rural areas by applying cynical, sarcastic, and  etaphorical figures of speech. Zawawi Imron’s work shows the locality of the unconcious expressions, while the others are apt to show the result of the conscious expressions.Keywords : local wisdom, poems of East Java’s poets, Surabaya Post
LOA COVER DEPAN LOA: Volume 9, Nomor 2, Desember 2014
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2410.148 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2084

Abstract

CULTURAL DIVERSITY IN BILINGUAL EDUCATION Desy Rusmawaty
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.609 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2080

Abstract

                                                      AbstractBilingual education needs to consider the cultural diversity both on its content and delivery in two languages. The use of mother tongue can facilitate the learners to understand the concept of scientific terms used in other languages. It is noted that bilingual learners are able to develop their metalinguistic skills. They have flexibility in their thinking to process the understanding of words through two different languages. Therefore, this study aims to clarify the concept of language learning integrated to the content. Eurydice presented a concept that there should be a special teaching approach that brought out the learning of non-language subjects taught by and through foreign language.Keywords: bilingual education, cultural diversity, metalinguistic                                                         AbstrakPendidikan bilingual harus mempertimbangkan keberagaman budaya pada materi dan cara penyampaiannya dengan menggunakan dua bahasa. Penggunaan bahasa ibu dapat memfasilitasi pembelajar untuk mengerti konsep-konsep ilmiah yang digunakan dalam bahasa lain. Hal yang perlu diperhatikan bahwa pembelajarbilingual mampu mengembangkan kemampuan metalinguistik mereka. Mereka memiliki fleksibilitas untuk memahami kata dalam dua bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, studi ini dilakukan untuk mengklarifikasi konsep dari pembelajaran bahasa yang berintegrasi dengan pembelajaran materi lain (konten). Eurydicemengenalkan konsep bahwa perlu adanya pendekatan pengajaran khusus yang menekankan pada pembelajaran subjek non-bahasa yang diajarkan dengan dan melalui bahasa asing.Kata Kunci: pendidikan bilingual, keberagaman budaya, metalinguistik
Daftar Isi, Pengantar Redaksi, Abstrak LOA: Volume 9, Nomor 2, Desember 2014
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.958 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2085

Abstract

INTERLANGUANGE ANALYSIS: A RESEARCH ON ESL-SPEAKER'S STAGE OF ACQUISITION BASED ON THE PROCESSABILITY THEORY Mardliya Pratiwi Zamruddin
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.365 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2076

Abstract

                                                     AbstractThe research was conducted to find out the language acquisition of a person who learnt English as the second language. The research was done by using quantitative design. The subject of this research was a Korean who came to an English speaking country, Australia. The subject was first learned English when the subject was in junior high school. The data was displayed in the form of number with description in analysis part. The theory used was Processability Theory by Piennemann. Thetheory stated that at anystage of development, the learner can produce and comprehend only those second language linguistic forms that the current state of processors can handle.There are 6 stages of language acquisition proposed by Piennemann regarding the morphological aspect of language learners. The result showed that the subject was on the stage 5 of the Processability Theory. It meantthat the subject was able to produce the third person singular (-s). This stage decision is based on the stages of acquisition of nominal and verbal morphology in ESL by Pienemann (2007) and Johnston and Brindley (1988).Keywords: language acquisition, processability theory.                                                      AbstrakPenelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui akuisisi bahasa dari orang yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan desain kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah seseorang berkewarganegaraan Korea yang datang ke negara dengan bahasa nasional bahasa Inggris, yaitu  Australia. Subjek pertama kali belajar Bahasa Inggris ketika dia duduk di bangku SMP. Data disajikan dalam format angka dengan deskripsi di bagian analisis. Teori yang digunakan adalah Teori Prosesabilitas oleh Piennemann. Teori ini menyatakan bahwa pada tiap tahapan perkembangan, seorang pelajar dapat memproduksi dan memahami hanya format linguistik bahasa kedua yang bisa diterima oleh organ yang memproses bahasa. Terdapat 6 tahapan akuisisi bahasa yang disajikan Piennemann terkait dengan aspek morfologi dari pembelajar bahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek berada pada tahapan 5 dariTeori Prosesabilitas. Hal ini berarti subjek dapat memproduksi struktur untuk orang ketiga tunggal (penambahanakhiran –s pada kata kerja). Keputusan pemosisian tahapan ini didasarkan pada tahapan-tahapan akuisisi morfologi nominal dan verbal pada ESL oleh by Pienemann (2007) dan Johnston dan Brindley (1988).Kata kunci: akuisisi bahasa, teori prosesabilitas
UNSUR KERAMAT DALAM LEGENDA DATU-DATU DI KALIMANTAN SELATAN Agus Yulianto
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.488 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2081

Abstract

                                                    AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perwujudan-perwujudan unsur keramat atau karomah dan fungsinya dalam hikayat yang dijadikan obyek penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah metote deskriptif dengan teknik studi pustaka. Berdasarkan kajian dapat diketahui bahwa perwujudan unsur-unsur keramat dalam hikayat Datu-Datu di Kalimantan Selatan antara lain (1) mampu memotong-motong batang besi hanya dengan jari tangan; (2) mampu salat(beribadah) langsung ke Mekah atau ke Madinah dalam waktu yang singkat; dan (3) dapat memprediksi cuaca.Kata kunci: keramat, datu, Kalimantan Selatan                                                          AbstractsThe purpose of the research is to obtain the manifestations of sacred elements (karomah) and their functions in folklore of Datu-Datu. This research uses descriptive method and literature review technique. It reveals that the manifestations of sacred elements (karomah) in the folklore of Datu-Datu in South Kalimantan are as follows: 1) the abilityto cut off iron bar using finger, 2) the ability to do prayer directly to Mecca or Madinah in a short time, and 3) the ability to do weather forecast.Keywords: sacred, datu, South Kalimantan
LATAR SURABAYA DALAM KARYA PROSA SUPARTO BROTO Yulitin Sungkowati
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.354 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2077

Abstract

                                                   AbstrakTulisan ini bertujuan mendeskripsikan latar Surabaya dalam karya prosa Suparto Brata. Sumber data yang digunakan dalam tulisan ini adalah novel Mencari Sarang Angin dan kumpulan cerpen Trem. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi yang ditopang dengan teknik baca dan catat. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi. Hasil temuan menunjukkan bahwa latar sosial-budaya dalam karya prosa Suparto Brata tampak dari adanya penggunaan bahasa Jawa subdialek Surabaya dalam dialog antartokoh, pandangan hidup tokoh, dan dari adatkebiasaan hidup sehari-hari. Latar sosial tersebut menggambarkan dan mewakili Surabaya sebagai bagian dari wilayah budaya arek.Kata kunci: latar, budaya arek, prosa                                                       AbstractThis paper aims to describe Surabaya as the setting of Suparto Brata’s prose. Source data of this paper are Mencari Sarang Angin novels and the anthology of short story Trem. The data collection technique is documentation method which is supported by read and writes techniques. The data analysis was done by using content analysis technique. The results finding show that social-culture setting in Suparto Brata’s prose could be seen from the using of Surabaya subdialect of Javanese in the dialog among the character, the character’s way of life, and from the every day life local custom of the character. That social setting described and represented Surabaya as one of Arek culture area.Keywords: background, arek culture, prose
SINKRETISME MANTRA MASYARAKAT AJI: SEBUAH IDENTITAS BUDAYA Dian Susilastri
LOA: Jurnal Ketatabahasaan dan Kesusastraan Vol 9, No 2 (2014): LOA
Publisher : Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.497 KB) | DOI: 10.26499/loa.v9i2.2082

Abstract

                                                          AbstrakMasyarakat etnis Aji (suku Haji) yang berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan merupakan salah satu bagian etnis besar Melayu yang memiliki tradisi bermantra. Berdasarkan pengamatan terhadap bentuk dan isi mantra masyarkat Aji ditemukan kecenderungan adanya sinkretisme, khususnya sinkretis fenomenologis. Sinkretisme tersebut dengan sendirinya memunculkan sebuah identitas ambivalen, satu sisi mempertahankan tradisi leluhur yang menganut ajaran Hindu-Budha dan satu sisi menganut ajaran Islam sebagai agama mereka.Kata kunci: mantra, sinkretisme, identitas                                                             AbstractAji’s ethnic society (Haji ethnic) in South Ogan Komering Ulu Regency, South Sumatera is one of the big Malay ethnics possessing mantra tradition. Based on the observation towards the form and the content of the mantra, it shows a tendency of syncretism, especially the phenomenological syncretism. This syncretism, by itsown way, emerges an ambivalent identity. The society not only keeps maintaining their ancestor’s tradition adhering Hindu-Buddha’s teachings but also adheres Islamic teachings as their present religion.Keywords: mantra, syncretism, identity

Page 1 of 1 | Total Record : 10