Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 2, No 2 (2020)"
:
10 Documents
clear
FORMULA DAN TEMA SYAIR PENGIRING TARI ACEH LIKOK PULO
Anwar, Humaira
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Salah satu tarian dari Aceh, tari Likok Pulo, adalah tarian yang diiringi dengan syair yang dinyanyikan oleh syeh sepanjang tarian. Tari ini berasal dari Pulau Aceh, Aceh Besar, Aceh, dan dulu digunakan sebagai salah cara berdakwah. Sebagai sebuah sastra lisan, syair iringan Tari Likok Pulo memiliki formula dan tema. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan formula dan tema tersebut. Pendeskripsian formula dan tema akan dilakukan dengan teori formula dan tema Albert Lord. Metode penelitian ini metode kualitatif dengan instumen penelitian kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan syair pengiring tari Likok Pulo mengandung formula frasa hai adôe dan Allah ya Allah, serta klausa lon idang. Adapun tema syair pengiring tari Likok Pulo adalah zikir, yaitu mengingat Allah dalam cerita dan nasihat. Hal ini berhubungan dengan tujuan utama tari Likok Pulo sebagai salah satu sarana dakwah di masa lalu.Kata kunci: Tari Likok Pulo; syair; formula; tema.
ORGANOLOGI SELOBER PADA SANGGAR SELOBER PEJENENGAN DESA PENGADANGAN PRINGGASELA LOMBOK TIMUR
Baha, M Abdi;
Murcahyanto, Hary;
Imtihan, Yuspianal
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini berdasar hasil penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan dan menguraikan bagaimana organologi alat musik tradisional selober yang diliohat dari klasifikasi fisiknya pada Sanggar Selober Pejenengan Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Lombok Timur dengan menggunakan teori-teori organologi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Dari hasil penelitian ditemukan tentang : 1) organologi dan proses pembuatan alat musik tradisonal selober, terdiri dari : tingkat kekeringan, proses pemilihan bahan, proses pengerutan, proses pembuatan garis lidah, proses pembuatan bagian kepala dan kaki alat musik, dan proses penghalusan. 2) produksi nada pada alat musik tradisional selober yang terdiri dari nada yang dihasilkan oleh selober mame dan selober nine.
MARACAS, ALAT MUSIK UNTUK MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN SENI ANAK USIA DINI
Ramdhani, Sandy;
Suhirman, Suhirman;
Hadi, Yul Alfian;
Husni, MUhammad
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Musik merupakan salah satu kebutuhan dalam perkembangan anak salah satunya adalah seni music. Seni music menjadi sebuah kegiatan pembelajaran yang digunakan dalam mengembangkan kemampuan seni anak. Salah satu alat music yang digunakan adalah maracas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat penerapan alat music marakas dalam mengembangkan kemampuan seni anak usia dini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrument yang digunakan adalah lembar observasi dengan Teknik pengumpulan data adalah observasi. Sampel yang digunakan adaalah anak usia 4-6 tahun. Teknik analisis data menggunakan tringaluasi data. Hasil yang didapatkan adalah music marakas dapat meningkatkan kemampuan seni anak terutama seni musiknya. Anak dengan menggunakan music marakas menjadi bisa bervariasi dalam proses bermain musiknya. Music marakas juga sangat harmoni Ketika diikuti dengan lagu-lagu atau nyanyian. Selain itu bermain alat music marakas juga mampu meningkatkan kemampuan gerak anak terutama motoric halus anak.
HUBUNGAN ANTARA MUSIK DAN SASTRA DALAM UPACARA KAHIYA PADA MASYARAKAT MAWASANGKA KABUPATEN BUTON TENGAH SULAWESI TENGGARA
Watulea, Ilham
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kahiya sebagai salah satu kearifan lokal yang masih dipertahankan dan dilakukan oleh kelompok masyarakat Mawasangka. Meskipun telah banyak penelitian dalam konteks upacara kahiya yang telah dilakukan, namun penelitian ini dikategorikan sebagai sebuah penelitian yang masih belum banyak atau jarang dilakukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis irisan antara sastra dan musik serta pemaknaannya dalam upacara kahiya. Dalam konteks kebudayaan, kahiya tidak sekedar sebagai suatu bentuk upacara bagi masyarakat Mawasangka khususnya kaum wanita, namun juga sebagai pengalaman budaya. Bahasa dalam bentuk metafora yang disampaikan kepada para peserta kahiya dan iringan musik instrumental yang dihadirkan dalam pelaksanaan upacara ini memiliki tujuan, yakni sarana untuk mencapai, serta berupaya menghantarkan para peserta kahiya pada sebuah pemahaman untuk hidup di masa depan. Ini dimaksudkan agar para peserta kahiya dapat memahami, mengikuti dan mengamalkan suatu ajaran, yakni ketika berumah tangga dan menjalani hidup di lingkungannya. Singkatnya, bahwa penggunaan metafora berupaya melukiskan pemahaman pada suatu pengalaman atau keadaan tertentu dengan cara berbahasa yang lain, sedangkan musik yang dihadirkan sebagai pengiring serta membentuk suasana dalam prosesi upacara kahiya, dengan ajaran islam yang mendasarinya. Penelitian ini cenderung bersifat kajian literatur, namun merujuk pada hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang masih memiliki keterikatan dengan lokasi yang berbeda.
BAHASA PERLAWANAN DAN POLITIK TUBUH DALAM TEORI DRAMA PASCA-KOLONIAL HELEN GILBERT DAN JOANNE TOMPKINS
Khurosan, Herpin Nopiandi;
Yuliatin, Riyana Rizki
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This paper is a review and preparation of concepts, ideas and theoris of post-colonial drama in Helen Gilbert andTompkins?s sense. I use ?Post-Colonial Drama: Theory, Practice, Politics? as a main source of their ideas about post-colonial Drama. I limited this paper in theories of canonical counter-discourse, the language of resistance, and body politics in post-colonial context. The result of this reconstruction to their theories is developed to become theoretical and methodological framework which can be used to analyse post-colonial drama in later researches.
Formula dan Tema Syair Pengiring Tari Aceh Likok Pulo
Anwar, Humaira
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/tmmt.v2i2.2297
Likok Pulo Dance is one of the traditional dances from Aceh that is accompanied by song which called syair. Syair sung by the syeh throughout the dance. This dance originated from the Aceh Island (Pulau Aceh), Aceh Besar, Aceh, and was used as a way of preaching. As an oral literature, syair of the Likok Pulo Dance has formulas and themes. This study aims to describe the formula and theme. Descriptions of formulas and themes will be carried out with Albert Lord's formula and theme’s theory. This research method is a qualitative method with from the documents instrument. The results showed that the accompaniment of the Likok Pulo Dance contained the formula hai adôe, Allah, ya Allah, and the lon idang phrases. The theme for the accompaniment syair of the Likok Pulo Dance is zikir which is remember the God from the stories. This relates to the main purpose of the Likok Pulo Dance as one of the means of preaching in the past.
Organologi Selober pada Sanggar Selober Pejenengan Desa Pengadangan Pringgasela Lombok Timur
Baha, M Abdi;
Murcahyanto, Hary;
Imtihan, Yuspianal
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/tmmt.v2i2.2308
This paper aims to describe and describe the organology of a traditional musical instrument as seen from its physical classification at the Selober Pejenengan Studio in the Village of Inflation in the Pringgasela District, East Lombok using organology theories. The approach used in this research is descriptive qualitative. From the results of the study found about: 1) organology and the process of making a traditional musical instrument as follows, consisting of: the level of dryness, the process of selecting materials, the process of contracting, the process of making tongue lines, the process of making the head and feet of musical instruments, and the refinement process. 2) the production of tones on a traditional musical instrument that consists of tones produced by Selober Mame and Selober  nine.
Maracas, Alat Musik Untuk Mengembangkan Kemampuan Seni Anak Usia Dini
Ramdhani, Sandy;
Suhirman, Suhirman;
Hadi, Yul Alfian;
Husni, MUhammad
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/tmmt.v2i2.2290
Musik merupakan salah satu kebutuhan dalam perkembangan anak salah satunya adalah seni music. Seni music menjadi sebuah kegiatan pembelajaran yang digunakan dalam mengembangkan kemampuan seni anak. Salah satu alat music yang digunakan adalah maracas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat penerapan alat music marakas dalam mengembangkan kemampuan seni anak usia dini. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrument yang digunakan adalah lembar observasi dengan Teknik pengumpulan data adalah observasi. Sampel yang digunakan adaalah anak usia 4-6 tahun. Teknik analisis data menggunakan tringaluasi data. Hasil yang didapatkan adalah music marakas dapat meningkatkan kemampuan seni anak terutama seni musiknya. Anak dengan menggunakan music marakas menjadi bisa bervariasi dalam proses bermain musiknya. Music marakas juga sangat harmoni Ketika diikuti dengan lagu-lagu atau nyanyian. Selain itu bermain alat music marakas juga mampu meningkatkan kemampuan gerak anak terutama motoric halus anak.
Hubungan Antara Musik dan Sastra dalam Upacara Kahiya pada Masyarakat Mawasangka Kabupaten Buton Tengah Sulawesi Tenggara
Watulea, Ilham
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/tmmt.v2i2.2292
Kahiya as one of the local wisdoms that is still maintained and run by the Mawasangka people’s. Although there have been many studies in the context of the kahiya rites that have been done, this research is categorized as research that has not been done much. This study aims to analyze the relationship between music and poetry as well as the meaningful relationship in the kahiya rites. In a cultural context, kahiya is not only a form of rites for Mawasangka people’s especially women, but also as a cultural experience. Poetry in the form of a metaphor delivered to participants kahiya and instrumental accompaniment presented in the implementation of this rites has a purpose as a means to achieve something that is intended and to give participants kahiya to an understanding for life in the future. This is intended so that participants can understand, and practice teaching, when they get married and live in their environment. In conclusion, that the use of metaphors seeks to illustrate the understanding of certain experiences or situations using other languages, and while the music is presented as an accompaniment and forms the atmosphere in the kahiya rites procession, with Islamic teachings as the basic. This study tends to be a literature review, but refers to the results of previous studies that still have relationships with different locations.
Bahasa Perlawanan dan Politik Tubuh dalam Teori Drama Pasca-Kolonial Helen Gilbert dan Joanne Tompkins
Khurosan, Herpin Nopiandi;
Yuliatin, Riyana Rizki
TAMUMATRA Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29408/tmmt.v2i2.2294
This paper is a review and preparation of concepts, ideas and theoris of post-colonial drama in Helen Gilbert andTompkins’s sense. I use “Post-Colonial Drama: Theory, Practice, Politics†as a main source of their ideas about post-colonial Drama. I limited this paper in theories of canonical counter-discourse, the language of resistance, and body politics in post-colonial context. The result of this reconstruction to their theories is developed to become theoretical and methodological framework which can be used to analyse post-colonial drama in later researches.