PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Hikmah (PUTIH)
Naskah merupakan tulisan konsepsional atau hasil penelitian kajian ke Islaman bernuansa Tasawuf dan Thoriqoh dengan pendekatan yang bervariatif dan belum pernah diterbitkan dalam media lain baik cetak maupun Online. Dan dipandang memberikan kontribusi bagi pengembangan studi dan pemikiran Tasawuf da Thoriqoh.
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia baku, atau bahasa asing (Arab atau Inggris) spasi 1,5 cm, jenis front Times New Roman Arabic, ukuran front 12, dan ukuran Erta A4, serta dikirim email jurnal PUTIH, putih99@gmail.com, serta paling lambat dua bulan sebelum jurnal diterbitkan. Panjang tulisan adalah 20-25 halaman atau 7000-9000 kata.
Nama penulis naskah (tanpa gelar, jabatan, atau kepangkatan) dicantumkan disertai dengan nama lembaga tempat bekerja, alamat lembaga tempat bekerja, alamat korespondensi, alamat e-mail, nomor telepon kantor, rumah, atau seluler.
Articles
136 Documents
MENGENAL TAFSIR LATA‘IF AL-ISHARAT KARYA AL-QUSHAYRI: (Kerangka Metodologis dan Kecenderungan Ideologis)
Kusroni, Kusroni
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 2 (2019): PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH VOL IV NO 2
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v4i2.55
Penafsiran al-Qur’a>n dari masa ke masa mengalami banyak perkembangan dan sekaligus mengalami pergeseran epistemologi. Jika di masa abad-abad awal (era formatif), karya tafsir al-Qur’a>n lebih menekankan pada aspek periwayatan atau yang dikenal dengan tafsir bi al-ma’thu>r, maka pada perkembangan berikutnya, abad pertengahan, sudah mulai banyak terjadi pergeseran, terutama dalam aspek kecenderungan ideologis, selain aspek metodologis tentunya. Salah satu kecenderungan yang muncul dan berkembang hingga kini, adalah kecenderungan sufistik. Model ini biasanya muncul dari mufasir yang memiliki latar belakang tasawuf, seperti al-Qushairi, Ibn Arabi, dan al-Tusta>ri, dan lain-lain. Tulisan ini berupaya mendiskusikan salah satu karya tafsir yang ditulis oleh al-Qushairi, yakni tafsir Lat}a>’if al-Isha>ra>t. Fokus tulisan ini adalah upaya menguak kerangka metodologis dan kecenderungan ideologis dari tafsir yang cukup popular ini.
MAHKOTA SINGGASANA DALAM ISTANA SHUFIYAH: Kajian Ruang Lingkup Maqomat Dan Ahwal (Pangkat, Derajat dan Kedudukan Para Shufi Di Sisi Allah Swt.)
Syatori, Ahmad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 2 (2019): PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH VOL IV NO 2
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v4i2.56
Kajian ilmiah ini di dalamnya memuat ulasan tentang pendakian-pendakian (suluk) para shufiyah dalam menempuh suatu penjalanan yang sangat jauh menuju suatu tempat kesempurnaan di sisi Allah Swt. yang disebut dengan maqomat. Dalam uraian pembahasannya mengkaji seputar hal-hal yang berkaitan dengan pangkat, derajat dan kedudukan (maqomat) serta perilaku batin (ahwal ) para shufiyah dalam rangka shidqu al-tawajjuh menghadap Allah Swt. dengan penuh kesungguhan baik lahir maupun batin. Berangkat dan berawal dari sebuah perjalanan spiritual para shufi tersebut, maka kemudian jurnal ilmiah ini diberi judul dengan tajuk "Mahkota Singgasana Dalam Istana Shufiyah", yang maksudnya tiada lain adalah untuk menggambarkan tentang eksistensi dan kemuliaan-kemuliaan para shufiyah yang telah memiliki maqom (pangkat, derajat dan kedudukan) yang luhur dan berada dalam genangan kemakrifatan kepada Allah Swt. Mahkota adalah sebagai simbol penisbatan bagi seorang shufi yang telah mencapai suatu gelar atau pangkat mahkota kemakrifatan billah. Sedangkan singgasana digambarkan sebagai kedudukan atau derajat maqom tertentu bagi seorang shufi dalam maqomat yang ada. Adapun yang dimaksud dengan istana shufiyah tiada lain adalah puncak pendakian seorang shufi yang telah sampai (wushul) dan berada disuatu tempat yang luhur yakni kesempurnaan ma'rifat billah. Sungguh merupakan suatu kenikmatan, karunia dan anugerah yang sangat agung dan istimewa bagi hamba-hamba Allah, manakala mereka telah mampu mencapai dan meraih semua itu. Melalui berbagai proses dan latihan yang ketat (riyadloti nafs) serta disiplin diri yang kuat (mujahadati nafs) dalam rangka membentuk jiwa dan hati yang bersih, suci dan kosong (takholli ) dari sikap dan perilaku yang buruk dan tercela (akhlak madzmumah) serta menghiasi (tahalli) diri dengan sikap dan perilaku yang baik dan terpuji (akhlak mahmudah). Maka kemudian mereka sampai dan tersampaikan (wushul), tunduk dan bersimpuh di hadapan kekasihnya yang sejati Allah Swt. untuk menerima berbagai sirri-rahasia, hikmah dan hakikat (tajalli) yang luhur dari Dzat Yang Maha Agung dan Sempurna (Allah Swt.).
PENGARUH QIRA’AH MUTAWATIRAH DALAM HUKUM FIQH
Sari, Abu
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 2 (2019): PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH VOL IV NO 2
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v4i2.57
Qira’ah mutawatirah disepakati oleh mayoritas ulama sebagai varian dari bacaan al-Qur’an dan bahkan bagian dari al-Qur’an itu sendiri. Dan berakibat kufur bagi siapa saja yang mengikarinya. Namun demikian, ulama masih mempunyai sikap dan pandangan yang tidak sama mengenai qira’ah mutawatirah. Ada yang mengatakan, qira’ah mutawatirah hanya qira’ah tujuh, dan ada yang berpendapat juga tiga bacaan yang menyempurnakan tujuh bacaan itu yang kemudian disebut dengan qira’ah sepuluh. Selain itu, ulama juga tidak sependapat mengenai sisi kemutawatirannya, ada yang berasumsi kemutawatiran itu baik dalam asal maupun cabangnya. Ada juga yang mengatakan qira’ah tujuh itu mutawatirah, kecuali dalam hal penyampaiannya, seperti bacaan mad, imalah, membaca takhfif pada huruf Hamzah dan semisalnya, dan masih pendapat lainnya. Keberadaan qira’ah mutawatirah bukan hanya hadir sebagai varian bacaan dalam al-Qur’an, tetapi juga memberi dampak perbedaan penafsiran dalam dunia tafsir. Sehingga tidak heran jika kemudian berimplikasi pada perbedaan pengambilan hukum Fikih dari suatu ayat karena pengaruh qira’ah itu sendiri. Dalam tulisan ringkas ini, penulis mencoba menyajikan pengertian qira’ah mutawatirah dan pengaruhnya terhadap pengambilan hukum Fikih.
AL-ASIL: PENAFSIRAN AL QURAN DENGAN BAHASA ARAB
Haris, Fathul Haris
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 2 (2019): PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH VOL IV NO 2
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v4i2.58
Al Quran adalah kalam Allah yang dibawa Nabi SAW sebagai pedoman standart hidup yang benar. Ia diwahyukan secara langsung ke dalam hati Nabi untuk kemudian disampaikan dan dijelaskan (bayan) kepada umatnya sebagai tafsir terhadap wahyu yang diembannya. Sejak saat itu sebenarnya bentuk penafsiran sudah mulai ragam. Para sahabat sudah memulai menjadikan rasionya untuk memahami ayat (karena kebetulah al Quran satu bahasa dengan Bahasa mereka) sehingga tidak ada kesulitan bagi mereka untuk memahami Bahasa al Quran. Bahkan setelah Nabi wafat penafsiran dengan Bahasa Arab semakin kentara dilakukan. Sebagaimana ragam kisah persaksian para sahabat yang melakukan itu. ketika al-Quran adalah kitab yang menggunakan bahasa Arab, maka sudah semestinya kaidah bahasa Arab adalah T{ariqat (cara) untuk memahami maknanya, sebab tanpa menguasai kaidah-kaidah itu, kesalahan dan pemahaman yang buruk akan terjadi. Kaidah-kaidah tersebut termuat dalam tiga komponen penting ilmu Balaghah yaitu ilmu bayan, ilmu ma’ani dan ilmu badi’. Namun dua di antaranya yaitu Ilmu al-Bayan dan ilmu al-Ma’ani menjadi kunci penafsiran al-Qur’an, ia memiliki keterikatan secara khusus dengan ilmu tafsir. Karena dua ilmu tersebut dapat menjadi perantara untuk membuka beberapa hal dalam al-Qur’an: Pertama, nilai balaghah yang terdapat dalam al-Qur’an. Kedua, membuka rincian makna yang termuat dalam al-Qur’an. Ketiga, membuka nilai kemu’jizatan al-Qur’an.
KRITIK AL-GHAZALI TERHADAP PEMIKIRAN PARA FILOSOF
Rozi, Fathur
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 5 No 1 (2020): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. V No. 1
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v5i1.59
This study explains al-Ghazali’s argumentative criticism in Tahafut al-Falasifah. It aims to analyze the intentions of al-Ghazali’s argumentative refutation of other alleged rational thinkers considered by irfani epistemology as the cause of decline of Islam and to observe the method used by al-Ghazali in his argument. This study is a library research which is included in the qualitative research cluster. The result of study is that the intentions of al- Ghazali’s argumentative criticism are to discuss the twenty errors of Muslim philosophers, namely al-Farabi and Ibn Sina in matters of metaphysical philosophy. The method used by al-Ghazali is also the same as Aristotle’s criticism of Eudoxus, that is attacking Muslim philosophers in terms of the arguments they built, even labelling them as heretics and infidels/apostates. This method is known as argumentum ad hominem because it attacks Muslim philosophers when it comes to argumentation. It is built on the dialectical method of speech or in other terms known as jawab wa su’al which always recalls an imaginary trial. Keywords: Tahafut al-Falasifa, al-Ghazali, argumentative criticism
TEORI-TEORI IGNAZ GOLDZIHER DALAM STUDI HADIS
Arifin, Syamsul
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 5 No 1 (2020): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. V No. 1
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v5i1.60
Pemikiran Goldziher dalam kajian hadis sangat berpengaruh pada orientalis generasi selanjutnya, sehingga pemikiran-pemikirannya masih layak untuk diteliti ulang. Secara umum Ignaz tidak jauh berbeda dengan para orientalis lainnya dalam melakukan study hadis (eksistensi hadis), yang tidak lepas dari tiga kelompok besar skeptis, sanguine (non-skeptis), dan middle ground. Dari bahasan ini dapat diketahui bagaimana posisi intelektual Goldziher terutama dalam karyanya Mohammedanische Studien, teori-teori Golziher seperti merekontruksi istilah hadis dan sunnah dengan menggunakan pendekatan historis yang kritis dan skeptis. Metode kritik matan menjadi argumen bahwa hadis-hadis yang diyakini kesahihannya adalah palsu yang dibuat untuk kepentingan kekuasaan. Namun teori-teori itu kemudian dibantah oleh ilmuan hadis seperti Azami dan Musthafa al-Siba’i, dengan pembuktian teks-teks awal, dan penelusuran ulang terhadap argumentasi yang dipakai Goldziher, serta dikuatkan dengan pentatan hadis sejak masa Rasulullah SAW
Bahaya Hamba Bersandar Pada Amal: Perspektif Khauf dan Raja’
Yusuf, Moh
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 5 No 1 (2020): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. V No. 1
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v5i1.62
Khauf andraja' are among the elements of a structural composition of the human soul. The elements are provided by the Creator. These two elements will appear in humans in a certain condition or state of human experience. When khauf is excessive and dominates the human soul, it will lead to despair and result in disaster. Meanwhile, the raja'that propagates uncontrollably will lead to arrogance and turns into a loss. The emergence of khauf domination begins with the God servants’ attitude of excessively relying on their deeds or abilities. Meanwhile, the emergence of uncontrollably propagating raja' is caused by the same attitude towards the deeds. This character of dependence has made humans have minimum efforts towards Allah’s grace and His role as the Maker of the absolute policy of the acceptance and rejection of human deeds. There is a need for a continuous balance between khauf and raja' in order to eliminate the attitude of relying on the deeds and to build a comfortable inner harmony which lead to the mahabbah.
KARAKTERISTIK MANUSIA DALAM PANDANGAN TASAWUF
Syatori, Ahmad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 5 No 1 (2020): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. V No. 1
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v5i1.64
Kajian ilmiah ini didalamnya memuat penjelasan tentang identitas jati diri manusia dalam pandangan ulama shufiyah. Dalam uraian pembahasannya menyoroti mengenai hal-hal yang berkaitan dengan anatomi manusia dalam pembentukan karakter, jiwa dan kepribadiannya yang sempurna. Nilai dan ajaran tasawuf juga ternyata dapat dijadikan sebagai rujukan dan referensi dalam hubungannya dengan diri seseorang dan orang lain serta lingkungan dimana manusia hidup saling berinteraksi. Dari hubungan interaksi antara seseorang dengan orang lain itupula dapat diketahui tentang karakter, jiwa dan kepribadiannya masing-masing.Tasawuf tidak hanya menyoroti sisi bagian dalam diri manusia secara batin saja sebagaimana pandangan dan perkiraan kebanyakan orang secara umum, akan tetapi tasawuf sesungguhnya tasawuf juga menyoroti berbagai sisi dan segi kemanusiaan, baik yang ada dalam ruang dimensi tasawuf itu sendiri maupun ruang-ruang dimensi lainnya termasuk sisi bagian dalam karakteristik manusia. Sudut pandang tasawuf dalam kajiannya tidak bisa terlepas dari sudut pandang yang ada dalam kajian anatomi manusia, baik bagian dari dimensi dalam (batin) maupun bagian dimensi luar (dzohir). Adapun sudut pandang tasawuf dalam orientasinya terhadap dimensi batin lebih menitik beratkan pada nilai-nilai ajaran spiritual, sedangkan sudut pandang tasawuf dalam kaitannya dengan anatomi manusia lebih menitik beratkan pada bentuk psikologis secara lahir. Namun demikian, secara prinsip masing-masing sudut pandang tersebut tetap memiliki hubungan kesesuaian dan keterkaiatan yang saling mengikat di antara keduanya.
ESKATOLOGI AL-QURAN PERSPEKTIF TAFSIR SUFI-ISHARI: (Studi Penafsiran al-Qushairi atas Ayat Eskatologi dalam Tafsir Lata’if al -Isharat)
Kusroni, Kusroni
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 5 No 1 (2020): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. V No. 1
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v5i1.65
al-Qushayri dikenal sebagai salah satu mufasir sufi-ishari. Dua karyanya yang sangat masyhur dalam bidang tasawuf dan tafsir adalah al-Risalah al-Qusyariyah, dan Lata’if al-Isharat. Jika dibandingkan dengan mufasir sufi lainnya, al-Qushayri cenderung moderat dan tidak menuai banyak kritik, sebagaimana mufasir sufi lainnya. Penelitian ini bermaksud menelaah bagaimana perspektif sufi-isharimewarnai penafsirannya atas ayat-ayat eskatologi dalam Alquran. Penelitian ini berfokus pada penafsiran al-Qushayri pada surah al-Qiyamah. Penelitian ini menemukan bahwa nuansa sufi-ishari mewarnai penafsirannya atas surah al-Qiyamah, meskipun hanya dalam beberapa ayat. Penelitian ini juga menemukan bahwa meskipun al-Qushayri adalah seorang mufasir sufi, ia tidak meninggalkan pendekatan linguistik dan pendekatan berbasis tradisi (bi al-ma’thur) dalam penafsiran.
SAKARATUL MAUT Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Dampak Positifnya: (Pendekatan Deskriptif-Analisis)
Sari, Abu
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 5 No 1 (2020): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. V No. 1
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51498/putih.v5i1.66
Sakaratul maut adalah istilah untuk menyebutkan penderitaan yang dialami setiap manusia ketika dicabut nyawanya. Pencabutan nyawa ini disebut dengan naza’. Mungkin saja ada orang beranggapan bahwa sulitnya seseorang ketika mengalami naza’ adalah pertanda ia mati dengan tidak baik. Dengan pendekatan deskriptif-analisis, penulis ingin mencoba mengumpulkan data-data terkait dan mengurainya untuk menemukan pemahamn yang utuh tentang sakaratul maut. Penelitian ini berkesimpulan, menurut mayoritas ulama penderitaan sakaratul maut berlaku untuk setiap manusia. Bahkan, terkadang Allah SWT sengaja mempersulit kematian seseorang untuk menaikkan derajatnya, atau untuk menghapus kesalahannya.Oleh karena itu, kesudahan seseorang, apakah baik atau buruk tidak bisa dinilai dengan penderitaan dan sulitnya seseorang ketika mengalami naza’. Sikap yang bijaksana tentu selalu berbaik sangka kepada setiap orang yang beriman, walaupun secara kasyaf mata kita pernah melihat ada orang yang sepertinya mengalami penderitaan menjelang ajalnya.