cover
Contact Name
Syamsul Arifin
Contact Email
mahadalyalfithrah99@gmail.com
Phone
+6285103006049
Journal Mail Official
mahadalyalfithrah99@gmail.com
Editorial Address
Jl Kedinding Lor 99 Surabaya 60129, Kel. Tanah Kali Kedinding Kec. Kenjeran Kot. Surabaya Jawa Timur
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH
Published by Ma'had Aly Al Fithrah
ISSN : 25987607     EISSN : 2622223x     DOI : -
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Hikmah (PUTIH) Naskah merupakan tulisan konsepsional atau hasil penelitian kajian ke Islaman bernuansa Tasawuf dan Thoriqoh dengan pendekatan yang bervariatif dan belum pernah diterbitkan dalam media lain baik cetak maupun Online. Dan dipandang memberikan kontribusi bagi pengembangan studi dan pemikiran Tasawuf da Thoriqoh. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia baku, atau bahasa asing (Arab atau Inggris) spasi 1,5 cm, jenis front Times New Roman Arabic, ukuran front 12, dan ukuran Erta A4, serta dikirim email jurnal PUTIH, putih99@gmail.com, serta paling lambat dua bulan sebelum jurnal diterbitkan. Panjang tulisan adalah 20-25 halaman atau 7000-9000 kata. Nama penulis naskah (tanpa gelar, jabatan, atau kepangkatan) dicantumkan disertai dengan nama lembaga tempat bekerja, alamat lembaga tempat bekerja, alamat korespondensi, alamat e-mail, nomor telepon kantor, rumah, atau seluler.
Articles 136 Documents
LINGKARAN SPIRITUAL DALAM BEDAH RELASI MURSHID DAN MURID Syatori, Ahmad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 3 No 1 (2018): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.07 KB) | DOI: 10.51498/putih.v3i1.20

Abstract

?? ??? ?????? ????? ??? ??? ??????? ??? ??????? (???????) ??? ??? ???? ????? ????? ??????? ?????? (????) ?? ????? ????? ???? ???? ?????? ????? (????). ??? ?????? ?? ???????? ??? ????? ?? ????? ?? ??? ????? ????? ???? ??????? ??? ????????? ? ???? ?????? ??????? ???? ????? ??? ?????? ??????? ??????. ?? ?????? ????? ????????? ???? ???? ????? ?????? ???? ?? ????? ??? ?????? ???????? ??????? ?????? ?????? ????. ???? ?? ??? ??????? ???? ???? ?????? ????? ? ????? ????? ?????? ?? ????? ????? ????? ??????? ???? ???? ??? ???????. ???? ?? ?????? ??? ???????? ???? ???? ??? ?? ???? ??????? ? ????? ???? ???? ?????? ?? ?????? ??????? ?????? ??????? ???????????. ?? ?? ?????? ?? ????? ???? ???? ??? ?????? ? ?? ???? ????. ???? ???? ??????? ??????? ?????? ??????? ???? ? ?? ????. ????? ?? ??????? ??? ?????? ???? ?????? ?? ??? ?? ????? ?? ??????. ?????? ???? ? ????? ?? ????? ?????. ?? ???? ???? ???? ?????? ????? ???????. ??? ????? ?? ???? ?????? ?? ???? ?? ?????? ??????? ?? ??? ????? ?????????. ??? ??? ????? ??? ????? ?????? ?????? ???? (????) ???????? ????? ???? ?????? ???????? ?????? ?????. ???? ??? ?????? ??? ????? ?? ??????? ??? ?????? ???? ???? ???? ?????? ?? ????? ?????? ??????? ?????????? ???? ???? ??? ???? ???? ?????????
METODE MEMBANTAH SUHBAH KELOMPOK PENGINGKAR SUNNAH Arifin, Syamsul
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 3 No 1 (2018): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.036 KB) | DOI: 10.51498/putih.v3i1.27

Abstract

Penelitian ini adalah kajian pustaka (library research) atas term shubhah dalam ilmu hadis yang dikaji dengan metode kualitatif, dan dianalisa dengan menggunakan teknik anaslis isi (content analysis) yaitu dengan membuat kesimpulan tentang term shubhah, faktorfaktor penyebab kemunculan, dan cara mengatasinya dengan kaidahkaidah yang disusun untuk mencegah dan mematahkan argumen para pengingkar sunnah, dari premis-premis mayor menjadi premispremis-minor secara objektif dan sistematis dengan mengidentifikasi karekteristik spesifikasinya dari pesan-pesan yang termuat dalam karya-karya ulama hadis terutama yang mengkaji term shubhah. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa shubhah sangat berdampak buruk sekali terhadap eksistensi dan otentisitas hadis dan sulit diketahui. Subhah merupakan pedoman bagi orang yang tidak mengetahui kebenaran. Atau Berpura-pura tidak mengetahui kebenaran dengan menggunakannya sebagai alat untuk memuluskan perkara yang tidak benar, termasuk menghilangkan eksistensi dan otentisitas hadis. Faktor-faktor yang melatar belakangi munculnya shubhah sekalipun banyak macamnya namun secara garis besar tidakterlepas dari 5 (lima) hal pokok yaitu; a) memusuhi Islam dan sunnah, b) Bid’ah dan kepentingan pribadi, c) Perbedaan budaya dan kondisi sosial, d) Taqlid buta, e) kebodohan. Sedangkan metode yang digunakan untuk menghadapi shubhah ada dua langkah yang dapat diambil pertama langkah pencegahan yaitu; a) Mengokohkan hati dalam memasrahkan diri kepada Allah dan rasul-Nya, b) dan Tidak mendekati hal-hal yang berbau shubhah. Kedua langkah untuk menghancurkan shubhah yaitu; a) Melakukan penelitian secara menyeluruh, b) Memetakan sumber dan faktor-faktor penyebabnya, c) Mengkompromikan antar nass yang berkontradiksi secara tekstual, d) Mematahkan pernyataan dan argumen kelompok pembuat shubhah. e) Memotong sumber dan penyebab shubhah. Karena sifat shubhah ini sangat abstrak maka kajian terhadap shubhah ini perlu dikembangkan, agar hadis benarbenar terjaga eksistensi dan otentisitasnya.
al-Munqiz Min al-Dhalal: Sebuah Upaya Pembacaan Epistemologis -, Kusroni
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 3 No 1 (2018): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.969 KB) | DOI: 10.51498/putih.v3i1.28

Abstract

Abu Hamid al-Ghazali dikenal sebagai tokoh Islam dengan julukan Hujjatul Islam. Ia dikenal sebagai ulama yang multi talenta, dan menghasilkan berbagai karya otoritatif dalam berbagai cabang keilmuan Islam, mulai dari Teologi, Fiqih, Ushul Fiqh, Filsafat, dan Tasawuf. Hal yang menarik dari sosok al-Ghazali ini adalah bahwa ia menulis sebuah karya otobiografi yang menggambarkan proses perjalanan panjangnya dalam dunia intelektual maupun spiritual.
Al-DAKHIL: Subtansi dan Implikasinya dalam Tafsir -, Syaoqi
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 3 No 1 (2018): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.707 KB) | DOI: 10.51498/putih.v3i1.30

Abstract

Kegiatan menafsir al-Quran merupkana kegiatan yang telah lama dipraktekkan sejak kehidupan Nabi saw bersama para sahabatnya. Nabi saw menjelaskan ayat demi ayat dengan sangat jelas kepada para sahabatnya, dengan itulah maka Nabi saw merupakan mufassir atau mubayin pertama al-Quran. Setelah Nabi saw wafat, kegiatan mengkaji dan menafsir al-Quran semakin kuat semakin semarak, sampai pada masa abad ke-2 H kegiatan menafsir telah dikodifikasi dan telah menjadi disiplin (fun) ilmu tersendiri. Tidak menjadi hal baru jika kegiatan mulia tersebut mengilhami ulama selanjutnya untuk terus mengembangkan dan mengaviliasi subtansi penafsiran yang relevan dengan kondisi dan situasi. Namun, dari sekian rangkaian dan mata rantai penafsiran tersebut dalam prosesnya banyak dijumpai subtansi penafsiran yang melenceng dan tidak sesuai dengan kehendak teks. Salah satu faktornya adalah sublimasi alam pikir (ra’y) mufasir yang notabene liar dalam upaya mengungkap dimensi teks, sehingga teks tersebut mengejewantah menjadi pemahaman teks yang buram (dakhil). Berangkat dari hal itu, maka tulisan ini akan mengurai indikasi-indikasi penyelundupan pemahaman teks secara akal (dakhil al-ra’y) yang telah berhasil melumuri penafsiran. Tulisan ini akan menyajikan diagnosa akurat terkait dakhi>l al-ra’y sebagai upaya menyelamatkan otentisitas pemahaman teks dari virus-virus tersebut.
PRO KONTRA NASIKH MANSUKH DALAM AL-QUR’AN Khudori, Muhammad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 3 No 1 (2018): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.186 KB) | DOI: 10.51498/putih.v3i1.31

Abstract

One of the methods used to understand the content of the verses which at first glance shows the symptoms of contradiction between one another is the theory of naskh (nasikh-mansukh). Al-Naskh in the terms of the usul’stheologians is the annulment of the enactment of shar‘i law with the postulate that came later which shows the cancellation of the law's enforcement explicitly or implicitly, with the total or partial cancellation, because of a welfare that wants it. In the theory of completion of postulates that are technically considered contradictory, this theory ranks third after al-jam‘u wa al-tawfiq (comparation) and tarjih (featuring one of the postulates). But in his journey the theory of naskh in al-Qur'an experiencing debate among the theologians. Faction majority argues that naskh occurs in the Qur'an. This group at once confirms that naskh is one option of textually contradictory verses after the theory of jam‘u and tarjih can not solve it. While some theologians led by Abu Muslim al-Asfahani argue that in the Qur'an does not apply the naskh, so practically according to this group, the completion of textually contradictory verses only using the theories of jam‘u and tarjih. According to them, all contradictory verses can be compromised without having to abort other verses. The majority of theologians argue that the naskh is reasonably not impossible, because it is purely preogrative right of Allah Swt. While the Abu Muslim’sfaction argues that the Naskh is a cancellation of the law, so that if among the laws that exist in the Qur'an being naskh, means there are verses that are abrogated Qur'an. This is certainly contrary to the word of Allah Almighty. "Falsehood cannot approach it(al- Qur’an) from before it or from behind it; it is a revelation from a Lord who is Wise and Praiseworthy." [Q.S. Fussilat: 42]
IMPLEMENTASI WAZIFAH SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN SIKAP SPIRITUAL SANTRI Abdulloh, Mochamad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 3 No 1 (2018): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.215 KB) | DOI: 10.51498/putih.v3i1.32

Abstract

Dalam kurikulum pendidikan nasional tahun 2013 disebutkan bahwa kompetensi inti peserta didik salah satunya adalah “sikap spiritual”. Akulturasi spiritualitas Islam dalam bentuk sikap merupakan bahasan yang mendalam oleh para ahli tasawuf. Bahasan tersebut menyangkut maqamat (tingkat pendakian rohani) dan al-ahwal (keadaan batin). Pembentukan sikap spiritual peserta didik bagi sebuah lembaga pendidikan merupakan sebuah tantangan tersendiri dengan belum adanya konsep yang tepat dari pemerintah selaku policy maker kurikulum pendidikan nasional. Tulisan ini merupakan sebuah penelitian yang berusaha mengkaji teori dan praktek pembentukan sikap spiritual guna mencari konsep yang tepat dalam pembentukan sikap spiritual peserta didik pada umumnya dan santri pada khususnya. Obyek penelitian ini adalah Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah (PAF) Surabaya yang memiliki program “wazifah”, suatu istilah untuk amaliah siang dan malam hari serta kegiatan-kegiatan lain diluar program pembelajaran kelas yang telah ditetapkan oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqy yang harus diikuti oleh semua santri untuk dijalankan secara istikamah. Dari data penilitian dapat disimpulkan bahwa konsep wazifah PAF merupakan konsep yang holistik. Semua pelaksanaan wazifah oleh santri PAF akan bermuara pada satu titik, yakni “sidq al-tawajjuh” yang ini merupakan roh dari tasawuf dan tarekat. Wazifah yang dijalankan oleh santri PAF adalah juga suatu metode untuk menghasilkan yakin dalam diri yang ini merupakan penghantar untuk melanjutkan perjalanan spiritual dalam pendakian maqamat dalam dunia tasawuf-tarekat. Implementasi wazifah PAF merupakan implementasi konsep maqamat KH. Achmad Asrori al-Ishaqy. Dengan pelaksanaan wazifah secara istikamah santri akan terlatih spiritualitasnya, hingga sikap spiritual dapat terbentuk.
KONSEP SHAFA’AH DALAM AL-QUR’AN: (Perspektif al-Alusi dalamTafsir Ruh al-Ma’ani) Bashori, Achmad Imam
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 3 No 1 (2018): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1029.818 KB) | DOI: 10.51498/putih.v3i1.33

Abstract

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah swt. sebagaipetunjuk dan jalan hidup bagi umat manusia. Tidak diturunkansedikitpun di dalamnya kecuali dengan adanya tujuan dan hikmah.Di antara tujuan yang terkandung dalam al-Qur’an adalahmemperbaiki akidah yang mengukuhkan akal sehat, ibadah yangmendekatkan diri kepada Tuhan-Nya dan mensucikan jiwa hamba,serta ajaran untuk menegakkan hubungan antara manusia denganasas kebenaran dan keadilan.Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, pada prakteknya haruslahmemberi manfaat yang riil pada kehidupannya. Sebagai bentukpengejewantahan aksiologis al Qur’an dalam kehidupan manusia,maka menjadi kewajiban ilmu Tafsir untuk menawarkanepistemoliginya agar mampu beradaptasi dengan kondisi psiko-sosiodan kultur yang dihadapi manusia. Maka dengan hadirnya ilmuasbabun nuzul ini, diharapkan mampu menjembatani al Qur’an dankehidupan manusia, karena menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an denganmengetahui sisi kejadian dan hal-hal yang berkaitan denganturunnya ayat-ayat al-Qur’an mampu membawa manusia membukatabir yang tersimpan dalam al Qur’an.Al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Setiap ayat yang diturunkansenantiasa berinteraksi dengan budaya dan perkembanganmasyarakat yang dijumpainya. Meski demikian, nilai-nilai dalam al-Qur’an tetap dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi. Tentuada rahasia-rahasia tersembunyi kenapa Allah melalui Nabi-Nyamengurutkan ayat-ayat dan surah-surah al-Qur’an tidak berdasarkanturunnya al-Qur’an akan tetapi berdasarkan urutan yang ada padasaat ini. Sehingga muncul sebuah disiplin ilmu yang disebut sebagai‘ilm al-munasabah yaitu cabang ilmu dalam ‘ulum al-Qur’an yang mencakup dasar-dasar dan permasalahan-permasalahan yangberkaitan erat dengan sebab atau alasan kesesuaian urutan antarabagian-bagian dalam al-Qur’an, antara satu dengan yang lainnya.Telah menjadi ketetapan para mufassir bahwa menafsirkan ayat-ayatal-Qur’an harus sesuai dengan kaidah-kaidah penafsiran dandilakukan dengan langkah-langkah atau metode penafsiran yangbenar, sehingga melahirkan sebuah penafsiran yang sesuai denganapa yang menjadi ketetapan ayat-ayat al-Qur’an. Menafsirkan ayatayatal-Qur’an secara tidak menyeluruh (parsial) dan tidakmempertimbangkan aspek historis turunnya ayat al-Qur’an sertatidak memperhatikan munasabah antar ayat al-Qur’an dapatmenimbulkan kesalahan dalam mehahami isi kandungan al-Quran,salah satu contohnya adalah memahami tentang konsep shafa’ah ,hal tersebut dikarekan sebagian ayat secara sepintas menafikanadanya shafa’ah sedaAl-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah swt. sebagaipetunjuk dan jalan hidup bagi umat manusia. Tidak diturunkansedikitpun di dalamnya kecuali dengan adanya tujuan dan hikmah.Di antara tujuan yang terkandung dalam al-Qur’an adalahmemperbaiki akidah yang mengukuhkan akal sehat, ibadah yangmendekatkan diri kepada Tuhan-Nya dan mensucikan jiwa hamba,serta ajaran untuk menegakkan hubungan antara manusia denganasas kebenaran dan keadilan.Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, pada prakteknya haruslahmemberi manfaat yang riil pada kehidupannya. Sebagai bentukpengejewantahan aksiologis al Qur’an dalam kehidupan manusia,maka menjadi kewajiban ilmu Tafsir untuk menawarkanepistemoliginya agar mampu beradaptasi dengan kondisi psiko-sosiodan kultur yang dihadapi manusia. Maka dengan hadirnya ilmuasbabun nuzul ini, diharapkan mampu menjembatani al Qur’an dankehidupan manusia, karena menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an denganmengetahui sisi kejadian dan hal-hal yang berkaitan denganturunnya ayat-ayat al-Qur’an mampu membawa manusia membukatabir yang tersimpan dalam al Qur’an. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap. Setiap ayat yang diturunkansenantiasa berinteraksi dengan budaya dan perkembanganmasyarakat yang dijumpainya. Meski demikian, nilai-nilai dalam al-Qur’an tetap dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi. Tentuada rahasia-rahasia tersembunyi kenapa Allah melalui Nabi-Nyamengurutkan ayat-ayat dan surah-surah al-Qur’an tidak berdasarkan turunnya al-Qur’an akan tetapi berdasarkan urutan yang ada padasaat ini. Sehingga muncul sebuah disiplin ilmu yang disebut sebagai‘ilm al-munasabah yaitu cabang ilmu dalam ‘ulum al-Qur’an yang ngkan sebagian yang lain menetapkankeberadaan shafa’ah . mencakup dasar-dasar dan permasalahan-permasalahan yang berkaitan erat dengan sebab atau alasan kesesuaian urutan antara bagian-bagian dalam al-Qur’an, antara satu dengan yang lainnya. Telah menjadi ketetapan para mufassir bahwa menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an harus sesuai dengan kaidah-kaidah penafsiran dan dilakukan dengan langkah-langkah atau metode penafsiran yang benar, sehingga melahirkan sebuah penafsiran yang sesuai dengan apa yang menjadi ketetapan ayat-ayat al-Qur’an. Menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an secara tidak menyeluruh (parsial) dan tidak mempertimbangkan aspek historis turunnya ayat al-Qur’an serta tidak memperhatikan munasabah antar ayat al-Qur’an dapat menimbulkan kesalahan dalam mehahami isi kandungan al-Quran, salah satu contohnya adalah memahami tentang konsep shafa’ah , hal tersebut dikarekan sebagian ayat secara sepintas menafikan adanya shafa’ah sedangkan sebagian yang lain menetapkan keberadaan shafa’ah.
TAFSIR RUH AL-BAYAN KARYA ISMA’IL HAQI DAN PANDANGANNYA TENTANG TAFSIR DENGAN PENDEKATAN SUFI-ISHARI Kusroni, Kusroni
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.575 KB) | DOI: 10.51498/putih.v4i1.37

Abstract

This paper discusses the existence of one interpretations approach that developed quite rapidly in the interpretation of Alquran, that is the Sufi approach or ishari. In the eighteenth century AD was born a scholar in the city of Aidos, Turkey, named Isma'il Haqi. This ulama was born and grew up in a Sufi environment and the family that adheres to the tarekat, therefore, he becomes a Sufi scholar and has competence in the field of Al-Qur'an Interpretation. The Book of Ruh al-Bayan Fi Tafsir al-Qur'an is magnum-opus in the field of interpretation. In this book he uses the Sufi-ishari approach in interpreting verses of Quran. In his view, the interpretation of ishari is the result of ma'rifat, if there is no element in it deviations from the Qur'an and al-Sunnah, and not based on the interests of desire when interpreting as what has done by some inner groups. .
AIR MANAQIB Nashiruddin, Nashiruddin
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.171 KB) | DOI: 10.51498/putih.v4i1.38

Abstract

<p><Font face="Times New Arabic" size="2"><div style=text-align:justify;> One of the religious programs aimed to improve Santri Al Fithrah 's spiritual potential in particular, and Jama'ah or followers of Shaykh Achmad Asrori Al-Ishaqy by General, is the Manaqiban Council, that is a religious ritual containing the recitation of pray together, Istighatsah, reading Yasin letter, Reading manaqib (Biography) of Shaykh Abdul Qodir al-jilany, then completed by the reading of the Prophet's maulid. The purpose of this event is doing tawassul with teachers in trying to get closer to Allah SWT. So kind of the activities is also called Shilaturruhiyyah. There is something interesting in the event, that is every activity of the Council Manaqiban can be ascertained that Jama'ah who follow The event surely will bring or put mineral water on surrounding with the bottle cap opened condition. Apparently, the water has own special value for them, it was proved that the water then called "Air Manaqib." This issue includes to the Humanities issue (the matter of human behavior), therefore, to reveal the matter deeply and thoroughly, then the study used qualitative method. Because Qualitative methods are more adaptable to the Environment condition.</br>From the research findings it was found that Santri or Jama'ah of the Manaqib event assumed that the water of manaqib can be used as: (1) Media of various medications of physical diseases, (2) Facilitate labor process, (3) Supernatural protect from bad influence and as a trading master.</br>Otherwise, the way of usage according to them is no standard method or rule, but the method frequently tobe used is by drinking.</br>After the research was done more deeply, it was found that such behavior, the treatment uses Water media has also been carried out by some Salaf scholars even though it is not called water of manaqib, but it has same substance, namely tabarrukan Judging from the view of science (scientific), with reference to the discovery of Masaru Emoto, that the nature of water can respondan information, instruction or prayer, and water that has been received message or prayer, the quality is getting higher, it means the quality of the Manaqib water is also higher. Thus, the utilization of Manaqib water is good judged from religious or science point of view can be accounted for the truth.</br> .</font></div>
KONTAMINASI AL QUR’AN DENGAN BAHASA-BAHASA KABILAH ARAB DAN NON ARAB (‘AJAM) MENJADI METODE PEREKAT UMAT Mustofa, Ahmad
PUTIH: Jurnal Pengetahuan Tentang Ilmu dan Hikmah Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah
Publisher : Mahad Aly Al Fithrah Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.792 KB) | DOI: 10.51498/putih.v4i1.39

Abstract

Before Islam came the Arab nation was a nation branch out that has a diversity of languages, civilization and culture. In the time of their glory they were known with their hard, fanatical character and pleasure in poems (Poetry) that have literary values High language. The poems are made as their expertise and honor in pride proud of his own tribe by holding it the beauty poetry contest on the market known as Suqu ‘Ukaz where each of the most beautiful poems will be posted on the wall ka'bah besides that the world criticizes each other Language is not a thing the taboo at that time but is a necessity that has been entrenched. Language and literary criticsvery fond of criticizing every occurrence of language and poetry just as An Nabighah Al Dzibani got it the nickname of Hamra 'Qubbah (Red Dome) in judgment a literary work1. The world criticizes it as it continues continued until Al Quran was revealed to the prophet Muhammad SAW so it cannot be denied if the Qur'an also received scathing criticism from infidels Makkah. With so many tribes there is dialegpun diverse where each tribe has a language difference and dialeg, this diversity of languages ??continues to stick from time to time the time until Islam came. Some of the prophet's friends read Al The Quran with the dialeg of their own tribe is this is the reason for the emergence of differences in reading in Al The Quran but despite this every narrated passage from friends is true the law is due to them reciting the reading before the prophet directly. Indications that say that the Qur'an is contaminated with the languages ??of the Arabic (local) tribe and the Non Arabic Language (‘Ajam) is a prophetic hadith which reads" Sab'atu Ahruf ". many interpretations are appreciated by the figures and Islamic scholars regarding the words of the prophet however diatntara the most opinion is that opinion said that what was meant by "Sab'atu Ahruf" are some of the most eloquent Arabic languages while the number seven in the editor of the hadith is only as a sign of the number of languages ??loaded. .

Page 2 of 14 | Total Record : 136


Filter by Year

2016 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 2 (2025): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. X No. II Vol. 10 No. 1 (2025): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. X No. I Vol 9 No 1 (2024): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. IX No. 1 Vol. 9 No. 2 (2024): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. IX No. II Vol. 9 No. 1 (2024): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. IX No. I Vol 8 No 2 (2023): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VIII No. 2 Vol 8 No 1 (2023): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VIII No. 1 Vol. 8 No. 2 (2023): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VIII No. II Vol. 8 No. 1 (2023): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VIII No. I Vol 7 No 2 (2022): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VII No. 2 Vol 7 No 1 (2022): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VII No. 1 Vol. 7 No. 2 (2022): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VII No. II Vol. 7 No. 1 (2022): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VII No. I Vol 6 No 2 (2021): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VI No. 2 Vol 6 No 1 (2021): Putih: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VI No. 1 Vol. 6 No. 2 (2021): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VI No. II Vol. 6 No. 1 (2021): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. VI No. I Vol 5 No 2 (2020): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. V No. 2 Vol 5 No 1 (2020): PUTIH: Jurnal Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol. V No. 1 Vol 4 No 2 (2019): PUTIH JURNAL PENGETAHUAN TENTANG ILMU DAN HIKMAH VOL IV NO 2 Vol 4 No 1 (2019): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol 3 No 1 (2018): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol 2 No 1 (2017): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah Vol 1 No 1 (2016): PUTIH JURNAL Pengetahuan tentang Ilmu dan Hikmah More Issue