cover
Contact Name
sarman
Contact Email
sarman.jaya@yahoo.co.id
Phone
+62401-3084783
Journal Mail Official
sarman.jaya@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Journal Idea of History
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25987828     EISSN : 26144395     DOI : -
Journal Idea of History diterbitkan untuk menghidupkan atmosfer akademik di Jurusan Ilmu Sejarah FIB UHO. Keberadaan jurnal ini bertujuan untuk mengaktualisasikan hasil penelitian dosen dan mahasiswa di bidang ilmu sejarah. Penerbitan jurnal untuk periode Agustus 2017 ini merupakan serial pertama tahun pertama penerbitan atau volume pertama nomor 01. Beberapa hasil penelitian yang diterbitkan dalam edisi perdana ini merupakan hasil penelitian mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Universitas Halu Oleo.
Articles 104 Documents
PENYEBARAN AGAMA KATOLIK DI DESA WAALE-ALE KECAMATAN TONGKUNO SELATAN KABUPATEN MUNA: 1932-2017 Erni Adriani Adriani; Hamuni Hamuni
Journal Idea of History Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 Nomor 1, Januari - Juni 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1248.495 KB) | DOI: 10.33772/history.v2i1.672

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penyebaran agama Katolik di Desa Waale-Ale Kecamatan Tongkuno Selatan Kabupaten Muna (1932-2017). Metode yang digunakan dalampenelitian ini adalah metode sejarah yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo yang terdiri dari limatahapan, yaitu: (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi sumber, (4) interprestasisumber, dan (5) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pada tahun 1932 agamaKatolik mulai masuk di Desa Waale-Ale yang dibawa oleh para Missionaris Barat bernamaAntonius Brokker. Masuknya agama Katolik di Desa Waale-Ale diawali oleh kedatangan YohannesSples untuk melakukan penelitian dan menyurvei tingkat kehidupan masyarakat Desa Waale-Ale.Agama Katolik di Desa Waale-Ale masuk melalui jalur ekonomi, pendidikan, sosial, dan kesehatan. (2) Perkembangan Agama Katolik di Desa Waale-Ale pada 1932-2017 terbagi atastujuh periode, yaitu (a) Periode persiapan, (b) Periode kedatangan Pastor Antonius (c) Periodedatangnya penjajahan Jepang, (d) Periode titik fokus penyebaran ajaran Katolik (1945-1950) , (e)Periode awal perkembangan agama Katolik (1950-1965), (f). Periode 1965-1991 (g) Periode stabil(1991-2017). (3) Pola kehidupan sosial dan budaya masyarakat di Desa Waale-ale dapat dilihat daripelaksanaan tradisi sangia warumbei yang dilakukan oleh masyarakat Waale-Ale tiap empat hari sebelum tibanya bulan Ramadhan. Tradisi tersebut dilakukan oleh kedua penganut agama yang berbeda yang hidup di Desa Waale-ale dan masih dilakukan sampai sekarang.
SENGKETA TANAH DI KELURAHAN SARA’EA KECAMATAN KULISUSU KABUPATEN BUTON UTARA: 2007-2017 Elfina Elfina; Hayari Hayari
Journal Idea of History Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 Nomor 1, Januari - Juni 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.134 KB) | DOI: 10.33772/history.v2i1.673

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang penyebab terjadinya sengketa tanah di Kelurahan Sara’ea Kecamatan Kulisusu Kabupaten Buton Utara beserta upaya-upayapenyelesaian sengketa tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarahmenurut Kuntowijoyo yang terbagi lima tahap yaitu: (1) Pemilihan Topik, (2) Heuristik, (3)Verifikasi, (4) Interpretasi, dan (5) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)Sengketa tanah di Kelurahan Sara’ea terjadi antara masyarakat dengan masyarakat, dan antaramasyarakat dengan Pemerintah/swasta. Pada umumnya sengketa antarmasyarakat merupakansengketa antarkeluarga. Sengketa antarmasyarakat terjadi karena adanya kesalahpahaman dankecurangan antarkeluarga yang menjual tanah tanpa kesepakatan bersama. Sengketa yang terjadiantara masyarakat dengan Pemerintah disebabkan oleh munculnya pihak-pihak yang mengklaimtanah yang telah dibeli oleh Pemerintah. (2) Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah untukmenyelesaikan sengketa tanah di Kelurahan Sara’ea yaitu melalui negosiasi dan mediasi.
SEJARAH PERPUSTAKAAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA: 1980-2016 Rahmah Rahmah; Syahrun Syahrun
Journal Idea of History Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 Nomor 1, Januari - Juni 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1301.332 KB) | DOI: 10.33772/history.v2i1.674

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah Perpustakaan Daerah ProvinsiSulawesi Tenggara: 1980-2016. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarahyang dikemukakan oleh Kuntowijoyo yang terdiri dari lima tahapan yaitu: (1) Pemilihan topik, (2)Pengumpulan sumber, (3) Verifikasi sumber, (4) interpretasi sumber, (5) Historiografi. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa: (1) Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara pada awalnyaberdiri sejak tahun 1980. (2) Pengelolaan Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggaraberperan penting untuk memberikan informasi. (3) Perkembangan Perpustakaan Daerah ProvinsiSulawesi Tenggara seiring dengan perkembangan jumlah pegawai, koleksi dan pengunjung. (4)Sistem manajemen Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara mulai dari perencanaan,pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi.
UPACARA HAROA PADA MASYARAKAT BUTON ANTARA TRADISI DAN BUDAYA ISLAM Aswati Mukadas
Journal Idea of History Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 Nomor 1, Januari - Juni 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.136 KB) | DOI: 10.33772/history.v2i1.675

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi haroa pada masyarakat Buton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari:heuristik, verifikasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara haroa (bacabaca) merupakan upacara syukuran masyarakat Buton. Upacara ini dapat diidentikkan denganupacara tolak bala yakni memanjatkan rasa syukur kepada Allah Swt yang kerap diselenggarakanhampir seluruh masyarakat Pulau Buton umumnya. Upacara haroa pada masyarakat Buton telahmengalami perubahan di mana dahulu dikerjakan secara bersama-sama lalu berubah dalam skalakecil yakni hanya sebatas dalam lingkungan keluarga saja. Adapun nilai-nilai yang terkandungpada upacara haroa yakni nilai religius, nilai budaya, dan nilai sosial.
BENTENG SORAWOLIO DALAM SISTEM PERTAHANAN KESULTANAN BUTON ABAD XVII Nur Hatmini; Aslim Aslim
Journal Idea of History Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 Nomor 1, Januari - Juni 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.856 KB) | DOI: 10.33772/history.v2i1.676

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah Benteng Sorawolio beserta kedudukannya bagi Kesultanan Buton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metodesejarah oleh Kuntowijoyo yang menjelaskan lima tahap penelitian sejarah, yaitu: (a) Pemilihantopik, memilih topik dengan kedekatan emosional dan kedekatan intelektual, (b) Heuristik sumberdengan studi dokumen, studi kepustakaan, wawancara, dan pengamatan, (c) Verifikasi sumber, melalui kritik ekstern dan kritik intern, (d) Interpretasi sumber dengan analisis dan sintesis, (e)Historiografi secara sistematis dan objektif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Latarbelakang pembangunan Benteng Sorawolio sangat erat kaitannya dengan strategi pertahanan dankeamanan guna melindungi masyarakat yang bermukim di Benteng Sorawolio dari seranganmusuh. (2) Kedudukan Benteng Sorawolio bagi Kesultanan Buton adalah sebagai bentengpendamping Benteng Keraton Buton yang memiliki kedudukan penting. Ketika Benteng KeratonButon dikuasai atau diduduki oleh musuh maka Benteng Sorawolio dijadikan tempat pertahanandan tempat pemerintahan kedua oleh sultan dan jajarannya. (3) Fungsi benteng Sorawolio adalahsebagai benteng pertahanan di bagian timur benteng Keraton Buton terhadap ancaman bajak lautdari Tobelo. (4) Nilai-nilai sosial budaya yang terkandung pada Benteng Sorawolio yaitu budayagotong royong dan nilai patriotisme.
KEARIFAN LOKAL MOTIF TENUN TRADISIONAL SEBAGAI POTENSI WISATA KREATIF DESA KATUKOBARI KABUPATEN BUTON TENGAH Faika Burhan; Samsul Samsul; Alias Alias
Journal Idea of History Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 Nomor 1, Januari - Juni 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1203.355 KB) | DOI: 10.33772/history.v2i1.677

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kearifan lokal tenun tradisional sebagai potensi wisata kreatif di Desa Katukobari. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif.Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni wawancara, observasi,dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Katukobari memiliki dayatarik wisata dalam sektor budaya melalui pariwisata kreatif tenun tradisional. Pengrajin tenuntradisional yang ada di Desa Katukobari sejak awal perkembangannya telah melewati berbagaipengalaman mulai dari proses pewarnaan alami benang hingga pada masa sekarang telahmenggunakan benang pabrikan. Namun, geliat perkembangan pasar dan mengemukanya dunia pariwisata membangkitkan kesadaran para pengrajin untuk menciptakan berbagai macam motif tenunan. Untuk memajukan wisata kreatif tersebut terdapat tiga langkah strategis pengembanganyaitu strategi edukatif, strategi ekonomi, dan strategi sosial budaya.
PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT BALI DI DESA MULYASARI KECAMATAN MOWILA KABUPATEN KONAWE SELATAN: 1977-2016 Sri Wulan Dewi Julianti; Fatma Fatma; Arman Arman
Journal Idea of History Vol 2 No 1 (2019): Volume 2 Nomor 1, Januari - Juni 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.305 KB) | DOI: 10.33772/history.v2i1.678

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perubahan kehidupan sosial budaya danekonomi masyarakat Bali di Desa Mulyasari Kecamatan Mowila Kabupaten Konawe Selatan: 1977-2016. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode sejarah menurutKontowijoyo, yakni: (1) pemilihan topik, (2) Heuristik, (3) Verifikasi, (4) Interpretasi data, dan 5) Historiografi. Temuan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) pada awalnya masyarakat Baliyang mendiami Desa Mulyasari merupakan warga transmigrasi asal Bali yang didatangkan melaluiprogram transmigrasi tahun 1977. (2) Wujud perubahan nampak pada perubahan sosial budaya dengan masuknya budaya dari luar sehingga terjadi interaksi antara budaya Bali, Jawa, Bugis danTolaki. Perubahan juga nampak di bidang ekonomi dengan meningkatnya sektor produksi pertanian, serta perubahan dari sistem gotong royong menjadi sistem upah. (3) Faktor-faktorpenyebab terjadinya perubahan sosial budaya masyarakat Bali di Desa Mulyasari antara lain;ketersediaan sumber daya alam, perubahan pola pikir, dan adanya dukungan Pemerintah dengan diberikannya bantuan berupa alat-alat pertanian modern.
FAKTA SEJARAH DALAM NOVEL DHARMAGANDUL KARYA SRI WINTALA ACHMAD (KAJIAN NEW HISTORICISM) Mustika Mustika; Elmy Selfiana Malik
Journal Idea of History Vol 2 No 2 (2019): Volume 2 Nomor 2, Juli - Desember 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v2i2.859

Abstract

This research aims to describe the historical facts in the novel of Dharmagandul by Sri Wintala This study aims to describe the historical facts in the novel of Dharmagandul by Sri Wintala Achmad which was set in the Majapahit Kingdom. The novel was examined using the New Historicism approach, which used non-literary texts combined with literary texts to be analyzed. The procedures of this study included: (1) parallel reading techniques, namely techniques performed by reading literary texts (novels) with non-literary texts; (2) the analysis used includes data presentation and discussion. The analysis used in studying the novel Dharmagandul by Sri Wintala Achmad was paralleled by non-literary texts relating to events in the novel; and (3) presentation of the conclusions from the results of the analysis. The results of the study included: (1) the applying of Dyah Pitaloka by Patih Gajah Mada to Prabu Hayam Wuruk; (2) Wikramawardhana's post-HayamWuruk power; (3) Paregreg war; and (4) Sri Ratu Suhita's revenged against Raden Gajah. The results of the study of historical facts in the novel Dharmagandul are expected to provide knowledge that literature can be born from historical reality and this research is expected to be a lesson for the people of Indonesia to not repeat the bitter events that have occurred during the Majapahit kingdom. Keyword: historical facts, Dharmagandul, new historicism, Majapahit
PERUBAHAN TRADISI KAMOMOOSE DI KECAMATAN LAKUDO KABUPATEN BUTON TENGAH: 1940-2017 Siti Fatma; Aslim Hasni Hasan
Journal Idea of History Vol 2 No 2 (2019): Volume 2 Nomor 2, Juli - Desember 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v2i2.860

Abstract

This study aims to describe: (1) the background of the birth of Kamomoose in Lakudo District, Central Buton Regency (2) the change in the Kamomoose tradition in Lakudo District of Central Buton Regency in 1940-2017. The method used in this study was a historical method with stages of work, namely; (1) Selection of topics, (2) Gathering of sources, (3) Verification of sources, (4) Interpretation of sources, (5) Historiography (history writing). The results showed that: (1) The Kamomoose tradition was born in the District of Lakudo due to the presence of limbo ano gau (outgoing speech) or vows from someone's mouth. The tradition began in the 1940s and has become an annual event to date. This tradition was preserved as local culture, alms for the construction of mosques, as well as a place to strengthen friendship between the people. (2) The implementation of the Kamomoose tradition consisted of several stages. First, the preparation stage, namely the determination of the time and place of implementation, participants who would follow the Kamomoose tradition, and the tools and materials to be used. Second, the implementation phase. But today, there has been a change in the Kamomoose tradition. First, the change in the Kamomoose tradition arena in 1951-2017. Secondly, the change in fosambu (dissipated) material in the Kamomoose tradition in 1970-2017.Third, the change in the process of carrying out the Kamomoose tradition. Fourth, changes in the values ​​and objectives of the Kamomoose tradition in Lakudo District of Central Buton Regency. Keyword: History, change, tradition, Kamomoose
SEJARAH TERBENTUKNYA DESA BANGKALI KECAMATAN WATOPUTE KABUPATEN MUNA : 1976-2017 Ahmad Jaya; Fatma Fatma
Journal Idea of History Vol 2 No 2 (2019): Volume 2 Nomor 2, Juli - Desember 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/history.v2i2.861

Abstract

This study aims to describe the history of the formation of Bangkali Village, Watopute District, Muna Regency. The method used in the study was the historical method developed by Kuntowijoyo through five stage of work, namely: (1) Topic Selection, (2) Collection of cources, (3) references verification (critical sources throught external and internal critical sources) and (4) sources Interpretation (analysis and synthesis) and (5) Historiography (historycal writing). The lliterature review in this study consisted of the conceptual framework and the theoretical framework. The conceptual framework used the concept of regional expansion, the concept of rural history, and the concept of village and village governance. The theoretical framework used elite circulation theory. The findings of the research showed that: (1) Bangkali Village was formed due to consideration of the area and population density conditions which were sufficient to be expanded. (2) The process of establishing Bangkali Village, namely: (a) It was begun with government policy that each hamlet far from the parent village must be divided so that it is easy in the administrative process. (b) Support from the village community and community leaders to immediately propose the division of the village to the regional government. Then, Bangkali Village was formed on April 15th, 1976 through decree number 27 of 1976 concerning the division of villages in Wali Village. (3) The development of Bangkali Village in 1976-2017 in general showed a fairly good development in the fields of politics, general government, infrastructure, and economy. Keyword: History, Background, Process and Development

Page 3 of 11 | Total Record : 104