cover
Contact Name
sarman
Contact Email
sarman.jaya@yahoo.co.id
Phone
+62401-3084783
Journal Mail Official
sarman.jaya@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Journal Idea of History
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25987828     EISSN : 26144395     DOI : -
Journal Idea of History diterbitkan untuk menghidupkan atmosfer akademik di Jurusan Ilmu Sejarah FIB UHO. Keberadaan jurnal ini bertujuan untuk mengaktualisasikan hasil penelitian dosen dan mahasiswa di bidang ilmu sejarah. Penerbitan jurnal untuk periode Agustus 2017 ini merupakan serial pertama tahun pertama penerbitan atau volume pertama nomor 01. Beberapa hasil penelitian yang diterbitkan dalam edisi perdana ini merupakan hasil penelitian mahasiswa Ilmu Sejarah FIB Universitas Halu Oleo.
Articles 113 Documents
PELESTARIAN MAKAM TOKOH-TOKOH LOKAL SEBAGAI SITUS SEJARAH DI KECAMATAN WAWOTOBI KABUPATEN KONAWESULAWESI TENGGARA Fatma, Fatma; Mukadas, Aswati; Basri, La Ode Ali
Journal Idea of History Vol 8 No 1 (2025): Volume 8, Nomor 1, Januari-Juni 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jwt4q481

Abstract

Penelitian ini sebagai upaya pelestarian makam situs sejarah di Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara yang meliputi wilayah Kelurahan Palarahi, Kelurahan Inalahi, dan Kelurahan Wawotobi. Penelitian ini penting dilakukan sebagai bahan kajian ilmu pengetahuan dalam upaya pengembangan wawasan kesadaran sejarah lokal yang ada di Sulawesi Tenggara. Penelitian ini juga sebagai bentuk identifikasi objek-objek yang bisa menjadi sumber sejarah atau bukan sumber sejarah. Pengetahuan masyarakat mengenai sumber sejarah menjadi banyak diperbincangkan karena dilatarbelakangi sikap egosentris yang tak jarang menganggap sebuah objek sejarah sebagai hak milik keluarga atau bahkan membuat silsilah tanpa dasar yang jelas. Kegiatan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan sumber-sumber sejarah dan hubungannya dengan peristiwa masa silam. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo yang terdiri atas lima tahapan, yaitu: (1) Pemilihan topik, (2) Heuristik, (3) Kritik sumber, (4) Interpretasi, dan (5) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peristiwa sejarah mulai dari terbentuknya Kerajaan Konawe hingga masuknya pengaruh Hindia Belanda di tanah Konawe menyisakan bukti otentik yang merupakan bukti sejarah yang masih bisa dilihat hingga saat ini di antaranya makam Tusawuta, makam Lamboasa, makam Lasandara, dan makam Lakidende. Bangunan fisik lainnya yang memiliki ciri arsitektur kolonial juga masih terdapat di Kecamatan Wawotobi.
PROSESI ADAT PEPORAE DALAM UPACARA PERKAWINANMASYARAKAT SUKU KAMARU Ati, Amniar
Journal Idea of History Vol 8 No 1 (2025): Volume 8, Nomor 1, Januari-Juni 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/27etg133

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui langkah-langkah prosesi peporae dalam upacaraperkawinan adat masyarakat suku Kamaru. Peporae adalah proses peminangan pada sebuahperkawinan. Sebelum melaksanakan perkawinan pihak laki-laki terlebih dahulu mengutus salahseorang atau bisa lebih yang dituakan untuk datang melamar secara resmi terhadap pihak keluargaperempuan. Pertunangan akan terjadi apabila pihak perempuan menyetujui.Teknik pengumpulan datayang digunakan adalah metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Narasumber dalampenelitian ini adalah bonto (kepala adat) Kamaru, tokoh adat sebanyak 2 orang, tokoh agama 1 orang,petugas PPN (Petugas Pencatatan Nikah), tokoh masyarakat sebanyak 5 orang dan orang yang pahamtentang perkawinan pinang menurut adat Kamaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosesipeporae adalah rangkaian adat yang berkesinambungan dari kapepentu/kabombongi (menanyakanstatus perempuan gadis/janda), kapeolo (diterima atau tidak), pertunangan (bawa’ana kupa/peporae),bawa’ana komba/saraogena/taoraka (penentuan besarnya adat atau mahar yang akan dikenakansekaligus penentuan tanggal perkawinan), kajoli (tertutupnya pintu bagi laki-laki yang akanmelakukan akad nikah), kawia (perkawinan/akad nikah), pebongkasia (menginap di rumah pengantinpria/laki-laki), kapebolosi (pemberian oleh-oleh dari pihak laki-laki ke pihak perempuan).Perkawinan melalui peminangan peporae ini merupakan perkawinan yang dianggap paling baik olehmasyarakat suku Kamaru.
MECARU DALAM KEBUDAYAAN BALI PADA MASYARAKAT TRANSMIGRAN BALIDI DESA JATI BALI KECAMATAN RANOMEETO BARAT: MENELUSURI JEJAKSEJARAH DIGITAL 1968-2023 Hasan, Hasni; Hasrat, Hasrat; Wardani, Ajeng Kusuma; Daus, Rahman; Ismi, Muhammad
Journal Idea of History Vol 8 No 1 (2025): Volume 8, Nomor 1, Januari-Juni 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/5xsj4v97

Abstract

Keberadaan masyarakat transmigran Bali di Desa Jati Bali Kabupaten Konawe Selatan membawa kekhasan tersendiri. Eksistensi ritual mecaru bernuansa Bali menjadi pelengkap nilai eksotik masyarakatnya yang hidup di tengah-tengah daratan Sulawesi Tenggara. Oleh karena itu, penting untuk menelusuri bagaimana ritual ini bertahan, berubah, atau mungkin mengalami penurunan makna di tengah tantangan zaman. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan historis. Penelitian ini mengacu pada metode penulisan sejarah yang mencakup empat tahapan utama: heuristik (pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, warga, serta generasi muda transmigran Bali, dan studi pustaka terhadap literatur dan dokumen arsip), kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Rentang waktu 1968–2023 digunakan sebagai kerangka periodisasi untuk menelusuri secara kronologis jejak, perubahan, dan kesinambungan praktik mecaru dalam konteks sosial budaya masyarakat transmigran Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya mecaru pada masyarakat Bali yang bertransmigrasi di Sulawesi Tenggara menandakan kebertahanan eksistensi budayanya. Penelitian ini membahas dinamika pelaksanaan mecaru pada masyarakat transmigran Bali di Desa Jati Bali sejak tahun 1968 hingga 2023. Penelitian ini dilakukan karena terdapat kesenjangan antara harapan pelestarian budaya leluhur dengan kenyataan di lapangan, di mana modernisasi, perubahan generasi, dan interaksi budaya dengan masyarakat lokal mulai memengaruhi intensitas dan makna pelaksanaan tradisi mecaru.
MASJID RAYA NURUL ISLAM DAN KONTRIBUSINYA DALAM PERKEMBANGAN ISLAM KOTA PALANGKA RAYA (1967-2023) Kirana Nuswantari, Rafidah; Muhammad Husni; Selvia Santi
Journal Idea of History Vol 8 No 1 (2025): Volume 8, Nomor 1, Januari-Juni 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/ejak4s62

Abstract

Penelitian ini membahas tentang kontribusi Masjid Raya Nurul Islam dalam perkembangan Islam di Kota Palangka Raya dalam rentang waktu 1967-2023. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) memberikan pengetahuan tentang bagaimana Islam masuk ke Palangka Raya, serta mengkaji kontribusi Masjid Raya Nurul Islam bagi kota tersebut dari tahun 1967-2023. (2) merinci sejarah Masjid Raya Nurul Islam dari tahun 1967-2023. (3) Kontribusi Masjid Raya Nurul Islam. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu: Pemilihan topik, heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Islam di Palangka Raya bermula di wilayah Desa Pahandut yang diawali dengan kedatangan tokoh agama bernama Muhammad Madjedi yang tidak dapat dipisahkan dari masjid tempat para jamaah berkumpul. Masjid memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat, khususnya terhadap perkembangan masyarakat Islam. Masjid berfungsi sebagai titik fokus untuk afiliasi keagamaan, pengabdian, dan komunikasi, yang semuanya berkontribusi pada pembentukan masyarakat Islam di Palangka Raya. (2) Masjid tertua kedua di Kota Palangka Raya, Masjid Raya Nurul Islam, mulai dibangun tidak lama setelah Muhammad Madjedi tiba di Pahandut. Sebelumnya, ia pernah membangun Masjid Nurul Hikmah yang kini menjadi Langgar, tetapi terlalu kecil untuk menampung jamaah salat Jumat. Maka, ia membangunnya kembali menjadi Masjid Raya Nurul Islam yang kini kokoh, besar, dan cukup luas untuk menampung jamaah shalat Jumat. (3) Nama Masjid Raya Nurul Islam memberikan gambaran dan kontribusi masjid dari segi pendidikan, sosial, dan keagamaan terhadap masyarakat/jamaah yang berada di sekitar Kecamatan Pahandut tepatnya di Jl. Ahmad Yani daerah Pasar Palangka Sari.
DARI KABUPATEN MENJADI KOTA: PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT KOTA KENDARI, 1959-1995 Hikmah, Hikmah; Faika Burhan; Hamuni, Hamuni; Salebaran, Salebaran; Koso, Halijah
Journal Idea of History Vol 8 No 2 (2025): Volume 8, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/2kbr5f23

Abstract

Penelitian ini membahas tentang perubahan Kota Kendari dari kabupaten menjadi kota, serta kehidupan sosial ekonomi Kota Kendari dari kabupaten menjadi kota, 1959-1995. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang memiliki beberapa tahapan yakni; pemilihan topik, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan beberapa hal, Pertama, berdasarkan P.P. No. 32 tahun 1952 Kewedanan Kendari yang juga merupakan daerah Pemerintahan swapraja Laiwoi tergabung dalam daerah Tingkat II Sulawesi Tenggara yang berpusat di Bau-Bau. Pada tahun 1964 melalui peraturan UU Nomor 2/1964 Sulawesi Tenggara berdiri sendiri dengan Ibukota Kendari. Perubahan status Kendari dari Kabupaten menjadi Kota seperti sekarang tentunya telah memenuhi persyaratan dan telah disepakati oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Perubahan status wilayah Kendari yang awalnya merupakan Kabupaten menjadi Kota yang ada di Sulawesi Tenggara dilatar belakangi oleh beberapa faktor antara lain kemampuan dalam ekonomi serta keuangan, luasnya wilayah yang berpotensi untuk mendukung kehidupan masyarakatnya, jumlah penduduk yang padat dan stabilitas roda pemerintahan yang terus berjalan. Kedua, penduduk Kota Kendari terdiri dari berbagai golongan serta bermacam-macam etnik dan sub kultur yang mempunyai kepentingan serta kebutuhan yang berbeda-beda pula. Struktur masyarakat Sulawesi Tenggara dalam hal ini masyarakat Kabupaten Kendari terdiri dari tiga lapisan sosial. Pertama yaitu, kelompok intelektual menjadi kelompok yang menempati kedudukan tertinggi dalam masyarakat. Kedua, adalah kelompok menengah, yang dimana mereka itu umumnya terdiri dari pegawai rendah sampai menengah, pedagang/pengusaha dan tukang. Ketiga yaitu, kelompok yang paling bawah yang terdiri dari golongan buruh kasar dan petani-petani di desa.
SULTAN ABDUL QAHIR DAN PELETAKAN DASAR SOSIAL POLITIK ISLAM AWAL DI BIMA TAHUN 1601-1640 Abi Mas Tanjung; Muhamad Husni; Suryanti
Journal Idea of History Vol 8 No 2 (2025): Volume 8, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/t171sg41

Abstract

Penelitian ini membahas tentang peranan Sultan Abdul Qahir dalam mengembangkan Islamdi Bima Tahun 1630-1635 M. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan: (1) latar belakangkehidupan Sultan Abdul Qahir. (2) kontribusi Sultan Abdul Qahir dari segi dakwah, politik, sosial,dan ekonomi. Penelitian ini menggunakan metode sejarah di antaranya: Pemilihan topik, heuristik,verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (I) Kerajaan Bimatelah berdiri dan berkembang sebelum masa yang diliputi BO (Buku Catatan Raja-raja Bima), dansempat mengembangkan sebuah politik dan budaya yang baik melalui perniagaan. (2) Pada masaKesultanan Abdul Qahir, Bima menjadi pusat perdagangan sehingga masyarakat memanfaatkan haltersebut untuk menyebarkan Islam. (3) kesuksesan Sultan Abdul Qahir dalam bidang dakwah dankebudayaan dilihat dari beberapa aspek; di bidang dakwah, Sultan Abdul Qahir berhasil membangunmasjid pertama yaitu Masjid Kamina yang dijadikan sebagai sarana dakwah dan pendidikan. Dibidang kebudayaan, tercipta pakaian yang sesuai syari’at Islam yaitu busana Rimpu untuk menutupitubuh wanita muslimah. Perbedaan peneliti sebelumnya dengan penelitian ini yakni, Nurwahidah(2019) menuliskan bahwa Sultan Abdul Qahir masuk Islam di Desa Sape saat melakukan pelariandari kejaran Salisih (paman Abdul Qahir), sedangkan dalam naskah BO (Buku catatan Raja-rajaBima) tercatat bahwa Sultan Abdul Qahir masuk Islam di Makassar ketika dalam pengejaran Salisih.Peneliti berupaya mendalami dan melengkapi temuan para peneliti sebelumnya yaitu permasalahanperjalanan Sultan Abdul Qahir mulai dari masuk Islam serta kehidupan sebelumnya Kata Kunci: Sejarah Peranan Sultan Abdul Qahir, Kontribusi Sultan Abdul Qahir
DARI KAMPUNG MENJADI KECAMATAN: PERUBAHAN DAN PERALIHAN SISTEM PEMERINTAHAN DI SALABANGKA, 1864-1965 Yuyun, Yuyun; Aslim, Aslim; Fatma, Fatma; Sarman, Sarman
Journal Idea of History Vol 8 No 2 (2025): Volume 8, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/b6ynpt61

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang kampung Salabangka, proses perubahan dan peralihan sistem pemerintahan Salabangka 1864-1965, dan perkembangan sistem pemerintahan Salabangka, 1864-1965. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan terdapat lima tahapan yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interpertasi, dan historiografi. Data primer dalam penelitian ini adalah arsip yang didapatkan dari arsip nasional dan sumber sekundernya terdapat dalam buku Sejarah Kerajaan Bungku dan beberapa buku lainnya serta koleksi pribadi. Pendekatan digunakan adalah pendekatan multidimensional.  Pola pemukiman di Salabangka adalah mengelompok dan menyebar pemukiman pertama dilakukan oleh rombongan suku Badjo, tempat pertama kali ditempati adalah kampung Boenginkela dan menyebar sampai ke kampung Kaleroang. Pemukiman utama Salabangka berada di kampung Kaleroang. Pada peralihan dan perubahan sisem pemerintahan di Salabangka, dari kampung ke distrik sistem pemerintahan Salabangka masih sistem pemerintahannya masih tradisional dan kepala kampungnya disebut Punggawa. Kemudian beralih menjadi distrik setelah datangnya bangsa Belanda pada awal abad ke-20. Setelah datngnya bangsa Jepang, perlakuan Jepang sangat memaksa penduduk pribumi untuk melakukan kegiatan demi kepentingan Jepang. sebelum kemerdekaan melalui gerakan politik. Setelah lepasnya dari penjajahan Jepang maka tahun 1951, para kepala distrik melakukan usulan untuk diberikan hak otonom,  dalam perkembangan sistem pemerintahan Salabangka.
KADIANO GHUSE: RITUAL PENGALIHAN HUJAN PADA MASYARAKAT MUNA Raemon; Hasniah; Erni
Journal Idea of History Vol 8 No 2 (2025): Volume 8, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/7c810582

Abstract

AbstrakRitual Kadiano Ghuse merupakan praktik ritual masyarakat Muna yang digunakan untuk menahan atau mengalihkan hujan pada pelaksanaan hajatan dan kegiatan sosial di ruang terbuka. Penelitian ini bertujuan mengungkap tahapan pelaksanaan ritual, memaknai simbol-simbol ritual yang digunakan, serta menjelaskan alasan keberlanjutan praktik Kadiano Ghuse dalam kehidupan masyarakat Desa Sidamangura, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui pengamatan terlibat, wawancara mendalam dengan pawang hujan (Bhisa), tokoh masyarakat, dan warga pengguna jasa ritual, serta dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Kadiano Ghuse dilaksanakan melalui tahap persiapan dan tahap pelaksanaan yang melibatkan tindakan simbolik seperti menunjuk awan, pembacaan mantra dan doa, penanaman bahan ritual, serta pemeliharaan pantangan oleh Bhisa. Perlengkapan ritual seperti rokok, cermin, garam, jahe, cabai, tembakau, dan daun karubu-rubu dimaknai sebagai simbol proteksi, penolak hujan, dan media komunikasi kosmologis. Ritual ini berfungsi sebagai mekanisme budaya untuk mengelola ketidakpastian cuaca, menenangkan psikologis masyarakat, serta memperkuat legitimasi sosial pawang hujan. Keberlanjutan Kadiano Ghuse ditopang oleh fungsinya sebagai penjamin simbolik keberhasilan hajatan dan stabilitas sosial masyarakat.Kata kunci: Kadiano Ghuse; ritual pemindahan hujan; masyarakat Muna; simbol ritual; etnografi
STRATEGI PEMANFAATAN MUSEUM SULAWESI TENGGARA SEBAGAI WISATA EDUKASI Ahmad, Ahmad; Hadara, Ali; Hermina, Sitti; Aspin, La Ode
Journal Idea of History Vol 8 No 2 (2025): Volume 8, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/58wznd45

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan strategi pemanfaatan Museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai wisata edukasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data ialah wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima strategi yang digunakan dalam menarik minat masyarakat untuk memanfaatkan Museum Sulawesi Tenggara sebagai wahan edukasi. Strategi tersebut ialah: (1) sosialisasi; sosialisasi langsung (kunjungan) dan sosialisasi tidak langsung (sosial media), (2) program museum keliling/pameran yang dilaksanakan hingga ke kabupaten-kabupaten, (3) lokakarya yang melibatkan berbagai stakeholder (akademisi, budayawan, tokoh masyarakat), (4) berbagai bentuk lomba yang terbuka bagi masyarakat, dan (5) pengadaan bioskop bagi pengunjung untuk mengenal berbagai koleksi melalui film. Melalui strategi ini pihak museum telah berhasil menarik jumlah pengunjung yang setiap tahunnya semakin tinggi. Periode Tahun 2024 mencapai 20.000 pengunjung yang merupakan tertinggi dalam sejarah kunjungan ke museum Negeri Provinsi Sulawesi Tenggara. Jumlah tersebut didominasi oleh peserta didik dari berbagai tingkatan dan mahasiswa.
SEJARAH MEPETA BERTANI SAWAH SUKU MORONENE DI DESA TOBURI KECAMATAN POLEANG UTARA KABUPATEN BOMBANA: 1970-2023 Musnaeni, Musnaeni; M, Aswati; Effendi, Subhan; Satriani, Irma
Journal Idea of History Vol 8 No 2 (2025): Volume 8, Nomor 2, Desember 2025
Publisher : Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/g4rhq821

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan Sejarah Mepeta Bertani Sawah Suku Moronene di Desa Toburi Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana: 1970-2023. Selain itu juga akan menguraikan faktor yang mempengaruhi Aktivitas Bertani Sawah Suku Moronene di Desa Toburi Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima tahapan kerja sebagai berikut: pertama, pemilihan topik, kedua, pengumpulan sumber, ketiga, kritik sumber, keempat, interpretasi sumber, kelima, historiografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sejarah Mepeta (Bertani Sawah) Suku Moronene di Desa Toburi Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana 1970-2023 : (a) Pada tahun 1970, masyarakat moronene di desa toburi sebelum beralih menjadi petani sawah awalnya mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara berburu dan meramu. (b) Faktor Yang Memengaruhi Aktivitas Mepeta (Bertani Sawah) Suku Moronene di Desa Toburi Kecamatan Poleang Utara Kabupaten Bombana ialah tidak lepas dari faktor sosial dan faktor teknologi. Faktor  teknologi   dalam   hal  ini  meliputi  :  pemanfaatan   teknologi,  teknologi diukur   melalui   penggunaan  bibit,  penggunaan  pupuk,  penggunaan  pestisida serta  peralatan   pertanian  yang   digunakan.  Sedangkan   faktor sosial  yang memengaruhi aktivitas di bidang  pertanian   meliputi   tingkat   pendidikan  dan pengalaman bertani. Rendahnya tingkat pendidikan disinyalir merupakan salah satu  penyebab  rendahnya  produktivitas  petani. 

Page 11 of 12 | Total Record : 113