Articles
1,297 Documents
ANALISIS HASIL PENGUJIAN KAYU YANG DISERANG PENGGEREK KAYU DI LAUT DENGAN INTERPRETASI GAMBAR DIGITAL
Krisdianto Krisdianto;
Listya Mustika Dewi;
Mohammad Muslich
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (218.568 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.2015.33.1.11-18
Keawetan kayu alami dinilai berdasarkan ketahanannya terhadap organisme perusak tertentu. Pengujian ketahanan alami kayu terhadap organisme perusak di laut dilakukan dengan membenamkan contoh kayu di perairan laut terbuka. Setelah enam bulan, kayu dinilai intensitas kerusakannya dan diklasifikasikan kelas ketahanannya terhadap serangan penggerek di laut. Penilaian kerusakan kayu dilakukan dengan interpretasi gambar digital. Tulisan ini mempelajari ketahanan alami sembilan jenis kayu dari Sumatera, Jawa dan Kalimantan terhadap organisme penggerek laut dengan perangkat lunak Image-J setelah enam bulan. Hasil pengujian kayu di perairan terbuka menunjukkan kayu sempur lilin (Michelia champaca L.var. pubinervia) dan kayu bawang (Azadirachta excelsa) (Jack) Jacobs) termasuk kelas ketahanan I (sangat tahan), sedangkan kayu cangcaratan (Lithocarpus sundaicus(Blume) Rehd., aveang kelalai (Shorea pervistipulata ssp. albifolia) termasuk kelas ketahanan II (tahan) terhadap penggerek kayu di laut. Kayu ki pasang (Prunus javanica Miq.) dan segelam (Hopea rudiformis) termasuk kelas ketahanan III (agak tahan) terhadap penggerek kayu di laut, sedangkan kayu ki bugang (Arthophyllum diversifolium Blume) dan ki langir (Otophora spectabilis Blume) termasuk kelas ketahanan V (sangat tidak tahan) terhadap penggerek kayu di laut. Pengukuran persentase kerusakan kayu dapat dilakukan dengan akurasi tinggi menggunakan metode gambar digital daripada cara konvensional. Pengukuran persentase kerusakan kayu dengan gambar digital menghasilkan nilai lebih tinggi karena bekas lubang tali. Namun, bekas lubang tali juga diperhitungkan sebagai kerusakan kayu. Untuk memperoleh pengukuran kerusakan yang tinggi, maka metode gambar digital dimodifikasi dengan menutup bagian lubang bekas tali dengan kesan yang sama dengan bagian disekitarnya.
SEMIMICRO DETERMINATION OF CELLULOSE CONTENT IN SAGO AND PITH FLOUR (Penetapan kadar selulosa tepung sagu dan tepung empulur sagu dengan metoda semimikro)
Suwardi Sumadiwangsa
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 2 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1688.316 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.1993.11.2.49-52
Tepung Sagu serta tepung empulur saga selain mengandung. komponen utama pati, juga. mengandung komponen lain seperti protein, lemak, sellulosa, flavan, dan polyphenol. Kadar komponen abus (minor) sering menunjang peranan penentu untuk menyimak kwalitas pati, sehingga analisis kuantltatifnya perlu dilakukan. Study ini adalah untuk memantau keampuhan metoda Anthrone. dalam penetapan kadar selulosa pada tepung sagu dan tepung empulur sagu melalui hidrolisis dengan katalis asam.Dalam kajian ini asam aseto nitrat digunakan sebagai bahan pengendap selulosa dan pengusir komponen lain seperti pati, lignin, ksilosan, dan himiselulosa. Endapan selulosa dihidrolisa dengan 67% H2S04 agar. diperoleh komponen β-D-glukosa. Kadar βD glukosa setelah direaksikan dengan senyawa Anthrone diukur dengan alat spektropkotometer pada gelombang 620u, dimana senyawa selulosa murni (Avicell) digunakan. sebagai senyawa baku yang dibandingkan dengan larutan blanko. Tepung empulur sagu mengandung kadar selulosa yang jauh lebih tinggi dibanding yang terkandung dalam tepung sagu.
ORGANISME PERUSAK KAYU PADA BEBERAPA RUMAH DI TIGA KABUPATEN DI PROPINSI JAWA BARAT
Ginuk Sumarni;
Agus Ismanto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 6 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2897.541 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.1989.6.6.402-406
Survey on wood-destroying organisms attacking people's houses was carried out at Padalarang (Bandung district), Cibadak (Sukabumi districtj, and Pacet (Cianjur district). Data collection were done by interviewing and filling-out questionaire forms. Result of the investigation indicated that local timber and bamboo are used largely for house components. Wood destroying organisms found attacking the components are rotting fungi, subterranean termites, dry-wood termites, and powder post-beetles.
BEBERAPA SIFAT BAMBU LAMINA YANG TERBUAT DARI TIGA JENIS BAMBU
l. M. Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (87.551 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.277-287
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemungkinan penggunaan bambu lamina sebagai bahan substitusi kayu, khususnya mengetahui pengaruh jenis bambu terhadap sifat bambu lamina yang direkat dengan urea formaldehida. Bambu yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarandinacea), bambu mayan (Gigantochloa robusta) dan bambu tali (Gigantochloa apus) yang berasal dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sifat bambu lamina dipengaruhi oleh jenis bambu yang digunakan kecuali kadar air, keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan rekat. Kerapatan bambu lamina bervariasi antara 0,62 - 0,79 g/ cm'. Bambu lamina dari bambu tali merniliki nilai keteguhan lentur tertinggi sedangkan bambu lamina dari bambu mayan memiliki keteguhan lentur terenclah. Keteguhan rekat bambu lamina yang diuji dengan cara geser tekan bervariasi antara 67,03 - 86,19 kg/ cm2 dan 54,43 - 62,94 kg/ cm berturut-turut untuk uji kering dan uji basah. Sifat perekatan bambu lamina dari bambu andong, mayan dan tali cukup baik. Bambu lamina (3lapis) masing-masing dari bambu andong, mayan dan tali setara dengan kayu kelas kuat II. Pembuatan bambu lamina secara teknis dapat dilakukan dan produk tersebut dapat digunakan sebagai bahan substitusi kayu.
PENGARUH PERLAKUAN DELIGNIFIKASI TERHADAP HIDROLISIS SELULOSA DAN PRODUKSI ETANOL DARI LIMBAH BERLIGNOSELULOSA
Luciasih Agustini;
Lisna Efiyanti
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (542.46 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.2015.33.1.69-80
Delignifikasi merupakan salah satu perlakuan yang berpengaruh terhadap biokonversi biomasa berlignoselulosa menjadi etanol, karena delignifikasi berpengaruh terhadap proses hidrolisis dan fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan delignifikasi secara fisika, kimia dan biologi dari limbah kayu sengon dan pelepah daun kelapa sawit terhadap proses hidrolisis dan fermentasi. Secara fisis, proses delignifikasi dilakukan dengan memasukkan biomasa ke dalam autoklaf dengan suhu 121°C, tekanan 1 atm selama 30 minutes. Secara kimia, larutan H SO 1% ditambahkan selama proses di dalam autoklaf. Secara biologi, biomass yang telah diperlakukan dalam autoklaf diinokulasi dengan mikroorganisma MD-14 FB.1 yang diperoleh dari koleksi INTROF-CC. Pengujian komposisi lignin, α-selulosa, dan hemiselulosa dilakukan berdasarkan standar pengujian yang telah ditetapkan oleh ASTM. Kadar glukosa yang terbentuk dari hidrolisis selulosa dengan ditentukan dengan metode asam 3,5-dinitrosalisilat. Kadar etanol pada akhir proses fermentasi ditentukan dengan metode potassium dikromat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas delignifikasi dan hidrolisis sampel dengan perlakuan kimiawi lebih optimal dibandingkan perlakuan lainnya, dan menghasilkan kadar etanol antara 0,0022 - 0,4046 % (v/v), dengan kadar tertinggi dihasilkan dari sampel yang menggunakan enzim hidrolisis komersial. Enzim yang dihasilkan oleh isolat-isolat yang digunakan pada percobaan ini belum dapat mengoptimalkan proses fermentasi etanol dari lignoselulosa sengon dan pelepah daun kelapa sawit. Penelitian untuk mencari isolat yang lebih potensial dan optimasi proses produksi bioethanol masih perlu dilanjutkan.
ANALISIS BIAYA ENERGI PADA BEBERAPA INDUSTRI KAYU LAPIS DI KALIMANTAN TIMUR. Analysis of Energy Cost at Several Plywood Factories in East Kalimantan
SYLVIANI SYLVIANI
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 2 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (16951.744 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.1993.11.2.80-85
Several plywood factories in East Kalimantan showed that they use wood waste and diesel fuel for energy sources for power generation and electricity. Five plywood factories surveyed produced wood waste with average of 112,590 cubic m in 1991 and its utilization for energy source amounted to 59,601 cubic m on average, while average consumed diesel fuel was 10,000 litres / month .This study showed that operational cost of power generation on average was Rp 290,394,316 per year in which the cost for fuel was Rp 204,122,020 ( 70 % from total operational cost) while the cost of fuel in the factories that used wood waste was Rp 26,535,863.Besides factories that used wood produced electricilymore, so that average cost / kwh was smaller namely Rp 71.50 / kwh compared with those used diesel, namely Rp 307 / kwh.
STUDI PERBANDINGAN SIFAT MINYAK KAYU CENDANA SEMUT (EXOCARPUS LATIFOLIA R.BR.) DAN CENDANA WANGI (SANTALUM ALBUM L.)
Bambang Wiyono;
Toga Silitonga
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 7 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3389.201 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.1990.6.7.443-446
The purpose of this research is to compare the oil. properties of cendana semut (Exocarpus latifolia R.Br.) and cendana wiangi (Santalum album L.). The sandalwood oils are obtained by distillation method with cohobation system for 18 hours.Results indicated that the essential oil content of cendana semut is lower than cendana wangi. The cendana semut oil had dark-yellow in colour and slightly thicker. During the early stage of distilling process, the distillate of cendana semut some whitish sediment was formed, presumably consisted of resin. Such sediment was not found during the distilling of cendana wangi. The cendana wangi oil had yellowish appearance and its viscosity was lower than that of cendana semut. Ester number after acetylation and total alcohol content (as santalol) of cendana semut oil was lower than of cendana wangi oil. Colour, viscosity, and resin content in the distillate could be used to differentiate cendana semut from cendana wangi oil.
SIFAT PAPAN WOL KAYU DARI KAYU SENGON DAN KAYU KARET PADA BEBERAPA MACAM UMUR
l M Sulastiningsih;
Adi Santoso;
Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 3 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3991.364 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.1995.13.3.101-109
The results of laboratory test of wood-wool board properties made from rubberwood (Hevea brasiliensis) and sengon (Paraserianthes falcataria) are reported in this paper. The wood used were obtained feom different age groups i.e. 10 and 20 years for rubberwood and 5, 10 and 15 years for sengon. The properties tested were board density, moisture content, thickness reduction due to compression and bending strength.The physical and mechanical properties of sengon wood-wool board which the wood-wool was soaked in cold water for 24 hours prior to board fabrication were improved. However, that treatment did not improve the properties of rubberwood wood-wool board. The properties of wood-wool board made from different age groups of tree seem to be similar.
EFISIENSI SALURAN DISTRIBUSI PRODUK MEBEL: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN MEBEL UKIR DI JEPARA
Achmad Supriadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5766.333 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.1997.15.4.267-278
Keberhasilan suatu perusahaan selain akan sangat ditentukan oleh tingkat efisiensi produksi, juga ditentukan oleh ketepatan menggunakan saluran distribusi untuk memasarkan produk perusahaan ke tangan konsumen. Mebel ukir merupakan komoditi kayu olahan yang penting di daerah Jepara yang produknya antara lain dipasarkan di dalam negeri melalui berbagai tipe saluran pemasaran. Penelitian ini dilakukan rmtuk mengetahui efisiensi dari tipe tipe saluran distribusi yang digunakan oleh perusahaan mebel ukir tersebut.Perusahaan mebel ukir yang menjadi objek studi memasarkan produknya melalui 2 tipe saluran distribusi yaitu : Perusahaan → Konsumen (tipe 1) dan Perusahaan →Distributor →Pengecer →Konsumen (tipe II). Untuk menilai efisiensi, dilakukan analisis biaya distribusi dan volume penjualan selama 3 tahun (tahun 1993 - 1995).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saluran tipe I, persentase biaya distribusi terhadap volume penjualan cenderung terus menurun yaitu dari 3,25 % menjadi 2, 70%). Besamya biaya distribusi untuk setiap satu unit produk terjual juga terus menurun yaitu dari Rp 7.538 menjadi Rp 6.213. Rata-rata persentase perubahan volume penjualan lebih besar dibandingkan dengan rata-rata persentase perubahan biaya distribusi yaitu 63,9 % dengan 48,33%.Pada tipe II, persentase biaya distribusi terhadap volume penjualan menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat yaitu dari 2,07 % menjadi 2,57%. Besarnya biaya distribusi. untuk setiap satu unit produk terjual juga meningkat dari Rp 4. 031 menjadi Rp 6. 739. Sedangkan rata-rata persentase perubahan volume penjualan lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata persentase perubahan biaya distribusi yaitu 80, 75% dengan 110,80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa saluran distribusi tipe 1 telah dikelola secara lebih efisien dibandingkan dengan saluran tipe II. Meskipun demikian didalam upaya memperluas pangsa pasar, keberadaan saluran distribusi tipe II masih diperlukan oleh perusahaan karena dapat lebih memperluas jangkauan pasar produk perusahaan.
PENGARUH TEKNIK PENYADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH AGATHIS DI BALI
Ishak Sumantri Sumantri;
Dulsalam Dulsalam;
Machfudh Machfudh
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 4 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3680.239 KB)
|
DOI: 10.20886/jphh.1987.4.4.63-66
There are many kinds of Agathis sp. having specific bark thickness in Indonesia. For example, at Buleleng Forest District Bali, where the investigation was carried out, there are two groups of Agathis sp. The first group is Agathis sp. known to have bark thickness greater than one cm, and the other group belongs to thin bark ( < 1cm). The bark thickness of Agathis sp. has a bearing on the resin yield. The resin itself is always coagulated quickly, there by requiring special treatment to produce optimal resin yield. This investigation is intended to select the Agathis sp. producing optimum resin yield and to increase the resin output by applying new tapping technique. This study reveals that:The resin yield of Agathis sp. in Bali was quite low. It ranges from 0.1 gram to 24.6 gram/tree/week with approximately 3.8 gram/tree/week average.Agathis sp. with thick bark give higher resin yield than those of thin bark. The average resin yield of thick bark Agathis sp, was 6.3 gram/tree/week, while it is only 1.3 gram/tree/week for thin bark.The V-shape tapping method give resin yield approximately 80% higher than the reverse V-shape.The application of H2SO4 10% as stimulant did not give significant effect on the resin production. Based on the average resin yield data, however, the resin yield was actually increased approximately 26% when the H2S04 were added compare to the control.