Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH JENIS BAMBU, WAKTU KEMPA DAN PERLAKUAN PENDAHULUAN BILAH BAMBU TERHADAP SIFAT PAPAN BAMBU LAMINA Sulastiningsih, I M; Santoso, Adi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012):
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2945.894 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis bambu, waktu kempa dan perlakuanpendahuluan bilah bambu terhadap sifat-sifat papan bambu lamina. Jenis bambu yang digunakan adalahbambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dan bambu mayan (Gigantochloa robusta) berumur sekitar 4 tahun yang diperoleh dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Bilah bambu dari masing-masing jenis bambu dibagi 3 kelompok untuk diberi perlakuan pendahuluan yaitu tanpa perlakuan, direndam dalam larutan boron 7% selama 2 jam dan diputihkan dengan larutan hidrogen peroksida 15%. Bambu lamina dibuat dengan menggunakan perekat urea formaldehida (UF) dan tepung terigu sebanyak 10% dari berat perekat UF ditambahkan dalam ramuan perekat. Bambu lamina dibuat dengan menggunakan proses kempa dingin dengan lama pengempaan 4 jam dan 5 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan, kadar air dan pengembangan tebal bambu lamina berturut-turut adalah 0,76 g/cm , 9,70% dan 3,97%. Keteguhan rekat bambu lamina yang dibuat dengan perekat UF cukup baik yang ditunjukkan oleh tidak terjadinya delaminasi pada semua contoh uji delaminasi. Keteguhan rekar rata-rata (uji kering) bambu lamina yang dibuat dari bambu andong lebih tinggi (74,8 kg/cm ) daripada yang dibuat dari bambu mayan (67,9 kg/cm ). Perlakuan pendahuluan bilah berupa pengawetan dan pemutihan ternyata menurunkan kekuatan bambu lamina. Pengaruh jenis bambu terhadap beberapa sifat bambu lamina tidak nyata kecuali pada sifat keteguhan tekan. Pada umumnya bambu lamina 3 lapis baik yang dibuat dari bambu andong maupun bambu mayan setara dengan kayu kelas kuat I; kecuali yang bilahnya diputihkan setara dengan kayu kelas kuat II. Bambu lamina dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku untuk mebel, desain interior dan bahan bangunan. 
PENGARUH KOMPOSISI ARAH LAPISAN TERHADAP SIFAT PAPAN BAMBU KOMPOSIT Sulastiningsih, I.M.; Ruhendi, Surdiding; Massijaya, Muh. Yusram; Darmawan, Wayan; Santoso, Adi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Litbang Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi arah lapisan terhadap sifat papan bambu komposit (PBK). Jenis bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) berumur sekitar 4 tahun yang diperoleh dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Bilah bambu andong yang digunakan untuk membuat PBK diberi perlakuan pendahuluan dengan jalan direndam dalam larutan boron 7% selama 2 jam. Produk PBK 5 lapis dibuat dengan 4 macam variasi komposisi arah lapisan. Bambu lamina dibuat dengan menggunakan perekat isosianat water based polymer-isocyanate (WBPI) dengan berat labur perekat 250 g/m2 permukaan, dikempa dingin dengan lama pengempaan 45 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan, kadar air, pengembangan tebal, dan pengembangan lebar PBK berturut-turut adalah 0,79g/cm3, 12,60%, 2,38%, dan 1,13%. Kualitas perekatan PBK yang dibuat dengan perekat isosianat (WBPI) cukup baik yang ditunjukkan oleh tidak terjadinya delaminasi pada semua contoh uji untuk pengujian delaminasi. Keteguhan rekat rata-rata (uji kering) PBK yang dibuat dari bambu andong dengan perekat isosianat adalah 70,4 kg/cm2.  Sifat fisis dan mekanis PBK sangat dipengaruhi oleh komposisi arah lapisan penyusun PBK. Sifat mekanis PBK menurun dengan meningkatnya jumlah lapisan silang dalam komposisi lapisan penyusun PBK. Sebaliknya keberadaan lapisan silang dalam komposisi lapisan penyusun PBK meningkatkan kestabilan dimensi PBK yang dihasilkan.
BEBERAPA SIFAT BAMBU LAMINA YANG TERBUAT DARI TIGA JENIS BAMBU Sulastiningsih, l. M.
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.3.277 - 287

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kemungkinan penggunaan bambu lamina sebagai bahan substitusi kayu, khususnya mengetahui pengaruh jenis bambu terhadap sifat bambu lamina yang direkat dengan urea formaldehida. Bambu yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarandinacea), bambu mayan (Gigantochloa robusta) dan bambu tali (Gigantochloa apus) yang berasal dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sifat bambu lamina dipengaruhi oleh jenis bambu yang digunakan kecuali kadar air, keteguhan tekan sejajar serat dan keteguhan rekat. Kerapatan bambu lamina bervariasi antara 0,62 - 0,79 g/ cm. Bambu lamina dari bambu tali merniliki nilai keteguhan lentur tertinggi sedangkan bambu lamina dari bambu mayan memiliki keteguhan lentur terenclah. Keteguhan rekat bambu lamina yang diuji dengan cara geser tekan bervariasi antara 67,03 - 86,19 kg/ cm2 dan 54,43 - 62,94 kg/ cm berturut-turut untuk uji kering dan uji basah. Sifat perekatan bambu lamina dari bambu andong, mayan dan tali cukup baik. Bambu lamina (3lapis) masing-masing dari bambu andong, mayan dan tali setara dengan kayu kelas kuat II. Pembuatan bambu lamina secara teknis dapat dilakukan dan produk tersebut dapat digunakan sebagai bahan substitusi kayu.
Sifat Kayu Lapis yang Dibuat dari Lima Jenis Kayu Asal Riau Achmad Supriadi; Deazy Rachmi Trisatya; Ignasia Maria Sulastiningsih
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 25 No. 4 (2020): Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18343/jipi.25.4.657

Abstract

The objective of this study was to determine the physical and mechanical properties of plywood made of punak (Tetramerista glabra Miq.), meranti bunga (Shorea teysmanniana Dyer ex Brandis), mempisang (Alphonsea spp.), suntai (Palaqium burckii H.J.L.), and pasak linggo (Aglaia argentea Blume). Liquid urea formaldehyde (UF) was used as an adhesive. Data analysis was carried out using a completely randomized design. Results showed that the moisture content and density of plywood produced in this study were around 10.4-10.95% and 0.65 to 0.93 g/cm3, respectively. The modulus of elasticity (MOE) and modulus of rupture (MOR) of plywood produced were between 63.371-123.548 kg/cm2 and 517-1.052 kg/cm2, respectively. It was also found that the tensile strength and bonding strength of the plywood produced were 461.6-1.095 kg/cm2 and 18.97-31.79 kg/cm2, respectively. It was recorded that moisture content and the bonding strength of the plywood produced met the Indonesian National Standard of Plywood. Among others, plywood produced from pasak linggo showed a superior quality. Referring to statistical analysis, it was confirmed that physical and mechanical properties of plywood were significantly affected by wood species, except moisture content. Keywords: mechanical properties, physical properties, plywood, Riau wood species
Effects of Nodes on the Properties of Laminated Bamboo Lumber I. M. Sulastiningsih; Surdiding Ruhendi; Muh. Yusram Massijaya; I Wayan Darmawan; Adi Santoso
Wood Research Journal Vol 4, No 1 (2013): Wood Research Journal
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51850/wrj.2013.4.1.19-24

Abstract

The objective of this study was to determine the effects of node on the properties of laminated bamboo lumber (LBL) glued with water based polymer-isocyanate adhesive. Bamboo strips for LBL fabrication were prepared from andong bamboo (Gigantochloa pseudoarundinacea) collected from private gardens in West Java. Each bamboo strip has dimension of 40 cm x 2 cm x 0.5 cm. The bamboo strips were assigned into 3 groups by the node positions: without node, with node position of 10 cm from one end of the bamboo strip, and with node position in the centre of the bamboo strip. Prior LBL fabrication, the bamboo strips were treated by cold soaking in 7% boron solution for 2 h. The laboratory scale 3-layer laminated bamboo lumbers were manufactured with 5 different layer compositions: all layers made of bamboo strips without node, inner layer made of bamboo strips with nodes at 10 cm from one end of the strip, inner layer made of bamboo strips with nodes at the centre of the strip, all layers made of bamboo strips with nodes at 10 cm from one end of the strip, and all layers made of bamboo strips with nodes at the centre of the strip.  The glue spread and cold pressing time applied were 250 g/m2 and 1 h, respectively.The results showed that the average density, moisture content, thickness swelling, bending strength and compression strength of laminated bamboo lumbers were 0.74 g/cm3, 11.3%, 2.9%, 1090 kg/cm2,and560 kg/ cm2, respectively. No delamination occurred in all samples, indicating high bonding quality. The average bonding strength (dry test) of laminated bamboo lumbers was 70.3 kg/cm2. Several properties of laminated bamboo lumber were not significantly affected by the present of nodes in the bamboo strips except the thickness swelling and compression strength. 
Pangsor (Ficus callosa WILLD) and kecapi (Sandoricum kucape MERR) are usually planted in garden and rural forest. The objective of this study was to determine its specific gravity (SG), maximum crushing strength (σc//), longitudinal modulus elasticity (EL), and Poisson’s ratio (n).  The compression test  was conducted referring to  ASTM D143-94(2000) using UTM Instron 3369 which is equipped with two biaxial clip on extensometers.  The result showed that vertical and horizontal position of wood i Lusita WARDANI; Effendi Tri BAHTIAR; Ignasia Maria SULASTININGSIH; Atmawi DARWIS; Lina KARLINASARI; Naresworo NUGROHO; Surjono SURJOKUSUMO
Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan Vol. 4 No. 1 (2011): Jurnal Ilmu Teknologi Hasil Hutan
Publisher : Departemen Hasil Hutan, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pangsor (Ficus callosa WILLD) and kecapi (Sandoricum kucape MERR) are usually planted in garden and rural forest. The objective of this study was to determine its specific gravity (SG), maximum crushing strength (σc//), longitudinal modulus elasticity (EL), and Poisson’s ratio (n).  The compression test  was conducted referring to  ASTM D143-94(2000) using UTM Instron 3369 which is equipped with two biaxial clip on extensometers.  The result showed that vertical and horizontal position of wood in the trees statistically significant influenced on SG and σc//.  Horizontal position in Pangsor wood affected its EL, but the other position in both species were not significantly different.  There were poor correlations between SG with EL and σc//.   Poisson’s ratio value of both woods were in a range 0.0045 – 0.275 for longitudinal-radial direction (nLR), and 0.0151 – 0.1289 for longitudinal-tangensial direction (nLT).   Keywords :    Longitudinal Modulus of Elasticity, Maximum Crushing Strength, Poisson’s Ratio, Pangsor wood, Kecapi wood
Effects of Nodes on the Properties of Laminated Bamboo Lumber I. M. Sulastiningsih; Surdiding Ruhendi; Muh. Yusram Massijaya; I Wayan Darmawan; Adi Santoso
Wood Research Journal Vol 4, No 1 (2013): Wood Research Journal
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51850/wrj.2013.4.1.19-24

Abstract

The objective of this study was to determine the effects of node on the properties of laminated bamboo lumber (LBL) glued with water based polymer-isocyanate adhesive. Bamboo strips for LBL fabrication were prepared from andong bamboo (Gigantochloa pseudoarundinacea) collected from private gardens in West Java. Each bamboo strip has dimension of 40 cm x 2 cm x 0.5 cm. The bamboo strips were assigned into 3 groups by the node positions: without node, with node position of 10 cm from one end of the bamboo strip, and with node position in the centre of the bamboo strip. Prior LBL fabrication, the bamboo strips were treated by cold soaking in 7% boron solution for 2 h. The laboratory scale 3-layer laminated bamboo lumbers were manufactured with 5 different layer compositions: all layers made of bamboo strips without node, inner layer made of bamboo strips with nodes at 10 cm from one end of the strip, inner layer made of bamboo strips with nodes at the centre of the strip, all layers made of bamboo strips with nodes at 10 cm from one end of the strip, and all layers made of bamboo strips with nodes at the centre of the strip.  The glue spread and cold pressing time applied were 250 g/m2 and 1 h, respectively.The results showed that the average density, moisture content, thickness swelling, bending strength and compression strength of laminated bamboo lumbers were 0.74 g/cm3, 11.3%, 2.9%, 1090 kg/cm2,and560 kg/ cm2, respectively. No delamination occurred in all samples, indicating high bonding quality. The average bonding strength (dry test) of laminated bamboo lumbers was 70.3 kg/cm2. Several properties of laminated bamboo lumber were not significantly affected by the present of nodes in the bamboo strips except the thickness swelling and compression strength. 
PENGKLASIFIKASIAN KETAHANAN 20 JENIS BAMBU TERHADAP RAYAP KAYU KERING Jasni Jasni; Ratih Damayanti; Ignasia Maria Sulastiningsih
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.3.171-183

Abstract

Dua puluh jenis bambu dari berbagai daerah di Indonesia diuji ketahanannya terhadap rayap kayu kering (Cryptotermes cynocephalus Light.). Masing-masing jenis bambu dibuat contoh uji dengan ukuran 5 cm x 2,5 cm x 1 cm. Pengujian dilakukan selama 12 minggu dengan mengacu pada SNI 7207-2014. Parameter yang diamati dan dijadikan sebagai dasar klasifikasi meliputi persentase penurunan berat bambu, persentase jumlah rayap yang hidup, dan derajat serangan (subyektif). Penelaahan berdasarkan persentase penurunan berat menunjukkan sebanyak dua jenis bambu termasuk kelas ketahanan I, enam jenis termasuk kelas ketahanan II, lima jenis termasuk kelas ketahanan III, empat jenis termasuk kelas ketahanan IV, dan tiga jenis termasuk kelas ketahanan V. Berdasarkan jumlah rayap yang hidup, sebanyak dua jenis termasuk kelas ketahanan I, satu jenis termasuk kelas ketahanan II, sepuluh jenis termasuk kelas ketahanan III, lima jenis termasuk kelas ketahanan IV, dan dua jenis termasuk kelas ketahanan V. Hasil pengelompokan berdasarkan derajat serangan menunjukkan dua jenis bambu mengalami kerusakan sebesar 38 - 40,5% dengan nilai 90 (termasuk kerusakan berat) dan 18 jenis bambu mengalami kerusakan sebesar 18,4 - 34,9% dengan nilai 70 (termasuk kerusakan sedang).
PENGARUH KOMPOSISI ARAH LAPISAN TERHADAP SIFAT PAPAN BAMBU KOMPOSIT I.M. Sulastiningsih; Surdiding Ruhendi; Muh. Yusram Massijaya; Wayan Darmawan; Adi Santoso
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2014.32.3.221-234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi arah lapisan terhadap sifat papan bambu komposit (PBK). Jenis bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) berumur sekitar 4 tahun yang diperoleh dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Bilah bambu andong yang digunakan untuk membuat PBK diberi perlakuan pendahuluan dengan jalan direndam dalam larutan boron 7% selama 2 jam. Produk PBK 5 lapis dibuat dengan 4 macam variasi komposisi arah lapisan. Bambu lamina dibuat dengan menggunakan perekat isosianat water based polymer-isocyanate (WBPI) dengan berat labur perekat 250 g/m2 permukaan, dikempa dingin dengan lama pengempaan 45 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan, kadar air, pengembangan tebal, dan pengembangan lebar PBK berturut-turut adalah 0,79g/cm3, 12,60%, 2,38%, dan 1,13%. Kualitas perekatan PBK yang dibuat dengan perekat isosianat (WBPI) cukup baik yang ditunjukkan oleh tidak terjadinya delaminasi pada semua contoh uji untuk pengujian delaminasi. Keteguhan rekat rata-rata (uji kering) PBK yang dibuat dari bambu andong dengan perekat isosianat adalah 70,4 kg/cm2.  Sifat fisis dan mekanis PBK sangat dipengaruhi oleh komposisi arah lapisan penyusun PBK. Sifat mekanis PBK menurun dengan meningkatnya jumlah lapisan silang dalam komposisi lapisan penyusun PBK. Sebaliknya keberadaan lapisan silang dalam komposisi lapisan penyusun PBK meningkatkan kestabilan dimensi PBK yang dihasilkan.
PENGARUH CAMPURAN JENIS KAYU TERHADAP SIFAT VENIR LAMINA (Effect of wood species cominations on laminated veneer properties) I M Sulastiningsih; Rodjak Memed; Paribotro Sutigno
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 8 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1993.11.8.308-312

Abstract

experimental laminated veneer ( 5 - ply ) were made from 12 wood species veneers glued with urea formaldehyde. Thickness of veneer was 1.5 mm and the range of veneer density was 0.38 - 0.83 g/cm3. Veneers were divided into 3 groups based on their densily i.e. low, medium and high. The laminated veneer properties were tested in accordance with the plywood standards ( JAS and ASTM) the properties tested were density,moisture content, bending strength, tensile strength, compression strength , and moisture resistant. Bonding strengththe results showed that all kinds of wood species combination could be made for laminated veneer glued with urea formaldehyde without any difficullty. The density of laminated veneer was higher than an average veneer density of single. wood species or an average veneer density of mixed wood species. The mechanical properties of laminated veneer increased as the densily of laminated veneer increased and the relationship could be expressed by linear regression equations. As a result, some laminated veneer properties could be estimated from its density without considering its wood species.