cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6281229463400
Journal Mail Official
inyomansantiawan@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah Dukuh Macanan Baru, Morangan, Mojayan, Kec. Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57414 Telepon: (0272) 3352795
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Widya Aksara: Jurnal Agmaa Hindu
ISSN : 2085272X     EISSN : 26589832     DOI : -
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu merupakan Jurnal Sosial, Budaya dan Agama Hindu yang menerbitkan hasil penelitian atau pemikiran tentang studi agama dan studi sosial dan budaya menggunakan perspektif interdisipliner. Lingkup Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu adalah: Studi agama Hindu seperti Fisafat, Etika dan Upacara Studi sosial dan budaya seperti sosiologi masyarakat Hindu Sumber pengajaran terkait: studi agama, pemikiran Hindu, filsafat Hindu, studi pendidikan agama Hindu, studi penerangan agama dan kajian budaya
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 22 No 1 (2017)" : 6 Documents clear
ANTUSIAS UMAT HINDU DALAM PELAKSANAAN UPACARA TAWUR KESANGA NASIONAL DI CANDI PRAMBANAN SAKA 1939 Warta, I Nyoman
Widya Aksara Vol 22 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.728 KB)

Abstract

Latar belakang pelaksanaan upacara Tawur Kesanga di Candi Prambanan menurut tingkatannya seharusnya ?Tawur Agung Kesanga?,  karena tingkat nasional, namun umat yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta baru bisa meyelenggara  tingkat Panca Kelud. Sesungguhnya merupakan upacara Tawur Kesanga Tingakat Provinsi. Ini mencerminkan pada Desa Kala dan Patra yang dilandasi dengan ketulusan serta hari yang suci dan anandham. Candi Prambanan salah satu peninggalan Agama Hindu yang pernah mengalami kejayaan pada masanya. Sehingga dengan harapan anak cucu kita juga mampu meneruskan dan mewariskan kepada generari penerusnya. Mengingat sekarang pendidikan sejarah mengenai peninggalan Hindu sudah semakin berkurang serta niat anak-anak kita sangat minim terhadap sejarah, karena perkembangan jaman dan berbagai faktor. Dengan demikian Pelaksanaan Upacara Tawur Kesanga di Candi Prambanan merupakan salah satu metodelogis tentang pemahaman dan pelastarian peninggalan sejarah Hindu yang wajib kita pertahankan sampai kapanpun. Adapun yang menjadi rumusan masalah ini adalah: (a) Mengapa pelaksanaa Upacara Tawur Kesanga Nyepi Nasional di  Candi  Prambanan. (b) Persepsi masyarakat terhadap Upacara Tawur Kesanga Nyepi Nasional di Candi Prambanan. (c) Tingkatan Upacara Tawur Kesanga Nyepi Nasional di Candi Prambanan. Guna mengkaji Upacara tawur kesange nyepi menggunakan Teori Relegi, Teori Struktural Simbolik, krangka berpikir. Penelitian ini dilakukan di Candi Prambanan Yogyakarta. Umat Hindu Yogyakarta melaksanakan upacara Tawur Kesanga setiap tahun sekali dalam menjaga kelestarian atau keseimbangan alam semesta. Candi Prambanan adalah peninggalan sejarah kerajaan Hindu terbesar diperbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di sinilah tempat pelaksanaan upacara Bhutayajña Tawur Kesanga bagi umat Hindu Jawa Tengah dan Yogyakarta setiap tahun sekali. Khusus bagi umat Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta semestinya melaksanakan upacara Bhutayajña Tawur Kesanga di Perempatan Tugu Yogyakarta, karena alasan keamanan maka pelaksanaan upacara Tawur Kesanga dilakukan di Pelataran Candi Prambanan, dengan tujuan menjaga secara ritual dan spitual keberadaan Candi Prambanan sebagai warisan terbesar agama Hindu, dengan harapan generasi penerus kita agar bisa menjaga dan merawatnya. Dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, teknik observasi, studi kepustakaan. Dengan demikian sehingga penelitian ini layak untuk dilanjutkan sehingga apa yang menjadi harapan dapat terwujud dengan baik
BENTUK, FUNGSI DAN MAKNA UPACARA BUBAK KAWAH DALAM RANGKAIAN PERKAWINAN DI DUSUN KEDUNGBIRU, DESA BALONG,KECAMATAN JENAWI, KABUPATEN KARANGANYAR Wisnu Wardani, Dewi Ayu
Widya Aksara Vol 22 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.717 KB)

Abstract

Upacara Bubak Kawah erat hubungannya dengan siklus kehidupan seseorang. Upacara Bubak Kawah kaya dengan arti simbolis yang memiliki makna mendalam. Dewasa ini disadari atau tidak telah terjadi banyak perubahan terhadap orang Jawa itu sendiri. Orang-orang Jawa modern, terutama generasi mudanya, tidak lagi memahami makna dan perlambang yang tersirat dalam berbagai upacara tradisional yang masih dilaksanakan sebagian masyarakat pendukungnya, termasuk pelaksanaan upacara Bubak Kawah. Pada dasarnya pelaksanaan Upacara Bubak Kawah yang selama ini dilaksanakan oleh masyarakat umum merupakan ajaran Agama Hindu. Upacara Bubak Kawah sesungguhnya merupakan realisasi dari pada pelaksanaan ajaran yadnya dalam Agama Hindu. Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimanakah bentuk upacara Bubak Kawah yang dilaksanakan masyarakat Dusun Kedungbiru, Desa Balong, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar ?, Apakah fungsi dan makna upacara Bubak Kawah yang dilaksanakan masyarakat Dusun Kedungbiru, Desa Balong, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Apakah nilai yang terkandung dalam pelaksanaan upacara Bubak Kawah di Dusun Kedungbiru, Desa Balong, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar? Sesungguhnya upacara Bubak Kawah sangat penting dilakukan oleh para orang tua karena upacara Bubak Kawah mempunyai tujuan agar calon orang tua dan anaknya hidup selamat, bahagia dan si anak menjadi anak suputra. Realisasi upacara Bubak Kawah dalam masyarakat Kecamatan Jenawi tersebut menggunakan lambang dan simbol dalam mengungkapkan suatu keyakinan sebagai ungkapan kepercayaan kepada Tuhan, seperti halnya Umat Hindu menggunakan simbol-simbol sebagai wujud pemujaan kepada Tuhan. Hal ini diwujudkan dalam bentuk yang nyata, seperti : penggunaan sesaji, wilujengan, simbol kain, dan prosesi upacaranya yang penuh dengan makna. Nilai-nilai luhur dalam Bubak Kawah berkaitan erat dengan ajaran Agama Hindu, yaitu : Tatwa, Susila dan Acara. Penerapan nilai-nilai luhur dalam upacara Bubak Kawah merupakan penerapan ajaran Agama Hindu yang digali dari ajaran Kitab Suci Weda.
DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP MORAL GENERASI MUDA Setyaningsih
Widya Aksara Vol 22 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.881 KB)

Abstract

Perubahan zaman membawa dampak bagi seluruh Negara. Dengan adanya  perubahan zaman, pola pikir manusiapun ikut berubah. Perubahan zaman membawa dampak positif maupun negatif. Perubahan ini terjadi karena adanya perubahan Globalisasi. Dahulu, moral anak Indonesia bisa diacungkan jempol. Dilihat dari tatakramanya, sopan santun dan tutur bahasanya yang baik. Tetapi kini, moral atau perilaku anak remaja di Indonesia sangat memprihatinkan. Banyak sekali perilaku-perilaku menyimpang yang kian marak terjadi di Indonesia. Penyimpangan-penyimpangan tersebut sebagian besar dilakukan atau dialami oleh anak remaja. Dalam tulisan ilmiah ini penulis mempunyai tiga permasalahan yaitu bagaimana globalisasi dapat menyebabkan dampak bagi moral generasi muda, latar belakang apa saja yang menyebabkan perubahan moral bagi generasi muda, dan seberapa besar perubahan yang terjadi karena adanya globalisasi bagi generasi muda. Penanaman nilai etika, moral, dan akhlak tidak hanya ditanamkan di lingkungan keluarga saja namun diperlukan kerja sama dari pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah. Keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dimana seorang anak mendapatkan bekal pendidikan etika, moral, dan akhlak. Peranan orang tua sangat penting dalam proses perkembangan moral anak. Sejak dini orang tua harus mampu memberikan arahan, bimbingan, serta teladan kepada anak.
FILOSOFI RITUAL SESUAI KEARIFAN LOKAL MEWUJUDKAN KEHIDUPAN HARMONI Warta, I Nyoman
Widya Aksara Vol 22 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.68 KB)

Abstract

Ritual sesungguhnya memiliki kekuatan saling ketergantungan dengan Puja,Weda, Sehe dan Attmanastuti. Karena ritual memiliki kekuatan Prawrti Jnana, sedangkan Puja Weda, mantram, sehe dan attmanastuti memiliki Nirwrti Jnana dan Prawrti Jenana kedua kekuatan itu adalah sebagai kekuatan Lingga (Puja Weda, Mantra, sehe dan attmanastuti) dan kekuatan Yoni  (ritual), atau kekuatan Bhakti dan Sradhanya umat Hindu kehadapan Sang Hyang Widhi. Kehidupan Rwa Bhineda tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan keseharian. Ritual dalam Hindu merupakan wujud, bentuk dan fungsi. Tetandingan Ritual   hendaknya berdasarkan pada: Kuno Dresta (purwa dresta), Desa Dresta, dan yang terpenting justru Sastra Dresta yang merupakan inti pokok dari filsafat  ritual agama Hindu, bentuknya boleh berbeda-beda sesuai dengan Desa Dresta namun isinya atau esensinya sesuai dengan Weda atau sastra Drsesta ( Ida Bagus Putu Dharsana,2010). Sesungguhnya ada 4 (empat) ajaran agama Hindu ini merupakan cerminan dari esensi ajaran Weda yaitu: (1). Ajaran Mantra mencerminkan adanya ritual dan  dharma gita/lagu-lagu pemujaan seperti adanya Puja Weda, mantra dan sehe. (2). Ajaran upanisad mencerminkan adanya Tattwa agama/filosofis ajaran agama yang sangat dalam maknanya, sesungguhnya tidak seperti apa yang kita lihat, namum dibalik tersebut tidak bisa terjangkau oleh akal pikiran manusia.(3). Ajaran Brahmana mencerminkan adanya ritual keagamaan yang sangat beraneka ragam bentuk jenis dan fungsinya, sesuai dengan Kuna Dresta, Desa Dresta dan Sastra Dresta. Namun secara kenyataan itu berbeda semua, tetapi secara esensi pada hakikatnya itu adalah sama ? Ekam Evam Adityam Brahmana?.(4). Ajaran Aranyaka mencerminkan adanya Etika. Ajaran etika sangat penting dalam pelaksanaan kehidupan  beragama dan keagamaan. Lebih-lebih dalam kehidupan kekinian, ajaran etika mutlak ditingkatkan disegala lini kehidupan.  Termasuk dalam pelaksanaan ritual  yadnya harus dilandasi dengan makna filosofis dan etika, sehingga makna ritual, makna filosifis dan makna etikanya menyatu yakni satyam sivam sumdharam. Ritual merupakan unsur yang dapat mewakili pengertian tersebut. Hal ini merupakan penyikapan bhatin yang mendalam dan pada hakikatnya sesaji/banten merupakan banyak hal. Bisa melambangkan sifat-sifat Tuhan seperti banten Dewa-dewi, Lis  Senjata, Banten Guru piduka, Banten Daksina Pejati, Banten Plagembal, Banten Bebangkit dan sebagainya. Disamping  tersebut banten juga  melambangkan kreatifitas manusia dalam  perjalnan hidupnya mencari  hakikat kebenaran. Banten juga  merupakan wujud cinta kasih dan pelepasan ikatan duniawi yang menjerat kehidupan manusia. Sebagai wakil ketinggian daya nalar manusia, untuk menyampaikan gagasan dan ide-ide dalam  melakukan komunikasi, baik diantara manusia, dengan alam lingkungan, maupun yang  bersikap transenden. Secara filsafat dinyatakan semakin tinggi daya nalar manusia, semakin mampu menampilkan gagasannya dan ide-idenya yang lahir dari  penyikapan pengalaman rohani yang  lebih  komunikatif, baik dilihat dari keanekaragaman bentuk, simbolis maupun keluasaan ataupun kedalaman makna. Filosofi ritual merupakan sarana konsentrasi, sarana pembersihan, sarana kesucian dan mengandung nilai estitika. Dan sangat perlu kita sadari mengapa kita beryadnya, tujuan melakukan yadnya, kualitas yadnya dan arti lambing yadnya. Sebagai manipestasi Ida Sang Hyang Widhi. Semua yadnya bhakti yang dilaksanakan sebagai peradaban hidup suci dan harmonis. Keharmonisan ini akan  menimbulkan  berbagai nalia seni, budaya dan tradisi menjadi akulturasi kehidupan dialektika agama dan budaya yang mengakar dalam masyarakat, dan ini lah yang sessungguhnya memutar dunia bisa bergerak sesuai dengan dharmanya. Dengan ritual yang tulus dan suci akan  memberikan kedamian bhatin serta alam beserta isinya menjadi harmoni.
JATI DIRI SEORANG PEMIMPIN DALAM KAKAWIN RAMAYANA Sujaelanto
Widya Aksara Vol 22 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.04 KB)

Abstract

Setiap organisasi formal maupun non formal, pasti memerlukan pemimpin. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kemampuan untuk menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu atau tujuan bersama. kepemimpinan adalah suatu seni untuk menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Keberhasilan kepemimpinan tergantung pada kondisi wilayah dan masyarakat yang dipimpinnya. Untuk mencapai keadaan gemah ripah loh jinawi tergantung dari usaha dan jati diri seorang pemimpin untuk memainkan nilai kepemimpinan. Ajaran kepemimpinan banyak ditemukan diberbagai sastra Hindu, termasuk dalam Kakawin Ramayana. Jati diri seorang pemimpin dapat direvitalisasi dalam ajaran Asta Barata
NILAI ESTETIKA TUMPENG JAWA Sugiman
Widya Aksara Vol 22 No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.166 KB)

Abstract

Masyarakat Jawa memiliki kebiasaan dan tradisi yaitu membuat Tumpeng untuk kenduri atau merayakan suatu peristiwa misalnya perayaan Kelahiran, upacara Perkawinan, upacara Bersih Desa dan lain-lainnya, Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional yang merupakan wujud syukur dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa Kalau masyarakat Jawa memiliki hajad menyajikan Tumpeng maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta agar terhindar dari pengaruh tidak baik serta memperoleh kemuliaan.  Nasi Tumpeng yang dibuat oleh masyarakat Jawa pada suatu acara tertentu bukan hanya sekedar makanan dengan tampilan yang menarik yang berwarna-warni bentuknya dan rasa yang lezat, namun semua itu memilik Nilai dan memiliki makna Filosofis dalam kehidupan manusia khusunya masyarakat Jawa yang sudah mempercayainya. Dari berbagai macam bentuk Tumpeng masing-masing memiliki makna sendiri-sendiri itu semua sesuai dengan keperluannya. Nasi Tumpeng yang dilengkapi berbagai macam lauk pauk semuanya itu mengandung makna dan memiliki fungsi. Sesuai dengan jenis-jenis tumpeng misalnya Tumpeng Robyong, Tumpeng Nujuh Bulan, Tumpeng Pungkur, Tumpeng Nasi Kuning, Tumpeng Nasi Uduk, Tumpeng Seremonial dan lain-lainnyayang memiliki variasi yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan yang membuat Tumpeng sebagai kelengkapan Tumpeng diberi Lauk Pauk sesuai dengan keperluannya.  Nasi Tumpeng  memiliki Nilai Estetika. Nasi Tumpeng juga memiliki makna yaitu Hubungan dengan Agama dan Ketuhanan, hubungannya dengan Alam semesta dan memiliki hubungannya dengan Sosial Kemasyarakatan ini semua untuk menuju keseimbangan hidup seseorang dalam menciptakan suasana yang aman damai dan sejahtera.

Page 1 of 1 | Total Record : 6