cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 504 Documents
PEMANFAATAN PUPUK HAYATI MIKORIZA UNTUK MENINGKATKAN TOLERANSI KEKERINGAN PADA TANAMAN NILAM MAWARDI MAWARDI; MUHAMAD DJAZULI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n1.2006.38-43

Abstract

ABSTRAKTanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan tanamanatsiri utama di Indonesia. Saat ini sekitar 90% minyak nilam duniadihasilkan oleh Indonesia. Produktivitas dan mutu nilam sangatdipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Salah satu faktorlingkungan abiotik yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan danproduksi nilam adalah cekaman kekeringan. Sampai saat ini informasimengenai toleransi nilam terhadap kekeringan masih sangat terbatas.Untuk itu, sebuah penelitian pemanfaatan pupuk hayati mikoriza untukmeningkatkan toleransi kekeringan pada tanaman nilam dilakukan padakondisi rumah kaca di Balai Penelitian Bioteknologi dan SumberdayaGenetika Pertanian pada bulan Januari sampai dengan bulan Juni 2003.Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang disusunsecara faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama 2 taraf aplikasi mikorisamasing-masing dengan dan tanpa mikoriza. Faktor kedua adalah 4 tarafcekaman kekeringan dengan tingkat pemberian air (KL) yang berbedamasing-masing (1) tanpa cekaman kekeringan (100% KL), (2) cekamankekeringan rendah (75% KL), (3) cekaman kekeringan sedang (50% KL),dan (4) cekaman kekeringan tinggi (25% KL). Aplikasi mikoriza dilakukan1 bulan setelah tanam (BST), sedangkan perlakuan cekaman kekeringandiberikan 2 BST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilam yang diberimikoriza mempunyai pertumbuhan yang lebih baik. Kekeringan menekanpartumbuhan dan hasil tanaman nilam secara linier. Sebaliknya, cekamankekeringan mampu meningkatkan kadar minyak dan patchouli alkoholdaun nilam. Interaksi antara kedua faktor yang diuji terjadi pada parameterpanjang akar total dan kadar prolina daun nilam. Keberadaan mikoriza didalam akar mampu meningkatkan toleransi terhadap cekaman kekeringan.Kandungan patchouli alkohol daun tertinggi dijumpai pada kombinasiperlakuan aplikasi mikoriza dengan cekaman kekeringan tinggi (25% KL).Kata kunci : Nilam, Pogostemon cablin Benth, mikoriza, cekamankekeringan, pertumbuhan, produktivitas, Jawa BaratABSTRACTUse of mycorhiza bio-fertilizer in increasing droughttolerance of patchouli plant (Pogostemon cablin Benth)Patchouli (Pogostemon cablin Benth) is a primary essential oil inIndonesia. More than 90 percent patchouli oil of the world is produced byIndonesia. Productivity and quality of patchouli oil are strongly affected bygenetic and environmental factors. One of abiotic environment which hasstrongly effected growth and productivity of patchouli is drought stress.The information on the tolerance of patchouli to drought stress is limited.For that purpose, an experiment of the effect of mycorhiza application anddrought stress treatments was conducted at a glass house condition inIndonesian Agricultural Biotechnology and Genetic Resources ResearchInstitute, from January to June 2003. A factorial experiment was arrangedin a completely randomized design (CRD) with three replication. The firstfactor was 2 mycorhiza treatments namely with and without mycorhizainoculation. The second factor were 4 drought stress treatments usingdifferent water application level (FC), i.e. (1) without drought stress (100%FC), (2) lowly drought stress (75% FC), (3) moderately drought stress(50% FC), and (4) highly drought stress (25% FC). Mycorhiza inoculationwas applied 1 month after planting (MAP). While drought stress treatmentswere applied at 2 MAP. The results of observation showed that theinoculation of mycorhiza improved growth performance. Drought stressreduced growth and production components linearly. On the contrary, thedrought stress was able to increase oil and patchouli alcohol contents in theleaf. The interaction between the two factors treatment was found on totalroot length and leaf proline content. The existing of mycorhiza inpatchouli root was able to increase drought stress tolerance. The highestpatchouli alcohol content of leaf was found at mycorhiza application andhighly drought stress (25% FC) combination treatment.Key words: Patchouli, Pogostemon cablin Benth, mycorhiza, droughtstress, growth, productivity, West Java
PENGARUH POPULASI TANAMAN TERHADAP SIFAT AGRONOMIS SERTA KADAR Cl DAUN TEMBAKAU VIRGINIA RAJANGAN PADA TANAH VERTISOLS DI BOJONEGORO ABDUL RACHMAN; nFN MAHFUDZ
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v9n4.2003.129-140

Abstract

Percobaan lapang telah dilakukan pada tanah vetisol di Kebun Percobaan Pekuwon, Bojonegoro, dimulai Mei sampai September 1996, untuk mempelajari pengaruh populasi tanaman tembakau terhadap sifat agronomis dan kadar Cl daun tanaman tembakau Virginia yang diolah dengan cara dirajang. Tinggi tempat dari lahan percobaan 13 m dpi, dan dengan tipe iklim D. Tanah bertekstur liat dengan 80% liat, 15% debu dan 5% pasir, 0.62% C-organik, 0.10% N, dan pH 8.20. Percobaan disusun dalam ancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari enam laraf populasi tanaman tembakau (12 000; 18 000; 24 000; 36 000; 48 000, dan 60 000 tanaman per ha atau setara dengan 144, 216, 288, 432, 576, dan 720 tanaman per petak). Ukuran petak 12 m x 10 m. Dalam percobaan ini akan dipelajari pula pengaruh bentuk hasil (rajangan dan krosok) terhadap kadar Cl daun. Sepuluh tanaman per petak diolah secara lue-cuing di dalam oven mini, untuk dianalisis kadar Cl daunnya. Varietas tembakau adalah DB 101. Hasil dan indeks tanaman masih terus meningkat sampai populasi tetinggi, sedangkan mutu dan rendemen tidak terpengaruh oleh peningkatan populasi. Peningkatan populasi sebaliknya menurunkan ukuran daun, bobot tiap daun, tinggi tanaman, lingkar batang, dan jumlah daun yang dapat dipanen. Berdasar hasil, mutu dan mudahnya pengelolaan di lapang populasi yang optimal adalah 24 000 tanaman per ha, untuk tembakau Virginia rajangan di Bojonegoro. Peningkatan populasi hanya berpengaruh pada kadar Cl daun atas saja. Sedangkan bentuk hasil tembakau ajangan dan krosok tidak berpengaruh pada kadar Cl daun.Kata kunci: Nicotiana tabacum, tembakau. tembakau Virginia rajangan, populasi tanaman, vertisols, sifat agronomis, kadar Cl, bentuk olahan ABSTRACT Effect of plant population on agronomic characteristics and leaf Cl content of sliced Virginia tobacco grown in vertisols of BojonegoroThe expeiment was conducted in vetisol soil of Bojonegoro in 1996 to study the effect of plant population on agronomic characteistics and Cl content of sliced tobacco leaves. The experiment was site located 13 m above sea level, with D climatic type. The soil characteristics were clay texture with 80% clay, 15% silt and 5% sand, 0.62% C-organic, 0.10 % N, and pH 8.2. The treatment consisted of six plant populations (12.000 up to 60.000 plants per ha equal with 144, 216, 288, 432, 576, and 720 plants per plot) was arranged in a randomized block design, with four replications. Plot size was 12 m x 10 m. Plant population per plo( based on the six treatment levels. For Cl content analysis, 10 plants plot was also taken to be processed with lue-curing method in mini oven. Tobacco variety was DB 101. Yield and crop index increased steadily as plant population increased up to the highest plant population. However the increase in plant population decreased the size, weight, number of leaves, and plant height. While grade index, percentage of dry to fresh leaf yield and Cl content of lower and middle leaves were not affected by the increase in plant population. Base on yield, quality, and easier management, the recommended plant population was 24 000 plant per ha. The increase in plant population only affected the Cl content of upper leaves. The form of sliced and lue-cured tobacco leaves did not affect the Cl content of (he leaves.Key words : Nicotiana tabacum, tobacco, sliced Virginia tobacco, plant population vetisols, agronomic characteristic, Cl contcnl, product form
TANGGAP TIGA VARIETAS LADA PERDU TERHADAP PUPUK ORGANIK YANG NURYANI; PASRIL WAHID
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v4n5.1999.135-139

Abstract

Response of three bushy black pepper vaieties to organic fetilizerResponse of three bushy black pepper varieties to organic fertilizer was studied in Sukamulya Research Insulation, rom February 1992 to August 1995. The plant materials used wee pepper cuttings deived rom generative branches. The field tial with factorial treatments was designed in a random¬ ized block with three replicates and 9 plants per plot The varieties tested were : a) Lampung Daun Lebar (LDL), b) Merapin, and c) Kuching. The organic fertilizer used wee : (a) Control, (b) 800 g OST (organic soil treatment) per plant per year and (c) 20 kg cattle manure per plant per year. The esults indicated that Kuching it the best in terms of the number and length of pimary branches, canopy area, number ofberries per spike, and spike length. Fertilizer ■tauuuuts as well as its interaction with varieties had no significant efect on yield at the first harvest. Catle manure had significant effect on to spiked and dried berries it die second harvest However, based on toul production of dried teed*, var. LDL and Kuching gave a significantly higher yield compared with Merapin.
PENGARUH JARAK TANAM DAN DOSIS PUPUK NPK MAJEMUK TERHADAP PERTUMBUHAN, PRODUKSI BUNGA, DAN ANALISIS USAHA TANI ROSELA MERAH BUDI SANTOSO; UNTUNG SETYO-BUDI; ELDA NURNASARI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v18n1.2012.17-23

Abstract

ABSTRAKPenelitian mengenai jarak tanam dan pemupukan untuk tanamanrosela merah (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa) belum banyak dilakukan.Suatu penelitian, yang dilakukan di Desa Kanyoran, Kecamatan Semen,Kabupaten Kediri pada tahun 2010, bertujuan untuk mendapatkan jaraktanam dan dosis pupuk NPK majemuk yang tepat bagi pertumbuhan sertaproduksi kelopak bunga rosela merah dan analisis usaha tani. Perlakuandisusun dalam rancangan acak kelompok faktorial dengan 3 ulangan.Sebagai faktor pertama adalah 3 ukuran jarak tanam yang terdiri atas 1) 80x 50 cm; 2) 100 x 50 cm; dan 3) 120 x 50 cm; dan sebagai faktor keduaadalah 5 dosis pupuk NPK majemuk yang terdiri atas a) 30 kg NPK/ha; b)37,50 kg NPK/ha; c) 45 kg NPK/ha; d) 52,50 kg NPK/ha; dan e) 60 kgNPK/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara jaraktanam (100 x 50 cm) dengan dosis pupuk (45 kg NPK/ha) yangmemberikan pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah cabang produktif,jumlah buah, bobot kelopak bunga berbiji, bobot biji, bobot basah kelopakbunga tanpa biji, dan bobot kelopak bunga kering maksimal, masing-masing sebesar 186,63 cm; 16,33 cabang; 117,00 buah; 41,33 kg/petak;16,17 kg/petak; 26,67 kg/petak; dan 2,35 kg/petak (652,75 kg/ha). Usahatani rosela merah memberikan keuntungan sebesar Rp 10.420.000/hadengan B/C = 1,49. Harga pokok kelopak bunga kering sebesarRp13.031/kg lebih kecil dibanding harga pasar (Rp 40.000/kg), dan dapatdijamin tidak akan terjadi kerugian bagi petaniKata kunci : Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa, jarak tanam, pupuk NPKmajemuk, pertumbuhan, produksiABSTRACTThere has been no research program on plant spacing and fertilization onred roselle plant (Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa) up to 2010. A studyconducted in Desa Kanyoran, Kecamatan Semen, Kediri in 2010, aimed atgetting appropriate plant spacing and NPK compound fertilizer dosage forgrowth and calyx production of red roselle, as well as its farm analysis.The experiment was arranged in a factorial randomized block design withthree replicates. As the first factor were 3 dimensions of plant spacingconsisting of 1) 80 x 50, 2) 100 x 50, and 3) 120 x 50 cm, and the secondfactor were 5 doses of NPK compound fertilizer consisting of a) 30, b)37.50, c) 45, d) 52.50, and e) 60 kg NPK/ha. The results showed that therewas an interaction between plant spacing (100 x 50 cm) with fertilizerdosage (45 kg NPK/ha), which resulted in plant height, number ofproductive branches, number of fruits, weight calyx with seed, seedweight, fresh weight of seedless calyx, and maximum dry weight of calyx,each amounting to 186.63 cm; 16.33 branches; 117.00 fruits; 41.33kg/plot; 16.17 kg/plot; 26.67 kg/plot; and 2.35 kg/plot (652.75 kg/ha),respectively. Red roselle farm provided a gain of Rp10,420,000/ha with aB/C of 1.49. Production cost of dried calyx was Rp13,031/kg, lower thanmarket price (Rp 40,000/kg), and was guaranteed to be no loss to farmers.Key words: Hibiscus sabdariffa var. sabdariffa, plant spacing, NPKcompound fertilizer, growth, production
KETAHANAN BEBERAPA AKSESI KAPAS TERHADAP HAMA PENGISAP DAUN Amrasca biguttula (ISHIDA) I G.A.A. INDRAYANI; SIWI SUMARTINI; B. HELIYANTO B. HELIYANTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n3.2007.81-87

Abstract

ABSTRAKAmrasca biguttula (Ishida) adalah serangga hama pengisap daunyang sangat potensial menurunkan produktivitas kapas. Pengendaliannyasecara kimiawi menimbulkan banyak masalah lingkungan, sepertipencemaran dan peningkatan resistensi hama terhadap insektisida kimiasintetis. Salah satu solusi dalam masalah tersebut adalah penggunaanvarietas tahan (resisten) yang juga merupakan bagian dari pengendalianhama terpadu (PHT) pada kapas. Penelitian ketahanan beberapa aksesikapas terhadap A. biguttula (Ishida) dilakukan di Kebun Percobaan BalaiPenelitian Tanaman Tembakau dan Serat di Asembagus, Situbondo, mulaiJanuari hingga Desember 2006. Tujuannya adalah untuk mengetahuiketahanan beberapa aksesi kapas terhadap serangan hama pengisap daun,A. biguttula. Sebagai perlakuan adalah 30 aksesi kapas yang ditanamdalam plot berukuran 10 m x 3 m, dengan jarak tanam 100 cm x 25 cm,satu tanaman per lobang. Setiap aksesi disusun dalam rancangan acakkelompok dengan tiga kali ulangan. Parameter yang diamati adalah jumlahnimfa A. biguttula per daun, jumlah bulu daun per cm 2 luas daun, danposisi bulu terhadap lamina (tegak/rebah), serta skor kerusakan tanaman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap aksesi kapas berpotensiterserang A. biguttula, meskipun tingkat populasi hama ini tidakmenunjukkan perbedaan nyata antar aksesi. Terjadi korelasi negatif (R 2 =0,2425) antara jumlah bulu daun dan populasi nimfa A. biguttula danantara jumlah bulu daun dan skor kerusakan tanaman (R 2 = 0,2027).Berdasarkan jumlah bulu daun, aksesi kapas yang termasuk kategorisedikit berbulu dengan kriteria ketahanan sedikit tahan adalah: AC 134,Stoneville 7, Fai Nai, SHR, CRDI-1, Kanesia 5, Kanesia 8, dan Kanesia 9.Sedangkan aksesi lainnya termasuk kategori tidak berbulu dan pekaterhadap serangan A. biguttula.Kata kunci : Kapas, Gossypium hirsutum, aksesi, hama, Amrascabiguttula (Ishida), toleran, peka, kerusakan, Jawa TimurABSTRACTResistance of several cotton accessions to sucking insectpest, Amrasca biguttula (Ishida)Amrasca biguttula (Ishida) is a sucking insect pest which potentiallyreduces cotton productivity. Its chemical control often cause environ-mental problems mainly air pollution and increase of pest resistance tocertain chemical insecticides. One solution can be used to solve theseproblems is by using resistant variety that is also an integral part of theintegrated pest management (IPM). Study on the resistance of severalcotton accessions to sucking insect pest, Amrasca biguttula (Ishida) wasconducted at the Experimental Station of the Indonesian Tobacco andFiber Crops Research Institute (IToFCRI) in Asembagus, Situbondo, EastJava, from January to December 2006. The objective of the study was tofind out the resistance of cotton accessions to sucking insect pest. Thirtyaccessions of cotton were used as treatment and were planted in plots 10 mx 3 m with plant spacing 100 cm x 25 cm, one plant per hole. Eachaccession was arranged in a randomized block design with threereplications. Parameters observed were number of nymph of A. biguttula,number of leaf hair, leaf hairs position (erect or lie down), and score ofdamage. The result showed that every accession of cotton can be attackedby A. biguttula although the insect population was not significantlydifferent among accessions. There is negative correlation (R 2 = 0.2425)between number of leaf hair and population of A. biguttula and betweennumber of leaf hair and score of plant damage (R 2 = 0.2027). Accessionsthat categorized as lightly hairy and moderately resistant to A. biguttulawere AC 134, Stoneville 7, Fai Nai, SHR, CRDI-1, Kanesia 5, Kanesia 8,and Kanesia 9, while the others were categorized as glabrous andsusceptible to the sucking pest.Key words: Cotton, Gossypium hirsutum, accession, insect pest, Amrascabiguttula (Ishida), tolerant, sensitive, damage, East Jav
PENDUGAAN PARAMETER GENETIK DAN KORELASI ANTAR SIFAT-SIFAT MORFOLOGI KELAPA (Cocos nucifera, Linn) HELDERING TAMPAKE; H. T. LUNTUNGAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 8, No 3 (2002): September, 2002
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v8n3.2002.97-102

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter genetik dan korelasi antar sifat-sifat morfologi kelapa. Bahan lanaman yang digunakan adalah 19 populasi kelapa lokal hasil koleksi dan beberapa pulau di Indonesia, ditanam di Kebun Percobaan Pakuwon, Jawa Barat pada tahun 1978 dan 1982. Tinggi tempat 450 m di atas permukaan laut dengan tipe iklim Bl menurut Oldeman. Jumlah tanaman 100 pohon, dengan jarak tanam 9 m x 9 m scgi empat untuk kelapa Dalam dan 60 pohon kelapa Genjah dengan jarak tanam 7 m x 7 m scgi empat sciiap populasi. Pengamatan dilaksanakan dalam dua lahap Mei-Agusius 1996 pada 14 populasi dan Juni-Agustus 2000 pada 5 populasi saat tanaman kelapa berumur 18 tahun. Tanaman yang diamati 4 pohon diulang 3 kali setiap populasi sehingga total tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah 19x4x3 « 228 pohon. Sifat yang diamati meliputi sifat-sifat morfologi batang, daun dan rangkaian bunga Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabilitas genetik sifal-sifal morfologi kelapa umumnya sempil. Beberapa sifat seperti: diameter batang 1,5 m dai permukaan lanah, panjang batang 11 bckas daun, langkai bunga tanpa bunga betina, dan jumlah bunga betina menunjukkan variabilitas genetik yang luas Pada umumnya hcritabilitas dalam am luas dan kemajuan genetik dalam persen untuk semua sifat tinggi, kecuali hentabilitas sifat tangkai bunga membawa bunga betina bemilai sedang. Terdapat korelasi genetik positif yang nyata pada sifat-sifat morfologi batang dengan daun dan rangkaian bunga, kecuali dengan jumlah bunga betina/tandan dan jumlah tandan/ph/lh. Dari 15 sifat yang diamati, hanya 6 sifat yang mempunyai korelasi genetik nyata dengan sifat jumlah bunga betina/tandan yaitu: diameter batang 1.5 m dari permukaan lanah (rg = -0.5215*), panjang batang 11 bckas daun (rg • -0.5369*), lebar anak daun (rg ■ -0.5961**), tebal tangkai landan (rg = 0.5802**), panjang rangkaian bunga (rg ■ -0,6143**), dan panjang tangkai bunga (rg = -0.4907*), sehingga sifat-sifat tersebut dapat digunakan sebagai kiteia seleksi untuk memperoleh jumlah bunga betina banyak per mayang pada lanaman kelapa.Kata kunci: Kelapa, parameter genetik, korelasi, sifat morfologi ABSRACT Estimation of Genetic Parameters and Correlation Between Morphological Traits in Coconut (Cocos nucifera, Linn)The objective of this experiment was to determine genetic parameters and correlation between morphological trails on the coconut population. A total of 19 local coconut populations were collected from some islands in Indonesia, planted at Pakuwon Experimental Garden, West Java in 1978 and 1982. The altitude is 450 meters above sea level with climate type Bl Oldeman. The total number of sample is 100 palms for each tall coconut with planting distance 9 x 9 m and 60 palms for each dwarf coconut with planting distance 7 x 7m. The observation was done in two steps i.e.: May - August 1996 on 14 populations and June - August 2000 on 5 populations when the coconut population was 18 years old. A number of 4 palms with 3 replications were observed of each population to measure morphological traits of he stem, leaf and inflorescence. Therefore, the total palms used in the experiment were 19 x 4 x 3 = 228. The results revealed that the genetic vaiability of coconut morphological trait were generally narrow. A few traits i.e.: stem diameter 1 5 m from ground level, stem length of 11 leaf scars, spadix without female flower, and number of female flowers/bunch showed a wide degree of variability. In general, the heritabilily estimates in broad sense and genetic gained in percent for all trails were high, except the henlability of spadix with female flower Irait was lowly. A positive significant genetic correlation were found to the morphology traits of stem with leaf and inllorcsccncc except Uic number of female flower/bunch and number of bunch/palm/ycar. From fifteen traits, only six traits had significant genetic correlation with the number of female flower Ihcy were diameter stem 1 5 m from ground level (rg 0.5215*), stem length of 11 leaf scars (rg - -0.5369'), leaflet width (rg - -0.5961**), peduncle thickness (rg 0.5802**), length of inflorescence (rg -0.6143**), and length of spadix (rg -0.4907*), and these traits could be used as selection criteria for selecting high female flower bunch on the coconut.Keywords ;Cocos nucifera. genetic parameters, correlation, mor- phological trails
KARAKTERISTIK MORFOLOGI, POTENSI PRODUKSI DAN KOMPONEN UTAMA RIMPANG SEMBILAN NOMOR LEMPUYANG WANGI SRI WAHYUNI; NURLIANI BERMAWIE; NATALINI NOVA KRISTINA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n3.2013.99-107

Abstract

ABSTRAKLempuyang  merupakan family  Zingiberaceae,  dan  banyakdigunakan oleh masyarakat untuk obat/jamu sebagai peningkat stamina,antikanker dan obat antiinfeksi. Balittro memiliki koleksi plasma nutfahlempuyang yang dikumpulkan dari berbagai daerah. Potensi sifat tanamanperlu dievaluasi untuk mengetahui karakter potensial dan keunggulannya.Karakterisasi sembilan aksesi lempuyang wangi dilakukan di KP. Cicurug– Sukabumi Jawa Barat tahun 2009 hingga tahun 2010. Benih ditanamdengan jarak tanam 60 x 40 cm, jumlah tanaman per plot 20 tanaman dandiulang tiga kali. Pengamatan dilakukan pada sepuluh tanaman terhadapsifat morfologi tanaman, pertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang. Hasilpengamatan menunjukkan bahwa morfologi dan pertumbuhan tanamanlempuyang bervariasi. Pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah anakan,jumlah daun panjang dan lebar daun, serta diameter batang antar aksesibervariasi. Produksi rimpang lempuyang wangi umumnya lebih dari 15ton/ha, rimpang mempunyai banyak akar. Mutu simplisia rimpang adalahkisaran kadar minyak atsiri 1,34–4,61%, kadar sari larut dalam air 16,22–23,5%, kadar sari larut etanol 7,9–13,8%, kadar serat 5,47– 8,87% dankadar pati 40-50%. Hasil analisis ekstrak rimpang lempuyang dengan GC-MS menunjukkan bahwa sekitar 50 komponen terdeteksi. Zerumbonemerupakan komponen utama lempuyang dengan nilai sebesar 36–49%.Komponen utama zerumbone dan acetic acid terdapat di semua aksesi.Komponen utama lainnya di antaranya adalah alpha humulene, humuleneoxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo, caryophileneoxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, dan 3-octyne 5-methyl.Komposisi komponen utama antar aksesi berbeda senada dengan aromawangi yang ditimbulkan pada lempuyang. Sebanyak tujuh nomor aksesiyang mempunyai keunggulan produksi lebih dari 15 t/ha, mutu minyakatsiri lebih dari 1% dan zerumbone 40%.Kata kunci: Zingiber aromaticum, produksi, komponen utama rimpangABSTRACTWild ginger is one of Zingiberaceae family. Plant use as a medicinefor stamina improvement, anticancer and antiinfection. Balittro hadcollected wild ginger from several area and potential characters should beevaluated. Characterization was conducted at Cicurug experimental garden– West Java on 2009-2010. Seed rhizome of nine accession was plantedwith 60 x 40 cm space, twenty numbers of plant each plot and threereplication. Observation was carried out for morphological characters,growth, yield, and rhizome quality. Result showed that there werevariations in morphology and growth of wild ginger. Plant height, numbersof tillers, numbers of leaves, leaves length, leaves width, and stemdiameter among acessions were variate. Rhizome yield was generally morethan 15 ton/ha, rhizome having plenty of roots. Rhizome quality analysisshowed that among accessions have essential oil content range from 1.34-4.61%, extract soluble water 16.22 – 23.5%, extract soluble ethanol 7.9-13.88%, fiber content 5.47 – 8.87%, and carbohydrat content 40-50%.GS-MS of wild ginger rhizome extract revealed totally around 50constituent was detected. The highest constituent detected is zerumbone(36-49%). Moreover, acetic acid also detected in all accession with valuerange from 4.64 – 14.36%. Other major constituent are alpha humulene,humulene oxide, beta-eudesmol, beta-selinene, linalool, 12-oxabicyclo,caryophilene oxide, 3-octadecyne, hexadecanoic acid, and 3-octyne 5-methyl. The composition of major constituent among collection numbers isdifferent and reflected the differences of the flavour of the flesh rhizome.Seven collection numbers are having yield potential more than 15 ton/ha,essential oil content more than 1% dan zerumbone content 40%.Key word: Zingiber aromaticum, rhizome yield, rhizome constituent
KAJIAN USAHATANI AKAR WANGI RAKYAT BERWAWASAN KONSERVASI DI KABUPATEN GARUT SABARMAN DAMANIK
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v11n1.2005.25-31

Abstract

ABSTRAKPenelitian usahatani akar wangi (Vetiver zizanoides Stapt) dilakukandari bulan Nopember 2003 sampai Oktober 2004 di Kecamatan Samarang,Kabupaten Garut, Jawa Barat. Data aspek sosial ekonomi diambil dari 120petani akar wangi dan 22 pabrik penyuling akar wangi. Percobaanlapangan dilaksanakan lahan pada seluas 3 hektar. Metode penelitian yangdigunakan yaitu rancangan acak kelompok dengan 3 pola tanam dan 2ulangan. Perlakuan yang dicoba adalah pola tanam petani, pola tanamintroduksi dan pola tanam konservasi. Parameter yang diamati adalah beratakar, kadar minyak, tingkat erosi, tingkat produktivitas dan kelayakanekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga pola yangditeliti ternyata pola konservasi mempunyai berat akar yang lebih tinggiyaitu 0,74 kg, sedangkan pola petani 0,60 kg dan pola introduksi 0,50 kg.Hasil analisis kadar minyak ketiga pola menunjukkan bahwa kadar minyakpola konservasi dan pola petani tidak berbeda nyata yaitu 2,60% dan2,25%, sedangkan pola introduksi hanya 1,25%. Dari kedua parameter diatas (berat akar dan kadar minyak) dapat disimpulkan bahwa polakonservasi lebih baik dibandingkan dengan pola lainnya. Tingkat erosiyang terjadi di pertanaman akar wangi adalah: (a) pola petani 26,20 ton/ha,(b) pola introduksi 19,40 ton/ha, dan (c) pola konservasi 17,80 ton/ha.Hasil pengukuran tingkat erosi ini diamati selama 6 (enam) bulan dankondisi di atas masuk kategori tingkat bahaya erosi (TBE), klasifikasisedang (30 sampai 60 ton/ha/tahun). Tingkat produktivitas yang dicapaidari ketiga pola usahatani tersebut yaitu (a) pola petani sebesar 16.000 kg/ha/tahun, (b) pola introduksi 15.000kg/ha/tahun, dan (c) pola konservasi18.000kg/ha/tahun. Dari ketiga pola tersebut yang tertinggi adalah polakonservasi, tetapi analisis kelayakan ekonomi pada ketiga pola adalah :Pola konservasi : B/C ratio 3,26, NPV Rp 7.852.000, dan IRR 18,75%;Pola introduksi : B/C ratio 2,03, NPV Rp 5.089.000, dan IRR 18,75%;Pola petani : B/C ratio 3,60, NPV Rp7.130.000, dan IRR 18,50%.Kata kunci : Akar wangi, Vetiver zizanoides Stapt, usahatani, konservasi,erosi, produksi, kadar minyak, Jawa BaratABSTRACTStudy on vetiver farming system in Garut DistrictThe study of Vetiver (Vetiver zizanoides Stapt) farming system wasconducted from November 2003 to October 2004 in Samarang, SubDistrict, Garut, West Java. The primary data were collected through theinterview of 120 vetiver farmers and 22 vetiver oil processors, and from 3hectars field trial. The study used a randomized block design with 3cropping patterns and two replications. Parameters observed were rootweight, oil content, erosion level, productivity level, and economicfeasibility. The research result indicated that conservation patternproduced the higher root weight, conservation pattern 0.74 kg, farmer0.60 kg and introduction pattern 0.50 kg. Result of oil analysis were the oilcontent of conservation and farmer patterns were not significantlydifferent, namely 2.60% and 2.25%, while the introduction pattern wasonly 1.25%. From the two parameters (root weight and oil content), it wasindicated that the conservation pattern was better. The erosion level onvetiver farms at farmer, introduction and conservation patterns were 26.20ton/ha, 19.40 ton/ha and 17.80 ton/ha, respectively. The erosion levelabove was classified as TBE, while moderate level (30 – 60 ton/ha/year).The productivity levels at farmer, introduction and conservation patternswere 16,000 kg/ha/year, 15,000 kg/ha/year and 18,000 kg/ha/year,respectively. It was clear that conservation pattern gave the highestproductivity, but the result of economic feasibility study showed :Conservation pattern : B/C ratio 3.26, NPV Rp. 7,852,000 and IRR18.75%; Introduction pattern : B/C ratio 2.03, NPV Rp. 5,089,000, andIRR 18.75%; Farmer pattern : B/C ratio 3.60, NPV Rp. 7,130,000 and IRR18.50%.Key words : Vetiver,  Vetiver  zizanoides  Stapt,  farming  system,conservation, erosion, production, oil content, West Java
KERAGAMAN GENETIK, HERITABILITAS DAN KORELASI ANTAR KARAKTER KUANTITATIF NILAM (Pogostemon sp.) HASIL FUSI PROTOPLAS BUDI MARTONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n1.2009.9-15

Abstract

ABSTRAKFusi protoplas merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukanuntuk meningkatkan keragaman genetik pada tanaman nilam. Pendugaanparameter genetik nilam hasil fusi protoplas nilam Jawa (Girilaya) dengannilam Aceh (Sidikalang dan TT 75) adalah penting dalam programpemuliaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman genetik,heritabilitas, korelasi fenotipik dan genotipik beberapa karakter kuantitatifhibrida somatik nilam hasil fusi protoplas. Penelitian dilakukan di KP.Cimanggu Balittro dari bulan Juli-Desember 2004. Rancangan percobaanyang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 33 genotipeyang terdiri dari 3 tetua dan 30 klon hibrida somatik sebagai perlakuan dandiulang dua kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabangprimer, jumlah daun per cabang primer dan tebal daun mempunyaikeragaman genetik yang sempit, sedangkan tinggi tanaman, panjangcabang primer, jumlah dan panjang cabang sekunder, panjang dan lebardaun, panjang tangkai daun, produksi terna basah dan kering keragamangenetiknya luas. Heritabilitas tinggi tanaman, panjang cabang primer,panjang cabang sekunder, panjang dan lebar daun, panjang tangkai daun,produksi terna basah dan kering bernilai tinggi. Sedangkan karakter jumlahcabang primer, jumlah cabang sekunder, jumlah daun per cabang primerdan tebal daun bernilai heritabilitas rendah sampai sedang. Sebagian besarkarakter yang diamati memiliki keragaman genetik luas dan heritabilitastinggi, kecuali jumlah cabang primer, jumlah daun per cabang primer dantebal daun. Korelasi fenotipik dan genotipik positif dan nyata terhadapproduksi terna kering ditunjukkan oleh karakter tinggi tanaman, jumlahcabang primer, panjang cabang sekunder, panjang dan lebar daun, panjangtangkai daun serta produksi terna basah.Kata kunci: Pogostemon sp., fusi protoplas, parameter genetikABSTRACTGenetic variability, heritability, and correlation among quantitativecharacters of patchouli (Pogostemon sp.) derived from protoplastfussionProtoplast fussion is one of the alternatives for increasing geneticvariability of patchouli. Study to estimate genetic parameters of somatichybrids of Pogostemon heyneaneus (cv. Girilaya) x P. cablin (cv.Sidikalang and TT 75) is important in breeding program. Study on geneticvariability, heritability, phenotypic and genetic correlation for somequantitative characters of somatic hybrids of patchouli derived fromprotoplast fussion was conducted in Cimanggu Experimental Garden fromJuly to December 2004. The experiment was arranged in a randomizedcomplete block design with two replications using 33 genotypes consistingof three parents and 30 somatic hybrids as treatments. Results of thisexperiment showed that number of primary branches, number of leaves onprimary branches, and thickness of leaves indicated narrow geneticvariability, while plant height, length of primary branches, number andlength of secondary branches, length and width of leaves, leaf petiolelength, fresh and dry leaves production indicated wide genetic variability.Plant height, length of primary branches, number and length of secondarybranches, length and width of leaves, leaf petioles length, fresh and dryleaves production showed high heritability values. Meanwhile, thecharacters of number of primary and secondary branches, number ofleaves on primary branches and thick of leaves showed moderate to lowheritability values. Most characters observed showed wide geneticvariability and high heritability, except for number of primary branches,number of leaves on primary branches, and thick of leaf. Phenotypic andgenotypic correlations between plant height, number of primary branches,length of secondary branches, length and width of leaves, leaf petiolelength and fresh leaves production with dry leaves production werepositive and significant.Key words: Pogostemon sp., protoplast fussion, genetic parameters
PENGARUH SISTEM PENANAMAN TERHADAP PRODUKSI BENIH G0, G1, DAN G2 BEBERAPA VARIETAS TEBU UNGGUL HASIL KULTUR JARINGAN DEDEN SUKMADJAJA; MUHAMMAD SYAKIR
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n3.2014.130-141

Abstract

ABSTRAKPenyediaan benih tebu berdaya hasil tinggi memegang perananpenting  dalam  mendukung  pencapaian  program  swasembada  gula.Produksi benih tebu melalui teknologi kultur jaringan merupakan salahsatu alternatif untuk menyediakan benih bermutu secara masal denganwaktu yang cepat. Salah satu bagian penting dalam program produksibenih tebu adalah penanganan benih hasil kultur in vitro menjadi benihproduksi di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metodepenanaman benih primer (G0), sekunder (G1), dan komersial (G2) daribeberapa varietas tebu hasil kultur in vitro. Penelitian dilakukan di tigalokasi, yaitu Kebun Percobaan Cibinong-Bogor, Ngemplak-Pati, danKlari-Karawang. Percobaan terdiri atas tiga kegiatan: (1) pengaruh mediatumbuh terhadap pertumbuhan plantlet, (2) pengaruh jarak tanam terhadapproduksi benih G1, dan (3) pengaruh jarak tanam terhadap produksi benihG2. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Kelompok,dengan perlakuan pada percobaan pertama adalah media dan tempataklimatisasi, pada percobaan kedua dan ketiga berupa jarak tanam danvarietas. Parameter pengamatan meliputi persentase tumbuh, jumlahbatang per rumpun, jumlah buku, diameter batang, dan tinggi tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan polibag dan pot tray merupakan cara terbaik untuk aklimatisasi tebu. Jarak tanam terbaik benihG0 dan G1 varietas PS864 dan SS-57 di KP Cibinong adalah 60 cm × 40cm yang dapat memproduksi budset G1 masing-masing 1,72 dan 1,93 jutaper ha dan benih G2 masing-masing 0,9 dan 1,01 juta per ha. Produksibudset G2 PS864 di Klari pada jarak tanam yang sama menghasilkan 1,94juta per ha, sedangkan produksi budset G2 varietas PS881 dan KidangKencana di KP Ngemplak masing-masing mencapai 2,02 dan 2,18 juta perha. Sementara itu, produksi terbanyak benih G2 varietas Bulu Lawang danPS862 di KP Ngemplak dihasilkan pada perlakuan jarak tanam 100 cm ×20 cm masing-masing sebanyak 2,44 dan 1,41 juta per ha. Produktivitasbenih tebu hasil kultur jaringan dipengaruhi oleh jarak tanam, lokasipenanaman, dan varietas tanaman.Kata kunci: tebu, benih unggul, kultur jaringan, jarak tanam, benih G0,G1, G2 

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue