cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 504 Documents
PENGGUNAAN FILTRAT Ralstonia solanacearum DALAM SELEKSI KALUS IN VITRO UNTUK KETAHANAN JAHE TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI MEYNARTI SARI DEWI IBRAHIM; OTIH ROSTIANA; NURUL KHUMAIDA; SUPRIADI SUPRIADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n2.2010.49-55

Abstract

ABSTRAKPenyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearummerupakan kendala utama budidaya jahe, yang menyebabkan kehilanganhasil lebih dari 90%. Upaya pengendalian yang dilakukan belum optimal,karena tidak tersedianya varietas jahe tahan patogen tersebut. Kendalautama untuk memperoleh varietas jahe yang tahan adalah terbatasnyasumber gen ketahanan dan adanya hambatan fisiologis pada prosespersilangan jahe karena sifat inkompatibilitas sendiri, serta rendahnyafertilitas polen menyebabkan persilangan jahe secara konvensional sulitdilakukan. Seleksi in vitro menggunakan medium selektif yangmengandung filtrat patogen merupakan salah satu metode inkonvensionaluntuk meningkatkan ketahanan tanaman. Penelitian ini dilakukan diLaboratorium Kultur Jaringan dan Laboratorium Penyakit Balai PenelitianTanaman Obat dan Aromatik (Balittro) dari bulan April 2008 sa,mpaiOktober 2008 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jahepada stadia kalus terhadap filtrat R. solanacearum dan memperolehkonsentrasi filtrat yang tepat sehingga diperoleh varian kalus baru tahanterhadap filtrat patogen tersebut. Kalus embriogenik jahe putih besar asaleksplan meristem berumur 8 minggu, diseleksi selama 3 minggu di dalammedium proliferasi (MS + 3% manitol tanpa zat pengatur tumbuh),mengandung filtrat R. solanacearum. Seleksi bertingkat dilakukan denganmengaplikasikan filtrat R. solanacearum pada konsentrasi berbeda, yaitu:0; 0,1; 0,2; 0,3; 0,4; 0,5; 1; 2; 3; 4; dan 5%, pada tahap pertama. Padaseleksi tahap kedua, kalus disubkultur ke dalam media yang sama dengankonsentrasi filtrat dinaikkan 10 kali dari konsentrasi awal. Penelitianmenggunakan rancangan acak lengkap, diulang 10 kali. Hasil penelitianmemperlihatkan penggunaan filtrat R. solanacearum di dalam mediumkultur in vitro jahe pada seleksi tahap pertama dan kedua menyebabkanterjadinya perubahan warna kalus dari putih kekuningan menjadi kuningkecoklatan dan coklat kehitaman. Berat dan diameter kalus, jumlahembrio globular serta embrio torpedo berkurang secara nyata setelahperlakuan filtrat, pada seleksi tahap pertama maupun kedua seiring denganbertambah  tingginya  konsentrasi  filtrat.  Konsentrasi  filtrat  R.solanacearum  yang  mampu  menginduksi  dan  menyeleksi  kalusembriogenik berkisar antara 0,3 - 2% dari volume medium seleksi kaluspada seleksi tahap 1 dan 3 - 20% pada seleksi tahap 2.Kata kunci : Zingiber officinale Rosc., kalus, seleksi in vitro,ketahanan, filtrat R. solanacearumABSTRACTThe use of R. solanacearum filtrate in callus selection ofin vitro for ginger resistance to bacterial wilt diseaseBacterial wilt disease caused by Ralstonia solanacearum is the mainconstraint in ginger cultivation. It often causes significant yield loss ofmore than 90%. Various controlling techniques are not able to overcomethe disease, due to unavailability of resistant ginger cultivar. Limitation inobtaining resistant ginger variety is caused by several factors includingthe lack of resistant gene, physiological barrier due to the selfincompatibility, and low pollen fertility, these cause difficulty inconventional cross breeding. Therefore, genetic variability enhancementhas to be carried out unconventionally, to obtain ginger variety resistant tothe disease. In vitro selection using a selective medium containing filtrateof the pathogen is one of the potential unconventional method to improveginger plant resistance. The study was conducted at Meristem Culture andPlant Disease Laboratories of IMACRI from April to October 2008 aimingat determining the level of resistant ginger on stage of calli to the filtrateof R. solanacearum and to obtain an appropriate concentration of thefiltrate which induced calli variants resistant to the filtrate. Large whiteginger embryogenic calli meristems of 8 weeks old were selected for 3weeks in proliferation medium (MS + 3% mannitol without growthregulators), containing filtrate of R. solanacearum. For that purpose, twostages of in vitro selection were performed by applying differentconcentrations of R. solanacearum filtrate e.g; 0; 0.1; 0.2; 0.3; 0.4; 0.5; 1;2; 3; 4; and 5% at the first stage selection. Those concentrations were thenmultiplied 10 times at the second stage selection. Experiments werearranged in completely randomized design with 10 replicates. Resultsshowed that the use of R. solanacearum filtrate as selection agent in gingerin vitro culture medium has caused changes in calli color from theyellowish white into the blackish brown. In addition, increase of R.solanacearum filtrate concentration at the 1 st and 2 nd selection stages wasin line with the decreased of the calli weight and diameter, as well asnumber of globular and torpedo embryo. The concentration of R.solanacearum filtrate applied at 0.3 to 2% in the 1 st selection followed by3 to 20% in the 2 nd  selection induced resistant embryogenic calli of ginger.Key words : Zingiber officinale Rosc., calli, in vitro selection,resistance, R. solanacearum filtrate
PEMANFAATAN LIMBAH SAGU SEBAGAI PENGENDALIAN GULMA PADA LADA PERDU MUHAMMAD SYAKIR; M.H. BINTORO; H. AGUSTA AGUSTA; HERMANTO HERMANTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n3.2008.107-112

Abstract

ABSTRAKLimbah sagu di samping dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahanorganik juga potensial digunakan sebagai amelioran dan herbisida nabati.Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh limbah sagu dan carapenyiangan gulma terhadap populasi gulma dan pertumbuhan ladaperdu. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP) Institut PertanianBogor (IPB) dan Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Obat danAromatik Balittro) dari bulan Mei 2003 sampai April 2004. Penelitianmenggunakan rancangan petak terbagi yang disusun secara faktorial. Carapenyiangan gulma (S) sebagai petak utama dan komposisi limbah sagu(L) sebagai anak petak. Susunan perlakuan sebagai berikut: S 1  =penyiangan bersih dan S 2 = penyiangan terbatas. Komposisi limbahsagu terdiri dari L 0 = tanpa bahan organik; L 1 = 100% limbah sagu, L 2= 100% limbah sagu, dekomposisi 1 bulan, L 3 = 100% limbah sagudekomposisi 2 bulan; L 4 = 75% limbah sagu + 25% kompos; L 5  = 75%limbah sagu + 25% kompos, dekomposisi 1 bulan; L 6 = 75% limbahsagu + 25% kompos, dekomposisi 2 bulan; L 7 = 50% limbah sagu +50% kompos; L 8 = 50% limbah sagu + 50% kompos, dekomposisi 1bulan; L 9 = 50% limbah sagu + 50% kompos, dekomposisi 2 bulan;L 10 = 25% limbah sagu + 75% kompos; L 11 = 25% limbah sagu + 75%kompos, dekomposisi 1 bulan; dan L 12 = 25% limbah sagu + 75%kompos, dekomposisi 2 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwakandungan limbah sagu 75% limbah sagu + 25% kompos dekomposisi2 bulan meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas lada perdu.Limbah sagu dengan 100% dalam bentuk segar dan dekomposisisampai 2 bulan efektif dalam menekan populasi gulma.Kata kunci: Limbah sagu, gulma, lada perduABSTRACTThe use of sago palm waste in controlling weed ondwarf pepperSago palm waste can be used as a source of organic matter;in addition, it can also be used as ameliorant and naturalherbicide. The objective of the research was to find out theeffect of sago palm waste and weeding method on the growth ofdwarf pepper and weed population. The research was conductedat the experimental garden of the Bogor Agriculture Institute andthe Indonesian Medicinal and Aromatic Crops Research Institutefrom May 2003 to April 2004. The research was arrangedfactorially in split-plot design. The main plot was weedingmethods (S) and a composition of sago palm waste (L) as the subplot. The treatments were as follows: S 1 = clean weeding and S 2= limited weeding. The composition of sago waste were Lo =non organic matter; L 1 = 100% sago waste; L 2 = 100% sagowaste of one month decomposition; L 3 = 100% sago waste of twomonths decomposition ; L 4 = 75% sago waste + 25% compost; L 5= 75% sago waste + 25% compost of one month decomposition;L 6 = 75% sago waste + 25% compost of two monthsdecomposition; L 7 = 50% sago waste + 50% compost; L 8 = 50%sago waste 50% compost of one month decomposition; L 9 = 50%sago waste + 50% compost of 2 months decomposition; L 10 =25% sago waste + 75% compost’ L 11 = 25% sago waste + 75%compost of one month decomposition; and L 12 = 25% sago waste+ 75% compost of two months decomposition. The result showedthat the composition of 75% sago waste + 25% compost of twomonths decomposition increase the growth and productivity ofdwarf pepper. The fresh (75 - 100%) sago palm waste of onemonth  decomposition  was  effective  in  decreasing  weedpopulation.Key words : Sago palm waste, weed, bushy black pepper
POTENSI BAKTERI ENDOFIT MENGINDUKSI KETAHANAN TANAMAN LADA TERHADAP INFEKSI Meloidogyne incognita RITA HARNI; MEYNARTI SARI DEWI IBRAHIM
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 3 (2011): September 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n3.2011.118-123

Abstract

ABSTRAKMeloidogyne incognita, merupakan salah satu organisme peng-ganggu (OPT) penyebab penyakit kuning pada tanaman lada dan dapatmengakibatkan penurunan hasil sampai 32%. Beberapa teknik untukmengendalikan patogen ini telah dilakukan tetapi belum memberikan hasilyang memuaskan. Pengendalian biologi dengan menggunakan bakteriendofit merupakan salah satu alternatif pengendalian yang cukup men-janjikan untuk dapat mengatasi permasalahan nematoda penyakit tanaman.Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Bakteriologi danNematologi Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, danRumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aneka TanamanIndustri Pakuwon Sukabumi dari bulan Mei sampai November 2009.Kegiatan yang dilakukan adalah: 1) Seleksi beberapa isolat bakteri endofituntuk mengendalikan nematoda M. incognita pada tanaman lada dan 2)Potensi induced systemic resistance (ISR) dan analisis asam salisilat sertaperoksidase. Isolat bakteri endofit yang digunakan adalah isolat bakteriendofit potensial yang diisolasi dari akar nilam. Akar tanaman ladadirendam dalam suspensi bakteri endofit, selanjutnya diinokulasi dengan500 ekor larva 2 M. incognita. Sebulan setelah inokulasi tanamandibongkar diamati populasi nematoda dan pertumbuhan tanaman. AnalisisISR dilakukan dengan metode split root system dilanjutkan dengananalisis kadar asam salisilat dan peroksidase. Penelitian mengunakanRancangan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteriendofit dapat menekan jumlah puru dan populasi nematoda di dalam akar.Penekanan tertinggi pada isolat MSK (97,93%) tidak berbeda nyatadengan isolat BAS, TT2, dan NJ46 yaitu 97,35; 95,22; dan 92,14%.Berdasarkan analisis split root system, ke 4 isolat tersebut dapat meng-induksi ketahanan tanaman lada secara sistemik dengan mekanismepeningkatan kandungan asam salisilat dan peroksidase di dalam akar.Kata kunci : Bakteri endofit, penyakit kuning, Piper nigrum L.,Meloidogyne incognita, induksi ketahananABSTRACTThe use of endophytic bacteria to induce plant resistanceagainst infection of root-knot nematode (Meloidogyneincognita) on black pepperRoot-knot nematode (Meloidogyne incognita) is one of important patho-gens causing yellow disease on black pepper. As a result of this pathogenattack can lower the results up to 32%. Several control methods have beendone successful to control pathogen. Biological control using endophyticbacteria is one of prospective alternative control methods to overcomenematode problem. The research had been conducted in the Laboratory ofBacteriology and Nematology Department of Plant Protection, BogorAgricultural University (IPB) and in greenhouse of Indonesian Spices andIndustrial Crops Research Institute (ISICRI) Sukabumi. The objectives ofthis study were : 1) Selection of endophytic bacteria to control M.incognita nematodes on black pepper and 2) Potential of induced systemicresistance (ISR) and analysis of salicylic acid and peroxidase. Endophyticbacterial isolates used were endophytic potential bacterial isolates isolatedfrom the roots of patchouli. Pepper plant roots were soaked in anendophytic bacterial suspension, then inoculated with 500 larvae of 2 M.incognita. A month after inoculation, the plants were dismantled andobserved population of nematodes and plant growth. ISR analysis wasperformed by the method of split root system followed by analysis ofsalicylic acid and peroxidase contents. The research was arranged usingCompletely Randomized Design. The results showed that endophyticbacteria were able to suppress the amount of gall and nematode populationin roots. The highest suppression was on MSK isolate (97.93%) which wasnot significantly different from BAS, TT2, and NJ46 isolates, namely97.35, 95.22, and 92.14%, respectively. The analysis of split root systemshowed that the 4 isolates were able to induce systemic resistance of blackpepper with a mechanism of increase in salicylic acid and peroxidasecontents in roots.Key words : Endophytic bacteria, yellow disease, Piper nigrum L.,Meloidogyne incognita, induce systemic resistance
PRAKIRAAN HARGA AKARWANGI: APLIKASI METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN CHANDRA INDRAWANTO; ERIYATNO ERIYATNO; ANAS M. FAUZI; MACHFUD MACHFUD; SUKARDI SUKARDI; NOER SOETRISNO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n1.2007.14-20

Abstract

ABSTRAKPrakiraan harga terna akarwangi dan harga minyak akarwangi telahdilakukan dengan menggunakan metode jaringan syaraf tiruan. Memakaidata harga dari Januari 2000 sampai Agustus 2006 dilakukan prakiraanharga untuk 24 bulan kedepan. Prakiraan terbaik dengan Mse pelatihandan Mse testing yang rendah didapat pada kombinasi fungsi aktivasi layartersembunyi sigmoid biner dan fungsi aktivasi output sigmoid bipolardengan rentang data transformasi (0,1) untuk prakiraan harga ternaakarwangi. Sedangkan untuk prakiraan harga minyak akarwangi didapatpada fungsi aktivasi layar tersembunyi sigmoid bipolar dan fungsi aktivasioutput sigmoid biner dengan rentang data (0,1). Hasil prakiraan hargamenunjukkan harga rata-rata terna akarwangi dan harga rata-rata minyakakarwangi untuk tahun 2007 dan 2008 masih di atas harga titik impasusahatani maupun usaha agroindustri minyak akarwangi.Kata kunci : Akarwangi, Vetiveria zizanioides L., harga, prakiraan,jaringan syaraf tiruan, Jawa BaratABSTRACTVetiver oil prices forecasting with artificial neuralnetwork methodVetiver and vetiver oil prices forecasting with artificial neuralnetwork method has been done. Time series data from January 2000 toAugust 2006 was used to forecast the prices for 24 months ahead. The bestresult for forecasting of vetiver prices was gotten using sigmoid binaryactivation in hidden layer, sigmoid bipolar activation in output layer andtransformation data spread (0,1). The best result for forecasting of vetiveroil prices was gotten using sigmoid bipolar activation in hidden layer,sigmoid binary activation in output layer and transformation data spread(0,1). The result shows that the average forecasting prices of vetiver andvetiver oil in 2007 and 2008 higher than the prices needed for vetiverfarming and vetiver oil agroindustry to reach break event point.Key words: Vetiveria zizanioides L., prices, forecasting, artificial neuralnetwork, West Jav
PEMANFAATAN KOMPOS TANAMAN AIR SEBAGAI PEMBAWA INOKULAN MIKORIZA PADA BUDIDAYA LADA PERDU DI LAHAN BEKAS TAMBANG TIMAH YULIUS FERRY; JUNIATI TOWAHA; RR. K. D. SASMITA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n1.2013.15-22

Abstract

ABSTRAKLahan bekas tambang yang dapat dijadikan lahan alternatif untukpengembangan budidaya lada di Bangka cukup tersedia. Penggunaan lahanbekas tambang sebagai lahan budidaya memerlukan pembenahan misalnyapenambahan mikroorganisme seperti mikoriza. Selama ini bahan pembawapupuk hayati mikoriza menggunakan zeolit. Padahal tersedia bahan lainseperti bahan organik yang dapat dikembangkan sebagai alternatif bahanpembawa inokulan mikoriza. Penelitian yang bertujuan memperolehformula bahan organik sebagai bahan pembawa bahan mikoriza yangsesuai digunakan pada budidaya lada di lahan bekas tambang timah diBangka. Penelitian dilakukan pada tahun 2010-2011 (2 tahun) dilaboratorium dan rumah paranet di Balai Peneitian Tanaman Rempah danAneka Tanaman Industri serta lahan petani di Desa Kulur, KabupatenBangka Tengah. Untuk formulasi bahan pembawa mikoriza percobaanmenggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan formulasibahan pembawa yaitu, 100% zeolit, 60% kompos enceng gondok+40%zeolit; 80% kompos enceng gondok+20% zeolit; 100% kompos encenggondok;  60%  kompos  kiambang+40%  zeolit;  80%  komposkiambang+20% zeolit dan 100% kompos kiambang. Untuk pengujiandosis dan formula bahan pembawa mikoriza terhadap pertumbuhan ladaperdu di lahan bekas tambang, percobaan disusun sesuai denganrancangan Split Plot dalam Acak Kelompok dengan petak utama adalahjenis formula yaitu (1). kontrol 100% zeolit; (2). 60% kompos encenggondok + 40% zeolit; (3). 80% kompos enceng gondok + 20% zeolit; (4).100% kompos enceng gondok; (5). 60% kompos kiambang + 40% zeolit;(6). 80% kompos kiambang + 20% zeolit, dan (7). 100% komposkiambang. Sebagai anak petak adalah dosis pemberian yaitu; (1). 20g/tanaman; (2). 40 g/tanaman, dan (3). 60 g/tanaman. Hasil penelitian inimenujukkan bahwa formula dari bahan kompos enceng gondok ataukiambang 80% dengan zeolit dapat dijadikan bahan pembawa mikorizauntuk pupuk hayati lada perdu di lahan bekas tambang, dengan dosis 60g/tanaman.Kata Kunci : lada, tanaman air, mikoriza, lahan bekas tambangABSTRACTAvailable post-tin mining soil can be used as an alternative land forpepper cultivation in Bangka. The use of mined lands as the cultivation,requiring improvements, such as the addition of mycorrhizae. During thesemycorrhizal biofertilizer carriers using zeolite. Though available materialssuch as organic materials that can be developed as an alternative carriermycorrhizal inoculant. The research aims to obtain an alternative formulaof organic materials as a suitable carrier materials used in mycorrhizalpepper plants have been implemented. This study conducted in 2010-2011(2 years) in the laboratory and home paranet of Crops Research Institutefor Industrial Crops Spices and various land and farmers in the village ofKulur, Central Bangka regency. For carrier formulations mycorrhizal,experiments using a completely randomized design (CRD) with treatmentformulations carrier ie, 100% zeolite, 60% water hyacinth compost +40%zeolite, 80% water hyacinth compost +20% zeolite; 100% water hyacinthcompost, 60% salvinia + 40% zeolite, 80% salvinia compost +20% zeoliteand 100% salvinia compost. To test the dose and formulation of the carrieron the growth of mycorrhizal pepper shrubs on mined lands, prepared inSplit Plot design, as the main plot is a type of formula that is (1). controls100% zeolite, (2). 60% water hyacinth compost + 40% zeolite, (3). 80%water hyacinth compost + 20% zeolite, (4). 100% water hyacinth compost,(5). 60% + 40% compost kiambang zeolite, (6). 80% + 20% compostkiambang zeolite, and (7). 100% compost kiambang. As a subplot wasadministered dose that is: (1). 20 g / plant, (2). 40 g / plant, and (3). 60 g /plant.The results of this study showed that the formula of water hyacinthcompost or salvinia 80% of the zeolite can be used as a carrier material formycorrhiza biofertilizer bushy pepper on the post-tin mining soil, with adose of 60 g/plant.Keywords: plant water, mycorrhiza, post-tin mining soil
PENGARUH DOSIS MIKORIZA DAN PEMUPUKAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KOPI ROBUSTA DI BAWAH TEGAKAN KELAPA PRODUKTIF YULIUS FERRY; RUSLI RUSLI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n1.2014.27-34

Abstract

AbstrakTanaman kopi robusta yang ditanam di bawah tegakan kelapa diperkirakan mengalami persaingan yang cukup ketat dalam memanfaatkan air dan hara. Mikoriza adalah salah satu mikroorganisme yang dapat meningkatkan kemampuan perakaran kopi robusta dalam persaingan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian mikoriza dan pupuk NPK untuk tanaman kopi robusta di bawah tegakan kelapa produktif. Penelitian ini dilakukan tahun 2012-2013 di Kebun Percobaan Pakuwon, Sukabumi di bawah tegakan kelapa umur 37 tahun jenis kelapa dalam. Penelitian disusun menurut rancangan petak terbagi. Sebagai petak utama adalah empat dosis mikoriza: (1) tanpa mikoriza, (2) 20 g/tanaman, (3) 40 g/tanaman, dan (4) 60 g/tanaman, sedangkan sebagai anak petak adalah dosis pupuk NPK: (1) tanpa pupuk, (2) 60% dari rekomendasi, (3) 80% dari rekomendasi, dan (4) 100% dari rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian mikoriza 40 g/tanaman sudah menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang berbeda nyata dengan tanpa pemberian mikoriza dan tidak berbeda nyata dengan pemberian 60 g/tanaman. Jumlah ruas/cabang tertinggi diperoleh pada pemberian pupuk NPK 100% rekomendasi. Pemberian mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% nyata menghasilkan bonggol dan produksi yang tinggi. Bobot 100 biji basah dan kering tertinggi diperoleh pada pemberian kombinasi mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% rekomendasi. Pemberian mikoriza tidak hanya meningkatkan daya saing kopi di bawah tegakan kelapa produktif, tetapi juga dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK. Pemberian mikoriza 60 g/tanaman + pupuk NPK 40% dapat meningkatkan produksi dan kualitas biji kopi di bawah tegakan kelapa.Kata kunci: Coffea conephora, kelapa, NPK, mikoriza, pertumbuhan
KRITERIA PENANDA SELEKSI PRODUKTIVITAS TERNA DAN ASIATIKOSIDA PADA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urban) BUDI MARTONO; MUNIF GHULAMAHDI; LATIFAH K. DARUSMAN; SANDRA ARIFIN AZIZ; NURLIANI BERMAWIE
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n1.2010.12-19

Abstract

ABSTRAKKeberhasilan  seleksi  produktivitas  terna  dan  produktivitasasiatikosida yang tinggi ditentukan oleh kriteria seleksi yang sesuai. Adabeberapa metode yang dapat digunakan untuk mencari kriteria seleksi,salah satu diantaranya adalah dengan memanfaatkan analisis lintas (Pathanalysis). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pola hubungan antarkomponen pertumbuhan dengan produksi terna dan produksi asiatikosidaberdasarkan nilai korelasi, pengaruh langsung dan tidak langsung, sertanilai heritabilitas pada 16 nomor koleksi plasma nutfah pegagan. Penelitiandilakukan di KP. Cimanggu, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik(BALITTRO) antara bulan Juli-November 2007, dengan menggunakanrancangan acak kelompok (RAK) yang diulang 2 kali. Intensitas cahayayang digunakan 75%. Komponen pertumbuhan yang diamati meliputijumlah, panjang, dan diameter tangkai daun; jumlah, panjang, lebar, luas,dan tebal daun; serta jumlah sulur. Hasil penelitian menunjukkan bahwapeubah panjang dan diameter tangkai daun; serta panjang, lebar, luas, dantebal daun berkorelasi positif sangat nyata terhadap produksi terna.Berdasarkan analisis lintas, panjang, dan diameter tangkai daun, panjang,lebar, luas, dan tebal daun berpengaruh tidak langsung terhadap produksiterna melalui peubah lainnya. Seleksi terhadap produksi terna secara tidaklangsung dapat dilakukan melalui seleksi panjang dan diameter tangkaidaun, dan panjang, lebar, luas, serta tebal daun. Seleksi genotipe pegagandengan produksi terna yang tinggi melalui panjang dan diameter tangkaidaun; dan panjang, lebar; serta luas daun lebih efektif dibandingkandengan melalui tebal daun karena kelima peubah tersebut mempunyai nilaiheritabilitas yang tinggi. Panjang tangkai daun, luas dan tebal daun, sertajumlah sulur mempunyai korelasi positif nyata dan sangat nyata denganproduksi asiatikosida. Luas daun dan jumlah sulur berpengaruh tidaklangsung terhadap produksi asiatikosida melalui peubah lainnya. Panjangtangkai daun dan tebal daun secara langsung berperan dalam menentukanproduksi asiatikosida. Seleksi produktivitas asiatikosida yang tinggimelalui peubah panjang tangkai daun akan memberikan respon yang lebihcepat karena memiliki nilai heritabilitas yang tinggi.Kata kunci: Centella asiatica (L.) Urban, terna, asiatikosida, analisislintas, heritabilitasABSTRACTCriterion of Marker Selection of Fresh Shoot andAsiaticoside Productivity of Asiatic Pennywort (Centellaasiatica (L.) Urban)Selection of asiatic pennywort for high fresh shoot and asiaticosideproduction is determined by using appropriate selection criterion. Thereare several methods that can be applied, one among those is using the pathanalysis. The research was aimed to study the correlation analysis betweengrowth and production variables, direct and indirect effects, and theheritability of sixteen accessions. The experiment was conducted atCimanggu Experimental Station of Indonesian Medicinal and AromaticCrops Research Institute (ISMECRI) Bogor, Indonesia from July untilNovember 2007. The research was arranged using randomized completeblock design (RCBD) with two replications. Sixteen accessions and 75%light intensity were used. The growth components observed were number,length, and diameter of leaf petiole; number, length, width, area, andthickness of leaf; and number of stolon. The results showed that leafpetiole length and diameter, leaf length, width, area, and thicknesspositively and significantly correlated with fresh shoot production. Theleaf petiole length and diameter, leaf length, width, area, and thicknessindirectly affected fresh shoot production through other variables. The leafpetiole length and diameter; leaf length, width, area, and thickness couldbe indirectly selected as fresh shoot production variables. Selection ofasiatic pennywort genotype with high fresh shoot production through leafpetiole length and diameter; leaf length, width, and area were moreeffective compared to through leaf thickness, because the five variableshave high heritability values. Correlations between leaf petiole length, leafarea and thickness, and number of stolon with asiaticoside production werepositive and significant. The leaf area and number of stolon indirectlyaffected asiaticoside production through other variables. The length andthe thickness of leaf directly influenced the asiaticoside production. Leafpetiole length, which has high heritability value, can be used as variable toselect high asiaticoside production of asiatic pennywort.Key words : Centella asiatica (L.) Urban, shoot production, asiaticoside,path analysis, heritability
FENOLOGI PEMBUNGAAN DAN KELIMPAHAN POPULASI KEPIK Diconocoris hewetti (DIST.) (HEMIPTERA: TINGIDAE) PADA PERTANAMAN LADA I WAYAN LABA; AUNU RAUF; UTOMO KARTOSUWONDO; M. SOEHARDJAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n2.2008.43-53

Abstract

ABSTRAKKepik renda lada (KRL), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera:Tingidae) adalah salah satu hama pada pertanaman lada di Indonesia.Hama ini selalu hadir pada perbungaan lada dan bulir bunga lada denganjalan mengisap cairan bunga sebelum menjadi buah. Serangan nimfa danimago pada bunga dan bulir bunga akan mengakibatkan perubahan warnabunga dari hijau kekuningan menjadi cokelat atau hitam. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui fenologi pembungaan, kelimpahan populasiKRL, dan tingkat kerusakan bunga pada pertanaman lada. Kelimpahan danfenologi pembungaan lada menentukan kelimpahan populasi KRL.Penelitian dilakukan di kebun petani, di Desa Air Anyir, KecamatanMerawang, Kabupaten Bangka Induk, dari Mei 2003 sampai dengan Mei2004, dan di Desa Puput, Kecamatan Simpang Katis Kabupaten BangkaTengah, dari Oktober 2003 sampai dengan Mei 2004. Luas lahanpercobaan masing-masing sekitar 5000 m 2 yang sudah ditanami ladavarietas Chunuk di Air Anyir dan varietas Lampung Daun Lebar (LDL) diPuput. Umur tanaman masing-masing sekitar 5 tahun. Jumlah pohoncontoh di setiap lokasi 24 pohon. Pengamatan dilakukan setiap minggudengan cara menghitung langsung KRL yang ada pada bulir bunga, sertabanyaknya bunga yang terserang. Pada percobaan lainnya dilakukanpengamatan terhadap perkembangan bulir bunga serta tingkat keguguranfisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pembungaan ladavarietas Chunuk dan LDL mengikuti pola curah hujan. Rataan banyaknyabulir bunga berkisar antara 2,63-120,59 tandan per pohon pada varietasChunuk, sedangkan pada varietas LDL antara 4,79-153,84 tandan perpohon. Masa perkembangan bulir bunga fase-1 berlangsung 16,6 hari,fase-2 berlangsung 7,6 hari, dan fase-3 berlangsung 6,4 hari. Tidaksemua bulir bunga dan buah muda berhasil menjadi buah siap dipanen(23,14% pada Chunuk mengalami keguguran fisiologis). Keguguranpaling banyak terjadi pada bulir bunga yang berumur 4-5 minggu(17,62%). Rataan kelimpahan kepik renda lebih tinggi (0,042-1,375ekor/pohon) pada varietas LDL dibandingkan pada varietas Chunuk(0,042-0,333 ekor/pohon), terutama selama periode November hinggaApril. Perkembangan populasi kepik renda pada varietas LDL meningkat(1,375 ekor/pohon) selama bulan November hingga Februari, berhubungandengan banyaknya bulir bunga yang tersedia pada periode tersebut.Berdasarkan nisbah ragam terhadap rataan (s 2 /m), populasi kepik D.hewetti umumnya memperlihatkan pola sebaran acak, sedangkan pada saatpopulasi tinggi (1,375 ekor/pohon) memperlihatkan pola sebaranbergerombol. Persentase bulir bunga terserang pada varietas Chunukberkisar antara 0,06-3,85%, sedangkan pada varietas LDL berkisar antara0,34-17,72%. Terdapat hubungan linear varietas Chunuk dan LDL (r =0,87 dan 0,78) yang nyata antara kelimpahan populasi D. hewetti dankerusakan bunga. Varietas LDL lebih rentan dibandingkan dengan varietasChunuk. Pengendalian KRL dapat dilakukan pada awal pembentukanbunga yaitu sejak November.Kata kunci: Lada, Piper nigrum L., hama, kepik renda lada, Diconocorishewetti (Dist.), kerusakan bunga, kelimpahan populasi,Bangka BelitungABSTRACTFlowering phenology and population abundance ofpepper lace bug, Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera:Tingidae) on pepper plantationPepper lace bug (PLB), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera :Tingidae) is one of the insect pests attacking pepper in Indonesia. Thisinsect pest always presents and causes damage to the spikes of pepperinflorescence. The research was conducted to study the floweringphenology of Chunuk and LDL varieties and population abundance ofPLB on pepper plantation. The abundance and inflorescence phenology ofpepper determined PLB abundance. The research was conducted in farmerfields in Air Anyir Village, Sub District of Merawang from May 2003 toMay 2004 and Puput Village, Sub District of Simpang Katis, BangkaIslands, from October 2003 to May 2004. The acreage of the experimentwas about 5000 m 2 for each location with 5 years old of Chunuk and LDLvarieties in Air Anyir and Puput, respectively. Number of plant sampleswere 24 plants for each location. Observation were done every week, forthe population of PLB, the spike and flower damage. Another experimentwas done to study the develop-ment stage of inflorescence and floral lossphysiology. The result indicated that flowering phenology of Chunuk andLDL varieties followed the rainfall pattern. The mean number of spike onChunuk variety varied between 2.63 – 120.59, while that on LDL varietywere 4.79 – 153.84 spikes per tree. The developments period of spikeswere 16.6; 7.6 and 6.4 days for stages 1, 2 and 3 respectively. Not all thespikes became young berries and could be harvested, since there were23.14% inflorescence of the Chunuk variety floral loss naturally. Floralloss occurred mostly when the spikes were 4-5 weeks old (17.62%). Themean number of lace bug density was higher on LDL(0.042-1.375bug/tree) than on Chunuk (0.042-0.333 bugs/tree), especially duringNovember until April. D. hewetti population increased during November-February (1.375 bugs/tree), and it was related to the increase in spikesduring that time. Based on variance-mean ratio (S 2 /m), D. hewettipopulation generally showed a random distribution, but a clumpeddistribution when population density increased (1.375 bugs/tree). Thepercentage of inflorescence damage was between 0.06-3.85% on Chunuk,while on LDL was 0.34-17.2%. There is a linear correlation between PLBand spike damage (r = 0.87 and 0.78 on Chunuk and LDL respectively).LDL variety was more susceptible than Chunuk variety. The study impliesthat controlling PLB has to be done on the beginning of inflorescence inNovember.Key words: Pepper, Piper nigrum L., insect pest, pepper lace bug,Diconocoris hewetti (Dist.), spike damage, populationabundance, Bangka Belitung
KOMBINASI PUPUK NPK DAN PUPUK KANDANG DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI ASIATIKOSIDA TANAMAN PEGAGAN Dahono Dahono; M. GHULAMAHDI; S. A. Aziz; Adiwirman Adiwirman
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v17n2.2011.51-59

Abstract

ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pupukkandang dan NPK terhadap pertumbuhan dan produksi asiatikosida.Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Gunung Putri, Cipanas,Kabupaten Cianjur mulai dari bulan Mei 2009 sampai dengan Januari2010. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompokdengan dua faktor dan diulang 3 kali. Faktor A tanpa , 0,25, 0,50, 0,75 dan1,00 dosis rekomnedasi NPK (kg/ha). Faktor B tanpa, dan 30 t pupukkandang/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk NPK1,00 rekomendasi dan pupuk kandang sebanyak 30 t/ha meningkatkanpertumbuhan dan produksi asiotikosida secara signifikan (5,12 g/m 2 ).Produksi asiatikosida tersebut tidak berbeda nyata dengan 0,5 dan 0,75dosis rekomendasi NPK/ha tanpa menggunakan pupuk kandang dan 0,5dosis rekomendasi NPK/ha + pupuk kandang 30 t/ha dan memilikikandungan asiatikosida (standar >MMI =0,90). Pemupukan maksimum 0,5dosis rekomendasi NPK/ha atau pupuk kandang meningkatkan produksiasiatikosida, akan tetapi pemberian pupuk kandang saja tidak mempe-ngaruhi kandungan asiatikosida. Interaksi antara pupuk NPK dan pupukkandang secara umum meningkatkan pertumbuhan dan hasil asiatikosida.Keuntungan tertinggi 79,82 and 30,81% (B/C ratio 0,17 dan 0,14)didapatkan dari kombinasi 1,00 dan 0,75 dosis rekomendasi NPK/ha +pupuk kandang sebanyak 30 t/ha.Kata kunci : Asiatikosida, pegagan, pupuk NPK, pupuk kandang, datarantinggiABSTRACTCombination NPK Fertilizer and Manure Application toincrease growth and Asiaticoside Production of IndianPennyworthThe aim of the research was to identify the effect of combination ofcow manure and NPK fertilizer application on the growth and asiaticosideproduction of Indian Pennyworth (Centella asiatica L. Urban) of BoyolaliCASI 016 accession. The research was conducted from May 2009 untilJanuary 2010, at The Institute of Plant Medicine and Aromatic ResearchStation of Indonesian Medicinal and Aromatic Research Institute inGunung Putri, Cipanas, Cianjur Residence. The research used randomizedcomplete block design with two factors. The A factor were without NPK,0.25, 0.50, 0.75 and 1.00 NPK recommendation dosage/ha. The NPKrecommendation dosage is 135 kg N/ha, 60 kg P 2 O 5 /ha and 132 kgK 2 O/ha. The B factors were without cow manure and 30 t cow manure/ha,with 3 replicates. Research result showed that combination of 1.00 NPKrecommendation dosage/ha and 30 t/ha cow manure significantly increasedgrowth and asiaticoside production (5.12 g/m 2 ). This asiaticosideproduction was not different with 0.50 and 0.75 recommendation NPKdosage/ha without cow manure, and 0.50 NPK recommendation dosage/ha+ 30 t cow manure/ha, and have high asiaticoside content (>MMI standard= 0.90). NPK fertilizer (maximum at 0.50 recommen-dation NPKdosage/ha) or cow manure increased growth and asiaticoside production,but cow manure did not affect asiaticoside content. Interaction betweenNPK and cow manure generally increased growth and yield ofasiaticoside. High profit 79.82 and 30.81% (B/C ratio 0,17 and 0,14) wasfound at combinations 1.00 and 0.75 NPK recommendation dosage/ha +cow manure 30 t/ha.Key words : Asiaticoside, Indian Pennyworth, NPK fertilizer, cowmanure, and high altitude
PELACAKAN TETUA POPULASI KELAPA DALAM MAPANGET No.32 (DMT-32) MENGGUNAKAN ANALISIS ALIRAN GEN (Gene Flow) BERDASARKAN PENANDA MIKROSATELIT (SSR) DONATA S PANDIN; ALEX HARTANA; HAJRIAL ASWIDINNOOR; ASEP SETIAWAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v14n4.2008.131-140

Abstract

ABSTRAKKelapa Dalam Mapanget (DMT) merupakan salah satu kelapadalam unggul produksi dan kadar minyak serta protein yang baik.Beberapa populasi generasi DMT telah diseleksi selama tahun 1957 –1979 menghasilkan populasi DMT 32. Penelitian ini bertujuan untukmelacak tetua melalui aliran gen dalam beberapa generasi populasi kelapaDMT-32 hasil penyerbukan campuran polen, pada taraf DNA berdasarkanpenanda mikrosatelit (SSR). Bahan tanaman yang digunakan dalampenelitian ini adalah populasi hasil penyerbukan kelapa DMT-32 generasikedua (DMT-32 S2), populasi DMT-32 generasi ketiga (DMT-32 S3), danpopulasi DMT-32 generasi keempat (DMT-32 S4) berturut-turut sebanyak9, 40, dan 38 pohon. Analisis hubungan tetua dengan zuriatnya meng-gunakan program komputer CERVUS ver. 2.0. Jumlah primer SSR yangdigunakan sebanyak 19 primer dan 15 di antaranya dapat digunakan untukmelacak tetua dari individu-individu kelapa DMT-32 S3 dan DMT-32 S4.Semua individu DMT-32 S2 menjadi tetua dari individu-individu DMT-32S3, tetapi tidak semua individu DMT-32 S3 menjadi tetua dari DMT-32S4. Hasil pelacakan tetua menunjukkan bahwa 2 pohon DMT-32 S3 yangbenar-benar hasil penyerbukan hasil zigot polen sendiri dari satu pohonkelapa DMT-32 S2 No.8, dan 1 pohon zuriat dari DMT-32 S2 No.3. PadaDMT-32 S4 ada 2 individu pohon yang benar-benar merupakan hasilpenyerbukan zigot polen sendiri pohon DMT-32 S3 No.28, masing-masing1 pohon zuriat dari DMT-32 S3 No.32 dan DMT-32 S3 No.35. DMT-32S2 No.1 merupakan tetua dari 8 individu DMT-32 S3, dan lima darizuriatnya adalah tetua dari 13 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No. 2adalah tetua dari 9 individu DMT-32 S3 dan empat nomor di antaranyamenjadi tetua dari 14 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.3 merupakantetua dari 11 individu DMT-32 S3 dan enam nomor pohon di antaranyamenjadi tetua dari 18 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.4 memiliki 5zuriat dan dua nomor pohon di antaranya menjadi tetua dari 7 individuDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.5 merupakan tetua dari 10 pohon DMT-32S3 dan enam nomor pohon di antaranya menjadi tetua dari 24 pohonDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.6 adalah tetua dari 4 zuriat DMT-32 S3 danhanya satu nomor pohon yang menjadi tetua dari 4 individu pohon DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.7 merupakan tetua dari 10 zuriat pohon DMT-32S3, lima di antaranya merupakan tetua dari 20 pohon DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.8 memiliki 12 zuriat DMT-32 S3, dan empat di antaranyaadalah tetua dari 15 pohon DMT-32 S4. DMT-32 S2 nomor 9 merupakantetua dari 7 pohon DMT-32 S3, dan empat diantaranya adalah tetua dari17 pohon DMT-32 S4.Kata kunci : Cocos nucifera L, Mapanget Tall Coconut (DMT 32),mikrosatelit, SSR, pelacakan tetuaABSTRACTParentage analysis of Mapanget Tall Coconut No.32 (DMT-32)population via gene flow based on Microsatellite Markers (SSR)Mapanget Tall Coconut (DMT) is one of the superior coconut for itsproduction, coconut oil and protein. Several generation of the DMTpopulation has been selected in 1957 – 1979 producing DMT 32generations. The aim of this research was to analyze the parents ofMapanget Tall Coconut No.32 (DMT-32) in DNA level via gene flowbased on microsatellite markers (SSR). Plant materials used in thisresearch were nine (9) palms of DMT-32 S2, 40 palms of DMT-32 S3 and38 palms of DMT-32 S4. Relationship between parents and progeny wereanalyzed by using CERVUS ver. 2.0 computer program. Among 19 SSRprimers used, 15 of them can be used in parentage analysis of MapangetTall Coconut No.32 of third and fourth generations. All of 9 (nine) palmsof DMT-32 S2 are the parents of DMT-32 S3, but some of those palms ofDMT-32 S3 are not the parents of DMT-32 S4. The result of parentageanalysis showed that two palms of DMT-32 S3 were progeny of selfedDMT-32 S2 No.8, and one palm was progeny of selfed DMT-32 S2 No.3.In DMT-32 S4 there were two palms progeny of DMT-32 S3 No.28 andone palm was progeny of DMT-32 S3 No.32 and DMT-32 S3 No.35respectively. DMT-32 S2 No.1 had 8 progeny in DMT-32 S3 and five ofthose were the parents of 13 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No. 2 had9 progeny in DMT-32 S3 and four of those were the parents of 14 individuDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.3 had11 progeny in DMT-32 S3 and six ofthose were the parents of 18 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.4 had 5progeny in DMT-32 S3 and two of those were the parents of 7 individuDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.5 had 10 progeny in DMT-32 S3 and six ofthose were the parents of 24 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.6 had 4progeny in DMT-32 S3 and only one was the parent of 4 individu DMT-32S4. DMT-32 S2 No.7 had 10 progeny in DMT-32 S3 and five of thosewere the parents of 20 individu DMT-32 S4. DMT-32 S2 No.8 had 12progeny in DMT-32 S3 and four of those were the parents of 15 individuDMT-32 S4. DMT-32 S2 No.9 had 7 progeny in DMT-32 S3 and four ofthose were the parents of 17 individu DMT-32 S4.Key words : Cocos nucifera L, Mapanget Tall Coconut (DMT-32),microsatellite, SSR, parentage analysis

Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue