cover
Contact Name
Prof. Dr. Elna Karmawati
Contact Email
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Phone
+62251-8313083
Journal Mail Official
littri_puslitbangbun@yahoo.co.id
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 1, Cimanggu, Bogor 16111
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri)
ISSN : 08538212     EISSN : 25286870     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Tanaman Industri (JLITTRI) aims to publish primary research articles of current research topics, not simultaneously submitted to nor previously published in other scientific or technical ojournals. General review articles will not be accepted. The journal maintains strict standards of content, presentation,and reviewing. SCOPE The journal will consider primary research papers from any source if they make an original contribution to the experimental or theoretical understanding and application of theories and methodologies of some aspects of agricultural science in Indonesia including: Estate crops; Soil science; Climate science; Agronomy; Plant breeding; Biotechnology; Genetic resources; Plant pathology; Plant physiology; Entomology; Farming system; Postharvest technology; Socio-economic agriculture; Environment; Agricultural extension. The journal publishes Indonesian or English articles. Since the year of 2017, the jurnal is published twice a year in (June and December).
Articles 504 Documents
RESPON LIMA NOMOR UNGGUL KENCUR TERHADAP PEMUPUKAN ROSITA SMD; OTIH ROSTIANA; W. HARYUDIN W. HARYUDIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v13n4.2007.130-135

Abstract

ABSTRAKKencur (Kaempferia galanga) banyak dimanfaatkan oleh rumahtangga, industri obat maupun makanan serta minuman dan industri rokokkretek. Peningkatan pemakaian simplisia kencur dalam berbagai industri didalam negeri akan meningkatkan konsumsi simplisia ini, sehingga upayapeningkatan produksi masih perlu dilakukan melalui budidaya, diantaranya dengan penggunaan varietas unggul yang didukung denganpemupukan yang optimal. Di dalam penelitian ini dikaji respon limanomor unggul kencur terhadap paket pemupukan organik dan anorganikpada tanah latosol di dataran rendah, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober 2003 sampai Agustus 2004,dengan RAK dalam pola faktorial. Faktor I nomor unggul kencur (V1, V2,V3, V4 dan V5) dan faktor II paket pemupukan (6 paket), diulang 2 kali.Jarak tanam yang digunakan 20 x 20 cm, ukuran petak 4 x 1,2 m. Hasilpenelitian menunjukkan, empat nomor unggul kencur (V1, V3, V4, V5),dari lima nomor yang diuji, mempunyai kemampuan untuk menghasilkanrimpang segar dan kering yang sama, dengan kisaran bobot rimpang segar62,27-70,22 g/tanaman dan kisaran bobot rimpang kering 16,95-19,33 g/tanaman. Paket pemupukan yang dianjurkan untuk semua nomor yangdiuji adalah pupuk kandang 20 ton/ha + urea 250 kg/ha + SP36 200 kg/ha+ KCl 200 kg/ha, atau pemupukan organik dengan pupuk kandang kerbau40 ton/ha. Respon lima nomor unggul kencur terhadap aplikasi paketpemupukan memberikan mutu dengan hasil yang berbeda, yaitu kadarminyak atsiri V3 (2,03%) tergolong mutu I, sedangkan empat nomorlainnya tergolong mutu II (1,08 -1,97%), dengan hasil minyak atsiri 0,325– 0,466 ml/tanaman. Serapan hara lima nomor unggul kencur terhadappaket teknologi yang diuji memperlihatkan, serapan hara N berkisar antara149,60 – 415,60 mg/tanaman, hara P 41,50 – 112,50 mg/tanaman, hara K236,10 – 571,70 mg/tanaman.Kata kunci : Kencur, Kaempferia galanga, varietas unggul, pemupukan,serapan hara, produksi, mutuABSTRACTResponse of five galanga promising lines to fertilizationIndia galanga (Kaempferia galanga) is commonly used forhousehold consumption, medicines, food and drink supplement industriesas well as cigarette sauce. Increase in demand of this commodity fordomestic industries will raise the consumption of symplicia. Therefore,effort in increasing yield of the plant through cultivation techniqueimprovement, i.e. application of superior variety and fertilization, is worthto be accomplished. In this experiment five Galanga promising lines ofIndia galanga were subjected to organic and inorganic fertilizations atlow land latosol soil, Cileungsi, Bogor, West Java. Experiment was carriedout from October 2003 – August 2004 and arranged in randomized blockin factorial design, with two replications. First factor is the promising lines(V1, V2, V3, V4 and V5); factor II is fertilization packages (6 packages).Plot size of 4 x 1.2 m and plant spacing of 20 x 20 cm, were applied. Theresults showed that four of five tested promising lines yielded the sameresults of fresh and dry weight of rhizomes ranged from 62.27-70.22g/plant, and the dry weight was 16.95-19.33 g/plant respectively.Fertilization packages of dung manure 20 t/ha + urea 250 kg/ha + SP36200 kg/ha + KCl 200 kg/ha, or organic fertilizer by using dung manure 40ton/ha, are recommended. Application of fertilization package resulted indifferent response to the plant for their qualities. The essential oil contentof promising lines V3 belongs to the first grade of quality (2.03%), whilethe others are the second one (1.08-1.97%), with the yield of essential oilranged from 0.325 – 0.466 ml/plant. The nutrients uptake of the promisinglines to the applied technology package were 149.60 – 415.60 mg/plant ofN, 41.50 – 112.50 mg/plant of P, and 236.10 – 571.70 mg/plant of Knutrients.Key words: Kaempferia galanga , superior variety, fertilization, nutrientup take, yield, quality
EFEKTIVITAS MINYAK JARAK PAGAR DAN JAMUR Beauveria bassiana UNTUK PENGENDALIAN HAMA Helopeltis spp . PADA KAKAO / Effectivity of Jatropha Oil and Beauveria bassiana Fungi to Control Helopeltis spp. on Cacao Elna Karmawati; Siswanto Siswanto
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v22n4.2016.189-196

Abstract

The oil of jatropha seeds has a potency as botanical pesticide, because of its chemical subtances which are unsaponifiable such as streoester, tryacycerol, diacilglicerol, sterol, monoacilglycerol and others. The chemical substances which are toxic to insect are sterol and triterpene alcohol. The other substance in fruits and seeds which is also toxic is curcin. The objective of this research is to find out the efectivity of jatropha cake and oil on mortality of Helopeltis spp. combined with commercial B. bassiana. Two factors were used in this activity i.e. accessions of Jatropha curcas and strains of B. bassiana. Accession factors consist of nine levels based on phorbol ester and curcin, as B. bassiana consists of three strains, so there were 27 combinations of treatments. The research used factorially block design with three replications. Variables observed were damage intensity, mortality of helopeltis and the effect on cacao seeds and B. bassiana development. The formulation contained 20% of jatropha oil or cake, 60% of solvent, 10% of emulsifiers and others. This formula was diluted in water with 10% concentration. The result of the research were a) Jatropha oil and cake had the same effect on insect mortality b) the combination between two accessions of jatropha (C100 and JW) and ED7 resulted 97-100% mortality, while c) B80 and C81 gave the highest mortality on Helopeltis spp. without the use of fungi.Keywords: Beauveria bassiana, cacao, Helopeltis spp, Jatropha curcas oil AbstrakMinyak biji jarak pagar berpotensi seb agai pestisida nabati, karena mengandung bahan kimia yang bersifat toksik terhadap serangga. Suatu penelitian telah dilakukan di Bogor dan Cianjur dari bulan Januari sampai dengan Desember 2012 untuk mengetahui efektifitas minyak dan bungkil biji jarak pagar dikombinasikan dengan Beauveria bassiana terhadap mortalitas Helopeltis spp. pada pertanaman kakao dan melihat tingkat kerusakannya. Kegiatan penelitian disusun dalam 2 faktor perlakuan yaitu aksesi jarak pagar dan strain B. bassiana. Aksesi terdiri dari 9 level dipilih dari berbagai jenis yang proporsinya berbeda antara curcin dan phorbol ester. Faktor kedua B. bassiana terdiri atas 3 level yaitu strain yang berasal dari kumbang Scolytidae dan Tingidae serta kontrol, sehingga kombinasi seluruhnya menjadi 27 perlakuan. Rancangan yang digunakan faktorial dalam kelompok dan diulang tiga kali. Banyaknya buah per perlakuan adalah tiga buah per tanaman. Pengamatan dilakukan terhadap mortalitas serangga, banyaknya bercak per buah dan pengaruhnya terhadap biji, serta perkembangan B. bassiana. Helopeltis spp. diinfestasikan ke buah kakao yang telah dikerodong. Konsentrasi larutan yang disemprotkan adalah 10 cc/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Minyak dan bungkil jarak pagar memberikan efek yang sama terhadap mortalitas Helopeltis (2) Pemilihan aksesi terbaik tergantung dari ada-tidaknya jamur B. bassiana. Bila tersedia B. bassiana strain ED7 pilihan aksesi yaitu C100, dan jarak wangi. Kedua aksesi tersebut bila dikombinasikan dengan strain ED7 menghasilkan mortalitas 97-100%, (3) Apabila jamur B. bassiana tidak tersedia, pilihannya adalah B80 dan C81 karena efektivitasnya paling tinggi tanpa dikombinasikan dengan jamur B. bassiana.Kata kunci: minyak jarak pagar, B.bassiana, Helopeltis sp., kakao
EFEKTIVITAS FORMULA JAMUR Beauveria bassiana DALAM PENGENDALIAN PENGGEREK BUAH KAPAS (Helicoverpa armigera) IGAA. INDRAYANI; DECIYANTO SOETOPO; JOKO HARTONO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n4.2013.178-185

Abstract

ABSTRAKJamur entomopatogen Beauveria bassiana sangat potensialmengendalikan berbagai serangga hama, namun potensinya terhadappenggerek buah kapas (Helicoverpa armigera) belum banyak diteliti.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas B. bassianaterhadap H. armigera. Penelitian dilakukan di Laboratorium PatologiSerangga dan Kebun Percobaan Karangploso, Balai Penelitian TanamanPemanis dan Serat mulai Januari hingga Desember 2012. Penelitian terdiriatas dua kegiatan di lapangan, yaitu (1) uji efektivitas B. bassiana terhadapH. armigera di pot, dan (2) uji efektivitas B. bassiana terhadap H.armigera di lapangan. Kegiatan pertama terdiri dari delapan perlakuankonsentrasi B. bassiana, yaitu: (1) 3,7 x 10 4 ; (2) 7,7 x 10 4 ; (3) 1,2 x 10 5 ;(4) 1,5 x 10 5 ; (5) 1,9 x 10 5;  (6) 2,3 x 10 5;  (7) 2,5 x 10 5 ; (8) 3,0 x 10 5konidia/ml; dan (9) kontrol. Perlakuan disusun dalam Rancangan AcakKelompok dengan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati adalahmortalitas dan bobot larva hidup. Kegiatan kedua terdiri dari empatperlakuan konsentrasi B. bassiana, yaitu: (1) 3,1 x 10 11 ; (2) 6,2 x 10 11 ; (3)9,3 x 10 11 ; dan (4) 1,2 x 10 12 konidia/ha dengan dua pembanding(azadirachtin dan betasiflutrin), serta kontrol. Perlakuan disusun dalamRancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan. Parameter yangdiamati adalah populasi larva H. armigera dan laba-laba, kerusakan buahkapas, dan hasil kapas berbiji. Hasil uji efektivitas di pot menunjukkanhingga hari ke-7 setelah perlakuan B. bassiana masih efektif menyebabkanmortalitas larva H. armigera sebesar 46,7% dan meningkatkan kehilanganbobot larva hidup hingga 59,3%, terutama pada konsentrasi 2,3 x 10 5konidia/ml. Di lapangan, perlakuan jamur B. bassiana efektif menurunkanpopulasi larva H. armigera sekitar 36-48%, tetapi menurunkan populasilaba-laba hingga 48,4%, sehingga kurang aman bagi musuh alami tersebut.Perlakuan B. bassiana dapat menurunkan kerusakan buah kapas 10,1-10,3% dengan meningkatkan hasil kapas berbiji sekitar 12,1-29,7%.Kata kunci: Beauveria bassiana, Helicoverpa armigera, konidia, larva,mortalitasABSTRACTBeauveria bassiana is the most common fungal entomopathogenagainst several of insect pests. Its potency, however, has not been tested oncotton bollworm, H. armigera. The objective of study was to know theeffectivity of B. bassiana against H. armigera. This study had beenconducted at Pathology Laboratory and Experimental Station ofIndonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute (ISFCRI) fromJanuary to December 2012. The study consists of two field tests, e.g. teston B. bassiana effectivity against H. armigera (polybag testing) dan teston B. bassiana effectivity a against H. armigera (field testing). In polybagtesting, eight concentrations of B. bassiana and one control were used astreatment, e.g. (1) 3.7 x 10 4 ; (2) 7.7 x 10 4 ; (3) 1.2 x 10 5 ; (4) 1.5 x 10 5 ; (5)1.9 x 10 5;  (6) 2.3 x 10 5;  (7) 2.5 x 10 5 ; (8) 3.0 x 10 5  conidia/ml; and (9)control. Each treatment was arranged in Randomized Block Design withthree replications. Parameters recorded were mortality and weight ofsurvival larvae. The field testing consists of four concentrations of B.bassiana viz. 3.1 x 10 11 ; 6.2 x 10 11 ; 9.3 x 10 11 ; and (4) 1.2 x 10 12 conidia/hawhich compared to azadirachtin and betacyfluthrin. Each treatment wasarranged in Randomized Block Design with three replications. Parameterobserved were population of H. armigera larvae and its natural enemy(spiders), boll damage, and seed cotton yield. Result showed that until theday seventh the mortality of H. armigera larvae reached 46.7% due to B.bassiana and loss 59.3% of larval weight at 2,3 x 10 5 conidia/ml inpolybag testing. In field testing, B. bassiana proved to be relativelyharmful to spiders because it reduced the their population as 48.4%.However, the B. bassiana reduced of 36-48% the population of H.armigera larvae as well as the cotton boll damage of 10.1-10.3% andincreased the seed cotton yield ranged 12.1-29.7%.Key words: Beauveria bassiana, Helicoverpa armigera, conidia, larvae,mortality
PENGUJIAN BAKTERI ENDOFIT TERHADAP EFISIENSI HARA PADA PERTUMBUHAN TANAMAN LADA DI LAMPUNG / The Evaluation of Endophytic Bacteria Application on Nutrient Efficiency of Black Pepper Growth in Lampung Gusmaini Gusmaini; Andriana Kartikawati; Hera Nurhayati
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v25n2.2019.100-107

Abstract

Black pepper (Piper nigrum L.) requires high nutrients to support its growth. The research was carried out to find an alternative way to reduce high nutrient requirements with the application of growth-promoting bacteria. The research was conducted at Natar Experimental Station, Lampung Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT), from January to December 2018. The study was undertaken in a randomized block design, arranged factorially, with 16 treatments and 3 replications. The first factor was endophytic bacteria application consisted of: without endophytic bacteria (B0), Ca2 endophytic bacterial isolates (B1), isolates combination A (Dj9 + Sa4 + Labt8 + Ldbp4) (B2), and isolates combination B (Sa8 + Sd10 + Labt1 + Ldbp9 (B3). The second factor was fertilizer application comprised of: without fertilizer (P0), 25% (P1), 50% (P2), and 75% (P3) of recommendation dosage (NPKMg: 12: 12: 17: 2). The recommended fertilizer dose was 200 kg/ha/year. The results showed that there was an interaction between endophytic bacteria and fertilizer in enhancing plant growth and NPK nutrient uptake of pepper at 11 months after planting. The combination of Ca2 endophytic bacteria and 75% NPK fertilizer recommendations enhanced plant growth by 19.5% for plant height, 34.3% for the number of nodes, and 16.8% for the number of branches, compared to that without endophytic bacteria application. However, the combination of B2 endophytic bacteria and 75% of NPK fertilizer recommendations showed the best result for biomass weight and nutrient uptake. Endophytic bacteria can improve the effectiveness of organic fertilizer usage to support sustainable agriculture.Keywords: Piper nigrum, nutrition, improvement, PGPB. AbstrakLada (Piper nigrum L.) merupakan tanaman yang memerlukan hara cukup tinggi untuk pertumbuhannya. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mengurangi pemberian hara yang cukup tinggi yaitu dengan memberikan bakteri pemicu pertumbuhan. Penelitian telah dilakukan di Kebun Percobaan Natar BPTP Lampung, dimulai dari bulan Januari-Desember 2018. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, faktorial, 16 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari faktor pertama penggunaan bakteri endofit yaitu; tanpa bakteri endofit (B0), isolat bakteri endofit Ca2 (B1), isolat kombinasi A (Dj9+Sa4+Labt8+Ldbp4) (B2), dan isolat kombinasi B (Sa8+Sd10+Labt1+Ldbp9) (B3). Faktor kedua pemupukan anorganik yaitu; tanpa pupuk (P0), 25% (P1), 50% (P2), dan 75% (P3) dosis rekomendasi (NPKMg: 12:12:17:2). Dosis rekomendasi adalah 200 kg/ha/tahun. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi antara bakteri endofit dan pupuk terhadap peningkatan pertumbuhan, dan serapan hara NPK pada tanaman lada berumur 11 bulan setelah tanam. Pemberian bakteri endofit dapat meningkatkan tinggi tanaman 19,5%, jumlah ruas 34,3%, dan jumlah cabang 16,8% pada kombinasi bakteri endofit B1 dibandingkan tanaman tanpa pemberian bakteri endofit dan 75% rekomendasi pupuk NPK. Namun kombinasi perlakuan terbaik untuk bobot biomas dan serapan hara adalah pada kombinasi perlakuan bakteri endofit B2 dan 75% rekomendasi pupuk NPK. Bakteri endofit dapat berfungsi sebagai pupuk hayati dan dapat mengefisienkan penggunaan pupuk buatan untuk pertanian berkelanjutan.Kata kunci: Piper nigrum, nutrisi, peningkatan,PGPB.
AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIBAKTERI DARI DERIVAT METIL EKSTRAK ETANOL DAUN GAMBIR (Uncaria gambir) IRMA KRESNAWATY; ACHMAD ZAINUDDIN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v15n4.2009.145-151

Abstract

ABSTRAKBanyak tanaman yang dilaporkan memiliki kandungan senyawabahan aktif antioksidan dan antibakteri. Salah satu tanaman Indonesia yangmemiliki aktivitas ini adalah gambir (Uncaria gambir). Pada penelitian ini,ekstrak etanol daun gambir diubah menjadi derivat metilnya untukmembuatnya lebih larut dalam lemak dan diamati pengaruh derivatisasitersebut terhadap aktivitas antioksidan di laboratorium kimia organik danpengujian aktivitas antibakteri di laboratorium mikrobiologi UniversitasPadjadjaran. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Kimia OrganikJurusan Kimia dan laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi UniversitasPadjadjaran dari bulan Desember 2004 - Juli 2005. Ekstrak gambirdimetilasi  menggunakan  dimetil  sulfat  (DMS)  dan  dimurnikanmenggunakan kromatografi kolom dengan pelarut bergradien (kloroform :metanol = 99:1 ; 98:2 ; 95:5 ; 80:20 ; 70:30; dan 50:50 v/v) dan kemudianmenggunakan kloroform : metanol = 99 : 1 v/v. Aktivitas antioksidanmenunjukkan penurunan yang tampak dari peningkatan, yaitu : IC 50  13,41ppm untuk ekstrak etanol menjadi 121,81 ppm untuk hasil metilasi.Aktivitas antibakteri juga menunjukkan penurunan setelah dimetilasikarena adanya penurunan diameter hambat pertumbuhan bakteri. Duaisolat (isolat 1 dan 2) yang diperoleh dari hasil pemurnian dikarakterisasimenggunakan spektrofotometer UV-Visible dan FT-IR. Hasil yangdiperoleh mengindikasikan adanya senyawa fenolik yang ditunjukkan olehregang –OH pada 3445 dan 3448 cm -1 dan regang CH aromatik pada 3010dan 3030 cm -1 . Isolat 1 memiliki aktivitas antioksidan dan antibakteri yanglebih tinggi dibandingkan isolat 2.Kata kunci : Uncaria gambir, derivat metil, antibakteri dan aktivitasantioksidanABSTRACTThe antioxidant and antibacterial activities of ethanolextract of gambir leaves (Uncaria gambir)There are many plants in Indonesia reported to contain antioxidantand antibacterial substances. One of them having these activities is gambir(Uncaria gambir). In this research, ethanol extract of gambir leaves waschanged into its methyl derivate in order to make it more soluble in fats.The effect of the derivatization on antioxidant activity was observed atorganic chemistry laboratory and antibacterial activity was observed atmicrobiology laboratory of the Padjadjaran University. This research wascarried out in December 2004 to July 2005. Gambir extract wasmethylized using dimethylsulphate (DMS) and then purified usingcoloumn chromatography with gradient solvents (chloroform : methanol =99:1; 98:2; 50:50; 80:20; 70:30; and 50:50 v/v), and then with chloroform :methanol = 99:1 v/v. The antioxidant activity showed a decrease indicatedby an increase of IC 50 from 13.41 ppm for ethanolic extract to become121.81 ppm for the methylated compounds. The antibacterial activity alsoshowed a decrease after methylization due to the decrease of inhibitiondiameter of bacteria growth. Two isolates (isolate 1 and 2) obtained fromthe  purification  steps  were  characterized  using  UV-Visiblespectrophotometer and FT-IR. The results indicated the existence ofphenolic compunds showed by -OH stretching in 3,445 and 3,448 cm -1 ;and CH aromatic stretching in 3,010 and 3,030 cm -1 . Isolate 1 was higherin antioxidant and antibacterial activities than isolate 2.Key words : Uncaria gambir, methyl derivative, antibacterial, antioxidantactivities
PENGGUNAAN FILM PLASTIK UNTUK KEMASAN KELAPA KOPYOR MUHAMMAD YUSUF ANTU; ROKHANI HASBULLAH; USMAN AHMAD
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v21n2.2015.99-107

Abstract

ABSTRAKKelapa kopyor memiliki kandungan gizi yang penting, seperti karbohidrat, protein, lemak, dan asam lemak. Selama penyimpanan kelapa kopyor mudah mengalami kerusakan karena proses oksidasi dan hidrolisis lemak. Hal ini menyebabkan kelapa kopyor mengalami ketengikan dan perubahan warna dari putih menjadi kuning kecoklatan. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pengemasan dengan film plastik dan menyimpannya pada suhu dingin.  Tujuan penelitian adalah untuk Memberikan informasi mengenai keefektifan film plastik untuk penyimpanan  daging kelapa kopyor. Bahan  penelitian adalah kelapa kopyor dari Kalianda (Lampung Selatan). Kelapa kopyor dikemas film plastik jenis Polyamide (PA),  Polypropylene (PP), dan High Density Polyethylene (HDPE).  Arameter mutu yang dianalisis adalah Thiobarbituric acid  (TBA),  asam lemak  bebas  (ALB),  total  padatan terlarut (TPT), pH, total mikrob,  kadar lemak, serta uji organoleptik warna,  aroma,  dan  rasa.  Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor. Faktor pertama adalah film plastik dengan tiga taraf (PA, PP, HDPE), dan faktor kedua adalah suhu dengan dua taraf (5 ± 2 dan 10 ± 2 oC). Hasil penelitian menunjukkan jenis film plastik PA pada penyimpanan suhu 5 ± 2 oC merupakan kemasan yang efektif dalam mempertahankan mutu kelapa kopyor hingga enam hari, yang dibuktikan dengan rendahnya total mikrob, TBA, dan ALB. Selain itu, panelis masih menyukai kelapa kopyor dari warna, aroma dan rasa.Kata kunci: kelapa kopyor, plastik film, mutu, suhu, waktu penyimpanan The Usage of Plastic Film for Kopyor Coconut Packaging ABSTRACTKopyor coconut contains important  nutrients, such as carbohydrates, protein, fat, and fatty acids. During storage kopyor coconut is  easily  suffered  damage,  because  of  oxidizing  and  fat  hydrolysis processes. The processes cause  kopyor coconut suffered rancidity and color change from white to brownish-yellow. Packaging  kopyor coconut with plastic film and keep it in a cool temperature could overcome this problem. The aim of the research  was to provide  information   the effectiveness  of  plastic  films  for  kopyor  coconut  storage.  Research material was kopyor coconut obtained from Kalianda (South Lampung). Kopyor   coconut   packaged   in   plastic   film   type   Polyamide (PA), Polypropylene (PP), and High Density Polyethylene (HDPE).  The quality parameters observed were Thiobarbituric acid (TBA), free fatty acids (FFA), pH, total soluble solid (TSS), pH, total microbes, fat content, and sensory characteristics including color, flavor, and taste. This research used Randomized Complete Design with two factors. The first factor was the packaging material with three different types (PA, PP, HDPE), and the second factor was the storage temperature at two levels of 5 ± 2 and 10 ± 2 oC. The results showed that the type of plastic film packaging PA at storage temperature 5 ± 2 oC is effective in maintaining the quality of kopyor coconut up to six days, as evidenced bythe low total microbe, TBA, and ALB. In addition, panelists still like kopyor coconut of color aroma and taste.
PENGARUH PUPUK UREA, SP36, DAN KCl TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TEMULAWAK (Curcuma xanthorhiza Roxb) MONO RAHARDJO; EKWASITA RINI PRIBADI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 16, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v16n3.2010.98-105

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sukamulya sejakSeptember 2006 sampai Desember 2007. Tujuan penelitian adalah untukmengetahui pengaruh pemberian pupuk urea, SP36, dan KCl terhadappertumbuhan, produksi, dan mutu rimpang temulawak. Perlakuan disusundalam faktorial 3 x 3 yang dilaksanakan dalam rancangan acak kelompokdan diulang 3 kali. Ketiga faktor yang dicoba terdiri atas 3 jenis pupukurea, SP36, dan KCl dengan takaran masing-masing 100, 200, dan 300kg/ha. Jarak tanam yang digunakan adalah 75 cm x 50 cm, denganpopulasi 40 tanaman/plot. Peubah yang diamati adalah, komponenpertumbuhan meliputi akumulasi biomas, produksi rimpang, mutusimplisia (minyak atsiri, bahan aktif kurkuminoid dan xanthorhizol), dankadar hara N, P dan K. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukanurea sebanyak 300 kg/ha pada tanah dengan status hara N rendahberpengaruh nyata terhadap peningkatan komponen pertumbuhan tanamantemulawak, biomas, hasil rimpang segar, dan simplisia kering pertanaman.Namun perlakuan interaksi dari tiga faktor pupuk urea, SP36, dan KCldengan masing-masing dosis 100, 200, dan 300 kg/ha tidak berpengaruhnyata terhadap produksi rimpang segar. Mutu simplisia yang dihasilkansudah memenuhi standar MMI  ( DEPKES, RI, 1995. Produksi rimpangsegar berkisar antara 20,23 - 25,46 t/ha. Produksi rimpang segar 20,23 t/hadicapai perlakuan pemupukan urea, SP36, dan KCl masing-masing 100kg/ha, yang menyerap 37,41 kg/ha hara N, 15,30 kg/ha hara P, dan146,11 kg/ha hara K. Produksi rimpang segar 25,46 t/ha dicapai perlakuan300 kg/ha urea, 200 kg/ha SP36 dan 200 kg/ha KCl, yang menyerap193,44 kg/ha hara N, 21,05 kg/ha hara P, dan 221,34 kg/ha hara K.Kata kunci : Curcuma xanthorhiza Roxb, produksi, mutu, dan serapanharaABSTRACTEffect of urea, SP36, and KCl fertilizers on plant growthand production of java turmeric (Curcuma xanthorrhizaRoxb)The experiment was conducted in Sukamulya Experimental Stationfrom September 2006 until December 2007. The objective of the researchwas nitrogen, phosphate, potassium uptake to increase plant growth,production and to find out quality of java turmeric. The experiment wasarranged in factorial randomized block design with three replicates, andurea, SP36, and KCl fertilizer dosages were 100, 200, 300 kg/ha. The plantspacing was 75 cm x 50 cm, population was 40 plant/plot, and plot sizewas 3.75 m x 4 m. The first research was done in 2006 to obtain plantgrowth data and the second one was conducted in 2007 aiming to obtaindata on productivity and quality of rhizomes. Parameters observed wereaccumulation of biomass, rhizomes productivity and quality, absorption ofplant nutrition (N, P and K), active compounds (curcuminoid andxanthorhizol). The result showed that fertilizer application of 300 kg/haurea on the soil low in N content was able to increase growth componentof java turmeric, fresh rhizomes, and dry matter of rhizomes per/plant.Combination of the three application factors of urea, SP36, and KCl withdosages of 100, 200, and 300 kg/ha, respectively, did not affect onrhizomes productivity. The quality of rhizomes have fulfilled MMIstandard. The productivity of rhizome varied from 20.23 – 25.46 t/ha.Application of urea, SP36, and KCl with each dosage of 100 kg/haproduced 20.23 t/ha rhizome, which absorbed as much as 137.41 kg N,15.30 kg P, and 146.11 kg K per ha. Application of urea, SP36, and KCl of300, 200, and 200 kg/ha, respectively, produced 25.46 t/ha rhizome, whichabsorbed as much as 193.44 kg/ha N, 21.05 kg/ha P, and 221.34 kg/ha K.Key words : Curcuma xanthorrrhiza Roxb, productivity, quality andnutrien uptake
KOMPATD3ILITAS KOMBINASI //aNPV DAN SBM SERTA PENGARUHNYA TERHADAP MORTALITAS DAN AKTIVITAS BIOLOGI PENGGEREK BUAH KAPAS Helicoverpa armigera HUBNER IG. AA. INDRAYANI; D. WINARNO; nFN SUBIYAKTO
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v10n1.2004.28-33

Abstract

Banyak cara dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas HaNPV terhadap serangga hama sasaran. Efektivitas //aNPV terutama daya bunuhnya, dapat ditingkatkan dengan cara mengkombinasikan HaNPV dengan metode pengendalian hama lain yang pengaruhnya dapat menurunkan kckebalan tubuh serangga, misalnya insektisida nabati scrbuk biji mimba (SBM). Disamping untuk meningkatkan efektivitas, kombinasi yang sinergis antara HaNPV dan SBM juga bcrmanfaat untuk substitusi //aNPV yang produk komcrsialnya masih terbatas. Penelitian kompa- tibilitas kombinasi //aNPV dan SBM seta pengaruhnya terhadap mortalitas dan aktivitas biologi larva penggerek buah kapas H. armigera dilaksanakan di laboratoium Hama Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat Malang, mulai Maret hingga Juli 2002. Tujuannya adalah untuk mengetahui kompatibilitas dan kemanjuran kombinasi //aNPV dan SBM, seta mengetahui dampak interaksinya terhadap aktivitas biologi penggerek buah kapas //. armigera. Perlakuan yang digunakan adalah kombinasi //aNPV dan SBM berdasarkan konsentrasi subletal dan letal, yaitu: (I) Kontrol (tanpa perlakuan), (2) SBM(LC25), (3) SBM(LC,0), (4) //aNPV(LC25), (5) //aNPV(LC50), (6) /YaNPV(LC25) + SBM(LC2S), (7) /YaNPV(LC25) + SBM(LC50), (8) //aNPV(LC30) + SBM(LC2S), (9) //aNPV(LCjo) + SBM(LCjo). Setiap perlakuan disusun berdasarkan rancangan acak kelompok dengan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis intcraksi antara //aNPV dan SBM pada berbagai kombinasi konsentrasi umumnya menunjukkan sifat aditif dan sinergis. Kombinasi konsentrasi yang berinteraksi sinergis adalah //aNPV(LCso) t-SBM(LCso) yang menyebabkan mortalitas larva H. armigera ± 80%. Penurunan bobot larva maupun perpanjangan umur stadia larva tcinfeksi secara cfektif dipengaruhi oleh semua perlakuan //aNPV dan SBM, baik individu maupun kombinasi.Kata kunci: Aditif, //aNPV, H. armigera, kompatibilitas, mortalitas, serbuk biji mimba, SBM, sinergisABSTRACTCompatibility of HaNPV and SBM combinations and its effects on the mortality and biological activities of cotton bollworm Helicoverpa armigera HubnerMany ways to increase the effectiveness of //aNPV against insect pests. Combination of //aNPV and other control method, namely using neem seed powder (SBM) which reduced the insect immunity system, was one way to increase the effectiveness of//aNPV. Synergistic combination of SBM to //aNPV not only increased the effectiveness of insect control but SBM itself could also substitute //aNPV which was unavailable commercially. The study was caried out in the Entomology Laboratory of Indonesian Tobacco and Fiber Crops Research Institute (ITOFCRI) in Malang rom March to July 2002. The objective was to ind out the compatibility and efficacy of //aNPV+SBM combination against cotton bollworm and its impacts to larval motality and biological activities. The treatment tested were combinations of //aNPV+SBM based on both sublethal (LCjj) and lethal (LC50) concentrations, viz. (1) Control (untreated), (2) SBM(LC2!), (3) SBM(LCjo), (4) //aNPV(LC23), (5) //aNPV(LC50), (6) //aNPV(LC25) 4 SBM(LC25), (7) //aNPV(LC2J) + SBM(LCso),(8) //aNPV(LC3o) + SBM(LC2S), (9) //aNPV(LCj0) + SBM(LCjo). Each treatment was arranged in a randomized block design (RBD) with four replications Results showed that the combinations of HaNPV and SBM at different concentrations proved to be additive and synergistic interaction. The synergistic interaction was signiicant when //aNPV(LC,o) was combined with + SBM(LC50) with caused ± 80% of larval motality. Reducing in larval weight and prolong the larval age were effectively influenced by HaNPV and SBM either alone or combination.Key words: Additive, compatibility, HaNPV, //. armigera, motality neem seed powder, SBM, synergistic interaction
THE EFFECT OF JAMU FORMULAS ON BODY WEIGHT, ANTIOXIDANT ACTIVITIES, AND ANTIBODY TITER IN CHICKEN / Pengaruh Jenis Jamu terhadap Bobot Badan, Aktivitas Antioksidan dan Titer Antibodi Ayam Bagem BR Sembiring; Ening Wiedosari; Sujianto Sujianto
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/littri.v24n2.2018.65-74

Abstract

Medicinal plants are useful to increase body immunity, body weight, appetite, and improve health both for human and animal. The research aimed to obtain functional drink formula for chicken, called jamu, made with spices and medicinal plants. These trials consisted of 3 activities; first, raw materials preparation include fermentation and extraction, second, functional drink formulation in form liquid and powder with pH and IC50 value as parameters, third, efficacy test of formulas that had the strongest antioxidant. The treatments were categorized as group I (chicken were fed with jamu, without vaccination), group II (fed with jamu for two weeks then vaccinated), group III (jamu feeding complemented by vaccination), group IV (control, only vaccination). The third activity was arranged in a randomized block design with 6 replications. Parameters observed were body weight increment and antibody titer. The fermentation time and formula composition showed no significant effect on pH until the third day (4.31 - 4.68), but they indicated significant effect on pH from the fourth day, declined until the seventh day (3.65-4.26). The type and compositions of the formula significantly affected IC50 value. The smallest of IC50 value of liquid and powder formulas were 7796.25 ppm and 244.57 ppm, respectively. The incremental body weight regarding liquid, powder, and control formulas were 365.55 g / week, 351.22 g / week, and 326.66 g / week, respectively. The highest antibody titer was at group III that had 4.50 (log 2), whereas control was 3.30 (log2). The combination feeding, jamu formula and vaccine, was able to increase body weight increment and antibody titer on chicken.Keywords: medicinal plants, functional drink, IC50, broilers, antibody titers AbstrakTanaman obat digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, bobot badan, nafsu makan, mencegah penyakit, serta pemulihan kesehatan manusia dan hewan. Penelitian bertujuan mendapatkan formula minuman fungsional untuk ayam berbasis tanaman rempah dan obat. Kegiatan meliputi 3 aktivitas (1) Penanganan bahan baku, fermentasi dan ekstraksi (2) Formulasi minuman fungsional (cair dan serbuk) dengan parameter pH dan nilai IC50. (3) Uji efikasi formula cair dan serbuk yang menghasilkan aktivitas antioksidan terkuat. Perlakuan: kelompok I, ayam hanya diberi formula jamu selama dua minggu, kelompok II, ayam diberi formula jamu selama dua minggu sebelum vaksinasi, kelompok III, ayam divaksin sebelum diberi formula jamu selama dua minggu, kelompok IV, ayam hanya divaksinasi. Kegiatan (3) menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 6 ulangan dan parameter pengamatan yaitu penambahan bobot badan dan titer antibodi. Waktu fermentasi dan komposisi formula tidak menunjukkan efek yang signifikan pada pH sampai hari ketiga (4,31-4,68), namun signifikan pada hari keempat ditandai dengan penurunan pH sampai hari ketujuh (3,65-4,26). Jenis dan komposisi formula secara signifikan mempengaruhi nilai IC50. Nilai IC50 terkecil dari formula cair adalah 7796,25 ppm dan serbuk 244,57 ppm. Kenaikan berat badan dengan formula jamu cair yaitu 365,55 g / minggu, serbuk 351,22 g / minggu dan kontrol 326,66 g / minggu. Titer antibodi tertinggi adalah 4,50 (log2) yang ditunjukkan oleh kelompok III, sedangkan kontrol 3,30 (log2). Minuman fungsional (jamu) ditambah dengan vaksinasi mampu meningkatkan pertambahan berat badan dan titer antibodi ayam.Kata kunci: Tanaman obat, minuman fungsional, IC50, ayam broiler, titer antibodi
DIVERSITAS GENETIK TUJUH AKSESI PLASMA NUTFAH PINANG (Areca catechu L.) ASAL PULAU SUMATERA MIFTAHORRACHMAN MIFTAHORRACHMAN
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v12n1.2006.27-31

Abstract

ABSTRAKAnalisis jarak genetik dilakukan terhadap tujuh populasi pinang(Areca catechu L.), yaitu Sumut-1, Sumut-2, Sumbar-1, Sumbar-2,Sumbar-3, Bengkulu-1 dan Bengkulu-2 hasil eksplorasi pada tahun 1994dan telah dikoleksi di kebun koleksi plasma nutfah palma Kayuwatu,Sulawesi Utara. Tujuan analisis adalah untuk mengetahui seberapa besarjarak  genetik  antara  ke  tujuh  aksesi  pinang  sekaligus  untukmengelompokkan ketujuh aksesi tersebut. Analisis menggunakan UjiStatistik D 2 dari Mahalanobis, sedangkan untuk pengelompokan populasimenggunakan metode Tocher yang dikemukakan oleh RAO dalam SINGHdan CHAUDARY. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketujuh aksesipinang membentuk 4 kelompok yaitu, kelompok I terdiri dari aksesiSumbar-1 dan Sumut-1; kelompok II terdiri dari 3 aksesi yaitu Sumbar-3,Sumut-2 dan Bengkulu-1; kelompok III dan kelompok IV masing-masinghanya terdapat satu aksesi yaitu Sumbar-2 dan Bengkulu-2. Jarak genetikpaling jauh adalah antara kelompok I dan II dengan nilai D 2 = 1263.137.Sementara jarak genetik antar kelompok terdekat adalah antara kelompok Idan III dengan nilai D 2 = 108.587. Penyumbang terbesar terjadinyapengelompokan tersebut adalah karakter jumlah bekas daun.Kata kunci : Pinang, Areca catechu L., populasi, jarak genetik, SulawesiUtaraABSTRACTGenetic diversity of seven arecanut (Areca catechu L.)accessions from Sumatera IslandGenetic divergence analysis has been done on seven arecanut(Areca catechu L.) populations, i.e, Sumut-1, Sumut-2, Sumbar-1,Sumbar-2, Sumbar-3, Bengkulu-1, and Bengkulu-2 explorated in 1994 andhad been collected in Kayuwatu Experimental Garden, North Sulawesi.The purpose of the analysis was to know how far the genetic distanceamong the seven accessions of the arecanut. The analysis used D 2 statisticsof Mahalanobis, while to cluster the population used Tocher Method byRao. The result showed that there are four groups among the sevenaccessions of arecanut. Group I consisted of Sumbar-1 and Sumut-1, groupII consisted of Sumbar-3, Sumut-2, and Bengkulu-1, and both of group IIIand group IV consisted of one accession, namely Sumbar-2 and Bengkulu-2 respectively. The largest genetic distance occurred between group I andgroup II (D 2 = 1263.137) while the smallest genetic distance occurredbetween group I and group III (D 2 = 108.587). Number of leaf scars wasthe largest contribution of the grouping.Key words : Arecanut, Areca catehcu L., population, genetic distance,North Sulawesi

Page 8 of 51 | Total Record : 504


Filter by Year

1998 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2021): December 2021 Vol 27, No 1 (2021): June, 2021 Vol 26, No 2 (2020): December, 2020 Vol 26, No 1 (2020): June, 2020 Vol 25, No 2 (2019): Desember, 2019 Vol 25, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 24, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 24, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 23, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 23, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 22, No 4 (2016): Desember, 2016 Vol 22, No 3 (2016): September, 2016 Vol 22, No 2 (2016): Juni, 2016 Vol 22, No 1 (2016): Maret, 2016 Vol 21, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 21, No 3 (2015): September 2015 Vol 21, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 21, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 20, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 20, No 3 (2014): September 2014 Vol 20, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 20, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 19, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 19, No 3 (2013): September 2013 Vol 19, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 18, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 18, No 3 (2012): September 2012 Vol 18, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 18, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 17, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 17, No 3 (2011): September 2011 Vol 17, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 17, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 16, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 16, No 3 (2010): September 2010 Vol 16, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 16, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 15, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 15, No 3 (2009): September 2009 Vol 15, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 15, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 14, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 14, No 3 (2008): September 2008 Vol 14, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 14, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 13, No 4 (2007): DESEMBER 2007 Vol 13, No 3 (2007): SEPTEMBER 2007 Vol 13, No 2 (2007): JUNI 2007 Vol 13, No 1 (2007): MARET 2007 Vol 12, No 4 (2006): DESEMBER 2006 Vol 12, No 3 (2006): SEPTEMBER 2006 Vol 12, No 2 (2006): JUNI 2006 Vol 12, No 1 (2006): MARET 2006 Vol 11, No 4 (2005): DESEMBER 2005 Vol 11, No 3 (2005): SEPTEMBER 2005 Vol 11, No 2 (2005): JUNI 2005 Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 10, No 4 (2004): Desember, 2004 Vol 10, No 3 (2004): September, 2004 Vol 10, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 10, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 9, No 4 (2003): Desember 2003 Vol 9, No 3 (2003): September, 2003 Vol 9, No 2 (2003): Juni, 2003 Vol 9, No 1 (2003): Maret, 2003 Vol 8, No 4 (2002): Desember, 2002 Vol 8, No 3 (2002): September, 2002 Vol 8, No 2 (2002): Juni, 2002 Vol 8, No 1 (2002): Maret, 2002 Vol 7, No 4 (2001): Desember, 2001 Vol 7, No 3 (2001): September, 2001 Vol 7, No 2 (2001): Juni,2001 Vol 7, No 1 (2001): Maret, 2001 Vol 6, No 3 (2000): Desember, 2000 Vol 6, No 2 (2000): September, 2000 Vol 6, No 1 (2000): Juni, 2000 Vol 5, No 4 (2000): Maret, 2000 Vol 5, No 3 (1999): Desember, 1999 Vol 5, No 2 (1999): September, 1999 Vol 5, No 1 (1999): Juni, 1999 Vol 4, No 6 (1999): Maret, 1999 Vol 4, No 5 (1999): Januari, 1999 Vol 4, No 4 (1998): November, 1998 More Issue