cover
Contact Name
Moh. Shofan
Contact Email
jurnal@maarifinstitute.org
Phone
+6281316538753
Journal Mail Official
jurnal@maarifinstitute.org
Editorial Address
Jalan Tebet Barat Dalam 2 No 6, Tebet, Jakarta Selatan, 12810
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Maarif
Published by MAARIF Institute
ISSN : 19078161     EISSN : 27155781     DOI : https://doi.org/10.47651/mrf
Jurnal MAARIF diarahkan untuk menjadi corong bagi pelembagaan pemikiranpemikiran kritis Buya Ahmad Syafii Maarif dalam konteks keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Beberapa isu yang menjadi konsen jurnal ini adalah tentang kompatibilitas Islam dan demokrasi, hak asasi manusia, dan pluralisme. Isu-isu lain yang juga menjadi perhatian jurnal ini adalah soal kemiskinan, kekerasan atas nama agama, terorisme dan berbagai persoalan kebangsaan dan kemanusiaan yang mengemuka dalam kehidupan Indonesia kontemporer.
Articles 273 Documents
Muhammadiyah dan Salafisme: Sebuah Survei Singkat Tentang Titik Temu dan Titik Seteru Pradana Boy ZTF
MAARIF Vol 14 No 2 (2019): Memperkuat Kembali Moderatisme Muhammadiyah: Konsepsi, Interpretasi, Strategi da
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v14i2.67

Abstract

Di antara banyak tantangan kontemporer yang dihadapi oleh Muhammadiyah adalah penetrasi pemikiran dan gerakan Islam lain yang memiliki persinggungan ideologis dengan Muhammadiyah. Di antara banyak gerakan itu, Salafisme adalah salah satunya. Penetrasi Salafisme ke dalam Muhammadiyah memang telah menghadirkan sikap dan respons yang beragam, utamanya di kalangan Muhammadiyah sendiri. Sementara dari kalangan lain, tidak jarang muncul pula identifikasi Muhammadiyah dengan salafisme dan bahkan radikalisme. Seringkali, respons itu bersifat artifisial dan teknis, sementara respons yang mendalam dan detail cenderung sulit ditemukan. Tulisan ini merupakan survei awal sederhana untuk memetakan dialektika Muhammadiyah dan Salafisme. Sebagai survei singkat, tulisan ini belum sepenuhnya masuk ke dalam perbandingan yang detail dan mendalam. Akan tetapi, tulisan ini menawarkan sebuah cara pandang khas tentang bagaimana memahami dialektika Muhammadiyah dan Salafisme dewasa ini.
Muhammadiyah dan Pengelolaan Zakat: Antara Keikhlasan dan Profesionalisme Erni Juliana Al-Hasanah
MAARIF Vol 14 No 2 (2019): Memperkuat Kembali Moderatisme Muhammadiyah: Konsepsi, Interpretasi, Strategi da
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v14i2.68

Abstract

Akuntabilitas pelaporan keuangan LAZISMU menghadapi tantangan secara internal. Budaya organisasi yang berkembang di Muhammadiyah secara umum, seperti pola-pola kerja aktivisme yang cenderung mengabaikan keteraturan, budaya ewuh-pakewuh, dan rasa keikhlasan serta rasa saling percaya yang berlebihan menimbulkan efek samping berupa rasa enggan saat harus menuntut laporan keuangan dan tidak nyaman terhadap proses evaluasi (audit). Tulisan ini ingin menjelaskan bahwa upaya memadukan keikhlasan dan profesionalisme dalam praktik akuntabilitas pelaporan keuangan merupakan budaya baru yang masih terus berproses dalam membangun citra keseluruhan Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang akuntabel.
Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern Moh Shofan
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.74

Abstract

Sejumlah artikel dalam jurnal edisi kali ini telah memberikan banyak perspektif, untuk memperkuat etos keagamaan dan etos keilmuan. Juga, mampu melihat secara kritis dan otoritatif untuk membicarakan dua bidang wilayah, baik wilayah agama maupun ilmu pengetahuan. Pula, dapat mengurangi kesenjangan penafsiran di antara dua bidang yang semakin lama semakin terspesialisasi ini. Artikel-artikel dalam jurnal ini harus kita baca secara kritis guna melihat celah menyikapi Covid-19 dengan pendekatan integrasi agama dan sains sebagai paradigma penyelesaian krisis.
Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern di Tengah Pandemi Covid-19 M. Amin Abdullah
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.75

Abstract

Hubungan agama dan ilmu menurut Ian G. Barbour dapat diklasifikasi menjadi empat corak, yaitu, Konflik, Independen, Dialog dan Integrasi. Apa implikasi dan konsekwensi dari paradigma Dialog dan Integrasi jika diterapkan dalam keilmuan agama, khususnya agama Islam, melalui perspektif pemikir Muslim kontemporer. Hal ini penting karena praktik pendidikan dan dakwah agama pada umumnya masih menggunakan paradigma Konflik dan Independensi. Baik yang menggunakan paradigma Konflik dan atau Independen maupun paradigma Dialog dan Integrasi akan besar berpengaruh pada pembentukan budaya berpikir sosial-keagamaan baik di ruang privat maupun publik. Argumen yang hendak diajukan adalah bahwasanya hubungan antara agama, dalam hal ini ‘Ulumu al-din (ilmu-ilmu agama Islam) dan ilmu, baik ilmu kealaman, sosial maupun budaya meniscayakan corak hubungan yang bersifat dialogis, integratif-interkonektif. Hubungan antara disiplin ilmu keagamaan dan disiplin ilmu alam, sosial dan budaya di era modern dan post-modern adalah bersifat semipermeable, intersubjective testability dan creative imagination. Studi Keislaman (Dirasat Islamiyyah) kontemporer memerlukan pendekatan multidisiplin, interdisiplin dan transdisiplin. Linearitas ilmu dan pendekatan monodisiplin dalam rumpun ilmu-ilmu agama akan mengakibatkan pemahaman dan penafsiran agama kehilangan kontak dengan realitas dan relevansi dengan kehidupan sekitar. Budaya berpikir baru yang secara mandiri mampu mendialogkan sisi subjective, objective dan intersubjective dari ilmu dan agama menjadi niscaya dalam kehidupan multireligi-multikultural dan terlebih di era multikrisis yang melibatkan sains, kesehatan, sosial, budaya, agama, politik, ekonomi, keuangan sekaligus akibat penyebaran pandemi Covid-19 di dunia sekarang ini. Kesemuanya ini akan mengantarkan perlunya upaya yang lebih sungguh-sungguh dan ketekunan untuk melakukan rekonstruksi metodologi studi keilmuan dan metodologi studi keagamaan di tanah air sejak dari hulu, yakni filsafat ilmu dan filsafat ilmu-ilmu keislaman sampai ke hilir, yaitu proses dan implementasinya dalam praksis pendidikan dan dakwah keagamaan.
Perspektif Sains Pandemi Covid-19: Pendekatan Aspek Virologi Dan Epidemiologi Klinik Yordan Khaedir
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.76

Abstract

Munculnya virus korona SARS-CoV-2 pada bulan Desember 2019 kemudian menyebabkan Covid-19, yakni penyakit yang sifatnya akut menyerang terutama pada organ saluran napas. SARS-CoV-2 merupakan jenis ketiga dari virus korona yang sangat patogen menginfeksi manusia setelah SARS dan MERS dan telah menjadi pandemi di abad 21. Beberapa studi virologi, preklinik, klinik, serta kesehatan komunitas terkait dengan Covid-19 telah mulai dipublikasikan sejak awal pertama terjadinya wabah, yakni awal tahun 2020. Adanya kajian riset tersebut mampu memengaruhi pengambilan keputusan dalam rangka eradikasi Covid-19 dan kebijakan kesehatan masyarakat yang akan ditetapkan. Pengambilan keputusan yang keliru dalam aspek klinik bisa berakibat fatal bagi individu maupun sub kelompok terinfeksi dalam populasi di suatu wilayah. Begitu juga kesalahan pengambilan kebijakan akan berpengaruh pada strategi penanganan wabah. Tinjauan pustaka ini akan lebih menilai pemahaman virologi mengenai karakteristik SARS-CoV-2, cara penularan (transmisi) virus, patogenisitas virus, manajemen kasus klinis dan aspek epidemiologi klinik Covid-19. Pandemi global Covid-19 berujung pada munculnya berbagai masalah terkait penanganan wabah dan kebijakan kesehatan masyarakat di Indonesia. Rekomendasi yang tepat dalam penanganan wabah dan perspektif masa depan Covid-19 juga diperlukan dalam menghadapi pandemi global Covid-19.
Covid-19, Agama, dan Sains Musa Maliki
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.77

Abstract

Tulisan ini memaparkan tentang discourse kelompok beragama yang ignore terhadap Covid-19. Ada anggapan dari mainstream umat beragama bahwa kelompok ini tidak menggunakan akalnya tetapi menggunakan egonya sehingga mempunyai implikasi sosial yakni menularkan virus SARS-CoV-2 ke orang-orang di dekatnya. Singkatnya kelompok ini konservatif dan ‘anti-sains’. Tulisan ini memberi perspektif yang berbeda bahwa kaum beragama yang ignore terhadap Covid-19 menggunakan agama demi melindungi dirinya atau demi kepentingan survival-nya di level eksistensial dari represi discourse modernkapitalisme. Problemnya, discourse kelompok ignorance ini justru melegitimasi (membenarkan) discourse politik sekuler Barat yang telah mengandangkan agama ke ‘agama’ dalam definisi yang dikonstruksikannya. Padahal, dalam Islam, Ilmuwan Muslim terdahulu menjalankan hidup asketismenya justru melalui jalur sains demi mencari kebenaran Allah yang mewujud pada alam semesta (ayat kauniyah). Di sini ada sinergi dan keselerasan antara sains dan spiritualisme, yang ukhrawi dan yang duniawi (secular), transcendental dan immanent. Oleh sebab itu, hal yang penting adalah proses penghayatan keberagamaan selalu harus diawali dengan disiplin ketat dalam mempelajari agama secara bertahan, tidak serampangan dan melompat-lompat atau terus belajar kepada para ahlinya, bukan dengan ‘demokratisasi’ agama.
Agama, Sains, Dan Covid-19: Perspektif Sosial-Agama M. Alkaf
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.79

Abstract

Studi ini mengkaji hubungan agama, sains, dan Covid-19 dalam perspektif sosial-agama. Ada tiga pertanyaan utama dalam studi ini: (a) bagaimana titik perjumpaan dan pertengkaran antara agama dan sains itu berlangsung; (b) bagaimana respons dan perspektif agama terhadap wabah; dan (c) bagaimana kemampuan agama bertahan di tengah ancaman pandemi Covid-19. Studi menemukan bahwa selalu ada titik tengkar dan dialog antara sains dan agama. Lalu, doktrin agama juga memiliki pandangan bahwa wabah itu bisa jadi hukuman atau cobaan dari Tuhan sehingga menjadi anti sains, walau ada organisasi Muhammadiyah yang akrab dengan sains sehingga ikut memengaruhi landasan pemikiran keagamaan yang dibangunnya. Terakhir, agama diyakini dapat bertahan karena modal institusi dan tradisi spritualitas di tengah kuatnya Covid-19.
Sains Melampaui Politik dan Agama Abdullah Sidiq Notonegoro
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.80

Abstract

Wabah Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 menjadi ancaman serius bagi umat manusia di muka bumi. Daya jelajah Covid-19 yang sangat masif menyebar ke banyak negara, menjadikannya sebagai wabah global yang mematikan. Meski sejumlah peneliti dari banyak negara berjuang keras berusaha menemukan antivirus Covid-19, paling tidak hingga artikel ini selesai ditulis, belum terdengar kabar jika vaksin dari Covid-19 ini telah ditemukan. Covid-19 merupakan fenomena alam yang menjadi ranah sains yang obyektif dan independen. Karena itu, pembuktikan adanya virus hanya dapat disandarkan pada temuan ilmiah yang bersifat empiris. Pemangku kebijakan publik harus bisa memberikan ruang terbuka bagi sains untuk diuji secara obyektif. Ironisnya, sisi keagamaan masyarakat pada masa pandemi Covid-19 ini seolah menjadi penyingkap tabir praktik peribadatan tanpa pengetahuan yang tepat. Para dai lebih bersemangat dan gigih untuk mendorong masyarakat memasifkan kegiatan beribadah, tetapi loyo dalam memprovokasi masyarakat untuk menangkap makna esoterisme keberagamaan melalui pengetahuan yang mendalam. Tulisan ini mencoba melakukan pengamatan sederhana seiring adanya kebengalan politik pemerintah---baik pusat maupun daerah---yang merespons setengah hati rekomendasi para dokter yang berada di garda depan pengobatan korban Covid-19 serta para virologi yang sedang berjuang untuk menemukan vaksin agar sebaran Covid-19 tidak semakin merajalela. Di sisi lain, keangkuhan sebagian elite agama yang menolak mentah-mentah ataupun setengah-setengah protokol pencegahan terhadap wabah Covid-19 tersebut.
Respons Muhammadiyah Menghadapi Covid-19 Falahuddin Falahuddin
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.81

Abstract

Covid-19 telah menjadi wabah pandemi global. Virus tak kasat mata ini tidak hanya mengancam keselamatan jiwa manusia saja, tetapi juga telah memorakporandakan sektor ekonomi dan sosial secara luas. Untuk meminimalisir dampak Covid-19, semua kalangan dituntut untuk berperan aktif dan nyata dalam mengatasinya, termasuk Muhammadiyah. Dengan seluruh sumber daya yang dimiliki, Muhammadiyah telah berikhtiar secara maksimal untuk berkontribusi dalam penanganan Covid-19. Muhammadiyah telah membentuk semacam gugus tugas bernama Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) yang menjadi garda terdepan dalam penanggulangan Covid-19 di tanah air. Selain itu juga, Muhammadiyah mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menjalankan protokol kesehatan dalam rangka pencegahan penularan Covid-19, terutama terakit dengan pemberlakukan social/physical distancing.
Keimanan Rasional dan Genius Spiritual: Upaya Mencari Titik Temu Kredo Agama dan Sains Haqqul Yaqin
MAARIF Vol 15 No 1 (2020): Agama, Sains, dan Covid-19: Mendialogkan Nalar Agama dan Sains Modern
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v15i1.82

Abstract

Sains yang berpusat pada rasio dan agama yang bertumpu pada iman lebih sering tampak berseberangan daripada bergandengan.Kaum sainstis merasa lebih superior dengan berbagai capaian ilmiahnya dan menuduh kaum agamawan sebagai kelompok tradisional yang irasional. Namun begitu, sejatinya dua komunitas tersebut sedang mendaki untuk mencapai kebenaran. Pokok persoalannya terletak pada munculnya determinisme kalangan sainstis akan metode ilmiah yang diyakini sebagai satu-satunya tuntutan yang dapat dipercaya untuk memperoleh kebenaran. Sementara di sisi lain, agama dengan klaim-klaimnya dianggap terlalu otoritatif dan cenderung meniadakan faktafakta riil, atau bahkan mendahului sains dalam melegitimasi suatu realitas. Namun begitu, di tengah perkembangan kehidupan sosial politik dan keagamaan, perbincangan urgensi dialektika dua kubu yang berseteru secara diametral tersebut, kini mulai mendapat momennya. Banyak kejadian-kejadian kontemporer yang mencoba mengambil manfaat dari seteru tersebut.